alexa-tracking

Saat-Saat Terakhir

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af76b94c1d7704c158b457b/saat-saat-terakhir
Saat-Saat Terakhir
Saat-Saat Terakhir

Teks : Jemy V. Confido

Batara Krisna akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebuah anak panah beracun nyasar dari seorang pemburu mengenai kaki ksatria yang tengah bertapa tersebut. Alhasil, titisan Dewa Wisnu yang tidak diperbolehkan untuk berperang membela Pandawa dalam perang Barata Yhuda itu pun mengakhiri reinkarnasinya yang ke-8 di muka bumi. Di saat-saat terakhirnya itu, Krisna tidak menyalahkan sang pemburu sama sekali apalagi menaruh dendam kepadanya. Ia justru berterima kasih karena sang pemburu telah menggenapkan takdirnya di dunia.

Saat-saat terakhir bisa datang kapan saja, Ia bisa hadir seperti petir di siang bolong tanpa ada seorangpun yang mengetahui sebelumnya. Dengan demikian pula, saat-saat terakhir tidak bisa direncanakan atau dihindari begitu saja. Dalam sebuah peperangan maha dahsyat dan di tengah desingan peluru yang datang bagai air hujan, seorang prajurit bisa keluar dalam keadaan selamat tanpa terluka sedikitpun. Seolah-olah, pada saat dibuat, setiap peluru telah memiliki alamat kemana harus bersarang. Bila saat dilepaskan alamat peluru itu tidak cocok dengan seseorang yang dibidik, maka peluru itu tidak akan mengenai sasaran tersebut. Paling tidak itulah keyakinan para prajurit pada saat menuju ke medan perang.

Contoh lainnya adalah upaya bunuh diri yang gagal. Ketika saat-saat terakhir belum tiba waktunya, seseorang yang sudah berusaha melakukan percobaan bunuh diri sekali pun tidak akan berhasil mengakhiri hidupnya. Mungkin usaha yang dilakukannya tidak cukup efektif untuk mencabut nyawanya atau mungkin juga seseorang/sesuatu datang pada saat yang tepat untuk menghentikan si pelaku dan menolongnya dengan segera.

Sementara itu saat-saat terakhir bisa datang tiba-tiba pada saat yang tidak diduga. Seseorang yang tengah tidur di dalam kamarnya bisa tiba-tiba dijemput saat-saat terakhir ada sebuah pesawat terjatuh dan tempat menimpa rumahnya. Salah satu contoh yang sangat tidak masuk akal adalah saat-saat terakhir yang tiba-tiba menjemput seorang petugas lintasan (marshall) bernama Graham Beveridge pada Grand Prix Formula satu (F1) yang berlangsung di Sirkuit Melbourne, Australia hari Minggu tanggal 4 Maret 2001. Kejadian itu disebabkan kelalaian mekanik yang terjadi pada mobil yang dikendarai pembalap asal Kanada, Jacques Villeneuve dari tim BAR (Bristish American Racing). Pria berusia 52 tahun asal Queensland tersebut mengembuskan nafas terakhirnya setelah terhantam roda mobil Villeneuve, yang terbang setelah mobilnya bertabrakan dengan mobil yang dikendarai pembalap asal Jerman, Ralf Schumacher, dari tim Williams di Sirkuit Albert Park. Tabrakan yang terjadi pada kecepatan mendekati 200 kilometer per jam tersebut mengakibatkan kawat pengikat roda dengan bodi mobil Villeneuve terputus. Hal tersebut menyebabkan roda mobil mantan juara dunia itu terbang untuk kemudian melalui celah pagar dan tepat menghantam dada Beveridge. Meski sempat dirawat di rumah sakit, namun akhirnya Beveridge tidak dapat diselamatkan.

Kebetulan saya berkesempatan datang ke Melbourne beberapa hari setelah kejadian tersebut dan melihat langsung lokasi terjadinya musibah itu. Anehnya, Marshal tersebut berdiri pada jarak puluhan meter dari kedua mobil yang bertabrakan dan terhalang oleh pagar besi yang cukup tinggi. Memang ada celah sempit di pagar tersebut yang bisa dilalui ban namun pertanyaannya, mengapa rangkaian kebetulan tersebut bisa terjadi begitu tepatnya? Musibah yang menimpa Beveridge merupakan sebuah kelalaian yang sangat jarang terjadi untuk ukuran balapan F1. Sebuah mobil peserta menabrak peserta lainnya memang kerap terjadi namun badan lemas dan terbang puluhan meter bukanlah kejadian yang sering terlihat dalam ajang kebut-kebutan tersebut karena pengecekan kesiapan mobil peserta dilakukan ekstra ketat oleh para petugas yang sudah berada pada tingkat ketelitian dan kedisiplinan yang luar biasa tinggi. Lalu selanjutnya, ban tersebut terbang puluhan meter dan tepat melewati sebuah celah sempit. Sungguh sebuah akurasi lontaran yang tidak bisa dimiliki oleh seorang pemain basket tingkat NBA sekali pun. Dan terakhir, seorang marshal yang tepat berdiri dibelakang celah tersebut pada saat ban tersebut melewatinya. Sungguh sebuah rangkaian kebetulan yang hampir tidak mungkin terjadi secara berurutan bukan? Tetapi ketika sudah sampai kepada saat-saat terakhir, sungguh tidak ada yang bisa merencanakan dan tidak ada pula yang bisa menghindarinya.

Bagi sebagian orang, saat-saat terakhir mungkin sudah memberikan tanda tandanya jauh-jauh hari meskipun kapan hari yang pasti tidak ada yang mengetahuinya. Para penderita penyakit yang hampir tidak bisa ditolong barangkali termasuk ke dalam kelompok yang satu ini. Sebaliknya bagi sebagian orang, saat-saat terakhir muncul pada saat yang tidak terduga sama sekali. Di pagi hari ia terlihat masih segar bugar, namun dua jam kemudian ia telah tiada. Sebuah ban yang terlontar, sebuah truk yang dikendarai oleh supir yang mengantuk, atau sebuah lubang sepanjang lima meter di tengah jalan telah cukup bagi saat-saat terakhir untuk datang menjemput.

Saat-saat terakhir juga tidak bisa dihindari oleh nama besar Alexander Agung yang telah menaklukkan tiga benua dan menjadi penguasa dunia pada masa itu harus menghadapi saat-saat terakhirnya di usia yang masih amat Beli yaitu 33 tahun. Sebagian dari saat-saat terakhir memang sepertinya direncanakan oleh pihak lain. Julius Caesar, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, John F. Kennedy dan yang terkini Benazir Bhutto secara tragis menghadapi saat-saat terakhir mereka karena ulah segelintir orang yang menentang apa yang mereka perjuangkan. Namun demikian, sesungguhnya bukanlah manusia yang menentukan saat-saat terakhir seorang. Jendral A. H. Nasution dan Paus Yohanes Paulus 11 adalah bukti bahwa upaya mendatangkan saat-saat terakhir bisa menemui kegagalan bila tidak mendapat restu dari yang Maha Kuasa.

Begitu tiba-tiba dan begitu cepatnya saat-saat terakhir itu tiba, seringkali menyebabkan banyak orang terkasih yang ditinggalkan tidak dapat menerimanya. Kehilangan yang sangat tiba-tiba ini seringkali begitu menyesakkan sehingga orang yang mengalaminya tidak bisa menyesuaikan diri dalam waktu yang sangat singkat. Memang seringkali orang yang dijemput saat-saat terakhir itu tidak sempat menyampaikan perasaannya kepada orang-orang terkasihnya. Namun demikian, ada baiknya kita yang ditinggalkan mengenang mereka seperti Batara Krisna yang sudah siap menyongsong saat-saat terakhir itu dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada orang ataupun kejadian yang memungkinkan saat-saat terakhir itu tiba karena dengan demikian genaplah perjalanan orang yang kita cintai itu di dunia. Selanjutnya, yang menjadi hak kita yang ditinggalkan jugalah untuk mengetik hikmah dan inspirasi dari orang yang meninggalkan kita sebagaimana menjadi kewajiban berita bola untuk menuntaskan cita-cita luhurnya di muka bumi ini.