alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af965f59e7404623e8b457d/tumbuh-amp-mekar

TUMBUH & MEKAR

Bagian 1


Pintu kayu terbuka lebar, temaram lampu berwarna jingga menitip cahaya pada ruangan itu, seorang ibu duduk bersipu menatap cermin. Sesekali ia tersenyum kemudian sesekali meminum air putih digelas kaca bening.
Langit sudah menggelap, kabut putih kembali menuruni bukit, senja sudah hilang dimakan malam. Tetesan air dari atap jatuh kedalam tong besar dari tanah liat, disekitarannya ditumbuhi beberapa lumut yang sedikit menghitam. Tanah dibawahnya Nampak lunak, beberapa telur katak mengambang diatas genangan air yang sedikit keruh.
Rumah kecil panggung berdinding bambu dan beratap daun kelapa kering, menyambut kedatangan seorang gadis remaja dibalik kepulan kabut yang menebal.
“Ibu ….”
Riang gadis itu, berlari-lari kecil memainkan payung merah mudanya, menggendong tas hitam yang penuh dengan buku-buku. Sepatu lusuhnya seolah lelah terinjak-injak setiap hari dijinjingnya disebelah tangan kirinya.
Stelah sampai diteras panggung rumahnya, ia menaruh payung, sepatu dan tasnya. Kemudian berlari ke dekat tong yang berisi penuh air tadi. Di tenggelamkannya wajah kecilnya kedalam tong, rambut pendek sebahunya Nampak basah menetes ke punggungnya.
“Aaaahhh… segarnyaaaa…” kagumnya
“Ume, sudah pulang?” tanya ibu sembari bangun dari duduknya
“Iya bu, maaf aku telat pulang lagi, tadi pak guru memberikan latihan lagi sampai selarut ini”
“Tak apa nak, ayo cepat bersihkan badanmu, kemudian lekas makan”
“Baik bu”


Ume bergegas mengambil kain dan pergi untuk membersihkan badannya, Ibu terlihat sedang menyiapkan makan untuk ume, dan melipat sebuah kertas yang sepertinya sebuah surat.
Beberapa menit, Ume selesai mandi dan mengganti pakaian kemudian duduk untuk makan didepan meja kecil dengan mangkuk-mangkuk berisi makanan.
Ibu sedikit tertegun tak sadar Ume sudah didepannya.
“Bu? Ibu mengantuk ?”
“Tidak, nak. Ayo cepat makan “
“Baik bu, …”

Ume mulai makan dengan lahap, sesekali diseling minum dan merasa kagum dengan makanan sederhana itu.
“Itu kertas apa bu yang dipegang ibu?”
“Anu… ini”
“Ini apa bu? Coba Ume lihat…”
“Iiiniii… Surat dari kakakmu !”
“Daichi?”
Ume menghentikan makannya dengan mata terbelalak kaget, dan menggertakan sendok ke atas meja makannya.
“Iya ume … “
Tangis ibu pecah, suasana menjadi mengharu penuh dengan rasa yang semu. Ume menggeser mejanya kemudian memeluk ibu dengan airmata yang deras mengaliri pipinya, wajahnya kian memerah.
“Akhirnya bu, …”
“Ya Ume”

Daichi adalah kakak laki-laki satunya Ume, sedari kecil daichi diadopsi oleh seorang pedagang dan tinggal di Tokyo. Semenjak itu daichi hanya mengirimkan surat dan 10 tahun yang lalu, ia menghentikan mengirimi adik dan ibunya surat. Hingga membuat ibu dan Ume terus mencemaskannya dan berharap bisa menemuinya.
Hingga akhirnya hari ini, Surat dari Daichi datang. Dan itu membuat Ume dan Ibu merasa lega karena mereka sudah mendapat kembali kabar dari Daichi.

“Coba aku baca suratnya bu, ume sudah tidak sabar, sekarang apa daichi sudah membuat sebuah perusahaan atau menikah dengan wanita cantic di Tokyo”
“Baiklah …”
Ibu memberikan surat itu kepada Ume, dan perlahan ume buka dengan perasaan sangat senang.
Dia sudah tidak memperdulikan makannya lagi, yang dia pikirkan hanya bagaimana Daichi disana keadaanya?
Sebelum membacakannya untuk Ibu, ume membacanya dahulu dalam hati … hingga dia berhenti pada sebuah kalimat.
“Kenapa Ume? Ayo cepat bacakan suratnya!”
“Ng… Iya bu”

Ume membacakannya dengan terbata, dan sedikit senyumnya yang terlihat ambigu.
“Bu dan Ume… Ini aku Daichi, maaf sudah lama aku tidak mengirimi kalian surat, aku sudah besar sekarang dan menikah dengan seorang wanita yang sangat cantic. Maaf aku tidak bisa mengundang kalian. Nanti aku akan membawa istriku ke tempat tinggal kita. Aku menyayangi kalian… Daichi”
“Waaaahh…Daichi sangat beruntung ya … ibu sangat senang mendengarnya, apa dia mengatakan kapan akan datang kesini?”
“Ng… Tidak bu!”
“Oh begitu, pasti dia akan mengirim surat lagi, Ibu tidak sabar bertemu dengan daichi dan istrinya”
“I…iya bu …. Ume sudah sedikit mengantuk, ume pergi ke kamar ya bu”
“Oh yasudah… Ibu bereskan bekas makanmu”


Ume gontai masuk ke kamarnya yang kecil dengan memegang erat surat itu.
Dan menangis tanpa suara didalam kamarnya. Ume terlihat sangat terpukul dan sangat putus asa. Apa yang terjadi dengan Daichi?
Isi surat yang sebenarnya :
“Ibu Aiko dan Ume, Apa kabar? Aku Yumeko, aku mengirim surat ini untuk memberitahukan kepada kalian, kami sudah kehilangan Daichi 4 hari yang lalu. Dia telah meninggalkan kita semua dan tenang disana. Aku mohon maaf, aku sudah memberikan semampunya untuk menjaganya, dia sudah menikah dan mempunyai satu anak laki-laki. Tapi istrinya sudah meninggalkannya 2 tahun yang lalu. Sekali lagi aku memohon maaf. Tertanda… Yumeko & Aoi”
Ume tidak membacakan surat yang sebenarnya kepada ibu, dan merahasiakan ini , agar ibu tidak merasa sedih mendapat kabar seperti ini.

Gemericik hujan terdengar seperti melodi Koto dengan 17 senar, terjatuh mengenai rumput dan dedaunan. Para petani sudah nampak dengan cangkul dan tudung kepala berwarna keemasan. Terdengar kecil suara burung mencari makan. Embun menetes diatas daun jagung hingga diatas kolam. Berenang katak riang bernyanyi memanggil hujan semakin besar.

Ume terkantuk-kantuk duduk di teras rumah memeluk lutut menyandar tiang.
Ume tampak masih memikirkan kejadian semalam, pikirannya terus meracau.

"Umee... Cepat mandi, ibu sudah siapkan air hangat"

Ume masih belum sadar, ditatapnya Seekor kupu-kupu terbang bersusah payah melawan tetesan gerimis hujan. Terjatuh diatas daun talas, kemudian berusaha lagi untuk terbang.
"Umee? Nak...!"
"Ng...Ng... Iyaa bu, sebentar..."

Terbangun ume dari duduk, gontai menuju kamar mandi.

Seragam sekolahnya yang sudah lusuh, tidak pernah ia ganti sedari tahun pertama di Sekolah menengah atas dipakainya dengan beberapa jahitan dibagian pinggang dan kerahnya, dasi yang sudah mulai memudar warnanya ia kenakan seolah mempercantik seragamnya.
Ume sudah siap berangkat kesekolah.
“Nak, jangan lupa bekalmu!”
“Iya bu”

Diambilnya kotak makanan berwarna hitam dibungkus kain putih bermotif sakura,
Perlahan ume buka,
“Sushi bu?”
“Iya ume, ibu sengaja membuatnya hari ini. Anggap saja untuk merayakan kebahagiaan keluarga kita. Untuk Daichi dan istrinya juga”
“Ng.. Iya bu”
Jawab Ume lemas
“Hmm… kamu terlihat lemas nak, kamu sakit?”
“Oh.. tidak bu, aku hanya sedikit malas, sore sepulang sekolah aku harus latihan piano lagi”
“Yasudah, semangat … jangan seperti itu”
“Iya bu, Ume berangkat !!!”


Ume bukan dari keluarga yang berada, tapi karena kemampuannya, dia dipilih mewakili sekolahnya untuk perlombaan 3 hari lagi. Setiap hari ia harus berlatih dengan guru musiknya disekolahnya. Sekolahpun ia mendapat beasisiwa dari sekolah. Jika hanya mengandalkan orangtuanya, yang seorang penggarap ladang milik orang lain, Ume tidak bisa sekolah dengan baik.

Dengan Payung merah jambunya, ume berjalan gontai menjinjing bekal makannya menuju sekolah.

Langit masih menggelap, embun tersisa di dedaunan dan tiang pagar sekolah, genangan air menyatu dengan pasir di lapangan .
Ume baru sampai, dikaitkannya payung ditasnya. Hujan berubah menjadi mendung. Hanya ada beberapa temannya yang sudah datang dan bercengkrama melepas tawa dan canda.
“Ume!” Panggilan keras dari belakang ume, mengagetkannya
“Hai, haru” tengok ume tersenyum sendu
Gadis sebaya ume dengan rambut panjang sepundak berwarna coklat bermata tegas berlesung pipit sedikit tomboy itu adalah sahabat kecilnya ume, ia anak seorang kepala polisi didaerah itu, namanya haruka.
“Selamat pagi ume”
“selamat pagi”

Haru merangkul pundak ume dengan erat, tertawa sembari berbisik “Bekal apa yang hari ini kamu bawa?”
“Sushi” jawab ume datar
“Sushi? Aku rindu sushi buatan ibumu!”
“Iya haru, nanti aku bagi”

Haru menghentikan langkah mereka, “Berhenti!”
“Ng ng … ada apa haru?”
“Aku lupa membawa formulir perguruan tinggiku ume!”
“Oh ? yasudah minta antarkan saja ke pengawal rumahmu!”
“Ide bagus ume”
“Yasudah ayo cepat”

Chu~ haru mencium kecil pipi merah ume, “sahabat terbaikku”
“Haruuuuuu…..!”
teriak ume bersikap jijik dengan kelakuan Haru.

Mereka kemudian berjalan cepat menuju kelas mereka, dan mulai mengikuti pelajaran seperti biasanya.


~Alunan denting piano terdengar keseluruh penjuru sekolah, indah namun terdengar sedih, terkadang meninggi dan merendah, isakkan tangispun seraya terdengar mendengung. Sinaran senja terkurung masuk kedalam ruang musik, jendela merengkuh haru melihat pianis muda melenggok jari mengeluh semu.
Gemetar kakinya menggenggam lantai, Rambutnya terikat manis kebelakang. Poninya tersisa menghias lembut diatas keningnya.
Seseorang melangkah dekat menghampirinya.
“Ada apa ume?” tanya fumio iba
“Tidak ada apa-apa pak, aku hanya belajar penghayatan “ jawab Ume tersenyum ragu
“Bagus ume, kamu bisa belajar sendiri… aku tidak pernah menyesal mengajarimu”
Fumio adalah guru musik Ume, ini tahun keduanya mengajar musik disekolah Ume. Umur Fumio setara dengan Daichi, ia bahkan teman kecil daichi dahulu. Setelah daichi diadopsi dan pergi ke Tokyo, fumio tumbuh besar sampai lulus sekolah menengah atas disini, kemudian pergi ke Tokyo untuk belajar disekolah musik. Setelah 2 tahun dia kembali lagi kesini.
Ume terdiam mendengar perkataan fumio, diambilnya botol air mineral kemudian bangun dan duduk dikursi dekat Fumio.
“Pak?”
“Ume, aku sudah bilang jangan panggil aku Pak jika bukan jam sekolah”
“I..iyaa… kak Fumio, aku punya pertanyaan!”
“ApA?”
Jawab Fumio sembari mengencangkan senar gitar yang sudah mengendur karena tindakan iseng anak-anak.
“Aku ingin ke Tokyo”
“Hmm,,, ya terus? Apa pertanyaannya?”

Tak langsung menjawab pertanyaan Fumio, Ume membuat wajahnya memerah kemudian sendu menangis, memegang erat roknya.
“Aku ingin bertemu Daichi!”
“Daichi? Kamu tau alamatnya dia sekarang?”
tanya Fumio serius
“Tidak!”
“Terus kenapa kamu menangis?”
“Aku merindukannya … aku ingin bertemu dia”
“Ume…? Nggg~~…, Aku tahu apa maksudmu ume”
“Tahu Apa?”


Bersambung~ ….
Diubah oleh goresankecil
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di