alexa-tracking

Laskar

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aeebef3dcd77045218b4567/laskar
Poll: Apakah ini membuat anda terhibur?

This poll is closed - 1 Voters

View Poll
Sangat menghibur! 100.00% (1 votes)
Menghibur! 0% (0 votes)
Baik 0% (0 votes)
Cukup Baik 0% (0 votes)
Buruk 0% (0 votes)
Laskar
Title: Laskar

Genre: Drama, Romance.

Created by: Alpier(Pen Name)

WARNING EXPLICIT CONTENT 17+

Laskar

 

          Seha, seorang anak kelas 2 SMA yang terjebak dalam cinta segitiga. Dia dicintai oleh dua orang gadis bernama Seulbi Lee dan Yuri Seo. Namun, kedua gadis itu berhasil menghindari permusuhan dan akhirnya bersama-sama mencintai Seha.

 

Cinta telah membuat mereka melakukan hal yang lebih jauh. Tidak hanya mereka, namun manusia manapun pasti bisa kelewatan jika tentang Cinta. Sejauh manakah mereka akan melakukannya?

 

          Sore itu, berselang beberapa puluh menit setelah bell pulang sekolah berbunyi, di saat semua murid sekolah berjalan pulang bersama teman-teman mereka, di saat sunset menyinari ruang kelasku, aku masih duduk sendiri di kelasku yang berada di lantai empat. Tempat duduk di sebelah jendela yang langsung mengarah pada Matahari yang terbenam ini pula yang memudahkanku melihat semua murid sekolah ini berjalan bersama-sama menuju gerbang sekolah. Namun, sinar matahari berwarna kemerahan yang menyorot tepat ke wajahku membuatku agak sulit melihat pemandangan yang ada di bawah.

 

          “Sepertinya aku tak bisa selamanya duduk diam di sini, lebih baik aku pulang saja.”

 

          Aku menggapai tasku, menggantungkannya di pundak, dan lantas berjalan keluar kelas. Aku menyusuri koridor, berjalan melewati berbagai macam ruangan, menuruni tangga, hingga akhirnya aku sampai di lantai dasar. Suasana sudah cukup sepi. Hanya ada beberapa siswa saja yang masih melakukan kegiatanya di sekolah. Aku memandang ke arah gerbang sekolah yang ada di depanku, sinar sunset seakan menyuruhku untuk segera pulang dan beristirahat di rumah. Perlahan aku menghirup aroma di sore hari yang menenangkan.

 

          “Hhmm … Baiklah, kita pulaaang….”

 

          “Seha, tunggu!”

 

          Ketika aku sudah mulai melangkah, seseorang muncul dari belakang sambil memanggil namaku. Perlahan aku menengok ke arahnya, dan ternyata itu adalah Yuri. Gadis yang berada di kelas yang sama denganku, gadis yang lumayan cantik. Biasanya dia selalu langsung beranjak pulang setelah mendengar bell berbunyi. Aku rasa tadi sebelum aku beranjak dari kelas, aku sempat melihat dia pulang bersama temannya. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya harus kembali ke sekolah dan menemuiku.

          “Ada apa, Yuri?”

 

          “Ah ini, aku lupa mengembalikan ini padamu.”

 

          Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukannya padaku. Dengan tangan kanannya yang mengulur, dia menyodorkan sebuah syal berwarna kecoklatan padaku.

 

          “Kau ingat ini? Kau meminjamkannya padaku saat sehari sebelum libur musim dingin. Ini, aku kembalikan padamu.”

 

          Aku sempat terdiam dan memandangi syal itu sampai akhirnya aku mengambil benda itu dari tangannya.

 

          “Ah ini, benar juga. Aku sempat meminjamkan syal ini padamu.”

          “Aku juga ingin berterima kasih padamu, Seha. Maaf baru bisa mengatakannya sekarang, saat itu bus yang kau tunggu telah tiba dan kau langsung pergi bergitu saja setelah memberikan syal ini padaku, jadi aku tak sempat mengucapkan terimakasih padamu.”

 

          Yuri telihat sedikit menundukan kepalanya dengan eksresi wajah agak muram. Tanpa ekspresi apapun, aku mendengarkan dan memerhatikannya. Agak sedikit lupa bahwa aku pernah memberikan syal ini padanya, selama liburan, aku menghabiskan waktuku dengan bermalas-malasan dan menghapus semua beban pikiranku, jadi mungkin hal sepele semacam ini juga ikut terhapuskan.

 

          “Baiklah Yuri, terima kasih telah mengembalikannya padaku.”

 

          Aku memasukin syal yang sudah dirapihkan oleh Yuri ke dalam tasku.

 

          “Jadi, kau akan pulang sekarang, Yuri?”

 

          Yuri mengangkat wajahnya dan menatapku. Senyuman mulai terukir di wajahnya.

 

          “Ingin pulang bersama, Seha?”.

 

 

                   Aku sudah tiba di rumah pukul enam sore. Sepanjang perjalanan tadi, aku dan Yuri mengisi waktu dengan berbincang-bincang, yaa meski lebih banyak Yuri yang berbicara ketimbang aku, sih. Kami menunggu bus di halte yang sama. Yuri tanpa henti menceritakan semua kegiatan yang dia lakukan selama libur musim dingin berlangsung. Aku juga turut bercerita, meski tak sebanyak dia. Yuri selalu tersenyum lebar padaku. Setiap kali aku berbicara, dia selalu berusaha diam dan menyimak semua yang aku ceritakan, dengan senyuman manisnya tentunya. Bus yang kami tunggu pun akhirnya datang, aku dan Yuri duduk bersebelahan. Ketika aku sedang asik memandangi pemandangan dari balik kaca, aku sempat melirik pada Yuri sekilas, dia terlihat seperti bahagia. Senyum manis tak pernah hilang dari raut wajahnya. Namun kami tidak bisa bersama lebih lama, arah rumah kami berbeda, Yuri harus lebih dulu turun dari bus, sedangkan aku masih harus menlanjutkan perjalanan yang masih agak jauh.

 

          Pagi ini hari Selasa, waktunya untukku menjalankan tugas piket. Aku datang lebih awal seperti seharusnya. Ketika aku membuka pintu kelas, aku melihat Seulbi – si Ketua Kelas sudah lebih dulu datang. Dia sedang mengelapi kaca dengan kain basah sambil naik di atas sebuah meja. Dia menengok ke arahku setelah mendengar suara pintu terbuka.

 

          “Oh kamu Seha? Selamat Pagi.”

 

          “Pagi juga, Seulbi.”

 

          Berbeda denga Yuri, gadis ini lebih kalem dan terlihat dewasa, meski tubuhnya tak sedewasa Yuri. Dia dipilih sebagai Ketua Kelas karena kedisiplinan dan kedewasaannya. Tentu dia juga seorang gadis yang pintar, aku dengar dia akan mencalonkan diri sebagai Ketua Osis. Namun dibalik itu semua, tersimpan fakta yang tidak diketahui semua orang bahwa Seulbi Lee sebenarnya anak Yatim Piatu. Aku dengar dari guru bimbingan konseling, dia sudah dititipkan di panti asuhan oleh orang tuanya sejak dia masih kecil. Bukannya luntur semangat hidupnya, dia justru semakin bertekad untuk mengalahkan hidup ini. Itu lah mengapa dia menjadi Seulbi Lee yang sekarang ini aku kenal.

 

          Sejak pertama kali aku mengenalnya, dia selalu saja memarahiku karena kemalasanku. Dia selalu membentak, menegur, bahkan menyita Smartphone dan Console Game-ku. Semua yang aku lakukan seakan salah di mata dia. Akan tetapi, tak selamanya dia terus-terusan sesangar itu. Ada suatu ketika saat dia dijahili oleh sekelompok anak nakal di sekolah. Aku yang kala itu sedang ingin membeli minuman kaleng, tak sengaja melihat dia yang sedang diolok-olok oleh salah satu dari sekelompok anak nakal itu. Baru kali ini aku melihat dia selemah itu, jadi aku berinisiatif untuk menolongnya. Aku menghampiri mereka dan berkata pada mereka “Guru Joe sedang berjalan kemari karena aku melaporkan padanya bahwa ada tindak kekerasan di sekolah ini. Kalian masih punya waktu untuk melarikan diri sebelum akhirnya riwayat kalian berakhir di sekolah ini.” Mendengar apa yang aku ucapkan, sekelompok anak nakal itu menatapku dengan tatapan kesal, namun apa daya, mereka memang harus beranjak pergi jika tidak mau hidupnya berakhir. Tentu, itu semua hanya kebohongan yang ku buat-buat agar aku bisa mengusir mereka semua tanpa harus mengeluarkan tenaga.

 

          Sejak saat itu, sikap Seulbi terhadapku jadi agak sedikit berkurang kasarnya. Namun tidak menutup kemungkinan dia akan kembali memarahiku seperti biasanya. Bahkan saat ini pun, dia hanya menyapaku sekilas dan melanjutkan pekerjaanya lagi, seperti tak tertarik untuk berbicara denganku, sungguh sangat bertolak belakang dengan Yuri. Padahal aku berharap setelah aku menolongnya waktu itu, dia akan bersikap lembut padaku, dan mulai sedikit memiliki ketertarikan padaku, tapi ternyata .... Sepertinya hanya hayalanku saja yang ketinggian.

 

          Aku mulai menyapu lantai kelas yang berdebu, membersihkan setiap sudutnya. Seulbi turun dari atas meja dan dia berganti membersihkan papan tulis dari sisa kapur yang menempel. Aku mulai mendengar suara cekikikan entah dari mana asalnya, aku merasa bahwa suara itu berasal dari Seulbi. Aku memulai alibiku dengan berpura-pura membersihkan kolong meja guru yang dekat dengan papan tulis. Ketika aku melirik Seulbi, dia sedang tersipu malu sambil tersenyum dengan amat manis, seakan tak bisa menahan kebahagiaanya. Aku heran dengan apa yang terjadi padanya, tanpa pikir panjang langsung saja ku tanyakan padanya.

 

          “Kamu kenapa?”

 

          Nampaknya pertanyaanku tadi langsung membuatnya tersadar dari lamunannya. Dia menengok ke arahku dan benar saja, wajahnya memerah.

 

          “A-aahh aku, ini, aku-, kamu tak lihat aku sedang apa? Seberapa bodohnya kamu sih? Aku heran kamu bisa bersekolah di sekolah ini!”

 

          Aku memasang wajah malas, seperti yang terbayang dalam pikiranku, pasti akan seperti ini jadinya jika aku berbicara duluan padanya.

 

          Bell masuk sudah berbunyi, dan jam pelajaran pun di mulai. Sepanjang pelajaran berlangsung, baik Seulbi maupun Yuri, keduanya tidak ada yang berbicara padaku. Aku hanya menikmati pelajaran dan kesendirianku saat jam istirahat. Sesekali aku berbincang dengan teman-teman yang lain, namun itu hanya sekedar membicarakan hal yang sedang masuk dalam Trending Topic di situs berbagi video online. Seperti itu lah kehidupan yang dijalani pria membosankan seperti aku ini. Tidak ada ponsel, tidak ada game, yang aku lakukan hanya memakan roti dan meminus jus kotak saat istirahat.

 

          Seluruh jam pelajaran akhirnya selesai dan bell pulang pun berbunyi. Setelah sekian panjang aku menanti pulang, ketika saatnya pulang sudah tiba, aku justru merasa malas untuk beranjak pulang. Jadi aku berniat untuk duduk-duduk sebentar di kelas. Saat aku selesai membereskan buku-buku dan memasukanya ke dalam tas, Yuri datang kepadaku dengan terburu-buru. Wajahnya kembali muram seperti yang aku lihat kemarin.

 

          “Seha, maaf, hari ini aku tak bisa pulang bersamamu seperti kemarin. Aku ada kegiatan klub sore ini. Seluruh anggota dari klubku diperintahkan untuk berkumpul setelah jam pelajaran berakhir.”

 

          Dengan nada melas dia kembali berucap “Maaf ya.”

 

          “K-Kenapa kamu sampai minta maaf begitu? Aku tidak akan memarahimu, lagi pula aku ini bukan siapa-siapamu .”

 

          Aku benci mengakuinya tapi saat itu aku memang merasa canggung sekali. Maksudku, kenapa dia sampai segitunya? Seperti kita baru jadian kemarin saja.

 

          “Beneran tidak apa-apa? Yasudah kalau begitu, aku akan segera pergi menuju ruangan yang sudah ditentukan. Bye-bye Seha~”

 

          Yuri pun akhirnya pergi dan aku kembali sendiri di kelas. Memandangi banyak murid sedang berjalan pulang bersama-sama dari balik kaca jendela. Sambil menopang dagu dengan tangan, beberapa kali aku menghembuskan nafas keputus asaan. Tak sengaja aku menatap ke arah tempat duduknya Seulbi. Di sana masih terdapat tas yang tergantung di sebelah mejanya. Aku rasa tadi dia sedang ada rapat bersama anggota Osis, jadi mungkin sebentar lagi dia akan kembali untuk mengambil tasnya dan langsung beranjak pulang. Benar saja, dia memasuki ruang kelas dan langsung mengambil tasnya. Saat itu juga aku langsung menidurkan kepalaku di meja sambil menghebuskan nafas panjang.

 

          “Seha, ingin ikut bersamaku ke suatu tempat?”

 

          Mendengar itu, aku dengan cepat mengangkat kepalaku dan menatap kepadanya yang sedang berdiri di depanku.

          “Bersamamu? Ke mana?”

 

          “Kau akan tau nanti. Ayok, aku tidak punya waktu lagi.”

 

          Dari pada aku membusuk di sini, lebih baik aku ikut bersamanya. Aku menggapai tasku dan meggantungkannya di pundak, dan lantas berjalan keluar kelas bersama Seulbi. Aku berjalan di belakangnya, sejujurnya aku juga masih belum tau tempat mana yang akan dia tuju. Ke tempat yang aneh-aneh pun pasti tidak mungkin, yang bisa aku lakukan saat ini hanya diam dan mengikuti arah kakinya melangkah.

 

          Saat aku menyusuri koridor, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Dengan respon cepat, aku menengok ke belakang, namun aku tak melihat apapun. Aku terdiam sebentar sambil memerhatikannya sambil bergumam sendirian.

 

          “Yuri kah? Hmm tidak mungkin. Dia kan baru saja bilang padaku bahwa akan ada perkumpulan di klubnya, jadi aku rasa sekarang dia sedang kumpulan. Atau jangan-jangan memang ada orang lain di sini selain kami berdua?”

 

          “Ada apa Seha?” Seulbi mulai menyadari aku bertingkah dan dia juga ikut menghentikan langkahnya.

 

          “Ahhh tidak bukan apa-apa.” Aku menatap Seulbi sambil tersenyum paksa “Sudah, kita lanjutkan saja perjalanannya, kau tidak punya waktu banyak, bukan?”

 

          Akhirnya aku dan Seulbi melanjutkan perjalannya dengan jarang sekali pembicaraan.

          Kami mampir ke sebuah Café yang terletak di pinggir jalan. Aku dan Seulbi memilih tempat yang dekat dengan jendela. Sejujurnya, aku yang memilih tempat duduknya, karena aku tahu kami akan sangat sekali jarang berbicara. Jadi untuk antisipasi, sebaiknya aku melihat pemandangan jalan jika kami mulai saling berdiam diri.

 

          “Seha, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

 

          Aku menoleh pada Seulbi yang sedang menggenggam secangkir Coffe Latte dengan kedua tangannya. Tatapan matanya begitu tajam. Aku rasa dia akan membicarakan sesuatu yang serius.

 

          “A-ada apa?”

 

          “Kau tahu kalau aku ini hidup sendirian di apartemenku kan? Itu sebuah apartemen yang sangat nyaman, aku dibiayai oleh pemerintah. Namun akhir-akhir ini aku merasa seperti ada orang yang sedang memata-mataiku. Entah itu hanya firasatku saja atau benar adanya, namun aku sudah merasakan ini sejak satu minggu terakhir. Meski penjagaan di apartemen itu cukup ketat, tetap saja jika sudah malam, penjaganya akan pulang dan mungkin hanya ada beberapa penjaga saja yang masih bertugas. Jadi aku ingin meminta tolong padamu…”

 

          Seulbi menaruh secangkir kopinya di meja dan mulai menundukan kepalanya.

          “Aku ingin kau menginap di apartemenku untuk malam ini saja. Apa kau bersedia?”

 

          Mendengar itu, aku sedikit terkejut, pasalnya, bagaimana jadinya aku jika tinggal bersamanya. Dia pasti bisa leluasa untuk menyiksaku. Tapi dari raut wajahnya, sepertinya dia benar-benar membutuhkan pertolonganku.

 

          “Menginap di apartemenmu? Malam ini?”

 

          Seulbi hanya menggangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

 

          “Baiklah kalau begitu, aku akan menemanimu untuk malam ini saja.

 

          Gadis mungil itu mulai mengukir senyuman di wajahnya. Jujur saja, ini pertama kalinya aku menginap semalaman di kamar seorang gadis, terlebih lagi, hanya berdua.

 

          “Untuk sekarang kita ke rumahmu dulu untuk mengambil baju dan perlengkapan pribadimu yang lainnya.” Ujar Seulbi yang menatapku tajam.

 

          “Ah benar juga, aku harus mengambilnya. Baiklah kalau begitu.”

 

          Kami berdua pergi meninggalkan Caffé dan menuju ke rumahku untuk mengambil barang-barang pribadiku. Seulbi hanya menunggu di depan rumah. Setelah aku berpamitan dengan ibuku, aku dan Seulbi kembali melanjutkan perjalan menuju apartemennya.

 

          Setelah sampai di sana, aku cukup takjub melihat apartemen besar yang cukup tinggi. Aku tak berhenti menengok ke kiri dan kanan, melihat-lihat interior apartemen mewah. Seulbi bilang, kamarnya ada di lantai 20, jadi kami menaiki lift untuk sampai ke atas sana.

Code:
[size=7][font=arial, sans-serif][b][i]read the next story[/i][/b][/font][/size]



Code:
[size=7][font=arial, sans-serif][/font][/size]


×