alexa-tracking

Puan: Globalisasi Menuntut Negara Berdaya Saing Kuat (tapi bergantung ke China?)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af7207edac13e8b708b4567/puan-globalisasi-menuntut-negara-berdaya-saing-kuat-tapi-bergantung-ke-china
Puan: Globalisasi Menuntut Negara Berdaya Saing Kuat (tapi bergantung ke China?)

Puan: Globalisasi Menuntut Negara Berdaya Saing Kuat
Sabtu 12 May 2018 23:23 WIB


Puan: Globalisasi Menuntut Negara Berdaya Saing Kuat (tapi bergantung ke China?)
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, bersalaman dengan peserta dalam pembukaan Gala Siswa Indonesia di Lapangan Asifa, Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/5).. Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Menteri Koordiantor Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengemukakan era globalisasi menuntut sebuah negara berdaya saing kuat dan memadai. Daya saing ini ditentukan oleh kapabilitas SDM dalam mengelola potensi yang ada.

Menurut Puan, pembangunan SDM yang berkualitas, tidak terlepas dari peran pendidikan tinggi. Saat ini, laporan World Economic Forum (WEF) menyebutkan  daya saing Indonesia periode 2017-2018 naik lima peringkat.

“Dari posisi 41 menjadi posisi 36 dari 137 negara," kata Puan Maharani di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome di Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/5).

Bahkan, lanjutnya, Indonesia dinilai sebagai salah satu inovator teratas di antara negara berkembang. Namun, sarjana di Indonesia hanya berkontribusi 11 persen atau 13 juta orang dari 121 juta penduduk di Tanah Air yang bekerja.

Untuk memperkuat profil angkatan kerja Indonesia, salah satu agenda setrategis pemerintah adalah memperkuat seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia, negeri dan swasta. Jumlah perguruan tinggi nasional lebih dari 4.300 dan lebih dari 90 persen merupakan perguruan tinggi swasta. 

Terhadap perguruan tinggi swasta ini, dia mengatakan, pemerintah telah memberikan perlakuan yang sama. Termasuk dalam pemberian beasiswa bagi dosen dan mahasiswa, bantuan biaya operasional, serta bantuan dana riset. 

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga telah memberikan pendampingan dan pembinaan kepada perguruan tinggi swasta (PTS). Alhasil, 27 PTS binaan telah memiliki akreditasi A pada 2017. 

"Untuk mengembangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan pada umumnya, Muhammadiyah juga memiliki perhatian yang luar biasa besar untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas," ujarnya. 

Pada kesempatan itu dilakukan penyerahan sertifikat lisensi oleh Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Sumarna F Abdurahman kepada Lembaga Sertifikasi Profesi UMM.  Menurut Rektor UMM Fauzan, penyerahan lisensi dari BNSP ini dapat membantu lulusan UMM memperoleh pengakuan nasional dan internasional. 

"Mulai sekarang UMM berhak menyelenggarakan sertifikasi profesi lulusannya dengan skema yang telah ditentukan," kata Fauzan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang juga hadir di UMM Dome untuk wisuda sarjana dan pascasarjana UMM itu mengatakan sarjana UMM adalah bagian dari makhluk yang akan disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan. Dia berharap mereka dapat menunjukkan kepada siapa saja dengan percaya diri bahwa UMM dapat melahirkan generasi muda yang sanggup menegakkan kedaulatan dan kebesaran bangsa Indonesia ini. 

"Kami berharap lulusan UMM untuk terus berkarya dan membawa nama besar UMM dimanapun berada,” kata dia. 

Usai menghadiri wisuda di UMM, Puan Maharani bersama Muhadjir Effendi menghadiri Lomba Mewarnai dan Menggambar Se-Jawa Timur di Taman Sengkaling UMM. Lomba yang mengangkat tema "Indonesia Pintar Budaya dalam Warna" ini hasil kerja sama UMM, Kemendikbud dan Kemenko PMK RI. Total peserta yang hadir mencapai 1.512 orang yang terdiri dari siswa TK dan SD.

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/05/12/p8miug428-puan-globalisasi-menuntut-negara-berdaya-saing-kuat

Terlalu Bergantung, Jokowi Buat Indonesia Ibarat Negara Bagian Cina
  KAMIS, 09 JULI 2015 , 16:14:00 WIB



Puan: Globalisasi Menuntut Negara Berdaya Saing Kuat (tapi bergantung ke China?)


RMOL. Pernyataan Wapres Jusuf Kalla bahwa pihaknya lebih takut jika krisis ekonomi terjadi Cina dari pada yang terjadi pada krisis di Yunani sangat wajar. Sebab, di era pemerintahan Jokowi-JK, ekonomi Indonesia sangat bergantung kepada Cina.

"Jika sebuah negara hanya bisa bergantung kepada negara lain seperti saat ini, apapun yang dilakukan oleh pemerintah sangat mustahil bisa lepas dari rongrongan aseng dan asing," jelas pengamat politik  Jajat Nurjaman dalam pernyataannya (Kamis, 9/7).

"Lantas yang menjadi pertanyaan sejauh mana Indonesia berdaulat sebagai negara merdeka jika terus menerus diatur aseng dan asing? Saya kira JK sudah membuktikan hal ini dengan pernyataan beliau. Saat ini memang kita bisa diibaratkan sebagai negara bagian Cina," sindir Jajat.

Jajat menilai, melihat apa yang dilakukan pemerintah saat ini sudah sangat jauh menyimpang dari cita-cita para pendiri bangsa. Padahal sebagai pemimpin yang lahir dari rahim PDIP yang mana ideologi bung Karno menjadi landasannya, seharusnya Jokowi bisa membawa Indonesia tidak hanya bergantung kepada aseng dan asing.

Apalagi, dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi Bung Karno dengan jelas telah disebutkan, tidak mungkin unsur-unsur luar negeri membuat tanah air kita makmur dan sejahtera, gemah ripah kerta rahadja, jikalau bangsa Indonesia sendiri hanya jadi penonton dan penikmat dari hasil yang digali oleh modal orang lain. 

"Sepertinya, Jokowi-JK tidak pernah membaca buku dan belajar tentang Soekarno," demikian pengamat yang juga Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) ini.

Kemarin, JK menegaskan Pemerintah tak terlalu mengkhawatirkan krisis yang terjadi di Yunani. Karena gagal bayarnya Yunani membayar utang (default) kepada International Monetary Fund (IMF) tak terlalu berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

"Greek crisis is nothing compared to Tiongkok. Pasti (krisis Yunani tidak ada pengaruh ke Indonesia). Lebih ke krisis Tiongkok," ujar JK, sembari memperlihatkan artikel CNNMoney, kepada wartawan, di kantornya.[

http://www.rmol.co/read/2015/07/09/2...a-Bagian-Cina-


Puan: Globalisasi Menuntut Negara Berdaya Saing Kuat (tapi bergantung ke China?)

Ekonomi China begitu besar sehingga 100 negara, termasuk Indonesia, harus menerima kenyataan bahwa China telah menjadi mitra ekonomi terpenting mereka. Dalam opininya, penulis mendorong para kritikus yang kerap mengkritik hubungan Indonesia yang kian berkembang dengan China, agar lebih realistis dan pragmatis dalam menilai hubungan tersebut.



Kunjungan Perdana Menteri China Li Keqiang dan sikap bermusuhan banyak orang Indonesia, terutama politisi, terhadap hubungan ekonomi antara Indonesia dan China, muncul di benak saya setelah mendengarkan pandangan tiga orang sarjana yang diakui secara internasional dan diplomat ASEAN veteran yang luar biasa.



Kita harus memahami bahwa ekonomi China begitu besar sehingga 100 negara, termasuk Indonesia, harus menerima kenyataan bahwa China telah menjadi mitra ekonomi terpenting mereka.



Sederhananya: Tidak peduli seberapa strategis posisi Indonesia di dunia—kita selalu bangga dengan posisi geografis strategis kita—bagi China, kita hanyalah mitra dagang penting sama seperti yang lainnya.



Dalam waktu kurang dari dua dekade China akan mengambil alih posisi AS sebagai ekonomi terbesar di dunia.



Hubungan antara China dan AS akan terus memburuk, meskipun perang dagang tidak mungkin benar-benar terjadi, dampaknya terhadap dunia akan sangat merusak.



Secara militer, hal itu juga akan sangat sulit bagi AS untuk mempertahankan hegemoninya.



Presiden AS yang tidak dapat diprediksi, Donald Trump akan menjadi faktor yang mengganggu, karena kepemimpinannya yang eksentrik tampak tidak jauh berbeda dari mantan pemimpin Libya, almarhum Muammar Gadaffi atau mantan pemimpin Kuba, Fidel Castro.



Prof Kishore Mahbubani dan Prof Tommy Koh memperingatkan bahwa ASEAN, pemimpin de facto Indonesia, akan melewati periode yang sangat berbahaya dalam 10 tahun mendatang.



Mahbubani berbicara tentang kebangkitan kekuatan China sementara AS melemah, dan adanya sentimen umum bahwa China adalah ancaman serius bagi AS.



Koh menunjukkan bahwa situasi di Laut China Selatan akan memburuk dan China akan bertindak lebih tegas.

Mantan menteri luar negeri Marty Natalegawa mendesak Indonesia untuk meningkatkan kepemimpinannya di ASEAN dalam menavigasi situasi yang sulit tersebut.



Tidak mungkin ada perubahan keseimbangan kekuasaan, hanya dinamika kekuasaan, katanya.

Indonesia perlu meningkatkan kelincahan diplomatiknya.



Tidak ada gunanya mencoba untuk menahan China, lebih baik memperkenalkan dinamika yang berbeda, menciptakan keseimbangan.



Pertanyaannya adalah bagaimana Indonesia dapat mengambil peran utama selama navigasi ASEAN ketika secara internal banyak orang masih berpikir bahwa Indonesia begitu penting bagi China sehingga China tidak akan berani untuk mengkonfrontasi kita?



Kesombongan dan kebencian palsu yang tidak beralasan bahwa kita adalah bangsa yang besar sering dan akan terus menyulitkan kita ketika kita belum siap menerima posisi kita.



Kita, orang Indonesia, harus menyadari bahwa China jauh lebih penting bagi kita daripada kita bagi mereka, meskipun kita sering mempercayai yang sebaliknya.



China akan segera menjadi penyedia Bantuan Pembangunan Resmi (ODA) terbesar di dunia dan hampir tidak ada peluang untuk mengurangi aliran ekspor dan investasi China.



China tampak mengancam karena pengeluaran militernya terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan PDBnya yang cepat.



Para penentang mengecam keras Presiden Joko “Jokowi” Widodo karena mengeluarkan Peraturan Presiden No. 20/2018 tentang pekerja asing.



Para kritikus berpendapat kebijakan baru itu akan memicu masuknya pekerja asing ke Indonesia. Puluhan ribu buruh China yang tidak terampil sekarang bekerja, kata mereka, dalam proyek-proyek yang didanai China, banyak di antaranya merupakan kontrak kunci.



Para kritikus ada benarnya, tetapi mereka tidak melihat gambaran yang lebih luas.



Momok komunisme terus menghantui Indonesia dengan banyak orang dengan merek komunis, termasuk Jokowi sendiri.



Setuju atau tidak, hal ini sering mengacu pada Partai Komunis China (CPP), meskipun China kini telah menjadi promotor prinsip pasar bebas terbesar di dunia.



Janganlah kita lupa bahwa semua partai politik besar, termasuk Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), memiliki hubungan baik dengan CPP.



Untuk beberapa alasan, kengerian kerusuhan 1998 Mei tiba-tiba muncul dalam pikiran.



Ribuan masyarakat dibakar sampai mati di Jakarta hanya beberapa hari sebelum jatuhnya presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.



Ratusan orang Indonesia keturunan China diserang dan diperkosa pada waktu itu. Bahkan sekarang kita berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi 20 tahun yang lalu.



Para pejabat China dalam percakapan pribadi mereka sering mengekspresikan ketakutan mereka bahwa sentimen anti-China akan meletus dari waktu ke waktu di Indonesia. Mereka akan dijadikan kambing hitam untuk semua yang terjadi.



Kekhawatiran serupa juga sering diungkapkan oleh orang-orang China pada umumnya. Jutaan dari mereka mengunjungi Indonesia sebagai turis, dan kita tidak boleh lupa banyak dari mereka masih ingat tragedi 1998.



Perdana Menteri Li, yang bersama dengan Presiden Xi Jinping memenangkan mandat lima tahun lainnya pada Maret tahun lalu, sedang dalam kunjungan kenegaraan tiga hari ke Indonesia hingga Selasa (8/5).

Kemudian, Li akan berangkat ke Jepang untuk pertemuan puncak trilateral yang dinanti-nantikan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in.



Tujuan resmi kunjungan perdana menteri tersebut adalah untuk memperingati Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-China.



Hubungan diplomatik kedua negara ini dipulihkan pada 8 Agustus 1990, ketika perdana menteri Li Peng bertemu dengan Soeharto di Jakarta.



Pemerintah Indonesia tiba-tiba memutuskan hubungan dengan pemerintah China, setelah Indonesia menuduh China mendalangi (dugaan) 30 September 1965, upaya kudeta, yang dibantah pemerintah China.



Dalam pertemuannya dengan Jokowi, Li dilaporkan akan menyampaikan keprihatinannya atas lambatnya pembangunan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer.



China dan Indonesia menandatangani kontrak untuk proyek ini pada 16 Oktober 2016, setelah Jepang kalah dari China untuk menjalankan proyek ini.



Awalnya biayanya adalah $5,1 miliar (Rp7,1 triliun), tetapi sejak itu meningkat menjadi $5,9 miliar sebagai akibat dari berbagai masalah teknis, termasuk masalah kepemilikan lahan.



Tampaknya tidak mungkin untuk memenuhi batas waktu Oktober 2020 untuk menyelesaikan proyek ini.

Sekali lagi, kita harus menyadari bahwa kita lebih membutuhkan China lebih daripada sebaliknya. Jadi bertingkah lakulah dan persiapkan diri Anda sesuai dengan posisi Anda.


Hubungan kita dengan China didasarkan pada persamaan dan saling menguntungkan, tapi tolong terima kenyataannya, setidaknya untuk sebentar saja.
https://www.matamatapolitik.com/indo...tuh-indonesia/

--------------------------

Bangsa  yang mandiri ... nawacita ... mana itu prakteknya? Katanya revolusi mental, tapi mentalnya kok seakan-akan bermental pengemis yang terlalu bergantung pada duit dan kemampuan negara lain?

emoticon-Sorry
Woi yg diatas inga perintah kowi. Polisi yg hrs evaluasi.

princes telah bersabda emoticon-Traveller
puan mulai sering nih beritanya emoticon-Leh Uga
ada kata tapinyaemoticon-Leh Uga
FIX negara ini bernama INDONCHINA
emoticon-Shakehand2
Princes kerjanya apa aja ni? emoticon-Ngakak

eh btw ud rangkap jabatan ya?
kq atasannya diem aja ni, kampanye janji anti rangkap jabatan?
klo ud bener rngkap jabatan kq diem aja?

1. 1 dollar= 14000
2. Rakyat susah cari kerja
3. Banyak pengangguran
4. Banyak phk
5. Bbm harganye membumbung tinggi
6. Ekonomi RI semaking nyungsep
7. Pemerintah melalui media nastak bilang 'rakyat yg salah'
8. Pekerja asing meroket jumlahnye
Solusinye "jualan kalajengking'

Mantap!!!
emoticon-Cool
Puan: Globalisasi Menuntut Negara Berdaya Saing Kuat (tapi bergantung ke China?)
Lah kan emang tujuannya nastak kek gitu

Puan: Globalisasi Menuntut Negara Berdaya Saing Kuat (tapi bergantung ke China?)
Quote:


Tante vero makin semok aja semenjak pisah dari ahok.emoticon-Ngakak
Quote:


Coba tanya nastak, katanya mau mengawal hohowiemoticon-Leh Uga


Quote:

Jgn ah ndak ane ditusbol emoticon-Ngakak