alexa-tracking

Seremoni di Arnona, pertumpahan darah di Jalur Gaza

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afa78cddad770dc5d8b457a/seremoni-di-arnona-pertumpahan-darah-di-jalur-gaza
Seremoni di Arnona, pertumpahan darah di Jalur Gaza
Seremoni di Arnona, pertumpahan darah di Jalur Gaza
Seorang pria mengambil gambar plakat pada kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem, Senin (14/5/2018).
Ivanka Trump tak kuasa menyembunyikan senyumnya. Ia nampak begitu bangga menjadi pusat perhatian saat peresmian pembukaan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), di komplek Arnona, Yerusalem, Senin (14/5/2018).

Kehadiran Ivanka menggantikan sang ayah, Presiden AS Donald Trump, yang absen dalam seremonial penuh pro dan kontra itu.

"Atas nama Presiden AS ke-45, kami menyambut kehadiran Anda di kantor Kedutaan Besar AS pertama di Yerusalem, ibu kota Israel," sebut Ivanka yang sempat tersandung dengan kesalahan ucap, dari seharusnya "United States of America" menjadi "United States on America".

Ivanka didampingi sang suami--yang juga penasihat senior Donald Trump, Jared Kushner, dan Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, yang mendapat kehormatan untuk menarik tirai penutup plakat lambang kedutaan.

Meski tak hadir, Trump turut menyiarkan rekaman video yang berisi ucapan selamatnya kepada Israel atas pembukaan kantor yang "telah lama dinantikan" itu, pada waktu yang bersamaan.

"Hari ini, Yerusalem adalah bagian dari pemerintah Israel... Israel adalah negara yang berdaulat, sama seperti negara lainnya, yang memiliki hak untuk menentukan ibu kotanya sendiri. Dan realitas sebenarnya adalah Yerusalem ialah ibu kota Israel," tutur Trump yang dikutip dari CNN.

Kalimat puja-puji tadi tentu menyenangkan bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Usai seremoni pembukaan, Netanyahu dengan bangga menyebut hari itu sebagai bagian dari sejarah besar Israel dan dunia.

"Hari yang membahagiakan! Kami di Yerusalem dan akan terus berada di sini," ucapnya.

Tapi rasa bangga dan kebahagiaan yang diwakili para pejabat tinggi AS dan Israel itu berbanding terbalik dengan kekacauan yang terjadi sekitar 90 kilometer dari lokasi berdirinya kantor Kedutaan AS yang baru.

Di perbatasan Gaza, sudah ada 58 warga Palestina yang dilaporkan meninggal dunia akibat tembakan peluru tentara Israel yang berjaga di balik pagar pembatas dua negara itu.

Mereka yang tewas adalah bagian dari kelompok pengunjuk rasa yang sudah melakukan aksinya sejak enam pekan lalu. Dari periode itu juga, lebih dari 2.700 warga Palestina terluka--sekitar separuhnya akibat peluru pasukan Israel.

Aksi protes yang dilakukan puluhan ribu warga Palestina selama berminggu-minggu ini dilakukan untuk memperingati waktu-waktu bersejarah pendudukan tanah mereka oleh Israel.

Puncak perayaan jatuh pada tiap 14 Mei, atau yang disebut mereka sebagai hari "Nakba" atau malapetaka, sebab pada tanggal tersebut, 70 tahun silam, negara Israel pertama kali berdiri.

Kegeraman puluhan ribu warga Palestina pun memuncak, manakala tepat pada tanggal yang sama, AS--sekutu terdekat Israel--meresmikan pendirian kedutaan besarnya di tanah yang masih berkonflik itu.
Seremoni di Arnona, pertumpahan darah di Jalur Gaza
Seorang polisi Israel berargumen dengan seorang perempuan Palestina di luar Kota Tua Yerusalem di Gerbang Damaskus, Tepi Barat, Minggu (13/5/2018).
"Hari ini adalah hari kesedihan. Ini adalah propaganda pemerintah AS dan Presiden Trump untuk membuat orang-orang Palestina kesal," ucap Sabri Saidam, Menteri Pendidikan Palestina, dalam lansiran The New York Times.

Tak ayal, sejumlah pengunjuk rasa nekat menembus pagar pembatas yang dijaga ketat puluhan ribu pasukan bersenjata Israel. Aksi protes serupa juga terjadi di Tepi Barat, wilayah yang hanya berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi seremonial AS.

Pergerakan itu yang membuat tentara Israel semakin berapi-api melucuti senjatanya. Bukan hanya senjata api, tembakan peluru gas air mata, hingga bahan peledak berkekuatan rendah juga dialamatkan ke pengunjuk rasa.

Senin kemarin menjadi aksi paling berdarah dalam rentetan aksi unjuk rasa itu. Militer Israel tetap berkelit dengan menyebut aksi unjuk rasa warga Palestina itu hanya kedok yang ditunggangi kelompok radikal Hamas.

Juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Jonathan Conricus, bahkan menyebut korban terluka bukan akibat tembakan peluru, melainkan hanya akibat serpihan gas air mata.

Klaim tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan Doctors Without Borders, lembaga bantuan medis internasional, yang turut merawat ratusan pengunjuk rasa Palestina yang terluka.

"Lubang luka yang terbentuk seukuran kepalan tangan. Tulang-tulang hancur seperti debu. Ini adalah kondisi nyata yang dialami separuh pasien cedera yang diterima di klinik kami," sebut Jason Cone, Direktur Eksekutif Doctors Without Borders, dalam pernyataan resminya, Jumat ( 11/5/2018).

Aksi protes diramalkan memuncak hari ini, Selasa (15/5/2018). Presiden Palestina, Mahmoud Abbas meminta dukungan dunia, termasuk Negara-negara Arab, untuk mengintervensi kebrutalan Israel.

"Kami memohon kepada dunia, khususnya Negara Arab, untuk segera mengintervensi pembunuhan massal warga Palestina," ucap Abbas, dalam sebuah jumpa pers di Ramallah, Palestina, dikutip dari Hareetz.

Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad H. Mansour, mengaku akan membawa persoalan ini ke Pengadilan Kriminal Internasional. "Israel, kekuatan yang mengokupasi, telah mengabaikan tanggung jawabnya dan malah justru menjadi pusat pembunuhan," sebut Mansour.

Kuwait, yang juga anggota dari Dewan Keamanan PBB, mengaku telah meminta untuk diadakan pertemuan mendadak untuk seluruh anggota dewan atas nama "pembunuhan warga sipil yang tak bersalah".

Sementara Turki, mengumumkan tiga hari berkabung (mulai Senin) dan menarik perwakilan diplomatnya dari Israel dan AS.

"Kita semua tahu, selama ini darah Palestina yang menetes adalah tanggung jawab Israel. Tapi sekarang, darah Palestina itu juga menjadi tanggung jawab AS," tegas Wakil Perdana Menteri Turki, Bekir Bozdag.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, sebelumnya sudah menyampaikan kekhawatirannya akan jumlah korban meninggal yang terus bertambah.

Berbicara di hadapan sejumlah jurnalis di Vienna, Austria, Guterres mengatakan pertumpahan darah di Gaza menunjukkan pentingnya pembentukan solusi politik untuk menghentikan konflik yang berkecamuk.

"Tidak ada lagi 'Rencana B' untuk solusi dua negara, yang mana Israel dan Palestina bisa hidup berdampingan dengan damai," tukas Guterres.
Seremoni di Arnona, pertumpahan darah di Jalur Gaza


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...-di-jalur-gaza

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Seremoni di Arnona, pertumpahan darah di Jalur Gaza Debat cagub ricuh, Bawaslu dan KPU kaji dugaan pelanggaran

- Seremoni di Arnona, pertumpahan darah di Jalur Gaza Sebar hoax dan kebencian, PNS bisa dipecat

- Seremoni di Arnona, pertumpahan darah di Jalur Gaza Polri siaga, Polda Kaltim awasi napi teroris

×