alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Reformasi Masih Sebatas Membereskan Kamar yang Berantakan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afbed73642eb634268b4567/reformasi-masih-sebatas-membereskan-kamar-yang-berantakan

Reformasi Masih Sebatas Membereskan Kamar yang Berantakan

 Seperti membereskan sebuah kamar yang berantakan, tapi si empunya kamar justru tidak merapikan dirinya sendiri. Begitulah kira-kira reformasi yang tahun ini genap berusia 20 tahun. Pembenahan yang tak kunjung usai. 
Selama dua dasawarsa, pemerintah lebih banyak menata ulang berbagai lembaga, namun lupa membenahi sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya. 
Analogi ini digunakan oleh astronom dan  pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara, Karlina Supelli  untuk mengambarkan perjalanan Reformasi selama dua dekade. “Reformasi tidak saja belum selesai, tetapi juga perlu maju setapak lagi”, katanya dalam ceramah bertajuk  “20 Tahun Reformasi : Majukah Rasionaitas dan Budaya Ilmiah Kita?” di Teater Salihara, Jakarta, Selasa (15/5).
Salah satu motor pengerak organisasi Suara Ibu Peduli (SIP) ini berpendapat,  reformasi yang dirintis 20 tahun silam tak sekadar bermakna peralihan, tanggapan reaktif atau instinktif terhadap suatu keadaan. Reformasi merupakan sebuah transformasi yang disengaja untuk mencapai tujuan yang secara khusus telah dirancang.
Karlina menyebut, representasi dari karakter-karakter itu dalam Reformasi sudah mulai tampak setahun sebelum peristiwa-peristiwa itu. “Seingat saya diskusi tentang perubahan mulai mengemuka sejak 1997. Diskusi yang semakin intensif beralih menjadi demonstrasi sesudah penembakan mahasiswa dan kerusuhan Mei 1998," ujarnya. 
Ia juga mengingatkan reformasi merupakan sebuah gerakan kolosal. Artinya, banyak orang yang terlibat dan gagasan-gagasan yang saling berkelindaan dan berkontestasi. "Jadi, dalam peristiwa itu, tidak ada satu kelompok yang dapat naik ke panggung dan mengaku-aku sebagai penggerak reformasi 1998," kata Karlina.
Oleh karena itu ketimbang meributkan siapa yang berjasa atau mengaku sebagai tokoh sentral yang mengemuka jelang peringatan "20 Tahun Reformasi", lebih baik menyelesaikan persoalan-persoalan yang belum tuntas. Karlina mencontohkan nasib para korban yang ditembak di dalam kampus, meninggal dalam gedung-gedung yang sengaja dibakar, mengalami kekerasan seksual dan bentrok massa.
Sampai saat ini, para korban itu masih setia menuntut keadilan pada negara. Meskipun jejaknya senyap, namun mereka tetap konsisten menagihnya di depan Istana Negara (hampir) setiap Kamis sore. “ Kamis lalu, tepatnya 10 Mei 2018, untuk ke-538 kalinya keluarga korban pra- dan-pascareformasi berdiri di sana. Tak letih melawan lupa, potret korban, paying hitam, baju hitam. Untuk sekian ratus kali pula aksi tidak berjawab," ungkap Karlina.
Namun sambil membereskan persoalan-persoalan di masa lalu, dalam pandangannya, Reformasi juga perlu maju setapak lagi. Karlina mencontohkan, upaya ini dapat direalisasikan melalui penuangan beragam gagasan yang dilakukan para intelektual dalam agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia 2045 yang berpijak  Indonesia, seperti pengembangan energi matahari, angin, dan panas bumi yang dapat diolah langsung di Indonesia.
Bila hal-hal semacam ini dapat mewujud, maka reformasi dapat berpadanan dengan metamorphosis yang berangkat dari imajinasi ihwal masa depan yang dicita-citak. Untuk itu, Karlina mengingatkan  metamorphosis terjadi bila reformasi mengena hingga tataran keyakinan, cara merasa, dan berpikir yang mampu mengerakkan seseorang untuk bertindak sesuai mimpi masa depan yang dibayangkan bersama.

Sumber: www.law-justice.co

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di