alexa-tracking

Bom Surabaya: Pelibatan Bocah di Bawah Umur untuk Hindari Sadapan dan Deteksi Polisi

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afa88841854f78b3e8b4567/bom-surabaya-pelibatan-bocah-di-bawah-umur-untuk-hindari-sadapan-dan-deteksi-polisi
Bom Surabaya: Pelibatan Bocah di Bawah Umur untuk Hindari Sadapan dan Deteksi Polisi
Bom Surabaya: Pelibatan Bocah di Bawah Umur untuk Hindari Sadapan dan Deteksi Polisi





Koran Sulindo – Setelah rentetan serangan teror itu, peristiwa ledakan bom di gerbang Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya mengejutkan semua pihak. Bukan karena melukai dan menewaskan aparat kepolisian, juga karena serangan bom pada Senin (14/5) pagi itu melibatkan bocah berusia delapan tahun.


Tidak ada yang menduga peneror kini menggunakan anak di bawah umur dalam menjalankan aksinya. Seperti yang dilaporkan Reuters, pengamat teroris Stanislaus Riyanta mengatakan, ini kali pertama seorang anak digunakan teroris dalam aksi bom bunuh diri. Penggunaan keluarga, kata Stanislaus, agar aksi teror tidak mudah dikenali kepolisian.

“Penggunaan keluarga juga sebagai cara berkomunikasi tanpa menggunakan teknologi sehingga bisa menghindari sadapan,” kata Stanislaus seperti dikutip Reuters pada Senin (14/5).

Setelah peristiwa di Mako Brimob, ledakan bom di tiga gereja Surabaya dan ledakan di sebuah Rusunawa Sidoarjo, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, pihaknya akan meningkatkan keamanan di seluruh Indonesia. Polisi disebut akan dibantu TNI dalam menjaga keamanan itu.

Sebuah keluarga militan Islam di Indonesia membawa seorang bocah delapan tahun ke dalam serangan bom bunuh diri terhadap polisi di Surabaya pada hari Senin, sehari setelah keluarga militan lainnya menewaskan 13 orang dalam serangan bunuh diri di tiga gereja di kota yang sama.

Dalam serangan bom di Mapolrestabes Surabaya, pelaku mengendarai dua sepeda motor dan merangsek masuk melalui pos penjagaan menuju gedung utama. Pelaku kemudian diberhentikan di pos penjagaan. Tak lama berselang, ledakan bom pun pecah. Dari kejadian itu, empat perwira dan enam warga sipil terluka.

Sementara melalui kamera pemindai (CCTV), seorang anak yang diduga menjadi bagian dari pelaku selamat dari ledakan tersebut. Menanggapi serangan terbaru di Mapolrestabes Surabaya, Presiden Joko Widodo menyatakan sebagai “tindakan pengecut.” Untuk mengatasi berbagai serangan terorisme itu ia pun menyinggung perihal revisi undang undang anti-terorisme yang diklaim masih terganjal di DPR.

Sejak 2001, kebangkitan kaum teroris mulai tampak dalam beberapa tahun terakhir, termasuk serangan bom di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta pada 2016. Kepolisian mencurigai aksi rentetan peristiwa teror beberapa hari belakangan ini didalangi Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang menjadi perwakilan ISIS di Indonesia. 

Kementerian Luar Negeri AS menuduh JAD sebagai organisasi teroris yang telah merekrut ratusan orang dan menjadi bagian dari ISIS.

Kepala Kepolisian RI Tito Karnavian menuturkan, dalam serangan Surabaya, pihaknya kecolongan dalam mendeteksi aksi mereka. Akan tetapi, setelah kejadian itu, polisi bergerak cepat mengidentifikasi jaringan mereka. Ia menyebutkan, pelaku serangan tiga gereja di Surabaya semuanya terdiri atas keluarga. Ayah dari keluarga tersebut merupakan pimpinan sel JAD Kota Surabaya.

Soal tuduhan kepada keluarga pelaku serangan bom tiga gereja di Surabaya yang menjadi bagian dari 500 keluarga simpatisan ISIS yang telah kembali dari Suriah, Tito membantahnya. Selama mengejar sel-sel JAD yang mulai “hidup”, polisi menembak mati seorang tersangka dan menangkap empat orang yang diduga menjadi bagian dari sel JAD.

Bangkitnya sel JAD, menurut Tito, kemungkinan sebagai respons atas seruan ISIS yang berada di Suriah ke seluruh dunia untuk secepatnya bergerak. Itu karena penangkapan pimpinan JAD Indonesia Aman Abdurrahman dan mungkin karena ISIS mulai terdesak di Irak dan Suriah.

Sejak serangan hari Minggu kemarin, total korban tewas mencapai 25 orang, termasuk 13 yang diduga teroris itu. [KRG]


















BACA SUMBER : https://koransulindo.com/bom-surabay...eteksi-polisi/

image-url-apps
Bajingan memang pake melibatkan anak kecil yg gak ngerti apa2

Padahal dgn berhotpen juga kemungkinan besar tdk terdeteksi
Lah ini tetap full.gorden, kasian anaknya
image-url-apps
Jihad sejak dini
KASKUS Ads
image-url-apps
Childsoldier ini biasa di iran dan irak, dan syria, yang mengejutķan seorang ibu tega meledakan 2 anak petempuan kandung nya sendiri.

Iran’s Child Soldiers in Syria
No Excuse for Sending a 13-Year-Old to War


“How old are you?” the interviewer asks.

“Thirteen,” replies the boy, in uniform.

“Thirteen years – thirteen years old!” the interviewer repeats, proudly, as the camera pans upward to the grinning, bearded faces of uniformed men, apparently Iranian soldiers, who pat their young recruit on the back.

On November 25, a video with the logo of the Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) agency circulated on Iranian websites and social media showing the boy in the Syrian border city of Abu Kamal. He said he was a “defender of the shrine,” the euphemism the Iranian government uses for fighters it sends to Syria and Iraq.

The boy, who says he is from Iran’s Mazandran province, speaks in Persian about his motivation to join forces in Syria and his message to Iranians. The interview does not clarify his military role.

If authentic, this video suggests that despite recent denials from the Iranian Embassy in Kabul, Iran is violating the laws of war in its government’s recruitment of child soldiers, an abuse Human Rights Watch and media outlets have previously documented with the use of Afghan child soldiers as young as 15 by Iranian-backed Fatemiyoun forces in Syria. During the Iran-Iraq war in 1980s, Iran also used thousands of child soldiers as volunteer forces, fighting in the most dangerous combat situations with limited training.

Under customary international law, recruiting children under 15 is a war crime. The Optional Protocol to the Convention on the Rights of the Child sets 18 as the minimum age for recruitment or participation in hostilities. Iran has signed the Optional Protocol, but the parliament has yet to ratify it.

When confronted with evidence of child recruitment, officials and others fall back on a few unlawful justifications: they lack the capacity to screen out children who “volunteer,” or military necessity forces them to use children. And Iran can hardly claim that it must rely on children to fight, when it has maintained that its presence in Syria is limited, and advisory.

Iran is not the only participant in the Syrian conflict using child soldiers, but that is no excuse. Instead of glorifying their participation, Iran should immediately end this practice, ratify the Optional Protocol, and ensure children are protected against recruitment. No country should be proud if its children leave schools to hold weapons.

https://www.hrw.org/news/2017/11/30/irans-child-soldiers-syria

image-url-apps
keseharian wanita teroris tanpa cadar ketika beraksi mereka pake cadar emoticon-Bingung ada apa dibalik cadar?
Kalo denger berita bahwa di Timur Tengah terorist gunakan anak kecil untuk melakukan serangan dan mendapatkan simpati,
sekuat tenaga mereka akan denial.. Menyanggah dengan alasan dari a sampe z digunakan..
Padahal contohnya kemarin, sudah bagaikan didepan mata, bagaikan matanya dicopot kemudian digesek-gesekkan di tempat kejadian..
emoticon-Malu
Quote:


soalnya pelor yang meluncur dari senjata yang ditembakkan oleh anak dibawah umur dan tidak terlatih, sama mematikannya dengan yang ditembakkan oleh pria dewasa dan terlatih
Quote:


yang duar2 kali, harusnya cadar dibikin transparant biar ga menakuti publik
image-url-apps
Quote:


Takut panas kales bre
Huahuahua
image-url-apps
Quote:


kan bisa pake sunblock klo takut panas biar tetep cucok meong pas jd ratu bidadari emoticon-Cape deeehh
image-url-apps
Quote:


Very good answer..huehuehue
Bravo cancok...
×