alexa-tracking

Hidup Minimalis tapi Ujung-ujungnya Tetap Kapitalis

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afbb64bded77077578b4579/hidup-minimalis-tapi-ujung-ujungnya-tetap-kapitalis
Hidup Minimalis tapi Ujung-ujungnya Tetap Kapitalis
Gaya hidup minimalis rupanya banyak dibahas. Ada buku dan blog yang mencoba membahas tuntas gaya hidup ini, juga ada film yang menceritakan tentang kehidupan minimalisti.

Tren hidup minimalis mulai populer di tengah gempuran budaya konsumerisme seperti saat ini. Para penganutnya tersebar di hampir penjuru dunia, misalnya Eropa, Amerika, Jepang, dan Australia.

Lantas, apa yang membuat gaya hidup minimalis ini menarik, sehingga bisa diterima masyarakat?

Pada awalnya, gaya hidup minimalis adalah ajaran Buddhisme Zen yang mengajarkan tentang cara menekan hawa nafsu untuk membeli, memiliki, dan menggunakan barang yang berlebihan.

Ajaran ini diterapkan pada kehidupan orang Jepang. Tak hanya alasan kepercayaan dan ajaran agama, melainkan ada faktor geografis yang menyebabkan mereka harus menjalani gaya hidup minimalis.

Jepang memiliki potensi gempa bumi yang tinggi. Karena itu, dengan memiliki sedikit barang, maka penduduk Jepang bisa meminimalisir risiko kejatuhan barang.

Namun, di era digital dengan perluasan akses internet dan teknologi informasi seperti saat ini, telah menghadirkan gaya hidup minimalis dalam bentuk baru. Banyak orang yang tertarik dengan gaya hidup ini.

Melalui buku, film, blog, dan artikel, pelaku gaya hidup minimalis yang kekinian itu berusaha memperluas pasarnya. Mereka menawarkan semacam harapan bahwa hidup minimalis bisa bikin hidup lebih bahagia, tidak ada beban, ramah lingkungan, lebih produktif, dan lebih berhemat.

Tapi, apa iya, gaya hidup tersebut dapat memberikan efek positif yang sedemikian rupa?

Selama ini, produksi wacana tak bisa lepas dari pengaruh kuat ilmu pengetahuan. Ini disebabkan logika masyarakat positivis yang memiliki keyakinan terhadap hasil uji ilmu pengetahuan.

Dengan kata lain, sebuah produk dipercaya aman untuk kesehatan, ketika sudah melewati sederet uji coba di laboratorium. Sama halnya dengan gaya hidup minimalis, gaya hidup ini juga harus menjalani beragam tes keilmuan agar layak diterapkan.

Banyak hasil studi yang sudah mengkaji hubungan antara gaya hidup minimalis dengan tingkat kebahagiaan. Hal itu dilakukan agar masyarakat tertarik dan yakin untuk menjadi pengikutnya.

Lalu bagaimana hasilnya?

Layaknya sebuah promosi barang baru, gaya hidup minimalis diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat, karena masyarakat telah jenuh dengan gaya hidup konsumerisme.

Lalu, siapa yang menjadi targetnya? Tentu saja para generasi milenial yang melek teknologi dan pengetahuan. Para pemuda-pemudi ini banyak sekali dihujani beragam informasi. Mereka menjadi kritis dan menyadari bahwa produk budaya konsumerisme memiliki efek buruk bagi kehidupannya.

Karena itu, mereka mencari alternatif gaya hidup alternatif dan kepincut dengan gaya hidup minimalis. Namun, tanpa disadari, mereka sebetulnya terjebak dalam masalah yang sama – hanya beda ‘bungkus’.

Apakah kita pernah berpikir siapa yang diuntungkan dari tren gaya hidup ini?

Yang perlu diperhatikan adalah wacana yang bermain di sana demi memperebutkan para penikmatnya. Wacana ini bersinergi dengan kekuatan pengetahuan dalam upaya bujuk rayu.

Lantas, siapa yang membuat wacana? Tentu mereka yang menjalankan dominasi dan kekuasaan, yang bisa merancang metode pemasaran produknya melalui wacana tersebut.

Wacana yang didengungkan tidak pernah terlepas dari kepentingan para kapitalis. Para kapitalis ini bekerja sama dengan pemilik pengetahuan untuk meyakinkan masyarakat bahwa gaya hidup minimalis adalah pilihan terbaik.

Kapitalis selalu lebih cepat beradaptasi dengan kondisi masyarakat dengan mengeluarkan wacana-wacana baru, menghadirkan segala pilihan bagi para konsumennya.

Kekuatan adaptif kapitalis ini juga yang menyebabkan tidak adanya revolusi proletar, sebagaimana yang diproyeksikan oleh Karl Marx.

Wacana gaya hidup minimalis dimanfaatkan oleh kapitalis baru, yakni pemilik start up yang mengambil keuntungan dengan cara menyewakan barang.

Mereka menerapkan pengetahuan kepada para penyewanya bahwa hidup minimalis adalah penggunaan barang sesuai fungsi tanpa memilikinya. Bukan karena mereka tidak memiliki uang, tapi karena tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan.

Motto itu pula yang menjadi senjata para kapitalis untuk merebut hati pengikutnya dan menjadi fetis bagi para hambanya.

Pada akhirnya, tren gaya hidup minimalis saat ini adalah bentuk baru dari budaya konsumerisme atau neo-konsumerisme, karena gaya hidup ini juga memberikan karpet merah bagi hadirnya kapitalis.

Gaya hidup minimalis yang kekinian juga disinyalir sebagai cara lain dari para kapitalis untuk menjebak para pengikutnya guna menjadi konsumen. Melalui apa? Melalui sistem sewa barang.

Sistem sewa barang ini akan membuat minimalisti ketergantungan, terlebih mereka menghindari membeli barang. Para pemilik start up juga telah mengakui bahwa mereka akan melebarkan sayapnya untuk melayani konsumen di dunia.

Pernyataan itu didukung oleh meluasnya wacana kehidupan para minimalisti yang dipertontonkan melalui berbagai macam media. Media menjadi senjata yang ampuh bagi siapa saja, terutama kapitalis, untuk menarik perhatian para konsumen.

Bukankah minimalisti kini juga sedang mengiklankan diri? Bukankah ada kesamaan antara gaya hidup konsumerisme dengan gaya hidup minimalis?

Gaya hidup minimalis dan konsumerisme sama-sama mengiklankan dirinya untuk terlihat menarik di depan para pengikutnya. Para pengikut dibuat tidak sadar melalui iklan-iklan yang mereka tampilkan.

Melalui beragam wacana, pola pikir penikmatnya dibentuk dan digiring untuk melihat perbedaan antara gaya hidup konsumerisme dan gaya hidup minimalis. Padahal, ujung-ujungnya tetap kapitalis.

Selamat datang kembali kapitalis!

Sumber
image-url-apps
hmm gitu yak
emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
KASKUS Ads
image-url-apps
Kedua aspek saling membutuhkan y bree...

Produsen butuh konsumen,konsumen butuh produsen tertentu(gk menentu,tergantung apa yg di butuhin) saling membuat rantai simbiosis apalah ane lupa....emoticon-Big Grin

emoticon-Traveller