alexa-tracking

Kejawen Ajaran Ki Ageng Suryomentaram

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aececdddbd7702a228b4574/kejawen-ajaran-ki-ageng-suryomentaram
Kejawen Ajaran Ki Ageng Suryomentaram
Kejawen Ajaran Ki Ageng Suryomentaram

Nasaruddin Umar

Kejawen Ajaran Ki Ageng Suryomentaram

(Foto: ilustrasi)


SALAH satu ajaran Kejawen yang popular di dalam masyarakat Jawa kontemporer ialah Kejawen Ajaran Ki Ageng Surmentaram (KAKAS). Ajaran ini dikembangkan oleh Ki Ageng Suryomentaram, yang lahir pada 20 Mei 1928.

Ia merupakan putra ke 55 dari 79 putra-putri Sri Sultan Hamengkubuwoino VII. Ketika berusia 18 tahun ia diangkat sebagai pangeran bergelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram. Ia termasuk rajin mempelajari sejarah, filsafat, dan ilmu agama.

Suatu saat ia meminta untuk berhenti menjadi pangeran karena ia lebih tertarik untuk hidup bebas bersama masyarakat luas. Ia tidak betah tinggal di istana dan merasa bagaikan hidup di dalam kurungan. Permintaannya baru dipenuhi ketika Sri Sultan Hamengkubowono III.

Ia memilih menjadi petani dan membeli tanah di Bringin Salatiga lalu bertani sebagaimana masyarakat di lingkungan sekitarnya. Ia lebih dikenal sebagai Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. (Lihat hasil penelitian Kementerian Agama: Direktori Paham, Aliran, dan Gerakan Keagamaan di Indonesia, 2012).

Dalam melakukan pengembaraan spiritual, ia diidampingi oleh isterinya bernama Nyi Ageng Suryomentaram. Suatu saat Ki Ageng membangunkan isterinya lalu menceritakan pengalaman batinnya yang selalu tidak puas dan kecewa dengan berbagai hal. Ia pun sudah menemukan cara mengatasinya.

Ia menjalani kehidupannya dengan banyak berjalan dan bepergian sambil memperhatikan lebih mendalam pengalaman batinnya sendiri. Akhirnya di 1928 hasil pengamatan dirinya ditulis dalam bentuk puisi lalu dijadikan buku dengan judul Uran-uran Beja.




Kumpulan wejangan-wejangan ini dibukukan oleh putranya, dr. Grangsang Suryomentaram dan Ki Oto Suastika. (Lihat hasil penelitian Kementerian Agama: Direktori Paham, Aliran, dan Gerakan Keagamaan di Indonesia, 2012).

Inti ajaran KAKAS lebih banyak bersifat sufistik yang mengajarkan kesederhanaan, keikhlasan, dan kesabaran. Ketenteraman hidup dapat dirasakan setiap orang manakala mampu mengendalikan berbagai keinginan.

Hidup ini pasti selalu diwarnai oleh hal-hal yang bersifat kontradiksi seperti senang dan sengsara, ketawa dan menangis, serta gembira dan sedih. Penyebab utama kekecewaan dalam hidup ialah terlalu besarnya tuntutan keinginan. Jika seseorang mampu mengendalikan keinginan maka tingkat kekecewaan hidupnya akan berkurang.

Ajaran lainnya ialah filsafat rasa yang lebih dikenal dengan istilah: Pangawikan Pribadi (Pengenalan diri sendiri). Dalam mengakaji diri ditemukan dua macam obyek, yaitu obyek benda mati dan obyek benda hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.

Manusia memiliki rasa hidup, dan rasa hidup inilah yang mendorong manusia untuk selalu bergerak. Manusia adalah makhluk yang paling mobile, membutuhkan ruang, dan terikat oleh waktu. Karena itu, manusia membutuhkan bimbingan dan tuntunan agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi ini.

Pada umumnya praktek ajaran formal KAKAS sama dengan umat Islam mainstream. Umumnya mereka menggunakan praktek ajaran Islam seperti shalat lima waktu dan rukun Islam lainnya. Mereka umumnya menolak untuk tidak disebut muslim. Apa yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dianggap tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam, meskipun dari kalangan umat Islam sering ada yang menudingnya sebagai kelompok aliran kepercayaan.

Jika dianalisis hasil penelitian Kementerian Agama, maka KAKAS tetap berada di dalam koridor Islam. Apalagi mereka tetap memilih Islam sebagai agama resmi dan tertera di dalam KTP mereka. KAKAS mungkin lebih tepat disebut kelompok Islam yang bercorak tasawuf. [bersambung]

https://m.inilah.com/news/detail/220...-suryomentaram
×