alexa-tracking

Cerita Horor Remaja

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afc7b2f162ec2a4458b4567/cerita-horor-remaja
Cerita Horor Remaja
Cerita Horor Remaja




.....Pernahkah kalian mendengar kata Horor?
.....Apa yang ada di pikiran kalian ketika kalian mendengar kata tersebut?

.....Aku  tidak mengerti apa sebenarnya definisi dari kata Horor, namun yang ada di dalam pikiranku adalah sesuatu yang menyeramkan, menakutkan, sesuatu yang ingin aku hindari. Kebanyakan orang mengkaitkan kata Horor dengan hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal mistis, seperti makhluk halus atau tempat-tempat yang biasa disebut angker seperti kuburan, rumah kosong atau terowongan yang gelap.
.....Banyak yang berpendapat kalau kita akan mengalami hal-hal Horor ketika kita berada di tempat-tempat seperti itu. Aku sendiri menganggap hal Horor adalah hal-hal yang membuatku merinding, ketakutan, dan ingin berlari untuk sembunyi ataupun menghindari hal-hal itu.
.....Aku adalah seorang pengecut yang tidak berani berhadapan dengan hal-hal seperti itu, aku merasa tidak nyaman ketika berada di dalam tempat-tempat seperti itu, namun aku suka mendengar cerita-cerita dan suka menonton film-film mengenai makhlus halus, hal-hal yang selalu aku hindari ketika aku masih kecil. Ketika beranjak menjadi seorang remaja seperti sekarang, entah kenapa, mungkin karena rasa keingin-tahuanku, aku mulai tertarik dengan hal-hal seperti itu. Mungkin karena keingin-tahuanku itulah, aku mulai sering mengalami dan menjumpai hal-hal Horor di dalam kehidupanku sehari-hari.
.....Apakah kalian ada yang seperti aku? Apakah kalian sering mengalaminya seperti aku? Namun sadarkah kalian, kalau kita justru lebih sering mengalami dan menjumpai hal-hal Horor di tempat yang selalu berada di sekitar kita, di tempat yang selalu kita lalui, dan di tempat yang selalu kita tuju, setiap harinya.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Tahun ajaran baru, saat dimana aku merasakan menjadi seorang Mahasiswa baru disebuah Universitas Swasta yang berada di Jakarta. Aku adalah seorang yang pendiam, paling tidak, begitulah kata mereka yang mengenalku. Hidupku hampir selalu dilalui dengan perkelahian, walaupun aku tidak suka berbuat onar, tapi sejak kecil aku selalu saja berkelahi, baik untuk alasan yang sepele ataupun hal-hal penting. Namun sebelum aku menjadi mahasiswa di Universitas ini, pada perkelahian terakhirku, Ibuku meneteskan air matanya ketika melihat tubuhku yang berlumuran darah. Hal itulah yang mendorongku dan selalu mengingatkanku untuk tidak berkelahi lagi.
.....Aku ingin menjadi seseorang yang baru disini, seseorang yang terhindar dari perkelahian, seseorang yang tidak ingin perduli dengan keadaan sekitar, setidaknya, begitulah pikirku.

.....Aku menjalani kehidupan kuliahku dengan tidak mengenal orang lain, bahkan aku tidak bertegur-sapa dengan mahasiswa-mahasiswa yang sekelas denganku. Aku tidak merasa kesepian di dalam kesendirianku itu, diluar-dugaan, aku justru merasa nyaman dengan keadaan seperti itu. Kalau aku diminta untuk menyebutkan salah satu nama temanku, mungkin aku bisa menyebutkannya, namun aku tidak yakin seperti apakah mahasiswa yang memiliki nama itu, karena aku tidak pernah memperhatikannya. Tanpa kusadari, beberapa bulanpun berlalu.

.....Tidak semua keinginan kita bisa menjadi kenyataan, tidak semua rencana kita bisa berjalan dengan baik. Apakah kalian tahu, hal apa yang bisa memaksa seorang penyendiri untuk bersosialisasi di dalam lingkungan kampus? Ya, benar, tugas kelompok. Aku bahkan merasa kalau aku bisa bekerja lebih baik jika aku mengerjakan tugas itu sendiri, tapi inilah dunia perkuliahan, kita dituntut untuk bersosialisasi agar kita siap ketika harus terjun di dalam dunia kerja nantinya.
.....Tugas kelompok pertamaku, sebuah hal yang merusak rencanaku, sebuah hal yang mulai mengganggu hidupku, dan sebuah hal yang memulai jalanku, untuk mengalami hal Horor kedepannya.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Aku harus melakukan hal yang tidak kusukai hanya demi sebuah nilai. Aku sekelompok dengan tiga mahasiswa lainnya. Seorang yang juga pendiam sepertiku, dia tidak banyak bicara, dan selalu memiliki tatapan serius, Widi. Seorang yang kurasa memiliki kepribadian yang sangat berbeda denganku dan Widi, dia selalu tersenyum dan membalas ucapan setiap orang dengan ramah, Devon. Dan satu orang lainnya, yang terlihat cukup pintar dan bersemangat, dia tidak terlalu banyak bicara, tapi kurasa dia dapat diandalkan, Ricky.
.....Kami berempat memutuskan untuk membuat makalah mengenai Pentingnya Bersosialisasi Di Dalam Lingkungan Kampus. Ya, kalian benar, ini adalah salah satu tema yang tidak kusukai, namun dosen kamilah yang memutuskan tema tersebut. Makalah ini bukanlah merupakan tugas mingguan, tapi tugas jangka panjang yang akan dijadikan sebagai pertimbangan nilai setelah Ujian Akhir Semester nanti, karena itulah mahasiswa-mahasiswa di kelasku sangat antusias terhadap tugas ini, kecuali aku.

.....Beberapa hari setelah kelompok itu terbentuk, tidak banyak perkembangan yang bisa kukatakan. Aku hanya menyerahkan hasil pemikiranku berdasarkan pengalaman dan sumber-sumber yang kudapatkan di internet, dalam bentuk data. Tidak banyak interaksi yang kami lakukan walaupun seharusnya kami lebih sering berdiskusi mengenai isi dari makalah yang akan kami kerjakan.
Begitu pula dengan Widi, walaupun kami berada di kelas yang sama, kami sama sekali tidak bertegur-sapa, kami hanya duduk, terdiam selama perkuliahan berlangsung.
.....Semua masih terasa seperti biasa, sampai pada akhirnya Ricky mengumumkan kalau ada beberapa hal mengenai isi makalah yang harus kita diskusikan bersama, dan akhirnya kamipun memutuskan untuk berkumpul setelah perkuliahan selesai.

.....Di kampusku, terdapat beberapa gedung fakultas, walaupun tidak sebanyak Universitas-Universitas Negeri di Jakarta. Aku sendiri kuliah di Fakultas Sastra. Setiap Fakultas memiliki area yang biasanya digunakan para mahasiswa untuk berkumpul baik untuk sekedar nongkrong, atauapun makan dan minum ketika tidak ada jam kuliah, kami menyebut area tersebut sebagai Pendopo. Pendopo Sastra merupakan salah satu Pendopo yang selalu ramai, baik pada saat jam perkuliahan, maupun tidak. Tentu saja kami tidak mungkin berada disana untuk membahas isi makalah kami, dan kebetulah aku juga tidak terlalu suka tempat ramai. Setelah mencari-cari tempat yang pas, akhirnya kami memutuskan untuk membahas isi makalah kami di Pendopo Ekonomi. Berbeda dengan Pendopo Sastra dan Pendopo-Pendopo di Fakultas lainnya, Pendopo Ekonomi ini sangat sepi, saat kami kesana, kami tidak melihat seorangpun yang berada disana.
....."Syukurlah akhirnya kita menemukan tempat yang pas," gumamku.
.....Kamipun memutuskan untuk membeli beberapa cemilan ringan untuk menemani kami selama kami berada disana. Ricky menyarankan agar aku dan dia tetap berada disana untuk menjaga barang-barang kami, sementara Widi dan Devon pergi membeli cemilan. Sesaat kemudian, tinggalah aku dan Ricky berdua di tempat yang sepi itu. Sementara Ricky sibuk membaca kembali beberapa lembar makalah yang sudah dicetak, aku hanya duduk bersandar sambil sibuk memainkan HP-ku.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


....."Disini sepi ya?" tanya Ricky memecah kesunyian.
....."Iya," jawabku singkat. RIcky terdiam sejenak, lalu kembali membaca lembaran makalah tersebut.
.....Akhirnya Devon dan Widi-pun datang, "Ngapain aja kalian berdua selama kita gak ada? Gak ciuman kan?" ujar Devon sambil tertawa.
....."Enak aja lo! Haha!" jawab Ricky sambil tertawa dan mengambil cemilan yang dibawa Devon. Aku hanya terdiam, begitu pula dengan Widi.
.....Tidak terasa, satu jam-pun berlalu, kami sibuk membahas isi makalah kami, walaupun biasanya tidak suka banyak bicara, aku dan Widi turut aktif dalam diskusi ini, akhirnya kami memutuskan untuk berisitirahat sebentar.
....."Maaf ya, gpp kan gw ngerokok disini?" ujarnya sambil menyalakan rokok. Sepertinya dia adalah perokok berat.
....."Ngerokok terus, cepet mati lo!" seru Devon.
....."Semua orang juga bakal mati, coy!" sahut Ricky. Widi hanya terdiam sementara itu.
....."Disini sepi banget ya?" tanya Widi pada akhirnya.
....."Iya kan? Beda banget ya sama Sastra?" lanjut Ricky.
....."Gak ada mahasiswanya kali," ujar Devon sambil tertawa.
....."Ah, apaan. Mahasiswanya banyak gitu, tapi gak ada yang kesini," bantah Ricky sambil menyemburkan asap rokoknya ke udara.
.....Setelah dipikir-pikir, kondisi ini memang terlihat agak tidak wajar. Benar-benar berbeda dengan suasana yang kami rasakan di Pendopo Sastra. Widi-pun kembali terdiam setelah itu. Kami akhirnya melanjutkan pembahasan mengenai makalah kami setelah menghabiskan cemilan yang kami beli. Akhirnya setelah dua jam, kami memutuskan untuk menyudahi diskusi hari itu dan pulang ke rumah.

.....Beberapa hari kami lewati setelah itu, semua masih terasa sama, aku tetap menjalani kehidupan kuliahku seperti biasa, menutup diri dan tidak ingin bersosialisasi dengan yang lain, hanya ada satu hal yang berbeda. Devon dan Ricky selalu menyapaku dan Widi jika kami kebetulan bertemu atau berada di kelas yang sama. Suasana canggung yang kami rasakan awalnya, kini perlahan mulai mencair.
.....Devon terlihat sangat akrab sekali dengan Ricky. Di kelas-pun, mereka berdua sering terlihat bercanda satu sama lain. Aku yang awalnya tidak memperhatikan sekelilingku, sekarang entah kenapa secara otomatis aku suka memperhatikan apa yang Devon, Ricky dan Widi lakukan saat kami sekelas.
.....Diluar dugaan, Widi yang selalu terlihat diam dan memperhatikan pelajaran, ternyata suka sekali membuat Fabel di buku pelajarannya. Ricky terlihata selalu mencatat pelajaran dengan baik. Sedangkan Devon? Tanpa aku perhatikan-pun, aku bisa menebak kalau saat ini dia sedang main game di HP-nya.
.....Begitulah perubahan yang aku rasakan terhadap diriku sendiri, perlahan aku mulai memperhatikan beberapa mahasiswa di kelasku. Aura gelap yang selalu kurasakan dari Widi-pun perlahan mulai memudar. Beberapa minggu-pun berlalu, kini aku-pun mulai menyapa mereka bertiga jika kami bertemu, Widi-pun melakukan hal yang sama. Kami selalu berkumpul seusai kuliah, paling tidak satu kali dalam satu minggu untuk membahas makalah kami, mungkin inilah sebabnya kami jadi tidak secanggung dulu. Namun, kini muncul masalah baru yang harus kami hadapi. Ketika makalah kami terlihat akan berjalan lancar pada awalnya, Fakultas kami mengadakan acara bernama "Liga Sastra", acara bertemakan olahraga yang harus diadakan oleh Mahasiswa tingkat satu pada setiap tahunnya. Dan dosen kami, mengharuskan kami berempat ikut berpartisipasi sebagai panitia, sebagai bahan pertimbangan untuk isi dalam makalah kami.
....."Mati gw. . ." ujarku dalam hati.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Awalnya aku berpikir, tidak ada yang lebih buruk selain tugas kelompok bagi orang yang tidak ingin bersosialisasi sepertiku, tapi sekarang?
....."Ini gila! Gak cukup apa dengan tugas kelompok aja?!" ujarku kesal. "Sekarang gw harus ikut-ikutan jadi panitia di acara Kampus? Aduh!"
.....Aku tidak terlalu yakin apa itu Liga Sastra. Dari penjelasan Ricky, itu adalah acara tahunan yang diadakan Fakultas Sastra dengan semua panitianya berasal dari Mahasiswa semester satu. Acara itu sendiri terdiri dari lomba-lomba olahraga seperti Basket, Sepak Bola, Bulu Tangkis, dll. Selain olahraga, ada beberapa macam permainan yang ikut dilombakan seperti Balap Karung, Lomba Bakiak, dll. Apapun itu, aku sama sekali tidak tertarik. "Apa yang harus gw lakuin?!"

.....Hari pertama pembentukan Panitia Liga Sastra. Beberapa Mahasiswa tingkat satu yang mendaftarkan diri sebagai panitia dikumpulkan dalam satu ruangan oleh beberapa Mahasiswa tingkat dua dan tiga. Seperti yang bisa kalian duga, kami semua diberikan penjelasan terlebih dahulu apa itu Liga Sastra, dan beberapa arahan mengenai macam-macam perlombaan sistemasi lomba yang akan diadakan nanti,
.....Banyak sekali Mahasiswa tingkat satu yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Tentu saja diruangan ini, hanya Devon, Widi dan Ricki yang kukenal.
....."Kita masuk divisi mana nih?" Tanya Devon. Ya, tentu saja di dalam kepanitiaan ini terbagi menjadi beberapa divisi. Ada divisi Acara, Perlengkapan, Keamanan, Konsumsi, dsbg.
....."Gak usah yang terlalu ribetlah, gw juga gak ngerti tugasnya apa aja," ujarku.
....."Sama sih, gw juga gak ngerti. Gw pikir tadinya kita yang ikut lomba, padahal gw mau ikut Sepak Bola," keluh Ricky sambil memperhatikan pembagian divisi yang ditulis di papan tulis.
....."Perlengkapan aja," tiba-tiba Widi buka suara.
....."Nah betul tuh, kita perlengkapan aja, gak ribet," ujar Devon mengiyakan. Begitulah, akhirnya kami berempat mengajukan diri sebagai anggota divisi Perlengkapan. Awalnya kami pikir, kami hanya perlu menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan pada saat perlombaan. Ternyata kami harus membeli semua perlengkapan, dan menyediakan atau mempersiapkan tempat untuk perlombaannya juga.
....."Gak ribet ya?" kata ku kepada Devon seusai briefing kepanitiaan tersebut.
....."Tau nih, siapa sih yang ngajakin masuk divisi Perlengkapan?" jawab Devon, dan kami bertigapun terdiam sambil menatap dia tajam.
.....Begitulah awalnya, kini kami berempat harus menghadiri rapat panitia yang biasanya diadakan dua kali dalam seminggu. Beberapa minggu setelah rapat pembentukan panitia, kehidupan kuliahku kini dicemari dengan keterpaksaan untuk bersosialisasi kepada sesama panitia. Semua jadwal perlombaan sudah disusun, sistemasi perlombaan juga sudah ditetapkan, dan kini saatnya bagi kami divisi perlengkapan untuk menyibukkan diri membeli semua kebutuhan lomba.

.....Tidak terasa sudah dua bulan berlalu, hampir semua perlengkapan lomba sudah kami beli. Kami tidak bisa langsung membeli semua kebutuhan bersamaan karena kami harus menunggu turunnya dana dari pihak atas, selain itu, kami juga menggalang dana melalui penjualan beberapa pernak-pernik seperti pin bertemakan Liga Sastra.
.....Yah, kurasa tidak begitu buruk juga mengikuti kepanitiaan ini. Setidaknya hari-hariku di Kampus tidak membosankan seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, aku masih tidak ingin mengobrol panjang lebar dengan orang lain, dan hal itulah yang sulit aku hindari karena selain kami parang anggota divisi Perlengkapan, mayoritas panitia Liga Sastra kali ini adalah perempuan, dan jujur saja, mereka terdengar berisik sekali saat mengobrol, dan hal yang paling kubenci adalah ketika mereka mengajakku ngobrol dengan topik pembicaraan yang tidak kumengerti.
.....Akhirnya kegiatan perkuliahan dan kepanitiaan pada hari itu selesai, waktu kira-kira menunjukkan pukul lima sore. "Nongkrong dulu yok sambil main kartu?" ujar RIcky setelah kami pamit diri kepada panitia yang lain.
....."Kartu?" tanya Devon.
....."Nih, gw beli kartu lebih. Gimana?" jawab Ricky sambil menunjukkan satu pak kartu ditangannya. Kami memang membeli kartu untuk Liga Sastra karena nanti juga akan diadakan lomba permainan kartu seperti Poker.
....."Wah boleh tuh!" ujar Widi semangat.
.....Akhirnya kami berempat menuju tempat yang biasa kami gunakan untuk berkumpul, Pendopo Ekonomi.
.....Langit terasa lebih cepat gelap pada hari itu. Seperti biasa, tidak ada Mahasiswa di Pendopo Ekonomi. Tempat ini sudah seperti tongkrongan pribadi kami. Selain kegiatan Liga Sastra, kami masih sering berkumpul di tempat ini untuk mengerjakan makalah kami. Tapi, walaupun tempat itu sepi seperti biasanya, entah kenapa suasana yang kurasakan saat itu sedikit berbeda. Saat itu, terasa lebih sunyi daripada biasanya. Kami bisa melihat dari kejauhan kalau masih banyak Mahasiswa Sastra yang berada di Kampus, mereka masih berlalu-lalang melewati Pendopo Sastra. Tapi entah kenapa, tempat ini, terasa sangat sunyi sekali.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Waktu menunjukkan kurang-lebih pukul tujuh malam, tanpa terasa kami menghabiskan waktu beberapa jam untuk bermain kartu di Pendopo itu. Baru kali itu kami menghabiskan waktu sampai selarut itu di Pendopo Ekonomi, dan baru kali itu kami menyadari kalau tidak ada fasilitas penerangan yang memadai di Pendopo Ekonomi. Satu-satunya penerangan yang membantu kami adalah lampu pada area tempat parkir motor yang terletak di seberang Pendopo Ekonomi. Kami bahkan tidak menyadari hal itu saat kami bermain kartu, namun langit yang semakin gelap akhirnya menyadarkan kami. Tempat itu terasa sangat gelap saat itu, suasana remang-remang ini, ditambah sunyinya suasana di sekitar Pendopo Ekonomi, membuatku berpikir yang aneh-aneh.
.....Beberapa kali saat kami bermain kartu, aku merasa seperti ada yang menatapku dari belakang. Tentu saja aku menganggap itu sebagai kekonyolanku, karena aku duduk bersandar di tembok. Suasana yang aneh membangkitkan pikiran dan imajinasi liarku. Kami pun memutuskan untuk pulang dan berjalan menuju parkiran yang berada di seberang. Sekitar tiga langkah kakiku meninggalkan Pendopo Ekonomi, aku merasakan sentuhan tangan di pundak kananku, begitu halus tangan itu mendarat di pundakku. Aku menengok ke belakang untuk memastikan, namun tentu saja, tidak ada apa-apa di belakangku, sementara Rikcy, Devon dan Widi sudah berjalan duluan di depanku. "Lagi-lagi aku dan pikiran bodohku," pikirku dan menganggapnya sebagai angin lalu.





Cerita Horor Remaja


.....Waktu persiapan untuk Liga Sastra makin mendekati akhir, dalam dua minggu terakhir, hampir setiap hari kami para panitia berkumpul untuk saling membantu mengerjakan persiapan Liga Sastra. Hari itu, Hari Senin, seminggu sebelum Liga Sastra dimulai. Aku berada di Pendopo Sastra bersama dengan para panitia lainnya. Divisi Perlengkapan akan mulai mempersiapkan lapangan yang akan digunakan untuk lomba Basket nanti. Kami harus membuat ring basket baru karena yang lama sudah tidak layak digunakan, dan mengecat ulang lapangan. Aku kembali teringat apa yang aku alami saat terakhir kami bermain kartu di Pendopo Ekonomi.
.....Pernahkah kalian mengalami hal-hal ganjil yang tidak bisa dijelaskan secara logis dan akhirnya kalian memutuskan kalau hal itu hanya sebatas imajinasi atau mimpi? Saat kecil, aku pernah mengalaminya beberapa kali, namun ada tiga kejadian yang paling aku ingat.
.....Saat itu, aku tertidur di sore hari, mungkin sekitar pukul enam sore. Seingatku, aku tertidur nyenyak di tempat tidurku saat ini, sampai ada yang membangunkan aku. Masih dalam kondisi terlelap, aku dikagetkan dengan sentuhan di lutut kaki kananku, sentuhan yang terasa berasal dari guratan jari-jari tangan. Aku terbangun dan langsung melihat kearah ujung kakiku, dan kulihat sesuatu berwajah besar yang berwarna merah sedang jongkok di lantai yang berada di ujung tempat tidurku. Aku terkejut dan sesaat kemudian aku seperti baru benar-benar terbangun, dan kusadari kalau tidak mungkin ada yang bisa jongkok di ujung tempat tidurku karena tempat ujung tempat tidurku memepet tembok.
.....Pernah juga saat sore hari ketika aku sedang menonton sebuat siaran musik di televisi. Hari itu hari minggu, dan biasanya pada saat seperti itu, aku memang menonton acara musik itu. Sesekali kamera memperlihatkan barisan penonton yang duduk di tribun. Entah apa yang saat itu aku pikirkan, setelah kesekian kali kamera memperlihatkan barisan penonton itu, sekilas muncul sesosok wajah berwarna merah yang langsung menghilang. Aku terus menganggap kalau itu hanyalah ilusi semata, hanya imajinasiku, namun aku tidak bisa melupakan begitu saja wajah seram yang kulihat saat itu. Esoknya aku bertanya kepada beberapa temanku yang juga menonton acara itu, namun tidak ada dari mereka yang melihat wajah merah itu.
.....Selain dua hal itu, ada satu kejadian lagi yang paling kuingat. Saat itu, aku dan keluarga besarku sedang berlibur di Puncak Bogor. Kami memang biasa menghabiskan waktu di akhir tahun dengan menginap di Villa milik kantor Ibuku setiap tahunnya. Saat itu, ada satu hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya saat kami berlibur di Puncak Bogor. Saat itu, kurasa aku sudah cukup berumur untuk mengetahui hal-hal dewasa. Siang itu, karena cuaca terasa sangat dingin, aku masturbasi ketika berada di kamar sendirian, mungkin itulah sebab aku mengalami hal aneh setelahnya, paling tidak, itulah yang aku pikirkan. Malamnya, Abangku dan Keponakanku berencana untuk menonton pertandingan Sepak Bola di televisi, sedangkan aku yang saat itu masih tidak tertarik dengan Sepak Bola, memilih untuk tidur. Aku terbangun kira-kira pada pukul satu dini hari, sepertinya Abang dan Keponakanku masih menonton Sepak Bola karena aku dapat mendengar suara mereka dan suara televisi itu. Aku menengok kearah pintu yang rupanya tidak tertutup dan kulihat mereka berdua sedang duduk di lantai menghadap televisi. "Mungkin tidak buruk juga kalau aku ikut menonton," pikirku sambil bergerak meninggalkan tempat tidur. Saat itu, barulah aku sadar kalau aku tidak bisa menggerakan tangan dan kakiku. Aku berusaha untuk bangkit tapi tubuhku tertahan. Aku bisa menggerakan kepalaku ke kiri dan ke kanan, aku juga bisa menggerakan mulutku, tapi tidak ada suara yang keluar. Aku merintih sekuat tenaga sambil berusaha menggerakkan tanganku, namun sia-sia. Sampai akhirnya aku merasa sesak nafas, aku berdoa dan terus berdoa, dan akhirnya aku kembali terlelap. Aku terbangun kembali pada pagi harinya seperti tidak terjadi apa-apa. Walaupun terasa sangat nyata, namun aku menganggap itu sebagai mimpi.

.....Beberapa hal aneh yang pernah kita alami, mungkin terjadi hanya karena kita yang selalu dipenuhi ketakutan dan berpikir macam-macam. Seperti saat ini, mungkin ada seseorang di belakangmu, mungkin ada sesuatu di atas lemarimu, mungkin ada yang menatapmu dari sudut kamarmu, mungkin ada sesuatu yang bergelantungan diatasmu, mungkin kamu bisa merasakannya, namun ketika kamu melihat kearahnya, kamu tidak melihat apa-apa. Mungkin semua itu hanya karena pikiranmu sendiri sehingga kamu membayangkan yang aneh-aneh.
.....Jika kamu menengok kearah kananmu sekarang, mungkin kamu tidak akan melihat apa-apa. Tunggulah beberapa saat, sampai kamu mendengar bunyi yang berbeda dari yang kamu dengar saat ini. Bunyi angin, bunyi berdecak, bunyi ketukan, bunyi jendela tertutup, bunyi air menetes, bunyi apapun itu. Saat mendengar bunyi itu, cobalah sekali lagi untuk menengok ke kananmu, kamu akan melihat sesuatu yang tidak kamu lihat sebelumnya. Tapi mungkin juga lagi-lagi kamu tidak melihat apapun. Karena dia ada di atasmu. Entahlah, mungkin juga tidak.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Hari Rabu, hanya tinggal lima hari lagi sebelum kami menyelenggarakan Liga Sastra. Langit terlihat mendung dan angin lumayan sering berhembus pada sore hari itu. Hampir semua panitia berada di Pendopo Sastra ataupun Lapangan Basket yang berada di depannya. Entah kenapa suasana hatiku saat itu tidak begitu tenang, entah karena aku gugup dengan acara yang sebentar lagi akan diadakan, entah karena aku takut persiapan yang kami lakukan masih kurang cukup, entahlah.
.....Aku berjalan mendekati ring basket yang sudah kami buat, ada sedikit rasa kagum melihatnya karena baik dalam pembuatan papan ring, desain gambar pada papan tersebut, serta pengecatan ulang lapangan serta papan ring kami dari Divisi Perlengkapan yang mengerjakannya. Aku sendiri sama sekali tidak menyangka kalau aku akan terlibat dalam kegiatan seperti ini, hal yang tadinya sangat ingin aku hindari, tapi sekarang, kau tahu apa yang aku rasakan? Aku menikmatinya.

.....Devon dan Ricki terlihat asik berdiskusi di Pendopo Sastra bersama dengan beberapa anak lain yang juga dari DIvisi Perlengkapan, Widi sepertinya sedang asik melihat-lihat pin berdesain Liga Sastra yang memang kami buat untuk kegiatan mencari dana. Sambil memperhatikan mereka, tetes air membasahi pipiku. Sepertinya tidak cukup hanya dengan mendung saja, gerimis kecil mulai membasahi sore hari yang kelam itu. Aku menengadahkan kepalaku keatas kearah langit, disaat itulah aku melihat sekelibat bayangan yang tidak biasa disudut mataku. Aku menengok kearah bayangan itu, kearah gedung Fakultas Sastra, kesebuah jendela di gedung itu, jendela yang berada di lantai tiga gedung itu, aku melihat sesosok wanita.
.....Wanita itu berdiri dengan kepala tertunduk kebawah. Rambut hitamnya yang panjang terurai menutupi wajahnya, dia memakai baju terusan berwarna putih kumuh yang dipenuhi bercak berwarna kecoklatan, "Tanah?" pikirku. Aku terus memperhatikan sosok wanita itu sampai akhirnya aku tersadar, dan tubuhku merinding seketika. Wanita itu, aku bisa melihat dengan jelas tubuh wanita itu dari kepala hingga kaki, dia berada di luar jendela gedung lantai tiga, melayang.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Aku terbangun dari mimpi buruk-ku. Badanku berkeringat dan aku sedikit kesulitan bernapas. "Hanya mimpi?" tanyaku dalam hati.Aku masih duduk terdiam di tempat tidurku. Mimpi yang baru saja kualami terasa sangat nyata, Entahlah, tapi kurasa, aku sangat jarang memimpikan sebuah tempat secara spesifik. Aku sering memimpikan seseorang yang kukenal, namun biasanya aku tidak mengetahui tempatku berada di dalam mimpi itu, hanya sebuah tempat yang muncul secara acak.
....."Kurasa aku terlalu banyak menonton film horror," gumamku.
.....Siapa sangka kejadian yang sudah terlalu sering ada di film horror justru aku alami sendiri. "Hantu wanita berambut panjang dengan baju berlumuran darah? Dan melayang?" tanyaku geli dalam hati. "Lalu selanjutnya apa? Suster ngesot?" ujarku menyebutkan salah satu sosok hantu dalam perfilm-an Indonesia.

.....Aku ke kampus seperti biasa, tidak terasa hanya tinggal lima hari lagi, Liga Sastra akan dilaksanakan. Seperti biasa, saat kelar kuliah, para panitia berkumpul di Pendopo Sastra. Beberapa dari kami ada yang bertugas untuk mengurus pendaftaran, menjual merchendise, dan beberapa melakukan simulasi lomba yang akan diadakan nanti.
....."Wah, akhirnya ring kita bakal digunain sebentar lagi!" ujar Devon bangga sambil menatap ring basket itu,
....."Btw, jadinya kita ikut lomba apa aja nih?"
....."Gw sama Ricky sih ikut Futsal juga. Kita daftar Poker juga, yok?" ajaknya.
....."Nah, ide bagus tuh!" ujarku menyetujui.
.....Setelah mengurus pendaftaran Poker, aku berjalan mendekati ring Basket. Aku menatap ring yang walaupun tidak sebagus barang yang dijual di toko, tapi aku cukup bangga dengan pekerjaan kami. Desain papan ring tersebut adalah karya dari Widi, desainnya unik namun tidak norak, kami menyukainya.
.....Saat menatap ring tersebut, aku teringat kembali akan mimpiku, dan reflek memalingkan wajahku ke arah jendela yang muncul di mimpiku. Namun tentu saja tidak ada apa-apa. Aku melihat Widi sedang asik mengobrol dengan panitia yang menjaga meja pendaftaran, sedangkan Devon dan Ricky sedang asik mengobrol berdua di Pendopo Sastra. Aku memandang kearah langit yang agak sedikit mendung saat itu. Ini sedikit mirip dengan apa yang kulihat di mimpiku. "Yah, pemandangan seperti ini adalah pemandangan yang sering terjadi kan?" gumamku.
.....Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita kepada Devon mengenai mimpiku. Dia hanya tertawa setelah mendengarnya. Mungkin memang karena aku saja yang terlalu gugup selama persiapan perlombaan ini sehingga aku memimpikan hal yang aneh mengenai ini. Dan pada akhirnya, tidak ada yang terjadi pada hari itu.

❆ ❆ ❆ ❆ ❆


.....Hanya tinggal hitungan hari sampai Liga Sastra diselenggarakan. Selain rapat yang diadakan setelah perkuliahan selesai, masih banyak yang harus kami diskusikan, karena itu biasanya pada malam hari kami masih sering berdiskusi lewat sosial media.
....."Hari Sabtu si Beruk ultah nih, patungan yok!" ajak Devon di dalam grup chat yang saat itu hanya diisi oleh aku, Devon dan Ricky.
....."Wah, boleh-boleh! Kita kan juga Sabtu harus ke kampus buat beresin lapangan!" timpal Ricky.
....."Emangnya dia bakal ke kampus hari Sabtu? Dia kan selalu sibuk kalau hari Sabtu?" tanyaku.
....."Gpp, kita paksa aja nanti dia harus ke kampus, bilang aja kita butuh bantuan gitu!" jawab Ricky meyakinkan.
....."Yauda, besok kita kumpulin uang patungannya, ya. Siapa nih yang mau beli kadonya?" tanya Devon.
....."Gw aja deh. Tapi berarti hari Sabtu gw datengnya agak sore ya, gpp kan? usul Ricky......Dan akhirnya tercapailah kesepakatan dimana aku dan Devon akan datang ke kampus dari siang hari dan mempersiapkan kebutuhan untuk Liga Sastra terlebih dahulu baru kemudian Ricky datang sambil membawakan kado dan kue untuk ulang tahun Widy. Waktu menunukkan pukul satu pagi, aku masih membiarkan komputerku menyala setelah selesai mengobrol dengan Ricky dan Devon. Aku kembali memikirkan mimpi buruk yang kualami. "Ini benar-benar aneh" pikirku. "Emang sih gw lumayan sering nonton film horror akhir-akhir ini, tapi gak pernah tuh kebawa mimpi," lanjutku keherenan. Aku masih saja memikirkannya. Aku merasa aneh, karena seumur hidup, aku baru kali ini mengalami mimpi horror yang berlatar tempat yang memang ada di dalam kehidupanku sehari-hari. "Udah kaya di film-film aja deh!" gumamku. Akhirnya aku-pun terlelap.

.....Aku kembali menjalani kehidupanku tanpa ada masalah berarti. Aku kuliah seperti biasa, dan tidak ada yang aneh. Hari terakhir kuliah minggu ini, Hari Jumat, Aku memiliki kelas yang berbeda dengan Ricky, Devon dan Widy pada siang harinya. Namun kami memutuskan untuk nongkrong di Pendopo EKonomi pada sore harinya.
.....Sekali lagi aku berpikir, ternyata tidak buruk juga aku mengikuti kegiatan kepanitiaan ini. Maksudku, ternyata kegiatan ini bisa menghindari diriku yang sempat kecanduan game online, dan aku bisa belajar untuk mengerti keunikan dari sifat beberapa panitia yang sering berkomunikasi denganku. Bisa dibilang, sekarang aku jadi lebih pintar dalam menebak karakteristik seseorang. Bagiku, mereka yang ikut kepanitiaan disini, terkadang tanpa sadar membuka dirinya dan memperlihatkan watak asli mereka yang biasanya tidak mereka perlihatkan dalam kehidupan sehari-hari, dan hal ini cukup menarik bagiku. Berbicara soal hal yang menarik, ada seoarang mahasiswi yang juga menarik perhatianku. Lusiana, itu namanya. Aku yang memutuskan untuk menjalani kehidupan perkuliahan normal tanpa embel-embel percintaan, pada akhirnya kalah karena keberadaan sesosok yang begitu mempesona. Tapi tentu saja aku tidak akan membahasnya lebih jauh.

.....Akhirnya perkuliahanku pada hari itu selesai. Aku melihat Devon, Ricky dan Widy sudah menungguku di Pendopo Ekonomi. Seperti biasanya, tidak ada orang selain kami di pendopo ini. Sangat berbeda dengan Pendopo Sastra yang bahkan sampai sore hari seperti ini masih saja ada banyak orang yang berlalu-lalang disana. Pemandangan yang kami lihat di Kantin Sastra-pun sangat kontras dengan apa yang ada disini. Saat itu sudah pukul lima sore, kami mengawali kegiatan kami di Pendopo Ekonomi dengan bermain Poker sambil menceritakan apa saja yang kami alami hari ini, kami tertawa terbahak-bahak seakan sudah lama sekali kami tidak bertemu. Sampai saat ini, Widy masih tidak memberitahu kami mengenai ulang tahunnya, namun syukurlah kami sudah mempersiapkan kejutan untuknya. Saat ini, Widy sudah sangat terbuka dan menerima kami, hal itu bisa kulihat dari cara dia bercanda dan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan kami, aku sangat tidak menyangka kalau ini adalah Widy yang sama dengan yang kukenal saat hari pertama kami kuliah disini.
.....Kesunyian yang terasa di Pendopo Ekonomi tersebut perlahan tertutupi oleh tingkah konyol Devon dan Widy yang membuat suasana disana ceria. Kami terus bermain Poker sampai tiba-tiba ada orang yang berjalan dan memperhatikan kami.





Cerita Horor Remaja
Jika ada yg kebetulan menemukan thread ini dan membaca postingan ini, please, jangan ada yg post dalam bentuk apapun dulu ya. Terima kasih emoticon-Smilie

Untuk Momod, tolong ijinkan saya untuk menggunakan Post 1-20 di dalam Thread ini. Terima kasih emoticon-Smilie
KASKUS Ads
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
×