alexa-tracking

True Feeling

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad4c922d9d7701b378b4575/true-feeling
True Feeling
WELCOME TO MY FIRST THREAD
"TRUE FEELING"

Perkenalkan gan, ane akun lama tapi masih newbie di kaskus.
Ane orangnya suka banget baca thread, apalagi di H2H dan SFTH. Maka dari itu, setelah ane udah lama jadi silent reader, ane ingin ikut berpartisipasi untuk membuat thread atau cerita serupa. Dan, ini merupakan thread SFTH yang pertama kali ane buat. Maka dari itu gan, kritik dan saran dalam penulisan sangat diharapkan gan, khususnya untuk ane sendiri dan umumnya untuk agan/sista sekalian yang nonkrong di mari.

***


DAFTAR ISI

#1
Quote:

***

1. Prologue

Perkenalkan, nama gua Farid. Gua masih duduk di kelas 3 SMP. Gua pendek, terpendek diantara temen-temen sekelas gua. Hobbi gua berolahraga, main games, dengerin musik, dan masih banyak lagi. Olahraga yang paling gua senangi adalah sepakbola, futsal dan badminton. Gua mengisi posisi kiper baik di kelas gua jika ada kejuaraan antar kelas atau porak.

Ya, emang sepakbola merupakan olahraga yang gua tekuni dari dulu SD. Banyak momen atau pengalaman yang ane dapatkan dari banyaknya turnamen yang ane ikuti, walaupun bisa dibilang prestasi terbaik ane hanya mencapai semi final doang. Liat kebersamaan di dalam atau luar lapangan, ngerayain kemenangan, selebrasi ketika temen ane mencetak gol, atau bahkan liat langsung temen ane patah tangan saat permainan berlangsung. 

Selain olahraga juga, ane juga suka bermusik dan ane punya hobbi yang jarang diketahui banyak orang. Ane juga sangat menyukai seni asli Indonesia, yang bernama wayang. Kata orang tua ane dulu, ane bisa membaca dan menulis karena mendengar dan selalu menonton pertunjukan wayang. Ane juga bisa dibilang maniak dalam mengoleksi berbagai CD dari pertunjukan wayang itu sendiri. Wayang merupakan pertujukan rakyat yang sarat akan pelajaran hidup, dan didalamnya terdapat gabungan beberapa macam seni seperti tari, drama, musik, dan lain sebagainya. 

Beberapa hari terakhir ini, ane disibukkan dengan berbagai macam kesibukan di sekolah. Karena ane juga termasuk salah satu anggota organisasi intra sekolah yang akan lengser jabatan, maka biasanya akan dilaksanakan acara latihan dasar kepemimpinan untuk adik-adik kelas ane yang akan memegang jabatan dan memimpin organisasi setahun ke depan setelah kami lengser. Selain acara latihan dasar juga, minggu ini jadwal nya bertabrakan dengan diadakan pekan olahraga kelas, dan sialnya ane dipercaya temen-temen sekelas ane jadi penjaga gawang di sana. Senin-Sabtu ikut Porak, dan Sabtunya harus menginap di sekolah karena acara latihan dasar. Menyebalkan juga.

Hari-hari porak berjalan seperti biasa. Tiap harinya ada pertandingan, dan seperti biasa ada beberapa clash yang membuat situasi pertandingan menjadi sedikit di luar kendali. Tetapi karena ini merupakan porak terakhir kami sebagai kelas 3, ya tiap kelas sepertinya memerintahkan tiap anak-anaknya untuk tetap menjaga batasan-batasan yang seharusnya tidak mereka lewati. Semuanya aman, clear tanpa ada halangan apapun. Namun, ane merasakan ada hal yang janggal disini. Seperti ada seseorang yang mengawasi ane dari kejauhan, baik saat ane bermain ataupun ane menjadi pengurus pertandingan. Apakah cuma perasaan ane semata? Atau memang ada yang diam-diam tak suka pada ane dan mengawasi ane? Hingga porak selesai, nyatanya tak ada halangan berarti. Kelas ane sendiri menjadi juara 2 futsal, ane memutuskan ga main saat final karena cedera dan mempersiapkan segala hal untuk malam nanti saat acara latihan dasar, jadi gawang kelas ane dibobol belasan gol, hahaha.

Yup, setelah porak selesai pada hari Sabtu siangnya, ane memutuskan untuk pulang ke rumah mengambil beberapa perlengkapan, kemudian kembali ke sekolah saat sore hari. Cedera ane makin terasa, paha bagian ane bengkak sekali sore itu. Sambil menahan sakit, ane ikut mempersiapkan segala hal dan kebutuhan saat acara malam nanti. Kebanyakan acara dilaksanakan di aula sekolah, sehingga kami sebagai panitia dapat lebih mudah mengatur segalanya. Sudah banyak temen-temen panitia ane yang ada di aula, termasuk Aji dan Diana. Aji merupakan anak kelas 3C, dan Diana anak 3D.

"Darimana aja lu? Baru dateng jam segini?" tanya Diana ke gua, dengan nada sedikit memarahi ane.

"Sorry, gua abis balik kerumah ambil perlengkapan juga. Lagian, gua kan cape abis bawa tim kelas ane ngalahin kelas lu, dan juara 2 akhirnya." ane meyinggungnya dengan nada bercanda. Karena memang saat porak kemarin ane berhadapan dengan kelas Diana di semifinal, dan kelas ane yang jadi pemenangnya. Ane juga bisa liat Diana menonton pertandingan kami saat itu, tapi entah siapa yang ia dukung.

"Huu songong yaa, mentang-mentang temen gua gabisa jebol gawang lu kemaren" timbal Diana dengan kesal, mukanya sambil sedikit manyun.

"Yaudah rid, lu keatas dulu gih, simpen barang lu dulu terus bantuin kita. Gua sama Diana mau ke kantor dulu nyari Pak Kardi." Aji menyahut dengan tiba-tiba. Mungkin dia ngerasa dikacangin sebelumnya.

"Wokee, laksanakan." balas ane cepat.

"Kami duluan ya" ujar mereka berdua sambil meninggalkan gua di tangga aula.

***

Memang, momen itu sangat cepat sekali, tapi siapa sangka, momen secepat itulah yang akan membuat sesuatu yang besar nantinya. Momen yang akan selalu ane ingat, sampai sekarang. 
image-url-apps
Nenda dulu bre

#2

"Berdua"

Setelah ane menyimpan tas ane yang berisi makanan dan pakaian untuk menginap, ane kemudian dengan cepat menyusul Aji dan Diana yang tadi pergi ke ruang guru untuk menemui Pak Kardi. Setelah menemui Pak Kardi, kami diperintakan untuk memanggil anak-anak agar segera memasuki aula, untuk memulai acara latihan dasar. Seperti biasa acara diawali dengan doa bersama, kemudian pemaparan tujuan dari acara yang akan kami laksanakan dari malam hingga sore hari. Ternyata, banyak juga teman-teman ane yang tidak dapat mengikuti acara ini. Walaupun begitu tak menyurutkan semangat ane, walaupun rasa nyeri di paha masih terasa.

Waktu menunjukan pukul 8 malam. Para peserta diarahkan untuk melaksanakan makan malam bersama dengan peserta lain. Panitia pun turut mengisi perutnya yang sudah mulai berbunyi. Ane melihat Diana yang sepertinya sangat kelaparan, makan dengan lahap dan cepat. Baru kali ini ane melihat perempuan makan dengan brutal, haha. Setelah acara makan selesai, peserta kembali melanjutkan materi-materi yang diberikan para guru. Kami panitia siswa hanya menyaksikan peserta dan mengawasi berbagai hal. Hal-hal lucu disini banyak terjadi, ada yang mengantuk, mengobrol, atau bahkan tak mengerti apa yang disampaikan oleh pemateri.

Pastinya, senioritas dapat dirasakan sangat kental dalam acara seperti ini. Omongan dengan nada yang keras dan tinggi kerap telontar dari panitia. Tapi, yang ane syukuri adalah tidak sampai ke kontak fisik. Ya mungkin ada maksud lain dari kata-kata bernada tinggi seperti ini, dan memang kami diinstruksikan oleh para guru seperti itu, tentunya dengan batasan masih diambang wajar. Memang setelah ane timbang dan bandingkan tidak sekeras saat di SMA, tapi memang jika ane di posisi para peserta, tegang dan serba salah pasti terasa saat senior berbicara dengan nada tinggi di depan ane.

Setelah materi selesai, pada pukul 12 para peserta digiring ke lapangan upacara. Rencananya akan dilaksanakan jurit malam, yaitu dengan mengunjungi tiap pos yang telah ditentukan. Jurit malam dilaksanakan di luar area sekolah, sehingga kami para panitia siswa harus sangat ekstra hati-hati agar tidak terjadi apa-apa terhadap adik kelas kami. Tiap pos diisi oleh 2 panitia siswa, ada pula pos yang khusus diisi oleh panitia guru. Ane sendiri pada awalnya menjadi pendamping, namun ane akhirnya ditunjuk menjadi penjaga pos. Tebak dengan siapa ane menjaga post? Diana.

Ane dan Diana akhirnya berjalan berbarengan menuju tempat yang akan dijadikan pos. Para penjaga pos lainya pun sudah mulai menyebar ke tempat pos nya masing-masing. Ane juga baru melihat Hardi, teman sekelas ane yang juga ikut acara latihan dasar. Tapi sepertinya ia juga cedera seperti ane, karena dia terlibat insiden cukup kerasa saat final tadi siang yang menyebabkan ia agak sulit berjalan.

Dalam perjalanan, Diana dan ane saling bertukar cerita. Kadang, ane menakut-nakuti dia, karena memang daerah yang kami lewati lumayan memiliki kesan angker dari warga setempat. Ane sih biasa aja, karena daerah pos yang ane tempati bersama Diana itu merupakan daerah rumah ane sendiri, jadi bisa dibilang itu daerah kekuasaan ane haha. Tapi bagi Diana, dia sangat waswas melihat ke segala arahm seakan-akan ia takut dengan hal yang muncul tiba-tiba dari balik semak-semak. Ane hanya bisa tertawa melihat sikap Diana yang seperti itu.

"Kenapa lu? Takut?" tanya ane.

"Gara-gara lu sih pake nakutin gua segala" ketus Diana ke gua.

"Hahaha. Santai aja, masih ada lampu, masih bisa liat muka gua kan. Kecuali.."

"Apaan sih ah, nakutin mulu lu bisanya!" sambil memukul bahu gua dengan keras. Wah lama-lama ane bisa jadi samsak kalo gini caranya, pikir ane.

"Eh, Rid. Lu ga cape apa emang dari kemaren main porak, terus sekarang begadang, jaga post lagi?" tanya Diana, dan tanpa terasa ane berdua udah sampai di tempat yang telah ditentukan sebagai pos.

"Cape sih cape, udah gitu masih cedera juga ini paha bengkak. Tapi ya, jalanin aja, toh kita juga terakhiran gini-ginian" timpal ane.

"Cedera lu masih sakit kan? Udah lu kompres belum?"

"Boro-boro. Pulang kerumah aja cuma ngambil baju sama makanan, langsung balik lagi kesini"

"Ohh yaudah deh, ntar pulang acara kompres ya, supaya cepet sembuh juga" balas Diana.

Aneh. Baru kali ini ada cewe yang merhatiin gua. Atau yang mengawasi gerak-gerik ane selama ini adalah dia? Entahlah, ane gakmau musingin mikirin itu, karena rasa nyut-nyutan ane makin kerasa setelah paha ane dipukul Diana karena kembali gua nakutin dia.

"Mau lagi di pukul?" katanya.

***

Gak kerasa gan, seluruh peserta yang dibagi menjadi 10 kelompok yang beranggotakan 3 orang udah melewati pos ane. Ane dapat melihat lelahnya Diana yang selalu mengulang perintah yang sama ke setiap kelompok. Diana juga udah menguap beberapa kali saat berbarengan dengan ane, ya wajar aja siapa yang ingin dini hari menjaga pos sambil melawan dingin. Apalagi daerah tempat tinggal ane yang berada di daerah pegunungan, jangankan dini hari, menginjak pukul 8 malam aja kadang malas untuk keluar rumah. Setelah ane memeriksa segala perlengkapan yang takutnya tertinggal di bekas pos tadi, akhirnya ane dan Diana berjalan untuk kembali ke sekolah, karena start-dan finish dari jurit malam ini adalah di sekolah. Selama perjalanan, Diana udah ngantuk berat gak karuan. Kadang ane menepuk pundaknya supaya dia bisa berjalan dengan benar. Disini pula ane melihat pemandangan yang sangat jarang ane lihat. Langit yang dipenuhi bintang-bintang, bulan purnama yang bercahaya dalam gelapnya malam. Ditambah ane berdua dengan seorang cewek, feelnya beda dengan ane sendirian. Jantung berdegup kencang sekali.

Sesampainya di sekolah, dia langsung masuk ke aula dan tertidur dengan posisi duduk, kedua tanganya menopang wajanya dan menutupinya. Sebelum itu dia berbicara ke ane untuk meminta membangunkanya nanti. Ane pun hanya dapat mengangguk mengiyakan.

"Terimakasih atas perhatian sederhananya, Diana." ucap ane dalam hati.
KASKUS Ads
image-url-apps
Okee bree. Semoga suka dengan strory nyas
image-url-apps
Quote:

Oke gan, semoga suka dengan first story ane

#3

"Dan Semua Berakhir"

Setelah tiba di sekolah, kebanyakan panitia dan peserta menyempatkan diri untuk mengistirahatkan badan mereka akibat lelahnya perjalanan saat jurit malam tadi. Selain Diana yang sudah terlelap dengan posisi yang menurut ane kurang nyaman untuk beristirahat, adapula Hardi, Aji yang ikut terlelap dan mengistirahatkan badan mereka. Ane sendiri terduduk di tangga dan masih sibuk menikmati keheningan lingkungan sekitar ane, di temani dengan cahaya lampu dari aula, dan cahaya bulan dari langit yang indah. Bintang-bintang sangat indah sekali pagi itu. Sekejap, ane merasa bersyukur dapat melihat indahnya ciptaan Tuhan yang sungguh di luar batas kemampuan kita sebagai umatnya. Terlintas dalam pikiran bahwa kita harus menjaga alam agar dapat dimanfaatkan kelak oleh kita, hingga keturunan kita nantinya.

Setelah ane menikmati keheningan pagi itu, ane memutuskan untuk beristirahat, mengikuti teman-teman ane yang sudah terlelap lebih dulu. Ane melihat Diana sudah sedikit berubah posisinya, dan sekarang agak sedikit enak dilihat untuk beristirahat. Entah mengapa pusat perhatian ane selalu tertuju pada Diana. Ane mencari posisi yang enak untuk mengistirahatkan badan yang sedari pagi belum mendapatkan jatahnya. Setelah dirasa posisi tidur ane enak, ane mencoba memejamkan mata. Tapi, semua usaha ane kurang begitu mendapatkan hasil yang memuaskan, karena ane masih saja terjaga sekitar 30 menit. Tapi akhirnya ane tertidur juga.

Pukul menunjukan jam 5 pagi, sialnya ane hanya dapat terlelap selama 20 menit. Yaahh, mau bagaimana lagi, dengan keadaan seperti ini, tertidur sebentar saja merupakan sebuah keajaiban. Setelah ane merasa sudah melepaskan diri dari kuatnya gravitasi bangun tidur, ane berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat shubuh. Air yang dingin cukup untuk membuat ane terjaga. Setelah melaksanakan kewajiban ane, ane teringat dengan permintaan Diana untuk membangunkanya saat acara akan dilaksanakan kembali. Ane kemudian kembali ke aula, dan beberapa panitia sudah ada yang bangun, tapi Diana masih nyaman dengan posisinya. Ane menepuk pundaknya, dan menyuruhnya untuk mencuci muka. Diana hanya mengangguk pada ane.

Matahari sudah mulai naik. Panitia sudah mulai kembali untuk mempersiapkan segala keperluan acara selanjutnya. Ane juga dapat melihat Diana yang telah sadar dari mimpi indahnya. Senang sekaligus lucu, saat melihat muka bangun tidurnya yang penuh keluguan. Kadang, ane membasahi air ke tangan dan menyipratkanya ke wajah nya. Tapi respon yang ane dapat masih pasif, karena sepertinya ia belum sepenuhnya sadar. Acara kemudian kembali dilanjutkan, dan pagi hari ini acaranya hanya sekedar ice breaking bagi para peserta. Kemudian acara ditutup pada pukul 11 siang, dan peserta langsung dipulangkan.

Panitia seperti biasa membereskan segala keperluan yang digunakan sebelumnya. Kali ini, Diana sepertinya telah sadar sepenuhnya. Tiba-tiba dia bertanya ke ane.

"Heh, pulang sama siapa?"

"Sendiri, kenapa? Lu balik sama siapa?" tanya ane balik pada Diana.

"Oh yaudah. Aku balik dijemput, jadi harus nunggu bentar lagi. Mau temenin ga?"

"Boleh, aku temenin".

Dengan spontan ane langsung mengiyakan ajakan dia tanpa pikir panjang dulu. Sambil menunggu Diana dijemput, ane mengemas beberapa barang pribadi ane dan merapihkan ke dalam tas. Tak lama kemudian, sebuah motor menghampiri kami berdua, dan Diana akhirnya menaiki motor tersebut.

"Makasih ya udah nemenin. Hati-hati dijalan pulangnya"

"Iya sama-sama, pegangan ntar kejengkang karena masih ngantuk"

"Ihhh dasar ya. Gaakan lah. Aku duluan ya" ucap Diana yang semakin pelan karena motor sudah melaju dengan cepat.

Hari ini begitu melelahkan. Tapi, semua kelelahan itu sirna saat ane melihat Diana. Sifatnya yang berubah drastis, membuat ane penasaran apa gerangan yang terjadi pada dia. Tapi, ane sangat senang sekali, karena baru kali ini ane mendapat perhatian dari seorang perempuan. Hal ini membuat ane tertawa sendirian sepanjang jalan pulang. Sesampainya dirumah, ane melempar tas dan kemudian langsung menjatuhkan diri di kasur kesayangan. Dan, cerita hari ini berakhir, dengan penuh penasaran, dan bahagia.

#4

"Secret Admirer"

Sore menjelang maghrib, dengan cuaca yang sedikit mendung, matahari tak terlihat tertutup awan di sebelah barat. Setelah berjalan terburu-buru, ane langsung meraba saku celana untuk mengambil kunci kamar kost. Ingin rasanya dengan segera merebahkan badan yang dirasa sudah mencapai batasnya. Engga butuh waktu lama untuk membuka kamar kost, ane kemudian menyimpan tas hitam yang menemani ane kuliah selama enam bulan terakhir. Sialnya, entah mengapa yang tadinya badan ini merasa lelah dan ingin segera pulang untuk mengistirahatkan badan, malah terasa bugar setelah berhadapan dengan kasur empuk nan nyaman ini. Yang tadinya selalu tidak fokus untuk memperhatikan materi-materi kuliah di kelas karena mengantuk, sekarang mata malah terus tetap terjaga seakan ane tidak perlu beristirahat.

Sambil menunggu badan ane kelelahan karena tak kunjung bisa memejamkan mata, ane membuka laptop dari tas kuliah. Kemudian, ane iseng membuka akun Facebook lama ane. Sudah hampir sekitar 2 tahun ane engga membuka akun secara rutin. Dulu, waktu SMP, ane sangat sering login akun hanya untuk bermain game seharian di warnet. Segala game ane coba, dari mulai game ninja-ninjaan, game tentang perjuangan seekor semut, dan masih banyak lagi. Ane kemudian men-klik profile ane. Ane hanya bisa tertawa sendiri, karena ternyata ane pernah alay pada masanya. Timeline ane yang penuh dengan status-status gajelas dan gapenting. Lalu gua membuka history chat dari teman-teman ane. Ada satu chat yang membuat ane terdiam sejenak, mengentikan tawa ane.

***

"Lu dapet kelas berapa?" tanya Andi menanyakan tentang penempatan ane menjadi mentor kelas.

"Gua dapet kelas 7E" timpal gua.

Hari ini merupakan hari pertama MOS. Ane yang termasuk anggota organisasi intra sekolah, pastinya menjadi panitia dalam acara ini. Rasanya baru kemaren gua masuk SMP ini, tapi waktu seakan tak ingin berlama-lama menorehkan cerita-cerita yang "katanya" indah. MOS kali ini, gua bertanggung jawab sebagai mentor kelas. Gua jadi mentor ga sendiri, gua ditemani oleh satu orang panitia. Jadi, tiap kelas memiliki 2 mentor yang bertanggung jawab atas segala hal yang berkaitan di kelas.

Yah, jadi mentor itu susah-susah gampang. Selain bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dikelas dan menjadi penghubung antara siswa dan lingkungan barunya, belum lagi jika apes karena ada sebagian siswa yang masih "ingin bebas". Dan, itu menimpa gua. Kadang, ketika guru gahadir, supaya kelas ga terlalu bosan menunggu, gua harus ngebacot hal-hal gajelas depan mereka, tentunya selain menceritakan sejarah sekolah baru mereka. Kadang ada juga adik kelas yang caper, pura-pura ini dan itu. Tapi berkat itulah, terbangun sebuah ikatan baru antara gua dengan mereka. Selama kurang lebih satu minggu, ane mendampingi kelas menjadi seorang mentor. Hingga akhirnya saat hari terakhir, mereka yang masih mengenakan seragam putih-merah resmi memakai seragam putih-biru. Sungguh pemandangan dan sebuah kepuasan yang menurut gua ga akan bisa diulang lagi.

Setelah acara MOS ini selesai, fokus ane sekarang adalah untuk menghadapi ujian nasional, "monster" mengerikan pada masanya. Seakan ujian nasional menjadi pertaruhan hidup dan mati. Yang tadinya gua sering main, sekarang udah mulai berkurang. Yah, walaupun ini semua menjadi rutinitas yang asing, tapi apa mau dikata demi masa depan lebih baik. Pemantapan untuk mata perlajaran yang diujikan juga mulai dilaksanakan. Terkadang, saat ane jenu dengan semua pelajaran dan butuh hiburan, ane pergi ke warnet untuk bermain game online dan membuka akun Facebook ane.

Saat itu, sekolah dipulangkan lebih awal. Yah, senang juga bisa merasakan pulang lebih awal dari waktu biasanya. Ane berencana untuk pergi ke warnet, untuk melepas penat dengan memainkan hero Grand Templar yang ane dapat secara gratis. Ketika gua hendak pergi untuk pulang, gua dikejutkan dengan seorang cewe yang tiba-tiba memberikan gua sebuah surat. Gua ga mengenali siapa cewe itu, tapi yang gua tau ia merupakan murid baru sekolah gua.

"Mohon diterima, ka" ujarnya.

Kemudian, ia langsung pergi meninggalkan gua yang penuh keheranan. Tapi karena gua masih merasa bodo amat saat itu, gua meyimpan surat itu ke dalam tas, dan gua bergegas untuk pulang dan pergi ke warnet terdekat.

Setelah sesampainya gua di warnet, gua iseng membuka Facebook hanya untuk sekedar log in game-game yang ane mainkan. Tapi, ada satu hal yang menarik perhatian gua. Ada sebuah pesan masuk ke akun gua. Biasanya, pesan yang masuk hanyalah pesan-pesan yang berhubungan dengan game pula. Tapi, kali ini berbeda. Sebuah akun yang gua lihat seksama memiliki foto yang nampaknya familiar. Dan, gua tersadar dengan cewe yang tadi memberikan gua surat sebelum pulang. Foto di akunya sangat cantik, dengan rambut hitam panjangnya yang terurai menghadap kamera.

"Ka, boleh kenalan? Mohon dibaca suratnya ya!" tulisan yang tertera pada pesan masuk Facebook gua.

Kemudian gua melihat timeline akun dia. Dia sangat cantik sekali. Timeline nya dipenuhi dengan foto-foto dirinya. Rambutnya hitam terurai panjang, hidung mancung, dan wajahnya yang sangat natural seakan enak untuk dipandang. Dan, benar dugaan gua, dia merupakan salah satu murid baru sekolah gua. Gua terus saja penasaran dengan dia, dan terus melihat setiap fotonya yang di post dalam timeline.

"Ria, nama yang bagus, sesuai dengan pemiliknya yang cantik." gumam gua dalem hati, sambil asik terus memandangi setiap fotonya.
***

image-url-apps
mantau dulu baca ntar
emoticon-Big Grin

#5

"Ria"

Setelah gua kembali pulang ke rumah sehabis bermain game dari warnet, gua langsung mengambil surat yang tadi gua simpan di dalam tas. Rasa penasaran menyelimutin seluruh isi kepala. Apa yang membuat perempuan sampai segitunya ke seorang cowo? Biasanya sih cowo yang harusnya begitu ke cewe, wkwk. Ya pertanyaan itu memenuhi kepala gua seharian. Setelah gua cek isi tas, surat itu masih terselip rapih dalam buku tugas gua.

Surat dengan amplop warna putih itu gua buka perlahan. Terdapat tanggal di bagian amplop surat, yang gua yakini sebagai tanggal kapan surat ini dibuat. Didalamnya terdapat selembar surat, yang ditulis di atas kertas isi binder, dengan tulisan yang menurut ane cukup rapih.

Quote:

Hmmm. Gua cuma bisa diem sebentar. Gua gatau harus apa yang gua lakukan. Isi suratnya alay menurut gua, tapi yang bikin gua terus suka membaca adalah karena tulisanya yang rapih. Seakan-akan perasaan dia seutuhnya terwakilkan lewat goresan-goresan tanganya. Ah sial, kenapa gua jadi penasaran ingin mengenal lebih jauh orang yang ngirim surat ini ke gua.

***

"Gua harus gimana dong? Gua juga belum kenal siapa yang ngirim surat ini ke gua"

"Yaudah, tinggal cari orangnya, selesai kan?" ujar Hardi ke gua.

"Aduhh. Gapandai lah gua masalah beginian. Di ciee-ciee in sama lu pada aja gua mah malu, apalagi suruh nyari kaya gitu" balas gua.

"Ahh, bacot lu Rid. Udah tau skill mata-mata lu nomor satu di kelas" tiba-tiba Haydar ikut berbicara.

"Ciahh elah, ngada-ngada lu Dar."

"Tapi, kalo ga peduli, kenapa lu masih nyimpan suratnya? Padahal bisa lu buang kan?"

Deg. Mati kutu gua. Gua langsung diem ketika Hardi bertanya seperti itu ke gua.

"Ehh, gu-gua simpen ini surat karena gua suka tulisanya. Perasaan penulis nyampe lewat tulisanya. Itu yang gua rasain" balas gua sambil terbata-bata karena takut salah ngomong/

"Ngaku aja lu kepo dah sama pengirimya. Atau jangan-jangan, temen gua yang satu ini lagi jatuh cinta"

"Cieee, yang punya penggemar"

"Ahh kampret lu pada. Lupakan-lupakan"

"Kalo emang lu bener kepo atau emang ada perasaan, yaudah lu coba cari tau dulu. Siapa tau lu bisa jadian, kan ntar gua dapet pajak jadianya. Ya intinya, lu berusaha cari tau dia siapa dan bagaimana" ucap Haydar ke gua. Kalimat ini yang buat gua selalu terngiang kepada sang pengirim surat.

Hardi dan Haydar merupakan temen sekelas gua. Gua sekelas semenjak kelas 2 SMP. Yaa, sebetulnya ada satu lagi temen deket gua di kelas, namanya Maulana. Tapi, kalo saat-saat gua butuh pencerahan gini, Maul jarang nongol. Mereka lah yang selalu jadi tempat gua berbagi cerita, ngerjain tugas bareng, hampir semuanya.Susah dan senang bareng, dan mereka memang agak gila. Tapi gua seneng bisa gila-gilaan bareng dan punya teman seperti mereka.

***

Bel pertanda pulang sudah berbunyi. Suara terindah yang para siswa ditengah penatnya pelajaran-pelajaran mematikan, belum ditambah dengan guru killer. Apalagi hari ini ane di kelas full tempur melawan Fisika, Matematika, dan tentunya dengan rasa kantuk yang terus menggoda gua untuk menutup mata, tapi akhirnya gua tersadar dengan bantuan suara bel pulang. Sebelum pulang, gua pergi ke kantin untuk membeli air mineral disana. Sekolah ane terdapat sekitar 9 warung berbeda dalam kantin, tapi ane sering mampir untuk sekedar jajan dan "berlangganan" di warung 1, 5 dan 8.

Karena warung kantin ke 1 dan 5 udah nutup, gua akhirnya memutuskan membeli air mineral di warung ke 8, memang karena pemilik warung tersebut rumahnya masih di dalam sekolah gua, sekaligus suaminya menjadi penjaga sekolah gua. Pemilik atau orang yang sering menjaga warung tersebut bernama Bu Wida, dan gua sering memanggilnya dengan panggilan "bu" saja. Gua dengan Bu Wida terbilang sering bercerita mengenai hal-hal yang ada di sekolah, mulai dari perempuan yang gua suka, dan Bu Wida juga sering memberikan "petuah" tentang percintaan.

Alangkah kagetnya gua, ketika hendak membeli air, Bu Wida tengah mengobrol dengan seorang perempuan yang sedikit demi sedikit familiar bagi kepala gua. Ya, Bu Wida sedang mengobrol dengan Ria. Ria tampak begitu mempesona, selain rambut panjangnya yang sebelumnya sudah ane lihat di foto profil nya, lesung pipinya menambah manis dirinya saat tersenyum. Gua sedikit melamun disitu, sampai akhirnya gua lupa bahwa gua ingin membeli air mineral. Setelah gua mendapat apa yang gua inginkan, gua dengan cepat berbalik badan dan pergi.

"Ka!"

Waduh, mati gua. Jelas itu bukan suara Bu Wida, tapi suara Ria. Terpaksa gua berbalik badan dan menoleh padanya.

"Ini kembalian belum diambil" ujarnya.

"Gimana Rid, masih muda udah pelupa. Atau salting liat Ria ada disini?" goda Bu Wida.

Dasar sialan, kenapa Bu Wida tau isi hati gua. Setelah gua berbalik dan mengambil kembalian, gua pamit kepada mereka berdua, dan dengan cepat meninggalkan mereka dengan air mineral di tangan, uang kembalian, dan tentunya rasa malu.
siap gann wkwk, jangan lupa kasih kritik saran yaa
Quote:


image-url-apps
mejeng ah cari bacaan seru

#6

"First Conversation"

Kejadian kemarin saat di kantin masih membekas di pikiran gua. Selain gua menanggung malu, tentunya kehadiran seseorang yang mencoba untuk megutarakan perasaanya denga sepucuk surat ke gua juga menjadi pembeda kala itu. Di kamar gua hanya bisa menerka-nerka isi hati sang pengirim surat, dan tentunya terus mengamati tiap goresan dan lekukan huruf-huruf abjad yang ia tulis di atas kertas. Gua cuma bisa senyum-senyum sendiri kaya orang gila. Orang gila jatuh cinta.

***

Hari-hari selanjutnya tidak ada perubahan yang berarti. Rutinitas sehari-hari, belajar, istirahat, terus seperti itu. Saat istirahat, Hardi mengajak ke gua ke kantin untuk makan. Gua cuma bisa mengiyakan, tapi dengan sedikit rasa waswas, karena gua takut kejadian seperti kemaren bakal terulang kembali. Tetapi, karena di kelas juga gaada apapun yang harus gua kerjakan dan lakukan, gua memutuskan untuk menemani Hardi mencari makan dan sekedar mengganjal perut.

Sesampainya di kantin, Hardi mulai memilih apa yang akan ia santap kali ini. "Pasti makan di kantin Bu Wida" ucap gua dalem hati, seakan ini pertanda atau mungkin feeling gua berkata seperti itu. Emang bener aja, Hardi akhirnya pergi ke kanti Bu Wida. Gua cuma bisa menemani dia sambil tersipu malu dan mengingat hal kemaren yang menimpa gua.

Saat sesampainya di kantin si Ibu, gua melihat sosok yang mulak gak asing buat gua. Yup, dia Ria. Sial, udah ada aja dia disini, ketus gua, tetapi bukan ketus tanda kesal. Bu Wida kemudian menyadari keberadaa ane dan Hardi, dan tiba-tiba Bu Wida bertanya ke Hardi "Eh, kemaren ada yang lupa ngambil kembalian, salting juga lagi". Pasti pernyataan itu di tujukan untuk gua. Gua cuma bisa ketawa kecil aja, sambil melihat si Ria.

Hardi pun ikut menertawakan gua, sambil dia memesan dan menunggu di dalam kantin. Gua sendiri menunggu di luar, karena keadaan kantin sedang banyak orang, sehingga ane lebih baik menyingkir daripada menghalangi orang lain yang ingin membeli makanan di kantin Bu Wida. Gua mengambil segelas merk minuman teh, kemudia gua meminumnya sambil duduk menunggu Hardi menghabiskan makanannya. Saat gua melihat Hardi, tiba-tiba Ria datang menghampiri gua yang sedang menunggu di luar.

"Ka"

"Ehh, iyaa?"

"Kenapa ga nunggu di dalem?"

"Ehh, gapapa ko, penuh lagian takut ngehalangin yang mau beli"

"Bener? Bukan gara-gara Ria kan?"

Deg!

"Bukan kok, emang kenapa kalo gara-gara Ria?"

"Takut gara-gara Ria, gara-gara kemaren sih abis kaka kaya yang marah gitu waktu pulang dan lupa kembalian"

"Haha, engga ko, emang mukanya gini aja. Eh, tulisan mu bagus, aku suka"

"Makasih kak. Kak, boleh minta nomor hp?"

Wanjir!

"Ehh? Ohh iyaa boleh ko. Ada kertas?"

"Ini kak"

"Ini nomernya yaa"

"Makasih ka. Aku mau balik ke kelas dulu ya kak"

"Oh iyaa iyaa"

Ria kemudian pergi meninggalkan gua. Percakapan macam apa ini? Kenapa malah cewe yang minta nomor hp ke cowo? Ga kebalik? Wahh disini gua mikir keras sekali. Tak terasa, Hardi sudah menyelesaikan makanya. Gua dan Hardi akhirnya kembali ke kelas. Saat Hardi membayar makanan yang ia pesan, Bu Wida tiba-tiba bilang ke gua

"Kalo emang ada perasaan, kejar ya."

***

Gua bingung sekali. Apa yang harus gua lakukan. Apa yang Bu Wida maksud. Tetapi emang, ada sesuatu yang membuat penasaran dan ingin menggali lebih dalam sosok Ria. Percakapan pertama secara langsung dengan Ria. Apakah ini namanya cinta?
×