alexa-tracking

Kisah Pencari Kodok Bergumul dengan Roh Halus

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5af046f3d44f9ff5588b457a/kisah-pencari-kodok-bergumul-dengan-roh-halus
Kisah Pencari Kodok Bergumul dengan Roh Halus
PURWOREJO, NNC - Tengah malam yang pekat, langkah kakiku berhenti di pematang sawah di Selatan Kota Purworejo, Jawa Tengah. Kerlip lampu rumah nampak jauh dari mataku. Di sekitarku dingin menyelimutiku.

Lampu penerangan bertenaga accu, rasanya tak mampu membelah pekat. Tas selempang menggelayut di pundak dengan isi belum banyak. Ada perasaan merinding menggodaku. Kakiku perlahan gemetar. Disusul rasa mual di perut. Ini adalah pertanda, saya harus mundur.

Pengalamanku membelah tempat yang konon disebut angker atau berhantu, sering berujung demikian. Aku bukanlah pencari hantu. Yang kucari adalah hewan amfibi yang dianggap haram bagi sekelompok orang, namun dianggap makanan lezat bagi kelompok lainnya. Iya, kodok hijau.

Binatang bernama latin Fejervarya cancrivora ini, di tahun 2000 menjadi sumber penghasilanku. Kala itu, 1 kilogram dihargai Rp25 ribu. Lumayan untuk membeli pupuk urea atau biaya mesin traktor, pembajak sawah garapanku. Dari uang itu pula, kadang kugunakan untuk membeli bibit tanaman buah untuk ladang yang tak seberapa luas.

Mencari kodok bukan pekerjaan elite, tidak patut dicontoh. Lebih baik mengandalkan keahlian lain. Bisa menjadi pedagang atau pekerjaan bergengsi lainnya. Namun nyata, profesi ini pernah kujalani selama dua tahun.

Pemburu kodok harus membelah daerah wingit atau berhantu. Karena, di tempat itu seringkali banyak kodok induk besar. Daerah wingit biasanya di pinggir desa, perbatasan dengan sawah atau kali. Di situlah mereka berada.

Malam ini, lengkap sudah gelisahku. Ada-ada saja. Aroma dingin kini ditambah aroma seperti asap orang membakar singkong. Aku kenal betul. Ini pertanda ada ular atau kadang roh dari dimensi lain melintas di sekitarku. Terserah orang lain percaya atau tidak. Namun, aku putuskan mengalah.

Kuayunkan kakiku dengan cepat. Bila terlambat, aku kawatir tubuhku makin limbung dan tak sadarkan diri. Itu tak boleh terjadi. Risiko seperti itu, paling ditakuti rekan-rekanku pencari kodok. Syukur, aku pun belum pernah mengalami.  

Ada banyak cerita mistis dari kawan-kawanku. Mereka berpesan agar jangan sampai bertemu dengan jenis hantu banaspati. Ia berupa bola api melayang di angkasa. Biasanya menyukai rimbunan pohon bambu. Bila hinggap di tubuh kita, hanguslah sudah.

Banyak kejadian aneh lainnya. Namun dari sekian banyak itu, hanya beberapa saja kutemui. Pernah, saat tengah malam kudengar suara bayi menangis di tengah sawah, aku memilih menghindar.

Namun di saat lain, kujumpai bayangan putih laksana kuntilanak. Dengan keberanian penuh kudatangi dia. Ternyata seorang kakek sedang tirakat di samping air terjun. Ia sedang bersemedi. Lalu kusapa, “Permisi, Mbah!” Ia pun menyahut. Ia betul-betul manusia.

Langkah kakiku ternyata mengantarkan tubuhku ke lokasi bersejarah yang bernama Perigi (artinya mendatangi). Lokasi tepatnya adalah di Desa Banyuurip, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Dari cerita lisan para sesepuh desa, kuketahui sejarahnya. Konon sekitar abad ke-15, tempat ini didatangi kakak beradik. Mereka adalah putera dan puteri dari selir  Raja Majapahit. Namanya Pangeran Jayakusuma dan adiknya Galuhwati.

Mereka diusir dari Majapahit oleh ayahanda mereka. Kala itu, Jayakusuma dan Galuhwati tidak mau mengikuti rapat keraton, tetapi malah asyik bermain burung puyuh atau gemak. Ayahanda marah dan mengusir mereka dari keraton.

Mereka pun berjalan jauh terseok-seok ke arah Barat. Hingga sampailah ke tempat ini. Galuhwati terkena demam dan kehausan. Pangeran Jayakusuma kemudian menancapkan keris pusakanya, Kyai Panubiru, dan keluarlah mata air. Karena mata airnya membual, maka disebutlah sumur atau beji Banyuurip (air hidup).  

Di tempat ini pula, Pangeran Jayakusuma mendirikan bangunan tempat tinggal. Orang kemudian berdatangan memuji kehebatan sang pangeran. Bisa jadi, beberapa benda yang kini ada dan selalu rutin diberikan sesaji adalah benda-benda ritual atau benda sehari-hari yang digunakan Pangeran Jayakusuma.

Benda itu antara lain berupa satu yoni, empat buah batu untuk duduk pangeran, batu lutut pangeran, batu dakon, dan batu lumpang (alat untuk menumbuk). Di sekitar benda-benda ini, terdapat bekas pembakaran dupa, kembang, dan sesaji.

Kini, di tempat ini juga dibangun aula. Biasanya dipakai ritual mohon keselamatan. Di aula inilah kurebahkan diriku malam ini. Mungkin saat ini sudah sekitar pukul 2.00 WIB. Biarlah tubuhku mengalah dan mengaso di tempat ini. Kupersatukan pada kekuatan alam.

Di bawah lampu aula, kupejamkan mataku. Kuberserah dan bersyukur untuk berkah kehidupan. Bersyukur atas berkah kodok yang malam ini tidak banyak kudapat. Tidak boleh serakah. Semoga hari esok diperoleh rezeki lebih baik dari hari ini.

http://www.netralnews.com/news/sisilain/read/140012/kisah-pencari-kodok-bergumul-dengan-roh-halus

Pekerjaan yg unik
Penari bugil juga pekerjaan yg unik

Kisah Pencari Kodok Bergumul dengan Roh Halus

Kisah Pencari Kodok Bergumul dengan Roh Halus
ketimbang kalajengking
usaha kodok lebih realistis
emoticon-Ngakak
Quote:


Mantaff .. asik - asik .. joss emoticon-Leh Uga
Makanya diternak. Dari cebong pungut di got. Kasih makan taik lama-lama jadi kodok..

Malu lah sama juragan kodok kwang kwong kwang kwong..
Kisah Pencari Kodok Bergumul dengan Roh Halus
Quote:

Ga sampe bugil lah emoticon-Najis (S)
Kisah Pencari Kodok Bergumul dengan Roh Halus
pantes nastak kesurupan
Wakakakka kok ngakak yak emoticon-Ngakak
imajinasi yg tak tersalurkan
ini apa apaan?? emoticon-Bingung emoticon-Cape d...