alexa-tracking

Komunitas Penghayat Aliran Kepercayaan bakal sumbang 10 persen suara

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aeeb32dc0d7700f538b456a/komunitas-penghayat-aliran-kepercayaan-bakal-sumbang-10-persen-suara
Komunitas Penghayat Aliran Kepercayaan bakal sumbang 10 persen suara
Komunitas Penghayat Aliran Kepercayaan bakal sumbang 10 persen suara

Komunitas Penghayat Aliran Kepercayaan bakal sumbang 10 persen suara

Puti Guntur di acara Penguatan Penghayat Kepercayaan Jawa Timur Menuju Era Global. ©2018 Merdeka.com

PERISTIWA | 6 Mei 2018 11:30Reporter : Arif Ardlyanto

Merdeka.com - Dukungan Komunitas Penghayat Aliran Kepercayaan Jawa Timur bakal menguntungkan pasangan calon (paslon), Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno. Diprediksi suara yang masuk dari komunitas ini bisa mencapai 10 persen di Jawa Timur.

"Ada keuntungan dengan dukungan komunitas penganut penghayat aliran kepercayaan Jawa Timur ini," kata Ketua Bakti Puti Jawa Timur, Heri Purwanto, Sabtu (5/5).

Heri mengatakan, dari kalkulasi kasar dukungan terhadap paslon Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dari komunitas penghayat aliran kepercayaan cukup besar. Dari data yang dimiliki menyebutkan, jumlah komunitas penghayat aliran kepercayaan yang ada di Jawa Timur bisa mencapai 10 persen dari jumlah penduduk

Jumlah ini, lanjut dia, diperkirakan bisa bertambah. Hal ini terjadi karena pemerintah sudah melegalkan dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) tercantum agama penghayat atau aliran kepercayaan. Padahal selama ini, aliran kepercayaan yang ada di Indonesia mencantumkan agama berbeda. Banyak dari kalangan komunitas aliran kepercayaan ini menulis dalam KTP beragam Islam atau Kristen, atau agama lain.

"Padahal mereka menganut aliran kepercayaan. Mereka menutupi dengan menulis agama sesuai dengan anjuran pemerintah," ujar Heri.

Komunitas Penghayat Aliran Kepercayaan bakal sumbang 10 persen suara

Puti Guntur di acara Penguatan Penghayat Kepercayaan Jawa Timur Menuju Era Global 2018 Merdeka.com

Saat ini, banyak penganut kepercayaan yang mulai berani memunculkan jati dirinya. Hal ini dipengaruhi dengan keputusan pemerintah yang membolehkan untuk mencantumkan penganut kepercayaan dalam KTP. Mereka akan mengajukan revisi terhadap tanda agama selama ini, kemudian akan ditulis penganut kepercayaan.

Jawa Timur memiliki jumlah penganut kepercayaan yang cukup besar, dari 38 kabupaten/kota ada 10 persen warga menjadi penganut kepercayaan. Mereka sudah bertekad untuk terlibat dalam pilgub untuk memenangkan Gus Ipul-Puti. "Sudah bulat mendukung Gus Ipul-Puti," tegasnya.

Jujur, ungkap dia, calon sebelah juga membidik penganut kepercayaan untuk berpihak kepada mereka. Namun, komunitas penganut kepercayaan ini tidak bersedia dan melakukan penolakan dengan berbagai alasan. Mereka mengaku belum nyambung dengan calon sebelah, kecuali dengan Puti Guntur Soekarno yang masih memiliki keturunan darah dengan Soekarno secara langsung.

Artinya, dengan melihat kondisi lapangan bisa diprediksi kalau penganut kepercayaan ini memiliki kekuatan yang cukup besar di Jatim. Fakta ini bisa terlihat dengan keinginan tim paslon nomor satu untuk menggaet mereka.

"Kekuatan penganut kepercayaan ini cukup diperhitungkan. Namun mereka mencari calon yang bisa menyambungkan secara batin dan fisik. Itu ada pada Puti," ucap Heri.

(mdk/hhw)

https://m.merdeka.com/peristiwa/komu...sen-suara.html

Mungkin benar juga, hal ini

Komunitas Penghayat Aliran Kepercayaan bakal sumbang 10 persen suara
Kalo bisa bikin supaya kolom agama bisa dikosongkan atau ditulis Atheis. Itu lebih bagus lagi.
agama asli Indonesia
Lumayan banyak ya.
Yang melegalkan penghayat kepercayaan dalam ktp itu MK, kalau pemerintah justru awalnya tidak memperbolehkan, dan terpaksa menurut karena sudah ada keputusan dari MK

Jadi salah besar kalau pemerintah / pemerintah daerah merasa bakal dapat dukungan dari kaum minoritas

Syaifullah yusuf justru terkenal karena diam saja saat kaum syiah diusir dari madura
Quote:


Betul, pemerintah lebih membanggakan status negara berpenduduk muslim terbesar ketimbang bhinneka tunggal ika