alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Russia Pantau Situasi di Surabaya Pasca Serangan Bom
2.6 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af82691a2c06ec5578b4576/russia-pantau-situasi-di-surabaya-pasca-serangan-bom

Russia Pantau Situasi di Surabaya Pasca Serangan Bom

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva menyatakan, pihaknya terus memantau situasi dan mengikuti berita mengenai serangan bom yang terjadi di Surabaya. Ini dilakukan untuk memastikan apakah ada warga Rusia yang menjadi korban dalam serangan itu.

"Kami mengikuti berita dan menunggu daftar korban yang dirilis untuk memastikan tidak ada korban orang Rusia," kata Vorobieva melalui pesan singkat kepada Sindonews pada Minggu (13/5).

Sementara itu, ketika disinggung apakah Moskow akan mengeluarkan imbauan bepergian ke Indonesia, khususnya ke Surabaya pasca serangan ini. Vorobieva menegaskan, Rusia tidak memiliki rencana dan tidak akan mengeluarkan imbauan semacam itu.

"Tidak ada travel ban apapun (ke Surabaya khususnya atau Indonesia umumnya) sementara ini. Rusia tidak pernah membuat travel ban sewaktu ada serangan teroris di Jakarta tahun 2016 atau erupsi gunung Agung tahun 2017. Jadi sekarang kami monitor situasi saja," sambungnya.

Seperti diketahui, ledakan yang diduga aksi bunuh diri terjadi di tiga gereja di Surabaya. Lokasinya di Jalan Ngagel Madya, Jalan Arjuna dan Jalan Diponegoro. Teror bom ini telah menewaskan 9 orang dan 40 orang luka-luka. Korban luka saat ini sedang dirawat di rumash sakit. Dua korban merupakan aparat Polrestabes Surabaya.

Jalan Diponegoro sendiri ditutup total oleh polisi untuk mengamankan gereja yang juga menjadi salah satu sasaran bom bunuh diri. Sebuah ambulans dari salah satu rumah sakit swasta disiagakan guna membantu proses evakuasi. Sejumlah perawat dan dokter juga tampak siaga di sekitar lokasi kejadian.



Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Nahhh lo..... russia ikut2an "pantau" .... KGB emoticon-Takut

#terorisJANCUK

Wajar, karena sebentar lg rusia jadi tuan rumah FIFA World Cup 2018 dan disana bisa disusupi sama teroris jg.

Apalagi disaat bersamaan pas bom surabaya, di LN Perancis jg ada aksi teror pake pisau.
Quote:


kalo negara yg mayoritas kristen orthodox mah kemungkinannya kecil gan
korut ikut pantau jg gak ya gan ? emoticon-Takut


Russia Pantau Situasi di Surabaya Pasca Serangan Bom
Diubah oleh Pandjoel.123
Quote:


untungnya juga apa kalau Korea Utara ikut mantau ???? emoticon-Ngakak
Wah jd ngeri seagames di sebrang terojing
Quote:


penjelasannya gimana gan ??? kok orthodox gak diincer ???
Quote:


untuk ujicoba rudal jarak menengah gan emoticon-Takut
Quote:


tetap tenang aja gan.... emoticon-Big Grin waspada

Quote:


ahh bisa aja emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
Diubah oleh matthysse76
Quote:


Susah yah beda ras, kondisi mukanya sama warna kulit ketauan beda emoticon-Big Grin

Tapi bisa juga dia pake org yg mirip ras mereka, muka kebarat2an tapi agamanya dan overdosis-nya sama kadarnya.
Quote:


secara fisik orang Slavia emang beda sama orang Latin apalagi Jermanik emoticon-Big Grin
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Quote:


Udah jd urusan pemerintah sendiri Lah yg gt. PemerintAh nya kaku kerja mau gimana paksa.

BUMN aja ga becus di urus alias praktek kerja aja ga becus tp mau majak rakyat dimana mana.
Itu namanya praktek NOL Tp bnyk teori
Quote:


Mantap ya gan ini orang walaupun dibenci sana sini, tapi sisi positif nya negara nya aman
Hal biasa, buat memastikan warganya aman.
Quote:


entah kenapa orthodox kaga diincer mungkin karena orthodox ga pernah mengusik negara negara mereka.
Quote:


Rusia itu menghadapi teror ga kalah dahsyatnya lho dibanding negara2 Eropa lainnya.

Hasil dari invasi Sovyet ke Afghan tahun 80an dulu, dan invasi Rusia ke Cechnya teror bom n serangan teroris ga henti2nya sampai tahin 2000an kemarin

Diubah oleh urban21
Quote:



soviet bukan orthodox,mereka atheis komunis beda sama orthodox
Quote:


Yg komunis kan kebijakan negaranya wktu masih Sovyet. Rakyatnya ya dari dulu yg atheis ttp atheis, yg orthodox ttp orthodox, yg muslim ttp muslim

Nih serangan teroris hasil invasi Cehcnya :


https://news.okezone.com/read/2017/10/22/18/1800244/historipedia-penyanderaan-teater-rusia-tewaskan-lebih-dari-170-orang
Nih serangkaian aksi teror Rusia yg belum lama


Ini yg baru2 kemarin :

https://m.cnnindonesia.com/internasional/20170404101628-134-204780/teror-di-rusia-isis-atau-separatis-chechnya



https://internasional.kompas.com/read/2017/12/28/17594261/ledakan-saint-petersburg-aksi-teror-ke-5-di-rusia-sepanjang-2017



Sepanjanh 2017 Rusia menerima 5 serangan teroris

Diubah oleh urban21
NSEAS: Pilpres Tahun 2019 Dalam Persaingan AS-CINA
By TYS - May 28, 2017
Russia Pantau Situasi di Surabaya Pasca Serangan Bom

Oleh: Muchtar Effendy Harahap

Pada tahun 2019 mendatang, akan dilaksanakan sekaligus Pilpres dan Pileg. Khusus Pilpres 2019, akan dipengaruhi persaingan AS-Cina. Penyelenggaraan Pilpres 2019 dalam persaingan AS-Cina sebagai adikuasa masing-masing berupaya membantu memenangkan Paslon Presiden dan Wakil Presiden.

Tentu saja maksud dan tujuan Negara Adikuasa mendukung masing Paslon agar pihak pemenang mendukung dan memenuhi kepentingan nasional dan motif kekuasaan Adikuasa bersangkutan di Indonesia. Dinamika politik ekonomi di Asia Tenggara ditentukan persaingan AS-Cina.

Persaingan AS-Cina dipengaruhi “kepentingan nasional” masing-masing negara adikuasa tersebut. Secara geopolitik, persaingan global antar negara adikuasa AS dan Cina (RRC)-Rusia, telah bergeser dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, ke kawasan Asia Pasifik, termasuk Asia Tenggara dan Laut Cina Selatan.

Artinya, Asia Pasifik menjadi “medan perang” baru berbagai kepentingan Negara-Adikuasa seperti AS, Cina dan Rusia. Indonesia sebagai suatu negara bangsa di kawasan Asia Tenggara otomatis akan menjadi “sasaran arena persaingan” negara adikuasa.

Untuk memperkuat kehadiran militer di kawasan, AS akan kembali mempengaruhi penguasa negara Indonesia dengan mendukung kekuatan-kekuatan politik pro AS dan anti Cina (RRC) di Indonesia, yakni:

1. Kelompok pensiunan perwira tinggi militer seperti group SBY (Perwira Militer Pensiunan), group Prabowo (Perwira Militer Pensiunan), group Cendana (keluarga dan pendukung mantan Presiden Indonesia Orde Baru, Soeharto)
2. TNI/Polri
3. Islam politik umumnya turunan dari Partai Masyumi (era Orde Lama)
4. Kelompok politisi Parpol non aliran Islam dan Marhaenisme turunan Partai Golongan Golkar (era Orde Baru)
5. Kaum terpelajar didikan Barat khususnya AS, dll.

Kelompok-kelompok politik ini pada prinsipnya anti Komunisme dan lebih pro AS ketimbang Cina. Khusus bagi kelompok Islam politik, Cina masih dipercaya memiliki ideologi Komunisme dan akan tetap mempengaruhi kebangkitan Komunisme di Indonesia.

Sekalipun ekonomi Cina cenderung kapitalisme, namun negara Cina tetap memiliki hanya satu parpol, yakni Partai Komunis Cina (PKC). Hal ini juga berlaku pada negara komunisme lain seperti Vietnam dan Korea Utara. Ekonomi boleh kapitalisme, tapi politik tetap komunisme.

Di bawah Rezim Jokowi, hubungan kerjasama ekonomi Indonesia-Cina berkembang pesat. Investasi Cina sudah nomor tiga, setelah Singapura Nomor satu dan Jepang nomor dua. Pesatnya hubungan kerjasama ekonomi ini mempercepat kristalisasi dan pengelompokan kekuatan politik menjadi dua kekuatan raksasa.

Pertama, kekuatan raksasa anti komunisme dan lebih pro AS dan para sekutunya. Kedua, kekuatan raksasa berasal pada umumnya dari kekuatan Nasakom (era Orde Lama) dan lebih pro Cina.

Kekuatan raksasa lebih pro AS dan lebih pro Cina ini akan bertarung dalam perebutan kekuasaan negara pada Pilpres 2019 mendatang. Sekalipun Pilpres masih paling cepat dua tahun lagi, tetapi suasana politik sekarang ini (awal 2017) mulai menunjukkan beragam indikasi ke arah kristalisasi dan polarisasi dua kekuatan raksasa.

Salah satu indikasi mulai kencang menentang Rezim Jokowi lebih pro Cina. Bahkan, ada penilaian bahwa konsep Jokowi Tol Laut dan Poros Maritim sesungguhnya bagian komponen strategis atau tindak lanjut program OBOR Cina.

Baca juga : NSEAS Soal Pilpres 2019: Persepsi Umat Islam Politik tentang Jokowi (Bagian 1)
Kembali pada Pilpres 2019, Cina tentu mendukung Jokowi lanjut sebagai Presiden RI melalui Pilpres 2019. Sebaliknya, AS takkan mendukung Jokowi.

AS akan mendukung tiga kemungkinan, yakni SBY, Prabowo, atau Calon dari Group Cendana. Kami memperkirakan, jika SBY tampil lagi sebagai Calon Presiden 2019 ini, AS sangat mungkin mendukung ketimbang Prabowo atau Calon Cendana.

Namun, jika SBY tidak tampil lagi, sangat mungkin AS mendukung Prabowo. Walau Pilpres 2014 AS tak mendukung Prabowo.

Untuk Pilpres 2019, sesuai semakin meningkatnya kerjasama Cina dan Indonesia dibawah Rezim Jokowi, maka AS akan intens mendukung Calon Prabowo. Dari variabel internasional ini, dapat diperkirakan bahwa Prabowo akan lebih unggul ketimbang Jokowi.

Sedangkan untuk Group Cendana, masih belum terbaca siapa Calon Presiden. Jika Tommy Soeharto, tentu AS lebih percaya terhadap Prabowo. AS mendukung Prabowo bisa jadi tidak ada pilihan karena Cina semakin merapat dengan Rezim Jokowi.

Jika perkiraan ini faktual, Pilpres tahun 2019 dalam persaingan AS-Cina sangat mungkin Jokowi tumbang dari jabatan Presiden. Karena itu, Jokowi harus membuat kebijakan tidak mengutamakan Cina ketimbang AS. Harus mengambil kebijakan lebih pro AS, bukan Cina.

*) Penulis merupakan pengamat dari Network for South East Asian Studies (NSEAS)
https://majalahayah.com/nseas-pilpre...rsaingan-cina/

Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di