alexa-tracking

Gunung Hutan Dan Puisi

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aee73b660e24b1e1b8b458a/gunung-hutan-dan-puisi
Gunung Hutan Dan Puisi
Pada pekat kabut yang menjalar di hamparan tanahtanah tinggi
Kulantunkan katakata sebagai penggalan doa
Untukmu yang kini telah sempurna hadir..

Pada peluh yang telah mengalir
Ketika kita ayunkan langkahlangkah
Menuju tempattempat teduh
Untuk menyemayamkan rasamu dan rasaku
Kini telah menyatu sudah
dan beku udara ini akan semakin kuat mengikatnya

Kita memang sering berbeda dalam banyak Hal
Namun Gunung, Hutan Dan Puisi selalu mampu menyatukannya..

***


Gunung Hutan Dan Puisi



Sebelumnya ijinkan saya untuk ikut berbagi cerita di forum ini. Forum yang sudah lumayan lama saya ikuti sebagai SR.. Salam kenal, saya Arga..

Cerita saya mungkin tidak terlalu menarik dan membahana seperti cerita-cerita fenomenal di SFTH ini. Hanya cerita biasa dari bagian kisah hidup saya. Semoga masih bisa dibaca dan dinikmati.

Seperti biasa, seluruh nama tokoh, dan tempat kejadian disamarkan demi kebaikan semuanya. Boleh kepo, tapi seperlunya saja ya.. seperti juga akan seperlunya pula saya menanggapinya..

Update cerita tidak akan saya jadwalkan karena saya juga punya banyak kesibukan. Tapi akan selalu saya usakan update sesering mungkin sampai cerita inI tamat, jadi jangan ditagih-tagih updetannya yaa..

Baiklah, tidak perlu terlalu berpanjang lebar, kita mulai saja...

****


Medio 2005...
Hari itu sore hari di sela kegiatan pendidikan untuk para calon anggota baru organisasi pencinta alam dan penempuh rimba gunung yang aku rintis tujuh tahun yang lalu sekaligus sekarang aku bina. Aku sedang santai sambil merokok ketika salah satu partnerku mendatangiku.

"Ga, tuh ada salah satu peserta cewek yg ikut pendidikan cuma karena Ada pacarnya yang ikut, kayaknya dia ga beneran mau ikut organisasi deh, tapi cuma ngikut pacarnya"

"Masak sih? Yang mana? Kok aku ga perhatiin ya" jawabku

"Kamu terlalu serius mikirin gimana nanti teknis di lapangan sih Ga, malah jadi ga merhatiin pesertamu sendiri" lanjutnya

"Coba deh nanti kamu panggil aja trus tanyain bener apa ga, namanya Ganis.. aku ke bagian logistik dulu" Kata temanku sambil meninggalkanku

"OK, nanti coba aku tanya" jawabku

"Pulangin aja kalo emang bener Ga.. ga bener itu ikut organisasi cuma buat pacaran" sahutnya lagi dari kejauhan sambil teriak

Dan aku pun cuma menjawab dengan acungan jempol saja

***


Pada malam harinya aku mengumpulkan seluruh peserta pendidikan di lapangan. Malam itu ada sesi pengecekan logistik peserta sekaligus persiapan untuk perjalanan ke gunung besok pagi untuk pendidikan lapangan.

Kurang lebih 2 jam selesai juga pengecekan logistik seluruh peserta pendidikan. Dan aku pun memulai aksiku.

"Yang merasa bernama Ganis keluar dari barisan dan maju menghadap saya sekarang..!!!" Teriakku di depan mereka

Tak lama keluarlah seorang cewek dari barisan dan menghadapku. Aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya, entah cantik atau biasa saja aku tak terlalu peduli karena aku sudah sedikit emosi sejak sore tadi temanku mengatakan kalau dia ikut kegiatan ini cuma karena pacarnya ikut.

"Benar kamu yang bernama Ganis?"

"Ya benar, Kak"

"Kamu ngapain ikut kegiatan ini!?"

"Karena saya ingin jadi anggota Kak"

"Dasar pembohong..!!!" Bentakku seketika

Dan dia pun langsung menunduk

"Hey, siapa suruh nunduk?? Kalau ada yang ngomong dilihat!! Kamu tidak menghargai seniormu!!"

"Siap, maaf Kak" jawabnya sambil langsung melihatku

"Saya dengar kamu ikut kegiatan ini karena pacar kamu ikut juga!! Benar begitu? Jawab!!"

"Siap, tidak Kak, saya ikut karena saya sendiri ingin ikut, tidak ada hubungannya dengan pacar!" Jawabnya tegas

"Tapi pacar kamu juga ikut kan!?"

"Siap benar"

"Siapa namanya!?"

"Alan Kak"

"Yang merasa bernama Alan, maju ke depan" teriakku di depan peserta lainnya

Kemudian datanglah cowok bernama Alan itu di depanku

"Benar kamu yang bernama Alan?" Tanyaku pada cowok itu

"Siap, benar Kak" jawabnya

"Benar kamu pacarnya Ganis?"

"Siap benar Kak"

"Kamu ikut kegiatan ini cuma buat ajang pacaran!!?? Kamu cuma mau cari tempat buat pacaran??"

"Tidak Kak"

"Kalian berdua masih mau jadi anggota organisasi ga!!?"

"Siap, masih mau Kak" jawab mereka berdua

"Baik, saya berikan pilihan, kalian berdua saat ini juga putus dan lanjut ikut pendidikan, atau tetap pacaran tapi sekarang juga pulang tidak usah lanjut ikut pendidikan dan jadi anggota organisasi.. silahkan tentukan pilihan sekarang!!"

***

Spoiler for INDEX:
image-url-apps
Saya pantau dulu ya breeemoticon-cystg
Cerita tentang pendaki gunung ya gan emoticon-Shakehand2 emoticon-Cendol Gan
KASKUS Ads

2 Bertemu Kembali

image-url-apps
Beberapa saat mereka berdua diam Setelah mendengar apa yang aku ucapkan.. yaa memang bukan pilihan yang mudah bagi jiwa muda yang sedang kasmaran seperti mereka.

"Baik Kak saya bersedia putus dengan Alan. Saya mau lanjut ikut pendidikan dan jadi anggota organisasi!" Jawab Ganis pelan

"Apa?? Coba ulangi lagi dengan keras dan tegas supaya semua yang ada di sini dengar!!" Jawabku setengah membentak

"Saya bersedia putus dengan Alan dan siap lanjut ikut pendidikan!!" Jawab Ganis dengan keras Dan tegas

Tapi sekilas aku sempat melihat matanya berkaca-kaca dan ada rasa tidak tega juga.

"Kamu yakin?? Padahal kalaupun kamu putus juga belum ada jaminan kamu akan diterima masuk organisasi, tergantung pendidikan kamu Dan ujian kamu nanti lulus atau tidak!!" Lanjutku

"Siap, saya yakin Kak!!" Jawabnya

"Lalu kamu Alan??"
"Itu Ganis bilang putus sama kamu, kamu terima? Kalau kamu terima, silahkan lanjut ikut pendidikan, kalau kamu tidak terima, silahkan mundur sekarang juga!!"

"Iya saya siap terima Kak" jawabnya pasrah

"Coba ulangi!!" Aku menegaskan

"Siap saya terima Kak!!" Jawabnya tak kalah tegas

Kemudian saya pun beberapa saat diam.. sengaja diam untuk melihat reaksi mereka berdua.

"Hahahahahahahaha... Saya cuma bercanda.. sudah2 kalian berdua kembali ke barisan sana.. tidak perlu dipikirkan apa yg saya ucapkan, kalian ga perlu putus" ucapku dengan santai

Dan terlihat jelas rona kelegaan di wajah mereka berdua.

"Tapi ingat, saya paling tidak suka kalau urusan pribadi mengganggu urusan organisasi, kalian harus tetap professional, says tidak melarang Dan tidak Ada larangan sama sekali untuk punya hubungan pribadi sesama anggota, tapi jangan sampai masalah pribadi kalian mengganggu kinerja kalian di dalam organisasi ini. Ingat itu!!! Dan says tidak akan memberi toleransi kalau kalian melanggarnya" ucapku serius kepada mereka

"Siap Kak" jawab mereka dengan tegas

***

Pendidikan pun berlanjut hingga beberapa Hari. Organisasi yg aku pimpin ini mempunyai 2 tahapan untuk pendidikan calon anggota baru. Pendidikan yang pertama adalah pendidikan dasar dan yang kedua adalah pendidikan lanjutan yang diakhiri dengan pelantikan anggota baru.

Cerita di dalam pendidikan tidak terlalu istimewa jadi tidak perlu terlalu banyak aku ceritakan di sini. Penggalan cerita di atas adalah sebuah awal, awal dari segala kisahku nantinya.

Selesai kegiatan pendidikan dasar, aku pun kembali ke aktifitasku sehari-hari. Bekerja freelance, dan seminggu sekali mengajar di organisasi tadi yang berbasis di sebuah sekolah menengah atas.

***

Aku juga masih berstatus mahasiswa (abadi) waktu itu. Yaaa sudah 5 tahun kuliah masih belum kunjung lulus juga. Hahahahaha

Sore itu di sebuah cafe kecil di Kotaku, aku sedang bertemu dengan seseorang untuk membicarakan sebuah pekerjaan. Di sela pembicaraan kami, aku melihat seseorang yang seperti aku kenal. Seorang cewek berjilbab duduk di depanku dengan posisi membelakangiku. Meskipun aku tidak melihat wajahnya dan kepalanya tertutup jilbab, aku masih sangat mengenalinya. Ya dia yang dulu pernah dekat denganku. Dia sedang berbicara dengan seorang temannya yang juga cewek.

Sudah 4 tahun aku lost contact, entah kenapa sekarang bisa bertemu lagi di sini. Terakhir aku dengar kabar dari teman dekatnya dulu, dia tinggal di luar pulau. Dalam kebimbangan aku berfikir, haruskah aku menyapanya atau aku biarkan saja dan pergi dari sini. Kisah pahit di masa lalu lah yang membuatku bimbang saat ini. Setelah beberapa saat berfikir, aku pun memutuskan untuk mendatanginya.

"Hai" sapaku yang sekarang sudah berdiri tepat di sebelahnya

Dia pun menoleh padaku dan terlihat jelas ekspresi kaget di wajahnya.

"A.. Arga?" Jawabnya

"Iya siapa lagi" sahutku sambil tersenyum

Beberapa saat dia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya dan terlihat matanya berkaca-kaca.

"Sorry aku tinggal dulu ya Dit, aku udah ditunggu cowokku nih" seolah memahami situasi saat itu, teman Dita pun berpamitan dengan alasan sudah di tunggu cowoknya..

Yaa dialah Dita, cewek yang dulu pernah mengisi hari-hariku. Kami berdua dulu pernah mengukir mimpi untuk hidup bersama selamanya. Karena permasalahan restu dari orangtuanya yang tak kunjung kami dapatkan, akhirnya kami pun terpaksa berpisah dan hilang kontak selama bertahun-tahun. Kini secara tidak sengaja kami bertemu kembali. Apakah ini jodoh? Hatiku bertanya-tanya.
image-url-apps
Quote:


Siap gan

Quote:


Yaa ada kaitannya lah gan.. hehe.. silahkan disimak gan kalo ga bosen

3. Secercah Harapan

image-url-apps
"aku boleh duduk?" Tanyaku

"I.. iya boleh kok Ga" Jawabnya sambil tersenyum

Manis sekali senyumnya, senyuman yang telah bertahun-tahun tak pernah kulihat.

"Kamu apa kabar Dit?"

"Aku baik kok Ga, kamu gimana?" Balasnya

"Aku ya masih begini saja Dit.. hehehehe" jawabku garing

Beberapa saat kami saling terdiam. Ada kekakuan di antara kami berdua. Entahlah.

"Maaf ya, Ga" Dita tiba2 meminta maaf

"Maaf untuk apa, Dit?" Tanyaku

"Untuk semuanya Ga, aku banyak salah sama kamu, aku tahu kamu sakit hati" Jawabnya

"Hehehe, sudahlah Dit. Jangan difikirkan. Aku ga pernah anggap kamu punya salah. Keadaan lah yang membuat semua itu terjadi"

"Yang terpenting kamu sehat, kamu tetap bahagia, aku pun ikut bahagia" lanjutku.. klise sekali, padahal jujur dulu aku sangat sakit hati, bahkan sampai membuat hidupku hampir berantakan gara-gara berpisah dengannya.

"Oh iya, dengar2 kamu tinggal di luar pulau ya Dit? Kabarnya kamu sudah nikah ya?" Tanyaku

"Kamu tahu dari Mana Ga?" Dia balas bertanya.

"Aku tahu dari Rika, sahabatmu" jawabku

"Ooh.. aku juga lama tidak kontak dengan Rika kok semenjak kejadian dulu. Iya memang benar aku sempat tinggal di luar pulau, Bantu usaha ayahku di sana. Tapi aku belum menikah kok" jelasnya

Terbersit kelegaan di dalam hatiku begitu mengetahui Dita belum menikah. "Ada kesempatan nih" kataku dalam hati. Kalaupun dia punya pacar, masih bisa ditikung lah (ketawa jahat).

***

Dulu aku dan Dita pernah memiliki masa-masa indah berdua. Kami kenal dari organisasi yang sama yaitu kumpulan orang2 yang suka mendaki gunung, dulu kami punya hobi yang sama.

"Kamu masih suka naik gunung, Dit?"

"Udah ga pernah lagi, Ga. Yang terakhir ya waktu sama kamu dulu. Setelah itu udah ga pernah lagi" jawabnya

"Kenapa, Dit? Padahal dulu kamu hobi banget kan?"

"Ga tau kenapa, Ga. Males aja sih. Rasanya udah beda. Dan aku rasa hatiku akan sangat sakit ketika berada di gunung" jawabnya

"Dulu aku pernah coba mau mendaki lagi, baru sampai di Basecamp saja aku udah ga kuat, bukan karena fisikku yang ga mampu, tapi hatiku yang ga mampu, Ga" lanjutnya

"Maaf ya Dit, aku bikin kamu jadi seperti itu"

"Bukan kamu yang salah kok, Ga"

Kami pun kembali terdiam. Entah apa yang ada di pikiran kami masing2. Ada keinginan yang kuat dari dalam diriku untuk kembali bersama dengan Dita. Tetapi rasanya seperti masih Ada tembok yang besar Dan tinggi di hadapanku. Entah apa yang dirasakan Dita.

"Dit..."

"Iya, Ga"

"Ehhhmmm... Ga jadi deh" "eh aku boleh minta nomor HP kamu?"

"Iya boleh Ga. Nih 08*********"

"Makasih ya Dit"

Kami pun lanjut ngobrol2 dan bercanda untuk menghilangkan kecanggungan kami. Hingga malam pun tiba dan kami pun berpisah untuk kembali ke rumah masing2 Dan berjanji akan saling telp/sms.

***

Beberapa Hari sesudah pertemuanku dengan Dita, aku pun sering smsan Dan telponan dengannya. Serasa kembali ke masa-masa dulu ketika kami masih pacaran.

Sifat Dita yang dulu manja, pengertian Dan perhatian kembali muncul. Aku pun kembali merasakan bahagia seperti anak muda yang sedang kasmaran.

Kami jadi sering janjian Dan jalan berdua kemanapun kami mau. Tapi satu hal yang Dita masih belum menyanggupi, yaitu mendaki gunung lagi bersamaku.

***

Aku dan Dita dulu dipertemukan di sebuah organisasi pencinta alam. Kami memiliki hobi yang sama yaitu mendaki gunung. Dari situlah kami mulai dekat hingga akhirnya kami pacaran. Gaya pacaran kami dulu bukan seperti remaja pada umumnya yang jalan ke mall, nonton, nongkrong di cafe, Dan lain-lain. Karena kami memang sama-sama tidak terlalu suka dengan hal tersebut. Gaya pacaran kami adalah mendaki gunung bersama. Gunung-gunung tinggi kami daki berdua. Terasa berbeda dan lebih romantis menurut kami. Apalagi kami sama-sama menyukai sastra terutama Puisi. Aku suka menulis Puisi Dan Dita suka membacanya. Sering sekali aku membuat Puisi untuknya Dan dia sangat menyukainya. Semakin Hari kami semakin dekat hingga kami pun berjanji untuk terus bersama selamanya.

Semua mimpi yang kami bangun bersama pun pada akhirnya hancur ketika orang tua Dita tidak merestui hubungan kami. Status keluargaku yang pas-pasan secara ekonomi lah yang membuat orang tua Dita tidak menyukaiku. Dengan tegas orang tua Dita mengatakan bahwa Dita sudah dijodohkan dengan seseorang yang sudah mapan Dan memiliki jaminan hidup bahagia, menurut versi mereka. Bahkan aku pernah diusir dengan kasar dari rumahnya ketika aku nekat datang untuk menyatakan keseriusanku dengan Dita.

Setelah itu aku dan Dita masih sempat menjalin hubungan secara diam-diam alias backstreet. Hingga suatu ketika hubungan kami ketahuan oleh orang tua Dita dan Dita dipaksa dipindahkan ke luar pulau untuk dijauhkan denganku. Setelah itu pun kami lost contact.

Setelah aku berpisah dengan Dita, hidupku menjadi semakin berantakan. Minuman keras menjadi sahabatku sehari-hari. Hingga beberapa tahun pada akhirnya aku pun tersadar dengan sendirinya Dan mulai meninggalkan semuanya Dan mulai menata hidupku lagi hingga pada akhirnya aku bertemu kembali dengan Dita.
puisinya terinspirasi soe hok gie kah ? semangat bang
image-url-apps
Quote:


Iya salah satunya gan.. doakan saja semoga lancar terus updetannya sampai tamat gan

3. Perjalanan

image-url-apps
"Minggu depan Ada acara ke gunung, Dit. Pengenalan medan buat anak2 calon anggota baru. Kamu mau ikut ga?" Tanyaku di sela makan malam kami.


"Mmmmm.. sorry, Ga. Kayaknya aku ga bisa ikut deh" jawabnya


"Kenapa, Dit?"


"I.. itu.. aku lagi banyak kerjaan yg masih tertunda dan harus segera di selesaikan Ga" jawabnya sedikit tergagap.


"Oh yasudah, kapan2 kalau ada acara lagi, kamu ikut ya?" Lanjutku.


Lagi2 Dita menolak ajakanku untuk mendaki gunung. Dan sepertinya Ada sesuatu hal yang disembunyikannya yang membuatnya tidak bisa ikut mendaki gunung. Entah apa, tapi aku bisa merasakannya. Aku paham bagaimana Dita. Aku cukup mengenalnya dengan baik, dan aku juga mengerti kalau dia tidak pandai menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi Kali ini aku sedang tidak berminat untuk bertanya apa yang dipikirkannya. Biarlah nanti dia mengatakan sendiri padaku.


"Iya Ga, lain kali aku usahain ikut kalo ada acara lagi" jawabnya sambil sedikit menunduk.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan melanjutkan makanku.


"Kamu marah ya Ga?" Tanyanya lagi


"Eh, ga kok Dit. Ya mungkin kamu memang sedang banyak kesibukan jadi belum bisa ikut mendaki gunung lagi" kilahku


"Maaf ya Ga"


"Udah ga usah dipikirin. Aku masih bakal nunggu kapan kamu mau mendaki gunung lagi, terutama bareng aku" ucapku sambil tersenyum


"Ga akan pernah lagi, Ga" gumamnya sangat pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.


Dan lagi2 aku hanya tersenyum pada Dita.


***


Siang itu kami sedang bersiap-siap untuk perjalanan menuju sebuah gunung untuk kami daki. Di sela-sela persiapan kami, tiba-tiba Ganis mendatangiku.


"Kak Arga, aku mau tanya boleh?"


"Eh, iya boleh, Tanya apa?" Jawabku


"Nanti pas perjalanan pendakian kita yang calon anggota dibagi kelompoknya oleh senior atau kita menentukan kelompok sendiri, Kak?" Tanyanya


"Nanti ditentukan oleh senior. Nanti dicampur antara yang junior dengan yang senior supaya kalian ada yg memimpin dan mengarahkan, kenapa memangnya?" Jawabku


"Ga pa2 kok Kak, kirain kita boleh milih anggota kelompok sendiri" lanjutnya


"Oooh jadi kau mau satu kelompok sama pacarmu? Hahahahaha" godaku


"Eeh ga kok Kak, malah sebenarnya aku ga mau satu kelompok sama dia" balasnya


"Hah? Kenapa emang? Tanyaku heran


"Ga pa2 Kak, lagi males aja, yaudah Kak, makasih ya" ucapnya sambil meninggalkanku


"Aah dasar anak muda" gumamku


Beberapa saat kemudian, persiapan kami sudah selesai dan kami pun naik kendaraan yang telah disediakan dan langsung memulai perjalanan menuju gunung yang hendak kami daki.


***


Butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan menuju ke lokasi Basecamp gunung yang hendak kami daki nantinya. Di sela perjalanan, salah seorang temanku, Sandi, berbisik padaku.


"Eh Ga, lihat tuh, si Ganis dari tadi ngelihatin kamu terus" katanya


"Iya tahu San, aku juga lihat dari tadi, tapi kan dia ga tau kalo aku juga lihat dia" balasku.


Iya memang sejak berangkat tadi Ganis sering mencuri pandang ke arahku. Aku tahu dan dia tidak tahu kalau aku juga memperhatikannya karena aku pakai kacamata hitam.


"Cakep loh dia Ga. Kamu ga tertarik?" Kata Sandi lagi.


"Iya cakep sih, tapi aku ga tertarik, San. Biasa aja sih" balasku


"Masih mikirin Dita?" Katanya lagi


"Udah lah, Ga.. luapain aja.. udah berapa tahun coba? Coba lah buka hati kamu buat yang lain" sambungnya


Sandi memang belum tahu kalau aku sudah bertemu lagi dengan Dita. Aku memang belum pernah cerita dengan siapapun, pada teman dekatku sekalipun.


Sandi ini salah satu sahabat terdekatku sekaligus partnerku saat merintis dan memimpin organisasi pencinta alamku. Dia sangat paham apa yg terjadi antara aku dengan Dita di masa lalu. Dia juga sempat ikut emosi ketika aku dulu diusir oleh orang tua Dita. Bahkan dia hampir nekat mau ikut datang ke rumah Dita dan ngamuk2 di sana. Sandi memang emosional sifatnya dan sering nekat. Apalagi kalau sudah menyangkut sahabat dekatnya.


"Aku ketemu lagi sama Dita, San" ucapku


Seketika Sandi pun menoleh dan matanya melotot padaku.


Kami terdiam.. Sandi pun masih diam Dan menatap tajam padaku hingga beberapa saat kemudian.


"Dia masih perawan gak?" Ucapnya datar tanpa ekspresi


Seketika langsung aku toyor kepalanya


"Perawan2 palalu pecah" ucapku kesal dan Sandi pun cuma cengengesan..


"Hehe.. maksudku kan dulu katanya dia dijodohin Ga.. berarti janda dia sekarang? Wuiiih janda emang menggoda men.. pasti udah terlatih goyangannya" sambungnya sambil cengengesan


"Eh kardus sepatu, lu bawa sabun mandi ga?" Tanyaku pada Sandi


"Bawa Ga, kenapa emang?" Sahutnya


"Tar kalo sampe Basecamp tuh kepala dilepas trus otaknya dicuci pake sabun mandi biar ga ngeres mulu mikirnya" ucapku sambil menoyor kepala Sandi


"Serius men, kamu ketemu lagi sama Dita? Kapan? Kok ga cerita? Bokapnya masih galak gak?" Tanyanya bertubi-tubi


"Woooyyy... Nanya satu2 cumiii..." Sahutku


"Hehehehehhe.. penasaran men" jawabnya cengengesan


"Udah beberapa minggu yg lalu aku ketemu sama Dita, San. Ga sengaja sih ketemunya. Soal bokapnya aku belum tahu, belum pernah ketemu sih. Dia bilang juga belum nikah" jawabku


"Waaah hajar aja men.. sikaaaat" sambungnya


"Sikat2.. otak lu tuh yg perlu di sikat biar bener mikirnya" timpalku


"Tapi men, kalo kamu ketemu lagi sama Dita, dan kalo bener dia belum nikah, artinya masih Ada kesempatan buatmu men"


"Aku belum tahu, San. Ya sementara ini aku jalani aja dulu yg kayak gini, lagian dia masih belum mau diajak ke gunung" ucapku


"Kamu mau deketin dia lagi ga men?" Tanya Sandi


"Aku belum tahu, San. Ntar lihat aja dulu lah gimana ke depan" jawabku


"Tapi kok aku ngerasa ada yang janggal ya Ga?"


"Ga tahu juga sih, aku juga masih belum 100% yakin, San" jawabku lagi


"Ya udah daripada ragu, kamu sambil deketin Ganis juga tuh, buat cadangan.. hehehehe" ucapnya cengengesan


"Cadangan2 gundulmu San.. lu pikir ban serep?"


"Hehehe, kan buat jaga2 aja, Ga. Kalo ga dapet Dita, bisa dapet Ganis. Ga kalah cakep tuh" selorohnya


"Ogah ah, kamu aja tuh kalo mau deketin" ucapku


"Wuih beneran Men? Ganis buat aku yak?" Timpalnya


"Serah deh, jangan lu mainin tapi.. kasihan anak orang"


"Ya ga lah men.. lu kan tahu, inilah Sandi sang pencinta wanita sejati, yang siap membahagiakan semua wanita di dunia ini.. hahahaha" selorohnya


Plak... Seketika aku memukul kepala Sandi pelan. Dan dia cuma cengengesan.


***


Setelah sekian lama menempuh perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan yaitu Basecamp gunung yang hendak kami daki bersama. Waktu sudah menunjukkan hampir petang. Kami memutuskan untuk beristirahat dulu dan nanti malam kami akan memulai perjalanan pendakian menuju ke puncak gunung itu. Sebuah perjalanan pendakian dengan beberapa kejadian yang akan menciptakan sebuah kebimbangan di dalam hatiku. 

4. Pendakian #1

image-url-apps
Petang itu ketika anak2 yang lain sedang sibuk mempersiapkan perjalanan pendakian, aku memilih untuk ngopi di dapur rumah yang kami singgahi untuk beristirahat sebelum memulai perjalanan pendakian. Salah satu kebiasaanku adalah aku tidak pernah mau minum kopi ketika sudah memulai perjalanan pendakian, baik itu di camp (tenda) ataupun di puncak gunung. Oleh karenanya aku puas2kan ngopi dulu sebelum perjalanan pendakian dimulai. Ketika sedang asik menghisap rokok kesukaanku sembari menunggu kopi yg masih panas banget sedikit dingin, Rika mendatangiku. Rika adalah sahabat dekat Dita dulu yang sekaligus aktifis di organisasiku juga, atau bisa disebut salah satu partnerku juga.


"Rokok terus... Disayang itu paru2nya.. susah banget dibilangin" cerocosnya tiba2.


"Hehehe.. nikmat Rik. Coba aja dulu nih apalagi sambil ngopi" sahutku sambil menyodorkan rokokku


"Sini2.. tapi aku buang ya" jawabnya berusaha menerima sodoran rokokku


Dan seketika aku menarik kembali rokokku dan aku masukkan ke kantong baju lapanganku.


"Dih kok dibuang, ya jangan lah.. nyawa ini.. bisa gampang ngamuk aku kalo ga ada rokok" ucapku cengengesan


"Kamu tu emang jahat banget ya, Ga.. udah ga anggap aku temen deket lagi??" Ucapnya tiba2 dengan ekspresi serius. Dan kali ini aku langsung menyadari kalau ucapannya bukan soal rokok tadi, karena Rika orangnya cenderung santai kalau cuma soal rokok.


"Apa lagi sih Rik? Tiba2 ngatain jahat tanpa ada intro" jawabku


"Tau ah.. pikir aja sendiri.." ucapnya dengan ekspresi yg cukup mengerikan.


"Haaaah" aku hanya menghela nafas. Cewek kalau sudah mengatakan salah satu kata ajaibnya "pikir sendiri" memang sangat mengerikan.


"Kalo kamu emang udah ga mau terbuka lagi soal masalah pribadimu ya ga pa2 sih Ga. Aku ngerti kok.. lagian aku ga kayak Sandi yang udah jadi sahabatmu dari kecil" ucapnya lagi


Dan seketika aku tersadar ketika Rika menyebut nama Sandi. Pasti soal Dita ini. Dasar Sandi punya mulut emang ga remnya. Dibilang jangan koar2 dulu malah cerita sama Rika. Dan sekilas ketika aku menoleh ke ruang tengah, aku melihat sandi mengacungakan dua jarinya yang artinya 'peace' atau damai sambil cengengesan. Dan aku hanya bisa mengehela nafas.


"Maaf Rik. Bukannya aku ga mau cerita. Cuma aku pikir belum waktunya aja" kilahku


"kita deket udah berapa tahun? Kita suka curhat2an udah ga kehitung. Aku ada masalah sama cowok selalu cerita dan minta pendapat kamu. Bahkan ada cowok deketin dan nembak aku pun aku minta persetujuan kamu. Sekarang kamu ada sesuatu ga mau cerita ke aku. Emang aku udah ga pantes lagi jadi temen deket kamu?" Ucapnya dengan nada jengkel


"Iya2.. udah dong Rik.. kalo ngambek gitu tar ilang cantiknya" rayuku


"Ga mempan rayuan kamu Ga.. janji dulu besok abis turun gunung kamu traktir aku baru aku ga ngambek lagi" ucapnya


"Haaaah.. iya deh iya" jawabku pasrah


"Naaah.. gitu baru Arga cakep" ucapnya cengengesan


"Jebol deh dompet ini" gumamku pelan


"Sekali2 juga Ga, pelit amat sama temen cantik kayak gini. Harusnya kamu tuh bersyukur punya temen cantik dan pengertian kayak aku, jadi musti sering2 ditraktir biar ga ilang..hehehe" sahutnya lagi


"Iya2 Rika cuantiiiikkk Dan pengertiaaaaan" dengusku kesal


"Eh, tapi serius Ga, kamu ketemu lagi sama Dita?" Tanya Rika. Kali ini ekspresinya berubah lagi menjadi serius.


"Iya Rik, udah beberapa minggu yang lalu. Ga sengaja sih ketemunya. Habis itu juga aku beberapa kali sering jalan sama Dita.. tapi..."


"Diiiih.. udah beberapa minggu Dan kamu ga cerita sama sekali sama aku Ga?? Bener2 deh kamu Ga.." potongnya sambil manyun lagi.


"Ini aku lanjut cerita ga?" Ucapku sedikit kesal


"Hehehe.. sorry2.. ya udah lanjut deh"


"Jangan dipotong dulu"


"Iya, bawel.."


"Sampe mana tadi?"


"Sampe 'tapi'.."


"Tapi aku bingung sama sikapnya sekarang, Rik. Satu sisi aku lihat dia seperti seneng banget ketemu sama aku. Tiap aku ajak jalan ga pernah nolak. Dia juga perhatian persis seperti dulu. Nih coba baca aja sms2nya" lanjutku sambil memberikan HPku ke Rika. Sambil Rika baca2 sms dari Dita di HPku, aku melanjutkan cerita.


"Dia masih perhatian sama seperti waktu masih pacaran dulu. Tapi selalu menghindar Dan mengalihkan pembicaraan kalau aku menyinggung soal keluarganya. Dan satu lagi, sejak ketemu sampai sekarang dia selalu nolak kalau aku ajak mendaki gunung. Alasannya banyak kesibukan. Tapi aku tahu kalau sebenarnya bukan itu alasannya. Aku ga tau apa, tapi yang jelas aku merasa ada banyak hal yang dia sembunyikan dariku" lanjutku


"Hhmmm... Bukannya emang Dita itu sejak dulu tertutup ya Ga? Aku aja ga tau banyak tentang keluarganya. Paling kenal2 biasa sama keluarganya. Meskipun aku sama Dita dulu emang deket banget ya, tapi soal yang satu itu dia agak tertutup" timpal Rika.


"Iya sih memang seperti itu sifatnya. Tapi dulu dia gak kayak gini kalo sama aku Rik. Dia dulu cukup terbuka" ucapku


"Iya bener juga, Ga. Kamu dulu kan juga banyak cerita sama aku" Rika menambahkan


"Ya emang aku rasa ada yang janggal sih kalo berdasarkan dari ceritamu. Terus, sekarang gimana rencanamu?" sambungnya


"Ya paling aku coba jalani dulu apa yang Ada sekarang Rik. Jujur aja, perasaanku sudah terlanjur terlalu dalam sama Dita. Begitu sulit buat lupain dia, tapi aku akan selalu mencoba untuk realistis saja. Nanti Kita lihat bagaimana kelanjutannya" ucapku


"Tenang aja, Ada aku Ga. Kamu cerita aja sama aku, siapa tahu aku bisa bantu. Aku juga pernah deket dengan Dita, pastinya dia masih anggap aku Ada lah" katanya sambil menepuk pundakku


"Pastinya Rik"


"Woiii.. kalian mau jalan apa mau mojok aja di situ??" Ucap si anak tuyul alias Sandi sedikit berteriak dari ruang tengah.


Kami pun bergegas berdiri dan bersiap untuk perjalanan pendakian.


"Ada anak baru dari tadi merhatiin kamu Ga.dia tadi sempet tanya2 juga sama aku tentang kamu" Bisik Rika


"Siapa?" Tanyaku


"Ada deeeh.. Nanti kamu tahu sendiri" sambungnya sambil menaik turunkan alisnya, gestur menggodaku.


"......."


"Bersiaplah untuk pendakian yang tak terlupakan" godanya lagi sambil ngeloyor meninggalkanku.


***


Selepas isya' perjalanan pendakian dimulai. Kami berjalan beriringan karena jalur pendakian yang kami lalui adalah jalan setapak. Seluruh peserta pendakian dibagi berdasarkan kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang calon anggota (anggota muda) dan 3 orang anggota senior. Di barisan depan Ada kelompok leader yang seluruhnya berisi anggota senior, bertugas sebagai penunjuk jalan Dan pengatur ritme perjalanan. Sandi berada di barisan depan. Di barisan paling belakang adalah kelompok sweeper yang bertugas memastikan seluruh peserta pendakian aman dan selamat. Dan aku berada di kelompok belakang. Sedangkan Rika ada di barisan tengah bergabung dengan kelompok lainnya.


Gunung yang kami daki Kali ini memiliki ketinggian tidak lebih dari 2.500 mdpl (meter di atas permukaan laut). Jadi bisa dikatakan gunung yang cukup bersahabat untuk ajang latihan Dan pengenalan medan bagi pendaki pemula. Akan tetapi, kami harus tetap waspada, dan melakukan persiapan sebaik mungkin. karena keteledoran sekecil apapun akan tetap berakibat fatal meski di gunung yang dikatakan 'bersahabat' sekalipun.


Sepanjang perjalanan tidak ada halangan berarti, semua berjalan dengan lancar. Setelah menempuh perjalanan pendakian sekitar 4 jam kami sampai di lokasi camp. Lokasi camp ini berada di ketinggian ±  2100 mdpl. Jadi sudah cukup dekat dengan puncak. Jarak tempuh puncak dari lokasi camp kami ± 1,5 km atau sekitar 1 jam perjalanan mendaki. Di lokasi ini kami akan beristirahat hingga pagi. Dan baru akan melanjutkan perjalanan ke puncak nanti Setelah matahari terbit.


Setelah semua tenda sudah berdiri, aku instruksikan kepada seluruh peserta pendakian untuk masuk ke tenda masing2 untuk beristirahat. Di sela istirahat, tiba2 salah satu peserta pendakian Ada yang mendatangi tendaku melaporkan jika Ada salah satu peserta yang sakit.


"Kak.. Kak... Ada yang sakit.. tolong Kak" teriaknya dari luar tenda sambil menggoyang-goyangkan frame tendaku bermaksud membangunkan kami yang berada di dalam.


Aku yang setenda dengan Sandi Dan Rika sontak kaget lalu bergegas keluar.


"Siapa yang sakit?" Tanyaku sambil membuka tenda


"Ganis Kak" jawabnya setengah panik
image-url-apps
Ijin mantau dl gan...lanjut

5. Pendakian #2

image-url-apps
"Yasudah, kami kesana sekarang" ucapku menenangkannya, dan kami bertiga mendatangi tenda Ganis diikuti peserta yang tadi melapor.


Sesampainya di tenda yang dimaksud, terdengar suara rintihan dari dalamnya. Rika yang sejak tadi berjalan di depanku langsung masuk ke dalam tenda. Aku, Sandi Dan Ikbal (anak yang melapor) menunggu di depan tenda. Sambil menunggu pemeriksaan yang dilakukan oleh Rika, aku menyulut sebatang rokok untuk mengusir udara dingin di gunung ini. Rika memang aku percaya sebagai pimpinan tim medis di setiap kegiatan organisasiku. Pengalaman dan pengetahuannya tentang keselamatan kegiatan pendakian sudah cukup mumpuni.


Beberapa saat kemudian, kepala Rika menyembul keluar dari pintu tenda dan memanggil kami.


"Dia sedikit drop, karena kecapekan aja sih. Tapi kakinya kram. Kamu pijat Dan urut deh Ga. Tenagaku kurang kuat buat mijit soalnya" ucapnya


"Sandi aja noh.. San kamu urut itu kakinya. Aku lagi ngerokok nih tanggung" ucapku pada Sandi.


"Eh kupret, kamu yang disuruh itu.. jangan berani bantah loe sama kanjeng Mami.. ga dapet jatah kapok loe" jawab Sandi sambil cengengesan. Dan sekilas aku melihat ke Rika dia sedang menatapku dengan tatapan membunuh.


"Iya2" ucapku malas2an sambil mematikan rokokku.


Sejurus kemudian aku memasuki tendanya Ganis. Begitu di dalam aku lihat dia sedang merintih kesakitan dan dari matanya sudah mengalir air mata tanda kalau memang sedang menahan sakit.


"Sini kakinya" ucapku pelan dan mulai memijitnya


Kurang lebih 15 menit aku memijit kakinya untuk meredakan kram di otot betis kaki Ganis sebelah kanan. Selama aku memijit dia sering berteriak kesakitan dan sesekali melihatku dengan tatapan sendunya. Dan selama itu pula aku jadi lebih memperhatikan raut wajahnya. Cantik.. itulah yang aku pikirkan. Wajahnya sedikit oriental dengan kulit putih, dan rambut hitam lurus panjang.


"Udah nih, habis ini istirahat. Selama tidur kakinya jangan dilipat, jangan ditindih dan harus dijaga selalu hangat. Pakai kaos kaki, pakai sleeping bag. Nurut apa yang dibilang sama Kak Rika tadi." Ucapku


"Makasih Kak" jawabnya


"Ya" balasku sembari keluar dari tenda.


Di luar aku lihat Rika dan Sandi masih menunggu sambil ngobrol. Entah apa yang mereka bicarakan.


"Gimana Ga?" Tanya Rika.


"Apanya?" Jawabku


"Ya Ganis lah Ga.. gimana kondisinya?" Sambungnya


"Ya gitu lah.. kram biasa.. udah tidur dia kayaknya" jawabku lagi.


"Waseeek sang pangeran meniduri.. eh menidurkan sang Putri" Timpal Sandi sambil cengengesan.


"Gigi lo rontok" ucapku sambil menoyornya.


"Udah yuk ah tidur.. Capek.." sambungku sambil berjalan menuju tendaku meninggalkan Rika dan Sandi.


Sesampainya di dalam tenda aku langsung merebahkan badanku berniat untuk istirahat. Tak lama Rika dan Sandi juga menyusul masuk ke tenda dan merebahkan badannya juga.


Beberapa saat aku mencoba untuk memejamkan mata tapi ternyata susah untuk untuk terlelap. Pikiranku melayang-layang tak tentu arah. Dita.. ya aku memikirkannya.. mengingat-ingat saat masih bersamanya, mengingat pertemuanku kembali dengannya. Tetapi anehnya, di sela aku memikirkan Dita, wajah Ganis selalu saja muncul. Ini tidak seperti yang aku harapkan. Entah apa yang terjadi dengan diriku. Hingga tiba2 aku mendengar suara aneh dan misterius.


"Ggrrrrooookkkkkk"


"Ggggrrrooooooooookkkkk"


Sialan, ternyata si kupret Sandi ngorok kenceng banget.


Karena tidak bisa tidur akhirnya aku pun beranjak keluar. Tak lupa memakai jaket, aku berjalan di sekeliling tenda-tenda yang penghuninya sudah terlelap karena kelelahan setelah menempuh perjalanan mendaki selama beberapa jam. Aku berhenti di depan sebuah batu yang cukup besar lalu duduk di atasnya. Sembari menikmati udara dingin gunung ini, aku mengeluarkan buku kecil dan pena dari saku baju ku lantas menulis rangkaian kata yang pada akhirnya tersusun menjadi puisi.


Ribuan langkah yang telah ku ayun
Masih belum cukup jauh untuk menemukan dirimu
Kau yang dulu selalu mampu membunuh beku
Kini tak ubahnya kebekuan itu sendiri
Mengkristal di ruang renjana
Semakin mengabur bagai pekatnya halimun


Aku rindu dirimu yang dulu
Dirimu yang bagai matahari terbit
Yang hangatnya selalu mampu memberi kehidupan
Pada setiap mahluk di muka bumi


Aku rindu dirimu yang dulu
Yang kini telah bersinar entah di mana
Sedang aku di sini masih menatap rembulan
Yang baru kusadari telah hadir
Berusaha menyinari sisi gelap ruang hampa di hatiku


Entahlah.. 
Sedangkan rembulan akan selalu pudar seiring terbitnya mentari



"Gak tidur?" Suara Rika seketika membuyarkan lamunanku. Entah sejak kapan dia berdiri di belakangku.


"Dasar anak kunti bikin kaget aja" ucapku


"Gak bisa tidur Rik. Si kupret ngorok kenceng banget noh" sambungku


"Iya tuh, aku juga kebangun gara-gara denger suara ngoroknya. Trus aku lihat kamu ga ada di tenda, jadinya aku keluar nyari. Ternyata lagi nge-galau sendirian di sini. Hihihi" cerocosnya


"Mikirin apaan sih Ga? Dita?" Ucapnya lagi sambil memaksaku bergeser dengan semena-mena.


"Cerah banget malam ini Rik. Lihat tuh di langit, bintangnya banyak banget. Bulan juga kelihatan terang" ucapku mengalihkan pembicaraan


Lalu kami pun berbincang tidak jelas hingga hari menjelang subuh.


"Ngantuk aku, Ga. Mau tidur ah. Kamu ga tidur?" Ucapnya sembari beranjak dari batu yang didudukinya.


"Iya bentar lagi aku nyusul" jawabku


"Ga ada salahnya kamu beri kesempatan Rembulan memberi sinar di hatimu, Ga. Meskipun nantinya matahari akan mengalahkan cahayanya, tapi dia ga akan pernah pergi. Setiap kegelapan datang, dia akan kembali memberikan sinarnya yang teduh" ucap Rika sebelum pergi meninggalkanku dan cukup sukses membuatku terbengong.


***


Malam telah berlalu, matahari kini telah sempurna memancarkan sinarnya. Meski hari masih pagi, tapi panasnya sudah terasa. Aku bergegas bangun Dan membereskan perlengkapan tidurku lalu segera keluar tenda. Anak-anak yang lain sedang bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju ke puncak. Sebelum memulai perjalanan kami bersiap-siap dengan sarapan dan pemanasan kecil guna meregangkan otot karena jalur dari camp menuju ke puncak nantinya lebih ekstrim daripada jalur sebelumnya. Jalur berbatu dengan kemiringan yang cukup terjal yang akan sangat licin jika hujan turun. Untung cuaca pagi ini cerah, jadi diharapkan perjalanan nantinya lancar tanpa suatu kendala berarti.


"Eh sang pangeran cinta sudah bangun" ucap Sandi.


"Sarapan mana San?" Aku tak memperdulikan kata2 Sandi tadi.


"Enak aja bangun2 minta sarapan. Lu pikir di hotel? Masak sendiri lah" protesnya


"Nih makan, Ga. Udah aku siapin sarapan" ucap Rika tiba-tiba.


"Uidih nasi goreng telur baso sosis.. mantap bener dah.. gini nih enaknya ke gunung bawa kitchen set.. hahahahaha" ucapku sambil langsung menyomot baso.


"Tadi aku masak itu sama Ganis. Eh Ganis yang masak sih, aku cuma bantu aja. Jago dia Ga.. special buat Kak Arga sebagai ucapan terima kasih katanya" ucap Rika sambil menggodaku


"Orangnya Mana?" Tanyaku


"Wuuuiiiih sekarang nyariin, kemarin aja cuek.. dasar sang pangeran Cinta bener2 deh" Sandi ikut2an menggodaku


"Lagi packing dia. Udah makan dia tadi bareng aku" sambung Rika


"Ooh"


Aku pun melanjutkan makan sampai habis. Enak sih masakan Ganis. Cocok buat dijadiin istri.. eh...


Selesai makan aku pun mempersiapkan barang yang akan kubawa ke puncak. Hanya daypack kecil berisi cemilan, air minum, kamera, rain coat, survival kit dan keperluan lainnya. Sedangkan barang2 lainnya aku tinggalkan di camp. Selesai packing dan koordinasi dengan seluruh peserta, kami pun memulai perjalanan pendakian menuju ke puncak.
image-url-apps
Dilanjut om ceritanya...penulisan ceritanya simpel bikin enak bacanya...

6. Pendakian #3

image-url-apps
Sepanjang perjalanan menuju ke puncak Rika selalu menyuruhku untuk ke tengah-tengah peserta. Aku paham apa maksudnya. Dia berusaha mendekatkanku dengan Ganis. Tapi memang aku yang sedang malas berkerumun bersama peserta lainnya tetap memilih di barisan belakang, di tim sweeper. Alhasil, sepanjang perjalanan Rika selalu cemberut dan memasang tampang menakutkan ketika melihatku. Bukan bermaksud menghindar, tapi memang aku belum ada niatan mendekati Ganis. Selain karena aku masih belum yakin, juga karena fakta bahwa Ganis punya pacar yang juga anggota organisasiku. Aku tidak mau dianggap sebagai orang yang merusak hubungan orang lain. Apalagi itu anak didikku sendiri.


Sesampainya di puncak, seluruh peserta dikumpulkan jadi satu dalam lingkaran besar untuk koordinasi dan sesi pemberian motivasi supaya para calon anggota menjadi jauh lebih loyal kepada organisasinya nanti. Setelah seluruh acara selesai, semua peserta dibebaskan untuk berekspresi sesuai keinginannya tetapi tetap dalam batasan kode etik pendaki gunung. Sedangkan aku memisahkan diri dari yang lainnya untuk berburu foto pemandangan dengan kamera yang kubawa. Fotografi memang salah satu hobiku berdampingan dengan hobi mendaki gunung. Sebagai pendaki, kami memiliki tiga prinsip dasar yaitu :
1. Tidak membunuh apapun kecuali waktu
2. Tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki
3. Tidak mengambil apapun kecuali gambar
Oleh karenanya, sebagai oleh-oleh di setiap perjalanan pendakian aku selalu mencari spot foto untuk mengambil gambar pemandangan di setiap gunung yang aku daki. Di sela kesibukanku berburu gambar, tiba-tiba Ganis mendatangiku.


"Sendirian aja Kak?" Sapanya


"Eh kamu, Nis. Iya sendirian, Rika sama Sandi ga tau lagi pada sibuk ngapain" jawabku


"Makasih ya Kak yang tadi malam" Ucapnya


"Oh, ga masalah. Emang udah tugas kita kalau ada yang sakit ya harus tanggung jawab" aku menanggapinya dengan santai


Kami pun sama-sama diam. Entah tidak Ada bahan pembicaraan atau memang aku masih sibuk sendiri dengan dunia fotografiku. Yang jelas Ganis masih berada di sekitarku memperhatikan apa yang aku lakukan.


"Kamu ga gabung sama teman-temanmu yang lain?" Tanyaku


"Lagi males aja Kak" jawabnya singkat


"Pacarmu? Oh iya siapa namanya?"


"Alan Kak. Ya lagi males aja sama dia. Lagian dia cuek gitu, tahu tadi malam aku sakit dia ga ngurus sama sekali. Malah asik tidur" jelasnya


"Lah dia malah curhat. Hahahaha. Udah2 mungkin dia kecapekan juga. Maklum lah Kan dia juga belum terbiasa naik gunung" aku mencoba menghiburnya


"Tapi dia tuh...."


"Eh aku udah selesai. Yuk kesana gabung sama yang lain" aku memotong pembicaraannya dan mengajaknya gabung dengan yang lain.


Aku sedang tidak berminat masuk terlalu dalam di urusan pribadinya. Aku juga tidak ingin dianggap memanfaatkan keadaan ketika Ganis sedang Ada masalah dengan pacarnya malah aku seolah mendekat. Maka sebaiknya aku menyudahi obrolan ini dan bergabung dengan teman-teman lainnya.


Aku lantas beranjak mendatangi teman-teman yang lain, dan Ganis juga mengikutiku di belakang. Sekilas aku melihat perubahan ekspresi di wajahnya dan aku tidak terlalu memperdulikannya.


"Ini dia sang pangeran cinta sudah datang bersama sang putri.. hahahahahaha.. abis mojok lu berdua?" Cerocos Sandi begitu aku sampai di hadapannya.


"Itu mulut kampas remnya abis?" Dengusku kesal padanya


"Santai mamen my bro.." ucapnya sambil merangkulku dan aku segera menepis tangannya.


"15 menit lagi Kita turun ya.. biar ga kemalaman nanti sampai rumah" ucapku bernada memberi instruksi pada Sandi dan Rika. Mereka pun langsung paham dan mengkoordinir yang lain untuk bersiap turun.


Sekitar satu jam kemudian kita sudah sampai di camp tempat Kita menginap semalam. Tanpa banyak membuang waktu, kita segera berbenah membereskan semua barang yang masih tertinggal, packing, membersihkan sampah dan bersiap jalan turun ke Basecamp. Ketika semua sudah beres dan kita hendak mulai perjalanan turun, tiba-tiba hujan turun. Otomatis aku harus berkoordinasi ulang, sebab perjalanan turun dalam kondisi hujan jelas lebih berbahaya karena licin. Aku mengatur ulang kelompok dengan formasi jalan berselang-seling cowok-cewek dan seterusnya di luar tim leader dan sweeper.


Butuh waktu sekitar 3 jam untuk turun ke Basecamp dalam kondisi hujan dan licin. Meski harus ekstra waspada, akhirnya kami pun sampai di Basecamp dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Dan dilanjutkan perjalanan menuju kota kami menggunakan kendaraan yang sudah kami Sewa.


***


Sesampainya di rumah, setelah membersihkan badan, aku segera merebahkan diri di kasur. Mencoba mengistirahatkan badan yang sudah sangat letih karena perjalanan pendakian sebelumnya.


Entah berapa jam aku tertidur, tiba-tiba aku terbangun karena suara handphoneku yang berdering dengan membabibuta.. kulihat dilayar terpampang panggilan masuk dari Rika


"Halo" jawabku dengan suara parau karena baru bangun tidur


"Baru bangun Ga?" Tanyanya di seberang sana


"Iya Rik. Capek banget aku" jawabku


"Salah sendiri ga tidur kemarin. Galau mulu sih"


"Jam berapa nih?" Tanyaku


"Jam 8 pagi Argaaaa" jawabnya


Buset ternyata aku tertidur selama 14 jam. Batinku


"Lah udah pagi aja ternyata" kataku masih dengan nada malas


"Jalan yuk Ga"


"Kemana Rik?"


"Terserah sih. Kamu aja yang tentuin"


"Di rumahmu aja lah Rik. Ngobrol di rumahmu"


"It namanya bukan jalan Arga. Males banget sih. Yuk ah.. buruan Mandi terus langsung jemput aku.. tut.. tut.. tut" dia mematikan telponnya sepihak.


Ya begitulah Rika. Pokoknya maunya dia ga bisa ditolak. Aku pun segera bangun, mandi dan bersiap ke rumah Rika menjemputnya.


Sesampainya di rumahnya, ternyata dia sudah menunggu di teras dan hendak langsung mengajak pergi.


"Ayo langsung jalan aja, Ga" katanya


"Entar dulu lah Rik, aku istirahat dulu. Tawarin minum kek, sarapan kek" jawabku


"Iya kakeeek.. bawel banget kayak kakek2 mau kimpoi aja.. hahahaha" ucapnya seraya mengajakku masuk ke rumahnya


"Bu Dina ada di rumah gak Rik?" Tanyaku. Bu Dina adalah mamanya Rika.


"Lagi pergi tadi pagi sama Mbak Desi" jawabnya. Mbak Desi adalah kakaknya Rika.


Rika ini 3 bersaudara yang semuanya cewek. Kakaknya yang pertama sudah nikah namanya Mbak Resti, sekarang tinggal di luar kota bersama suaminya, kakak  kedua Mbak Desi lulus kuliah tahun lalu, sudah kerja di salah satu perusahaan swasta di kotanya, Dan Rika adalah anak bungsu yang bawelnya minta ampun. Masih kuliah di salah satu Univ. Negeri di kotanya jurusan psikologi waktu itu (2005). Uniknya, aku dengan mbak Desi ini seumuran, dulu sekolah di SMA yang sama, bahkan pernah satu kelas waktu kelas Dua. Tapi justru aku malah dekatnya dengan adiknya, si Rika yang selisih 2 tahun di bawahku. Mungkin gara-gara Rika adalah sahabat dekat Dita waktu dulu aku masih pacaran dengannya, jadinya aku malah sahabatan dekat dengan Rika bukan kakaknya yang seangkatan denganku.


"Es sirup ya Rik" teriakku padanya yang sekarang sedang di dapur hendak mengambilkan minum untukku.


"Kamu kira warung? Seenaknya pesen" protesnya


"Yaelah sama aku gitu amat Rik."


"Air cucian piring aja ya.. pake es nih special buat Arga.. hahahaha" teriaknya dari dapur


"....." Aku tak menjawab karena sedang asik utak atik handphone.


"Nih diminum dulu.. buruan.. habis itu jalan" ucapnya seraya meletakkan segelas es sirup di depanku.


"Makasih sayang Rika.. baik deh..." Ucapku menggodanya


"Sayang sayang.. pala lo peyang" jawabnya


Ya begitulah aku dan Rika. Kalau orang yang belum benar-benar mengenal kami pasti mengira kami pacaran. Karena kedekatanku dengannya sudah seperti orang pacaran.


"Yuk ah jalan sekarang" ajaknya lagi


"Dih ga sabaran amat sih neng. Emang mau kemana sih?" Jawabku


"Terserah, yg penting jalan" sambungnya


"Jangan ke mall ya.. males" ucapku lagi


"Laaah padahal aku pengen nonton, Ga"


"Lain kali aja. Ke taman aja ya" ajakku


"Terserah deh.. yang penting keluar"


Dan kamipun menuju ke taman yang dimaksud. Sesampainya di taman aku ajak Rika nongkrong di kursi taman yang tersedia sembari menikmati minuman dan cemilan. Dan kami pun ngobrol santai tentang banyak hal.


"Ga, kalo disuruh milih, antara Dita dengan Ganis kamu milih siapa?" Tanyanya


"Milih kamu Rik" jawabku sambil menaik turunkan alis gestur menggodanya


"Serius dodol" sambarnya sambil mencubit perutku


"Sadis bener neng sama suami. KDRT ini namanya" ucapku sambil mengelus perut bekas cubitannya yang ternyata benar2 sakit.


"Suami2.. ogah aku nikah sama kamu Ga" ucapnya


"Kenapa ogah Rik? Lihat nih, aku ganteng, baik, pengertian, tidak sombong dan rajin menabung" ucapku cengengesan


"Kamu bukan tipeku. Mending aku cari yang lain aja" jawabnya


"Eh pertanyaanku tadi dijawab dulu" sambungnya


"Susah jawabnya Rik. Aku ga bisa bandingin antara mereka berdua. Tepatnya belum tahu membandingkannya dari segi apa" jawabku


"Kalau soal tampang, mereka berdua sama-sama cantik. Dita, tahu sendiri lah cantiknya seperti apa, kamu aja jauh Rik.. hehehehe.. Ganis, cantik juga.. mereka sama2 punya rambut panjang. Jadi ga bisa kalau mau bandingin soal tampang. Kalau soal kepribadian, Dita itu tipeku banget. Cuma setelah ketemu lagi aku jadi kurang yakin, tahu sendiri kan? Sedangkan Ganis, aku belum begitu mengenalnya, jadi aku belum bisa menilai" sambungku panjang lebar


"Ganis itu suka sama kamu, Ga" ucapnya


"Sembarangan aja kalo ngomong" timpalku


"Aku dan dia sama2 cewek ga. Aku tahu dari caranya memperhatikan kamu. Dari sorot matanya saat melihatmu jelas kelihatan kalo dia suka sama kamu" sambungnya


"Dia itu punya pacar Rik"


"Bentar lagi juga putus. Lihat aja nanti"


"Sembarangan aja nih kalo ngomong nenek lampir"


"Yeeee dibilangin ga percaya"


"Bodo amaaat"


"Aku gak ada perasaan apa2 sama Ganis, Rik. Aku menanggapi dia juga sewajarnya. Ga ada yg diistimewakan sama sekali" sambungku


"Ya udah terserah kamu sih, Ga. Aku cuma sekedar ngingetin. Jangan sampai kamu menyiksa dirimu sendiri di bawah sinar matahari yang panasnya menyengat. Sedangkan ketika malam tiba, kegelapan akan menggantikan sinar matahari tadi. Padahal di antara gelapnya malam masih ada sinar rembulan yang cahayanya teduh menenangkan jiwamu" ucapnya


"Tapi esoknya matahari akan bersinar lagi menggantikan gelap malam, Rik. Dan rembulan akan menghilang" timpalku


"Rembulan ga pernah menghilang saat siang hari, Ga. Dia hanya diam mengalah dari matahari. Dia lebih suka memberi cahaya di kegelapan malam untuk memandu jalan kita supaya tidak tersesat"


"......" Aku hanya terdiam memikirkan apa yang diucapkan Rika. Apa benar Ganis adalah cahaya rembulan yang akan memandu jalanku di kegelapan supaya tidak tersesat? Atau justru Rika sendiri lah cahaya bulan itu? Entahlah..


"Kenapa diem? Mikir sekarang?" Sambungnya


"Laper Rik... Makanya aku diem" ucapku dengan nada memelas
image-url-apps
Quote:


Siap sudah di update satu lagi om..
image-url-apps
Quote:


Tambah lagi lah om updatenya...emoticon-Ngakak
image-url-apps
beeh berat banget pilihannya tuh
image-url-apps
Quote:

Siap om.. ditunggu saja..

Quote:


Disimak ya gan
image-url-apps
Quote:


sip ganemoticon-army

wah roman" nya rika suka tuh sama lu ganemoticon-Big Grin

7. Bersamanya

image-url-apps
Hari terus berganti sejak pertemuanku dengan Rika. Aku menjalani hari-hariku dengan biasa. Bekerja, nongkrong, jalan dengan Dita Dan sesekali kuliah. Lantas Ganis? Aku tidak terlalu memperdulikannya. Dalam kata lain aku cuek dan berharap perasaannya padaku akan memudar dengan sendirinya. Meskipun aku masih sering ketemu dengannya, setidaknya seminggu sekali di pertemuan rutin organisasiku, tetapi aku tidak pernah memberikan perhatian lebih atau berbeda dengan yang lain. Aku memperlakukannya sama dengan yang lain sebagai anak didikku.


Semakin Hari aku jadi semakin dekat dengan Dita. Rika juga sudah dekat lagi dengan Dita. Bahkan kami terkadang jalan bertiga. Hari-hariku kini kembali indah seperti dulu saat masih berpacaran dengan Dita. Meski kini aku dan Dita masih belum Ada kejelasan mengenai hubungan kami, dalam arti tidak ada pernyataan atau kesepakatan bahwa kami berpacaran lagi. Tetapi aku menikmati saja apa yang ada. Dan Dita pun sepertinya sama seperti itu. Dalam setiap pertemuan, kami tidak pernah membahas mengenai hubungan kami berdua. Kita hanya menikmati suasana saat berdua, menikmati moment2 bersama dan yang jelas kami bahagia. Atau mungkin mencoba bahagia. Atau bahkan berpura-pura bahagia. Entahlah.


"Kamu pernah menyesal karena mengikuti kata hatimu gak, Ga?" Tanya Dita di suatu sore saat kami nongkrong di sebuah cafe.


"Maksudnya?" Aku balik bertanya


"Ya simpelnya, kamu pernah menyesali keputusanmu akan sesuatu gak?" Sambungnya


"Entahlah, Dit. Entah dikatakan menyesal atau tidak aku tidak tahu. Yang jelas kecewa pada diri sendiri karena sebuah pilihan yang aku ambil sih pernah. Tapi seiring dengan jalannya waktu akhirnya aku bisa menerimanya" ucapku mengarah pada peristiwa perpisahan kami dulu.


"Aku harap kamu jangan seperti itu lagi ya, Ga. Aku tahu kamu orang yang kuat. Kamu bisa jadi panutan untuk anak2 organisasi. Pastinya kamu bisa jadi panutan untuk dirimu sendiri" ucapnya


"Aku sudah pernah merasakannya kekecewaan itu, aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya. Kali ini aku akan mempertahankannya sekuat tenagaku" sambungku


"........" Dita hanya diam Dan tersenyum penuh arti padaku.


***


November 2005
Siang itu aku sedang bersiap untuk pergi camping di salah satu kaki gunung bersama Dita. Ya, hanya camping saja bukan mendaki sampai ke puncak. Karena Dita masih selalu menolak ajakanku mendaki gunung. Ketika seluruh persiapanku hampir selesai, terdengar notifikasi sms dari HPku. Ternyata sms dari Dita.


"Aku udah siap, Ga. 15 menit lagi jemput di terminal aja ya.. aku nitip motor di penitipan deket terminal"


"Aku jemput di rumah aja ya Dit"


"Jangan, diterminal aja"


"OK"


Aku mengerti kenapa Dita minta dijemput di terminal, bukan di rumahnya. Ya, karena kejadian dulu aku pernah diusir dari rumahnya oleh keluarganya. Mungkin Dita masih takut kejadian seperti itu akan terulang lagi. Aku mengerti, dan aku belum mau merusak kebersamaan kami dikarenakan hal tersebut. Jika memang nantinya kami akan berjuang demi hubungan kami, kami akan melakukannya bersama setelah aku dan Dita sudah benar2 yakin. Untuk sementara jalani saja dulu apa yang ada sekarang.


Tak lama berselang seluruh persiapanku sudah selesai dan akan segera menjemput Dita dengan sepeda motorku.


"Udah lama Dit?" Tanyaku begitu sampai.


"Baru aja kok Ga. Langsung jalan?" Jawabnya


"Iya.. yuk Naik" ajakku


kami pun menuju ke lokasi camping di sebuah kaki gunung yang harus kami tempuh selama 3 jam mngendarai motor. Sesampainya di lokasi, aku langsung mendirikan tenda dan menata semua barang bawaan kami. Kami menikmati suasana kaki gunung ini dengan udara sejuknya serta pemandangan yang bisa memanjakan mata yang melihatnya. Hingga waktu berlalu dan sore telah berganti malam.


"Enak suasananya ya, Ga. Damai rasanya berada di tempat begini" ucap Dita yang sekarang sedang duduk di sebelahku sambil menatap lampu Kota di kejauhan sana. 


"Damai karena tempatnya, atau karena orang yang ada di sebelahnya?" Ucapku menggodanya


"......" Dita hanya tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di pundakku. Dan spontan aku langsung merangkulnya. Tidak ada penolakan darinya, justru Dita semakin merapatkan badannya padaku.


Selanjutnya kami berdua hanya diam menikmati suasana malam di kaki gunung sambil menyelami pikiran kami masing-masing. Ada sedikit kegundahan dalam hatiku. Satu sisi aku bahagia karena sosok Dita disampingku. Perempuan yang sangat kusayangi sejak dulu. Tapi di sisi lain ada semacam rasa takut. Rasa takut bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa semua ini nantinya akan segera berakhir. Hingga beberapa saat kemudian lirih aku mendengar suara isak tangis. Tangisan Dita.


"Kenapa Dit? Ada yang salah?" Tanyaku sambil mengusap pelan punggungnya untuk menenangkannya.


"......." Dita tidak menjawab. Dia lantas melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dan membenamkan wajahnya di dadaku. Dia masih menangis lirih.


Aku pun membalas pelukannya dan membiarkannya menangis sepuasnya di pelukanku. Mungkin itu akan membuatnya tenang.


Hingga beberapa saat kemudian sudah tidak terdengar lagi suara tangisannya. Dan Dita perlahan melepas pelukannya kembali menyandarkan kepalanya di pundakku.


"Maaf ya Ga, aku tiba2 nangis ga jelas" ucapnya


"Kalau itu bisa membuatmu tenang, menangislah sepuasnya di pelukanku Dit. Aku akan selalu ada buatmu" ucapku untuk menenangkannya.


"Aku denger Ada anak baru yang suka sama kamu ya Ga?" Tanyanya sambil mendongakkan wajahnya menatapku.


"Haaa.. Rika nih pasti yang ember" ucapku sambil menghela nafas.


"Hehehehe.. Iya aku diceritain sama Rika. Tapi kamunya cuek katanya" sambungnya


"Bukannya cuek Dit. Hatiku sudah ada yang punya. Jadi ngapain aku tanggapi. Lagian udah beberapa minggu ini aku ga lihat dia deketin aku kok. Mungkin karena aku bersikap sewajarnya, ga ngasih harapan, jadi dia mundur dengan sendirinya" sambungku.


"Siapa yang punya, Ga? Eh tapi ga gampang loh perasaan cewek ilang begitu aja. Apalagi kalau dia benar2 suka" ucapnya


"Ya ini yang duduk di sebelahku" ucapku sambil menggodanya


"Biarain aja lah. Tar lama2 juga dia udah lupa. Apalagi masih muda gitu masih gampang beralih perasaan sukanya" sambungku


"Iya2 yang udah tua.. udah kakek2.. hihihi" ucapnya


"Lhah kamu nenek2 Dit.. hahahaha"


"Hahahaha" Kita pun tertawa bersama


Kami pun kembali ngobrol tidak jelas hingga malam semakin larut dan hingga kami sama-sama diam karena sudah kehabisan bahan obrolan.


"Kamu ga tidur, Ga?" Tanyanya memecah keheningan


"Kalau kamu udah ngantuk tidur aja dulu Dit, nanti aku nyusul" jawabku


"Temenin..." Ucapnya manja


"Ayuuuk" jawabku sambil cengengesan


"Iiiih... Dasar mesum" sahutnya sambil mencubit perutku


Kami berdua pun memasuki tenda dan tidur karena memang sudah larut malam. Beneran tidur ye, bukan tidur2an.. Hingga ketika subuh datang, Dita membangunkanku.


"Ga bangun.. sholat subuh dulu yuk terus lihat matahari terbit" ucapnya membangunkanku


"Hhhmmmmm... Bentar Dit, lima menit dulu.. ucapku malas2an..


"Idiiih.. masih belum sembuh juga malasnya" sambungnya. Dan Kali ini sambil toel-toel perutku. Karena geli terpaksa aku pun bangun.


"Iya2, masih belum sembuh juga bawelnya" ucapku


Aku pun bangun, mengambil wudhu dan sholat subuh bersama Dita. Setelah sholat kami berjalan2 di sekitar lokasi camp mencari spot yang bagus untuk melihat matahari terbit. Tak lupa aku bawa kamera untuk mengabadikan suasana matahari terbit yang tentunya indah, ditambah hadirnya Dita pastinya menjadi jauh lebih indah.


Suasana pagi di lokasi camp kaki gunung ini memang terkenal indah ketika matahari terbit karena menghadap ke timur dan di depannya tidak terhalang bukit yang lebih tinggi. Jadi saat beruntung (cuaca cerah) Kita bisa melihat matahari seolah muncul dari dasar bumi. Aku dan Dita menikmati moment ini. Moment yang tidak mungkin bisa kita nikmati setiap hari. Tetapi ada harapan untuk sesering mungkin menikmati moment seperti ini nantinya. Semoga saja, dan semoga Dita juga memiliki harapan yang sama.


Setelah puas menikmati suasana matahari terbit, aku dan Dita kembali ke tenda untuk sarapan. Kami berdua memasak menu sederhana khas pendaki gunung. Kami memasak dengan gembira, terkadang disertai candaan2 yang bisa membuat kami terpingkal-pingkal bersama. Hingga masakan matang dan kami makan bersama. Satu nesting berdua.


"Ga, Rika punya pacar ga sih?" Tanyanya disela makan.


"Gak tau aku Dit, Kan kamu yang sahabat deketnya" jawabku


"Dia gak pernah cerita, Ga. Kalo pas ketemu malah ngobrolin kamu mulu" ucapnya


"Wah, ngomongin yang gak2 nih pasti" timpalku


"Hihihihihi.. yaaa kejelekan2mu diumbar semua, Ga" ucapnya sambil tertawa


"Waduh buka aib nih anak" ucapku.


"Kok kamu ga pacaran sama Rika aja, Ga?" Sambungnya


"......" Seketika aku terdiam mendengar pertanyaan Dita.


"Laaah.. gila apa Dit. Rika itu sahabatmu, ya meskipun aku sama dia juga deket, tapi aku ga bisa. Lagian aku juga ga ada perasaan apa-apa sama Rika, kecuali perasaan sayang kepada sahabat. Murni karena sahabat Dit" jelasku


"Tapi kalo aku lihat Rika sebenernya juga ada perasaan suka juga sama kamu loh, Ga. Dan aku juga ga masalah kok kalo kamu jadian sama Rika. Malah ikut seneng aku. Rika yang udah tahu kamu luar dalam pasti bisa bikin kamu bahagia, Ga" ucapnya


"Tetep ga bisa, Dit. Kamu kan juga tahu aku luar dalam. Susah buat aku merubah perasaan sayang dari sahabat menjadi pacar. Ga bisa. Aku nyaman dengan hubunganku sama Rika yang seperti ini. Dan tentunya kamu tahu sendiri hatiku sudah terlanjur terpaut ke seseorang, masih belum bisa dan belum mau aku hilangkan" sambungku


"Kalau ga dicoba ga akan tahu, Ga" ucapnya lagi


"Aku ga mau ambil resiko Dit. Artinya kalau aku coba, iya kalau berhasil, kalau gagal nantinya pasti aku jadi jauh sama Rika. Mau balik lagi jadi kayak sekarang pasti susah, bahkan bisa saja gak mungkin karena udah pernah pacaran pasti akan beda rasanya. Dan aku gak mau nyakitin dia" jawabku


"Ya sudah, yang penting kamu jagain Rika terus ya, Ga. Aku nitip dia ke kamu" ucapnya agak lirih.


"Pastinya Dit. Aku bakal jaga terus kalian berdua" ucapku. Tapi dari perkataannya yang terakhir, aku merasakan Ada sesuatu yang ganjil. Seolah Dita hendak meninggalkanku lagi. Semoga saja ini hanya buah dari rasa khawatir saja, bukan karena pertanda akan sesuatu.


Usai sarapan, aku mulai berbenah membereskan semua barang yang kami bawa dan membersihkan lokasi camp karena setelah ini kami akan mampir ke lokasi wisata di dekat area camp dan lanjut pulang.


Ketika aku dan Dita sedang berjalan-jalan di tempat wisata itu, tiba-tiba masuk notifikasi sms di hpku. Setelah aku buka ternyata nomor asing dengan isi sms seperti ini :

Spoiler for sms:
×