alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
(Halaman 2) Jangan Datang Dengan Bismillah
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af1a58ade2cf280378b4567/halaman-2-jangan-datang-dengan-bismillah

(Halaman 2) Jangan Datang Dengan Bismillah

Quote:


Denting piano terdengar merdu diantara langit yang mendung. Mungkin, sebentar lagi akan turun hujan dan mungkin juga, sebentar lagi Gie tak akan bisa pulang. Motor Vespa tua kesukaannya kembali mogok dan memerlukan perawatan yang cukup serius. Buku dan pena masih tergeletak di atas meja dengan secangkir kopi dan juga French freis dengan saus keju kesukaannya. Gie memandang jauh kedepan, kearah jalanan yang terlihat hiruk pikuk orang berjalan.

Dari jalanan itulah sebenarnya ia pernah datang dan mengenal Melia. Seorang perempuan dewasa yang selalu berjalan dengan kesedihan. Hampir setiap hari Melia selalu lewat jalanan Malioboro, duduk di depan mall Malioboro dengan sebatang rokok yang selalu menemaninya. Tidak ada yang tahu, apa yang diinginkan Melia ditempat itu. Tetapi, tempat itu adalah tempat yang selalu kosong yang bisa disinggahi Melia untuk beristirahat sejenak dari lelahnya dunia.

“Boleh saya duduk disini?” kata Gie yang membawa tas Carier berwarna merah.
“Silahkan saja!” Jawab Melia yang sedikit ketus.

Saat itu Gie belum mengenal siapa pun. Belum mengenal Sarah ataukah juga Karmila. Gie baru saja datang ke kota ini dengan modal seadanya. Masalah keluarga yang begitu rumit, membuatnya jengah dan ingin mencari udara segar dengan pergi ke kota Yogyakarta. Ia pun tak punya uang yang lebih untuk tinggal di kota ini. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin, dan memulainya dari angka nol kecil.

Melia berambut hitam panjang, dia lebih mirip dengan Tara Basro jika bisa di deskripsikan. Suaranya memang serak-serak basah. Dia selalu menutup tubuhnya erat tetapi, ia tidaklah berhijab. Melia sangat senang dengan nuansa Malioboro di malam hari. Nuansa ramai yang akan membuatnya tersenyum bahagia. Karena ia sadar jika, ia tidak akan merasa sendiri disini.

“Boleh minta rokoknya?” kata Gie.

Melia pun memberi Gie rokok yang ia punya. Tinggal tiga batang, ia berikan kepada lelaki itu semua. Gie pun menyambutnya dengan penuh rasa terima kasih. Ia pun sedikit malu dengan perempuan yang saat ini sedang bermain-main dengan handphonenya. Kemudian, dia menitihkan air mata emoticon-Frownemoticon-Frown. Hanya saja Melia sadar dimana ia sekarang, oleh sebab itu ia hanya bisa menahannya. Perasaan yang menusuk seperti tertusuk oleh anak panah yang menusuk begitu dalam.

“Ini!” kata Gie yang memberikan sapu tangannya.

Bagi Gie, sapu tangan itu akan menggantikan tiga batang rokok yang diberi oleh Melia. Gie pun tersenyum senang karena ia tidak pernah suka berhutang jasa. Tangan Gie dengan reflek memeluk Melia, begitu pula Melia yang bersandar di bahu Gie dengan air mata yang masih mengalir. Sungguh, Melia tidak bisa menahan air mata ini.

“Boleh kita cari tempat yang bisa buat kau menangis lebih dalam lagi?” Tanya Gie.

Melia mengangguk, dia mencoba menahan air matanya yang seakan memberontak ingin keluar. Gie dan Melia pun bergandengan tangan menuju ke sebuah rumah kost milik Melia. Disana, Melia marah dan menangis sejadi-jadinya. Ia membanting gelas, memporak-porandakan tempat tidur dan sebuah barang yang dijadikan luapan emosi. Seperti itulah biasanya Melia jika ia sedang sedih atau marah dengan keadaannya.

Gie hanya bisa melihat semua yang dilakukan oleh Melia. Dia tidak bisa berbuat apa pun selain menunggu keadaan Melia menjadi tenang. Sungguh, Gie baru sekali ini melihat seorang perempuan dengan kekecewaan yang mendalam. Gie prihatin dan mendekap erat Melia dalam.sebuah pelukan. Melia masih memberontak, tetapi perlahan ia pun menjadi tenang.

“Terima kasih, jika tidak ada kamu mungkin aku sudah lebih dari ini.” Kata Melia yang sudah cukup tenang dibandingkan tadi.
“Aku hanya ingin membantumu menenangkan diri, karena aku tahu kesedihanmu itu pasti sangat mendalam,”

Ada perasaan berbeda saat Gie terdiam dari perkataannya. Sepertinya cinta yang selalu diinginkan Gie telah tumbuh dengan sendirinya. Hanya saja, Gie tidak bisa mengungkapnya secepat ini. Ia harus tahu perasaan ini benar cinta atau hanya perasaan sesaat karena kasihan melihat Melia seperti itu. Gie menghela nafas panjang dan mendengar cerita Melia.

Semenjak SMA, Melia sudah bertarung sendiri di tengah kerasnya kota Yogyakarta. Dia menghidupi dirinya sendiri dengan berbagai macam cara. Melia diusir dari rumah karena sebuah pertengkaran hebat dengan Ayah tirinya. Pertengkaran yang membuat hubungan keduanya itu merenggang hingga sekarang.

Semenjak itu, Melia memutuskan untuk tinggal di rumah kost. Banyak cerita yang ia jalani termasuk mencintai Zulfikar, seorang mahasiswa kaya yang hanya ingin memanfaatkan tubuh Melia. Uang yang diterima dari Zulfikar lebih dari cukup untuk membayar sekolah dan juga menghidupi dirinya sendiri. Hingga rasa cinta kepada Zulfikar itu datang emoticon-Roll Eyes (Sarcastic).

Sayangnya, Zulfikar kenal dengan Ayah tiri Melia. Zulfikar pun mengancam akan memberitahukan semua yang mereka lakukan kepada Ayah tirinya, dengan begitu ibunya akan tahu dan pasti akan malu dengan Melia. Itu yang selalu dihindari oleh Melia yang membuatnya bertekuk lutut kepada Zulfikar.

“Kita buat Zulfikar tidak berkutik,” kata Gie yang geram.
“Caranya?”

Zulfikar sangat suka dengan dunia malam. Gie pun selalu mengikuti tempat Zulfikar dimana tempat diskotik favoritnya. Gie pun selalu masuk kemana pun Zulfikar masuk. Ini adalah pengalaman pertamanya di dunia malam, sebelumnya Gie tidak pernah melakukannya. Dari sini Gie tahu apa yang kelemahan Zulfikar, yang tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.

Zulfikar adalah anak dari seorang pejabat negara. Ia selalu diancam oleh Ayahnya untuk tidak berbuat aneh-aneh. Agar Ayahnya bisa mulus melaju menjadi pemimpin nomor satu di Jawa Tengah. Oleh karena itu, Zulfikar selalu menjaga benar dirinya agar ia tidak mendapat marah dari Ayahnya yang terkenal.kejam itu.

“Aku hamil anakmu Zul,”
“Tidak mungkin, pasti bohong!”
“Untuk apa aku bohong Zul? Aku mengandung anakmu,”

Zulfikar yang panik akhirnya mengajukan sebuah permintaan kepada Melia. Dan permintaan itu pun disetujui dengan bukti hitam diatas putih. Melia merasa beruntung dengan kehadiran Gie yang datang seperti malaikat. Dia adalah satu-satunya lelaki yang paling baik yang pernah dikenalnya.

“Aku tak tahu jika waktu itu aku tak memberi tempat dan rokok.”
“semua sudah ditakdirkan dan digariskan oleh Tuhan, kita hanya menjalankannya.”
“Aku akan kenalkan kau dengan sahabatku, dia bernama Sarah, dia orang yang paling baik sepertimu, dia pasti suka berkenalan denganmu.”

Gie pun melihat sorot matanya dan juga canda tawanya. Rasa ingin memiliki begitu tinggi, hanya saja Gie tak berani mengungkapkannya. Ia hanya bisa menulis semua perasaan itu melalui sebuah kata dan sebuah ungkapan cerita yang sungguh menarik. Gie pun terus memendam rasa cintanya yang semakin besar setiap hari, apalagi setiap hari ia selalu melihat wajah cantik Melia setiap pagi.

“Aku mau pergi Melia.”
“Kemana Gie? Kamu tidak punya seorang pun disini.”
“Aku masih punya kaki dan juga Tuhan Melia, aku tak bisa terlalu berat menahan beban ini, kita bukanlah suami istri, aku tak pantas tidur disampingmu dan menemanimu.”
“Jangan tinggalkan aku sendiri Gie! Aku takut, dan aku tak mau lagi sendiri!”
“Maaf Melia, aku harus pergi!”

Gie dan Melia pun berpisah. Tetapi, Gie sudah punya beberapa uang dari hasil tulisannya yang dimuat di koran-koran lokal. Semua itu berkat Karmila, orang yang dia kenal waktu di diskotik saat ia harus berpikir apakah meninggalkan Melia atau tetap bersama dengan Melia tetapi dengan hati yang tersayat. Karena, sebenarnya Melia hanya jatuh Cinta kepada Zulfikar seorang.

“Maaf, kamu Gie kan?” kata seorang perempuan berhijab yang datang menghampiri Gie.
“Iya, ada apa?” Tanya Gie.
“Aku ingin bicara penting denganmu?” kata Perempuan itu.
“Tentang Apa?”
“Tiga perempuan yang pernah ada dalam hidupmu."

“Tiga perempuan?”
“Ya, tentang Sarah, tentang Ibumu, dan Juga tentang Karmila.”
“Ada apa dengan mereka?”

Quote:






Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di