alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Boediono Jadi Tersangka, Ini Berkah Bagi Bangsa Indonesia
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad3d96ade2cf239018b4568/boediono-jadi-tersangka-ini-berkah-bagi-bangsa-indonesia

Boediono Jadi Tersangka, Ini Berkah Bagi Bangsa Indonesia


CENTURYGATE
Boediono Jadi Tersangka, Ini Berkah Bagi Bangsa Indonesia
 MINGGU, 15 APRIL 2018 , 22:01:00 WIB


Boediono Jadi Tersangka, Ini Berkah Bagi Bangsa Indonesia
Budiono dan Sri Mulyani


RMOL. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memerintahkan agar mantan wakil presiden periode 2009-2014, Boediono, ditetapkan sebagai tersangka dalam megaskandal danatalangan Bank Century adalah berkah bagi bangsa Indonesia.

Demikian dikatakan Syahganda Nainggolan dari Sabang Merauke Center (SMC) dalam keterangan yang diterima redaksi. 

Menyambut putusan PN Jakarta Selatan itu, bersama Hatta Taliwang dari Institute Soekarno-Hatta (ISH), Syahganda  akan menyelenggarakan diskusi berjudul "Setelah Boediono Tersangka, Siapa Berikutnya?" hari Senin besok (16/4). 

Diskusi akan digelar di Hotel Century dan menghadirkan sejumlah tokoh sebagai pembicara, yakni mantan anggota Pansus Centurygate di DPR RI Chandra Tirta Wijaya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono, mantan Panwas Centurygate Moh. Misbakum, wartawan senior Herdi Sahrasad, mantan anggota DPR RI  Djoko Edhi Abdurrahman, aktivis Humanika Andrianto, dan ekonom Dina Nurul Fitria, serta Syahganda Nainggolan sendiri.

Adapun Hatta Taliwang akan memberikan pengantar. 

"Bulan-bulan ini Indonesia dianugrahi berkah dari Allah YME karena pengadilan negeri Jakarta Selatan memerintahkan Budiono, mantan Wakil Presiden RI (2009-2014), dijadikan tersangka oleh KPK, bersama Budi Mulyawan dan Raden Pardede," tulis Syahganda.

"Ini adalah kisah pertama kasus korupsi yang menyangkut pemimpin istana negara. Dan ini merupakan jalan baru bagi adanya pemeriksaan kasus kasus korupsi pada elit kepemimpinan nasional, baik di masa lalu, maupun nantinya ke depan," sambungnya.

Putusan PN Jakarta Selatan ini disebut sebagai contoh baik bagi Indonesia sebagai negara demokrasi, meskipun sedikit terlambat dibanding negara negara lainnya. 

Dia membandingkan negara-negara lain yang lebih dahulu memperlihatkan ketegasan dalam menghadapi kasus korupsi yang melibatkan pemimpin tertinggi, seperti Prancis, Brazil, dan Korea Selatan. 

Sepuluh tahun lalu, masih tulis Syahganda, wajah Boediono dam mantan  ketua KKSK Sri Mulyani Indrawati memang terlihat lembut dan suci. 

"Mereka berusaha meyakinkan rakyat dengan pandangan-pandangan mereka sebagai ekonom kelas dunia, bahwa penyelamatan Bank Century itu adalah kebijakan yang benar, tepat dan baik. Hal itu dilakukan untuk menghindari hancurnya perbankan kita karena kasus bank century berdampak sistemik," sambungnya.

"Waktu akhirnya berpihak pada perjuangan rakyat yang hakiki, bahwa kejahatan tidak bisa dibungkus dengan jargon-jargon penyelamatan perekonomian dan wajah lugu kaum neoliberal," demikian Syahganda 


http://ekbis.rmol.co/read/2018/04/15...gsa-Indonesia-

---------------------------

Boediono Jadi Tersangka, Ini Berkah Bagi Bangsa Indonesia
SOURCE:  http://www.bbc.com/indonesia/laporan...centuryplayers

Bisa dibayangkan, apa yang bakalan terjadi kalau mantan Wapres Boediono (yang saat itu menjabat Gubernur BI ketika kasus Bank Century meledak), kemudian "bernyanyi" di depan Pengadilan. Habis dah tuh sisa-sisa lasykar rezim SBY.

emoticon-Takut 
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 2
Bambang Soesatyo:
SBY terlibat kasus Century
Kamis, 16 Agustus 2012 / 10:40 WIB

Boediono Jadi Tersangka, Ini Berkah Bagi Bangsa Indonesia
Bambang Soesatyo

JAKARTA. Tanggapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenai testimoni atau pernyataan pernyataan kesaksian tanpa sumpah mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jilid II Antasari Azhar, dinilai membuat masyarakat luas semakin yakin bahwa kekuasaan terlibat dalam rangkaian kasus dana talangan Bank Century.

Anggota Tim Pengawas Century Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo, mengatakan terdapat hal yang tidak benar mulai dari perencanaan, penyusunan peraturan, dan undang-undang sebagai bungkus dikeluarkannya kebijakan bailout Century.

Menurut Bambang, sebelum adanya agenda bailout century, ada dua peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari rangkaian peristiwa ini. Yaitu, usaha menyuntik atau menyelamatkan Bank Indover di Belanda sebesar Rp 4,7 triliun dan blanket guarantee dengan biaya sekitar Rp 300-an triliun. Namun, kedua upaya ini gagal.

Penyelamatan Bank Indover gagal karena ditolak oleh DPR. Sedangkan blanket guarantee ditolak oleh Wakil Presiden yang saat itu menjabat, Jusuf Kalla. "Jadi masuk diakal kalau pertemuan yang dipimpin SBY dan menjadi testimoni Antasari, JK (Jusuf Kalla) tidak hadir. Sebab, jika hadir, bisa jadi kasus Bank Century yang merupakan skandal keuangan terbesar pasca reformasi tidak akan pernah ada," kata Bambang melalui rilis yang diterima KONTAN pada Kamis (16/8).

Selain itu, lanjut Bambang, terdapat alibi dan kalimat bersayap yang disampaikan Presiden dalam rapat yang dihadiri Antasari dan lembaga lainnya di Istana Presiden pada 9 Oktober 2008 lalu. Alibi tersebut patut diduga merupakan pra-kondisi dari suatu rangkaian peristiwa terencana yang kemudian dibungkus dengan peraturan dan perundang-undangan termasuk Perppu (yang akhirnya ditolak DPR) agar terhindar dari jeratan hukum di kemudian hari karena memanfaatkan situasi krisis keuangan global 2008 untuk kepentingan politik tertentu menjelang Pemilu 2009.

"Dari 10 direktif ini yang ingin saya sampaikan nanti pada kesempatan ini, bisa jadi karena ada tindakan yang harus diambil secara cepat, dan undang-undangnya mungkin belum tersedia. Mekanismenya mesti ada Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu). Tapi harus ada alasan apakah sungguh termasuk kegentingan yang memaksa...," kata Bambang menirukan SBY.

Selain itu, lanjut Bambang, juga ada pernyataan bersayap SBY lainnya. "Itu yg saya maksudkan bahwa in time of crisis, there must be an action, decision that must be taken quickly, yang barangkali belum ada aturannya...," pungkas Bambang seraya menirukan alibi SBY ketika itu.

Sebelumnya, mantan Ketua KPK Antasari Azhar mengungkap fakta baru dugaan korupsi bailout Bank Century. Antasari menuturkan, Presiden SBY pernah memimpin rapat soal pengucuran dana talangan (bailout) Bank Century pada Oktober 2008 dan membahas skenario pencairan dana Rp 6,7 triliun untuk Bank Century.

Antasari mengaku diundang Presiden SBY ke istana saat ia masih menjabat sebagai Ketua KPK. Sejumlah pejabat tinggi yang hadir antara lain Kapolri Bambang Hendarso Danuri, Jaksa Agung Hendarman Supanji, Menko Polhukam Widodo AS, Menkeu Sri Mulyani dan Mensesneg Hatta Rajasa. Selain itu turut hadir Gubernur BI Boediono, Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng, dan Staf Khusus Presiden Denny Indrayana.

Dalam pertemuan tersebut Presiden memimpin langsung skenario bailout Bank Century. Saat itu, pemerintah sudah menyadari adanya dampak hukum atas kebijakan pemberian dana talangan yang rawan penyimpangan. Menurut Antasari, selain Bank Century, ia juga sering dihubungi sejumlah pihak membahas penyelamatan bank sakit.

Antasari yang kini mendekam di LP Tangerang mengungkap bahwa menjelang pemilu 2009, pemerintah mencari cari bank sakit untuk sesegera mungkin disuntik dana segar. Setelah disepakati, Bank Century mendapat kucuran dana segar secara bertahap. Tahap pertama, bank yang sudah kolaps menerima Rp 2,7 triliun pada 23 November 2008.

Tahap kedua, pada 5 Desember 2008 sebesar Rp 2,2 triliun. Tahap ketiga, pada 3 Februari 2009 sebesar Rp 1,1 triliun, dan tahap keempat pada 24 Juli 2009 sebesar Rp 630 miliar.
http://nasional.kontan.co.id/news/ba...-kasus-century

Setelah Boediono Tersangka, Siapa Berikutnya?
MINGGU, 15 APRIL 2018 , 09:45:00 WIB

Boediono Jadi Tersangka, Ini Berkah Bagi Bangsa Indonesia
Boediono

RMOL. Gubernur Indonesia 2008, Boediono bersama Ketua KKSK ketika itu, Sri Mulyani Indrawati hampir sepuluh tahun lalu benar-benar 'berwajah suci'.

Mereka berusaha meyakinkan rakyat dengan pandangan-pandangan sebagai ekonom kelas dunia, bahwa penyelamatan Bank Century itu adalah kebijakan yang benar, tepat dan baik.

Waktu akhirnya berpihak pada perjuangan rakyat yang hakiki, bahwa kejahatan tidak bisa dibungkus dengan jargon-jargon penyelamatan perekonomian dan wajah lugu kaum neoliberal.

Perintah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun keluar.
Lembaga antirasuah itu diperintahkan pengadilan menetapkan sejumlah tersangka baru dalam megaskandal yang merugikan negara Rp 6,7 triliun itu. Salah satunya adalah Boediono.

Institute Soekarno Hatta (ISH) dan Sabang Merauke Circle (SMC) ikut bersyukur atas setiap perjuangan yang telah dilakukan baik oleh masyarakat, LSM, tokoh-tokoh anti korupsi, tokoh-tokoh anti neolib, dan khususnya pejuang-pejuang 'koboi Senayan' seperti Chandra Tirta Wijaya, Mukhamad Misbakhun, Maruarar Sirait, Andi Rahmat, Bambang Soesatyo, Achmad Yani.

Meskipun sedikit terlambat dibanding negara negara lainnya, seperti Prancis dengan penersangkaan eks presiden Syarkozi, Brazil eks presiden Lula dan Korea Selatan, eks Presiden Park Geun Hye.

Semua elit negara dalam demokrasi di ketiga negara tersebut dijadikan tersangka dengan skandal korupsi dan Pemilu. Khusus Syarkozi, selain korupsi, tersangka menerima dana teroris dari Libya untuk memenangkan Pilpres.

Perjuangan belum tuntas. 'Setelah Boediono Tersangka, Siapa Berikutnya?' menjadi tema diskusi politik demokrasi yang bebas korupsi bersama sejumlah tokoh dan pakar di antaranya Chandra Tirta Wijaya (eks Pansus Century Gate), Ferry Juliantono (wakil ketua umum Partai Gerindra), Moh. Misbakum (eks Panwas Century Gate).

ISH dan SMC juga mengundang Herdi Sahrasad (wartawan senior), Djoko Edhi Abdurrahman (mantan anggota DPR), Andrianto (Humanika), Dina Nurul Fitria (ekonom) dan Syahganda Nainggolan (SMC) sebagai narasumber.

Diskusi dijadwalkan besok (Senin, 16/4) bertempat di Lounge 7 lantai 7 Hotel Century, Jakarta.
http://politik.rmol.co/read/2018/04/...a-Berikutnya--
Langsung Ke Cikeas aja emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
hail srik
Semoga rame
Boediono, ex-Wapres “Tersangka” Bank Century, Ini Baru Berita!
RABU, 11 APRIL 2018 , 09:51:00 WIB

Boediono Jadi Tersangka, Ini Berkah Bagi Bangsa Indonesia
Boediono, ex-Wapres “Tersangka” Bank Century, Ini Baru Berita<i>!</i>
Boediono/Net

SEJUMLAH sahabat memposting berita portal Detikdotkom di WA, tentang perintah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan agar KPK menetapkan Boediono, sebagai tersangka dalam skandal Bank Century.

Skandal Bank Century ini terkenal dengan bobolnya uang sebanyak Rp 6,7- triliun dari Bank Indonesia atau Bank Sentral.

Bank Sentral tersebut bermaksud menyelamatkan bank swasta papan bawah itu dari krisis likuiditas, kekurangan uang tunai. Para nasabah Bank Century menuntut pengembalian uang mereka yang disimpan di bank tersebut.

Yang aneh dan mengherankan, sekalipun BI sudah mengeluarkan duit yang begitu banyak untuk membantu nasabah Bank Century dari kerugian, tetapi justru banyak nasabahnya yang mengeluh dan mengaku, tidak menerima apa yang menjadi hak mereka.

Lalu muncul berbagai pertanyaan yang tak ada jawaban. Kemana jadinya uang sebanyak itu?

Keluhan sejumlah nasabah Bank Century ini, sempat diwujudkan dalam berbagai demo di Jakarta. Kejadiannya di awal periode kedua pemerintahan SBY ( 2009 - 2014).

Namun seiring dengan perjalanan waktu, skandal Bank Century ini, kemudian hening. Baru pekan ini muncul, setelah seorang eks pejabat senior Bank Indonesia, Budi Mulya menggugat Boediono dan beberapa pejabat BI.

Budi Mulya sendiri dijatuhi hukuman penjara 15 tahun oleh Mahkamah Agung. Budi Mulya mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung setelah ada putusan sebelumnya dari Pengadilan Tinggi yang menjatuhinya hukuman 10 tahun penjara.

Intinya persoalannya, Budi Mulya dianggap bersalah memberikan persetujuan atas pencairan dana triliunan rupiah tersebut.

Merasa menjadi korban dan atasannyalah yang semestinya bertanggung jawab atas bobolnya uang sebanyak Rp 6,7 triliun dari brandkas BI, Budi Mulya kemudian menggugat Boediono dkk.

Secara hirarki di Bank Indonesia, Budi Mulya, merupakan bawahannya Boediono.

Setelah skandal terkuak, Budi Mulya masuk penjara, sementara Boediono sebagai atasan tertingginya, bahkan menjadi Wakil Presiden 2009-2014.

Artinya selama Budi Mulya menjalani hari-hari yang menyakitkan di dalam penjara, atasannya justru menikmati segala kehidupan berkadar “karpet merah”.

Sekalipun belum tentu KPK mengikuti perintah Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan, tetapi peristiwa hukum ini, dari sisi informasi sudah merupakan sebuah berita berskala besar.

Bahwa akhirnya ada lembaga peradilan tingkat paling bawah yang berani “keluar dari kerumunan” dengan memerintahkan KPK, mengambil langkah hukum lanjutan.

KPK sendiri sebuah lembaga negara yang “kedudukannya” lebih tinggi atau instansi tertinggi dalam kegiatan pemberantasan korupsi.

Jadi kalau KPK menindak lanjuti perintah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, berita ini kemungkinan besar akan menyemangati para pihak pegiat anti korupsi.

Jarang-jarang ada lembaga lebih rendah mengeluarkan perintah untuk lembaga yang lebih tinggi statusnya.

Sehingga jika akhirnya Budiono yang pernah menjadi RI-2, digiring petugas KPK ke dalam penjara, seperti bekas pejabat tinggi negara lainnya, peristiwa ini, tentu tidak sekedar sebuah peristiwa hukum. Sekaligus sebuah peristiwa politik.

Memang perintah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu, tidak terkait dengan persoalan yang berkaitan dengan jabatan Boediono sebagai (eks) Wapres. Melainkan khusus sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Juga, bukan hanya Boediono yang diminta oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, untuk ditetapkan sebagai tersangka.

Masih ada yang lainnya lagi. Di antaranya Mulyawan Hadad, yang kalau tidak keliru baru saja menduduki pos Duta Besar RI di untuk Swiss. Negara yang dikenal sebagai tempat penyimpanan “uang-uang panas” alias hasil korupsi oleh para mantan diktator dari negara-negara miskin di dunia.

Tetapi jabatan eks Wapres dan Duta Besar, akan tetap melekat dalam kasus ini, di dalam jati diri mereka.

Bisa dibayangkan, reaksi media-media internasional, jika KPK menjerat seorang Budiono dan sahabatnya Mulyawan Hadad.

Keduanya akan diberi label sebagai bekas Orang Nomor Dua dari negara yang memiliki penduduk terbesar ke-4 di dunia, plus seorang diplomat yang ditempatkan di negara yang dikenal sebagai “tempat pencucian uang”.

Atas pemberitaan itu, kemungkinan besar KPK akan diacungi jempol oleh dunia internasional. Disejajarkan dengan RRT yang berani menghukum para pejabat atau eksi petinggi negara.

Tapi kemungkinan lain yang terjadi, Indonesia akan makin dikritik. Sebab bersamaan dengan kejadian ini, KPK terus melakukan OTT untuk para koruptor “kelas teri” yang rata-rata menduduki posisi penting di daerah.

Kemungkini kritikan itu berbunyi bahwa korupsi sudah demikian parahnya di Indonesia. Sebab yang menjadi pelakunya justru para pengelolah negara. Dari level Wakil Presiden dan Duta Besar.

Bukannya ada rasa sentimen pribadi ataupu profesional terhadap Budiono, apalagi Mulyawan Hadad. Sehingga dalam judul tulisan ini secara khusus saya beri penekanan“ ini baru berita”.

Penekanan atau penegasan ini muncul, sebab berita tentang perintah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu, sungguh mengejutkan.

Skandal Bank Century sudah sempat saya singkirkan dari ingatan.

Sementara, sudah sejak awal, saya memang kritis dalam melihat sebuah kasus yang melibatkan pejabat tinggi negara.

Sebab yang saya cermati pemberitaan-pemberitaan media tentang kasus Bank Century, tidak banyak menyinggung atas peran strategis dan penting dari Budiono sebagai Gubernur Bank Indonesia, dalam skandal Bank Century ini.

Entah alasan kode etik atau ada alasan kuat lainnya, tetapi hampir semua pemberitaan condong menyudutkan ataupun mempermasalahkan peran Sri Mulyani Indrawati (SMI), sebagai Menteri Keuangan.

SMI semakin dicurigai, karena setelah skandal Bank Century terkuak, Presiden SBY menggantinya sebagai Menteri Keuangan.

Tapi karena SMI juga langsung mendapat posisi penting di Bank Dunia, sayapun menjadi bertanya-tanya.

Ah, capek deh.

Dalam ingatan saya, di era KPK dipimpin Abraham Samad, pejabat investigasi dari lembaga anti-rasuah ini, pernah memeriksa Boediono. Tetapi karena pemeriksaan itu tertutup dan dilakukan di Kantor Wakil Presiden, bagaimana hasil pemeriksaan dan kabar lengkapnya, tak pernah terungkap.

SMI juga disebut-sebut sempat diperiksa oleh KPK. Tapi bagaimana hasilnya, tak ada yang tahu.

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya, saya memang mempertanyakan soal keterlibatan dan ketidak-terlibatan Budiono.

Parameter yang saya gunakan sederhana.

Sebagai Gubernur, orang nomor satu di Bank Sentral tersebut apa iyah - dia tidak tahu sama sekali keluarnya uang sebanyak Rp. 6,7- triliun tersebut ?

Saya berasumsi, untuk masuk ke kawasan Bank Indonesia saja, memerlukan prosedur dan pemeriksaan ketat. Apalagi mau mengangkut pecahan rupiah berjumlah triliunan.

Setidaknya Gubernur BI mendapat laporan atau bahkan dia yang harus memberi persetujuan terakhir boleh tidaknya uang triliunan rupiah itu dikeluarkan dari Kompleks BI.

Dan mengapa yang dijadikan pesakitan justru pejabat BI yang lebih rendah jabatan mereka dari Gubernur BI ?
Jujur, sebagai Jurnalis yang pernah banyak “mendengar” cerita atau skandal berbasis kejahatan “krah putih”, kejahatan orang-orang berdasi, saya sempat berpikir jangan-jangan skandal Bank Century ini, masuk dalam kategori ini.

Karena kata orang bijak, yang selamat dari skandal-skandal besar biasanya mereka yang berpenampilan necis, berdasi.
Atau sebuah skandal yang melibatkan orang-orang berdasi, biasanya akan lenyap dengan sendirinya, seiring dengan perjalanan waktu.
Di saat matahari terbenam, di saat yang sama, skandalnya ikut tenggelam ke perut bumi.
Ternyata saya salah.

MAREEE, kita tunggu bagaimana akhir cerita Skandal Bank Century.
http://www.rmol.co/read/2018/04/11/3...-Baru-Berita!-
Ada parpol yang mulai girap-girap?
Boediono Jadi Tersangka Bank Century, Demokrat Sebut Harusnya Sri Mulyani Duluan
Rabu, 11 April 2018 17:46

WARTA KOTA, JAKARTA- Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan untuk mengabulkan permohonan praperadilan yang diajukan oleh Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) terkait kasus Century.

Permohonan itu untuk melanjutkan penyidikan kasus skandal Bank Century, serta KPK diminta untuk memberikan status tersangka terhadap mantan wakil presiden Boediono yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Sidang tersebut dipimpin oleh hakim tunggal Effendi Mukhtar.

"Memerintahkan termohon untuk melakukan proses hukum selanjutnya sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan perundang undangan yg berlaku atas dugaan tindak pidana korupsi Bank Century dalam bentuk melakukan penyidikan, dan menetapkan tersangka terhadap Boediono, Muliaman D Hadad, Raden Pardede dan kawan kawan sebagaimana tertuang dalam surat dakwaan atas nama terdakwa Budi Mulya atau melimpahkannya kepada kepolisian dan atau kejaksaan untuk dilanjutkan dengan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat," bunyi putusan Hakim Effendi Mukhtar.

Menanggapi kabar tersebut, salah satu netizen mengatakan,"apakah penetapan Pak Budiyono oleh KPK dengan bidikan selanjutnya Pak SBY itu sbg Bargaining kepada Partai Demokrat agar bersama dalam barisan??? mohon advis om "
http://wartakota.tribunnews.com/2018...mulyani-duluan
Susah brey.kalo gak gabung parte
Gak ada yg belain emoticon-Traveller

Saran aja.mending sesegra mungkin majangin jenggot aja
Trio mcan eng ing eng
Gue sendiri masih nggak yakin keputusan nyelamatin Century itu benar..emoticon-Big Grin
Wong pondasi ekonomi saat sebelum Century ditutup masih kuat..emoticon-Big Grin
Kalo mau teori konspirasi mah paling banter dana talangan jadi setoran rutin ke AS ..emoticon-Big Grin
banyak yg mulai ketar ketir ni pasti
ayo cyduk semuaemoticon-Semangat
subanballoh emoticon-Kagets
Lah setelah lama hilang dan gak keliatan Pak Budiono akhirnya ditetapkan jadi tersangka.. Alhamdulillah semoga para pemeriksa bisa menemukan kaitan beliau dengan kasus century
Klemar klemer eh korupsi.
nasib sm gmn?
Hakim praperadilan memutuskan seseorang tersangka 😂😂 dagelan

kenapa ga dari 2015 aja keciduknya
Permainan politik buat menekan si kebo emoticon-Ngakak
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di