alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998
4.83 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af645f6d44f9fed578b4579/gen-millennial-yuk-kenali-sosok-4-pahlawan-reformasi-mei-1998

Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998

Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998

Jakarta, IDN Times -  Sampai akhir hayatnya, Hira Tetty Yoga tak juga mendapat keadilan atas kematian putranya, Elang Mulia Lesmana.  

Bunda Tetty, demikian perempuan itu biasa dipanggil, berpulang kepadaNya, kalah bertempur melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya belakangan ini.  Hampir 20 tahun dia menunggu, berjuang mencari keadilan atas tewasnya putra tercinta dalam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998. 
 
"Sepeninggalnya Bunda Tetty, kami seluruh aktivis alumni Universitas Trisakti masih dan akan terus menagih utang penyelesaian atau penuntasan kasus ini kepada Pemerintah sampai benar-benar tuntas," kata Saidu Solihin, Ketua Ikatan Alumni Universitas Trisakti, seperti dikutip dari Antara, Senin (26/2/2018).

Maut menjemput empat mahasiswa Trisakti, Selasa malam, 12 Mei 1998.  Elang saat itu mahasiswa Arsitektur Universitas Trisakti.  Ketiga rekannya yang juga ditemukan tak bernyawa setelah serbuan tembakan ke arah kampus, Selasa malam, 20 tahun lalu itu adalah, Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi), Hafidhin Royan (Teknik Sipil), dan Hery Hartanto (Teknologi Industri).

Presiden keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Agustus 2005 memberikan Bintang Jasa Pratama kepada Elang bersama mahasiswa Trisakti lain yang meninggal dalam tragedi tersebut.  Mereka dianggap Pahlawan Reformasi.
Tapi itu tidak cukup.  Keadilan tak bisa ditukar status bintang jasa.

Setelah 20 tahun, generasi millennial dan gen Z perlu mengenal sosok mereka, empat mahasiswa yang saat seusia kalian, meregang nyawa diterjang peluru, memperjuangkan kebebasan, dan demokrasi yang sekarang kita nikmati.

Berikut profil empat mahasiswa itu sebagaimana dimuat Majalah Mingguan Gatra edisi 23 Mei 1998. IDN Times sudah mendapatkan izin untuk memuat secara lengkap profil para Pahlawan Reformasi ini.

Baca juga: Kronologi Reformasi Mei 1998, Terjungkalnya Kekuasaan Soeharto


1.    Elang Mulia Lesmana,  Mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur, Angkatan 1996
Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998
Trisakti Picture



Penampilannya gagah, berwajah tampan, berkulit putih bersih, dan berambut hitam berombak. Pemuda murah senyum ini selalu menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya. Itulah Elang Mulia, kelahiran Jakarta, 5 Juli 1978, buah hati dari pasangan Boy Bagus Yoganadita Rahman dan Hira Tetty Yoga.

“Sebagai pengunjuk rasa, Elang bukanlah aktor ataupun konseptornya. Keponakan penyanyi “Sendu” Nia Daniaty itu, sesuai dengan pembawaannya, lebih suka bercanda. Dalam suasana yang serius dan emosi pun, Elang masih bisa bercanda.

Lihat misalnya ketika rekan-rekannya menggelar spanduk dan poster yang “keras-keras”, Elang berani tampil beda dan kocak. Dengan santai ia mangacung-acungkan poster bertuliskan: “Turunkan Harga Fotokopi dan Minyak Wangi!” Inilah, barangkali, satu-satuya poster “lain” yang digelar oleh seseorang pengunjuk rasa dalam atmosfer demonstrasi keras dan memanas itu.

“Saya ikhlas, Elang mati sebagai pejuang,” tutur Hira Tetty ketika mengantar kepergian anaknya ke liang lahat, dengan suara berat tertelan, 13 Mei 1998.

Anak kedua dari enam bersaudara yang tinggal di kawasan Graha Permai, Ciputat, itu sejak kecil sudah punya hobi melukis. Ketika menginjak remaja, penggemar seafood ini gandrung dengan olahraga basket.

Kegemarannya melukis itulah yang mengantarkannya studi ke jurusan arsitektur. “Itu sudah cita-citanya sejak kecil,” kata salah seorang pamannya, Untung. Sebagai mahasiswa, Elang sangat rajin belajar, jujur, dan cerdas. Buku tentang arsitektur, baik yang berbahasa Inggris dan Indonesia, mendominasi rak bukunya. 

“Ia tak pernah menyusahkan orang tua,” kenang sang ibu. Bahkan, selama tiga hari sebelum lehernya tertembus peluru petugas keamanan, di malam hari, Elang tidur minta ditemani ibunya. Dengan tulus sang ibu menuruti permintaan anaknya yang berusia 19 tahun itu.

Kepergian Elang yang begitu cepat itu menyebabkan bukan hanya keluarganya saja yang merasa kehilangan, juga teman-teman kuliahnya. “Kami kehilangan seorang teman yang ramah dan suka menolong,” tutur seorang teman almarhum.

“Elang telah tiada, perjuangan harus dilanjutkan,” kata Boy, sang ayah, yang dengan tegar memberi semangat pada rekan-rekan almarhum, mahasiswa Indonesia, yang kini gencar menuntut reformasi itu. 

Baca juga: Jadi Target Operasi Kopassus, Aktivis 1998 Ini Dilindungi Marinir


2.    Hafidin Royan,  mahasiswa Fakultas Teknik Sipil, angkatan 1996
Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998
Trisakti Picture



Penampilan pemuda yang lahir di Bandung, 28 September 1976, ini kalem. Anak keempat dari lima bersaudara pasangan Ir. Enus Yunus, pegawai Binamarga Pusat, dan Ir. Sunarmi, pegawai Puslitbang Pengairan, Jawa Barat, ini menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di Bandung. 

Setelah menamatkan SMU di Bandung tahun 1966, Royan melanjutkan pendidikannya ke Trisakti. Di Jakarta, Royan ikut ayahnya dan tinggal di perumahan Cipayung, Jakarta Timur. Bila tak ada kesibukan di kampus, hampir setiap akhir pekan Royan pulang ke Bandung.

Royan adalah satu-satunya anak lelaki yang dipunyai pasangan Enus Yunus dan Sunarmi. Meski berpenampilan kalem, Royan suka bercanda, terutama pada kakak dan adiknya. Menurut penuturan seorang kakaknya, Husnun, Royan tak jarang menggoda saudara-saudaranya itu. Kalau candaannya itu membuat kesal sang kakak atau adik, Royan selalu mengatakan, “Ah, begitu saja kok marah!”

Di mata orangtuanya, Royan adalah anak baik, tak pernah macam-macam. “Dia itu anak saleh dan giat belajar,” kata Sunarmi, sang ibu. Pengakuan sang ibu tak berlebihan. Di kampusnya, almarhum dikenal sebagai seorang ustaz. “Soalnya, ia sangat rajin mengajak teman-temannya salat tepat waktu,” begitu kata salah seorang temannya. 

Sebagai aktivis, Royan tak pernah berada di garis depan, dan tak pula menyemburkan umpatan. Ia berhati-hati, dan sopan. “Dia hanya ikut-ikutan saja, sebagai solidaritas,” kata seorang temannya yang enggan disebut jati dirinya. Ia hanya berdiri, dan sesekali ikut memberi semangat berupa tepukan. 

Di hari Selasa sore 12 Mei 1998 ketika salah seorang temannya, Agung, mau mengambil posisi di depan dalam berunjuk rasa, almarhum sempat mengingatkannya. “Jangan jauh-jauh, nanti kena,” tutur Agung menirukan saran almarhum.

Saat itulah keduanya pisah, karena Agung tetap berada di barisan terdepan. Maka, ketika kepala Royan tertembus peluru, Agung pun tak tahu. Di akhir minggu, Royan sempat ditanya ibundanya, kapan akan pulang ke Bandung? “Mungkin hari Rabu,” jawabnya. 

Ternyata benar. Di hari Rabu itu Royan datang ke Bandung, untuk dimakamkan di TPU Pasir Layung, yang berjarak 200 meter dari rumah duka di Gang Sirnagalih, Padasuka, Bandung. 


3. Hendriawan Lesmana, Fakultas Ekonomi, angkatan 1996
Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998
Trisakti Picture



Rabu dini hari, 13 Mei 1998, telepon di rumah Hendriksie di Balikpapan berdering nyaring. Si penelepon, Subaning, tak lain adalah adik iparnya, mengabarkan bahwa Hendriawan Lesmana telah gugur sebagai pahlawan reformasi. “Dada ini langsung terasa sesak,” kata Hendriksie, ayah Hendriawan. Berita duka itu pun diteruskan pada istrinya, Karsiah, yang langsung pingsan. Kedua orangtua almarhum baru bisa terbang ke Jakarta, Rabu pagi. 



“Syukur alhamdulillah, kami masih bisa melihat dan mengantarkan jenazahnya,” tutur sang ayah dengan mata berkaca-kaca. “Aksi di dalam kampus kok ditembak, kan sah-sah saja,” kata sang ayah dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kesedihan. 

Hendriawan lahir di Balikpapan, 3 Mei 1978. Anak tunggal pasangan Hendriksie dan Karsiah ini menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di kota minyak Balikpapan. Pemuda bertampang macho dengan rambut sebahu yang disisir rapi itu juga dikenal sebagai pemusik, dengan petikan gitarnya yang cukup memukau. Tak hanya itu, berjalan di atas catwalk, sebagai peragawan, juga pernah dilakoninya.
 
Pada 1996, usai tamat SMU di kota kelahirannya, Hendriawan masuk Fakultas Ekonomi di Universitas Trisakti. Di Jakarta, Hendriawan ikut pamannya, Subaning –pegawai pemerintah DKI- di Kawasan Kedoya, Jakarta Barat. Di kalangan anak-anak di kawasan Kedoya itu, Hendriawan dikenal sebagai pencerita yang suka memberi permen. “Sejak kecil ia memang sudah pandai bercerita,” tutur Subaning.

Sehari sebelum putranya gugur, Hendriksie -bekerja di PT THIESS Contractor- menerima dua pucuk surat dari almarhum. Isinya, ia meminta uang, karena koceknya sudah menipis, minta didoakan juga agar ujian semester bisa dijalaninya dengan baik, dan ceritanya panjang lebar tentang gerakan reformasi yang diperjuangkan mahasiswa Indonesia.

“Tentang aparatur keamanan bentrok dengan mahasiswa, dan soal PHK juga diceritakan,” tutur Hendriksie.

Karena itu, Selasa pagi, 12 Mei 1998, sang ayah langsung mentransfer sejumlah rupiah ke rekening Aalmarhum. Tapi rupanya uang itu belum sempat diambil, karena sore harinya Hendriawan terkena tembakan yang mematikan itu. 

Baca juga: Melacak Jejak Reformasi Mei 1998, Ini Petanya


4. Hery Hartanto, mahasiswa  Fakultas Teknik Mesin, angkatan 1995
Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998
Trisakti Picture



Pemuda berusia 21 tahun yang bertubuh gempal dengan tinggi 170 cm itu gugur setelah bagian tulang belakangnya tertembus peluru yang bersarang di dada bagian kiri. Heri meninggalkan duka mendalam bagi kedua orangtuanya, Sjahrir Mulyo Utomo, 70, dan Lasmiati, 40, serta dua orang adik perempuannya. 

Sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Mesin, almarhum dikenal sebagai mahasiswa baik-baik. Ia tak dikenal sebagai aktivis suatu organisasi apa pun. “Jangankan berorganisasi, baca koran saja jarang,” kata Sjahrir, pensiunan Zeni Angkatan Darat berpangkat letnan dua itu.

“Anak saya bukan perusuh, kenapa ditembak,” begitu jerit Lasmiati ketika mengetahui anak sulungnya gugur tertembus peluru petugas keamanan. 

Meski tak aktif berorganisasi, Heri mudah bergaul dan banyak teman. Kepeduliannya terhadap rekan-rekannya, baik di kampus maupun di kampungnya, di Jalan Cempaka Timur XVII, Jakarta Timur, sangatlah kental.

Itu terbukti ketika ia merintis membuka usaha bengkel dan fotokopi. Usahanya itu dimaksudkan untuk menampung teman-temannya yang menganggur dan tak mampu meneruskan kuliah. 

Di kalangan teman-temannya, Hery dikenal mempunyai jiwa wirausaha dan solidaritas yang tinggi. Untuk memulai usahanya, Hery pernah mengajukan proposal untuk meminta pinjaman dana ke Bank Rakyat Indonesia, Rp 200 juta. Tapi suratan takdir telah menggariskan bahwa ia gugur bersama cita-cita yang tengah dirintisnya. 

Almarhum, yang sesekali ikut menjadi pengibar bendera di arena balap Sentul itu, memang sangat gandrung mesin mobil. Terakhir, ia sedang asyik mengutak-atik dan meneliti mesin VW kodok.     

Setelah 20 tahun, berganti 5 presiden sesudah Soeharto, siapa yang harus bertanggung jawab atas kematian keempat mahasiswa ini belum terungkap.  Pejabat yang bertanggung jawab atas keamanan nasional saat itu, kini menjadi salah satu menteri penting di era Presiden Joko “Jokowi” Widodo. 

Reformasi melahirkan jutaan penikmatnya, warga negara Indonesia.  Bagi keluarga yang kehilangan, duka mendalam dan Selasa yang kelabu tak pernah surut dari pikiran dan kenangan.     

Baca juga: Tak Kalah Heroik, Begini Aksi Mahasiswa Surabaya Menuntut Reformasi 1998

 



Sumber : https://news.idntimes.com/indonesia/...mpaign=network

---

Baca Juga :

- Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998 Lama Vakum, Guntur Turun Gunung Menangkan Sang Putri

- Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998 Tak Ada Celah Buat Kegiatan Politik di CFD Surabaya

- Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998 Kisah Iptu Sulastri, Polwan yang Selamat Dari Penyanderaan Napi Teroris

Halaman 1 dari 4
Pertamax ga nih??
emoticon-Leh Uga
Dulu ada tentara pelajar, aktivis reformasi 98, sekarang jg moga2 masih ada anak muda yg mikir bangsa

Kyknya HAM bkn prioritas Jokowi bre, susah jg diusut sekarang. Berdoa aja semoga mereka tenang di sisi-Nya
Diubah oleh lucky.bustard
semoga kebenaran secepatnya terungkap. mumpung aktor dibalik 98 masih hidup. oops
sesungguhnya dopost adalah berkah org ganteng emoticon-Cool
Diubah oleh khontuol
wowo bikin anak orang ilang
Pelakunya siapa?
Ane juga anak trisakti. angkt 94. Waktu tgl 12 Mei juga ikut demo... tapi sampe siang doank. Habis itu ke Citraland sekarang jadi mall ciputra. Jalan2 sampe sore sekitar jam 3 ane baru pulang, karena ada keperluan penting. Pas pulang mahasiswa yg lain masih pada di jalan semua. Ane pikir bentar lagi juga bubar. Toh udah capek juga seharian demo. Aparat yang awalnya cuma 2 lapis, makin siang makin banyak. Berdiri sambil berhadapan2 dengan mahasiswa. Malah dikasih bunga lagi sama mahasiswi. Pas jam 6 sore ane ditelepon sama temen yang mengabarkan kalo suasana di kampus kayak lagi perang. Darah berceceran di lantai, kursi dan meja dikeluarin dari kelas dijadikan barikade. Dan temen ane bilang kabarnya ada yg mati. Pokoknya suasana mencekam banget deh. Baru malam ada berita di TV 4 mahasiswa meninggal. Besoknya tgl 13 Mei baru dimulai kerusuhan2 yang bikin trauma sampe sekarang.

Kalo dipikir2 apabila ane gak cepat pulang dan masih dikampus ada kemungkinan bisa koit juga.
Quote:

wah tua juga ente ya bre, ane mau naik kelas ke kelas 3 smp emoticon-Stick Out Tongue
Diubah oleh roninthirst
Quote:


kelas 3 smp udah ngerti situasi lah. udah bisa merasakan gimana mencekamnya suasana waktu itu.
Siapa dalangnya ga tau sampe skrg
Salah!!!
Yg pahlawan itu, amien rais!
emoticon-Leh Uga
Quote:


Aktornya Mao nyapres Mulu tuh om
Quote:


Aksinya ada beberapa...kuning,biru,forkot..dan beberapa kampus lain...tapi yg hampir tiap hari demo...dari forkot
Quote:


salam gan emoticon-shakehand
12 mei, ane ada kul sore, tggu2 dozen ga dateng2..ane n tmn2pun turun mnuju lift..br pintu lift kbuka..skitar jam 5 sore..suara tembakan beruntun kenceng bgt..ane kaget lsg ke bwh ngcek tmn2 yg demo..dibawah suasana chaos, gas airmata dimana2 ..bersyukur ane balik arah gara2 gas airmata krn tembakan ga brenti selama 2 jam...jam 5an smpe jam 7an .
ane Bantu anak2 evakuasi me kelas2 krn aparat akan msk kmpus (infonya spt itu waktu ITU) ..amanin cewe2 didlm kelas2 tutup jendela pke Meja ...korban mulai jatuh yg kna tembak tngan or kaki..ane liat yg jatuh tersungkur dibawa tmn2 ane pke papan pengumumann..kmungkinan itu elang ..trs ane sibuk ngamanin Lt 1-2 ..listrik dimatikan ..tambah mncekam gan..cewe2 histeris..sempet kita2 list sniper Dr arah gedung baru teknik yg waktu itu blm JD
jam 11 mlm br kondusif ..yg luka2 dibawa ke rs ..ane n tmn pilih plg krn ortu dirmh panik .itu plg lewatin pagar polisi yg berdiri ngamanin kita2 yg kluar kmpus..
bsok pagi ke kmpus..bela sungkawa ..mnjelang siang tiba2 ada kerumunan massa bnyak bgt yg ga jelas drmn..mulai bakar truck sampah n provokasi mahasiswa Dr arah mall ciputra ke depan kmpus kyai tapa..untungnya Mobil mahasiswa yg parkir diluar ga ikutan dibakar..krn Mobil ane jg parkir luar..anehnya ga da aparat sama sekali
tiba2 sekelompok pasukan datang naek heli, udah ky difilm perang..turun Dr heli pke tali..sempet kmi yg dikmpus dibidik..mulai gas airmata lg ditembakan ke kerumunan massa..mulai chaos lg..anehnya gas airmata jg ditembak ke kmpus..smpe mnjelang mlm panas situasi..br bs kluar kmpus jam 7 an mlm..kerusuhan tiba2 menjalar kmn2
cukup sudah mnurut ane..jgn sampe kjadian lg..
n buat ente2 ex aktivis 98 yg udah duduk di legislatif or eksekutif..ane minta tunjukkin kl mmg ente2 msh jiwa aktivis..jgn rakyat diksh pertunjukkan lawak
Dari ane ekonomi 96 trisakti
Bukan pahlawan
Kalau gak Mati, paling jadi koruptor now, kayak si anu Yg di dpr atau mpr
ndak usah berharap sama wiwi,apalagi sama wowo emoticon-Cool
Quote:


lha..bukannya tgl 12 itu gak ada kuliah ya gan? Apa mungkin buat kelas pagi aja? Seingat ane khusus hari itu kegiatan perkuliahan emang ditiadakan. Malah pihak kampus mengakomodasi dengan membuat panggung di halaman buat orasi. Selain mahasiswa, dosen2 juga ikut orasi. Habis orasi baru pada keluar ke jalan. Waktu itu udah mulai banyak aparat. Rencananya kan mau long march ke gedung DPR. Tapi baru sampe di depan kantor walikota Jakbar udah dicegat. Masih ingat ane sempat manjat ke atas tembok pagar kantor walikota. Terus gak lama disuruh turun sama bapak2 berpakaian hijau. Mungkin dari TNI kayaknya. Aparat lapis pertama itu masih polisi, terus dibelakang udah Brimob atau pasukan huru hara. Terakhir paling belakang datang itu tentara. Padahal kita aksinya damai kok bawa2 tentara segala. emoticon-Mad

Itu semua sudah direncanakan. Jadi ditunggu sampe malam baru mereka bertindak. Sniper2 itu kan sengaja dipakai sebagi trigger (pemicu) supaya rakyat marah biar gampang diajak ngerusuh sama provokator2 b4ngsat itu. emoticon-fuck
Diubah oleh sehau76
Waduh pas kejadian ane msh kecil. N kudu d tinggal bokap yg tugas slm berbulan2 utk ngpam... sungguh masa2 yg kelamemoticon-Turut Berduka
semoga selalu ada aktivis yang ga cuma lantang saat aksi, tapi terus lantang memperjuabgkan keadilan pas udah dapet jabatan menteri emoticon-2 Jempol
Halaman 1 dari 4


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di