alexa-tracking

Cerita Horor Remaja

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afc7b2f162ec2a4458b4567/cerita-horor-remaja
Cerita Horor Remaja
Cerita Horor Remaja




.....Pernahkah kalian mendengar kata Horor?
.....Apa yang ada di pikiran kalian ketika kalian mendengar kata tersebut?

.....Aku  tidak mengerti apa sebenarnya definisi dari kata Horor, namun yang ada di dalam pikiranku adalah sesuatu yang menyeramkan, menakutkan, sesuatu yang ingin aku hindari. Kebanyakan orang mengkaitkan kata Horor dengan hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal mistis, seperti makhluk halus atau tempat-tempat yang biasa disebut angker seperti kuburan, rumah kosong atau terowongan yang gelap.
.....Banyak yang berpendapat kalau kita akan mengalami hal-hal Horor ketika kita berada di tempat-tempat seperti itu. Aku sendiri menganggap hal Horor adalah hal-hal yang membuatku merinding, ketakutan, dan ingin berlari untuk sembunyi ataupun menghindari hal-hal itu.
.....Aku adalah seorang pengecut yang tidak berani berhadapan dengan hal-hal seperti itu, aku merasa tidak nyaman ketika berada di dalam tempat-tempat seperti itu, namun aku suka mendengar cerita-cerita dan suka menonton film-film mengenai makhlus halus, hal-hal yang selalu aku hindari ketika aku masih kecil. Ketika beranjak menjadi seorang remaja seperti sekarang, entah kenapa, mungkin karena rasa keingin-tahuanku, aku mulai tertarik dengan hal-hal seperti itu. Mungkin karena keingin-tahuanku itulah, aku mulai sering mengalami dan menjumpai hal-hal Horor di dalam kehidupanku sehari-hari.
.....Apakah kalian ada yang seperti aku? Apakah kalian sering mengalaminya seperti aku? Namun sadarkah kalian, kalau kita justru lebih sering mengalami dan menjumpai hal-hal Horor di tempat yang selalu berada di sekitar kita, di tempat yang selalu kita lalui, dan di tempat yang selalu kita tuju, setiap harinya.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Tahun ajaran baru, saat dimana aku merasakan menjadi seorang Mahasiswa baru disebuah Universitas Swasta yang berada di Jakarta. Aku adalah seorang yang pendiam, paling tidak, begitulah kata mereka yang mengenalku. Hidupku hampir selalu dilalui dengan perkelahian, walaupun aku tidak suka berbuat onar, tapi sejak kecil aku selalu saja berkelahi, baik untuk alasan yang sepele ataupun hal-hal penting. Namun sebelum aku menjadi mahasiswa di Universitas ini, pada perkelahian terakhirku, Ibuku meneteskan air matanya ketika melihat tubuhku yang berlumuran darah. Hal itulah yang mendorongku dan selalu mengingatkanku untuk tidak berkelahi lagi.
.....Aku ingin menjadi seseorang yang baru disini, seseorang yang terhindar dari perkelahian, seseorang yang tidak ingin perduli dengan keadaan sekitar, setidaknya, begitulah pikirku.

.....Aku menjalani kehidupan kuliahku dengan tidak mengenal orang lain, bahkan aku tidak bertegur-sapa dengan mahasiswa-mahasiswa yang sekelas denganku. Aku tidak merasa kesepian di dalam kesendirianku itu, diluar-dugaan, aku justru merasa nyaman dengan keadaan seperti itu. Kalau aku diminta untuk menyebutkan salah satu nama temanku, mungkin aku bisa menyebutkannya, namun aku tidak yakin seperti apakah mahasiswa yang memiliki nama itu, karena aku tidak pernah memperhatikannya. Tanpa kusadari, beberapa bulanpun berlalu.

.....Tidak semua keinginan kita bisa menjadi kenyataan, tidak semua rencana kita bisa berjalan dengan baik. Apakah kalian tahu, hal apa yang bisa memaksa seorang penyendiri untuk bersosialisasi di dalam lingkungan kampus? Ya, benar, tugas kelompok. Aku bahkan merasa kalau aku bisa bekerja lebih baik jika aku mengerjakan tugas itu sendiri, tapi inilah dunia perkuliahan, kita dituntut untuk bersosialisasi agar kita siap ketika harus terjun di dalam dunia kerja nantinya.
.....Tugas kelompok pertamaku, sebuah hal yang merusak rencanaku, sebuah hal yang mulai mengganggu hidupku, dan sebuah hal yang memulai jalanku, untuk mengalami hal Horor kedepannya.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Aku harus melakukan hal yang tidak kusukai hanya demi sebuah nilai. Aku sekelompok dengan tiga mahasiswa lainnya. Seorang yang juga pendiam sepertiku, dia tidak banyak bicara, dan selalu memiliki tatapan serius, Widi. Seorang yang kurasa memiliki kepribadian yang sangat berbeda denganku dan Widi, dia selalu tersenyum dan membalas ucapan setiap orang dengan ramah, Devon. Dan satu orang lainnya, yang terlihat cukup pintar dan bersemangat, dia tidak terlalu banyak bicara, tapi kurasa dia dapat diandalkan, Ricky.
.....Kami berempat memutuskan untuk membuat makalah mengenai Pentingnya Bersosialisasi Di Dalam Lingkungan Kampus. Ya, kalian benar, ini adalah salah satu tema yang tidak kusukai, namun dosen kamilah yang memutuskan tema tersebut. Makalah ini bukanlah merupakan tugas mingguan, tapi tugas jangka panjang yang akan dijadikan sebagai pertimbangan nilai setelah Ujian Akhir Semester nanti, karena itulah mahasiswa-mahasiswa di kelasku sangat antusias terhadap tugas ini, kecuali aku.

.....Beberapa hari setelah kelompok itu terbentuk, tidak banyak perkembangan yang bisa kukatakan. Aku hanya menyerahkan hasil pemikiranku berdasarkan pengalaman dan sumber-sumber yang kudapatkan di internet, dalam bentuk data. Tidak banyak interaksi yang kami lakukan walaupun seharusnya kami lebih sering berdiskusi mengenai isi dari makalah yang akan kami kerjakan.
Begitu pula dengan Widi, walaupun kami berada di kelas yang sama, kami sama sekali tidak bertegur-sapa, kami hanya duduk, terdiam selama perkuliahan berlangsung.
.....Semua masih terasa seperti biasa, sampai pada akhirnya Ricky mengumumkan kalau ada beberapa hal mengenai isi makalah yang harus kita diskusikan bersama, dan akhirnya kamipun memutuskan untuk berkumpul setelah perkuliahan selesai.

.....Di kampusku, terdapat beberapa gedung fakultas, walaupun tidak sebanyak Universitas-Universitas Negeri di Jakarta. Aku sendiri kuliah di Fakultas Sastra. Setiap Fakultas memiliki area yang biasanya digunakan para mahasiswa untuk berkumpul baik untuk sekedar nongkrong, atauapun makan dan minum ketika tidak ada jam kuliah, kami menyebut area tersebut sebagai Pendopo. Pendopo Sastra merupakan salah satu Pendopo yang selalu ramai, baik pada saat jam perkuliahan, maupun tidak. Tentu saja kami tidak mungkin berada disana untuk membahas isi makalah kami, dan kebetulah aku juga tidak terlalu suka tempat ramai. Setelah mencari-cari tempat yang pas, akhirnya kami memutuskan untuk membahas isi makalah kami di Pendopo Ekonomi. Berbeda dengan Pendopo Sastra dan Pendopo-Pendopo di Fakultas lainnya, Pendopo Ekonomi ini sangat sepi, saat kami kesana, kami tidak melihat seorangpun yang berada disana.
....."Syukurlah akhirnya kita menemukan tempat yang pas," gumamku.
.....Kamipun memutuskan untuk membeli beberapa cemilan ringan untuk menemani kami selama kami berada disana. Ricky menyarankan agar aku dan dia tetap berada disana untuk menjaga barang-barang kami, sementara Widi dan Devon pergi membeli cemilan. Sesaat kemudian, tinggalah aku dan Ricky berdua di tempat yang sepi itu. Sementara Ricky sibuk membaca kembali beberapa lembar makalah yang sudah dicetak, aku hanya duduk bersandar sambil sibuk memainkan HP-ku.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


....."Disini sepi ya?" tanya Ricky memecah kesunyian.
....."Iya," jawabku singkat. RIcky terdiam sejenak, lalu kembali membaca lembaran makalah tersebut.
.....Akhirnya Devon dan Widi-pun datang, "Ngapain aja kalian berdua selama kita gak ada? Gak ciuman kan?" ujar Devon sambil tertawa.
....."Enak aja lo! Haha!" jawab Ricky sambil tertawa dan mengambil cemilan yang dibawa Devon. Aku hanya terdiam, begitu pula dengan Widi.
.....Tidak terasa, satu jam-pun berlalu, kami sibuk membahas isi makalah kami, walaupun biasanya tidak suka banyak bicara, aku dan Widi turut aktif dalam diskusi ini, akhirnya kami memutuskan untuk berisitirahat sebentar.
....."Maaf ya, gpp kan gw ngerokok disini?" ujarnya sambil menyalakan rokok. Sepertinya dia adalah perokok berat.
....."Ngerokok terus, cepet mati lo!" seru Devon.
....."Semua orang juga bakal mati, coy!" sahut Ricky. Widi hanya terdiam sementara itu.
....."Disini sepi banget ya?" tanya Widi pada akhirnya.
....."Iya kan? Beda banget ya sama Sastra?" lanjut Ricky.
....."Gak ada mahasiswanya kali" ujar Devon sambil tertawa.
....."Ah, apaan. Mahasiswanya banyak gitu, tapi gak ada yang kesini," bantah Ricky sambil menyemburkan asap rokoknya ke udara.
.....Setelah dipikir-pikir, kondisi ini memang terlihat agak tidak wajar. Benar-benar berbeda dengan suasana yang kami rasakan di Pendopo Sastra. Widi-pun kembali terdiam setelah itu. Kami akhirnya melanjutkan pembahasan mengenai makalah kami setelah menghabiskan cemilan yang kami beli. Akhirnya setelah dua jam, kami memutuskan untuk menyudahi diskusi hari itu dan pulang ke rumah.

.....Beberapa hari kami lewati setelah itu, semua masih terasa sama, aku tetap menjalani kehidupan kuliahku seperti biasa, menutup diri dan tidak ingin bersosialisasi dengan yang lain, hanya ada satu hal yang berbeda. Devon dan Ricky selalu menyapaku dan Widi jika kami kebetulan bertemu atau berada di kelas yang sama. Suasana canggung yang kami rasakan awalnya, kini perlahan mulai mencair.
.....Devon terlihat sangat akrab sekali dengan Ricky. Di kelas-pun, mereka berdua sering terlihat bercanda satu sama lain. Aku yang awalnya tidak memperhatikan sekelilingku, sekarang entah kenapa secara otomatis aku suka memperhatikan apa yang Devon, Ricky dan Widi lakukan saat kami sekelas.
.....Diluar dugaan, Widi yang selalu terlihat diam dan memperhatikan pelajaran, ternyata suka sekali membuat Fabel di buku pelajarannya. Ricky terlihata selalu mencatat pelajaran dengan baik. Sedangkan Devon? Tanpa aku perhatikan-pun, aku bisa menebak kalau saat ini dia sedang main game di HP-nya.
.....Begitulah perubahan yang aku rasakan terhadap diriku sendiri, perlahan aku mulai memperhatikan beberapa mahasiswa di kelasku. Aura gelap yang selalu kurasakan dari Widi-pun perlahan mulai memudar. Beberapa minggu-pun berlalu, kini aku-pun mulai menyapa mereka bertiga jika kami bertemu, Widi-pun melakukan hal yang sama. Kami selalu berkumpul seusai kuliah, paling tidak satu kali dalam satu minggu untuk membahas makalah kami, mungkin inilah sebabnya kami jadi tidak secanggung dulu. Namun, kini muncul masalah baru yang harus kami hadapi. Ketika makalah kami terlihat akan berjalan lancar pada awalnya, Fakultas kami mengadakan acara bernama "Liga Sastra", acara bertemakan olahraga yang harus diadakan oleh Mahasiswa tingkat satu pada setiap tahunnya. Dan dosen kami, mengharuskan kami berempat ikut berpartisipasi sebagai panitia, sebagai bahan pertimbangan untuk isi dalam makalah kami.
....."Mati gw. . ." ujarku dalam hati.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Awalnya aku berpikir, tidak ada yang lebih buruk selain tugas kelompok bagi orang yang tidak ingin bersosialisasi sepertiku, tapi sekarang?
....."Ini gila! Gak cukup apa dengan tugas kelompok aja?!" ujarku kesal. "Sekarang gw harus ikut-ikutan jadi panitia di acara Kampus? Aduh!"
.....Aku tidak terlalu yakin apa itu Liga Sastra. Dari penjelasan Ricky, itu adalah acara tahunan yang diadakan Fakultas Sastra dengan semua panitianya berasal dari Mahasiswa semester satu. Acara itu sendiri terdiri dari lomba-lomba olahraga seperti Basket, Sepak Bola, Bulu Tangkis, dll. Selain olahraga, ada beberapa macam permainan yang ikut dilombakan seperti Balap Karung, Lomba Bakiak, dll. Apapun itu, aku sama sekali tidak tertarik. "Apa yang harus gw lakuin?!"

.....Hari pertama pembentukan Panitia Liga Sastra. Beberapa Mahasiswa tingkat satu yang mendaftarkan diri sebagai panitia dikumpulkan dalam satu ruangan oleh beberapa Mahasiswa tingkat dua dan tiga. Seperti yang bisa kalian duga, kami semua diberikan penjelasan terlebih dahulu apa itu Liga Sastra, dan beberapa arahan mengenai macam-macam perlombaan sistemasi lomba yang akan diadakan nanti,
.....Banyak sekali Mahasiswa tingkat satu yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Tentu saja diruangan ini, hanya Devon, Widi dan Ricki yang kukenal.
.....Kita masuk divisi mana nih?" Tanya Devon. Ya, tentu saja di dalam kepanitiaan ini terbagi menjadi beberapa divisi. Ada divisi Acara, Perlengkapan, Keamanan, Konsumsi, dsbg.
....."Gak usah yang terlalu ribetlah, gw juga gak ngerti tugasnya apa aja," ujarku.
....."Sama sih, gw juga gak ngerti. Gw pikir tadinya kita yang ikut lomba, padahal gw mau ikut Sepak Bola," kata Ricky sambil memperhatikan pembagian divisi yang ditulis di papan tulis.
....."Perlengkapan aja," tiba-tiba Widi buka suara.
....."Nah betul tuh, kita perlengkapan aja, gak ribet," ujar Devon mengiyakan. Begitulah, akhirnya kami berempat mengajukan diri sebagai anggota divisi Perlengkapan. Awalnya kami pikir, kami hanya perlu menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan pada saat perlombaan. Ternyata kami harus membeli semua perlengkapan, dan menyediakan atau mempersiapkan tempat untuk perlombaannya juga.
....."Gak ribet ya?" kata ku kepada Devon seusai briefing kepanitiaan tersebut.
....."Tau nih, siapa sih yang ngajakin masuk divisi Perlengkapan?" jawab Devon, dan kami bertigapun terdiam sambil menatap dia tajam.
.....Begitulah awalnya, kini kami berempat harus menghadiri rapat panitia yang biasanya diadakan dua kali dalam seminggu. Beberapa minggu setelah rapat pembentukan panitia, kehidupan kuliahku kini dicemari dengan keterpaksaan untuk bersosialisasi kepada sesama panitia. Semua jadwal perlombaan sudah disusun, sistemasi perlombaan juga sudah ditetapkan, dan kini saatnya bagi kami divisi perlengkapan untuk menyibukkan diri membeli semua kebutuhan lomba.

.....Tidak terasa sudah dua bulan berlalu, hampir semua perlengkapan lomba sudah kami beli. Kami tidak bisa langsung membeli semua kebutuhan bersamaan karena kami harus menunggu turunnya dana dari pihak atas, selain itu, kami juga menggalang dana melalui penjualan beberapa pernak-pernik seperti pin bertemakan Liga Sastra.
.....Yah, kurasa tidak begitu buruk juga mengikuti kepanitiaan ini. Setidaknya hari-hariku di Kampus tidak membosankan seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, aku masih tidak ingin mengobrol panjang lebar dengan orang lain, dan hal itulah yang sulit aku hindari karena selain kami parang anggota divisi Perlengkapan, mayoritas panitia Liga Sastra kali ini adalah perempuan, dan jujur saja, mereka terdengar berisik sekali saat mengobrol, dan hal yang paling kubenci adalah ketika mereka mengajakku ngobrol dengan topik pembicaraan yang tidak kumengerti.
.....Akhirnya kegiatan perkuliahan dan kepanitiaan pada hari itu selesai, waktu kira-kira menunjukkan pukul lima sore. "Nongkrong dulu yok sambil main kartu?" ujar RIcky setelah kami pamit diri kepada panitia yang lain.
....."Kartu?" tanya Devon.
....."Nih, gw beli kartu lebih. Gimana?" jawab Ricky sambil menunjukkan satu pak kartu ditangannya. Kami memang membeli kartu untuk Liga Sastra karena nanti juga akan diadakan lomba permainan kartu seperti Poker.
....."Wah boleh tuh!" ujar Widi semangat.
.....Akhirnya kami berempat menuju tempat yang biasa kami gunakan untuk berkumpul, Pendopo Ekonomi.
.....Langit terasa lebih cepat gelap pada hari itu. Seperti biasa, tidak ada Mahasiswa di Pendopo Ekonomi. Tempat ini sudah seperti tongkrongan pribadi kami. Selain kegiatan Liga Sastra, kami masih sering berkumpul di tempat ini untuk mengerjakan makalah kami. Tapi, walaupun tempat itu sepi seperti biasanya, entah kenapa suasana yang kurasakan saat itu sedikit berbeda. Saat itu, terasa lebih sunyi daripada biasanya. Kami bisa melihat dari kejauhan kalau masih banyak Mahasiswa Sastra yang berada di Kampus, mereka masih berlalu-lalang melewati Pendopo Sastra. Tapi entah kenapa, tempat ini, terasa sangat sunyi sekali.





Cerita Horor Remaja


Jika ada yg kebetulan menemukan thread ini dan membaca postingan ini, please, jangan ada yg post dalam bentuk apapun dulu ya. Terima kasih emoticon-Smilie

Untuk Momod, tolong ijinkan saya untuk menggunakan Post 1-20 di dalam Thread ini. Terima kasih emoticon-Smilie
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)