alexa-tracking

Batas Mengucapkan Niat Puasa Ramadhan

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afc320d32e2e665618b457f/batas-mengucapkan-niat-puasa-ramadhan
Batas Mengucapkan Niat Puasa Ramadhan
Alhamdulillah malam ini adalah awal kita memasuki bulan ramadhan. Insyaallah mulai malam ini masjid-masjid akan dipenuhi para pemburu pahala dan berkah bulan suci. Biasanya masjid hanya berisikan 1 baris shalat fardhu, maka hari ini para jama'ah akan meramaikan masjid hingga tumpah ke pelataran. Lantunan Al-Qur'an tidak akan berhenti walaupun gelap malam semakin pekat.


Batas Mengucapkan Niat Puasa Ramadhan
Sahabatku, ada hal yang menarik untuk saya sampaikan pada awal ramadhan ini. Yaitu; Sudahkan anda mengucapkan niat untuk puasa ramadhan hari esok ? Sebagaimana sabda Nabi saw "bahwa setiap amal itu selalu disertai dengan niat". Jadi pembahasan niat, sangat penting bagi muslimin ketika hendak melakukan suatu amal ibadah. Begitu juga ketika meksanakan kewajiban puasa ramadhan.Terlepas dari cara membaca niat dengan jihar (secara terang-terangan / terucapkan oleh lisan) atau sirr (tanpa suara cukup dibaca dalam hati).

Niat puasa mau dibaca dengan jihar atau sirr tidak mengurangi rukun dari puasa. keduanya boleh dilakukan karena sama-sama memiliki dasar yang kuat. Untuk lafadz niatnya ada yang menggunakan "nawaitu shouma ghodin.....", yang terpenting adalah melandasi puasa ramadhan ini dengan niat mencari ridha Allah dan harus diucapkan sebelum fajar shodiq (fajar penanda datangnya shalat shubuh).

Ulama sepakat bahwa niat puasa ramadhan harus dilakukan sebelum tiba waktu subuh. karena ada salah satu riwayat yang berbunyi;


عَنْ حَفْصَةَ أُم الْمُؤْمِنِينَ أَن النبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ قَالَ :  مَنْ لَمْ يُبَيتْ الصيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ



Dari Hafshoh Ummul Mukminin bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Al Albani.

Hadits ini sangat gamblang sekali menjelaskan bahwa niat puasa ramadhan harus dilakukan sebelum subuh, bila tidak, maka puasanya tidak sah. Hanya saja sebagian ulama ada yang berbeda pendapat tentang, apakah tiap hari niat itu diunlang-ulang ? Saya pribadi lebih condong kepada pendapat ulama yang mewajibkan niat puasa tiap hari. Karena puasa ramadhan kita ulang-ulang selama 1 bulan. Maka tiap hari wajib untuk mengulang niat. Sebagaimana shalat, tiap kali kita ingin melaksanakan maka wajib bagi kita untuk melafadzkan niat.

Wallahu A'lam. Semoga bermanfaat.emoticon-Ultahemoticon-Recommended Seller
Sahabat –Al Faruq- Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,’Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah hadits yang menunjukkan bahwa amal seseorang akan dibalas atau diterima tergantung dari niatnya.

Setiap Orang Pasti Berniat Tatkala Melakukan Amal

Niat adalah amalan hati dan hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. Niat itu tempatnya di dalam hati dan bukanlah di lisan, hal ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Abdul Harim Abul Abbas Al Haroni dalam Majmu’ Fatawanya.

Setiap orang yang melakukan suatu amalan pasti telah memiliki niat terlebih dahulu. Karena tidak mungkin orang yang berakal yang punya ikhtiar (pilihan) melakukan suatu amalan tanpa niat. Seandainya seseorang disodorkan air kemudian dia membasuh kedua tangan, berkumur-kumur hingga membasuh kaki, maka tidak masuk akal jika dia melakukan pekerjaan tersebut -yaitu berwudhu- tanpa niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan,”Seandainya Allah membebani kita suatu amalan tanpa niat, niscaya ini adalah pembebanan yang sulit dilakukan.”

Apabila setan membisikkan kepada seseorang yang selalu merasa was-was dalam shalatnya sehingga dia mengulangi shalatnya beberapa kali. Setan mengatakan kepadanya,”Hai manusia, kamu belum berniat”. Maka ingatlah,”Tidak mungkin seseorang mengerjakan suatu amalan tanpa niat. Tenangkanlah hatimu dan tinggalkanlah was-was seperti itu.”(Lihat Syarhul Mumthi, I/128 dan Al Fawa’id Dzahabiyyah, hal.12)

Melafadzkan Niat

Masyarakat kita sudah sangat akrab dengan melafalkan niat (maksudnya mengucapkan niat sambil bersuara keras atau lirih) untuk ibadah-ibadah tertentu. Karena demikianlah yang banyak diajarkan oleh ustadz-ustadz kita bahkan telah diajarkan di sekolah-sekolah sejak Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Contohnya adalah tatkala hendak shalat berniat ’Usholli fardhol Maghribi …’ atau pun tatkala hendak berwudhu berniat ’Nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsi …’. Kalau kita melihat dari hadits di atas, memang sangat tepat kalau setiap amalan harus diawali niat terlebih dahulu. Namun apakah niat itu harus dilafalkan dengan suara keras atau lirih?!

Secara logika mungkin dapat kita jawab. Bayangkan berapa banyak niat yang harus kita hafal untuk mengerjakan shalat mulai dari shalat sunat sebelum shubuh, shalat fardhu shubuh, shalat sunnah dhuha, shalat sunnah sebelum dzuhur, dst. Sangat banyak sekali niat yang harus kita hafal karena harus dilafalkan. Karena ini pula banyak orang yang meninggalkan amalan karena tidak mengetahui niatnya atau karena lupa. Ini sungguh sangat menyusahkan kita. Padahal Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari)

Ingatlah setiap ibadah itu bersifat tauqifiyyah, sudah paketan dan baku. Artinya setiap ibadah yang dilakukan harus ada dalil dari Al Qur’an dan Hadits termasuk juga dalam masalah niat.

Setelah kita lihat dalam buku tuntunan shalat yang tersebar di masyarakat atau pun di sekolahan yang mencantumkan lafadz-lafadz niat shalat, wudhu, dan berbagai ibadah lainnya, tidaklah kita dapati mereka mencantumkan ayat atau riwayat hadits tentang niat tersebut. Tidak terdapat dalam buku-buku tersebut yang menyatakan bahwa lafadz niat ini adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan sebagainya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad, I/201, ”Jika seseorang menunjukkan pada kami satu hadits saja dari Rasul dan para sahabat tentang perkara ini (mengucapkan niat), tentu kami akan menerimanya. Kami akan menerimanya dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi dan sahabatnya. Dan tidak ada petunjuk yang patut diikuti kecuali petunjuk yang disampaikan oleh pemilik syari’at yaitu Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam.” Dan sebelumnya beliau mengatakan mengenai petunjuk Nabi dalam shalat,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak mendirikan shalat maka beliau mengucapkan : ‘Allahu Akbar’. Dan beliau tidak mengatakan satu lafadz pun sebelum takbir dan tidak pula melafadzkan niat sama sekali.”


(mudah2n apapun baik selama ikhlas dan istiqomah)
emoticon-Recommended Seller


Quote:

Setuju sama agan ini emoticon-Big Grin
Dimana mana tuh apa yg kita lakukan pasti niat mengikuti. Masa iya kita di tempat wudhu niatnya mandi kan ga mungkin emoticon-Hammer2
emoticon-Ultah