alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Ajaran Sidulur Sikep (Samin)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aeeb44154c07a29358b456e/ajaran-sidulur-sikep-samin

Ajaran Sidulur Sikep (Samin)

Ajaran Sidulur Sikep (Samin)

Nasaruddin Umar



KEPERCAYAAN Sidulur Sikep yang biasa disebut dengan Samin, didirikan dan dikembangkan oleh Samin Surosentiko yang yang bernama kecil Raden Kohar.

Menurut peneliti Balitbang Kementerian Agama, nama Samin dihubungkan dengan pendirinya, Samin, dan dihubungkan dengan arti samin (Jawa)berarti sami-sami amin atau sami wongke, yang mengisyaratkan makna persaudaraan dan kebersamaan di dalam menempuh dan menjalani kehidupan.

Samin dikembangkan menjadi sebuah faham saminisme yang mengandung ideologi kebersamaan di dalam menghadap kolonialisme Belanda saat itu ketika sedang menjajah bangsa Indonesia, khususnya di Pulai Jawa. Saminisme menampilkan strategi keluguan, pura-pura bloon atau bodoh di dalam menyampaikan bahasa diplomasi, untuk memperdayakan pemerintah Belanda. Apalagi komunitas Samin rata-rata mereka bukan orang-orang terdidik.

Sepeninggal pendirinya, dilanjutkan oleh murid-muridnya. Pemerintah semula tidak menghiraukan aktifitas Samin karena dianggap hanya kegiatan spiritual kejawen saja. Pemerintah Belanda malah menganggap komunitas Samin hanya berusaha menjadikan kepercayaannya sebagai bagian yang diakui di Indonesia (Jawa).

Pasca-kemerdekaan RI komunitas Samin masih tetap diberi angin oleh pemerintah dan dipersamakan dengan aliran kepercayaan lainnya. Ajaran Samin tidak pernah dilarang sejak dulu, bukan saja karena mereka tidak pernah menyerang atau mengkritisi pemerintah, terlebih lagi ajarannya cenderung sufistik bernuansa kejawen. Dengan kata lain tidak pernah merepotkan pemerintah.

Pasca kemerdekaan, komunitas ini tetap bertahan dan memilih mendirikan pusatnya di Desa Klopo Dhuwur, Kabupaten Blora. Salah seorang tokohnya yang terkenal ialah Mbah Engkrek (1947).




Penyebaran kelompok ini berkembang terus ke wilayah pedalaman dan pegunungan Randublatung Bojonegoro Jawa Timur, terus ke sepanjang pantai utara wilayah Jawa sampai ke perbatasan Jawa Tengah. Bahkan menurut peneliti Kementerian Agama, kepercayaan ini sudah sampai ke Grobogan dan Pati.

Kelompok kepercayaan ini cenderung semakin meningkat, terutama pasca reformasi, yang memberikan kebebasan kepada setiap warga negara untuk mengeksperesikan ajaran agama dan kepercayaannya masing-masing. Tidak heran kalau banyak kepercayaan yang tadinya dianggap hilang atau sudah mati tetapi tiba-tiba hidup dan berkembang lagi, di antaranya ialah kepercayaan Samin ini.

Inti ajaran Samin antara lain nilai-nilai luhur kejujuran, kesederhanaan, kebersamaan, keadilan, dan kerjasama saling gotong-royong. Samin belum ditemukan memiliki kitab suci khusus, bahkan pada umunya pengikutnya masih buta huruf.

Mereka masih terlena terhadap pesan leluhur yang diduga provokasi pemerintah kolonialisme Belanda yang melarang warga setempat untuk sekolah, cukup berpegang kepada nilai-niliai luhur nenek moyang mereka saja. Warisan nilai-nilai leluhur diperoleh melalui oral traditions dari mulut ke mulut.

Setiap hari komunitas Samin cukup melakukan sembahyang dengan cara melakukan meditasi menghadap ke timur sekitar 3 menit. Niat sembahyangnya ialah: Ingsung wang wung during dumadi konone namung gusti. Umumnya komunitas Samin masih memilih afiliasi keagamaan kepada Islam seperti tercermin di kalangan mereka masih banyak mengisi kolom agamanya di KTP dengan agama Islam.

Hal yang perlu dicatat dari kelompok ini ialah menganjurkan kepada warganya untuk tidak membayar pajak kepada pemerintah kolonialisme Belanda. Namun ajaran seperti ini sebaiknya jangan lagi dilakukan di zaman kemerdekaan, karena pajak kegunaannya ialah memberikan penguatan kepada warga bangsa Indonesia. 

https://m.inilah.com/news/detail/220...ur-sikep-samin
Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di