alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af7763de05227c3798b4567/barisan-nisan-tanpa-nama-di-monumen-mei-1998

Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998

Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998
Rabu, 9 Mei 2018 06:52 WIB

Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Sebuah papan jalan berwarna hijau bertuliskan "MAKAM MASSAL KORBAN TRAGEDI MEI 1998" terpampang di Jalan Raya Taman Pemakaman Umum Pondok Ranggon, Jakarta Timur.
Di bawah tulisan tersebut terdapat juga tulisan Blad 27 Blok AA dan di tembok yang terletak persis di bawahnya tertulis "TAMAN PEMAKAMAN UMUM PONDOK RANGGON".

Terlihat beberapa Petugas Harian Lepas yang menyirami rumput-rumput pemakaman. Ada juga yang tengah membabat tanaman liar di dekat makam-makam dengan nisan yang bertuliskan nama serta tanggal lahir dan wafat jenazah yang dikebumikan di dalamnya.

Akan tetapi tidak tampak seorang pun di area Monumen Mei 1998 yang dibangun atas inisiasi Komunitas Korban, Pendamping Korban, Komnas Perempuan, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di bawah monumen tersebut terlihat sebuah tulisan yang tertera pada sebuah prasasti.


"Tragedi Mei 1998 adalah sejarah kelam Bangsa Indonesia, karena sejumlah kekerasan telah merenggut ribuan nyawa termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan.

Tragedi ini adalah puncak dari gejolak sosial, ekonomi, politik yang mendorong lahirnya Era Reformasi.

Monumen Mei 1998 dengan simbol jarum-benang untuk menjahit luka dan harapan, merupakan memorialisasi sejarah Bangsa dan penghormatan bagi korban, agar kejadian serupa tidak berulang.

Sebuah patung berwarna abu-abu terang berbentuk tangan tertutup kain setinggi sekitar tiga meter terlihat di area tersebut. Di telapak tangan itu ada sebuah patung jarum dan benang merah berukuran besar. Terlihat jarum dan benang merah tersebut menembus tangan dan kain yang menutupinya. Itulah Monumen Mei 1998.

Tragedi Mei 1998 adalah sejarah kelam Bangsa Indonesia, karena sejumlah kekerasan telah merenggut ribuan nyawa termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan.

Tragedi ini adalah puncak dari gejolak sosial, ekonomi, politik yang mendorong lahirnya Era Reformasi.

Monumen Mei 1998 dengan simbol jarum-benang untuk menjahit luka dan harapan, merupakan memorialisasi sejarah Bangsa dan penghormatan bagi korban, agar kejadian serupa tidak berulang."
Sekitar tiga meter di depan monumen yang diresmikan oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada 13 Mei 2018 terlihat sebuah prasasti Tragedi Mei '98. Dalam prasasti tersebut tertulis sebuah doa. "Kita Berdoa Bagi Para Korban Tragedi Mei '98.

Semoga Peristiwa Ini Tidak Terulang Lagu. Pengorbanan Jiwa Mereka Telah Menyalakan Apo Reformasi Menuju Indonesia Yang Lebih Rukun, Bermartabat, dan Cinta Damai."

Di sisi sebelah kanan prasasti itu terlihat 93 makam yang terdiri dari empat kolom makam dan 20 baris makam serta satu baris makam lainnya yang terdiri dari 13 makam.

Seluruh nisan makam tersebut bertuliskan tulisan yang sama yakni "KORBAN TRAGEDI 13-15 MEI 1998".

Tidak ada satu pun nisan di sana yang bertuliskan nama atau tanggal lahir yang tertera di atasnya seperti makam-makam lain di Pondok Ranggon.
Nisan tersebut terbuat dari batu alam. Rumput-rumput di makam tersebut tampak pendek dan terawat. Di sekeliling makam terlihat beberapa batang pohon kamboja yang belum berbunga.
Sementara di sisi kiri monumen terlihat sebuah taman rerumputan yang di beberapa titiknya ditumbuhi tanaman hias.

Di sisi timur area makam tersebut dibatasi oleh pemakan unit Kristen dan sebuah sungai yang pada Selasa (8/5/2018) tengah kering dan tidak ada airnya sama sekali.


Kepala Satuan Pelaksana Taman Pemakaman Umum Pondok Ranggon Jakarta Timur, Marton mengatakan bahwa tidak ada perlakuan yang berbeda terhadap makam para korban Tragedi Mei '98 yang menempati tanah seluas 284 meter persegi dari keseluruhan luas lahan TPU Pondok Rangon yang mencapai 675.032 meter persegi tersebut.
Namun ia mengatakan bahwa setiap satu bulan dua kali Petugas Harian Lepas (PHL) akan ditugaskan untuk membabat rumput-rumput dan tanaman liar yang ada di sekitar area tersebut. Ia mengatakan bahwa pengecatan area monumen dilakukan hanya setahun sekali pada bulan Mei. Itu karena menurutnya setiap tahun di area tersebut selalu ada acara peringatan Tragedi Mei '98.

"Nggak ada perlakuan khusus. Perawatan dilakukan sama seperti makam-makam yang lain," kata Marton.

Marton juga mengungkapkan bahwa seluruh petugas yang pada saat Mei 1998 tengah bertugas mengurus pemakaman jenazah para korban saat ini seluruhnya sudah pensiun dan digantikan dengan petugas-petugas baru, termasuk dirinya sehingga ketika Tribun menemuinya di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur pada Selasa (8/5/2018) tidak ada satu pun petugas yang bisa menceritakan situasi ketika itu.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa tidak ada satu pun dokumen seperti foto atau surat. Menurutnya hal itu dikarenakan kondisi dan situasi politik saat itu yang sedang memanas dan mencekam.

"Kondisi dan situasi (politik) waktu itu kan sedang (memanas) itu ya, jadi tidak ada (dokumentasi tersimpan)," kata Marton di kantor pengola TPU Pondok Ranggon.

http://m.tribunnews.com/amp/nasional/2018/05/09/barisan-nisan-tanpa-nama-di-monumen-mei-1998?page=3

Never Forget..
Diubah oleh: antikebohongan1
Urutan Terlama
Diubah oleh antikebohongan1
Sundul
Testimoni korban Mei98:

Quote:





Diubah oleh antikebohongan1
Saia usulkan mereka jadi pahlawan nasional dan pemerintah harus memberikan penghargaan libur nasional untuk mereka
Quote:

Isak Tangis dan Minta Tolong di Makam Tanpa Nama Tragedi Mei 1998
Oleh Nanda Perdana Putra pada pada 13 Mei 2016

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan nisan tanpa nama berderet rapih di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Ada kisah horor di areal makam seluas 62 hektare ini. Isak tangis dan meminta tolong kerap terdengar kala magrib tiba.

Pekerja Harian Lepas (PHL) TPU Pondok Ranggon, Sakri, menceritakan kisah tersebut. Menurut dia, sebelum areal makam diperluas, tepatnya dekat dengan makam korban Tragedi 1998, ada lokasi proyek. Setiap menjelang magrib, penjaga proyek selalu mendengar isak tangis dan suara minta tolong. Sumber suara pun tidak hanya satu.

"Katanya di situ tuh sering ada yang nangis. Sebelumnya di sini dekat situ tuh ada proyek. Kalau hari Sabtu tukang-tukangnya pada pulang. Nah kebetulan ada 1 orang yang tinggal di situ enggak pulang. Waktu magrib itu langsung pada berisik, ada yang minta tolong," ujar Sakri saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis 12 Mei 2016.





Sakri yang sudah 25 tahun bekerja di TPU Pondok Ranggon, mengaku belum pernah melihat atau mendengar secara langsung kejadian aneh yang sempat heboh itu. Bagi dia, selama kita terus mendekat dengan Sang Pencipta, pastinya akan jauh dari hal seperti itu.

Lain dengan Sakri, bocah kelas 6 SD, Yanto, mengaku pernah melihat hal aneh di makam. Setiap hari, pergi maupun pulang sekolah, Yanto selalu melintasi areal pemakaman TPU Pondok Ranggon dan makam Tragedi Mei 1998.

Pernah suatu saat, anak laki-laki yang bersekolah di SDN 03 Pondok Ranggon itu berjalan bersama teman-temannya melewati makam Tragedi Mei 1998. Tanpa diduga, tampak sosok menyerupai singa muncul di sekitar makam tragedi berdarah itu.

Sontak mereka kaget dan langsung berlari kalang kabut. "Waktu itu mau pulang sama ajak teman-teman ke rumah. Tahunya ada kayak singa gitu. Kata teman-teman siluman singa. Kita kabur langsung," cerita Yanto.

Meski begitu, Yanto mengaku tidak kapok melintasi makam untuk pergi dan pulang sekolah. Suasana hening dan sejuk menjadi alasan dia betah berjalan menelusuri jejeran makam di TPU Pondok Ranggon.

Entah cerita-cerita berbau mistis itu benar ada atau tidak, keluarga para korban Tragedi Mei 1998 yang merasa kerabatnya dimakamkan di sana, masih tetap setia mengunjungi makam

https://www.liputan6.com/news/read/2506185/isak-tangis-dan-minta-tolong-di-makam-tanpa-nama-tragedi-mei-1998
Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998
Barisan Nissan emoticon-Mewek

Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998
Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998
Quote:


setuju bre
yang jadi korban kan banyak juga para penjarah
Pokoknya jangan pilih yang masih ada hubungannya sama ORBA.
zaman mertuanya Prabowo ya?
Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998
Diubah oleh antikebohongan1
kata kakak gw miris liatnya ampe ada cewek etnis yg diperkosa pinggir jalanemoticon-Mewek
Itu bnyk korban Dr penjarah mall yg mallnya dibakar..
Halah itu menunjukkan cina dan pribumi gagal berbaur. Kalay sudah dipandang indonesia semuanya tentu ga ada yg dikejar secara spesifik.
Nah kl skrg masih terkelompok2 ya masih akan sama saja kejadiannya. Makanya kita mesti beri waktu dulu. Pemerintah harus sanggup adil. Kl berpihak2, masyarakat ga akan bercampur. Tunggu aja kejadian lagi.
Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998


Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998

Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998


Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998
Diubah oleh antikebohongan1
Quote:


benar itu, akibat gagal berbaur ya gini jadinya, sebenarnya di malaysia brunei juga sama aja, cuma disana memang melayu bumiputeranya jadi tuan rumah di negeri sendiri dan jadi WN kelas 1, so gak terlalu jelas segregasinya, kalau dimari kan tau sendiri, wajar kalau ke depan bakalan ada kerusuhan lagi gw gak heran emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
19 Tahun Tragedi Mei
Penyelesaian Tragedi Mei 1998, Harapan Tak Bertepi
Sudrajat - detikNews

Jakarta - Bina Graha, 15 Juli 1998 pukul 14.00. Sejumlah tokoh perempuan yang dipimpin Prof Saparinah Sadli berkumpul di sana menemui Presiden BJ Habibie. Kepada sang Presiden, mereka menyampaikan laporan dan temuan tim relawan terkait dengan kekerasan terhadap para perempuan selama kerusuhan, 13-15 Mei 1998. Sikap Habibie, yang semula diliputi keraguan, berubah setelah disodori sejumlah foto para korban.

"Saya ingat sekarang. Seorang keponakan saya, seorang dokter, pernah menceritakan hal serupa. Saya percaya Anda sekalian. Keponakan saya tidak akan berbohong kepada saya," respons Habibie kemudian seperti ditulis Dewi Anggraeni dalam buku 'Tragedi 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan', yang dikutip detikcom, Sabtu (13/5/2017).

Tak cuma setuju mengutuk peristiwa pemerkosaan dan meminta maaf, dia juga berjanji membentuk badan independen, yang kemudian bernama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Staf ahli Presiden Letnan Jenderal Sintong Panjaitan, yang mendampingi Habibie, terkejut. "Pak, apakah hal ini tak perlu dibahas di rapat dulu?" ujarnya mengingatkan.

Tapi Habibie berkeras. "Can I have my own opinion? Saya kebetulan setuju dengan ibu-ibu tokoh masyarakat ini."

Barisan Nisan Tanpa Nama di Monumen Mei 1998

Sembilan belas tahun kemudian, tepatnya Senin (8/5/2017), Habibie kembali menunjukkan atensi khusus terhadap tragedi Mei 1998, khususnya kasus pemerkosaan massal.

Saat hadir dalam pemakaman massal korban Tragedi Mei 1998, dia meminta keluarga dan pendamping korban peristiwa tersebut mengumpulkan berbagai dokumen pendukung yang diperlukan.

"Serahkan dokumennya ke Komnas Perempuan, saya yang (akan) sampaikan langsung ke Presiden Jokowi," kata Habibie, yang mengenakan safari berwarna krem dan syal merah-putih.

Entah dokumen apa lagi yang terkumpul. Hanya, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta pernah menyerahkan sejumlah dokumen terkait dengan kejahatan seksual pada kerusuhan Mei 1998 kepada Jaksa Agung Hendarman Supandji, 24 Mei 2008.

Sepuluh tahun sebelumnya, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), yang dibentuk Habibie, mencatat ada 85 kasus pemerkosaan, 52 di antaranya pemerkosaan massal. Angka ini lebih kecil ketimbang temuan Tim Relawan untuk Kekerasan pada Perempuan, yang menyebut terjadi 152 kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual. Dari jumlah itu, 20 korban akhirnya meninggal dunia.

Tindakan biadab itu terjadi di kawasan Jakarta Barat, antara lain di Angke, Jelambar; Jembatan Dua, Tiga, dan Lima; Jembatan Besi; Cengkareng; Glodok; dan Kota. Juga di Jakarta Utara (Pluit, Pantai Indah Kapuk, dan Sunter). Para korban umumnya kaum perempuan keturunan Tionghoa.

Sekalipun demikian, temuan lapangan itu rupanya masih dinilai belum cukup. Ranah hukum cenderung berbelit karena punya logika dan prosedur tersendiri yang rigid. Boleh jadi, bagi kebanyakan orang awam serasa tak punya empati kepada korban dan keluarganya.

Bila prosedur yang diperlukan tak dipenuhi, segala hasil penyelidikan yang didapat dengan tingkat kesulitan tertentu tetap cuma dianggap sebagai asumsi.

Hendarman, misalnya, saat menerima dokumen dari Meutia Hatta tegas menyatakan pihaknya masih perlu kesaksian dari korban untuk membuktikan ada atau tidaknya kejahatan seksual itu. "Kalau tidak ada, bagaimana. Harus ada korban yang bercerita. Kalau orang mati juga harus ada visum. Alat bukti itu yang harus bicara sehingga yang namanya asumsi itu benar adanya," papar dia.

Argumentasi serupa berlaku untuk kasus kematian empat mahasiswa Trisakti dan aktor-aktor utama yang menggerakkan kerusuhan 13-15 Mei 1998. Pendahulu Hendarman, Abdul Rahman Saleh, tegas menyatakan, untuk bisa mengusut Tragedi Mei, secara hukum mekanismenya panjang dan berbelit. "Harus ada keputusan politik DPR," tulisnya dalam memoar 'Bukan Kampung Maling, Bukan Desa Ustadz'.

Mantan aktivis LBH yang juga pernah menjadi hakim agung itu secara gamblang menyatakan, tanpa keputusan politik DPR, Tragedi Mei 1998 dan kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM lainnya akan tetap tinggal sebagai bagian dari sejarah kelam bangsa ini.

Sialnya, Pansus DPR yang dibentuk pada November 2000 untuk menangani kasus Trisakti serta Semanggi I dan II tak merekomendasi pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Pada 9 Juli 2001, Panda Nababan selaku ketua pansus kala itu menyampaikan rekomendasi bahwa ketiga kasus tersebut ditindaklanjuti melalui pengadilan umum/militer, bukan Pengadilan Ad Hoc.

Ketua Komnas HAM Imdadun Rahmat pun mengakui penyelesaian melalui jalur yudisial membutuhkan dukungan politik pemerintah dan DPR guna membentuk Peradilan Ad Hoc. Begitu juga harus ada komitmen dari DPD dan parpol-parpol.

Mungkin karena menyadari peliknya prosedur formal yang harus dilalui, para pembantu Presiden Joko Widodo sempat melontarkan wacana agar penyelesaian berbagai kasus tersebut melalui jalur nonyudisial dan rekonsiliasi. Sebagai upaya menuju arah itu, pemerintah berencana membentuk Dewan Kerukunan Nasional.

Dewan ini menggantikan peran Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional, yang sudah ditolak pembentukannya oleh Mahkamah Konstitusi. Wacana ini pun mengempis karena tak mendapatkan respons positif dari pihak-pihak terkait. Padahal prosedur untuk menempuh jalur formal yudisial, menurut Menkopolhukam Wiranto, sangat berliku.

"Cari saksi susah, cari bukti susah, kadang-kadang orang diminta jadi saksi juga tidak mau lagi, banyak hambatan itu yang tidak bisa kita sebutkan satu per satu di masyarakat," katanya.

Alhasil, selama tidak ada titik temu di antara para pihak, penyelesaian kasus Tragedi Mei ini sepertinya akan hanya menjadi wacana tak bertepi. (jat/erd)


https://m.detik.com/news/berita/d-3499891/penyelesaian-tragedi-mei-1998-harapan-tak-bertepi


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di