alexa-tracking

Dirjen SDPPI: Perlu Repositioning Standardisasi Hadapi Ekonomi Digital

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af884455c7798146b8b4569/dirjen-sdppi-perlu-repositioning-standardisasi-hadapi-ekonomi-digital
Dirjen SDPPI: Perlu Repositioning Standardisasi Hadapi Ekonomi Digital
Dirjen SDPPI: Perlu Repositioning Standardisasi Hadapi Ekonomi Digital

JPP, BANDUNG - Persoalan ekonomi digital menjadi perhatian serius pemerintah. Ini tampak dari upaya menyiapkan kebijakan dan standardisasi di bidang perangkat informatika. Apalagi di tengah ketidakpastian, hal yang terpenting adalah selalu melakukan antisipasi perubahan yang mungkin terjadi.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen SDPPI Kemkominfo) Ismail kepada seluruh hadirin dalam Forum Standardisasi Teknologi Informasi dan Komunikasi di Bandung, Jawa Barat, Rabu (9/5/2018).

"Apakah kita benar-benar sudah meyakini bahwa kita saat ini sudah berada dalam kondisi ekonomi digital? Saya kurang sreg dikotomi ekonomi digital dan non ekonomi digital, mengatakan bahwa ekonomi ya ekonomi, yang terpenting dan perlu diantisipasi adalah bagaimana perubahannya,” ujar Ismail.

Menurut Dirjen SDPPI, ekonomi yang tumbuh sekarang ini ditopang oleh kondisi yang namanya disruptif teknologi, yang membuat suasana yang semula normal, “plan-plan” (rencana-rencana) menjadi kacau dan bergolak sehingga berkembang istilah ekonomi digital.

Disruptif teknologi ini, menurut Ismail, sudah melanda semua sektor, salah satunya transportasi dengan hadirnya Grab, Go-Jek, dan lain-lain. “Seluruh undang-undang dan peraturan menteri yang terkait dengan transportasi ini menjadi kacau, perusahaan angkutan konvensional kebingungan,” ulasnya.

Menurut Dirjen SDPPI, ini baru satu sektor, dan itu akan melanda semua sektor. Pada sektor perbankan sudah di depan mata, dengan munculnya fintech-fintech yang membuat bank-bank konvensional tidak bisa tenang seperti dulu.

“Ini kalau tidak hati-hati bisa memporak-porandakan sistem keuangan kita, tidak hanya di Indonesia, semua negara mengalami isu yang sama,” jelas Ismail.

Selanjutnya, Dirjen SDPPI menyatakan ada lima hal yang menopang disruptif teknologi, yang ia singkat ABCDS (Artificial Intelligence, Block Chain, Cloud, Data atau Big Data, dan Security), yang bakal menjadi pendorong perubahan cepat dengan hadirnya teknologi-teknologi itu.

Menyikapi perkembangan cepat bidang TIK, termasuk isu disruptif teknologi dan ekonomi digital, menurut Dirjen SDPPI, pembuat kebijakan dan standardisasi nasional, termasuk Direktorat Standardisasi PPI Ditjen SDPPI perlu melakukan repositioning (memposisikan ulang) pendekatan standardisasinya.

Karena, lanjut Ismail, sesuatu yang belum diatur standardisasinya, dalam perkembangan cepat seperti sekarang ini tiba-tiba sudah menjadi standar dan digunakan banyak orang. Jadi tidak ada standar resminya, tapi secara defakto ini sudah berkembang pesat dan digunakan banyak orang maupun industri.

“Apakah kita masih relevan bicara standardisasi di sini? Jadi perlu repositioning tentang pemahaman standardisasi ini, apakah pendekatan standardisasi atau pendekatan perkembangan dinamis seperti yang sedang terjadi sekarang,” jelasnya. (kom/nbh)


Sumber : https://jpp.go.id/24-nasional/320942...konomi-digital

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Dirjen SDPPI: Perlu Repositioning Standardisasi Hadapi Ekonomi Digital Langkah Bank Sentral Hadapi Perkembangan Nilai Tukar

- Dirjen SDPPI: Perlu Repositioning Standardisasi Hadapi Ekonomi Digital Sikap Pemerintah Selalu Tegas dan Tidak Pandang Bulu Hadapi Terorisme

- Dirjen SDPPI: Perlu Repositioning Standardisasi Hadapi Ekonomi Digital Topang Industri 4.0, RI-Singapura Siap Kolaborasi Bangun Digital Hub

×