alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Medcom.id /
Lapas High Risk Dipercaya Mampu Mereduksi Paham Radikal
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af4ecf314088da72a8b4568/lapas-high-risk-dipercaya-mampu-mereduksi-paham-radikal

Lapas High Risk Dipercaya Mampu Mereduksi Paham Radikal

Lapas High Risk Dipercaya Mampu Mereduksi Paham Radikal

Jakarta: Lembaga pemasyarakatan (Lapas) Lapas high risk khusus narapidana terorisme (napiter) di Nusakambangan dipercaya mampu mereduksi penyebaran paham radikal. Lapas khusus ini sudah bisa digunakan di kawasan Pulau Nusakambangan.


'Menghindari penyebaraan paham radikal dan pengendalian aksi terorisme di dalam Lapas, Menteri Hukum dan HAM membangun Lapas high risk khusus terorisme di Nusakambangan,' kata Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Ade Kusmanto melalui keterangan tertulis, Kamis, 10 Mei 2018. 


Ade membantah terlambat memindahkan napiter dari Rutan cabang Salemba di Mako Brimob ke Nusakambangan. Sebab, pemindahan napiter perlu pertimbangan matang, baik dari sisi assesment risiko dan kebutuhan.


'Mana yang harus ditempatkan di Lapas high risk dan siapa saja yang bisa ditempatkan di Lapas lainnya. Dengan harapan tidak salah menempatkan orang. Sehingga proses deradikalisasi berjalan optimal,' ujarnya. 


Baca: Tak Ada Korban Jiwa dalam Kontak Senjata di Mako Brimob


Data dari Direktorat Binapilatkerpro Ditjenpas mencatat ada 108 Lapas dan satu rutan menampung total 270 orang napiter di Indonesia. Khusus Rutan cabang Salemba di Mako Brimob, tahanan dan narapidana terorisme saat ini sudah dipindahkan ke tiga Lapas di Nusakambangan yaitu Lapas pasir, Lapas Batu dan Lapas Besi.


'Namun, sebelum pelaksanaan pemindahan mereka ternyata mereka sudah berbuat kerusuhan di Mako Brimob,' ungkapnya. 


Sebelum ada Lapas high risk, narapidana terorisme semula digabung di Lapas umum. Namun, napiter selalu mempengaruhi beberapa napi umum untuk bergabung dengan kelompoknya. 


Baca: Napiter Diisolasi Di Nusakambangan


Selain itu, permufakatan sesama napiter juga kerap dilakukan tanpa sepengetahuan petugas Lapas. Kondisi ini pun dianggap berbahaya.


'Ini biasanya berlaku untuk para tokohnya, tapi ada juga yang sudah kembali ke NKRI seperti Oemar Patek di Lapas Porong Jawa Timur. Sudah mau mengibarkan bendera Merah Putih serta aktif dalam pembinaan kepribadian dan kemandirian di dalam Lapas Porong,' paparnya. 




Mayoritas napiter yang masih kuat pahamnya juga kerap mengasingkan diri, menutup diri, dan tak mau menyatu dengan napi lainnya dalam hal apapun. Menurut Ade, beribadah pun mereka tak mau bergabung dengan orang lain yang bukan kelompoknya. 


'Mereka menganggap orang lain thogut (penyembah berhala). Sehingga memberikan pembinaan kepada kelompok radikal tidak mudah, butuh waktu untuk melunakannya, tidak sehari atau sebulan bahkan setahun karena hati dan pikiran mereka tertutup untuk kelompok lain,' kata Ade. 


Ditjenpas memfasilitasi BNPT untuk bisa medatangkan para ustaz mantan napiter yang sudah kembali ke NKRI. Pembinaan kemandirian dan kepribadian di dalam Lapas diberikan kepada mereka yang sudah melunak paham radikalnya. 


'Bagi yang masih garis keras diadakan pendekatan terus bekerjasama dengan BNPT, alim ulama dan tokoh agama, dan tokoh masyarakat dari mantan kelompok mereka,' pungkasnya. 

Sumber : http://news.metrotvnews.com/hukum/aN...-paham-radikal

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Lapas High Risk Dipercaya Mampu Mereduksi Paham Radikal Pengambilan Gambar Film Bom Thamrin Sebabkan Kemacetan

- Lapas High Risk Dipercaya Mampu Mereduksi Paham Radikal Militan Marawi Bisa Masuk ke Indonesia dengan Mudah

- Lapas High Risk Dipercaya Mampu Mereduksi Paham Radikal Media Sosial, Alat bagi Teroris Rekrut Militan dari Indonesia

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di