alexa-tracking

Goresan (18+)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af837e61a997597758b4577/goresan-18
Goresan (18+)
WARNING
TULISAN INI ADA UNSUR SEKSUALITAS, JADI SEBAIKNYA ANDA TIDAK MEMBACA INI. JIKA YANG BERKENAN SILAHKAN MEMBACA.


15 Tahun yang lalu...
Aku hidup di daerah pesisir pantai di ujung pulau banten. Aku adalah seorang lelaki yang hidup dalam keluarga yang biasa bahkan bisa dikatakan susah,. Ayahku hanya seorang nelayan biasa, yang setiap hari pulang pergi melawan teriknya matahari dan deburan ombak serta gigitan-gigitan ikan yang mengenai jari-jarinya. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, yang terkadang membantu ayahku dengan pergi mencuci di rumah tetangga. Aku dibesarkan dengan 2 orang kakak, kakak pertamaku adalah seorang perempuan , dan kakak keduaku adalah seorang laki-laki, yang sudah meninggal sejak aku masih kecil sekali.
Umurku 6 tahun kala itu, dengan umur itu aku sudah bisa pergi ke Sekolah Dasar, aku termasuk kedalam murid yang terkenal pintar di sekolah, karena aku sering mendapat rangking dan masuk ke dalam 5 besar.
Orangtuaku bukan orang yang berpendidikan, Ibuku hanya lulusan Sekolah Dasar, semasa kecilnya di[penuhi usaha-usaha membantu nenekku berjualan makanan. Setiap sepulang sekolah beliau menjajakan makanan dengan berkeliling kampung, rambut kecoklatan terpapar sinar matahri, dan kulit dekil lusuh dengan rok seragam sekolah yang tidak sempat beliau tanggalkan menjadi ciri khas beliau menjual dagangannya. Kehidupan untuk bekerja keras sudah dirasai ibuku semenjak kecil, hingga beliau harus putus sekolah akrena biaya sekolah beliau relakan untuk ketiga adiknya yakni om-om ku.
Berbeda dengan Ayahku, bisa dibilang beliau lebih beruntung dari ibuku. Beliau berasal dari keluarga pemilik tanah yang banyak di kampungku. Sehingga beliau bisa disekolahkan dengan baik oleh kakekku hingga ke jenjang kuliah. Pendidikan yang tinggi tidak serta merta membuat ayahku menjadi orang yang mengerti dan pintar dengan pelakajran-pelajaran sekolah. Beliau bahkan tidak terlalu lancar membaca, sekolahnya dia isi hanya dengan bermain-main. Hingga semestar tengah di jenjang kuliahnya dengan jurusan yang nantinya dapat memberikan beliau pekerjaan sebagai guru olahraga, Beliau menghancurkan pendidikannya itu demi pergi menikahi ibuku yang berada di kampung, meski sempat berargumen dengan kakaknya yang sudah terlebih dahulu akan meminang ibuku. Tapi ayahku bersikeras dia yang akan menikahi ibuku, meski diawali dengan perkelahian dahulu.

Karena keuletanku dalam belajar sendiri di rumah, aku tidak pernah mengandalkan orangtuaku, aku sudah mandiri dalam belajar sedari aku kecil. Mengerjakan PR pun aku sungkan untuk bertanya ke mereka. Aku hanya mengerjakannya sendirian, kadang kala koran bekas atau bungkusan bekas membungkus bumbu dapur sering aku jadikan bacaan, karena tak mampunya keluargaku membelikan aku buku bacaan.
Terkadang selepas sekolahpun, aku biasanya mencari paku-paku besi di tempat pembuangan sampah umum untuk nantinya aku jual ke pengepul, atau kuli mengupas pisang yang nantinya dijadikan sale di tempat tetanggaku, atau terkadang aku juga mencari jamur jerami di sawah-sawah orang lain dengan saudara-saudaraku. Hdup mewah bukan lagi identitasku sejak kecil, aku sudah terbiasa makan dengan nasi dan garam. Atau bahkan menangis karena menahan lapar.
Prestasiku disekolah, tidak serta merta membuatku berkecukupan dalam sekolah. Aku selalu kesusahan untuk membeli buku-buku pelajaran, bahkan buku tulispun aku dapat dari bekas buku pelajaran kakakku atau sepupu-sepupuku, yang aku sobek bagian yang ada tulisannya dan menyisakan beberapa lembar yang masih kosong. Seragampun, aku membeli hanya awal aku masuk sekolah, selanjutnya aku hanya menunggu tetanggaku memberikan seragam yang sudah mengecil dari anak-anaknya.
Terkadang celana merah sempit dan sepatu yang lusuh menjadikanku bahan candan dan bullyan teman-temanku. Disekolahpun aku sering disuruh-suruh temanku membelikan makanan ke kantin sekolah, agar aku bisa mendapat makanan dari mereka.
Besar dengan seorang kakak dan sepupu yang berjenis kelamin perempuan, membuatku lebih menyukai hal-hal yang feminim. Aku seringkali bermain hanya dengan kakak perempuanku, dan membuatku mempunyai bahasa tubuh yang sedikit kemayu. Sejak kecil aku senang bermain boneka dan bukan bola. Meski terkadang saudara-saudaraku memberikan aku mainan-mainan lelaki, tetapi hanya diawal saja dan aku kembali bermain dengan semua permainan perempuan.
Aku sering di cemooh bahkan di bully habis-habisan karena hal itu, aku sering disebut banci kaleng, bencong dan lain-lain. Taka da yang bisa aku lakukan, aku hanya diam saja tanpa ada keberanian membalas mereka. Aku tak akan mengadu kepada orangtuaku, aku sellalu membiarkan mereka melakukan itu meski terus berulang setiap kalinya, akupun tidak mempunyai teman di sekolah, aku hanya berteman dengan sepupu perempuanku itu saja.
Karena sikapku yang sedikit kemayu, aku sering menjadi target pengucilan di sekolah dan kampungku, keluargaku tidak bisa melakukan apa-apa, kami hanya manusia kecil, keluarga orangtuakupun semenjak kakek dan nenek meninggal semuanya merasakan kesusahan.
Aku terkadang bermain sendiri karena aku tidak punya teman, karena aku mereka anggap seorang banci. Semenjak aku SD sampai terakhir kali diawal SMP, aku sudah beberapa kali mengalami pelecehan seksual oleh laki-laki dewasa yang menganggapku sebagai sarana untuk memuaskan nafsu birahi mereka. Sepulang sekolah saja aku sering dimintai untuk melayani nafsu bejat mereka, tubuh kecilku yang rentan dan lemah membuatku tidak berdaya dikala mereka mengagahiku. Aku sering melenguh dikala mereka memasukan anu itu. Banyak lelaki-lelaki dewasa yang tidak segan melakukan itu.
Saat itu psikisku pun mulai terusik, aku bahkan sering tidak bisa mengontrol sikapku, bahkan aku jadi menyukai perlakuan mereka terhadapku. Aku tidak pernah mau bilang ke orangtuaku, aku hanya tidak mau membuat mereka bersedih mendengar apa yang sering aku alami itu.
Aku pun jadi menyukai mandi disungai dan melihat lelaki-lelaki dewasa yang bertelanjang, aku bahakn sering mencuri pandang terhadap mereka. Dan membuatku menjadi seorang pecandu sesama jenis.
Hingga mulai pubertas, semua gejala-gejala pubertas sudah tumbuh sebagaimana mestinya, akupun sudah menjadi seorang laki-laki yang menyukai seorang perempuan, meski pada awalnya aku amsih menyukai laki-laki juga.
Kisah percintaan monyetku pun beberapa ali terjadi, aku berpacaran dengan beberapa perempuan sebayaku dengan segala hasrat dan perasaan tulus semasa remaja, mereka juga sering aku jadikan sebagai penyemangatku untuk bersekolah, dan presrasikupun tidak pernah menurun sejak sekolah dasar, aku masih terus menjadi juara kelas disetiap semesternya.
Kisah percintaanku dengan perempuan sampai sekolah menengah atas membuatku melupakan orientasi seksualku yang memang terus aku tutupi sedari dulu. Aku tidak akan membuka aib ini kepada siapapun yang mengenalku.
Aku lebih suka membuat sebuah persahabatan dengan teman-teman lelakiku, meski terkadang aku mempunyai niat buruk terhadap mereka karena aku emmpunyai keinginan lain kepada mereka. Karena bisa terlihat semua sahabatku berwajah tampan semua.
Tiak beda dengan mereka, dan seiringnya waktu berjalan dan umurkupun sudah bertambah, aku mempunyai wajah yang lumayan bisa diperhitungkan, bahkan aku gemar memacari perempuan-perempuan di sekolah hanya untuk emndapatkkan kepopuleran di kalangan mereka, bahkan aku sering mulai berbohong tentang keadaan keluargaku yang tidak semestinya.
Aku sering bergonta-ganti pacar, entah mengapa mereka tidak pernah menolakku, mereka menganggap aku adalah seseorang yang sempurna dengan ketampanan dan kcerdasan yang aku miliki.
Sejak saat itu, orientasi seksualkupun perlahan mulai terlupakan dan aku mempunyai fokus yang lain hingga ke perkuliahan.

2013
Tahun ini aku mulai berkuliah di salahsatu perkuliahan swasta di kota bogor, jawa barat. Bocah kampung yang tidak mengenal kota besar membuatku sedikit linglung meratapi detik detik waktu di perkotaan.
Awal aku kuliah aku tinggal sendiri di sebuah kosan yang lumayan nyaman, aku berkuliah bukan akrena kehidupan keluargaku membaik. Tidak sama sekal, ayahku amsih saja seorang nelayan, dan ibuku masih suka membantu tetanggaku mencuci. Aku berkuliah akrena tekad yang bulat, au percaya aku akan bisa melakukan ini.
Sesemstar awalpun sudah aku lewati dengan banyak ketidak tahuan akan kota ini, aku masih canggung dan bingung. Dan aku mengenal seorang teman di satu jurusan denganku, semenjak awal temanku ini aku petrhatikan dia mempunyai sifat yang peduli dan tidak pernah memilih-milih teman.
Aku putuskan untuk menyewa kamar kosan berdua dengan dia, agar biaya untuk tempat tinggal bisa lebih rngan.
Di awal pertemanan kami, tidak ada yang aneh ataupun yang istimewa, kami berteman biasa saja dan tidak pernah melakukan hal-hal yang membaut pertemanan kami itu sedikit spesial.
Hingga suatu malam,...
Tangan kananku sibuk memijit-mijit bagian atas mouse kursorku berniat menyelesaikan tugas kuliah yang harus besok aku kumpulkan, mataku memerah karena mengantuk menatap layar laptop yang menyorot langsung kedalam mata. Jam sudah menunjukkan setengah 12 malam, aku teringat temanku belum kunjung pulang sedari siang, aku mulai menkhawatirkan dia. Aku mencoba menunggu dan menghubungi nomor teleponnya, tetapi nihil, dia tak kunjung menampakkan batang hdiungnya dan pulang ke kos.
Malmpun semakin larut, aku amsih menunggu sembari mencoba menyelesaikan tugas kuliahku, alhasil tiba-tiba...
‘’ BRUKKK...’’ suara pintu dibanting keras membentur tembok.
Aku terkaget hampir teriak,
Terlihat temanku pulang berjalan smepoyongan dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang tidak karuan, dia berjalan kearahku menjatuhkan badannya tepat diatas badanku,
Aku meronta merasa berat, dia tak mau bagun dan menindihku semakin keras, mulutnya yang berbau alkohol dan rokok mencapur, membuatku sedikit mual dan meronta mengangkatnya bangun, bukannya mengalah dia menekanku balik dan membuatku merasakan sesak nafas dan membuatku lemas hingga tak sadarkan diri.
ESOK HARI...

Kicauan burung membuatku terenyuh, aku membuka mataku meneropong jauh ke alam nyata. Aku masih bersikap tenang kala itu, hingga kudapati aku hanya memakai pakaian bagian atas dan bagian bawahku terlihat tanpa sehelai benang apapun.
Aku diam sejenak mengingat kejadian di masa kecilku yang membuatku trauma dahulu, dan kemudian berlari mencari temanku. Ku dapati dia sedang di kamar mandi, ku dobrak langsung pintu hingga jebol dan membuatnya kaget bukan kepalang.
Aku menekan kepalanya menyender tembok, ku buat kakiku menahan lututnya agar dia tidak bisa melakukan apa-apa.
‘’Apa yang lu lakuin semalam, cepet jawab kenapa gua gak pake celana’
‘’Selow bro, tenang dulu... pala gua sakit ini’’ jawabnya melenguh
‘’kagak mau, jawab dulu... menurut lu gua apaan, bisa lu lakuin semena-menanya’’
‘’sorry bro, gua juga ga terlalu sadar waktu itu... ‘’
‘’alah, alesan lu itu... ‘’
‘’yaudah iya gua minta maaf, udah dong ... lagian kan gua gapake baju sama sekali ini’’
Karena kesal, akupun melepaskan tangan dan kakiku, dan berjalan pergi menuju kamar. Aku terus memikirkannya, aku tidak ingin kejadian semasa kecilku terjadi lagi sekarang, dan aku tidak mau perasan itu muncul lagi.
Bebrapa menit kemudian, temanku datang masuk ke kamar dengan handuk yang menutupi badannya,
‘’gua sorry banget, gua ga sengaja... semalem gua minum, jadi gua ga tau semalem gua ngapain ke elu’’
Aku Cuma diam tanpa bergeming sedikitpun.


Sejak kejadian itu, aku sudah memaafkannya dan sikap temanku terhadapku mulai berubah perlahan-lahan, dia lebih care dan perhatian teradapku. Dia melakukan hal-hal yang biasanya tidak dia lakukan, sikapnya malah membuatku jadi semakin nyaman dan memunculkan perasaan-perasaan dahuluku menyukai sesama jenis, dan diapun merasakan hal yang sama.
Hingga saat ini...
Aku sedang mencoba keluar dari dunia gelap ini, banyak rintangan halangan yang sesekali membuatku tergoyah untuk keluar dari semua ini.
Aku berharap, hidupku akan baik dengan menjadi manusia sebagaimana mestinya.

"Selalu amati dan perhatikan anak-anak atau adik atau saudara kalian, agar para manusia bejat itu tidak menjamah ke mereka, aku tidak mau mereka mengalami yang pernah aku alami, hingga membuat masa depanmu penuh dengan kenegatifan"
ok siap
masih baru nih ceritany emoticon-Embarrassment
nitip jejak.
jejak
18+ ,,, ndeprok ah...emoticon-Malu
nitip di pejwan
anjir, cerita homo emoticon-Najisemoticon-DP
Ninggalin jejak dolo...
akhirnya ada tema cerita yg beda dari cerita2 lain yg dipost akhir2 ini. Tulisannya pun bagus.