alexa-tracking

Keluarga Militan Teror Surabaya, Bertindak Atas Perintah Militan yang Pernah ke Syria

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af9397a5a5163dc4a8b4568/keluarga-militan-teror-surabaya-bertindak-atas-perintah-militan-yang-pernah-ke-syria
Keluarga Militan Teror Surabaya, Bertindak Atas Perintah Militan yang Pernah ke Syria
Surabaya - Satu keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan empat anak mereka melakukan serangan bom bunuh diri terkoordinasi di tiga gereja di Surabaya dalam rentang waktu 30 menit, Minggu (13/5).

Metode serangan berbeda-beda. Sang Ayah, Dita Oepriarto, meledakkan bom mobil di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Jalan Arjuno.

Istrinya, Puji Kuswati, dengan mengenakan bom sabuk mengajak dua putri mereka FS (12) dan FR (8) berjalan kaki dan mencoba masuk Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro, sebelum meledakkan diri di depan pintu.

Dua putra mereka, Yusuf Fadhil (17) dan FH (15) mengendarai sepeda motor dan membawa bom di pangkuan menuju Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya. Bom meledak di dekat gereja.

Sampai berita ini diturunkan, korban tewas dalam tiga serangan itu mencapai 13 orang, sementara korban luka berat dan ringan 43 orang.

“Pelaku diduga satu keluarga yang melakukan serangan. Seperti di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno yang menggunakan mobil Avanza diduga adalah bapaknya bernama Dita Oepriarto," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Semuanya adalah jenis bom bunuh diri, namun jenis bomnya berbeda."

Sampai saat ini, tim Laboratorium Forensik Polda Jatim masih menyelidiki bahan peledak yang dipakai para pelaku.

Pelaku, lanjutnya, merupakan anggota kelompok yang tak lepas dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia yang dipimpin oleh Aman Abdurahman.

Malam harinya di Sidoarjo, sebuah bom meledak di Rumah Susun Wonocolo dan menewaskan tiga orang yang menurut polisi adalah keluarga teroris juga -- pemilik bom itu sendiri. Mereka yang tewas diidentifikasi sebagai Anton Febrianto (47), istrinya bernama Puspita Sari (47), dan anak mereka RAR (17).

Kantor Berita Antara menyebutkan bahwa saat polisi tiba di lokasi ledakan, Anton ditemukan masih memegang saklar sehingga akhirnya ditembak untuk mengeliminasi risiko. Tiga anak berusia 10, 11, dan 15 tahun yang diduga anggota keluarga itu sekarang dirawat di rumah sakit.

Lokasi Rusun Wonocolo Sidoarjo hanya berjarak sekitar 10 km dari tiga gereja Surabaya yang menjadi target serangan pagi harinya.

Polisi menolak menyebut mereka yang tewas di rusun itu sebagai korban, karena mereka diduga adalah pelaku teror yang sedang mempersiapkan serangan namun bom meledak lebih dulu.

Kendala Hukum
Meskipun polisi tahu siapa saja yang pulang dari perang Suriah, tetapi tidak bisa bertindak begitu saja karena UU tentang Terorisme nomor 15/2003 tidak bisa menjangkau mereka, sepanjang mereka tidak kedapatan melakukan teror di Indonesia.

Baca:
Sejak 2015 Hingga Oktober 2017, 450 WNI yang Diduga Simpatisan ISIS Dideportasi dari Turki
Jumlah WNI ISIS yang Ditangkap di Negara Arab Terbanyak Kedua di Dunia!

Para alumni ISIS Suriah itu tidak bisa diproses hukum dan bisa kembali ke kehidupan seperti biasa hingga akhirnya jadi aktor bunuh diri itu.

“Diindikasikan sel teror yang tidur mulai bangkit. Kita dalami mengapa (bangkit). Ini sedang dalam pendalaman. Saya tidak bisa sampaikan detail karena ini akan ganggu operasi Densus berikutnya. Mereka ini adalah kelompok Jamaah Ansharu Daulah (JAD),” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Minggu.

Mereka mengincar polisi dan kantor polisi. Rumah ibadah juga diincar sehingga di gereja di Surabaya ada polisi yang terluka karena mereka sedang berjaga.

“UU antiteror kita itu sifatnya responsif. Kita berharap rancangan UU teror terbaru, yang setahun ini berhenti, untuk berlanjut. Polri diberikan kewenangan untuk upaya preventif. Kalau dia terafiliasi kelompok tertentu yang melakukan terorisme baru bisa ditangkap dan diproses (ini terlambat),” sambungnya.

Polri, masih kata Setyo, ingin segera diberikan payung hukum untuk dilakukan upaya preventif. Polri ingin bisa menangkap mereka yang sudah ada indikasi awal melakukan aksi teror.

“Sel-sel ini sudah tersebar dan sudah cukup banyak. Saya himbau masyarakat tidak takut dan resah. Tetap tenang dan melaksanakan kegiatan seperti apa adanya tapi waspada dan hati-hati. Kalau ada yang mencurigakan segera lapor,” sambungnya.

Setyo tidak mempermasalahkan jika TNI terlibat lebih jauh dalam penanganan teror. Yang penting payung hukum bisa preventif. Hanya dengan kecurigaan mereka melakukan atau terafiliasi dengan organisasi tertentu bisa ditangkap atau diproses hukum.

Salah Arah
Mantan Kepala BNPT Irjen (pur) Ansyad Mbai mengatakan jika RUU Antiterorisme yang saat ini masih dibahas di DPR sejatinya melenceng dari harapan. RUU itu tidak hanya bicara soal pencegahan dan penindakan.

“Kita kan inginnya UU yang lebih proaktif. Yang bisa mencegah sebelum kejadian. Yang bisa mencegah saat ada indikasi awal. Tapi RUU yang ada sekarang juga bicara soal kewenangan (institusi lain),” kata Ansyad pada Beritasatu.com di Jakarta.

Sejatinya, soal sharing kewenangan penindakan terorisme, jika diperlukan maka sebaiknya diatur dalam UU yang lain, tidak dicampur dalam RUU antiteror.

“Sekarang ini keadaan (anatomi teror Indonesia) semua kelompok teror menginduk dan berafiliasi dengan ISIS seperti JAD. Mereka ini lebih berbahaya dibanding era JI (Jemaah Islamiyah) dulu yang menginduk ke Al Qaeda. ISIS ini lebih punya tahapan perjuangan,” lanjutnya.

Maka, sebelum tambah terlambat, UU Teror harus lebih bergigi. Termasuk menindak mereka yang baru pulang dari peperangan di Suriah. Juga menindak para penceramah yang kerap menggunakan argumen kebencian dan permusuhan.

“Pelaku teror lapangan ini sebenarnya korban juga dari para pentolan yang suka menjelek-jelekan dan menyebarkan kebencian. Selama ini mereka (pentolan) itu belum bisa ditindak kalau tindakan terornya belum terjadi. Maka kita ini ibaratnya terus memadamkan api tanpa mencegahnya,” urainya.

Catatan: Kami melakukan revisi pada judul setelah Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam jumpa pers di Mapolda Jatim, Senin (14/5), meralat pernyataan sebelumnya bahwa keluarga pelaku pemboman pernah ke Suriah. Menurut Tito hasil penyidikan menunjukkan keluarga itu tidak pernah ke Suriah, namun bertindak atas perintah para militan yang pernah ke Suriah.

Sumber: BeritaSatu.com
http://www.beritasatu.com/satu/492261-keluarga-alumni-isis-suriah-teror-surabaya.html
image-url-apps
Biadab! Ternyata Gerindra, PKS dan PAN Menolak Revisi UU Terorisme!

Rentetan aksi teror yang terjadi belakangan disebut menunjukkan bangkitnya sejumlah sel teroris yang tertidur.

Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, hal ini disebabkan lemahnya regulasi untuk menindak terduga teroris sebelum melancarkan aksinya.

Diketahui, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme saat ini masih terganjal di tahap pembahasan di DPR.

Sementara itu, jika mengacu pada aturan yang lama, polisi hanya bisa menindak teroris atau kelompoknya jika telah melakukan aksi.

“Kita harap RUU Terorisme yang sudah setahun belum diproses itu, petugas Polri bisa berwenang dalam upaya represif untuk preventif,” ujar Setyo, di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Minggu (13/5/2018).

Seperti yang kita ketahui Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR Desmond J Mahesa pernah membuat pernyataan kalau belum ada urgensi merevisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Wacana revisi UU Pemberantasan Terorisme ini muncul setelah insiden ledakan dan penembakan di kawasan Thamrin, Jakarta.

“Menurut saya tidak mendesak banget. Kalau bom hanya menambah kewenangan, kami tidak setuju,” ujar Desmond J Mahesa di Gedung Nusantara II DPR RI, Jakarta.

Senada dengan politi Gerindra, Anggota Komisi Hukum, HAM, dan Keamanan DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Muhammad Nasir Djamil, juga menyatakan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme belum terlalu mendesak untuk direvisi. Menurut dia, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Polri, dan, TNI bisa menggunakan peraturan perundang-undangan lainnya.

“Jangan kemudian UU dijadikan alasan ketika terjadi aksi-aksi terorisme. Ada sejumlah peraturan lain yang bisa digunakan. Ada UU tentang Kewarganegaraan, UU tentang Organisasi Kemasyarakatan, UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta UU lainnya,” kata Nasir di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 21 Januari 2016.

Bukan hanya politisi Gerindra dan PKS saja yang menolak Revisi UU Terorisme, politisi PAN yang sekaligus merupakan Ketua MPR Zulkifli Hasan menyiratkan penolakan terhadap rencana pemerintah merevisi Undang-Undang Nomor 15/2003 tentang Tindak Pidana Terorisme.

Menurut Zulkifli, penanganan terorisme yang diatur UU tersebut sudah cukup memadai. “Saya baca, undang-undangnya sudah cukup,” kata Zulkifli di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (19/1/2016).

Pernyataan Zulkifli itu bertentangan dengan pemerintah yang ingin segera merevisi UU terorisme.

Anggota DPR juga dituding bersimpati pada kelompok radikal di antaranya tertuju pada Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-undang Terorisme DPR RI, Muhammad Syafi’i dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Pernyataan Syafi’i mencuat ketika menyebut bahwa polisi adalah teroris yang sebenarnya di Poso, dan Santoso tidak dianggap sebagai teroris pada 2016 lalu. Media pernah menurunkan pernyataan Kepala Bidang Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto yang menyesalkan pernyataan Syafi’i.

http://www.melekpolitik.com/2018/05/13/biadab-ternyata-gerindra-pks-dan-pan-menolak-revisi-uu-terorisme/
image-url-apps
kalo kedapatan melakukan teror baru bisa ditangkap?????
KASKUS Ads
image-url-apps
buka kembali gang DOLLY, cikno sing atene neror keselimur .. emoticon-Cool
Quote:


dah meleduk

mau ditangkep apanya coba?
image-url-apps
ketika mau ditangkep polisi trus ngelawan makan dtembak mati dbilang bego knp dtembak mati kan masih terduga bla bla bla
ketika udh meledakan diri dibilang pengalihan isu
#nasbungotakeror
image-url-apps
tuh kan.....
kemarin yg repot2 mulangin dr Suriah siapa ?
gini kan jadinya .....
hayo....sekarang cek lagi siapa2 yg kemarin balik dari sono
tunggu sampe gedung DPR bledug / salah satu rumah anggota BPR meledak baru kelar itu revisi
Yang udah baiat apa lagi kabur, mendingan jangan diterima lagi di Indonesia,. emoticon-Blue Guy Bata (L)
ex suriah wajib ditangkapi & disuruh minum baygon emoticon-Marah
image-url-apps
Harusnya bunuh aja sebelom sampe di indo
Quote:


kenapa juga dikasih pulaaannnngggg. dulu kan udah jadi warga isis berarti udah bukan warga negara sini lagi. masa di negara orang bunuh2in orang abis itu mewek2 minta pulang tanpa dihukum sama sekali sih. Coba kalau lu ke amrik terus terlibat kasus kriminal disana, ya masuk penjara lah emoticon-Hammer

lagian yang jadi masalah sekarang apa sih sebenernya? ga boleh digerebek kalau mencurigakan? alah disini kan hobi banget ngegerebek kos2an lah, maho lah, hotel esek2 lah, masa teroris kaga bisa digerebek? sebenernya masalah UU nya apa sih
jadi harus ada korban dulu baru di tindak??

semoga keluarga nya anggota DPR yang terhormat yang jadi korban

baru mereka teriak teriak

bangkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

image-url-apps
Bukannya kalo berperang bela negara lain otomatis bulan wni lagi ya?
image-url-apps
pulang2 bawa masalah, mestinya biarin aja di Suriah, jangan kasih masuk kesini... emoticon-Mad
image-url-apps
Agamanya apaan yak?

emoticon-Leh Uga
tembak semua WNI yang dipulangkan dari suriah dan yang terbukti berafiliasi dengan ISIS, lebih baik mencegah daripada mengobati emoticon-army emoticon-fuck
image-url-apps
Gak jauh2 dari suriah dan palestina deh.
Heran saya
bangke bgt, balik ke indonesia langsung jadi terorisemoticon-Marah emoticon-Blue Guy Bata (L)
image-url-apps
Gerinda, dan pks menjual indonesia ke isis
×