alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
Teror Bom di Negeri Nan Santun
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afae33d902cfe3c3b8b4578/teror-bom-di-negeri-nan-santun

Teror Bom di Negeri Nan Santun

Teror Bom di Negeri Nan Santun

Jakarta, IDN Times - Pagi itu, Minggu 13 Mei, aktifitas di Gereja Santa Maria Tak Bercela tidak ada beda. Semua aktifitas di gereja yang berlokasi di Jalan Ngangel, Surabaya, itu berjalan seperti biasanya.

Sang ibunda menurunkan Evan dan adiknya, Nathanael, dari kendaraanya di depan gereja. Sedangkan, orangtua kedua bocah itu memarkirkan kendaraannya di tempat parkir.

Namun sekitar pukul 07.00 WIB, suasana di gereja katolik itu berubah mencekam. Suara ledakan keras tiba-tiba menguncang tempat ibadah itu. Kedua bocah tak berdosa itu pun terkapar.

Bocah bernama lengkap Vincecius Evan itu meninggal dunia, setelah dilarikan ke Rumah Sakit Bedah Surabaya, di Jalan Raya Manyar. Dia sempat ditangani dokter, namun nyawanya tak tertolong lagi. Jenazah Evan kemudian diautopsi di RS Bhayangkara Jawa Timur.

"Ada luka bakar, luka patah, dan luka lainnya," ujar Direktur RS Bedah Surabaya, dr Priyanto Swasno, Minggu 13 Mei lalu. 

Sementara adik Evan, Nathanael, juga menjalani perawatan RS Bedah Surabaya. Kondisinya kritis dan memprihatinkan. Dokter berusaha mengoperasinya, tapi luka bakar yang dialami bocah delapan tahun itu terlalu parah. Minggu malam, Nathan pun menyusul sang kakak di pangkuan Sang Maha Pencipta.

Evan dan Nathan adalah dua dari 21 korban jiwa akibat teror bom di tiga gereja dan rusunawa Sioarjo, serta Polrestabes Surabaya, Jawa Timur. Selain puluhan korban jiwa, ledakan bom di Jatim juga mengakibatkan lebih dari 50 orang mengalami luka-luka.

Teror bom di Jawa Timur terjadi di beberapa titik, antara lain di Gereja Santa Maria Tanpa Cela, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Gereja Kristen Indonesia, Mapolrestabes Surabaya, dan rusunawa di Sidoarjo. 

Ledakan bom bunuh diri di tiga gereja terjadi beriringan mulai Minggu (13/5) pukul 06.30 hingga 07.50 WIB. Malam harinya, ledakan terjadi di rusunawa Sidoarjo. Sedangkan ledakan bom di Mapolrestabes Surabaya terjadi pada Senin pagi (14/5).


1. Fenomena bomber keluarga
Teror Bom di Negeri Nan Santun
IDN Times/Sukma Shakti



Hasil penyelidikan kepolisian menyebutkan, pelaku teror Jatim melibatkan tiga anggota keluarga dan merupakan bom bunuh diri. Ledakan bom di tiga gereja dilakukan Dita Oeprianto yang melibatkan istri dan keempat anaknya. 

Ledakan bom di rusunawa Sidoarjo diduga akibat ketidaksengajaan Anton hingga menewaskan istri dan satu anaknya. Dua anaknya berhasil diselamatkan. Begitu juga, ledakan bom di Mapolrestabes Surabaya, juga melibatkan suami istri dan tiga anaknya.  

Polisi menyebutkan para pelaku teror di Jatim merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok pendukung organisasi radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dita yang  merupakan pimpinan JAD Surabaya merupakan teman dekat Anton.

Pengamat terorisme Harits Abu Ulya berpendapat munculnya fenomena bomber keluarga bukan karena faktor kemiskinan. Karena hasil penyelidikan polisi, pelaku teror bom Surabaya di tiga gereja tinggal di rumah senilai lebih dari Rp 1 miliar. 

"Apakah faktor kemiskinan membuat mereka manjadi bomber maut? Dari indikasi rumah hunian mereka bukan orang miskin, namun sangat cukup. 

Analisa saya energi paling besar adalah soal teologi beku yang suami istri adopsi, kemudian diintrodusir juga kepada putra putrinya dengan waktu yang cukup," kata Harits kepada IDN Times, Senin (14/5).

Fenomena bomber keluarga di Jatim juga bagian dari reaksi kelompok JAD atas kericuhan di Mako Brimob. Perlakuan pada napi teroris yang mendekam di rutan cabang Salemba itu, menurut kelompok radikal dianggap menzalimi mereka.

"Atau ketika ekspresi keyakinannya menemukan jalan buntu atau terantuk oleh langkah-langkah aparat keamanan, maka faktor-faktor di atas menstimulasi rasa dendam, kenekatan dan keputusasaan mereka. Artikulasi puncaknya memilih sebagai bomber maut," kata Haritz.

Haritz juga meyakini, bomber keluarga di Jatim terkait kelompok ISIS. Karena pasca-serangan tidak berselang, ISIS mengklaim bertanggung jawab. Para pelaku teror diklaim sebagai junud atau tentara mereka. Klaim seperti ini bisa dimaklumi, karena ISIS dalam kondisi melemah, mereka butuh menunjukkan eksistensinya. 

"Mereka butuh membangkitkan moral semua elemen yang menjadi bagiannya, dengan narasi keberhasilan serangan-serangan sporadis dan terencana, dan dilakukan di banyak negara di luar Suriah-Iraq, termasuk Indonesia. Jadi dendam dan membangun citra kelompok yang lagi lemah dengan aksi-aksi teror, menjadi pusaran dari fenomena kekerasan saat ini dan kemungkinan di waktu-waktu mendatang," kata dia.

Namun, dari insiden bom bunuh diri ini, Harits menyisakan pertanyaan menggelitik soal bom, mengingat daya ledak dan dampaknya cukup kuat. Siapakah yang merakit? Siapakah yang mengajari? Bagaimana didapatkan material bomnya, bagaimana buku panduan itu didapat di luar sumber open sourch? 

"Kemudian siapa dan bagaimana Dita sekeluarga diintrodusir hingga siap menjadi 'pengantin'. Mengingat serangan ini dilakukan terorganisir dan melibatkan banyak orang, siapakah master mindnya? Publik menunggu jawaban dari pemerintah dengan terang benderang," kata dia.

Baca juga: Kondisi Membaik, Anak Bomber Polrestabes Belum Dijenguk Keluarga


2. Anak teroris adalah korban
Teror Bom di Negeri Nan Santun
IDN Times/Sukma Shakti



Sementara, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menyoroti pelibatan anak-anak dalam teror bom Surabaya. Fenomena ini jelas melanggar UU Perlindungan Anak. Dia mengecam kepada pelaku teror bom Surabaya yang melibatkan anak-anak mereka.

"Sebenarnya kejadian bom di Surabaya ini cukup membuat masyarakat Indonesia merasa kesal sekali, termasuk saya sebagai menteri. Saya mengecam hal tersebut yang telah melibatkan perempuan dan anak-anak," ujar dia di Hotel Grand Sahid Jakarta, Senin (14/5).

Menurut Yohana, keluarga adalah guru pertama bagi anak-anak. Sehingga keluarga memiliki peran yang besar dalam menjamin pendidikan dan perlindungan anak. Orangtua yang mengajak anak-anak bertindak tidak terpuji telah melanggar UU Perlindungan Anak. Apalagi mereka menjadi korban tindakan tersebut. 

"Dan bila orangtuanya masih hidup, maka dipastikan mereka terkena pelanggaran UU Perlindungan Anak," ujar dia.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mengecam keterlimbatan anak-anak dalam aksi terorisme. Anak-anak mereka hanya korban, bukanlah pelaku teror. 

"Anak 'pelaku' adalah anak korban. Karena tidak mungkin dia punya pemikiran untuk memasang itu sendiri di badannya. Pasti ada rasa takut dan tidak nyaman," tutur Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati, Jakarta, Selasa (15/5).

Menurut KPAI rasa percaya anak kepada orang terdekat, terutama orangtua, menjadi hal yang menyebabkan keterlibatan anak dalam aksi bom bunuh diri. Orangtua punya kuasa lebih terhadap anaknya.

KPAI menilai anak-anak yang terlibat tidak dapat dikatakan sebagai aktor yang murni melakukan kejahatan. Dorongan dan pengondisian si anak dengan paparan radikalisme dari orangtua menyebabkan mereka nekad ikut serta dalam aksi terorisme. 

"Meski akan berproses hukum tetap mereka korban," tutur Rita.

KPAI menyebutkan meski proses hukum akan terus berjalan, namun penanganannya akan berbeda dibanding dengan kasus terorisme dengan orang dewasa. Anak-anak tentu akan mendapat perlakuan berdasarkan pada UU Perlindungan Anak.

"Sore ini kita mau berangkat ke Jatim untuk pastikan kondisi korban, seperti apa dan proses yang ada di sana," tutur Susanto. 

Menurut KPAI pendampingan dan rehabilitasi menjadi hal yang diperlukan oleh anak-anak korban aksi bom di Surabaya. KPAI menyarankan Kepolisian untuk tidak mengambil BAP secara detail, karena mempertimbangkan sisi traumatis anak yang masih ada. BAP akan diambil sesuai dengan kesiapan anak, tidak bisa dengan cara yang sama seperti kepada orang dewasa.

Selain itu, KPAI juga akan mengusulkan supaya orang dewasa yang mendoktrin anaknya melakukan terorisme, agar hukumannya lebih diperberat, dalam UU Terorisme. KPAI juga menyuarakan agar saat anak dilibatkan dalam terorisme mereka dianggap sebagai korban. 

Dalam kasus bom di Surabaya, KPAI melihat ada edukasi atau pengkondisian dari orangtua kepada anak mereka sejak kecil sampai siap menjadi martir.

Untuk memastikan agar anak-anak korban aksi teror bom di Surabaya tidak menjadi pelaku, perlu ada rehabilitasi dengan berbagai pendekatan, mulai dari pendekatan secara agama, pendidikan, sosial dan lainnya. Penanganan untuk anak hanya berupa edukasi dan rehabilitasi, bukan proses hukum formal.


3. Teror generasi ketiga
Teror Bom di Negeri Nan Santun
IDN Times/Teatrika Handiko Putri



Teror bom pada 13 hingga 14 Mei lalu, terjadi di lima titik di Jawa Timur. Teror pertama terjadi di tiga gereja Kota Surabaya, dan kedua di rusunawa Sidoarjo. Dan ketiga di Polrestabes Surabaya.  

Lantas, kenapa Jawa Timur dipilih menjadi pusat teror bom? Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan, alasan teror terjadi di Jatim karena pelaku teror bom Surabaya adalah pimpinan JAD Kota Pahlawan. 

"Kenapa aksinya di Surabaya? Karena memang mereka menguasai sel ini (JAD Surabaya),” tutur Tito dalam konferensi pers, di Surabaya, Senin (14/5).

Menurut Tito motif pelaku melakukan bom bunuh diri bukan karena agama. Tapi ada dugaan pihak ISIS sentral mendesak para pelaku untuk segera beraksi.

“Ada instruksi dari ISIS sentral. Kelompok-kelompok ini tidak terkait sama sekali dengan masalah-masalah keagamaan,” kata Kapolri. 

Faktor lain penyebab teror bom Surabaya, juga karana ditangkapnya para pemimpin kelompok JAD-JAT. Pimpinan JAD Aman Abdurahman ditangkap kembali tahun lalu, karena diduga keras terkait perencanaan pendanaan kasus bom Thamrin di Jakarta pada awal 2016.

"Kerusuhan di Mako Brimob itu tidak sekedar masalah makanan,” tutur Tito.

Sementara, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan Indonesia sedang menghadapi ancaman nyata dan tidak nyata. Ancaman tidak nyata adalah perang terbuka. Musuh ancaman nyata adalah terorisme, karena bisa terjadi kapan saja. 

"Musuh ancaman yang utama adalah 3,5 tahun lalu saya katakan, teroris. Itu yang nyata, dan sewaktu-waktu terjadi, berulang-ulang teroris-teroris terus," kata Ryamizard di Graha Mandiri, Jakarta Pusat, Senin (14/5).

Ryamizard menjelaskan mulai 2017 Indonesia menghadapi teroris generasi ketiga. Generasi pertama adalah teroris yang meledakkan menara kembar WTC di Amerika. Generasi kedua adalah di Suriah, yaitu ISIS.

"Sekarang kita menghadapi generasi ketiga, yaitu pejuang-pejuang yang kembali (dari Suriah). Nah, ini kembali ini yang meledakkan-meledakkan itu," ujar dia.

Untuk mengantisipasi hal itu, Kemenhan telah membuat kerja sama untuk membatasi ancaman teror. Dua tahun lalu, Kemenhan telah membuat kerja sama dengan beberapa negara, untuk melokalisir jaringan teroris ini.

Kerja sama itu bernama Our Eyes, yakni kerja sama antarintelijen di Asia Tenggara. Tujuannya untuk mematai kegiatan dan tempat kegiatan kelompok teroris. Kericuhan di Mako Brimob dan teror bom di Jatim menjadi tamparan buat pemerintah dan aparat keamanan.

"Ya mudah-mudahan tidak terjadi lagi begitu. Cukup lah pelajaran pahit kita," ucap Ryamizard.

Ryamizard berharap rakyat Indonesia bersatu. Karena jika tidak, Indonesia akan mudah dimasuki teroris atau orang-orang yang berniat menghancurkan NKRI. Dalam menghadapi teroris, Indonesia juga tidak boleh lengah dan harus menindak keras pelaku teror. Karena semua demi keamanan rakyat Indonesia.


4. Pergeseran nilai dan budaya
Teror Bom di Negeri Nan Santun
IDN Times/Fitria Madia



Indonesia dikenal ramah dan santun sejak lama. Tapi kini kekerasan terjadi dimana-mana. Duka juga masih menyelimuti Bangsa Indonesia akibat kirucahan Mako Brimob, teror bom Surabaya hingga Sidoarjo.

Bangsa Indonesia kini seakan terpecah belah. Kita memang terlahir dari kultur berbeda, tapi nenek moyang kita hidup rukun dan berdampingan sejak bangsa ini lahir. Lantas apa yang terjadi dengan Ibu Pertiwi sekarang ini?

Sosilolog Universitas Nasional (Unas) Nia Elvina beranggapan fenomena ini muncul akibat adanya pergeseran nilai-nilai di masyarakat. Santun, ramah, kebersamaan, kekeluargaan, merasa menjadi bagian atau anggota masyarakat kini mulai berpindah.  

"Dewasa ini nilai yang dianut lebih mengarah pada nilai liberal. Sehingga nilai-nilai keterikatan terhadap nilai kemasyarakatan menjadi lemah. Otomatis kontrol sosial atau masyarakat pun menjadi lemah terhadap anggota masyarakatnya," kata dia.

Alhasil, ketika ada keluarga yang menganut, katakanlah paham radikal, masyarakat menggangap itu hak pribadi mereka. Atau dengan kata lain masyarakat menjadi lebih apatis terhadap aktifitas anggota masyarakat atau tetangganya.

"Sumber utamanya terjadinya pergeseran nilai ini tadi; sistem negara kita tidak menerapkan filter terhadap nilai yang bertentangan dengan nilai luhur bangsa kita (Pancasila), dan demokrasi yang kita kembangkan pun real nya adalah demokrasi liberal, bukan demokrasi Pancasila," kata dia.

"Sehingga, nilai-nilai radikalisme, liberalisme, dan yang lain sangat mudah masuk kedalam masyarakat kita," Nia menambahkan.


5. Kontroversi UU Terorisme
Teror Bom di Negeri Nan Santun
AFP/Juni Kriswanto



Pasca-keriucuhan di rutan narapidana teroris (naptar) di Mako Brimob Depok, polisi memburu dan menyergap sejumlah teroris. Tim Densus 88 Antiteror setidaknya menangkap delapan terduga teroris di Bekasi dan Sukabumi. Pasca teror bom Surabaya, polisi juga menembak mati lima terduga teroris yang disebut-sebut kaki tangan Dita. Mereka diduga anggota jaringan JAD.

Sayangnnya, polisi masih bertindak reaktif, bukan antisipatif. Polisi baru dapat menangkap terduga pelaku teror jika terduga pelaku teror sudah melakukan aksinya. Polri beralasan hal itu karena terkendal UU Terorisme. Karena itu, Polri mendesak agar undang-undang tersebut segera direvisi. 

Namun, pengesahan RUU Terorisme di DPR masih menjadi kontroversi. Ada pihak yang menyebut, pengesahan RUU Terorisme bakal kembali pada Orde Baru. Undang-undang ini dikhawatirkan 'disalahgunakan' untuk mengkriminalkan pihak tertentu. 

Pelibatan TNI dan Polri dalam menangani terorisme di Indonesia, juga dikhawatirkan akan tumpang tindih. Hal lain yang masih menjadi perdebatan adalah devinisi terorisme itu sendiri.

Sementara, di lain sisi banyak pihak menilai teror bom di Jawa Timur menjadi momen yang tepat untuk mendorong pemerintah dan DPR, untuk segera mengesahkan RUU Terorisme. Bahkan, pemerintah akan mengeluaran Perppu jika DPR tak segera merampungkan undang-undang tersebut.

Namun, pemerintah dan DPR kini memilih akan segera merampungkan RUU Terorisme ketimbang membuat Perppu tentang terorisme, dengan alasan mendesak. Karena merampungkan RUU Terorisme akan memakan waktu sebentar ketimbang membuat Perppu. Polri juga setuju jika TNI dilibatkan dalam penanganan terorisme.

Anggota Panitia Khusus Revisi Undang-undang Anti Terorisme DPR RI Risa Mariska mengatakan, sebelum penutupan masa sidang, perdebatan rapat Panja terkait definisi terorisme. 

"Sebetulnya kekurangan yang selama ini ada dalam praktek pemberantasan terorisme sudah diakomodir dalam RUU ini, hanya permasalahannya terkait definisi terorisme yang belum sepakat karena masih simpang siur," ujar Risa dalam diskusi bersama Setara Institute bertajuk 'Nasib Pembaha... Baca Selengkapnya : https://news.idntimes.com/indonesia/...mpaign=network

---

Baca Juga :

- Teror Bom di Negeri Nan Santun Salah Sebut Bayu sebagai Satpam, Polda Jatim Minta Maaf

- Teror Bom di Negeri Nan Santun Selama Asian Games, Anak Sekolah Masuk Lebih Pagi

- Teror Bom di Negeri Nan Santun Risma Sediakan Lahan Untuk Ledakkan Bom & Bentuk Trauma Center

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di