alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sel-sel JAD yang tertidur 'mulai bangkit' WASPADA aksi serupa
3.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af91c9532e2e672298b4568/sel-sel-jad-yang-tertidur-mulai-bangkit-waspada-aksi-serupa

Sel-sel JAD yang tertidur 'mulai bangkit' WASPADA aksi serupa

Sel-sel JAD yang tertidur 'mulai bangkit' WASPADA aksi serupa

BBC NEWS, Aksi teror bom beruntun di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur merupakan eskalasi aksi teror setelah insiden Mako Brimob awal pekan ini dan ada kekhawatiran bukan tidak mungkin jika aksi teror serupa masih akan terjadi lagi di beberapa tempat.

Pengamat Terorisme dari Universitas Indonesia, Al Chaidar, menyebut serangan bom pada Minggu (13/05) pagi terkait erat dengan insiden yang melibatkan tahanan kasus terorisme di Rumah Tahanan Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, yang terjadi awal pekan ini.

Al Chaidar menuturkan setelah insiden Mako Brimob yang melibatkan 155 napi teroris, mereka membuat seruan jihad kepada seluruh anggota jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) melalui sosial media dan jaringan komunikasi interpersonal.

Anggota kelompok yang disebut Departemen Luar Negeri sebagai organisasi teroris ini diperintahkan untuk melakukan serangan di mana pun mereka berada dengan kemampuan apa pun yang ada. Imbasnya, anggota di berbagai daerah sontak merespon seruan jihad itu.

"Saya yakin sekali akan terjadi aksi-aksi serupa karena serangan yang disebarkan oleh para napi teroris di Mako Brimob itu sampai sekarang belum dicabut dan sampai hari ini belum ada pernyataan dari Aman Abdurrahman sebagai imam dari kelompok JAD untuk menghentikan serangan-serangan tersebut," ujar Al Chaidar kepada BBC Indonesia.

Badan Intelijen Nasional (BIN) pun meyakini bahwa kelompok JAD berada di balik aksi teror di beberapa gereja di Surabaya, seperti dijelaskan Direktur Komunikasi BIN, Wawan Purwanto.

"Target utamanya tetap otoritas keamanan. Tapi kita bisa sebut bahwa (serangan gereja) ini adalah target alternatif ketika target utamanya tak berhasil," ujar Wawan seperti dikutip dari Reuters.

Seperti diberitakan, sedikitnya 13 orang meninggal dan 40 lainnya dilarikan ke rumah sakit terdekat karena mengalami luka-luka lantaran rentetan pengeboman di tiga gereja di Surabaya.

Menurut polisi, bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya, dan selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di gereja Pantekosta di jalan Arjuno.

Petugas keamanan gereja, Erens A Ratupa menuturkan ledakan terjadi ketika jemaah masih melakukan doa misa.

"Itu spontan sekali, cepat sekali. Dia masuk pas melempar bom terus akhirnya terjadilah ledakan. Itu masih doa misa mau selesai, mungkin antara 5-10 menit pas mau keluar tapi belum sempat. Sudah berdiri langsung meledak," ungkap Erens.

Tidak lama kemudian, bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro.

Peristiwa keempat setelah insiden Mako Brimob

Serangan bom berantai di Surabaya merupakan peristiwa terkait teror keempat setelah terjadinya pemberontakan atau kerusuhan di Mako Brimob oleh 155 napi terorisme, Selasa (08/05) lalu yang menewaskan lima polisi.

Dua hari setelah berakhirnya pemberontakan para napi itu, terjadi penikaman terhadap anggota satuan intel Brimob, Bripka Marhum Frence, 41 tahun, oleh Tendi Sumarno, 23 tahun. Bripka Marhum Frence tewas di rumah sakit, sementara Tendi Sumarno tewas ditembak anggota Brimob lain.

Keesokan harinya, juga di sekitar Mako Brimob, ditangkap dua perempuan belia Dita Siska Millenia, 18 tahun, dan Siska Nur Azizah, 21 tahun, yang dicurigai hendak melakukan aksi penusukan terhadap petugas.
Lalu pada Minggu (13/05) dini hari, empat orang terduga teroris tewas di Cianjur tewas ditembak, yang menurut polisi dikarenakan mereka melawan ketika hendak ditangkap.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan keempat terduga teroris itu merupakang anggota JAD Jabodatebak yang dua pentolannya kini sudah menjadi napi teroris.

"Mereka merencanakan penyerangan pos polisi, kantor polisi, di wilauyah Jakarta, Bandung, dan Mako brimob kepala dua dengan cara hit and run, menggunakan senjata api yang mereka punya, kemudian panah dan busur yang diujungnya dibuat bom," ujar Setyo dalam konferensi pers.

Selain itu, dua terduga teroris di Sukabumi, Jawa Barat dan Cikarang, Bekasi turut pula diamankan pada Minggu pagi.

"Mereka adalah boleh disebut sebagai sel-sel tidur yang bangkit menjelang ramadhan dan menjelang lebaran," ujar Setyo.

Dan beberapa jam setelah itu, terjadi serangan di tiga gereja Surabaya.

Diakui Al Chaidar, seruan jihad paling banyak direspon oleh anggota kelompok yang berada di Jawa Timur dan Jawa Barat, walau anggota lain di Bogor, Banten, Madura dan Jawa Tengah pun merespon seruan jihad itu.

"Angka yang sangat tinggi ini membuat para peneliti yakin akan ada serangan di kota Surabaya, jadi ini sangat berkaitan dengan insiden yang terjadi di Mako Brimob, Depok," jelas Al Chaidar.

Dia menilai aksi teror di Surabaya dinilai sangat terorganisasi, mengingat pengeboman terjadi hampir serentak di tiga gereja yang sedang melakukan misa pagi, yang sudah pasti banyak orang terakumulasi untuk menjalankan ibadah.

Menurut Al Chaidar, kelompok tersebut membuat strategi untuk memecah konsentrasi polisi, yakni dengan mengalihkan serangan tersebut dari Depok ke berbagai tempat mereka berada.

"Dan yang tadinya targetnya hanya target utama, yaitu polisi, mereka juga melakukan target-target kedua seperti rumah ibadah non-muslim dan target ketiga adalah tempat keramaian," jelas Al Chaidar.

"Jadi saya kira tempat keramaian harus dihindari oleh publik untuk saat ini dan sampai mungkin harus lebaran, karena tempat-tempat keramaian masih menjadi target yang juga sangat empuk bagi mereka," imbuhnya.

Anak kecil dilibatkan langsung?
Wakapolrestabes Surabaya, Ajun Komisaris Besar Benny Pramono, menyatakan, pelaku bom bunuh diri di salah-satu gereja, yakni Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, Surabaya, diduga seorang ibu yang membawa dua anaknya.

"Ibu dan dua anaknya yang berupaya masuk ruang kebaktian ini sempat dihalau oleh seorang sekuriti di pintu masuk GKI jalan Diponegoro, Surabaya, sebelum kemudian (ketiganya) meledakkan diri di halaman gereja," katanya.

Ibu dan dua anak tersebut berupaya masuk ke ruang kebaktian, sempat dihalau oleh seorang satpam di pintu masuk GKI Jalan Diponegoro Surabaya, sebelum kemudian mereka meledakkan diri di halaman gereja.

"Sekuriti yang menghalaunya adalah salah satu korban yang terluka parah," ucap Benny kepada wartawan.

Menurut Benny, perempuan dewasa dan dua anak tersebut tewas seketika di lokasi kejadian.

Pengamat teroris Sydney Jones mengatakan ini bukan kali pertama serangan teror pengeboman dilakukan oleh perempuan.

Meski tidak berhasil melakukan serangan bom bunuh diri dengan bom panji di Istana Negara pada 2016 lalu, Dian Yulia Novi menjadi perempuan pertama yang mengambil peran sebagai pelaku langsung untuk suatu serangan bom bunuh diri.

Sel-sel JAD yang tertidur 'mulai bangkit' WASPADA aksi serupa

Kendati begitu, yang membedakan dari serangan itu ialah diikutsertakannya anak kecil dalam serangan tersebut.

"Ini pertama kali ada anak kecil," ujarnya.

Hal ini diamini oleh Al Chaidar. Jika sebelumnya anak-anak dibawah umur tidak dilibatkan langsung dalam aksi jihad, kini mereka dilibatkan langsung untuk 'mengecoh' pihak keamanan.

"Baru sekarang ini anak-anak dibawa langsung untuk dilibatkkan dalam perang, dalam serangan untuk mengecoh atau pun mengalihkan perhatian dari orang-orang," tutur Al Chaidar.

"Padahal dengan adanya perempuan dan anak-anak itulah mereka punya kesempatan untuk memasukkan diri mereka ke dalam sebuah tempat yang menjadi target untuk diledakkan, " imbuhnya.

Pelaku satu keluarga

Sore harinya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut bahwa berdasar investigasi kepolisian, pelaku pengeboman di Surabaya merupakan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat anaknya.

Dita bersama istrinya Puji Kuswanti dan dua anaknya, berangkat menggunakan Toyota Avanza yang telah dipasang bom.

Dia kemudian menurunkan istri dan kedua anak perempuannya yang berusia 12 tahun dan 9 tahun di GKI Diponegoro lalu membawa mobil yang diduga berisi bom menuju Gereja Pantekosta.
Sementara itu, dua anak laki-laki mereka berangkat sendiri menggunakan motor ke gereja Santa Maria.

"Semua adalah serangan bom bunuh diri,"

Tito menuturkan D adalah ketua JAD Jawa Timur dan pernah bertempur di Suriah. JAD merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia.

Lebih lanjut, Tito menuturkan pihaknya akan menggandeng Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menangkap sel-sel teroris JAD.

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44022493
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Harusnya 155 orang itu langsung dikirim ke alam baka biar gak ada komunikasi dan seruan jihad emoticon-Marah
J A D

J A T

J U T
musnahkan emoticon-Blue Guy Bata (L)
di grup wa, fb dll gw banyak temen gw yg bilang teroris tidak beragama
kalo gw tanya kenapa kok teroris yg tidak beragama ini, dan bahkan merusak citra Islam malah dibela sama Tim Pengacara Muslim, langsung sepi
sapu bersih..sampai dr daun sampai ke akar2nya, bersihkan dr gerakan radikal & ekstrimis..indonesia negeri bhinneka tunggal ika
klo gitu monggo ditidurkan kembali
Klo perlu selama lama lama lamanya
Quote:


harusnya begitu biar rasa aman rakyat kembali lagi. emoticon-Takut
Disurabaya 1 keluarga
Di sidoarjo juga 1 keluarga
Di polrestabes surabaya juga 1 keluarga

Manusia2 sakit jiwa...kasihan itu anak kecil ngak tahu apa2 u bawa2
akan ada yg memanfaatkan isu teror di tahun politik ini kah ?
Sel-sel JAD yang tertidur 'mulai bangkit' WASPADA aksi serupa
kabarnya ada ratusan (500 ??) org indonesia balik dari suriah, apa intel dan polisi tidak mendata ratusan org itu dan menguntit mereka??
padahal kluarga pelaku teror bom 3 gereja minggu kmrn adalah salah satu dari ratusan org yg kembali dr suriah.
apa intel dan polisi kecolongon atau tidak mendata?
buat tidur selamanya aja.
cara'a gimana?
tembak aja langsung
bener seharusnya para teroris di mako kemarin dibikin sel seperti guantanamo..


tidak ada akses sama sekali ke luar dan sanak saudara..
Quote:

3 keluarga , 1 kelompok .marah 2 petinggi jad diciduk polisi .malah yg sidoarjo dan surabaya pernah besuk ketua nya di lapas sebelum nya
emoticon-Hammer2 JAD48
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 03
Tulisan dari temen pelaku bom Surabaya

Dari Islam Muram dan Seram, Menuju Islam Cinta nan Ramah

Dita Oepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya Lulusan ‘91

Dia bersama-sama istri dan 4 orang anaknya berbagi tugas meledakkan diri di 3 gereja di surabaya. Keluarga yg nampak baik2 dan normal seperti keluarga muslim yg lain, seperti juga keluarga saya dan anda ini ternyata dibenaknya telah tertanam paham radikal ekstrim.

Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar2 terjadi saat ini.

Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis islam ke kelompok aktivis islam yg lain. Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian “Cinta dan Tauhid” Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun. Yg lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya.

Diantaranya ada juga pengajian yg isinya menyemai benih2 ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang2an. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi islam garis keras.

Pernah di satu pengajian saat saya kuliah di UNAIR, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi. Sesampai disana ternyata peserta pengajian di-brainwash tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan unt menegakkan ini kita perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita unt disetor ke mereka.

Bahkan ketua Rohis saya di buku Agendanya menyebut profesi dirinya bukan pelajar SMA, tapi Mujahid. Karena memang saat itu majalah Sabili sangat laris di sekolah kami. Isinya banyak menampilkan secara Vulgar pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia. Dan ini dijadikan pembakar semangat anak2 muda jaman saya waktu itu untuk menjadi “mujahid2 pembela islam”, beberapa akhirnya berangkat beneran ke medan perang.

Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis islam dari yg paling radikal sampai liberal itu, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dll itu, saya menyadari walaupun Islam ini mestinya satu, tapi ada banyak versi cara orang memahaminya, sehingga melahirkan banyak versi ekspresi keislaman dan pola tindakan.

Dan dari semua versi tadi, yg paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya mendiang Dita Supriyanto yg jadi ketua Anshorut Daulah cabang Surabaya ini. Saya sedih sekali akhirnya ini benar2 terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih2 ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

Dia mengingatkan saya pada kakak kelas lain, ketua rohis SMA 5 Surabaya waktu itu, yg menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Waktu itu sepertinya pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bom2 teroris seperti sekarang. semua sekedar “gerakan pemikiran”. Memang dia dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) unt diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasehat ndak akan masuk ke hati. Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati.

Akhirnya Ketua rohis saya ini tiap upacara bendera i’tikaf di mushola sekolah. Btw kadang saya kalau lagi males upacara, ikut menemani dia di mushola dan ikut mendegarkan siraman rohaninya. Dan yg seperti ketua rohis saya ini tidak hanya di SMA 5, tapi yg saya tahu ada di hampir semua SMA dan kampus di surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

Yg ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yg kita alami saat ini adalah panen raya dari benih2 ekstrimisme-radikalisme yg telah ditanam sejak 30-an tahun yg lalu di sekolah2 dan kampus2. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yg saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu.

Mohon jangan salah paham, main stream-nya pergerakan islam di sekolah dan kampus ini tidak se-ekstrim kakak kelas saya tersebut. Tapi ada cukup banyak yg sifatnya sembunyi2 dimana saya waktu itu ikut merasakan ngaji bersama mereka.

Serangkaian bom di tanah kelahiran saya dng tempat2 yg sangat akrab di telinga dengan segala kenangan masa kecil, plus pelaku utama yg terasa begitu dekat dengan memori masa2 SMA-Kuliah dulu ini membuat saya tersentak bahwa Ekstrimisme, Radikalisme, bahkan Terorisme ini sudah menjadi “Clear and Present Danger”. Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yg terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi disini dan saat ini disekitar kita.

Maka kita harus menetralisir kegilaan ini sampai ke akar2nya. Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman rekayasa, pelakunya ndak paham islam, ini bukan bagian dari ajaran islam, ini pasti cuman adu domba, dll.

Nyatanya pelakunya masih sholat subuh berjamaah di mushola, lalu satu keluarga berpelukan sebelum mereka menyebar ke 3 gereja unt meledakkan diri.

Nyatanya memang ada saudara2 kita yg memahami islam versi garis keras yg hobinya mengutip mentah2 ayat2 perang dan melupakan substansi “cinta dan kasih sayang” sebagai inti ajaran Islam.

Nyatanya memang benih2 radikalisme, ekstrimisme ini telah ditabur 30 tahun terakhir di pikiran anak2 muda kita, di sekolah2 terbaik dan dikampus2 top di Indonesia. Dan kalau akhirnya mewujud menjadi tindakan nyata terorisme, mestinya tidak mengagetkan kita.

Kalau kita masih saja melakukan penyangkalan, maka kita ndak akan pernah berbenah diri. Tapi kalau kita insyaf bersama, Kalau kita dengan gentle mengakui - bahwa IYA memang kita sedang sakit, bahwa memang ada banyak diantara kita, dan saudara2 kita yg memahami islam versi garis keras, yg merasa bahwa islam harus diperjuangkan dengan kekerasan - maka kita bisa mulai mengambil langkah2 solutif.

Dan langkah2 solutif nyata yg bisa kita lakukan diantaranya adalah:

1. Mulai menetralisir alias melunakkan paham islam garis keras dan mulai menyebar luaskan paham islam moderat (washothiyah).

2. SMA2 dan Kampus2 harus disterilkan dari gerakn2 bawah tanah islam garis keras, diganti dengan kemeriahan dan kegembiraan aktivitas islam yg menebarkan “cinta dan welas asih” pada sesama manusia.

3. Sosial media harus dipenuhi kampanye “islam yg ramah dan penuh kasih sayang”. Bukan islam yg keras, penuh umpatan, dan kata2 kasar, apalagi hoax dan berdarah2.

4. Pertarungan politik mohon jangan lagi menggunakan isu SARA sebagai komoditas rebutan kekuasaan. Apalagi disertai kampanye hitam saling menghujat yg membuat bahkan setelah selesai Pilkada/Pilpres-nya masyarakat jadi terbelah saling bermusuhan.

5. Mawas diri dan sama2 menahan diri dalam menyikapi perbedaan2 dalam penafsiran Islam. Islamnya satu dan sumbernya sama, tapi nyatanya cara kita memahaminya bisa macem2. Dan ini fenomena psikologi yg wajar. Ayo tebarkan sikap saling memahami dan berempati, bukannnya saling curiga dan menyalahkan. Islam harus dipulihkan reputasinya dari wajah muram penuh kekerasan menjadi wajah ramah penuh Cinta pada sesama manusia.

Benar kata Muhammad Abduh, cendekiawan muslim abad 20, “Al-islamu Mahjubun bil muslimin”, Keindahan Islam ini terhijab/tertutupi oleh akhlak buruk sebagian umat islam sendiri”. Jadi mari kita yg akan bersama2 memulihkan wajah Indah Islam.

Terakhir, mari kita dengar seruan seorang remaja islam peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai:

“Peluru hanya bisa menewaskan teroris, tapi hanya PENDIDIKAN-lah yg bisa melenyapkan paham terorisme (sampai akar2nya: radikalisme, ekstrimisme)”

Love & Peace for all of us..

And for my beloved Christian brothers & sisters.. my deep condolence for all of you.. from the bottom of my heart, I am really sorry..

STAY SAVE.. SPREAD COMPASSION..

Saya yg sedang berduka,

Ahmad Faiz Zainuddin
Alumni SMA 5 Surabaya Lulusan 1995
Quote:


karena belum ada dasar hukumnya. masih ditahan-tahan sama DPR
Bangun penjara kaya guantanamo

Teronya disiksa-sakit-disembuhkan-disiksa lagi

Apa ngak ngilu bijinya digituin terus..spy org takut jadi tero
Quote:


Bener bre emoticon-Marah
Quote:


didata dan diawasi pertanyaannya sanggupkan berapa banyak polisi dan intel diperlukan untuk mengawasi seluruhnya? akhirnya beberapa hanya semacam di "rehabilitasi" berhasil atau tidak nya tidak jelas, yg pasti ujung2 nya di pulangkan dan mereka gw rasa jga bukan orang2 bodoh, sudah dilatih untuk memanipulasi kondisi untuk mengalihkan perhatian. seharusnya yg pulang ini bukan hanya di data dan diawasi tapi juga di isolasi dari publik, bukan hanya beberapa bulan saja tapi ya harus beberapa tahun karena kepercayaan itu ubah nya tidak semudah itu, sudah tertanam sebagai ideologi nya mereka. kesannya memang mereka jadi orang buangan, tapi ya lebih baik mereka dikorbankan dari pada dikembalikan ke publik lalu ratusan atau mungkin ribuan nyawa orang lain ikut melayang
Diubah oleh nekoyashikki
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di