alexa-tracking

Prabowo Resmi Maju, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad3d46d2e04c84d438b4567/prabowo-resmi-maju-jokowi-bernasib-seperti-ahok
Prabowo Resmi Maju, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?
Prabowo Resmi Maju, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?
April 15, 2018 05:14


Prabowo Resmi Maju, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato dihadapan para kader Gerindra saat Rapat Koordinasi nasional di Hambalang, Jawa Barat, Rabu (11/04/2018). Partai Gerindra secara resmi mencalonkan Prabowo Subianto sebagai calon Presiden dan sekaligus memberikan mandat penuh untuk membangun koalisi dan memilih calon wakil Presiden. Foto: twitter@fadlizon

Jakarta, Aktual.com – Beberapa pihak dinilai telah bernafas lega atas pengumuman Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden (Capres) oleh Partai Gerindra untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.


Kekhawatiran terhadap calon tunggal dalam Pilpres mendatang pun pupus lantaran tampilnya Prabowo sebagai penantang dari perahana, Joko Widodo.

Direktur Progress Indonesia, Taufiq Amrullah berpendapat, meskipun relatif mudah dikalahkan oleh Jokowi, paling tidak kehadiran Prabowo telah membuyarkan rencana atau skema capres tunggal.


“Bagi oposisi, siapapun figur penantang Jokowi, ke sanalah suara akan diarahkan. Energi perlawanan akan berkumpul disana, pada figur Prabowo,” kata Taufiq dalam keterangan tertulisnya pada beberapa waktu lalu.
Ia menduga, energi perlawanan terhadap Jokowi akan menguat dan meluas. Sebab, dalam belasan survei yang telah dipublikasikan, tingkat elektabilitas Jokowi tidak terlalu tinggi untuk seorang petahana.


Dengan demikian, lanjut Taufiq, masih ada ketidakpuasan dari rakyat terhadap kinerja Jokowi.


Ia mengatakan, pada awalnya Jokowi memang tampak unstopable, sama hanya dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam sebelum Pilkada DKI digelar pada Februari tahun lalu. Ia pun meyakini jika nasib Jokowi dalam Pilpres 2019 tidak jauh berbeda dengan nasib Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu, yaitu menjadi pihak yang kalah.


“Firasat saya saat itu Ahok pasti bisa dikalahkan walau lagi kuat-kuatnya, hampir semua kekuatan politik terkumpul padanya, Jokowi pun sama bisa dikalahkan,” jelasnya.


Namun demikian, ia menegaskan satu syarat yang harus dipenuhi, yakni adanya penantang. Menurutnya, syarat yang satu ini mutlak harus dipenuhi lantaran telah tercipta momentum yang tepat ketika konsolidasi kelompok oposisi sudah cukup kuat.


“Prabowo sudah resmi dicapreskan, pendukung Jokowi lega untuk sementara, merasa Prabowo lawan yang mudah dikalahkan. Lupa kalau konfigurasi pemilih berubah dan semangat perlawanan membesar. Jika bertambah capres lagi, dijamin Jokowi melemah,” tutupnya.

http://www.aktual.com/prabowo-resmi-...-seperti-ahok/


Menakar Peluang Jokowi 2019
Jumat 13 April 2018, 11:23 WIB


oleh: Fuad Bawazier mantan Menteri Keuangan

Prabowo Resmi Maju, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?Presiden Joko Widodo (Foto: Laily Rachev/Biro Pers Setpres)

Jakarta - Dalam beberapa bulan terakhir ini kita merasakan perang urat syaraf, opini, adu argumentasi dan bahkan "adu kuat" antara pendukung Jokowi dan pendukung non Jokowi atau ABJ alias Asal Bukan Jokowi. Sesuatu yang lumrah dalam alam demokrasi, sepanjang berjalan dalam koridor aturan main dan fair. Sebagaimana dalam dunia olah raga, incumbent atau petahana cenderung lebih stres, gugup, emosionil, dan mudah panik. 

Di sisi lain, petahana umumnya memiliki lebih banyak resources termasuk fasilitas dan jaringan (kekuasaan) formal dan atas non formal. Tetapi karena sering panik, kelebihan-kelebihan itu kadang justru digunakan secara non-produktif baik dalam bentuk pernyataan maupun tindakan. Misalnya, pernyataan bahwa mayoritas rakyat masih menginginkan Jokowi padahal hasil hasil survei politik, bahkan dari lembaga survei yang ditengarai sering berpihak sekalipun, menyimpulkan bahwa elektabilitas Jokowi masih yang tertinggi tetapi di bawah 50%. Artinya, bukan mayoritas. 

Contoh lain adalah tindakan hukum yang sering dirasakan atau dianggap berat sebelah yang diam-diam sebenarnya justru merugikan petahana sebab semakin mensolidkan sikap pesaing yang akan diwujudkan nanti pada hari H dengan tidak memilih petahana. 
Prabowo Resmi Maju, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?
Dalam Pilpres 2014 yang lalu, Jokowi relatif hanya menang tipis dari Prabowo Subianto. Meski sudah berkuasa 3,5 tahun, tampaknya Jokowi gagal memelihara jumlah pendukungnya. Sinyalemen ini dapat diketahui dari berbagai survei yang umumnya menampilkan elektabilitas Jokowi di bawah 50%, bahkan hanya sekitar 35%. Artinya, terjadi penurunan jumlah pendukung Jokowi. Penurunan ini juga sejalan dengan observasi umum yang tidak menemukan perubahan sikap kelompok pemilih dari semula non-Jokowi menjadi Projo. Sebaliknya kita sering melihat dari Projo yang kecewa menjadi non-Jokowi bahkan anti Jokowi. 

Bagaimana dengan parpol parpol yang pada Pilpres 2014 yang lalu tidak mendukung Jokowi tetapi kini mendukung Jokowi maju lagi dalam Pilpres 2019? Jawabnya sederhana saja bahwa dukungan parpol hanyalah tiket pencalonan ke KPU. Tidak berbanding lurus dengan perolehan suara. Dan, itu sudah dibuktikan sejak terpilihnya SBY dalam Pilpres 2004 maupun dalam banyak pilkada, termasuk saat terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI yang masing-masing kemenangannya tidak berbanding lurus dengan besarnya dukungan parpol. Artinya, dukungan resmi parpol boleh saja minimalis tetapi memperoleh kemenangan yang meyakinkan, dan sebaliknya yang besar dukungan parpolnya tetapi dikalahkan telak oleh pilihan rakyat.

Sudah menjadi rule of thumb bahwa dalam simple majority system, untuk layak dimajukan lagi seorang petahana "disyaratkan" memiliki dukungan atau elektabilitas minimal 60% dengan perhitungan kalau ada penurunan dukungan sampai 10%, masih memperoleh sisa 50% plus alias masih menang. Jika elektabilitas petahana di bawah 60%, parpol pendukung biasanya ragu-ragu untuk mencalonkan kembali, dan bila di bawah 50% logikanya parpol pendukung akan mengajukan calon lain. 

The simple theory atau argumentasi dari logika tersebut, selain dari kebiasaan dan empiris di negara negara demokrasi, bahwa seorang petahana itu telah manggung dengan jabatan dan kekuasaannya sehingga sudah jelas kualitasnya, baik-buruknya, atau kinerjanya di mata pemilih. Maknanya, para pemilih sudah mengetahui dengan jelas alasan dukungan atau penolakannya terhadap petahana. Bukan lagi membeli kucing dalam karung. Oleh karena itu seorang petahana yang hanya didukung kurang dari 50% hampir dapat dipastikan akan kalah. 

Contoh terakhir dalam pilpres adalah Ibu Megawati sebagai petahana yang dikalahkan SBY dalam Pilpres 2004, sejalan dengan hasil survei bahwa dukungan terhadap Ibu Megawati selaku petahana di bawah 50%. Atau, contoh terakhir dalam pilkada adalah kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI. Selaku petahana, dukungan terhadap Ahok sesuai hasil hasil survei, seingat saya, selalu di bawah 50% meski selalu tertinggi dibandingkan calon calon yang lain. Bahkan dalam putaran pertama pun Ahok memperoleh suara tertinggi, melampaui suara Anies Baswedan. Tetapi dalam putaran kedua atau akhir, Ahok dikalahkan Anies yang sebelumnya baik dalam survei-survei maupun putaran pertama kalah oleh Ahok. 

Perolehan suara petahana biasanya memang stagnan. Ini menjelaskan bahwa dukungan terhadap petahana --ceteris paribus-- cenderung fixed. Mengapa? Sekali lagi karena pemilih sudah tahu kinerja petahana. Jadi yang mendukung akan benar-benar mendukungnya, dan yang menolak juga akan benar-benar menolaknya. Inilah untung ruginya petahana. Oleh karena itu sungguh keliru bila elektabilitas petahana dibandingkan dengan calon penantangnya. Hampir dapat dipastikan petahana akan selalu unggul seperti halnya Ahok dalam pilkada DKI, ataupun kini dalam hal menyongsong Pilpres 2019. Elektabilitas Jokowi akan lebih tinggi dari calon lainnya. 

Meski begitu, sepanjang elektabilitas petahana di bawah 50%, hampir dapat dipastikan petahana akan kalah. Mengapa? Sebab berarti lebih dari 50% pemilih tidak mendukung petahana yang untuk sementara suaranya mungkin masih terpecah-pecah atau terbagi-bagi ke beberapa calon, atau sengaja belum menentukan sikap pilihannya tetapi hampir dapat dipastikan tidak ke petahana. Tetapi bila nantinya head to head antara petahana dengan penantangnya, suara yang tidak mendukung petahana atau belum bersikap tadi akan merge (bersatu) untuk atau demi mengalahkan petahana.

Dengan demikian adalah suatu kekeliruan besar bila kita membandingkan elektabilitas petahana dengan elektabilitas para penantangnya. Elektabilitas petahana hanya dapat dibandingkan dengan dirinya sendiri, yaitu berapa besar yang tidak mendukungnya. Perbandingan elektabilitas sesama calon hanya dapat disajikan (sebagai rujukan) bila sama sama baru, tidak ada calon petahana. 

Dari gambaran keadaan di atas dapat dimengerti bahwa para bakal calon dengan tim suksesnya harus beradu cerdas mengatur strategi. Para pemilih juga harus cerdas dalam menyikapi isu, pembentukan opini, dan membaca hasil hasil survei. Perbandingan elektabilitas petahana dengan calon lain yang bukan petahana misalnya, bukanlah perbandingan apple to apple, dan karena itu tidak usah dibeli.

Kita juga bisa memahami (bila benar) isu yang berkembang bahwa strategi tim sukses petahana adalah menawarkan calon penantang yang paling potensial untuk menjadi cawapresnya. Ini adalah strategi yang amat jitu dan murah atau efisien dari petahana yang hanya mempunyai dukungan di bawah 50% sebab akan melahirkan calon tunggal, atau mungkin cukup memasang calon boneka untuk sekedar memenuhi syarat formal. Tetapi blunder bagi sang penantang dan kekuatan pendukungnya. 

Karena itu keputusan Gerindra dan parpol parpol pendukung Prabowo untuk tetap mengajukan Prabowo sebagai capres dalam Pilpres 2019 sudah tepat, sebab selain berpeluang memenangkan pilpres, setidak tidaknya juga akan meningkatkan perolehan suara legislatif parpolnya. Sebaliknya, kita juga bisa memahami bila ada strategi para capres yang tidak mengambil tokoh parpol sebagai cawapresnya karena yang penting adalah kuatnya dukungan suara. 

Kita juga bisa memahami isu bahwa petahana ingin tetap berpasangan dengan JK mengingat kemenangan dalam Pilpres 2014 adalah karena faktor JK yang dianggap sebagai tokoh Islam sekaligus tokoh Indonesia Timur. Saya kira tanpa JK, dukungan kepada Jokowi akan lebih turun lagi. Tapi, tampaknya JK terhalang oleh larangan konstitusi karena sudah dua kali menjadi warpes. 

Dengan demikian sungguh naif bagi mereka yang telah membuat kekeliruan analisis dalam Pilkada DKI dengan meyakini Ahok akan menang (padahal elektabilitasnya, meski selalu di atas yang lain, tapi tidak melebihi 50%), kini membuat kesalahan serupa bila meyakini Jokowi akan menang padahal elektabilitasnya jauh di bawah 50%. Karena itu prediksi 2019 akan ada presiden baru, bukan prediksi yang tidak berdasar. 

https://news.detik.com/kolom/d-39694...ng-jokowi-2019


Mengukur Peluang Presiden Jokowi dalam Pilpres 2019
Sabtu 03 Februari 2018 09:33 WIB


Presiden Jokowi rentan diterpa isu ekonomi dan agama.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Posisi Presiden Joko Widodo belum aman. Begitu hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengenai peluang calon pejawat dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2019.

Memasuki tahun keempat masa jabatannya, elektabilitas Presiden Jokowi belum juga menyentuh 50 persen. Bandingkan dengan, presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang elektabilitasnya stabil di kisaran 60 persen sebelum memasuki Pilpres. Jelas ini lampu kuning bagi Presiden Jokowi bila ingin mempertahankan jabatannya.

"Dari riset LSI, pada Januari 2018 ini, elektabilitas Jokowi mencapai 48,50 persen. Di sisi lain, elektabiltas calon-calon pesaing Jokowi sebesar 41,20 persen dan ada 10,30 persen orang yang belum menentukan pilihan. Dari data itu, LSI melihat Jokowi sudah kuat tapi belum aman," ujar Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfarabi, saat memaparkan hasil survei itu.

Dikarenakan elektabilitas yang masih belum aman, Adjie menyebut peluang Jokowi untuk memenangkan Pilpres tahun depan, 50-50. Peluang untuk menang dengan peluang menuai kekalahan sama besarnya. Kemenangan di Pilpres 2019 akan ditentukan pengelolaan isu yang tepat oleh masing-masing calon. "Sebesar 50 persen kemungkinan pejawat presiden terpilih kembali. Sebanyak itu pula, kemungkinan 50 persen pejawat dikalahkan," ujar Adjie, Jumat (2/2).

Adjie mengatakan Indonesia baru melaksanakan pilpres langsung tiga kali pada 2004, 2009, 2014. Namun baru dua kali, pejawat presiden bertarung kembali yakni Megawati pada 2004 dan SBY pada 2009.

Pada pemilu 2014, tak ada pejawat presiden yang bertarung. Presiden SBY sudah memangku jabatan dua periode dan sesuai aturan tak bisa maju kembali. Pilpres 2014 berlangsung tanpa kehadiran pejawat sebagai peserta. Pada 2004, pejawat presiden kalah. Pada 2009, pejawat presiden menang. Sejarah Indonesia menunjukkan angka.

Berkaca para Pilpres Amerika Serikat, kompetisi pejawat juga ketat. Berdasarkan data 18 kali pemilu presiden terakhir dimana pejawat maju kembali untuk periode kedua, 10 kali pejawat presiden menang dan delapan kali pejawat presiden kalah. Persentase pejawat untuk menang dalam pilpres AS tersebur sebesar 55 persen.



Isu ekonomi dan agama rentan menerpa Jokowi

Dari hasil survei, isu sektor ekonomi akan menjadi isu rentan bagi Presidenn Jokowi. Adjie memaparkan, dari sisi kepuasan kinerja, 70 persen responden merasa puas dengan kinerja Jokowi dan 21,30 persen responden merasa kurang puas. Dari data itu, LSI melihat Jokowi sudah kuat tapi belum aman.

Dalam jumlah besar, publik tak puas dengan kondisi ekonomi. "Masalahnya, isu ekonomi adalah isu terpenting yang membuat pejawat menang atau kalah," ujar Adjie, Jumat (2/2).

Sebesar 52,6 persen responden menyatakan harga-harga kebutuhan pokok makin memberatkan mereka. Sebesar 54,0 persen responden menyatakan sulit mendapatkan pekerjaan. Sebesar 48,4 persen responden menyatakan pengangguran semakin meningkat.

Merebak pula isu buruh negara asing, terutama yang berasal dari Cina. Di tengah sulitnya lapangan kerja dan tingginya pengangguran di berbagai daerah, isu tenaga kerja asing sangat sensitif.

Isu ini secara nasional memang belum populer karena belum banyak diketahui masyarakat. Survei LSI menunjukkan baru 38,9 persen responden mendengar isu ini. Dari jumlah itu, 58,3 persennya menyatakan sangat tidak suka dengan isu itu dan hanya 13,5 persen yang menyatakan suka.

Jokowi rentan pula terhadap isu agama. Kekuatan dan isu Islam politik diprediksi akan mewarnai Pilpres 2019 seperti yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017, tapi dalam kadar berbeda. Islam politik sendiri adalah terminologi untuk segmen pemilih yang percaya dan sangat yakin politik tak bisa dipisahkan dari agama. "Untuk pemilih Indonesia, jumlah segmen Islam Politik terbilang besar," kata Adjie.

Sebesar 40,7 persen responden menyatakan tidak setuju agama dan politik dipisahkan. Sementara 32,5 persen publik menyatakan agama dan politik harus dipisahkan. Dari mereka yang menyatakan agama dan politik harus dipisahkan, 58,6 persennya mendukung kembali Jokowi sebagai presiden.

Sementara mereka yang tidak setuju agama dan politik harus dipisahkan, 52,1 persennya mayoritas mendukung capres selain Jokowi. Meski begitu, Jokowi masih memperoleh dukungan sebesar 40,8 persen dar segmen Islam Politik ini. "Islam politik versus bukan Islam politik menunjukkan perilaku politik berbeda terhadap memilih atau melawan Jokowi," ungkap Adjie.

Dua isu besar itu akan berperan besar menentukan kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2019. Jokowi akan makin kuat dan perkasa jika isu-isu ini dikelola dengan baik. Sebaliknya, Jokowi akan melemah jika isu ini terabaikan, apalagi sampai 'digoreng' lawan politiknya.

Penantang kuat Jokowi

Lantas siapa penantang Jokowi dalam Pilpres mendatang? Survei LSI memperlihatkan Prabowo Subianto masih akan jadi calon terkuat pesaing Joko Widodo (Jokowi).

Adjie menjelaskan, survei membagi capres penantang Jokowi dalam tiga divisi berdasarkan popularitas. Popularitas dinilai penting karena menjadi modal awal para tokoh untuk bertarung.

Divisi 1 untuk capres yang popularitasnya di atas 90 persen. Dari nama-nama yang akan bertarung, hanya Prabowo Subianto yang masuk ke dalam Divisi 1 dengan tingkat popularitas Prabowo mencapai 92,5 persen. "Penantang Divisi 1 hanya ditempati satu tokoh saja yaitu Prabowo Subianto, sepi," ungkap Adjie.

Divisi 2 adalah kelompok untuk capres dengan popularitas antara 70-90 persen. Tokoh yang masuk dalam Divisi 2 ini hanya Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Popularitas Anies Baswedan sebesar 76,7 persen dan AHY sebesar 71,2 persen. "Riuh Pilkada DKI tahun lalu menjadi panggung nasional bagi dua tokoh ini," kata Adjie.

Sementara Divisi 3 merupakan kelompok capres yang popularitasya antara 55-70 persen. Tokoh yang memenuhi kriteria ini hanya Gatot Nurmantyo dengan popularitas 56,5 persen. Sayangnya sejak pensiun, kiprah Gatot memudar. "Padahal penonton masih rindu dan bertepuk tangan menanti atraksinya," ujar Adjie.

Setahun menuju Pilpres 2019, sanggupkah Presiden Jokowi mendongkrak kembali elektabilitasnya?  Mampukah di waktu yang tersisa ini, pejawat mengelola isu-isu sensitif di sekelilingnya?

http://www.republika.co.id/berita/na...m-pilpres-2019

-----------------------

Nasib Jokowi dan PDIP di pridiksi banyak kalangan akan ada kemiripan dengan kisah tragis Megawati dan PDIP ketika tahun 2004, saat rakyat pemilih ramai-ramai meninggalkan parpol pemenang Pemilu 1999 itu karena kecewa berat dengan performance Presiden Megawati saat itu. Mereka akhirnya memilih Jenderal SBY, tokoh kalem tapi tegas. Sejarah kayaknya akan berulang kembali untuk keduakalinya. 

emoticon-Ultahemoticon-Wkwkwkemoticon-Ultah
Ini Hasil Survei Terbaru Capres 2019 Menurut KedaiKOPI
April 15, 2018 18:45

Prabowo Resmi Maju, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Jakarta, Aktual.com – Elektabilitas Jokowi masih tertinggi di antara pesaing lainnya, berdasarkan gambaran Survei Nasional Opini Publik 2018 Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia).

Berdasarkan data yang dihimpun, Minggu (15/4), dari survei KedaiKopi memunculkan nama Gatot Nurmantyo sebagai Cawapres favorit, TGB Zainul Majdi paling religius.

Survei ini menampilkan elektabilitas sejumlah nama calon presiden dan wakil presiden. Joko Widodo saat disandingkan dengan sejumlah nama masih dominan (48,3 persen) diikuti Prabowo Subianto (21,5 persen), Gatot Nurmantyo (2,1 persen) lalu TGB Zainul Madji, Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono yang sama-sama mendapatkan 1,1 persen suara.

“Jadi jika Jokowi rematch hari ini menghadapi Prabowo, maka ia tetap lebih unggul,” kata Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio.

Pada pertanyaan terbuka Jokowi juga berada pada posisi teratas top of mind masyarakat sebagai calon presiden (35,1 persen), sedang Prabowo berada di posisi berikutnya dengan 12,0 persen. Lalu diikuti sejumlah nama lainnya, Gatot Nurmantyo (1,1 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (0,7 persen), TGB Zainul Majdi (0,5 persen) dan SBY (0,5 persen).

“Nama-nama lainnya tak sampai 0,5 persen ada Hari Tanoe, Anies Baswedan dan Edy Rahmayadi,” lanjut Hendri.

Kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Joko Widodo masih tinggi. Sampai saat ini, 66,5 persen publik mengaku puas pada pemerintahan Joko Widodo terutama pada bidang kesehatan, infrastruktur, pendidikan dan hubungan luar negeri. Hanya 33,5 persen yang menyatakan tidak puas.

Sementara itu, Direktur Lembaga Survei KedaiKOPI, Vivi Zabkie mengatakan bahwa untuk posisi Wakil Presiden, Gatot Nurmantyo menjadi favorit. Saat ditanya, di antara nama-nama berikut siapakah yang akan Anda pilih menjadi Wakil Presiden Indonesia mendatang, hasilnya publik memilih Gatot Nurmantyo (17,5 persen).

Lalu diikuti Agus Harimurti Yudhoyono (8,7 persen), Anies Baswedan (8,6 persen), TGB Zainul Majdi (6,2 persen), Abraham Samad (4,1 persen), Tito Karnavian (3,9 perse), Muhaimin Iskandar (1,7 persen), Rizal Ramli (1,1 persen) dan nama nama lainnya.

Saat publik diajukan pertanyaan terbuka, bila pemilihan presiden dilakukan hari ini, siapa yang akan anda pilih sebagai Wakil Presiden? 4,6 persen responden menyebut nama Gatot Nurmantyo. Nama lain yang menempati top of mind publik sebagai calon wakil presiden adalah TGB Zainul Majdi (4,4 persen) dan Agus Harimurti Yudhoyono (4,3 persen) .

“Ini adalah tiga nama teratas yang dipikirkan masyarakat sebagai calon walaupun sebagian besar masyarakat belum memutuskan soal calon wakil presiden ini (53,5 persen),” jelas Vivi.
http://www.aktual.com/ini-hasil-surv...rut-kedaikopi/


------------------------

elektibilitas petahana yang masih dibawah 50% ... sesungguhnya sangat mencemaskan pendukungnya. Sebab, angka itu menunjukkan bahwa separuh lebih pemilih memilih bukan si petahana itu. Maka kalau para pemilih asal bukan petahana itu dihadapkan hanya 1 pilihan alternatif, bisa jadi semua suara asal bukan petahana itu akan menumpuk disana. Menumpuk calon yang bukan petahana. Itulah yang dulu pernah terjadi pada AHOK saat putaran kedua Pilgub Gubenur DKI Jakarta tahun lalu itu, bukan?
Maaf saya nanya
Itu dibelakang prabowo pake baju loreng

Merrka itu apa ya
siram air nih pagi2, biar ngak ngimpi mlulu, jalani aja knyataannya, jgn ngikutin prediksi/ramalan mlulu, apalagi buku fiksi emoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Uga
Quote:


paling juga simpatisan/kader oom 8owo... emoticon-cystg

kalau dari aparat, (TNI misalnya) kayaknya nggak mungkin.. Mngingat TNI/POLRI harus netral.. (CMIIW)


ane perhatiin.. seragamnya malah kayak seragam SATPOL PP emoticon-Ngakak
emang nikmat coli.di.pagi.hari sambil bayangin puting bergelambirnya wowok
cerai? oralah emoticon-Angel
selama jokowi gak blunder kayak ahok, ato kayak nastak2 kaskus yang benci islam.
kemungkinan besar gak bakal senasib kayak ahok.

tinggal liat dulu siapa calon wapres jokowi.
kalo ahok, princes, pak brewok > bakal lumayan banyak yg nyerang tuh.

kalo nyari tokoh yg populer, wowo mah susah ngelawannya. (kalah lagi di ronde 2)
Quote:


Muda muda

Dan terlihat kekar

Kalo simpatisan kerjaanya apa ya
Quote:



ah elu... Merhatiin aja.. emoticon-Betty

biasanya sih pekerjaan mereka bermacam2,, (nggak mungkin lah...) itu jd kerjaan pokok mereka. Kalau di kalangan NU atau PKB.. Mungkin Semacam BANSER atau ANSHOR... (Kan seragamnya) loreng2 juga tuh... emoticon-cystg
Quote:


Itu (kemungkinan)preman yg diseragamkan satgas
Liat video Vlabowov Puting waktu digangvang kemaren,banyak yg tatoan emoticon-Traveller
kayanya diprovinsi ane jokowi bakalan kalah , kalau pemilu diadakan sekarang waktunya
Mayat bakal mandi sendiri dah....
Faktanya
Jkw selalu menang disetiap pemilihan,dari,calkot,cagub dan capres
Dan prabowo selalu kalah disetiap pemilihan wapres dan capres
HHmm kelihatannya belum ada skandal gedhe Wiwi nype Wowo punya amunisi dah...emoticon-Big Grin
Kalo Wowo kerahin dong Juniornya buat nyari data borok Wiwi..emoticon-Ngakak (S)
sudah dimulai kan ada partai setan 👿 vs partai allah

bangke mana yang ga disolatin emoticon-Traveller:
Tidak ada calon alternatif lagi ya?
Kalo Ahok jelas, lha Jokowi udah menggandeng para ulama, sulit jika mau meng-Ahok-kan Jokowi
masuk bui + cerai ?
Subhanallah..
Inilah buktinya...
Pemimpin yg penuh berkah.
Pemimpin yg mendengar jeritan rakyat kecil.
Pemimpin yg mendengar aspirasi arus bawah.
Pemimpin yg fenomenal.
Pemimpin harapan umat manusia.
Pemimpin yg dekat dengan ulama dan ahli agama.
Pemimpin yg selalu berdiri diatas golongan.
Pemimpin yg penuh inovasi.
Pemimpin yg penuh terobosan.
Pemimpin yg tidak gila harta.
Pemimpin yg tidak gila jabatan.
Pemimpin yg selalu mengayomi keluarga.
Pemimpin yg tak menggunakan agama untuk kepentingan politik.
Pemimpin hebat masa depan Indonesia.
Pemimpin yg mengedepankan kepentingan bersama. Tidak berlebihan jika dunia mengaguminya. Tidak berlebihan jika dunia menghormatinya. Dan tak berlebihan jika dua periode wajib untuk dirinya.
Ya Allah lindungilah selalu Joko Widodo.

micin curah army