alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad44dead89b09fd5b8b457a/sapta-darmamenyebarkan-ajaran-lewat-penyembuhan

SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Gambar: Para penghayat kepercayaan Sapta Darma melakukan ibadah di sanggar Candi Busana, Kediri, Jawa Timur.| © Beritagar.id /Fully Syafi

SAPTA DARMA

Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Diperkenalkan pertama kali oleh Harjosapuro kini ajaran ini menyebar ke sejumlah wilayah. Namun mereka masih dianaktirikan.

Malam mulai larut ketika puluhan lelaki paruh baya memasuki halaman sebuah rumah di Jalan Gatot Subroto Desa Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Meski menampung banyak orang, dari luar rumah bercat hijau ini terlihat lengang.

Beberapa pria larut dalam obrolan di bangku kayu yang berjajar di halaman menyerupai lorong. Sebagian dari mereka berpakaian serupa. Berwarna dasar hitam dan mengenakan blangkon.

Mereka adalah penganut aliran kerohanian Sapta Darma. Aliran ini lahir di Kediri 66 tahun silam dan diyakini secara turun temurun oleh pengikutnya hingga sekarang. Rata-rata pengikut aliran ini adalah orang dewasa dan didominasi laki-laki.

Penganut aliran ini secara rutin berkumpul di tempat peribadatan yang disebut sebagai sanggar. Di sanggar mereka mengikuti penataran kerohanian yang membahas tentang ajaran, persoalan sehari-hari, hingga melaksanakan ibadah bersama.

Seperti Kamis (8/2/2018) malam itu. Sejak selepas magrib puluhan jemaah Sapta Darma Kota Kediri telah berkumpul di Sanggar Candi Busana Mrican. Mereka hadir atas undangan Ki Surtarto yang menjabat sebagai Tuntunan Wilayah Sapta Darma wilayah eks-Karisidenan Kediri yang meliputi tujuh kota/kabupaten. Mulai Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan Nganjuk.

Tepat pukul 21.00 WIB, Sutarto memimpin pertemuan anggotanya. Seperti layaknya pertemuan warga, mereka duduk di dalam sanggar yang menyerupai aula. Di atas hamparan karpet, sekitar 25 warga pengikut Sapta Darma dengan tekun mendengarkan penjelasan Sutarto.

Dari jumlah itu hanya satu orang saja yang perempuan. "Kami sedang membicarakan calon gubernur Jawa Timur yang akan didukung," kata Sutarto yang memimpin rapat dalam Bahasa Jawa.

Pemilihan calon gubernur 2018 ini menjadi penting karena menyangkut kelangsungan aktivitas para penghayat. Di seluruh Jawa Timur, jumlah mereka diperkirakan mencapai 15.000 orang. Sebagian besar ada di Surabaya dan Malang. Mereka berharap gubernur yang akan datang bisa mengakomodir kepentingan mereka yang masih kerap dikucilkan di masyarakat.

Usai berembuk dan menyelesaikan materi kerohanian, Sutarto mengajak mereka sujud. Dalam ajaran Sapta Darma, sujud adalah satu-satunya bentuk ibadah yang diwajibkan minimal sekali dalam sehari. Waktu keutamaan di atas pukul 21.00 WIB. Tak harus di sanggar secara bersama-sama, tapi juga bisa di rumah masing-masing.

Diawali dengan membersihkan badan dari kotoran, mereka menggelar selembar kain kafan ukuran satu meter persegi di lantai. Kain kafan itu diletakkan dengan posisi ketupat. Selanjutnya mereka duduk bersila di atasnya menghadap timur.

Di sudut lain dalam ruangan yang sama, seorang jemaah mendendangkan tembang Macapat. Lantunan tembang yang disuarakan pelan dan syahdu tanpa iringan alat musik ini untuk membantu konsentrasi dalam bersujud.

Setelah alunan Macapat terdengar, satu per satu dari mereka menggerakkan punggung ke depan. Masih sambil bersedekap layaknya orang salat, badan mereka terus membungkuk hingga seluruh bagian kepala menempel pada kain kafan. Gerakan ini bertahan hingga beberapa menit sebelum mereka bergerak pelan ke posisi semula.

Perubahan gerak duduk bersila menjadi sujud ini tak diakukan bersamaan. Demikian pula jumlah sujud yang dilakukan berbeda-beda. "Kalau saya biasa melakukan hingga satu setengah jam setiap hari," kata Sutarto.

Tiap-tiap gerakan dalam sujud ini memiliki arti sendiri. Kain kafan yang digelar menjadi perlambang niat suci untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Sementara timur dipilih menjadi tujuan ibadah karena memiliki arti "permulaan", yakni dari kata wetan (timur) atau wiwitan (permulaan). Hal ini ditandai dengan terbitnya matahari dari timur di kehidupan.

Sujud merupakan puncak khidmat untuk menghadap Tuhan. Dalam ritual ini mereka meyakini tengah melepaskan roh dari raga untuk bertemu dengan Tuhan di alam langgeng.

Di alam itulah seorang manusia bisa mengintip kehidupan setelah mati dan melihat jalan menuju suarga loka (surga). "Biar kelak jika mati, arwah kita tidak kesasar mencari jalan ke surga karena kita sudah melihatnya lebih dulu," ujar Sutarto.

Hal inilah yang membedakan proses matinya manusia dengan binatang yang arwahnya kesasar susur alias gentayangan.

SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Para penghayat kepercayaan Sapta Darma melakukan ibadah di sanggar Candi Busana, Kediri, Jawa Timur.© Fully Syafi /Beritagar.id

Muasal ajaran

Ajaran Sapta Darma diperkenalkan pertama kali oleh Harjosapuro, seorang penarik delman dan tukang pangkas rambut di Pandean, Pare, Kabupaten Kediri. Kala itu, 27 Desember 1952, Harjosapuro yang tengah tertidur tiba-tiba digerakkan oleh kekuatan yang tak bisa dihindari.

Saat bermimpi, Harjosaputro merasa ada yang menggerakkan tubuhnya. Ia terbangun dan duduk menghadap timur lalu sujud dari pukul 01.00 hingga 05.00 WIB. Para penganut meyakini itu "wahyu" pertama yang diterima Harjosaputro.

Dikisahkan, saat bermimpin itu, Harjosapuro mengucapkan kalimat yang meluhurkan nama Allah dengan kencang, tetapi tak ada satupun tetangga yang mendengar. "Padahal rumahnya dari gedek bolong-bolong," kata Sutarto.

Takut dengan hal yang menimpa dirinya, Harjosapuro memutuskan pergi menemui temannya dan menceritakan peristiwa itu. Tanpa diduga, sang teman juga seperti digerakkan kekuatan lain untuk melakukan sujud.

Peristiwa ini berulang kepada lima sahabat yang ditemui Harjosapuro. Hingga pada akhirnya dia memutuskan tidak pulang ke rumahnya hingga Februari 1953.

Ia baru pulang ke rumah di Pare, Kediri, atas wisik (petunjuk) yang diterimanya. Hanya berselang beberapa hari setelah kepulangannya, tepatnya 13 Februari 1953, Harjosapuro kembali menerima "wahyu" pada pukul 10.00 WIB.

Wahyu kedua ini diberi nama Racut. "Wahyu" ini mengabarkan tentang kewajiban manusia untuk mengetahui dan melihat alam abadi setelah kematian. Di situ ada tuntunan kepada roh yang meninggal menuju surga sesuai darma dan amalannya.

Dalam wahyu Racut itu pula Harjosapuro menerima gelar baru. Gelar yang diklaim dari Tuhan itu diberi nama Sri Gutomo, yang berarti pelopor budi luhur. Ini gelar tertinggi dalam komunitas Sapta Darma sebagai panutan agung.

"Wahyu" terakhir diterima Harjosapuro pada 12 Juli 1953 siang. Isinya berupa tuntunan hidup yang terdiri atas simbol pribadi, wewarah pitu, dan sesanti. Wahyu ini untuk mengendalikan dan mengatur tiga unsur yang ada dalam diri manusia berupa nafsu, budi, dan pakarti. Ketiga unsur inilah yang membedakan manusia dengan hewan.

Wewarah pitu atau tujuh tuntunan yang diturunkan ini harus dijalankan warga Sapta Darma. Tujuh tuntunan itu berisi: percaya dan patuh pada Allah Hyang Maha Agung, berbuat jujur dan berbakti kepada negara, ikut berperan pada tegaknya nusa dan bangsa, menolong sesama dengan ikhlas, berdikari dan mandiri, berbuat baik dan luhur kepada sesama demi kebahagiaan orang lain, serta meyakini kehidupan di dunia ini fana.

Seluruh ajaran yang disampaikan Harjosapuro tersebut diyakini sebagai "wahyu" dari Tuhan. Kenapa diyakini sebagai "wahyu"? Karena sebagai lulusan sekolah dasar dan bekerja menjadi kusir delman dan tukang pangkas rambut, mustahil bagi Harjosapuro untuk mengarang dan mengingat ajaran tersebut dengan baik. "Itu adalah mukjizat," kata Sutarto.

Kelebihan lain yang dimiliki Harjosapuro, menurut jemaahnya adalah kemampuan Harjosaputro dalam menyembuhkan orang sakit yang tidak mampu diobati dokter.

Kemampuan menyembuhkan ini kemudian menjadi metode penyebaran ajaran Sapta Darma ke masyarakat hingga berkembang luas. Para pengikut Harjosapuro dibekali kemampuan pengobatan dan disebar ke berbagai daerah untuk menyebarkan Sapta Darma.

Penyembuhan pernah dilakukan jemaah aliran ini kepada keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono di Yogyakarta. Karena yang diobati sembuh, ajaran ini membesar di Jawa Tengah.

Sutarto sendiri masuk dan meyakini ajaran Sapta Darma melalui proses penyembuhan. Saat berusia tujuh tahun ia divonis mengidap polio hingga tak bisa berjalan. Oleh Pakdhenya, dia diajak melakukan sujud. Setelah melakukan sujud berulang-ulang, lambat laun penyakitnya sirna dan bisa berjalan normal di tahun 1958. Sejak itulah Sutarto jatuh hati pada ajaran Sapta Darma hingga sekarang.

Meski berstatus sebagai tuntunan wilayah, Sutarto tak pernah mampu mengajak istri dan ketiga anaknya masuk Sapta Darma. Mereka memilih menganut agama Islam.

Di lingkungannya tempat tinggalnya, Sutarto sangat disegani dan ditasbihkan menjadi tokoh masyarakat. Ketokohannya setara dengan seorang pemuka agama Islam.

"Beliau juga rajin mendatangi undangan pengajian, tahlil, dan Natal meski seorang penghayat," kata Nowo Doso, pemilik warung kopi yang berjarak seperlemparan batu dengan rumah Sutarto yang ada di Jalan Stasiun.

SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Soetarto, Ketua Persatuan Sapta Darma (Persada).© Fully Syafi /Beritagar.id

Dalam hal perkimpoian, penganut Sapta Darma tak pernah membatasi pernikahan dengan penganut agama ataupun kepercayaan lain. Namun untuk perempuan luar yang dinikahi warga Sapta Darma, diwajibkan mengikuti prosesi pernikahan sesuai ajaran mereka. Sutarto memastikan pernikahan yang dilakukan menurut ajaran Sapta Darma tetap bisa dicatatkan di Kantor Catatan Sipil.

Seperti pernikahan yang dilakukan Suryanto, warga Kelurahan Kemasan. Penganut Sapta Darma ini bahkan menikahi perempuan anak seorang ulama asal Blitar. Bahkan saat ini sang istri telah menjadi pengikut Sapta Darma beserta ketiga anaknya. "Semua keluarga saya penghayat," ujar Suryanto.

Saat ini ketiga anak Suryanto berstatus pelajar. Sama seperti para penghayat lain yang mengosongkan isian kolom agama, ketiga anak Suryanto juga mengosongkan kolom agama di buku induk siswa dan rapor sekolah. Pihak sekolah tak mempermasalahkan sikap tersebut.

Bahkan saat ini putri sulungnya telah duduk di bangku sekolah perawat tanpa mengalami kesulitan administrasi. Mereka juga tak pernah diolok-olok teman sekolah maupun tetangga meski memiliki keyakinan berbeda.

Sayangnya kebebasan berekspresi bagi kaum penghayat ini masih berlaku hanya di Kota Kediri. Di Kabupaten Kediri, mereka masih dianaktirikan.

Data terakhir di Kota Kediri tercatat jumlah anggota Sapta Darma mencapai 2.000 orang. Populasi ini menurun drastis setelah pecah peristiwa penumpasan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1965.

Pasca peristiwa itu, anggota Sapta Darma kerap dituduh dan dicap sebagai kader PKI karena tak memiliki agama. Demi menyelamatkan diri, banyak dari mereka yang kemudian memilih agama tertentu.

Kini setelah adanya putusan Mahkamah Konsitusi yang mengakui aliran kepercayaan, Sutarto dan para penganut Sapta Darma gembira karena nantinya kolom agama KTP dan KK tidak lagi bertanda setrip melainkan diisi dengan aliran kepercayaan. Karenanya, ia berharap pemerintah daerah bisa segera merealisasikan putusan MK itu.

Namun, rupanya Sutarto dan para penganut Sapta Darma harus rela bersabar. Pasalnya pemerintah Kabupaten Kediri belum bisa melakukan pembenahan administrasi itu dalam waktu dekat. "Kami menunggu peraturan teknisnya dulu," kata Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kediri Krisna Setiawan.

https://beritagar.id/artikel/laporan...at-penyembuhan
Urutan Terlama
Hmmm Aliran lama ini, pasti banyak yang bilang agama sesat emoticon-Nohope
hmmm gitu ya. pendirinya dulunya orang islam kah? nama tuhannya allah
Diubah oleh nubi11
Quote:


sepertinya bukan
Jerit Hati Penganut Kepercayaan Sapto Dharmo

Bramantyo , Okezone  Jum'at 20 April 2018 06:02 WIB

SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Supangat, sang Penghayat Aliran Kepercayaan Sapto Dharmo di Solo (Foto: Bram/Okezone)

SOLO - Kediaman Supangat di RT 5 RW 4 Kelurahan Kadiporo, Banjarsari, Solo tampak sepi. Meski sepi, rumah berukuran cukup besar ini dibiarkan terbuka. Setelah memakirkan kendaraan tepat di bawah papan nama bertuliskan Sapto Dharmo yang mulai mengelupas catnya, Okezone pun mengetuk lonceng kecil yang tergantung di pintu pagar rumah.

Tak lama, keluar seorang perempuan tua dari pintu samping. Sambil mengelap keringat di dahinya, perempuan yang telah berumur yang ternyata istri dari Supangat ini pun mempersilahkan masuk.

"Mau bertemu bapak? Kemana tadi ya. Katanya mau jalan-jalan. Paling cuma putar-putar sini saja. Lah, tidak pakai baju tadi mutarnya," terang perempuan yang minta dipanggil bu Pangat ini mengawali pembicaraannya, belum lama ini.

SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Awalnya bu Pangat ini begitu semangat bercerita tentang kehidupannya. Mulai dari putra-putrinya yang sudah bekerja hingga aktivitas sehari-hari. Sikap yang tadinya semangat dalam bercerita, mendadak berubah saat mengetahui yang datang adalah seorang wartawan.

"Oh wartawan toh. Saya kira putra dari salah anggota Sapto Dharmo. Saya lupa bertanya tadi. Ditunggu saja ya, bentar lagi datang," jelas bu Pangat sambil beranjak masuk kembali ke pintu samping yang ternyata mengarah ke dapur. Belum lama bu Pangat beranjak dari tempat duduk, orang yang ditunggu pun datang.

Tak lama kemudian, orang yang ditunggu datang. Melihat suaminya datang, bu Pangat pun buru-buru menghampiri suaminya. "Pak, dicari wartawan, itu orangnya," ungkap bu Pangat pada suaminya.

Setelah mendengar penjelasan istrinya, Supangat pun menghampiri. "Tepangaten kulo Supangat (kenalkan saya Supangat)," terang Supangat.

SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Sepintas, Supangat yang ditaksir telah berumur kepala tujuh terlihat kaku orangnya. Bahkan suasanapun yang awalnya kaku, berubah santai, saat Supangat bercerita tentang aliran kepercayaan yang dianutnya. Namun, saat ditanya berapa umur Supangat, pria ini enggan menyebutkannya.

"Sing penting seger waras, mas. Umur kangge nopo (Yang penting sehat, umur buat apa)," paparnya.

Menurut Supangat, meski dirinya dan istrinya memiliki kepercayaan berbeda, namun mayoritas warga di sekitar tidak mempermasalhakan. Mayoritas warga di mana Supangat tinggal adalah Muslim dan Nasrani. Namun mereka tak mempermasalahkan dirinya dan rumah miliknya yang kerap dipakai untuk menggelar kegiatan bagi anggota aliran kepercayaannya.

SAPTA DARMA Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Supangat sampaikan, dirinya dipercaya sebagai salah satu pimpinan kecil di sekitar tempat tinggalnya. Meski terbatas hanya dilingkungannya, tapi penganut kepercayaan dari daerah lain di wilayah Kadipiro, ada juga yang datang ke rumahnya.

"Jadi kepercayaan yang saya anut itu ada pembagian wilayah. Saya itu khusus untuk wilayah sini. Jadi yang datang itu penganut yang rumahnya dekat sama rumah saya. Tapi ada juga yang datang dari wilayah lain," terangnya.

Diakui oleh Supangat, awalnya penganut kepercayaan yang datang ke rumahnya untuk bersama-sama berdoa itu jumlahnya cukup banyak. Namun secara pelahan, jumlahnya mulai mengalami penyusutan. Dan akhirnya cuma dirinya dan istrinya saja yang bertahan. Penganut Sapto Dharmo bisa melakukan ibadah secara pribadi di rumah atau bersama-sama di tempat ibadah yang biasa mereka sebut dengan Sanggar.

"Awalnya itu yang datang ke rumah itu sampai 50 orang. Terus menyusut terus sampai lima orang yang bertahan. Dan akhirnya cuma saya dan istri saya saja yang bertahan," terang Supangat yang direspons anggukan kepala oleh istrinya.

Diakui oleh Supangat, untuk regenerasi dialiran kepercayaan ini berbeda dengan penganut lainnya. Bahkan,ungkap Supangat, dalam satu keluarga, belum tentu anggota keluarga ada yang mengikuti jejaknya. Seperti di internal keluargannya sendiri saja. Penganut kepercayaan yang tersisa hanyalah dirinya dan istrinya saja. Sedangkan anggota keluarga yang lain, seperti anak-anaknya telah memutuskan meyakini keyakinan yang berbeda dengan dirinya.

"Boten wonten sing derek kulo. Kabeh anak-anak kulo memilih agama liyo. Kulo boten menopo-menopo,niku hak mereka untuk memilih (Tidak ada yang ikut saya. Semua anak-anak saya memilih agama lain. Saya tidak apa-apa, itu hak mereka untuk memilih)," terangnya.

Supangat bisa memaklumi kenapa anak-anaknya lebih memilih agama lain dibandingkan dengan kepercayaan yang dianut kedua orang tuannya. Pasalnya, keputusan anaknya itu memeluk kepercayaan lain diambil, dikarenakan sebelum ada putusan Mahkamah Konstitusi, aliran kepercayaan tak bisa ditulis di kolom agama. Sehingga kondisi itu menyulitkan anak-anaknya untuk beraktivitas.

"Dulu itu kan aliran kepercayaan tidak bisa masuk ke kolom agama. Tapi sekarang sudah bisa dicantumkan. Meskipun, saat hendak merubah KTP, kami hanya diberi secarik kertas yang berisikan keanggotaan aliran kepercayaan. Misal, saya anggota Sapto Dharmo. Nah, disecarik kertas ini menerangkan kalau saya itu anggota dari Sapto Dharmo. Tapi, kertas ini dibawa ke catatan sipil terus bisa merubah kolom agama," paparnya.

Namun, meski Mahkamah Konstitusi telah memutuskan aliran kepercayaan itu sama dengan kepercayaan lainnya. Tapi, Supangat masih menilai bila kemerdekaan dari keputusan Mahkamah Konstitusi itu masih semu. Sebenarnya bukan sebuah pengakuan di KTP saja yang utama dibutuhkannya.

Tapi, Supangat memimpikan alirannya ini bisa mendirikan sebuah tempat ibadah tetap, seperti penganut agama lainnya. Meskipun sebenarnya bagi mereka, untuk berdoa pada sang pencipta bisa dilakukan dimana saja. Tapi dengan adanya tempat ibadah, merupakan wujud pengakuan dari pemerintah. Sehingga, Supangat menilai bila perjuangan mereka belumlah selesai. Pasalnya, mayoritas masyarakat masih banyak yang salah presepsi tentang apa yang disembahnya.

"Memang aliran kepercayaan itu berbeda-beda tiap-tiap daerah. Tapi apa salah, kalau kami pun memimpikan punya tempat ibadah. Selama ini kalau beribadah, kami menggunakan rumah anggota kami sendiri.Tapi ya itu, itu hanyalah sebatas cita-cita kami saja," terangnya.

Menurut Supangat, masih banyak masyarakat yang salah persepsi tentang apa yang disembahnya. Sama seperti penganut lainnya, aliran kepercayaan pun menyembah Tuhan. Bahkan untuk meyakinkan, Supangat pun mempraktekannya.

Supangat pun membeberkan cara berdoa alirannya. Di mana, sebelum memulai berdoa, selembar kain mori putih digelar untuk alas. Setelah kain putih mori digelar menghadap ke timur, merekapun berdoa. Dimana, kedua tangan ditekukan didada. Setelah itu bersujud dengan cara kepala ditundukan ke tanah dengan posisi tangan masih didada, sebanyak tiga kali.

"Tak ada kidung-kidungan, saat berdoa suasana harus dalam kondisi hening untuk memusatkan pikiran. Sehari cuma sekali saja. Tapi kalau mau lebih, juga tidak apa-apa," paparnya.

Untuk mengingatkan ajaran Sapto Dharmo, ungkap Supangat, mereka pun membuat kalender sendiri. Di mana, kalender itu memuat ajaran kebaikan dari Sapto Dharmo.

https://news.okezone.com/read/2018/0...-dharmo?page=3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di