alexa-tracking

Sepenggal Kisah Kelam Kerusuhan Mei 1998; Kekerasan, Pemerkosaan, dan Penjarahan Mass

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af69a291a997525708b4567/sepenggal-kisah-kelam-kerusuhan-mei-1998-kekerasan-pemerkosaan-dan-penjarahan-mass
Sepenggal Kisah Kelam Kerusuhan Mei 1998; Kekerasan, Pemerkosaan, dan Penjarahan Mass
Sepenggal Kisah Kelam Kerusuhan Mei 1998; Kekerasan, Pemerkosaan, dan Penjarahan Mass
DUA puluh tahun lalu, pertengahan Mei 1998, Indonesia mengalami sebuah gradasi besar politik. Rangkaian peristiwa itu dikenal dengan Kerusuhan Mei '98. Potongan-potongan kisah terkait kekerasan massal terjadi di sejumlah kota, seperti Jakarta, Depok, dan Bogor. Pengalaman hidup yang tentunya membekas di hati para pelaku juga korban.

Bagi pemerhati sejarah dan budaya David Kwa, 1998 disebut sebagai Tahun Macan Melintas Gunung. Rentetan peristiwa menyeramkan dan mencekam tersebut harus dirasakan masyarakat Indonesia, terlebih bagi komunitas peranakan Tionghoa. "Sangat memilukan kalau kembali dikenang," kata David Kwa kepada merahputih.com, Sabtu (12/5).

Pada masa itu, kata David, situasi politik Indonesia kian memanas akibat dilanda krisis moneter sejak Juli 1997. Unjuk rasa besar-besaran yang dimotori mahasiswa terjadi secara masif di sejumlah kota.

Puncaknya ketika terjadi kasus penembakan empat orang mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta pada Selasa, 12 Mei 1998. "Mahasiswa dan masyarakat mengamuk terhadap rezim Soeharto," katanya.

Akibat tragedi berdarah tersebut, Kamis, 14 Mei 1998, terjadi kerusuhan dan penjarahan massal yang tertuju pada etnis Tionghoa.

Tak hanya menjarah, beberapa toko dan fasilitas umum di sejumlah kota di Indonesia juga turut dibakar oleh massa. "Juga pemerkosaan terhadap perempuan Tionghoa," kata David.

Berangus nonpribumi
Salah seorang pelaku yang turut menjarah pada saat Kerusuhan Mei '98 mengatakan, ketika peristiwa itu terjadi sentimentil terhadap peranakan Tionghoa begitu besar.

"Yang berbau Cina, diserang. Toko dijarah dan dibakar," kata pelaku yang enggan disebutkan namanya kepada merahputih.com di Depok. Kerusuhan tersebut tak ayal memperkaya gambaran betapa kejamnya massa yang tidak bertanggung jawab pada saat itu.

Pada awalnya, ia mengaku tidak ada niat untuk melakukan hal yang memilukan tersebut. Ketika ia sedang duduk di halaman rumah, ratusan orang lewat sambil mengajak warga setempat melakukan demo. Wajah mereka, kata pelaku, begitu merah. Sorotan mata para massa tampak tajam, namun juga penuh dengan kobaran amarah.

Kamis siang, 14 Mei 1998, di setiap jalan perumahan di Depok menjadi lautan manusia. Dari segala penjuru kampung tumpah ruah menuju kawasan pertokoan yang berada di Jalan Nusantara dan Jalan Margonda.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak di bawah umur juga tampak dalam barisan tersebut. "Sambil teriak bantai orang Cina! Bakar," ucap pelaku.

'Razia' terhadap toko etnis Tionghoa pun dilakukan. Tanpa rasa malu, massa merusak tralis toko yang tidak tertulis "Milik Pribumi." Menjarah apa pun yang ada di dalam toko tersebut, mulai dari bahan makanan sampai peralatan elektronik. "Kalau ada sajadah dan tulisan 'milik pribumi' dilewati oleh massa," katanya.

Sekira asar, kata pelaku, Jalan Nusantara sudah dipenuhi massa dari berbagai daerah. Ban bekas yang dibakar massa tergeletak tak terhitung di setiap sisi jalan.

Asap hitam mengepul diiringi sorak sorai massa yang seolah memenangi sebuah peperangan besar.

Ratusan anak-anak kecil juga tampak kegirangan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang di tangan kanan dan kirinya membawa bahan makanan seperti susu dan roti. "Malah saya lihat ada anak kecil yang bawa sepeda," tukasnya.

Setelah semua toko ludes dijarah dan dibakar, massa berangsur membubarkan diri. Duka yang ditinggalkan begitu saja bagi mereka, para peranakan Tionghoa yang menjadi amukan massa.

Namun, memasuki malam hari, sekira jam 7 malam, ratusan massa yang entah dari mana datangnya kembali melewati rumah si pelaku. "Lagi, mereka teriak ganyang Cina! Habisi semuanya," kata pelaku.

Ia merasa heran dan penasaran. Pasalnya, semua toko yang berada di Jalan Nusantara dan Margonda telah habis dijarah. "Akhirnya saya kembali ikut," katanya.

Massa itu kembali menyatroni toko-toko dan bahkan rumah yang dihuni oleh keluarga Tionghoa. Nahasnya, selain merampok, massa yang gelap mata itu mencari perempuan-perempuan Tionghoa. "Mereka memperkosa perempuan Cina. Saya langsung balik, gak tega, tapi gak bisa berbuat apa-apa," katanya dengan nada getir.

"Peristiwa memalukan itu terjadi hingga dua malam berturut-turut. Massa pun sama. Polisi tidak berdaya saat itu," katanya.

https://merahputih.com/post/read/sepenggal-kisah-kelam-kerusuhan-mei-1998-kekerasan-pemerkosaan-dan-penjarahan-massal

Ngeri gan😲
image-url-apps
Nastaik Kicep inget beginian gan emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
image-url-apps
hoax !
KASKUS Ads
image-url-apps
ada inspirasinya kok

harta rampasan

wanita korban perang

hendaklah mereka mendpt kekerasan

salahnya di mana coba ?

koreksi kalo salah yak emoticon-Salaman
image-url-apps
Juga pemerkosaan terhadap perempuan Tionghoa," kata David.
emoticon-Genit:

Ini dosa yg buat femalecokinese gak mau sama kalian..
image-url-apps
sekalipun mereka menjarah, tetap saja hari ini tingkatan status itu tidak berubah..... siapa yg jadi majikan......siapa yg jadi karyawannya...

Kelakuan anjing kok mau kaya..... memangnya Tuhan tidur? Wkakakaka
image-url-apps
cuman orang gila yg bangga negaranya punya sejarah kaya gini dan masih dipakai untuk mengobati inferiority complex nya emoticon-Ngacir
Cerita karangan nih, play victim
image-url-apps
dan kaum zombi (nasbung) suka yg beginian, merampok, menjarah n memperkosa...
krn mrk cumn pengangguran, pemalas n pengen hidup enak...
image-url-apps
Jangan sia-siakan yang sudah terjadi emoticon-Hansip
image-url-apps
Quote:


Inget ada karma
image-url-apps
Sepenggal Kisah Kelam Kerusuhan Mei 1998; Kekerasan, Pemerkosaan, dan Penjarahan Mass
image-url-apps
Quote:
image-url-apps
fuckin politics
tak bermoral pelakunya itu .

image-url-apps
itu yg perkosa dan bunuh cina orang selundupan dari ambon
yg asli jakarta cuman ikut2 jarah toko saja karena aji mumpung
image-url-apps
Jangan sampai deh massa marah. Ga akan ada polisi atau tni saat itu. Massanya buanyak sekali. Sapa yg mau diselamatin. Jadi marilah kita jaga sama2. Saling toleransi dan hormat menghormati spt yg diwanti2 jaman soeharto dulu. Jangan dirusak norma2 spt karena uang atau kekuasaan. Kit hidup biasa2 ajalah. Kasihan yg menjadi korban.
image-url-apps
Never Forget...Kejahatan Kemanusiaan yg diorkestra

bagi yg tertarik dgn penelitian ilmiah yg cukup kredibel, silakan download link ini

https://www.rchss.sinica.edu.tw/capa...27/2702_02.pdf
image-url-apps
Gimana kasus ini mau terungkap... Dalangnya aja masih jadi pejabat aktif...

Gimana ceritanya coba bisa dateng masa bertruk2... Buat ngerusuh... Dan gak ada satupun keparat dijalanan...
image-url-apps
LordFaries

Quote:Pada 17 Maret 1973, misalnya, Bung Tomo menulis surat terbuka kepada pemimpin Republik Rakyat Cina Mao Tse Tung dan pemimpin Taiwan Chiang Kai-shek. Intinya, dia meminta perhatian kedua pemimpin itu untuk membantu menarik sekitar 2 juta warga Tionghoa dari Indonesia kembali ke negara masing-masing.

"Apakah Tuan-tuan tidak malu bangsa Tuan-tuan diberi nama julukan parasit-parasit demikian itu? Saya rasa Tuan-tuan pun malu. Oleh karena itu, demi nama baik kita semua, saya usulkan agar Tuan-tuan suka memikirkan kemungkinan untuk mengadakan repatriasi bagi orang-orang Cina asing di Indonesia."

Sebagai pejuang revolusi kemerdekaan, Bung Tomo menilai ada banyak orang Tionghoa di Indonesia yang sikap dan perilakunya jauh dari nilai-nilai nasionalisme. Hidup dan mencari makan di Indonesia, tapi sama sekali tidak memberikan kontribusi bagi perjuangan bangsa. Sikap dan perilaku seperti itu diperlihatkan sejak masa sebelum Indonesia merdeka. Bahkan, menurut Bung Tomo, banyak orang Tionghoa pada masa kolonial yang menjadi kepanjangan tangan Belanda untuk menindas rakyat Indonesia.

Memang, tulis Bung Tomo, kalau di suatu daerah sedang ada penguasa Indonesia, mereka menunjukkan loyalitasnya kepada Republik. Tapi, begitu kekuasaan Belanda menduduki daerah RI, segera Cina-cina (warga Tionghoa) itu membantu tuannya yang lama. "Hanya seorang atau dua saja dari seribu orang Cina di Indonesia yang benar-benar membantu perjuangan kita dengan konsekuen selama kita melawan kolonialisme. Itulah kenyataan. Dan itu mereka teruskan sampai sekarang."

Bila Mao dan Chiang dapat melaksanakan pemulangan 2 juta warga itu ke RRC atau Taiwan, tulis Bung Tomo, kedua tokoh itu niscaya bakal tercatat dalam sejarah sebagai tokoh-tokoh Asia yang berhasil melenyapkan kolonialisme di Indonesia. "Berilah orang-orang Cina itu makan di negeri Cina sendiri."


kutipan2 sejarah nya bagus gan.. emoticon-Cendol Gan
×