alexa-tracking

Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af98586dbd770ba388b4575/lain-paham-beda-sasaran-dalam-teror-di-indonesia
Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia
Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia
Polisi menghentikan dan memeriksa warga yang melintas di Jalan Niaga Samping setelah terjadi ledakan di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5/2018)
Misa kedua di Gereja Santa Maria Tak Bercela, di Jalan Ngadel Madya, Surabaya, yang seharusnya berlangsung pukul 07.30 WIB pada Minggu (13/5/2018). Sementara peserta misa pertama, sedang bersiap meninggalkan gereja. Namun, misa kedua itu harus batal.

Seorang pengendara dan penumpang motor dengan sebuah kardus menyerobot masuk halaman parkir gereja sekitar pukul 07.07 WIB, seperti yang terlihat dari rekaman CCTV yang didapat Detikcom.

Saksi mata, Vincent, kepada CNN Indonesia menjelaskan dirinya melihat pengendara dan penumpang motor itu masuk dengan membunyikan klakson kendaraan tanpa henti, nyaring melengking mencuri perhatian umat Katholik yang tengah bersiap ibadah dan warga di sekitar gereja.

Beberapa detik berselang, pengendara yang diduga teroris Y dan Ir, langsung meledakkan diri. Kendaraannya hancur. Kaca-kaca gedung gereja berlantai tiga itu pecah, seperti dilaporkan Tribunnews.com.

Teror itu adalah satu dari serangan beruntun yang berlangsung pada Minggu (13/5/2018) di Surabaya. Serangan juga menyasar Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro sekitar pukul 07.45 WIB, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno sekitar pukul 07.53 WIB.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan terduga pelaku bom bunuh diri di GKI adalah seorang ibu berinisial PK dan dua anak perempuan FS (12) dan PA (9). Sementara terduga teroris di Gerjea Pantekosta adalah DS, Ketua Jamaah Anshurat Daulah (JAD) Surabaya. Seluruh terduga teroris di tiga lokasi diketahui adalah satu keluarga.

Serangan masih berlangsung hingga Senin (14/5/2018) di Kota Pahlawan itu. Presiden Joko Widodo pun menyebut teror ini sebagai aksi "biadab." Ia juga menginstruksikan aparat Kepolisian untuk membongkar jaringan teroris ini hingga ke akarnya. "Negara tak akan tinggal diam membiarkan pengecut beraksi," ujarnya.

Kepala Pusat Studi Perdamaian dan Keamanan Universitas Gadjah Mada, Najib Azca, menjelaskan rentetan ledakan bom ini berkaitan dengan aksi teror yang dilakukan oleh penghuni Rutan Cabang Salemba di Markas Komando (Mako) Brimob, Depok, Jawa Barat, pada Selasa hingga Kamis pekan sebelumnya.

"Itu seperti alarm atau sirine yang membangunkan simpul JAD di Indonesia. Informasi keberhasilan mengambil alih Mako selama 36 jam lebih menyebar dan membuat mereka melihat ini momen untuk melakukan aksi, seperti yang terjadi sporadis di Jakarta," kata Najib saat dihubungi Beritagar.id pada Senin (14/5/2018).

Najib menilai serangan sporadis ini adalah bentuk dari ketidakberdayaan mereka dalam mengorganisir serangan dengan baik. Di sisi lain, Najib berpendapat aparat Kepolisian belum memetakan dengan sempurna serangan yang terjadi di Surabaya sehingga menyebabkan korban berjatuhan.

Aksi teror ini, menurut peneliti terorisme the Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Navhat Nuraniyah, mengambil momen menjelang ramadan. Sejumlah teror kerap dilakukan menjelang atau saat ramadan seperti yang terjadi pada 24 Mei 2017 silam di Terminal Kampung Melayu, Jakarta oleh JAD; serta bom Bali I (2002) dan bom Bali II (2005) di Jimbaran dan Kuta oleh Jamaah Islamiyah.

"Kalau ramadan bulan yang utama untuk amaliyah dan amaliyah mereka adalah serangan. Ini memanfaatkan momentum juga karena setelah kejadian Mako memang ada banyak seruan untuk jihad," kata Navhat ketika dihubungi Beritagar.id pada Senin (14/5/2018).

Tim Lokadata Beritagar.id mengolah data aksi teror di Indonesia dari Global Terrorism Database (GTD) milik Universitas Maryland di Amerika Serikat. Data dari 1977 hingga 2016 bersumber dari sejumlah lembaga riset yang tergabung dalam National Consortium for the Study of Terrorism and Responses to Terrorism.

Untuk melengkapi data 2017 hingga 2018, dikumpulkan secara mendiri oleh Tim Lokadata dari berbagai sumber pemberitaan di media.

Aksi teror didefinisikan peneliti Universitas Maryland sebagai aksi yang disengaja, berhubungan dengan kekerasan atau ancaman terhadap kekerasan langsung, dan dilakukan oleh kelompok atau individu bukan dari pihak pemerintah.

Teror bisa mengarah pada tujuan politik, ekonomi, agama atau sosial. Selain itu, teror meliputi aksi yang terbukti memaksa, mengintimidasi, atau menyampaikan pesan kepada khalayak yang lebih luas alih-alih hanya korban.

Teror, juga meliputi tindakan di luar konteks hukum perang yang berlaku, misalnya, penyerangan terhadap warga sipil atau non-kombatan.
Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia
Perubahan tren aksi teror
Tokoh-tokoh agama, aktivis LSM dan pimpinan ormas keagamaan mengecam dan mengutuk keras serangan bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (13/5/2018), dan serangan teror belakangan ini.

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini, mengatakan teror di Surabaya dan Mako Brimob, Depok, menunjukkan adanya gerakan yang terpola, terstruktur dan berjejaring. Sebagai bagian dari forum lintas agama tersebut, Helmy menegaskan gerakan itu ingin mengacau dan mengubah haluan negara, dengan menyalahgunakan konsep agama.

Sesuai definisi Maryland, sejak 1977 hingga 13 Mei 2018 terdapat 749 aksi terorisme di Indonesia. Seperempat di antaranya, merupakan aksi dengan sentimen agama yang dilakukan oleh organisasi ultra kanan dari berbagai agama dan kumpulan individu berpaham garis keras.

Sementara itu, aksi teror yang mengatasnamakan agama paling banyak terjadi pada 2000 (49 peristiwa), 1996 (37), 2012 (20), dan 2015 (17). Namun, tren sasaran serangan aksi teror berbeda sebelum 2007 dan sesudah 2007.

Aksi teror dengan mengatasnamakan Islam pertama kali tercatat pada 1981, yang dilakukan oleh Komando Jihad. Sebelum 2007, kelompok Islam garis keras menyerang tokoh agama dan rumah ibadah seperti gereja dan masjid (69 peristiwa) dibandingkan dengan sipil (30) dan lokasi bisnis (10).

Lokasi bisnis yang dimaksud seperti serangan pada kafe dan hotel di Bali pada 2001 dan 2002 silam. Selain itu mereka juga menyerang kedutaan besar (4).

Saat itu JI masih berkuasa. Pemerintah Australia mencatat JI didirikan pada 1993 oleh Abu Bakar Ba'asyir dan Abdullah Sungkar di Malaysia. Namun, sumber lain seperti Council on Foreign Relation mengungkapkan gerakan tersebut sudah ada pada akhir 1970-an atau awal 1980-an.

Mulanya, kelompok ini tidak menggunakan kekerasan, tapi kemudian berubah haluan pada akhir 1990-an karena berhubungan dengan jaringan teroris di Afghanistan, Al Qaeda. Pada 2002, JI meledakkan bom di Bali. Diyakini pentolan grup ekstremis yang terlibat dalam pemboman tersebut adalah Hambali dan Abu Jandal.

"Untuk paham Al Qaeda, far enemy lebih diutamakan, makanya yang diserang Amerika Serikat dan orang kulit putih, lokasi yang ada orang kulit putih. Makanya serangan ada di Bali, JW Mariott, Jakarta, Kedutaan Besar Australia," kata Navhat.

Pada saat yang bersamaan, meski tak sekuat JI, jaringan kelompok ekstrimis lain juga eksis seperti MMI, Laskar Jihad, KOMPAK, dan lainnya.

Selama enam tahun, Densus 88 berusaha melumpuhkan jaringan ini. Sejak baku tembak pada 2007, JI pun melemah dan tidak melakukan kekerasan di Indonesia. Tapi Abu Bakar Baasyir tak tinggal diam, dia membentuk pecahan JI yakni JAT pada 2008.

Pada periode tersebut, faksi-faksi lain masih ada dan mulai menguat. Nama Aman Abdurrahman muncul, mengadakan pelatihan di Aceh untuk seluruh pasukan dari sejumlah faksi yang beraliansi dengan JAD-JAT, di antaranya KOMPAK dan Darul Islam.

Pada 2015, ada dua faksi besar dalam peta kelompok garis keras di Indonesia; mereka yang anti-ISIS tapi mendukung Jabhat al-Nusra, termasuk JI. Kemudian ada yang pro-ISIS dengan pentolan Aman (JAD-JAT).

Dalam paham ISIS, mereka mengakui pemusnahan musuh dalam jarak dekat atau konteks nasional (near enemy). Pada masa inilah pola serangan bergeser.

Mereka mengurangi penyerangan ke rumah ibadah, tapi lebih mengutamakan polisi (25 peristiwa) alih-alih sipil (16), dan tokoh agama atau rumah ibadah (16).

"Kalau near enemy itu mereka memerangi pemerintah lokal dan polisi. Musuh terbesar ya penolong pemerintah kafir (anshor thogut), yaitu polisi. Itu ada motif balas dendam juga karena polisi yang menangkap mereka. Misal pada 2011, mereka menyerang masjid polisi karena dianggap masjid itu dibangun untuk memecah belah kaum muslim," jelas Navhat.

Polisi dianggap menjadi musuh terbesar oleh kelompok ekstremis yang seideologi dengan ISIS, karena polisi yang memiliki wewenang dalam UU Antiterorisme untuk memberangus keberadaan mereka.
Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia
Lonjakan korban dan teroris perempuan
Data korban dalam data Global Terrorism Database tidak memisahkan antara pelaku yang tewas karena bom bunuh diri, dengan warga atau aparat yang disasarnya. Dalam catatan sebelum 2000, jumlah korban aksi terorisme lebih banyak karena konflik separatisme.

Tetapi tren berubah sejak 2000. Kelompok JI mulai menyerang dengan kekerasan, korban aksi teror pun banyak lantaran serangan bom. Jumlah korban jiwa akibat teror yang mengatasnamakan agama sebelum 2000 hanya 16 orang, tetapi melonjak tajam hampir 23 kali lipat setelah ada bom Bali hingga saat ini, mencapai 367 jiwa.

Sebelum peristiwa Surabaya, JAD telah menyerang sebanyak 13 kali, mayoritas menyasar polisi (8 peristiwa), kemudian tokoh agama atau rumah ibadah (2). Di lokasi lainnya yakni transportasi publik, kantor kelurahan, lokasi bisnis, dan wartawan atau media, masing-masing sekali penyerangan.

Sedikit berbeda, kali ini JAD menyasar tiga rumah ibadah sekaligus. Teror kali ini menyasar masyarakat sipil. Hingga artikel ini ditulis, serangan itu menewaskan 12 orang warga dan 13 pelaku. Najib dari Universitas Gadjah Mada menilai, perubahan terjadi karena menyerang polisi tidak mudah, dan ada hambatan serta keterbatasan efek.

"Terakhir yang di Thamrin tidak banyak efek baik korban maupun dramatisasinya. Kemudian mereka pragmatis, polisi digarap tapi juga memperluas segmentasi target termasuk masyarakat sipil, kelompok non-muslim yang dipersepsikan musuh," kata dia.

Selain itu, keterlibatan perempuan dan anak juga menjadi fenomena baru yang menonjol pada teror Surabaya. Penyerangan terhadap tiga gereja pada Minggu nahas itu, diduga kuat adalah sekeluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan empat anaknya.

Menurut Navhat, ISIS secara resmi mengizinkan perempuan untuk ikut jihad di medan perang. Pada Oktober 2017, perempuan boleh ikut dengan pendampingan dari suami atau mahram (kerabat yang haram dinikahi) untuk menghindari fitnah.

Keputusan ini termasuk progresif di kalangan kelompok ekstremis. Sejumlah aliran hanya mengizinkan perempuan untuk melahirkan 'mujahidin' saja, tidak menyerang langsung.

Alhasil, seruan ini memantik para perempuan pengikut aliran ISIS di seluruh dunia untuk mengangkat senjata, tak terkecuali PK, istri dari DS, Ketua JAD Surabaya. Keduanya berkolaborasi mengebom gereja di Kota Pahlawan itu.

Meski demikian, jauh sebelum aksi PK, sudah ada perempuan terduga teroris yakni Dian Yulia Novita yang mencoba mengebom Istana Presiden pada 2016 lalu. "Dian awalnya belum menikah, tapi kemudian dinikahkan dengan Nur Solihin untuk mencegah bergaul dengan bukan mahram," kata Navhat.

Navhat menilai, JAD memanfaatkan lemahnya pengamanan dan rendahnya kecurigaan terhadap perempuan, dan menggunakan strategi tersebut untuk aksi Surabaya kemarin.
Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...r-di-indonesia

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia 10 Siswa SD keracunan es kepal yang sedang viral

- Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia Perppu Antiterorisme dan Indonesia Siaga 1

- Lain paham beda sasaran dalam teror di Indonesia Teror bom diyakini tak berpengaruh terhadap ekonomi

semoga bisa dibasmi dan dicegah.
kalo emang mencurigakan harus dilumpuhkan hingga dimatikan kalo perlu, sebelum memakan korban tak bersalah.
×