alexa-tracking

Kisah Sang Kyai Guru

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad3bc97925233c27f8b456d/kisah-sang-kyai-guru
(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru
Sang Kyai 1

Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya.

Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya.
Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri.

Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.

Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Yang ku tau lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.

Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk.

Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok. Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri.

Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.

Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.

Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku.

Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.

Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak,

“Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.”

“Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan.

“ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah.

Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati.

Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong.

Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir.

Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai.

Bersambung dipost selanjutnya.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Sang Kyai 2

“Sudah.” kata Kyai.

“Saya mau… mau…” sahut Iqbal gugup.

“Iya sudah saya isi, mau ilmu kebal senjata kan?” Iqbal manggut.

Aku yang waktu itu membereskan gelas minuman, juga ikut heran, apalagi Iqbal. Karena memang Kyai belum menyentuh Iqbal sama sekali. Melihat Iqbal ragu, Kyai segera memanggil Kunto, santri dari Sumatra yang tubuhnya gempal.

Setelah kunto menghadap, “Kunto, ambil golok!, kau tes si Iqbal ini.” kata Kyai tenang.

Iqbal pucat, kulihat keringat dingin membasahi jidatnya, tubuhnya gemetar, aku tak berani membayangkan apa yang dipikirkan Iqbal, mungkin dia menyesali telah datang kesini, atau mungkin membayangkan kulitnya sobek sampai ke tulangnya kelihatan memutih lalu darah mengucur dari lukanya, lalu tubuhnya ambruk mati.
Kunto telah datang membawa golok, semua santri memiliki golok, senjata khas yang dipakai santri untuk mengambil kayu bakar di gunung putri. Di pondok ini para santri makannya ditanggung Kyai, kalau Kyai ngasih beras, maka nasi yang dimakan, tapi bila adanya ubi maka ubi yang dimakan, bahkan tak jarang berhari-hari kami makan daun singkong yang direbus saja, tapi alat perebus yaitu kayu bakar, kami harus mencari di hutan.
Kedatangan Kunto dengan goloknya yang berkilat-kilat membuat Iqbal makin gemetaran, tamu-tamu yang lain telah minggir, sebelum Kunto datang mungkin takut kecipratan darah, apalagi tamu-tamu wanita makin jauh, tinggal Iqbal yang duduk sendirian di depan Kyai, keringatnya membanjir, apalagi Kunto datang tanpa kata-kata lagi meloncat menebaskan goloknya berkelebat ke arah leher Iqbal yang duduk menunduk di depan Kyai, para tamu perempuan menjerit.

Kontan Iqbal menoleh. Bias, wajahnya seputih kapas, golok Kunto mendesing ke arah lehernya. Memejamkan mata saja Iqbal tak sempat apalagi menghindar, nyawanya rasanya sudah lepas ketika suara ngek!, terdengar di lehernya, tapi segera aliran darah merah mengaliri seluruh permukaan kulitnya yang memutih, menyegarkan kembali urat-uratnya, dan kelegaan menggantikan keterkejutan, ketika mendapati kepalanya tidak menggelundung lepas.

Bahkan ia tak merasakan sakit sama sekali ketika ketajaman golok menyentuh kulitnya, seperti bantal kapuk yang empuk saja. Semua mata yang menatap lega, dan suasana segera dicairkan dengan ketawa Kyai, yang menyuruh Iqbal melanjutkan ujicoba kekebalannya di luar, karena Kyai mau menerima tamu yang lain.

“Oh engkau rupanya nyai Bundo.” kata Kyai, diiringi senyum.

“Maaf nyai aku tak bisa menyambutmu yang mendadak ini,”

“Ah banyak bacot amat!” bentak nyai Bundo.

“Terima serangan ku!”

Seketika perempuan tua itu mengangkat tangan kanannya setinggi pundak, sedang tangan kirinya diarahkan ke pusar. Dengan hitungan detik tapak tangannya menyala, dari menyala merah biru kemudian putih keperakan. Terdengar olehku suara Kyai mendesis, “Pukulan saripati bagaspati.” Tangan Kyai mendorong lututku sehingga tubuhku meluncur seperti beroda dan mentok di tembok. Kulihat tangan nyai Bundo dipukulkan ke depan. Terdengar suara bersiutan seperti suara mobil yang jalan kencang lalu direm mendadak.

Ketika cahaya itu lepas dan menghantam dada Kyai, semua orang di situ matanya melotot, udara terasa panas, rasanya seperti dalam oven. Cahaya yang menghantam Kyai begitu mengenai dadanya, cahaya itu langsung amblas. Kyai tetap duduk tersungging senyumnya. Seperti tak terjadi apa-apa, bahkan pakaian putih yang dikenakan samasekali tak berkibar. Jelas hal itu membuat nyai Bundo makim marah, dan mengulang pukulannya sampai berulang kali, tapi hasilnya sama, Kyai tetap duduk tak bergeming.

“Bedebah cilik, sihir apa yang kau pakai?” nyai Bundo seperti tak percaya, ilmu yang selama ini dibanggakannya seperti tak punya kekuatan apa-apa. Padahal biasanya yang terkena pukulan yang telah dilambari aji saripatibagaspati, jangankan manusia, kerbaupun akan hangus terbakar luar dalam, tinggal mengasih bumbu sudah matang tak perlu dimasak lagi. Tapi ini orangnya masih hahak hihik, jelas membuat nyai Bundo panas hatinya kicat-kicat.

“Sareh nyai, ayo duduk sini.” kata Kyai masih terus ketawa. Walau masih mbesengut nenek itupun akhirnya duduk di depan Kyai, lalu Kyai mengangkat tapak tangan kirinya seraya berkata,

“Nyai, nanti apa yang keluar dari tapak kiriku, dan engkau bisa mengambilnya maka itu menjadi hak mu.” nyai Bundo penasaran matanya menatap ke tapak tangan Kyai yang terpentang.

Nyai Bundo memandang tak berkedip kearah tapak tangan Kyai yang perlahan tapi pasti mulai memerah dan semakin merah bercahaya, ketika dari dalam telapak tangan itu keluar batu mirah delima, batu itu terlihat merah menyala-nyala, sampai lengan baju putih Kyai ikut menyala. Segera tangan kiri nyai Bundo meraih punggung tapak tangan Kyai, sementara tangan kanannya mencoba mengambil mirah delima yang menyala-nyala itu, tapi alangkah terkejutnya karena batu itu seperti lengket di telapak tangan Kyai.

Lebih lengket daripada lengketnya perekat raja lem sekalipun. Nyai Bundo mencoba mengambil dengan segala daya kekuatannya. Sementara Kyai terkekeh-kekeh, keringat nyai Bundo membanjir, dan asap putih tipis mengepul dari rambutnya menunjukkan bahwa nyai itu telah menggunakan kekuatan tenaga dalamnya. Malah batu sakti itu tak bergeser sedikitpun, dan lagi ketika batu itu masuk lagi kedalam telapak Kyai tangan nyai Bundo ikut terbetot masuk kedalam. Sontak nyai Bundo membetot tangannya, setelah batu itu lenyap.

“Itu mungkin bukan rizkimu nyai, mungkin yang ini rizki mu,” lagi-lagi dari dalam tapak tangan Kyai yang terbentang, perlahan muncul gagang keris berukir burung garuda, keris itu perlahan keluar dari tangan Kyai yang sama sekali tak berlubang apalagi berdarah. Separuh keris itu masih menancap di tapak tangan Kyai, nyai Bundo pun lekas memegang gagang keris dan mengerahkan semua tenaga dalamnya di salurkan ke tangannya yang menggenggam keris. Dengan mudahnya keris itu dicabut. Sreet, seperti mencabut rambut dari adonan roti.

Ketika keris telah tercabut betapa nyai Bundo matanya melotot terkejut, dia benar-benar mengenali keris yang sekarang ada di genggamannya.

Segera ia bersujud mohon ampun dan menyembah-nyembah ke Kyai, Kyai cuma terkekeh-kekeh sambil membelai rambut putih perempuan tua yang sedang bersujud. Lalu Kyai menyuruh nyai Bundo duduk dengan tenang. Dan Kyai mengajakku dan yang ada di situ sholat berjamaah karena memang waktu magrib tinggal sedikit. Setelah sholat selesai dan dzikir setelah sholat, Kyai segera menemui nyai Bundo yang masih duduk sambil tangannya masih memegang keris dan tak ikut menjalankan sholat karena memang nyai Bundo bukan orang Islam. Ketika Kyai duduk di depannya, nyai itu segera meraih tangan Kyai menyalaminya, membungkuk dan meletakkan tangan Kyai di jidatnya.

“Maafkan aku guru, yang bodoh ini, tak tau tingginya gunung di depan mata, bimbinglah aku guru…” suara nyai Bundo mengiba, tak seperti pada saat kedatangannya, yang menantang-nantang.

“Nyai dari mana engkau tau akan diriku.” tanya Kyai lalu nyai Bundo menceritakan.

Nyai Bundo adalah orang Kalimantan pedalaman, dia murid seorang sakti bernama Wong Agung Sahlunto, ketika gurunya itu moksa di depannya. Sebelum moksa gurunya itu berpesan, sambil mengacungkan keris yang sekarang ini ada di genggamannya.

Lalu katanya, “Muridku kalau kau nanti menemukan orang yang memegang keris ini, maka tunduklah padanya ikuti ajarannya dan masuk agamanya.” setelah berkata seperti itu Wong Agung itu sirna beserta kerisnya. Bertahun-tahun berlalu namun nyai Bundo tak menemukan keris yang dipegang gurunya di tangan orang lain. Dia mencari ke segala penjuru, namun tetap tak menemukan, dalam pencariannya itu nyai bertemu dua orang pertapa sakti dari orang Dayak, namanya Luh Bajul dan Luh Landak.

Dan mereka bertiga mengikat persaudaraan, pada waktu terjadi kerusuhan sampit Luh Bajul dan Luh Landak mengamuk, membunuhi orang Madura. Sepak terjang dua orang sakti ini begitu menakutkan, tak jarang seorang bayi yang digendong ibunya, tanpa ketahuan sang ibu, telah kehilangan kepalanya.

Sungguh gerakan dua orang ini tak diketahui, sehingga banyak korban binasa di tangan dingin mereka. Di suatu senja, Luh Bajul dan Luh Landak tengah mengaso di tepi hutan. Setelah selesai menumpas habis dua keluarga, mereka berdua tengah duduk-duduk santai di bawah pohon randu alas. Tiba-tiba ada suara keras dan berat memanggil nama mereka berdua, mereka segera mendongak ke atas karena suara itu dari atas dan mereka terkejut sekali melihat perwujudan besar tinggi hitam legam, lebih tinggi dari pohon randu alas, matanya merah menyala seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu.

Serempak mereka berdua bersujud menyembah, karena mereka tau itulah Jadsaka, jin yang mereka sembah, yang memberikan berbagai ilmu sihir dan ilmu kesaktian. Kata jin itu dengan suaranya yang membuat bumi yang dipijak kedua orang itu bergetar “Jebleng..! Jebleng..!, celaka, celaka, Sang raja akan datang kesini, kalian sambutlah dia, dan ikuti apa yang dikatakannya, sebelum dia marah dan menghancurkan bangsaku maka aku akan membinasakan kalian berdua.”

Setelah menemui sang raja itu kedua pertapa dayak itu menceritakan pada nyai Bundo, perempuan itu yang tak ada hubungan dengan Jadsaka tanpa takut. Dengan petunjuk dari Luh Bajul dan Luh Landak segera mencari keberadaan sang raja.
Aku jadi ingat pada satu malam setelah wirid malam aku tertidur pulas dalam tidur aku bermimpi Kyai mengajakku, “Mas Ian ayo temani aku jalan-jalan.″ begitu kata Kyai, lalu Kyai menggandengku. Tubuhku terasa ringan seperti kapas, melayang cepat laksana kilat, melintasi pohon melewati gunung, melayang seperti superman dalam film, melintasi laut menuju pulau, perjalanan begitu cepat. Lalu tubuh kami melayang sebatas pinggang, nampak olehku dua orang duduk bersimpuh, menyembah-nyembah.

“Ampun raja apa yang paduka inginkan?”

“Aku hanya ingin kalian hentikan membunuh orang.” kata Kyai masih memegang pergelangan tanganku.

“Baik paduka… kalau boleh tau siapa gerangan paduka?”

“Aku Kyai Lentik penguasa gunung Putri.” setelah berkata itu maka Kyai pun segera menarik tanganku kembali, melesat cepat, dan aku terbangun, hari sudah pagi, kejadian malam itu aku menganggapnya hanya mimpi saja, ternyata kini aku tau bahwa itu nyata, apalagi setelah menguasai ilmu raga sukma melepas sukma itu adalah hal yang biasa saja, terbang kemana saja sekehendak kita.

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Sang Kyai 3

Malam itu nyai Bundo, disuruh mandi oleh Kyai, setelah diberi petunjuk-petunjuk, setelah mandi nyai Bundo di tuntun membaca dua kalimah sahadah, dan nyai Bundo pun telah menjadi seorang muslimah, terlihat wajahnya memancarkan kebahagiaan, dan matanya berkaca-kaca karena bahagia.

Malam itu nyai Bundo menemani Kyai menemui para tamu-tamu yang tiada habisnya sampai adzan subuh, nyai Bundo teramat kagum kepada Kyai, yang begitu dengan telaten mendengar keluh kesah para tamu, lalu memberi solusi, berbagai macam keluhan tentang kesempitan hidup, tentang segala macam penyakit.

Kyai dengan sabar melayani, tanpa meminta imbalan apapun, karena memang Kyai tak membutuhkan apa-apa. Aku sangat tau pasti itu, kalau soal rumah mewah, aku sangat tau Kyai punya di mana-mana, yang sering aku diajak menengok rumah mewahnya yang dibiarkan kosong, di Pondok Indah, di Kelapa Gading, di Tangerang, di Parung, semua rumah-rumah yang mewah, juga mobil Kyai punya banyak, sampai akupun tak tau jumlahnya, yang aku tau pasti ada mobil mercedes, karena aku pernah mengecatnya dengan lukisan airbrush, lalu ada mobil land cluser yang dibeli dari uang daun.

Saat itu Kyai mengajar kami tentang kemulyaan ilmu, dan banyaknya ilmu Alloh, sehingga ilmu Alloh teramat banyak sampai jika ilmu Alloh itu digali dari masa nabi Adam as. sampai sekarang maka ilmu itu masih lebih banyak lagi, lalu Kyai juga menyinggung tentang kebersihan hati dari penyakit nafsu, serakah, sombong, egois, iri, dengki, berburuk sangka, tiada bersyukur, menjauhkan sifat-sifat dan budi pekerti yang tercela, apa yang kau lihat, jika orang lain melakukan maka kau tak suka, maka apabila kau lakukan seperti itu orang lain pun tak suka.

Itu harus dijauhi, dan jauhkan diri dari memandang sesuatu itu punya kekuatan melebihi kekuatannya Alloh. Upayakanlah di dalam hati yang ada Allah semata. Maka hatimu nanti menginginkan, sebenarnya itu keinginan Alloh. Tiba-tiba Kyai menyuruh para santri mengumpulkan daun kopi sebanyak-banyaknya, kami segera bertebaran mengambil daun kopi, yang pohonnya tumbuh di sekitar pondok, setelah dirasa banyak, kamipun segera kembali ke depan Kyai, kemudian Kyai menyuruh mengikat daun-daun kopi itu degan tali dari gedebong pisang, dijadikan bundelan-bundelan, lalu Kyai menyuruh semua daun disatukan di atas sorban, dan sorban itu diikat, kemudian Kyai mengucap, ”Ini adalah suatu contoh jika engkau menginginkan daun jadi uang, jika hati telah diliputi hanya Alloh, maka daun pun akan jadi uang.”

Kami semua menatap dengan pandangan kurang yakin, bagaimanapun itu pengalaman yang belum pernah kami alami. Lalu Kyai menuding pada bungkusan daun. Dan berkata, “Jadilah uang.”

Lalu Kyai menyuruh kami membuka ikatan sorban itu, dengan hati berdebar-debar kami buka ikatan, dan betapa terkejutnya kami, semua daun kopi yang kami kumpulkan telah menjadi uang semua, masih terikat tali gedebong pisang. Kami semua memandang takjub, termasuk para tamu yang ada, lalu Kyai memanggil salah seorang tamu yang dikenal baik oleh Kyai. Namanya pak Wisnu.

“Pak Wisnu, tolong pak Wisnu bawa pergi uang ini dan saya minta dibelikan mobil landcluser.” kata Kyai. Pak wisnu he eh aja kemudian pergi membawa uang itu. Besoknya datang mobil yang masih kinyis-kinyis sesuai permintaan Kyai.

Pagi itu sebelum matahari keluar dari peraduannya, nyai Bundo telah pergi, sebelumnya mohon diri kepada Kyai, lalu berjalan ke halaman, membentangkan karpetnya, berdiri di atasnya, membaca mantra, tubuh dan karpetnya pun melayang terbang, nenek itu melambai kepada Kyai yang mengantarkan sampai pintu rumah gubugnya. Wajah nenek itu demikian bercahaya penuh kedamaian.

Begitulah di pesantren ini tiap hari ada saja orang yang diIslamkan, penyakit yang disembuhkan, pecandu narkoba yang disadarkan, bromocorah yang ditaubatkan, preman yang disadarkan, dengan kelembutan dan kasih sayang juga kelebihan-kelebihan Kyai.

Matahari pagi bersinar dengar ceria, wajahnya berbinar sumringah seperti merahnya para gadis desa yang mau pergi ke sungai untuk mandi, embun di atas rerumputan bagai permadani manikam, berkilauan bahagia seakan tak takut sebentar lagi sari indahnya akan hilang berbarengan siang yang mulai menggarang.
Nampak beberapa tamu menunggu Kyai menemui ada yang ngobrol, ada juga yang duduk bermalasan. Nampak sebuah sedan BmW hitam dop. Berhenti di tempat parkir, lalu menempatkan ke parkir jauh dari pohon kelapa yang memang mendomisili tumbuhan di sekitar pesantren. Selain kopi pesitan, picung, dan cecek juga ada pohon mlinjo.

Setelah mobil berhenti, keluarlah tiga orang, satu pria dan dua wanita, nampaknya tiga orang itu, seorang gadis dan ayah ibunya. Duilah cantiknya, bener-bener gadis yang cantik, walau di pondok ini sering kedatangan artis, tapi memang gadis ini benar-benar cantik, mata yang indah wajah yang sempurna hidung mancung sekali, bibir yang merekah tapi tipis, alis mata yang melengkung seperti pedang orang Arab, dagu yang lancip, uh kulitnya putih bersih tapi mengeluarkan cahaya, mungkin sering mandi susu dan madu. Tubuh yang tinggi tapi padat berisi.

Wah jadi membayangkan yang enggak-enggak, ternyata bukan aku saja yang terpukau, si Jauhari, Kholil dan Mujaidi, yang sedang menyapu halaman, terbengong-bengong, sapu di tangan mereka terlepas. Dan air liur menetes dari tepi mulut mereka, wah bisa malu maluin, aku segera menghampiri mereka, dan mengingatkan mereka. Mereka bertiga segera menyadari, dan cepat-cepat melanjutkan menyapu. Aku sebenarnya juga keluar air liur, tapi dikit, tak sebanyak mereka.

Ketertarikan wanita dan lelaki juga kekaguman kesempurnaan ciptaan Alloh, adalah wajar, wanita memandang lelaki, juga sebaliknya, kemudian kagum, itu wajar, asal tidak meneruskan pandangannya ke dalam pandangan perzinahan mata. Yang tidak wajar itu kalau lelaki lihat kambing betina, lalu timbul birahi.

Inilah hidup kita ini diberi nafsu binatang, tapi kita juga diberi pikiran, nafsu membuat kita hina, tapi dengan menempatkan pada tempatnya sungguh nafsu tak membuat manusia hina.

Gadis cantik dengan kedua orang tuanya itu menghampiri salah seorang santri yang sedang menyapu halaman. Kebetulan yang didekati si Kolil, Kolil masih pura-pura sibuk menyapu, keringat dingin keluar membanjir, gemetar dengkulnya bergemelatukan.

Lalu si gadis bertanya, “Mas, Kyainya ada?” tanya gadis itu.

Sebenarnya yang ditanyakan hanyalah pertanyaan yang biasa saja, yaitu pertanyaan bagi tamu yang baru datang dan ingin bertemu Kyai. Tapi karena Kolil sudah keder duluan, dan suara gadis itu seperti suara seruling dari alam lain, maka Kolil pun gelagapan, seperti orang tenggelam di danau yang dalam “nga…ngu.. uit…nguk…”
Melihat gelagat yang kurang baik, aku segera menghampiri.

“Mau ketemu Kyai ya?” dijawab anggukan oleh ketiga orang itu. “Mari ikuti saya.” sayapun berjalan duluan, sambil berpikir, pastilah si Kolil nanti malam tak bisa tidur, kalaupun bisa tidur, pasti semalaman akan mengigau, sampai pagi.

Setelah sampai di tempat, Kyai masih sibuk mengobati seorang tamu, sementara tamu yang lain masih mengantri, segera tiga orang itu kuminta mengantri. Yang ditangani Kyai bernama Bapak Saipudin, dia seorang jaksa daerah Banten, karena menangani suatu masalah bapak Saipudin disantet orang. Tiba-tiba lelaki tinggi, umur empatpuluhan tahun itu memuntahkan darah kental, dari mulutnya, sementara Kyai mengobati lewat tangan Kyai ditempel di punggungnya.

Lalu Kyai memanggilku, “Suruh si Tarsan mengambil kelapa hijau.” kata Kyai, yang langsung kufahami maksudnya.

Aku segera memanggil Tarsan. Nama Tarsan adalah nama panggilan kepada seorang santri, karena trampilnya memanjat. Tarsan adalah santri dari Bojonegoro, umurnya duapuluh tahunan, tubuhnya kecil tapi kekar, berotot, Tarsan segera memanjat kelapa, tubuhnya sama sekali tak menempel pada pohon kelapa, kaki tangannya lincah menempel pada pohon kelapa, seperti tangan dan kaki itu milik spiderman, tak sampai lima menit tiga buah kelapa didapat tanpa dijatuhkan, karena memang kelapa itu perintah Kyai.

Setelah kelapa itu diisi oleh Kyai, satu kelapa diminum bapak Saipudin, dan yang dua dibuat mandi. Setelah tamu-tamu dilayani, sampailah pada giliran gadis itu dan kedua orang tuanya. Lelaki itu mulai mengenalkan diri bernama Purnomo, dan istrinya dan gadis cantik itu adalah anak angkat pak Pur, yang bernama Evo, aslinya ayahnya orang Jerman dan ibunya orang Indonesia, sejak umur 12 tahun ibunya telah meninggal dunia, dan papanya kembali ke negaranya, sehingga pak Purnomo yang mengasuhnya.

Pak Pur menarik napas, lalu melanjutkan ceritanya. Namun sayang agamanya Kristen, mengikuti agama ibunya. Tampak Kyai merenung sebentar kemudian berkata ditujukan kepada Evo,

“Tidakkah engkau ingin tau keadaan ibumu di sana.”

“Bagaimana aku bisa tau, ibuku telah meninggal.” jawab gadis itu polos.

Kyai lalu menyuruhku memanggil Jauhari, santri asal Madura, yang wajahnya agak kotak, tinggi sedang yang suka mandi berlama-lama tapi kulitnya tetap hitam juga. Tapi memang Jauhari orangnya baik, bertemu siapa saja ia akan tersenyum, atau mungkin sengaja tersenyum karena mau menunjukkan pada semua orang bahwa ia punya gigi yang putih. Jauhari segera menghadap Kyai masih dengan senyum khasnya, tapi ia tak berani menatap gadis cantik yang duduk di situ, takut ilernya tak bisa ditahan dan membanjir, tentu akan membuat malu Kyai.

“Ada apa Kyai?” katanya, masih tersenyum.

“Hur.! Sini duduk menghadap kesana.” kata Kyai, menyuruh Jauhari duduk membelakangi Kyai, yang segera dilakukan Kyai.

Perlahan tangan kanan Kyai terangkat tinggi-tinggi telapaknya terbuka, kemudian telapak itu tergenggam. Mata pak Pur, istrinya, dan Evo memandang tak berkedip, tiba-tiba tangan Kyai seperti melempar sesuatu ke punggung Jauhari. Tiba-tiba secara mengejutkan tubuh Jauhari bergulingan di galar bambu, suaranya mengaduh-aduh, tapi bukan suara Jauhari yang terdengar melainkan suara wanita.

“Aduh… tolong, ampun, sakiit.. jangan pukul lagi, ampun.. huhuu..” suara Jauhari yang menjadi suara perempuan itu merintih-rintih kadang merangkak, tapi seperti ada yang memukulnya dari belakang, punggungnya sampai meliuk, lalu bergulingan, seperti tak kuat menahan derita sakit yang tiada tara.

Pak Purnomo dan istrinya terkejut, heran, dan berbagai pertanyaan kumpul jadi satu. Tapi yang lebih tekejut lagi adalah Evo, wajah gadis cantik itu, putih pucat seperti kapas, tanpa sadar ia menjerit, “mama!”

Mendengar suara Evo, Jauhari yang masih bergulingan itu bangkit lalu merangkak mendekati Evo, masih mengaduh dan menangis,

“Kaukah itu Evo?” suara perempuan yang ada di tubuh Jauhari bertanya, “Evo Yulianti Dousand.” Evo beringsut mundur, wajah Jauhari yang hitam makin jelek saja, mungkin itu yang membuat Evo mundur, aku jadi berpikir kenapa tadi yang jadi medium bukan aku saja, setidaknya lebih cakep daripada Jauhari.

“Tak mungkin, mama sudah meninggal…, tak mungkin.” Evo beringsut mundur.

“Anak durhaka, setelah ibumu meninggal, kau tidak mengakui ibumu, aduuh..” tubuh Jauhari terjengkang lagi, seperti ada yang menyambuk punggungnya. Kyai terlihat mengangkat tangan seperti menahan seseorang yang tak terlihat supaya tidak memukul lagi, dan Jauhari pun tak mengaduh lagi.

“Apa buktinya kau mamaku.” tanya Evo masih ragu.
Lalu suara perempuan itu nerocos menceritakan Evo dari kecil sampai saat mamanya meninggal, tentang Evo yang suka bubur kacang hijau, tak pernah mau minum susu, sejak kecil rambutnya suka dikepang. Belum sampai ceritanya habis, Evo menjerit mau menubruk Jauhari tapi segera ditahan oleh ibu angkatnya.

“Oh mama…” tangis Evo menyayat, “Bagaimana keadaan mama di sana? huhuu…”

“Oh aku disiksa terus… dicambuk terus, menyesalpun percuma, kenapa kau tak pernah mendoakan ibumu ini.”

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Sang Kyai 4

“Aku selalu mendoakan ibu…”

“Tapi doamu tak sampai, kenapa kau tak masuk agama Muhammad, aku tak kuat lagi disiksa…”

“Mama…huhu..” Evo masih menangis.

“Aku pergi anakku …masuklah agamanya Muhammad..”

Tiba-tiba tubuh Jauhari melemah, dan ambruk.

“Mama… mama jangan tinggal Evo ma… Mama.” Evo menjerit lalu tubuhnya gelosor pingsan lama Evo pingsan, sementara Jauhari telah lama sadar, tapi masih kelihatan bingung, kayak orang habis dinyalain petasan tepat di depan hidungnya.

Sementara setelah Kyai menyalurkan tenaga prana dari jauh, Evo mulai bergerak-gerak sadar, karena peristiwa itu Evo kemudian masuk Islam, mempelajari doa anak kepada orang tuanya. Setelah sholat ashar, keluarga Evo meninggalkan pesantren, wajah Evo sudah tak sedih lagi, nampak jelas ada gurat-gurat harapan yang kuat di dasar hatinya, sehingga wajah cantiknya berpendaran.
Belum sampai setengah jam mobil Evo dan keluarganya pergi, datang lagi dua mobil, satu mobil toyota model lama, satu lagi mobil sedan polisi. Setelah mobil itu parkir, orang-orang yang ada di dalam mobil segera keluar, dari mobil toyota kijang, nampak keluar dua lelaki satu berperawakan sedang bajunya warna coklat susu, umurnya sekitar empat puluhan tahun, orang ini bernama Setiono, sering dipanggil pak Nono, adalah kepala desa Pasir Seketi.

Yang keluar dari mobil bersamanya adalah carik Sanusi, orangnya berperawakan tinggi gagah, kumis melintang sangar. Sementara mobil yang satu lagi adalah mobil polisi, berisi tiga orang polisi. Kelima orang itu segera menemui Kyai di rumahnya.

Aku tak mengerti masalahnya, sampai Kyai memanggilku, karena aku sedang masak di dapur menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Merebus singkong, dan membakar ikan asin. Bau ikan asin yang terbakar segera memenuhi udara, memanggil cacing dalam perut bergerak-gerak sehingga menimbulkan suara berkerutan, rupanya bau ikan asin pun sampai ke rumah cacing-cacing dalam perut itu.

“Feb, dipanggil Kyai..” suara Majid yang wajahnya melongok dari balik gedek yang sebatas dada, pemisah dapur dengan dunia luar, yang memanggil Feb cuma Majid, dia adalah teman sekolahku di SMA. Karena tau aku di pesantren lalu dia menyusul, Majid sama denganku dari Tuban cuma beda kecamatan, dia dari Bangilan, perawakannya biasa malah agak pendek, tingginya setelingaku, wajahnya paspasan, ganteng kagak, jelek ia, karena wajahnya berlubang-lubang bekas jerawat batu, tapi memang hobynya mencet jerawat, kalau sudah mencet jerawat, maka ia akan berusaha sekuat mungkin supaya jerawat itu kena, kalau sudah kena, senangnya seperti mendapatkan harta karun terpendam.
“Gantiin di dapur ya?”
“Udah sono, biar aku yang ngurusin”
Akupun melangkah meninggalkan dapur menuju tempat Kyai menerima tamu. Nampak di situ juga Mujaidi, rupanya dipanggil juga, Mujaidi adalah santri dari Bekasi. Sebenarnya awalnya bukan santri, tapi berobat karena kecanduan narkoba, setelah sembuh, kemudian memutuskan menjadi santri.

Mujaidi perawakannya tinggi kurus, aku aja sepundaknya, umurnya masih delapan belasan, bibirnya tebel hitam, sering sariawan, lalu dikelotoki kulitnya, wajahnya agak lonjong, sama dengan Majid, wajah Mujaidi juga berlubang-lubang karena bekas jerawat batu, hobinya sama dengan Majid, memenceti jerawat, kalau Mujahidi sudah memenceti jerawat maka ia akan lupa waktu, lupa makan, bedanya dengan Majid kalau Majid mencet jerawatnya kalau sudah meletus, bekas letusannya diusap-usapin ke tembok, tapi kalau Mujahidi lebih profesional mencetnya aja dia pake kain, sehingga kalau jerawatnya meletus, letusannya tak kemana-mana, kainnya juga dibasahi cairan antiseptic.
Peralatan pencet memencet jerawat milik Mujahidi juga lumayan lengkap. Yang aku pernah lihat, ada batu kali, manfaatnya adalah kalau batu dijemur di matahari, dan setelah panas maka ditempelkan, ke jerawat yang belum matang, maka akan segera matang, ada lagi amplas nomer 2000, gunanya untuk mengamplas tempat jerawat yang terlalu dalam. Ada juga jarum jahit, untuk ngorek-ngorek jerawat yang sudah terlalu berakar.
Aku segera duduk di sebelah Mujahidi, yang melemparkan senyumnya kena mataku,

“Mas Ian.” kata Kyai.

“Iya Kyai.”

“Entar malem, bareng Mujahidi ikut ronda sama orang Pasir Seketi. Mereka membutuhkan bantuan kita, untuk menangkap pencuri yang meresahkan warga.”

Akupun mengiyakan, sambil melirik Pak Lurah dan rombongannya. Maka setelah sholat maghrib, dan menjalankan wirid wajib, aku dan Mujahidi pun berangkat setelah berpamitan kepada Kyai. Gelap mulai merayap, kampung Pasir Seketi dari pesantren jaraknya kira-kira empat kiloan, cuma harus melewati hutan kopi yang panjang serta grumbul-grumbul yang gelap mengerikan, tapi kami menganggapnya biasa, karena memang kami biasa hidup di alam bebas. Jam delapan lebih kami tiba di desa Pasir Seketi. Di hadang pemuda-pemuda desa yang membawa golok arang.

“Siapa?” tanya pemuda gempal memakai topi coklat. Di belakangnya berdiri pemuda yang lain siaga.

“Aku Ian.” jawabku keras untuk menghilangkan kecurigaan. Dan rupanya pemuda itu mengenaliku.

“Oo mas Ian, ayo mas ke rumah Pak Lurah, Pak Lurah sudah menunggu, tadi berpesan kalau mas Ian datang supaya langsung dibawa ke rumah.” kata pemuda itu seraya menggandengku. Diikuti oleh anggukan hormat dari sepuluh pemuda, di mata mereka memancarkan kekaguman ketika memandangku dan Mujahidi.

Memang kisah pesantren kanuragan Pacung, lereng gunung Putri, sudah menjadi buah bibir, tentang Kyai dan santrinya yang sakti-sakti, itu membuatku bangga sekaligus takut, takut satu saat cerita mereka terbukti, dan kami tak sakti, lemah, tentu akan kecewa mereka dan nama pesantren Pacung hanya isapan jempol belaka.

Kami bertiga sampai di rumah Pak Lurah, dan memang di serambi depan Pak Lurah telah menunggu kedatanganku. Melihatku dan Mujahidi datang, Pak Lurah segera menyongsong kedatanganku.

“Ah saya sudah berharap-harap cemas, jangan-jangan nak mas Ian gak datang, mari-mari.″ kami diajak masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi.
Sementara di meja terhidang beraneka macam buah, gorengan, dan entah makanan apa lagi, aku yang tiap hari makan singkong rebus, tentu ingin mencicipi buah semangka yang telah dipotong-potong warnanya ada yang kuning dan merah. Aku melirik Mujahidi, tentu dia juga merasakan apa yang kurasakan, oh benar sekali, kulihat jakunnya naik turun amat cepat. Karena ludah yang ditelannya, dan tanpa sadar dia mengulurkan semangka kuning, aku menyodok kakinya dengan kakiku.

Kebetulan Pak Lurah ke dalam sebentar, memanggil istrinya, dan anaknya diminta menyediakan minuman, semangka kuning yang telah di tangan Mujahidi, segera cepat dilahap, ketika Pak Lurah keluar, semangka itu telah hilang termakan tak tersisa sampai kulit-kulitnya.

Pak Lurah keluar bersama istri dan anak perempuannya, sambil membawa minuman di nampan.

“Ini lo bu murid dari Pesantren Pacung, anak-anak muda yang sakti-sakti.″ terdengar suara Pak Lurah yang benar membuat aku jengah, serba salah, tapi aku berusaha bersikap wajar.

Anak Pak Lurah bernama Anggraini, wajahnya ayu wajah polos anak desa, tapi aku kaget ketika Anggraini meletakkan minuman matanya mengerling, bagaimanapun aku lelaki normal wajarlah kalau berdesir hatiku. Setelah kenal-kenalan, istri dan anaknya Pak Lurah ke dalam, tinggal aku, Mujahidi, dan Pak Lurah. Sementara satu pemuda dan dua orang desa yang sebelumnya menemani Pak Lurah telah melanjutkan ronda. Aku melanjutkan pembicaraan sambil sekali-kali mencicipi tahu isi dengan cabe kesukaanku.

“Sebenarnya ada pencurian yang bagaimana sih pak, kok sampai meminta bantuan Kyai?”

“Begini lo nak mas Febri,” Pak Lurah mulai bercerita, setelah menarik napas panjang.

“Desa Pasir Seketi adalah desa yang damai, tak pernah ada pencurian, kehilangan. Sampai satu hari… Anak perawan desa ini ada yang hilang, namanya Nining. Sehari dua hari Nining tak muncul, kedua orang tuanya menyangka Nining pergi ke kota menyusul abangnya yang bekerja di Jakarta, jadi orangtuanya kemudian menghubungi abang Nining yang ada di Jakarta, tapi abangnya mengatakan, Nining tidak menyusul ke Jakarta, semua orang bertanya lalu kemana Nining, sampai seminggu kemudian tubuh Nining ditemukan di sungai pinggir desa sudah tak bernyawa. Semua orang geger, siapa yang tega melakukan kekejian seperti itu? Setelah diperiksa forensik ternyata Nining diperkosa sebelum dibunuh, Polisi berusaha menyelidiki tapi hasilnya tak ada. Pembunuh Nining tak bisa ditemukan. Sampai sebulan kemudian, lagi-lagi Melati perempuan desa ini pun menghilang, malah menurut ibunya Melati malam itu menghilang dari kamarnya, karena memang jendelanya terbuka, seluruh desa telah diubeg-ubeg tapi Melati tak ditemukan, sampai seminggu kemudian mayatnya ditemukan di sungai dulu Nining ditemukan. Ini jelas bahwa penjahat yang menculik adalah penjahat cabul belaka. Tapi kami tak tau bagaimana dia beraksi.” Pak Lurah berhenti bercerita, dia mengambil rokok Dji sam soe dan menyalakannya, aku dan Mujahidi pun ikut-ikutan mengambil rokok dan menyalakannya, selama ini kami ngerokok tingwe alias ngelinteng dewe. Itu pun tembakau puntung, maka rokok Dji sam soe terasa nikmat sekali, asap mengepul-ngepul bergulung.

Pak Lurah melanjutkan ceritanya.

“Kami tak mau kecolongan lagi, maka perondaan ditingkatkan, dibantu para Polisi, sampai seminggu yang lalu, kami meronda, salah satu rombongan peronda melihat bayangan dalam gelap malam, “berhenti.!!” tapi bayangan itu, malah berlari, dan ternyata menggendong karung di pundaknya, tak salah lagi, penculik, sebagian rombongan segera mengejar, yang lain memukul kentongan memanggil bantuan, semua orang berlarian ke arah suara kentongan, dan setelah tau semua mengejar, saat itu Pak Lurah sendiri dan tiga Polisi ikut mengejar. Betapa saktinya orang itu, dengan masih menggendong orang yang diculiknya dia melesat meloncati pagar meloncat ke wuwungan atap rumah, lalu meloncat ke atap yang lain, Polisi mau menembak tapi takut mengenai perempuan yang dipanggul, lalu penculik itu berhenti dan menoleh, seperti mengejek. Lalu melesat cepat, dan hilang di telan gelap malam. Tempat sekitar penculik itu menghilang sudah kami aduk-aduk tapi kami tak menemukan apa-apa, dan yang hilang kali ini gadis bernama Tunik, seminggu kemudian kami menemukan nyawa Tunik dibuang begitu saja di sungai ujung desa. Maka setelah kami adakan rapat, kami memutuskan meminta bantuan Kyai Lentik …,” belom lagi Pak Lurah menyelesaikan ceritanya, tiba-tiba terdengar jeritan istri Pak Lurah dari dalam.

“Anggraini..! Anggraini pak.” Pak Lurah segera lari ke dalam, aku dan Mujaidi segera mengikuti, nampak bu Lurah menangis.

“Anggraini hilang pak,”

“Hilang gimana?”

“Tadi di kamar, sekarang nggak ada..”

“Sudah dicari kemana-mana?″

“Sudah pak tapi kgak ada.”

Tiba-tiba ditabuh kentongan bertalu-talu. Aku segera menghambur ke arah suara kentongan, disusul Mujahidi.

“Kejar..!” “penculik tangkap…!”

Aku berlari cepat, Mujahidi menyusul di belakangku, orang berserabutan mengejar. Tubuhku terasa ringan, aku dapat menyusul yang lain, malah aku tak sadar ada paling depan di antara pengejar. Kulihat bayangan meloncati sebuah pagar, di pundakya kelihatan karung, tentunya berisi, ah pasti Anggraini, aku makin cepat mengejar, semangat, meloncati pagar, meloncati sungai kecil, menerobos kebon pisang. Aku berhenti membungkuk mengatur napas, mengusap keringat yang membasahi jidatku. Aku baru sadar kalau aku sendiri, kemana yang lain, aku tengak tengok tak ada orang, yang lain pada kemana, tapi aku tadi benar-benar melihat orang itu lari ke sini, dengan sinar bulan yang seperti kuku, kucoba mengenali tempat sekitarku.

Perlahan pandanganku mulai jelas. Kuburan. Benar tempat ini kuburan, mungkin pemakaman orang desa Pasir Seketi, tapi semakin ku perhatikan ini pemakaman tua, terlihat yang tak begitu terurus, dan batu nisannya dari batu yang menyerupai batu candi, semua hitam berlumut. Segala pohon melintang kesana kesini, rumput setinggi lutut, pohon besar di tengah pemakaman, sungguh tempat yang angker, mungkin dulu aku kalau tidak digembleng Kyai mengitari pulau Jawa dan tidur di sembarang tempat yang lebih serem dari tempat ini, tentu aku akan takut.

Aku melangkah berhati-hati sambil kaki meraba-raba, sekali waktu mataku menengok ke arah aku datang mengharap ada yang menyusulku, tapi keadaan teramat sepi, aku mau memutuskan tuk kembali, tiba-tiba terdengar, suara daun kering terinjak,

”Siapa?” kataku, tak yakin. Muncul di depanku bayangan manusia, pakaiannya hitam-hitam dan memakai penutup wajah hitam.

“Heh cuma mas Ian ha ha ha.” suara orang itu dan bentuk tubuhnya yang tinggi besar, aku seperti pernah mengenalnya.

“Hah kau penjahat cabul…” kataku sambil masih tengak tengok, mengharap orang yang datang.
Sebab kalau sampai aku berhadapan dengan lelaki ini sendirian bisa berabe. Apakah begini rasanya kalau mau berkelahi, tubuh gemetar. Bagaimana aku menghadapi orang ini, kulihat tubuhnya tinggi besar, berotot, kalau dibandingkan denganku tubuh kecil ceking, tangan kecil kurang gizi, jangankan berkelahi salaman aja kalau tanganku diremasnya tentu seperti meremas kobis. Apalagi sampai berantem, aku takut membayangkannya.

Terus terang selama ini belum pernah aku berkelahi, pernah juga mau berkelahi, waktu aku kelas SD, kelas dua, kursi yang ku tempati ditempati sama anak lain, lalu ku suruh dia pergi, tapi tak mau malah ngajak berantem, lalu dia memegang hidungku, akupun menangis sekencangnya. Tanpa sadar ku pegang hidungku yang mancung. Wah bagaimana kalau nanti hidungku dipukul sampai patah, pasti tak bisa ku banggakan lagi, apalagi kalau sampai aku mati.

Ah aku kan masih punya hutang ama teh Ipar, warung yang dekat pondok, apa aku lari aja ya, eh pembaca jangan mengira aku ini pengecut, aku lari cuma mau bayar hutang, apa aku jujur aja ya sama orang di depanku. Aku pergi dulu bayar hutang, nanti balik ke sini, dia bisa nunggu sambil ngrokok-ngrokok, kuraba sakuku, tadi sebelum pergi aku sempat menyambar rokok Djisamsoe yang ada di meja pak Lurah, tapi alangkah kecewaku, rokokku hilang pasti terjatuh saat kejar-kejaran tadi, ah pupuslah harapanku, tapi kalau dipikir-pikir kalau untuk bayar hutang saat ini aku sendiri tak punya uang.

Eh kamu jangan hiha hihik kalau baca, pasti kamu mengira aku pengecut, bener aku mau bayar hutang tak bermaksud lari, ini pilihan sulit tak seperti yang kau kira, aku hanya takut kalau mati masih menanggung hutang. Dan aku tak takut berkelahi, soal aku di terminal Pulogadung ditodong preman kemudian semua uangku diminta lalu ku berikan, itu memang karena aku tak mau berkelahi dan tak suka berkelahi, kalau mau orang di depanku ini, daripada berkelahi mending main gaple, atau skak, atau macan-macanan, atau yang lebih gampang lagi, suit.
Yang kalah harus mengakui kalah, jadi gak ada yang terluka, eh pembaca jangan ketawa-ketawa aja, aku tahu kalian menganggapku pengecut, lagian kalau aku mati, kalian kan gak tau kelanjutan cerita ini, oke aku ngalah memang aku pengecut, lalu kalian mau apa?

Bingung, terjadi pergolakan dalam pikiranku. Ah aku masih berharap ada pemuda kampung yang datang kesini membantuku, repotnya kalau menjadi orang udah terlanjur dianggap sakti, keringat mengucur, dari semua pori-pori tubuhku, bahkan punggungku basah.
Padahal udara sangat dingin sekali. Sesaat hatiku lega, ketika kulihat bayangan mendekati. Tempat aku dan orang bertopeng itu berhadapan. Tapi rasa legaku segera sumpek lagi, karena yang datang ternyata Mujahidi, wah sama aja, parah. Bisa tambah runyam ini urusan. Gimana gak runyam, Mujahidi ini lebih pengecut lagi, mungkin embahnya pengecut. Sama ulat aja takut, jangankan ulat, di tubuhnya dirambatin kecoak aja gindrang-gindrangnya aja tak henti, merinding terus.

“Hua ha ha, rupanya pendekar dari pesantren Pacung lagi yang datang, sungguh bangga bisa bertarung dengan orang gagah.” kata orang bertopeng itu dengan nada menghina, mungkin dia sudah tau kalau kependekaran kami cuma cerita saja,
“Heh Muja, kenapa kamu kesini..?” tanyaku berbisik, setelah dia ada di dekatku.

“Aku cuma ngikuti mas Ian, soalnya tadi arah larinya kesini. Dia tuh siapa mas?”

“Ya ini orangnya yang suka nyulik gadis.”

“Waduh bahaya kalau begitu mas, mending lari aja mas..” Mujahidi beringsung sembunyi di belakangku, itu sudah aku kira, jadi aku tak terkejut melihat tingkah Mujahidi. Lalu bisikku,

“Eh apa enggak perlu pake alasan?”

“Ya enggaklah ya lari, lari aja,” aku baru saja mau menyetujui usul Mujahidi, tiba-tiba orang bertopeng itu telah bicara,

“Ah jangan banyak bacot, terima seranganku.” kaki orang itu lurus menendang ke perutku, gerakannya begitu cepat. ngehg.! Perutku kena tendangan telak.
Aku tak sempat lagi mengelak, atau lebih tepatnya tak tau cara mengelak, karena memang tak tau bagaimana bertarung, perutku mulas bukan main, tapi aku masih untung jatuhku menimpa Mujahidi yang ada di belakangku.

Aduh perutku mules banget. Ah mungkin bisa jadi alasan aku beol dulu, tapi setahuku dalam cerita silat tak ada yang menghentikan pertempuran untuk beol dulu, apa nanti tak malu-maluin. Tiba-tiba bruuuet…! Angin keluar tanpa bisa kucegah lagi, Mujahidi mendorongku, “Ah kentut, beuh baunya seperti kentut gendruwo…” Mujahidi memegangi hidungnya seakan-akan yang kukentuti hidungnya. Dia berbangkis-bangkis. Aku segera berdiri, setidaknya mulas di perutku berkurang.

Tiba-tiba kudengar bisikan halus di telingaku, jelas aku tau itu suara Kyai. “Mas Ian, baca Basmalah.” panas seperti balsem cap lang, mengalir deras ke setiap urat-uratku, mengalir ke ujung jari kaki tangan dan kakiku. Sehingga tubuhku makin lama makin ringan, dan kakiku serasa tak menapak lagi ke bumi, mengalir ke kepala sehingga mataku makin lama makin jelas melihat, tempat ini pun menjadi seperti siang di penglihatanku. Bahkan seekor nyamuk yang terbang kian kemari tampak nyata sekali, suara nyamuk yang hinggap pun terdengar kakinya menapak di nisan.

Aku tak tau apa yang terjadi denganku, hawa yang mengalir dari pusarku masih terus mengalir.

“Huahaha…., pendekar, jawara tai ayam, curot, murid pesantren Pacung tak ada isinya..,” suara orang bertopeng itu memecahkan sunyi yang menyelimuti pemakaman tua itu.

“Mati saja kalian.” setelah mengatakan itu tubuh orang itu berkelebat. Kaki dihantamkan lurus ke arahku, kaki satunya menekuk. Tapi di pandanganku serangan itu seperti filem dalam gerakan lambat.

Tiba-tiba kurasakan ada tenaga dari dalam tubuhku. Aku menyamping, kaki yang menderu ke arahku, ku cengkeram dan ku tarik sehingga lelaki itu terlempar mengikuti tendangannya. Dan tanganku menelusup menghantam lehernya dengan pergelanganku.

Hugh!!, tubuhku terseret oleh tubuhnya, kaki kiriku yang terangkat segera memalu belakang kepalanya sementara tanganku menarik lepas kain penutup kepalanya, dan bret..! Aku kaget bukan main.

“Hah carik Sanusi…!” orang yang menjadi maling para gadis itupun kaget, tutup wajahnya lepas.

Lebih kaget lagi dia tak menyangka akan seranganku. Cepat beruntun, telak, aku sendiri kaget, dan tak tau apa yang menimpaku sehingga mampu menyerang begitu jurus yang kupakai seperti jurus taici. Mujahidi juga terlongo-longo menyaksikan sepak terjangku.

Bersambung.
Wa 085214060632
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

“Setan alas. Bajulbuntung, tai kebo, jiampot, rupanya punya simpanan hah.” umpat carik Sanusi panjang pendek, lalu segera mencabut goloknya.
Aku pun segera mencabut golokku. Golokku ini dibilang golok biasa ya memang golok biasa, karena sering kupakai memotong kayu bakar. Soal kesaktiannya sudah tak terhitung berapa nyawa ayam termakan ketajamannya. Golok ini pemberian Kyai, karena memang aku tak punya uang untuk membeli golok, golok ini bergagang kayu sawo kecik, dibuat oleh orang Ciomas. Kampung pembuat golok paling punya nama di tlatah Banten.
Sebelum membuat golok besi ditancapkan di tanah pada waktu bulan purnama, dan baru diambil bulan purnama kemudian, sehingga besinya menjadi besi kuning tahan karat dan tua. Ilmu kekebalan yang bagaimanapun akan terluka tersentuh golok ini, karena diisi oleh Kyai. Tapi aku tak mau terbawa oleh cerita mistik tentang golok, makanya golok ini kubuat bekerja di dapur.

“Suing…!” terdengar desingan ketika Sanusi menyerangku dengan ilmu goloknya, aku tak mengerti ilmu golok, tapi yang jelas serangan Sanusi tak bisa dianggap remeh, goloknya menderu menjadi beberapa bagian, lagi-lagi kekuatan dalam tubuhku seperti menggerakkanku, aku mengikuti saja. Ketika tubuhku juga berkelebat yang jelas di seluruh tubuhku seperti ada sentakan-sentakan kecil seperti setrum listrik, yang membuat golokku berkelebatan kesana kemari. Sangat cepat dan tak terduga. Mengurung Sanusi dari segala arah, wut,wut, betbetbet. Begitu suara nya.

“Trang…!” Golokku berbenturan dengan golok Sanusi, tak terasa apa-apa, tapi golok Sanusi terlepas dan dia memegangi tangannya. Ada kekuatan yang menarikku mundur, badanku pun melayang seperti kapas, kemudian hinggap di tanah dengan perlahan melayang. Kulihat Sanusi terhuyung, ternyata hasil seranganku sungguh mengerikan, beberapa detik kemudian terlihat di sana sini tubuh Sanusi penuh luka sedalam setengah senti. Bahkan pakaiannya tercabik-cabik tak karuan, Sanusi melenguh lalu melemparkan sesuatu ke arahku, ku kira itu sebuah tulang kecil-kecil, dan “bulz” asap mengepul tipis.

Tiba-tiba saja telah muncul, empat pocong mengurungku, aku kaget dan ngeri melihat empat pocong yang wajahnya ada yang cuma tengkorak, ada yang biji matanya sudah hilang satu, biji mata yang satu keluar seperti mau jatuh. Sementara tempat hidung telah gerowong, juga rahang dan giginya hilang, aku pontang panting karena pocong itu tak mempan dibacok, golokku membal ketika mengenai kain pocong itu sehingga aku panik, dan hanya bisa menendang tuk menjauhkan pocong itu, tapi ketika pocong itu terjengkang maka tubuhnya seperti memantul, tegak lagi.

“Hai Mujahidi bantu aku.” aku berteriak panik karena sudah lelah, tapi Mujahidi rupanya pingsan tubuhnya menyender ke pohon sambil berdiri. Ah rupanya aku harus berjuang sendiri, tenaga di dalam tubuhku melontarku ke atas, tubuhku melayang ringan di atas pocong-pocong, lalu bersalto dua kali dan hinggap di dekat Mujahidi. Ku dekati dia memang benar-benar pingsan, mungkin pingsan saat melihat pocong-pocong itu, uh matanya sampai melotot dan mulutnya terbuka lebar.

Tiba-tiba terdengar bisikan Kyai di telingaku, “mas Ian kalau membacok pocong itu baca takbir.”

Mendapat pesan seperti itu aku lantas menggenjot tubuh, berkelebat bak anak panah lepas dari gendewa membabat empat pocong sekaligus. Sambil membaca takbir, dan memang golokku bisa merobek kain ules mereka. Dan blesss.! Begitu saja pocong-pocong itu berhamburan seperti debu yang ditaburkan ke udara. Hilang.

Aku berdiri sejenak memandang berkeliling, carik Sanusi telah tak ada dia tadi melempar tulang kearahku langsung kabur. Ku dekati Mujahidi, ah enak-enakan dia pingsan, ku coba membangunkan dengan cara apa saja tapi tetap aja pingsan, aduh nih orang nambah kerjaan aja. Sekarang mungkin jam dua dini hari, embun sudah mulai turun. Aku berpikir pasti Anggraini di sembunyikan di pemakaman tua ini. Ku tinggalkan Mujahidi, menuju arah tadi aku pertama kali aku melihat carik Sanusi datang, untung penglihatanku terasa terang, sehingga aku dapat melihat jelas sekitarku.

Nampak makam-makam yang aneh berbatu nisan batu ukir, mungkin makam zaman Hindu kuno, pohon kemboja, randu alas, dan pinggir makam ditumbuhi pohon bambu yang rapat. Aku berhenti di sebuah nisan aneh bentuknya seperti kepala kuda, tapi patah sampai matanya, juga telinganya yang keatas sudah patah, aku bersandar, tapi ketika aku sandari nisan kepala kuda itu bergeser, aku terkejut, karena tanah yang ku injak terbuka begitu saja dan aku pun jatuh ke sebuah tangga semen, menuju ke bawah. Sebentar aku terkejut, rupanya di makam ini ada ruangan rahasia, pantas Sanusi selalu dapat menghilang kalau dikejar orang kampung.

Rupanya rahasianya di sini, perlahan ku turuni tangga, golok kukeluarkan, untuk berjaga-jaga dari sesuatu yang tidak kuinginkan, dinding bawah tanah ini lumayan rapi, karena disemen walau asal-asalan dan kasar. Ada lampu minyak menempel di dinding yang cahayanya bergoyang-goyang karena tertiup angin yang masuk. Wah gila juga si carik Sanusi menciptakan tempat seperti ini, ruangan bawah tanah ini ada dua aku masuki ruangan satu, luasnya kira-kira empat kali tiga meter, ada meja kursi, piring, mangkok dan peralatan masak, ruangan ini rupanya dapur dan tempat makan, aku ke ruangan satunya lagi, rupanya yang ini ruangan tidur, ada ranjang kayu berkelambu. Ku dekati ranjang kayu, dan aku terkejut, menemukan Anggraini walau sebelumnya sudah mengira Anggraini ada di situ.

Mata gadis itu melotot, tubuh Anggraini digeletakkan begitu saja, di kiri kanannya bertaburan bunga aneka warna, pasti di sini juga gadis yang lain menemui ajalnya, aku merinding juga membayangkannya, seperti banyak mata gadis yang mati memandangku, meminta keadilan, atas kehormatan dan nyawa yang terenggut tanpa sisa. Tiba-tiba hawa yang keluar dari pusarku mengalir, deras menuju jari telunjukku, dan kuikuti saja ketika tanganku bergerak, membuka totokan yang ada di tubuh Anggraini, aku masih tak mengerti apa yang bergerak di tubuhku, sampai di pondok pesantren nanti aku akan bertanya kepada Kyai.

Anggraini setelah bebas dari totokan segera saja menghambur memelukku. Menangis sejadi-jadinya. Aku sempat gelagapan, maklum aku tak pernah dipeluk wanita, kringetan juga, gemeter. Apalagi meluknya dengan erat. Aku lelaki normal, bagaimanapun juga, walau imanku kuat, pasti imron kgak bakal kuat. Sebelum setan membisikkan yang enggak-enggak, aku segera melepaskan tubuh Anggraini dari tubuhku.
“Sudahlah, sekarang sudah aman.”
“Tapi aku takut sekali kak.” katanya mengiba, air matanya berderai-derai membasahi pipi.
“Sekarang mari pulang, kuantar ke ayah ibumu, pasti mereka sangat mencemaskan keselamatanmu.” Anggraini mengangguk, kemudian kami keluar, Anggraini masih menggenggam lengan kiriku. Mungkin takut, mungkin menyukaiku, ah tak taulah, aku kasihan, gadis muda begini, mengalami pengalaman yang mengerikan, tak terbayangkan bagaimana dia diperkosa dan dibunuh seperti gadis-gadis yang telah mati menjadi korban carik Sanusi.

Kami berjalan pulang ke Pasir Seketi, di tengah jalan kami bertemu dengan serombongan para pemuda yang semalam ikut mengejar Sanusi. Semua ribut menanyakan bagaimana Anggraini bisa ditemukan bagaimana penculiknya, agar tidak bertanya terlalu banyak, maka kukatakan penculik yang selama ini membuat resah warga desa adalah carik Sanusi. Sontak para pemuda itu kaget tak percaya, tapi setelah Anggraini mengiyakan, maka mereka marah, dan berbondong-bondong mendatangi rumah Sanusi. Aku dan Mujaidi melanjutkan perjalanan mengantar Anggraini. Sampai di rumah bu Lurah yang sangat kuatir keselamatan anaknya segera menghambur memeluk anak semata wayangnya. Tangis-tangisan ramai terdengar.

Sementara istri dan anaknya bertangis-tangisan pak Lurah mengajakku dan Mujahidi ke ruang depan, ku ceritakan dengan singkat sampai para pemuda yang mau mendatangi rumah carik Sanusi. Ketika tau yang menjadi biang segala pembunuhan adalah Sanusi, pak Lurah terkejut dan menggeleng-gelengkan kepala tapi segera mengajakku untuk mendatangi rumah Sanusi sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Aku dan Mujahidi mengikuti pak Lurah yang melangkah tergesa, namun di jalan tak henti-henti mengucapkan terimakasihnya.

“Sekali lagi aku dan segenap warga desa, khususnya aku pribadi sangat berterima kasih dengan nak mas Ian, kalau tak ada nak mas Ian, apa jadinya Anggraini, mungkin kami tinggal menunggu mayatnya ditemukan di pinggir kali.”

Pak Lurah berjalan sambil menangis haru.
“Sudahlah pak, yang penting semua telah berlalu.” aku mencoba bersikap bijak, walau kedengarannya wagu.

Yah bagaimana kata bijak keluar dari mulut pemuda seperti aku, rambut panjang sepunggung, walau selalu ku ikat dengan rapi, anting kecil di telinga kananku, wajah hampir mirip perempuan, yah mungkin karena pergaulanku, sebagai pelukis motor airbrush. Sehingga tampang cuek dekil, seenaknya, semua melekat begitu saja dalam diriku, bagaimana mungkin, kata bijak bisa keluar dari mulutku, kalau ada kata bijak mungkin kata itu akan terbang karena tak punya bobot mati.

Sampailah kami di rumah carik Sanusi.

Teriakan para pemuda ramai terdengar bersahut-sahutan.

“Bakar saja rumahnya, seret saja keluar, lalu bacok rame-rame. Dirajam saja, terlalu enak kalau mati cepat.” tapi semua pemuda tak ada yang berani maju, melewati pagar rumah Sanusi. Karena setiap melewati pagar, paku-paku segera beterbangan, malah telah ada dua pemuda yang terluka lengan dan pahanya kena sambitan paku.

“Bagaimana ini nak mas?” tanya pak Lurah.

Aku menggeleng tak tau.

“Hei Sanusi ayo keluar serahkan dirimu!” Tiba-tiba pak Lurah berteriak, dan teriakan pak Lurah dijawab dengan meluncurnya paku kecil hitam kearahnya. Aku segera berkelebat, tring…! Sepuluh paku rontok jatuh ke tanah, tertangkis golokku.

“Bagaimana ini mas?” tanya pak Lurah kawatir, aku menggeleng.

“Tak tau lah pak,” sementara waktu telah beranjak pagi kicau burung mulai terdengar di sana sini, orang-orang sudah tak ada yang berteriak-teriak lagi, mungkin sudah lelah, sehingga keadaan hening.

Kulihat rumah carik Sanusi, rumah yang besar namun biasa saja, dinding rumah bagian depan menggunakan kayu tanpa dicat. Dan dinding rumah bagian belakang menggunakan bambu yang dianyam, sedang lantai rumah geladak setinggi kurang lebih tujupuluh senti dari tanah. Depan pintu utama ada balai-balai yang ada tangga kecil dari kayu. Balai-balai kayu itu selebar dua kali empat meter. Tiba-tiba terdengar suara mobil datang, rupanya mobil Polisi. Dua polisi keluar dari mobil, lalu menghampiri pak Lurah,

“Bagaimana pak keadaannya?” tanya Polisi itu setelah ada di dekat Pak Lurah.

“Wah sulit pak.”

“Sulit bagaimana.”

“Yah setiap orang mau maju langsung dihujani paku, sudah ada korban dua orang.”

“Bagaimana kalau kami menyerbu?”
“Apakah itu tak berbahaya sekali?” aku maju menimpali.

“Pak Polisi, bagaimana kalau saya maju mengajak berunding carik sanusi?”

“Lho anak muda ini siapa?” tanya Polisi itu ditujukan pada pak Lurah. Mungkin dia curiga, karena tampangku, yang lebih mirip kriminal daripada orang baik-baik.

“Oh dia murid Kyai Lentik, yang kami mintai bantuan, sebenarnya Sanusi sudah terluka parah karena semalam telah bertarung dengan nak mas Ian.”

“Oh maaf saya tak tau.” wajah Polisi itu menatapku kagum, kemudian menghormatiku dengan sedikit membungkuk, sementara temannya manggut-manggut.

“Bagaimana menurut nak mas?” tanya Polisi itu ditujukan padaku.

“Yah gimana seandainya aku maju mengajaknya berunding, sementara pak Polisi menghadang dari pintu belakang, kalau-kalau dia lari?”

“Yah patut dicoba.” Dua Polisi itu pun kemudian berjalan memutar menuju belakang rumah, sambil mencabut pistolnya, aku mengeluarkan golokku bersama sarungnya kepada Mujahidi.

“Wah apa kgak terlalu berbahaya mas? Nanti kalau mas Ian disambitin paku, aku kgak bawa tang tuk nyabutinnya.” Mujahidi menerima golokku dengan ragu.

“Udahlah berdo’a aja.”

“Kalau menurut saya dikepung aja, yang satu ngepung yang lain makan, gantian gitu, lama-lama juga dia pasti kelaparan dan mati.”

“Ah kamu ini.” aku menepuk pundak Mujahidi seraya melangkah maju, semua mata menatap ke arahku, orang-orang kampung Pasir Seketi juga sudah mengerumuni tempat itu mungkin juga dari desa-desa tetangga, mereka menonton dari jauh, seakan ini tontonan yang gratis. Aku tak perduli, dengan langkah mantap aku melangkah maju.

Semua mata tegang menatapku, aku berhenti dua meter dari tangga kecil untuk naik ke balai rumah Sanusi, sambil menunggu kalau-kalau ada paku yang menyambar. Lengang aku berkata, “Carik Sanusi, aku tak bersenjata, aku mau berunding,” kataku seraya membuka lebar-lebar lenganku, kalau-kalau dia mengintip dari dalam maka akan melihatku tanpa senjata, lalu aku memutar tubuhku untuk meyakinkan.

Suasana masih hening tak ada jawaban. Setelah menunggu beberapa menit aku melanjutkan melangkah maju. Melewati anak tangga satu-satu, lalu menginjak papan paling tepi dari balai-balai rumah itu, “braak!!”

Pintu depan rumah itu lepas, melayang cepat ke arahku yang berdiri dalam posisi yang tak menguntungkan, di belakang pintu itu Sanusi yang dengan goloknya beringas menyerangku.

“Mampuslah kau, anak setan alas..! Kau telah menggagalkan semua usahaku selama ini.!” aku yang terpelanting karena hantaman daun pintu, tak bisa menghindar lagi ketika Sanusi menghantam kepalaku, semua orang yang menonton menjerit, mukaku pun pucat. Ah mati aku ! Tapi, “prak!!” Golok Sanusi telak mengenai kepalaku, tapi aku tak merasakan rasa sakit sama sekali, malah kekuatan dalam tubuhku, menggerakkanku dengan cepat, tubuhku begitu ringan berkelit dari timpaan daun pintu tau-tau telah berdiri di belakang Sanusi, dan melakukan totokan sana-sini, sehingga Sanusi jatuh menimpa daun pintu yang jatuh dahulu.
Tubuhnya kaku, karena totokanku yang tak ku sadari telah mencabut semua ilmu yang dimiliki, seketika semua orang bersorak. Lalu terdengar suara berteriak, “Habisi penjahat cabul…” kontan semua orang menyerbu. Pagar pun roboh diterjang orang-orang kampung yang marah, aku tak bisa menahan ketika tubuh Sanusi dihujani golok, batu, pentungan, massa rupanya teramat marah. Pengeroyokan baru berhenti setelah terdengar suara tembakan.

Semua orang kampung yang mengeroyok mundur, tubuh Sanusi, tak berbentuk lagi, aku yang berdiri di atas balai-balai melihat dengan jelas, betapa mengerikannya, wajahnya telah tak dikenali lagi, terlalu hancur, juga tubuhnya sudah tak karuan, darah seperti dituang begitu saja, sungguh kengerian yang tiada tara, aku berjalan meninggalkan tempat itu menghampiri Mujahidi yang juga terbengong, aku segera menarik tangannya tuk segera meninggalkan tempat itu, Pak Lurah melihatku, dan menghampiri.

“Nak Ian, mampir dulu ke rumah dan tunggu aku di rumah, biar aku mengurus dulu di sini.” aku manggut aja, lalu menyeret Mujahidi untuk bergegas pergi. Dalam perjalanan, Mujahidi selalu menyanjungku.

“Ah bener-bener kagak nyangka saya, kalau mas Ian sehebat itu, punya ilmu kebal lagi, uh uh, apa kgak sakit mas tadi dibacok di kepala? Wah saya ampek teriak mas tadi, ngira kepala mas Ian pasti belah, ee, ternyata kgak apa-apa.”

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Sang Kyai 5

“Eh, eh, apa apaan ini?” aku berusaha mengangkat lengan Anggraini, tapi gadis itu menangis sesenggukan.

“Hu hu, mas Ian, kalau tak ada mas Ian apalah jadinya aku… hu… aku pasti tak sanggup membalas budi, dan pertolongan mas Ian… hu… aku siap mengabdikan diriku… hu…”

“Sudah-sudah ayo berdiri, tak baik dilihat orang, ayo berdiri.” kataku sambil menyalurkan tenaga prana lewat lengannya supaya dia tenang. Perlahan gadis itu berdiri, dan tegak di depanku.

“Jadi mas Ian mau menerima pengabdianku?” Aku yang tak mengerti, manggut aja. Dari pada masalah yang tak ada ujung pangkalnya berkepanjangan. Setelah aku manggut, gadis itu wajahnya kelihatan ceria, dan mengusap air matanya kemudian melangkah ke dalam.

Beberapa detik kemudian bu Lurah keluar dan mempersilahkan kami menikmati hidangan. Mujahidi kulihat mulutnya telah penuh makanan, bakwan, mendoan, tahu goreng, uh cabe yang di piring yang udah aku incer udah ludes. Mujahidi, enak aja mulutnya manyun kesana kemari, mengunyah makanan yang penuh di mulutnya sambil omong, “Hm…, semaleman bertarung, laper mas.., hm, hm, enak..” lalu setelah makan dia mengeluarkan sebatang Djisamsoe yang udah gepeng dan melengkung. Kemudian menyalakannya, asap mengepul dari bibirnya yang hitam kayak habis ditonjok orang, juga asap keluar dari lubang hidungnya yang lebar karena sering dikorek-korek dicari kotoran upilnya. Aku makin jengkel aja melihat tingkah Mujahidi, tanpa memandang sebelahnya yang jakunnya naik turun. Sebenarnya aku ngiler pada rokok yang diisepnya, tapi aku tak mau merengek-rengek, minta satu dua isepan, walau kalau dikasih, aku gak bakal menolak.

Karena melihat Mujahidi, kelihatannya rokoknya tak akan dibagi, aku segera pamitan kepada bu Lurah untuk pergi ke musholla, sekalian nunggu waktu sholat duhur, sambil selonjoran karena semalaman belum tidur, aku langsung tidur, jam menunjukkan jam sepuluh lewat lima menit.

Wah kalau ingat jam jelek yang selalu melingkar di tanganku ini, heran juga, yah walau jam tangan bermerek Casio ini menurut aku jelek, tapi awet banget, juga tahan air, aku malah mengira jam ini tak pakai batre untuk menopang jalan angkanya. Soalnya sampai tiga tahun kgak mati-mati, padahal semenjak kubeli, belum pernah aku melepasnya. Mandi, tidur, kemana aja jam ini kubawa. Sampai bentuknya buduk banget. Kaca mikanya jaret-jaret kesana sini. Penunjuk waktunya yang cuma angka-angka itu memudahkanku.

Apalagi kalau ingat waktu mendapatkannya, saat itu aku dari Serang Banten mau pulang ke Tuban nyampai terminal Pulo Gadung. Setelah membeli tiket bus malam jurusan Senori Tuban. Aku segera mencari tempat duduk, karena terlambat sedikit saja aku pasti tak akan dapat kursi, karena siapa cepat dapat. Untung aku masih kebagian kursi di tengah, walaupun bus yang kutumpangi jauh dari nyaman, aku berusaha menyamankan diri, bus masih menunggu penumpang penuh dan menunggu jam keberangkatan.

Para pedagang asongan berseliweran, sehingga menambah keadaan makin ribut. Tak jarang para pedagang itu menawarkan dagangannya disertai paksaan. Terdengar seorang pedagang jam tangan menawarkan dagangannya, sampai di depanku dia menawarkan dagangannya kepadaku, tapi aku menggeleng.

“Dilihat dulu mas, ngelihat kgak bayar kok.” kata pemuda penjual jamnya. Aku pun melihat, walau aku tak tau tentang jam tangan, tapi menurutku semua jam tangan yang dijualnya tak bagus. Maka ketika dia menawarkan kepadaku untuk membeli satu, aku menolak, lagian aku tak punya uang. Tapi dia maksa malah memakaikan jam tangannya ke pergelangan tanganku.

“Ayolah mas dibayar, cuma limapuluh ribu aja kok.” aku mau melepaskan jam tangan dari pergelangan tanganku, tapi pemuda itu menahan.

“Ayo dibayar,”

“Maaf, aku tak mau dan tak ingin punya jam tangan.” kataku, “Kamu jangan maksa.”

“Eh kamu udah ngelihat-lihat udah make jam tanganku tapi kgak mau bayar, kamu ngajak berantem?!” nadanya menantang. Sementara bus sudah jalan.

“Heh yang makekan kamu, kamu jangan memutar kata-kata ya, aku bilang aku tak punya uang.” aku juga mulai emosi.

Dia tersenyum mengejek, “Heh, oke aku akan ambil semua uang di sakumu, sebagai pengganti jam tanganku.”

Aku diam saja ketika dia merogoh uang di sakuku, karena memang aku tak punya uang. Sementara kondektur telah menyuruhnya turun. Dia tak menemukan apa-apa kecuali uang lima ribuan.

“Ah kere…!” katanya sambil bergegas turun, karena kondektur yang sudah membentaknya turun. Dan jam tangan ini sampai sekarang ada di tanganku. Aku berharap pemuda penjual jam itu insaf dan melakukan jual beli dengan wajar, dan aku juga berharap, jam tangan ini setiap ku pakai beribadah maka pemuda itu mendapatkan pahala.

Dalam tidur aku merasa ada banyak orang yang duduk berbisik-bisik di bawah kakiku. Aku pun membuka mata dan mengangkat sedikit kepala untuk meyakinkan prasangkaku. Ternyata benar, banyak sekali pemuda kampung Pasir Seketi. Dan yang aku kenal namanya ada yang namanya Jejen, Maman, Nono, Safi, Imam dan banyak lagi yang aku tak tau namanya, aku segera bangkit duduk.

“Eh, apa sudah saatnya sholat?” tanyaku karena menyangka, pemuda-pemuda ini mau sholat.

“Belum.” jawab mereka serempak.

“Lho, lalu kenapa kalian duduk di sini?” tanyaku heran, sambil membetulkan rambut panjangku yang ikatannya kendor, sehingga yang rambut pendek lepas, agak membuatku risih, kulihat Mujahidi tidur mendengkur di sebelah kananku, sekali waktu mulutnya berkriutan, mungkin makan emping atau daging yang agak liat, kulihat semua pemuda saling memberi isyarat untuk mewakili bicara. Akhirnya yang bicara pemuda bernama Jejen.

“Jadi, anu…,” pemuda itu rikuh, sehingga dia susah mengeluarkan kata-kata. Jejen, pemuda ini ku taksir umurnya duapuluh dua tahun, tubuhnya kecil, tapi berotot karena biasa kerja di kebun. Wajahnya juga kecil tapi kelihatan tua. Jejen pernah ke tempat Kyai, tapi disentil Kyai, supaya jangan sering nonton video porno, lalu malu sekali, sehingga tak berani datang lagi.

“Anu mas Ian, maaf kalau kami mengganggu tidur mas Ian, kami semua pemuda desa meminta dengan sangat supaya mas Ian bersedia membimbing kami, menjadi guru silat di desa Pasir Seketi ini.” seperti telah melepaskan beban di dadanya, Jejen menarik napas lega. Aku tak terkejut, biasa saja, sementara kulihat para pemuda yang kebanyakan umurnya di atasku itu, tegang menanti jawabanku.

“Aku mau-mau saja menjadi guru kalian, tapi apakah kalian sanggup untuk menjadi muridku?”
“Sanggup…!” terdengar suara serentak.

“Kami sanggup disuruh apa saja,” kata Jejen menambahi. Karena waktu itu sudah masuk waktu sholat maka aku mengajak mereka semua sholat berjamaah. Setelah selesai menjalankan sholat, para pemuda itu duduk melingkariku, mungkin semua sekitar tigapuluh orang.

“Saudaraku semuanya,” aku membuka pembicaraan.

“Perlu kalian ketahui, ilmu yang akan kuturunkan kepada kalian ini, dinamakan ilmu laduni, dasar amalannya adalah wirid. Sementara kalian harus menjalani puasa, untuk memiliki ilmu ini, kalian harus membeli ilmu ini dengan puasa, semakin banyak kalian puasa, maka akan semakin banyak ilmu yang kalian dapat….” aku menjelaskan panjang lebar tentang ilmu laduni, dan setiap pertanyaan aku jawab sampai mereka puas.

Setelah memberikan wirid yang harus jadi amalan, aku segera pamit meninggalkan pemuda-pemuda desa itu, karena pak Lurah telah datang memanggil untuk mengajakku makan. Kami makan dengan lahap, Mujahidi sampai nambah tiga piring, selesai makan kami duduk di beranda depan, sambil menikmati rokok Djisamsoe, pak Lurah membuka pembicaraan.

“Ah si Sanusi, kenapa dia bisa melakukan perbuatan sekeji itu?” tanpa tau arah pembicarannya aku menjawab,

“Yah itulah pak, nafsu kalau sudah mengalahkan akal budi, manusia lupa diri, dan perbuatan keji pun dilakukan.” lalu pak Lurah menceritakan, Sanusi sebenarnya masih ada hubungan saudara dengan pak Lurah, meskipun jauh.

Sanusi muda adalah orang yang suka ilmu debus dan kanuragan. Dia suka mengembara mencari guru. Bertahun-tahun Sanusi mengembara sampai akhirnya dia pulang dengan berbagai ilmu kesaktian. Dia menunjukkan ilmu kesaktiannya pada pemuda-pemuda sehingga para pemuda desa merasa takut padanya. Sanusi sering memperlihatkan ilmu kebalnya, sehingga para pemuda tertarik untuk belajar ilmu silat kepadanya, maka Sanusi pun menjadi guru silat. Tapi karena belajar silat di tempat Sanusi dipungut iuran yang tinggi, maka banyak pemuda yang mengundurkan diri, karena tak mampu membayar. Akhirnya perkumpulan silatnya pun berhenti.

Ketika terjadi pemilihan lurah, Sanusi pun mencalonkan diri, dan lawannya adalah pak Lurah yang sekarang, tapi ternyata Sanusi yang kalah dan pak Lurah pun menduduki jabatan lurah. Tak ada apa-apa setelah itu, tapi suatu hari Sanusi yang telah diangkat jadi carik, datang ke rumah pak Lurah untuk melamar Anggraini, tentu saja ditolak walau secara halus, karena Sanusi umurnya lebih tua dari pada pak Lurah, yang pantasnya menjadi ayah Anggraini. Juga Sanusi adalah seorang duda, cerai dengan istrinya, sering cekcok dan kalau sudah cekcok istrinya sering dipukul.

Pak Lurah menghela napas berat, “Tak menyangka, Sanusi yang pendiam mampu melakukan kekejian seperti itu.”

Aku hanya manggut-manggut, lalu mau pamitan pulang ke pondok Pacung. Tapi pak Lurah mencegah, kemudian mengajakku ke dalam, katanya ingin bicara empat mata, dan kami berdua masuk meninggalkan Mujahidi yang masih duduk mengebulkan rokok djisamsoe. Sampai di dalam kami segera duduk di sofa, sebentar kemudian bu Lurah pun menyusul ikut duduk. Aku bertanya-tanya dalam hati sebenarnya ada apa? Keheningan sebentar terasa karena pak Lurah tak segera bicara, nampak bu Lurah menjawil suaminya, seakan memberi isyarat supaya lekas bicara.

“Anu…nakmas Ian, apakah nak mas tidak berkeinginan untuk menjadi orang desa Pasir seketi?”

“Apa maksud Pak Lurah?” tanyaku, seperti orang bodoh.

“Maksud kami, kami ingin menjodohkan Anggraini, dengan nak Ian.” walau aku telah menyangka sebelumnya, secuek-cueknya aku, tetap terkejut juga. Bagaimana tidak, menikah adalah kehidupan suami istri yang berwatak berlainan, kalau bisa sekali untuk seumur hidup, jadi tak bisa asal comot, tanpa memikirkan resikonya, tidak asal pilih kayak memilih jajanan pasar. Atau kalau tidak akan menyesal selamanya.

“Menurut saya, Anggraini itu gadis yang cantik, setiap pemuda yang melihatnya pasti akan tertarik, termasuk saya.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi?” tanya pak Lurah bersemangat.

“Tapi pak Lurah, saya ini masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, saya masih ingin menuntut ilmu.” kataku dengan nada rendah karena takut kata-kataku menyinggung.

“Ah pondok Pacung kan dekat dari sini nak mas? Kalau mau mengaji nakmas kan bisa berangkat dari sini kalau sudah jadi istrinya Anggraini,” suara pak Lurah nyerocos suaranya seperti mengemplangku dari kanan kiri.

Bu Lurah pun menambahi, “Iya nak jadilah mantu kami, kami sudah sediakan semua, dari rumah, kebun, pokoknya nak mas tinggal menjalani.”

“Bu, pak, sekali lagi saya tidak menolak, tapi untuk saat ini saya benar-benar belum berani menikah, nanti saja kalau Anggraini memang jodoh saya, pasti saya akan menjadikan dia istri saya.” kataku panjang lebar tapi masih dengan nada sehalus mungkin, karena takut menyinggung.

Setelah membujukku sekian lama tak berhasil, pak Lurah dan istrinya pun menyerah juga. Wajah mereka tertunduk mengguratkan kekecewaan.

Sementara dari dalam kamar Anggraini, terdengar suara tangis gadis itu. Tapi memang itulah hidup, kadang kita harus berani mengambil keputusan awal, terluka pun tak terlalu dalam, dari pada akar telah dalam tertanam lalu baru kita cabut pasti luka akan teramat dalam dan susah disembuhkan.
Setelah kurasa cukup aku pun mohon diri, tapi pak Lurah memaksa mengantar dengan mobil kijangnya. Di luar banyak sekali pemuda kampung mau mengantar kepergianku, bergantian menyalamiku. Dan beraneka macam pemberian kuterima, aku tak menolak sampai mobil pak Lurah tak muat lagi. Akhirnya aku dan Mujahidi pergi meninggalkan desa Pasir Seketi. Kulihat mata-mata berlinang dan melambaikan tangan. Orang-orang desa yang baik, gumamku. Setengah jam kemudian aku tiba di pesantren Pacung. Suasana pesantren sangat sepi, tak ada mobil tamu di tempat parkir, kulihat Kholil berlari-lari kecil mendekatiku.
“Kenapa sepi sekali Lil?” tanyaku setelah Kholil ada di depanku.
“Kyai lagi sakit.” jawabnya dengan mimik muka serius. Ku suruh Kholil menurunkan barang-barang yang ada di mobil.

“Sakit apa?”

“Kena santet, dan muntah darah.” aku tak begitu kaget, karena memang sudah tak terhitung lagi, Kyai terkena santet yang dikirim seseorang, karena Kyai menolong orang yang disantet, jadi Kyai jadi sasaran.
“Parah?” tanyaku menyelidik.
“Sekarang ini parah mas, soalnya tubuh Kyai sampai memerah, dan mengeluh kepanasan.” karena penjelasan Kholil itu, aku segera bergegas ke tempat Kyai berada setelah ditunjukkan Kholil.
Bergegas aku melangkah masuk rumah Kyai, suasana hening, nampak Kyai duduk memejamkan mata, sementara semua santri duduk melingkar, tangan mereka tak henti memutar tasbih di tangan, sedang Kyai duduk kedua tangannya di pangkuan, baju putihnya yang di dada belepotan darah muntahannya sendiri, sementara di depannya nampak bak plastik juga banyak darah di dalamnya.

“Kau mas Ian sudah datang,” kata Kyai datar, masih dengan mata terpejam.

“Sini duduk di sampingku.” Aku segera beranjak melangkah dan duduk bersila di samping kanan Kyai, dari dekat memang benar kata Kholil semua tubuh Kyai memerah di dalam, setelah aku duduk tangan kiri Kyai memegang pergelangan tangan kananku, uh panas sekali, lalu tanganku diangkat ke arah pahanya.
“Baca haukolah tiga kali, tahan napas.” kata Kyai masih dengan mata terpejam, suaranya datar namun tenang, aku pun segera membaca lahaulawalaquata illa billa hil aliyil adhim dalam hati tanpa napas, terasa ada aliran hawa sakti teramat dingin dari pusarku, mengalir bergulung-gulung di barengi sentakan-sentakan seperti setrum listrik, ke arah tanganku yang ada di pangkuan Kyai, sehingga kurasakan dengan pasti, aliran itu masuk ke tubuh Kyai, dan kurasakan perlahan tubuh Kyai mulai tak panas lagi, tiba-tiba Kyai terbatuk-batuk dua kali lalu memuntahkan darah, ke bak plastik, nampak darah yang ada di bak plastik itu sebentar bergolak, lalu diam, dan ada sesuatu yang bergerak-gerak, ternyata tiga kelabang sebesar ibu jari tangan, dan seekor kala jengking sebesar ibu jari kaki, yang warnanya hitam kebiru-biruan. Kyai segera memutar jari telunjuknya di atas bak plastik, maka aneh kelabang dan kala jengking itu berjalan-jalan mengitari bak plastik itu tanpa bisa keluar. Terpagar gaib.

“Ah Kyai kenapa serangan santetnya tak ditolak aja?” kataku kawatir.

“Mas, kalau tak merasakan bagaimana sakitnya kena santet, lalu gimana aku akan kasihan pada orang yang disantet, orang kalau tak pernah lapar, tak akan kasihan pada orang yang kelaparan, bagaimana orang yang perutnya selalu diisi dengan makanan-makanan enak bisa kasihan dengan orang yang kelaparan, salah-salah dia menyangka, kalau kata-kata yang namanya lapar itu tidak ada, karena telah buntu akal pikirannya dengan kekenyangan, juga sama dengan santet, selalu banyak orang bilang tak ada, karena telah mampet pikiran oleh rasa sok modern. Lalu siapa nanti yang akan menolong orang yang terkena sihir jahat seseorang yang bernama santet.” Kyai berkata panjang lebar, sambil membersihkan darah di sekitar bibirnya, kemudian melepas pakaian putihnya lalu memberikan pada santri untuk dicuci.

“Bagaimana tugasnya selesai?”

“Alhamdulillah Kyai, semua karena bantuan Kyai.”

“Oh rupanya ada pak Lurah juga…, sampai tak memperhatikan.” kata Kyai dengan senyum ramah.
Pak Lurah yang sedari tadi bengong menyaksikan, segala yang terjadi, langsung kaget, lalu tergopoh-gopoh menunduk-nunduk berjalan menghampiri Kyai, dan bersalaman dengan Kyai. Sementara aku sendiri pamit ke kamar, dalam hatiku, tak habis-habis mengagumi Kyai, Kyai yang masih begitu muda, dan ilmunya tak bisa diukur, tak pernah sombong tak membeda-bedakan segala macam tetek bengek jabatan, mau menteri mau presiden, jendral, jangan harap melihat Kyai menghormat, apalagi menjilat-jilat seperti para Kyai jaman sekarang.

Kyai yang tak membedakan antara dirinya dengan santri, tidur dan makan bareng santri, Kyai yang waskita tau semua keadaan orang di depannya, dari hari apa, tanggal berapa, dan di mana orang itu lahir, lalu siapa bapak ibunya? Tahu semua apa yang dilakukan dari semenjak orang itu lahir sampai duduk di depan Kyai, tapi Kyai tak pernah mengaku Kyai. Bahkan sepengetahuanku, Kyai tak pernah mengaku Kyai, panggilan Kyai adalah dari orang-orang yang datang, dan setahuku juga Kyai tak pernah menjadi imam masjid, bahkan sholat di masjid kampung aja jarang, aku pernah satu hari jum’ah, aku diminta memijit kaki Kyai, lalu kata Kyai, nanti aja jum’atan bareng saya, aku pun memijat Kyai sambil duduk, tak terasa aku tertidur.
Aku benar-benar pulas tidur sambil tanganku masih memegang kaki Kyai, dan kaget karena mendengar suara adzan keras seperti ditempel di telingaku, kontan aku bangun, mengejap-kejapkan mata, melihat kanan kiri, betapa terkejutnya aku, karena aku ada di dalam suatu masjid, dan banyak orang di sekitarku, ada yang berdiri, ada yang sedang sholat, dan ada yang menatapku aneh. Karena aku tidur sambil memegang kaki Kyaiku, membelakangi kiblat.

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Ah malunya aku, “Mas Ian wudhu dulu…” kata Kyai karena melihat kebingunganku, aku segera beranjak, masih tak habis mengerti, lalu pergi ke tempat wudhu, di tempat wudhu aku mencoba mendekati seseorang yang sama-sama mau wudhu.

“Paman, ini desa namanya desa apa, daerah mana?” lelaki setengah baya itu memandang heran kearahku.

“Adik ini bukan orang sini ya?” tanyanya menyelidik
.
“Bukan pak.”

“Oo, ini desa Kalianyar Kuningan dek.”

“Makasih pak.”

“Sama-sama dek.”

Aku tak habis pikir, kenapa bisa sampai di Kuningan. Aku segera wudhu. Dan kembali ke tempat di mana Kyai duduk. Aku selama sholat jum’at masih tak habis pikir dengan yang kualami, benar-benar tak masuk akal, bagaimana bisa terjadi, ini jelas-jelas bukan mimpi, kalau dulu aku diajak ke kampung dayak oleh Kyai tapi dalam mimpi, walau akhirnya aku tau itu adalah nyata, sekarang ini bukan lagi mimpi, semua nyata adanya, wajar sewajar-wajarnya. Selama sholat sampai selesai aku tak berani meninggalkan Kyai, takut kalau ditinggal bagaimana aku pulang nanti, sampai sholat jum’at selesai dan semua orang pergi, aku duduk menyanding Kyai.

“Ini namanya ilmu rogo sukmo, tingkat menengah, tingkat di atasnya lagi bisa melipat bumi, sehingga bisa sholat di Makkah, di atasnya lagi bisa menjadikan diri menjadi banyak sesuai kehendak hati, sehingga bisa sholat di berbagai tempat, dan tingkatan paling rendah yaitu melepas sukma, meninggalkan raga. Pejamkan matamu mas.” aku segera memejamkan mata, beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara Kyai, “Sudah. Buka mata.” aku pun membuka mata dan aku heran karena telah kembali di rumah Kyai.

“Bisakah saya mempelajari ilmu itu Kyai?”

“Semua orang bisa mempelajarinya, harus menjalankan puasa dan laku yang berat, sebenarnya ilmu Alloh itu teramat banyak, jikalau semua air dibuat tinta, semua pohon dibuat pena, umur kita panjang dari masa nabi Adam diciptakan, sampai sekarang, lalu setiap waktu kita menulis ilmu Allah, kemudian mempelajari, dan mengamalkan, niscaya ilmu itu tak akan habis, walau umur kita berlipat lipat lagi, orang Islam saja kalau mau sungguh-sungguh ilmu Alloh, maka sebetulnya tak perlu merasa takut kelaparan, dan tak akan pernah merasa sedih, tak membutuhkan pesawat. Tapi karena telah terjajah oleh kepentingan dan tersihir oleh nikmat dunia, jadi ilmu Alloh tak diperdulikan lagi, iman cuma diucapkan di lisan tak melewati tenggorokan, jangankan mendapatkan ainul haq, mata telanjang aja menjadi buta.” aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kyai, saat mengalami itu aku masih menjalankan puasa empat puluh satu hari.

Memang ilmu dari Kyai ini aneh, jadi tak pernah diajari, tak pernah ada pengajaran kanuragan, tak pernah ada pengajaran pengobatan, tak pernah ada pengajaran apapun, hanya ada pengamalan, amalan-amalan untuk menjernihkan hati, dan mendekatkan diri pada Allah dengan segala laku, tanpa mengharap balasan dari Alloh, bahkan tanpa menganggap amalan itu ibadah. Dibiarkan mengalir begitu saja. Wajar seperti air sungai yang mengalir melewati celah-celah batu kadang membentur karang menikung membalik berpencar berkumpul untuk menuju muara laut makrifat, hikmah, dan kesempurnaan, di antara para santri mungkin aku yang paling getol puasa, aku ingat waktu puasa pertama kujalani dua puluh hari, karena mondok sambil kerja, jadi aku bekerja di Jakarta. Untuk makanku di pondok. Ada tawaran kerja melukis airbrush. Di Cipinang Indah. Aku pun berangkat ke Jakarta, dan mencari rumah kontrakan.

Kesana sini aku mencari kontrakan, tapi kebanyakan, harganya di atas isi kantongku, padahal aku harus ngirit, seharian aku jalan, naik angkot, tanya sana sini, sampailah aku di daerah Duren Sawit, Jatinegara, karena lewat petunjuk orang ada rumah kontrakan yang murah, tapi hati-hati mas, pada kgak krasan, banyak hantunya. Kata ibu-ibu yang ngasih tau sambil wajahnya dibuat mimik ngeri. Akupun segera menemui pemilik kontrakan, lalu aku diajak ke rumah yang mau ku tempati. Rumahnya cukup besar, bertingkat di belakang, ada kamar mandi, wc, dan tiga kamar serta ruang tamu, cuma sayang tak di urus, jadi amat berdebu.

“Kalau mau nempati ditempati aja mas, kagak usah bayar, gratis.” kata pemuda sepantaranku, anak yang punya kontrakan.

“Lho kok bisa gitu.”

“Yah selama ini kami repot, karena setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan diminta lagi, ya kami yang repot, karena uangnya terlanjur kepakai.”

“Apa emang bener ada hantunya?” tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar.

“Wah kalau saya kgak percaya hal kayak gituan mas, cuma takut kalau bener ada trus saya dicekik.” aku heran dengan penjelasan pemuda ini, wong tak percaya tapi kok ya takut.

Akhirnya aku menyetujui, rizqi emang tak kemana, kalau udah dicap untuk kita, ya untuk kita, aku pun menempati rumah itu gratis, padahal kalau ngontrak rumah segede ini paling enggak empat ratus ribuan per bulan, wah kalau disuruh nempati gratis kayak gini ya jelas enak lah. Aku segera bekerja membersihkan rumah, menguras bak mandi, mengepel, untung juga di ruang tamu ada televisinya, wah bener-bener bisa kerasan. Tapi aku cuma mau nyari tempat tinggal sampai kerjaan di Cipinang Indah selesai. Besoknya aku mulai kerja membuat motif granit di tembok dan tiang rumah, juga membuat lukisan-lukisan di titik tertentu sesuai permintaan, juga aku puasa di siang hari dan wirid di malam hari, wiridnya tak terlalu banyak macamnya, walau hitungannya mencapai puluhan ribu. Karena sambil kerja waktu tak terasa berlalu.
Tak terasa duapuluh hari telah berlalu, ini adalah puasa hari ke dua puluh satu, dari ilmu yang diajarkan Kyai ini hanyalah puasa dasar, setelah ini aku puasa empat puluh satu hari, lalu setelah selesai aku puasa tiga bulan, kemudian tujuh bulan, kemudian sembilan bulan, satu tahun setengah, tiga tahun, lima tahun, tuju tahun, semua harus dilakukan berturut, artinya misal mau puasa empat puluh satu hari, selama empat puluh satu hari harus puasa, nah kalau sudah selesai, baru berhenti, mau satu atau dua tahun lagi baru puasa yang tiga bulan terserah.

Selama aku menempati rumah kontrakan ini adem ayem aja, tak terjadi apa-apa, aku lebih memilih menempati kamar atas tepat di atas kamar mandi karena lebih dekat ke kamar mandi, walau kadang aku ketiduran di ruang tamu, karena keasyikan nonton tivi.
Malam ini wirid terakhirku, setelah sholat isya, aku duduk bersila, tasbih di tangan kananku, dan counter di tangan kiriku. Dudukku kubuat sesantai mungkin, karena wirid ini baru bisa kuselesaikan dalam tiga jam. Napas kutarik panjang dan kusimpan di perut, berbarengan terus aku membaca aurad setelah perutku penuh, dan aku tak kuat menahan napas, napas perlahan lahan kukeluarkan, sangat perlahan, sampai aku tak mendengar desah tarikan nafasku. Mulutku tertutup rapat, dan mataku terpejam, sementara hati ku terus membaca wirid tanpa henti. Setelah napas kukeluarkan semua, diam sejenak, aku mengulang pernapasan seperti awal, begitu terus sampai wirid selesai, dalam mata batinku aku melihat gelap yang pekat, semua gelap tak berujung tak berpangkal, lalu di jauh sekali kulihat setitik cahaya, aku seperti meluncur ke arah cahaya itu, dan masuk ke dalamnya, semua serba cahaya putih menyilaukan mata hatiku silau lalu ada cahaya merah, hijau, kuning, biru, dan banyak lagi berpendaran, lalu aku terseret dalam satu cahaya melesat berputar, sampailah aku di satu ruang yang terang tapi lembut, damai, aku tak tau ruang apa itu, kurasakan dari pusarku mengalir hawa dingin yang sedang, mendamaikan mengalir ke semua tubuhku, kadang alirannya ku arahkan ke bagian tubuhku yang pegal-pegal, seketika hilang rasa pegalku.

Tiba-tiba angin keras menerpa di sekitarku, aku tetap duduk tenang, angin semakin keras, sampai pakaianku berkibar-kibar, sekejap konsentrasiku buyar, karena sejenak aku berpikir, bagaimana mungkin ada angin yang keras masuk sedang jendela dan pintu terkunci. Tapi aku cepat berkonsentrasi lagi, dan sampai wirid selesai tak terjadi apa-apa, setelah melipat sajadah akupun pergi ke ruang tamu dan nonton tivi sambil tiduran di sofa. Tak terasa aku telah lelap, kira-kira jam tiga malam terdengar ledakan di atas genteng, suaranya keras, sampai aku yang lagi tidur terjaga, ah mimpi pikirku. “Duar..!,duar…!” terdengar ledakan keras di atas genteng, suaranya seperti petasan, atau seperti suara pespa yang distarter lalu meledak dan copot kenalpotnya, aku sempat terbangun karena ada percikan api di atasku, kukira konsleting listrik, tapi kenapa lampu kamar sebelah tak mati? Memang lampu di ruang tamu tempat aku tidur di sofa, kumatikan, tapi bias cahaya dari kamar sebelah masih, bisa membantu mataku mengenali setiap benda di ruang tamu ini, ah perduli amat, besok aku kerja maka malam ini aku harus beristirahat cukup.

Aku segera membetulkan letak tubuhku agar nyaman, dan segera memejamkan mataku, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata, kudengar suara dekat di telingaku, walau kata-katanya tak jelas tapi benar-benar membuatku kaget, aku pun membuka mata, uh! Betapa terkejutnya aku, tepat tiga jengkal dari wajahku, seraut wajah yang menyeramkan melihatku, wajah orang tua jelek sekali, wajahnya keriputan penuh bisul menggelambir di sana sini, kepalanya botak, dan rambutnya hanya tumbuh di belakang kepala. Wah celaka kalau ini orang gila yang masuk ke kontrakanku, melihatku membuka mata dan bangkit, orang tua itu mundur.
“Hei siapa kau? Orang edan dari mana?!” tanyaku membentak, orang itu mundur dan mengoceh dengan bahasa yang tak ku mengerti. Tanganku terkepal maju mau melayangkan bogem ke wajah orang itu, ku lihat wajahnya ketakutan dan mundur-mundur, aku segera berlari melayangkan pukulan ke orang itu.

Namun dengan cepat tanpa ku sangka-sangka orang itu melompat kearah tembok, dan hilang dalam tembok. Aku melangkah maju ketembok di mana orang itu hilang, kuraba tembok semen, ku getok-getok dengan jari, keras, bagaimana mungkin orang tua itu bisa nembus tembok, apa mungkin jin, setan, siluman? Tapi kenapa kalau memang jin atau sebangsanya kok malah takut kepadaku, padahal kalau melihat mukanya jelek banget, mestinya aku yang takut sama dia, bukannya dia yang takut kepada wajah kerenku. Aku kembali ke sofa, membaringkan diri, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari, aku sudah tak bisa tidur lagi, mataku sekali waktu melihat tembok di mana orang tua jelek itu hilang.
Kisahku ini kuceritakan kepada Kyai, tapi Kyai hanya ketawa, dan mengatakan kalau menjalani puasa tingkat pertama memang akan bersentuhan dengan dunia gaib, jadi tak masalah. Di puasa yang keempat puluh satu aku juga mendapatkan tawaran melukis di sebuah rumah makan besar di daerah lintas jalan raya Serang-Pandeglang, rumah makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratusan meter, di bawah rumah makan itu ada pemancingan, pemilik rumah makan itu memintaku melukisi semua rumah makannya, tapi aku menolak karena mungkin setahun bekerja juga tak akan selesai, padahal aku bekerja hanya untuk sekedar buat makan di pondok, beli sabun dan pasta gigi, apalagi aku orangnya cepat bosan, dan melukis juga kalau lagi mud ya seneng tapi kalau lagi males, ya males.
Jadi ku katakan aja kalau aku nanti mau melukis pasti akan datang, tapi kalau lagi tak mau aku pun pulang ke pondok, dan oleh pemilik rumah makan itu pun disetujui. Aku tinggal di musholla yang ada di tengah-tengah rumah makan itu, sebenarnya aku diminta untuk tinggal di rumah pemilik rumah makan itu, tapi aku lebih memilih tinggal di musholla.

Rumah makan itu kalau siang penuh dengan pengunjung, jadi aku memutuskan melukis di malam hari agar tidak mengganggu pengunjung rumah makan, juga konsentrasiku saat melukis tidak terganggu, dan saat itu aku diminta melukis pakai kuas, jadi tidak lukisan airbrush, sehingga tak perlu terdengar suara ribut mesin compresor. Aku mulai kerja jam sembilan malam, yaitu setelah rumah makan tutup, dan pelayan telah membereskan semua. Di hening malam tanganku segera menuangkan bongkahan beku imajinasi, mencoret sana sini, mengambil satu demi satu gambaran pikiranku, menuang dalam bentuk warna yang lebih nyata, untuk dinikmati siapa saja. Seperti menyeret orang ke dunia hayalku, tanpa batas tanpa tepi.
Malam bekerja dan siang puasa, Sangat nikmat sekali, dan wirid kulakukan di siang hari, wirid masih tahapan ringan, kalau dibanding tahapan puasa di atasnya, walau menurut orang yang tak pernah menjalankan wirid, wirid adalah berat. Tapi dibanding puasa yang tuju bulan, di samping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama seminggu, apalagi yang puasa sembilan bulan, disamping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama satu hari, yaitu dari matahari terbit, sampai matahari tenggelam, pertama aku membayangkan bahwa itu tak kan mungkin, tapi setelah Kyai menjelaskan tentang ilmu melipat waktu, dan aku mengalami sendiri, ternyata itu hal biasa, imam syafii aja menghatam Alquran sehari tujuh kali.
Sudah tujuh hari aku bekerja di rumah makan ini, pak Kosasih pemilik rumah makan ini, seorang DPR, MPR, Cilegon, orangnya supel, ulet dan pandai bergaul, kadang pak Kosasih ini memintaku berhenti bekerja dan mengajak ngobrol tentang agama.

“Mas Ian, sini-sini ngaso dulu, kita ngobrol.” katanya sambil duduk di kursi, memangilku, aku pun meletakkan kuas besar yang kupakai membuat lukisan rumput. Dan aku menghampirinya.

“Duduk dulu.” katanya lagi. “Wah mas Ian ini hebat, jadi pelukis juga seorang santri.”

“Ah biasa aja pak.”

“Ah ya enggak biasa lah, apa ada di Indonesia ini, atau mungkin di dunia satu sisi, sementara sisi yang lain adalah seorang calon Kyai, tentu sebagai santri ini mas Ian ilmu agamanya pinter?”

“Wah bapak ini, karena saya tak tau ilmu agama inilah saya mondok pak, kalau saya udah pinter mungkin saya jadi tukang ceramah, kalau pekerjaan melukis, ya karena orang tua saya tak kaya, jadi kalau saya mau mesantren harus cari makan sendiri, bisanya nglukis, jadilah kerjaan ngelukis dijalani.”
“Ck..ck..hebat, hebat, memang jadi pemuda itu harus mandiri, tak hanya menjagakan orang tua.”
“Wah kalau saya karena kepaksa aja.”

“Wah udah hebat masih bisa membawa diri.”

“Ah jangan terlalu dilebih-lebihkan lah pak, nanti saya gede kepala.”

“Ngomong- ngomong apa menurut mas Ian tentang sholat?”

“Sama dengan yang ada di Alquran dan hadis, sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikan sholat maka menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan sholat merobohkan agama, karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti obat yang menyembuhkan penyakit, tentu efek sembuh di sini bukan saat mengkonsumsi obat itu, tapi setelah mengkonsumsi obat itu, begitu juga pada sholat, dikatakan bisa mencegah perbuatan keji tentu adalah setelah orang menjalankan sholat. Kalau sudah sholat ternyata masih korupsi, masih ngomong jelek, masih iri, dengki, sombong dan segala macam perbuatan buruk dilakukan, ya diyakini aja sholatnya tak bener. Sholat itu ada syarat, rukunnya, luar dalam harus dipenuhi. Seperti orang mandi aja, harus ada kamar mandi, ada air ada sabun, semua semakin baik, akan semakin bagus hasilnya, walau cuma mandi, kalau bisa ada kamar mandi yang baik, tidak mandi di tengah lapangan, ada sabun yang baik, bukannya pakai lumpur, airnya juga harus bagus, air yang keruh penuh kuman, atau air got tentu setelah mandi bukannya bersih tapi akan malah kotor, begitu juga mandi tak bisa dibolak balik, habis diguyur air pake sabun diguyur air lagi, kalau sabun kita pakai belakangan, lalu pake baju, tentu diketawain orang. Jadi tak bisa seenaknya sendiri, juga ada syarat dalam niat mandi itu mau mejeng atau mau agar bersih, agar sehat. Dan orang yang mandinya bener tidaknya tentu dilihat setelah orang itu keluar dari kamar mandi, kalau coreng moreng tentu mandinya tak bener, tapi kalau baunya wangi, bersih tentu mandinya benar.”
“Lalu menurut mas Ian gimana kalau ada orang mengatakan, sholat itu yang penting hatinya, lalu orang itu tak mau sholat.”
“Kata-kata orang itu benar tapi dia tak mau sholat itu yang tak benar. Maksud saya kata-kata orang itu benar, kebenarannya sebatas kata-kata, seperti orang mengatakan motor itu yang penting mesinnya, tentu kata itu benar, karena mesin bagus lari motor jadi kenceng, tapi apa yang sudah nempel di motor itu semua tentu penting, tanpa roda motor tak bisa kemana, roda ada unsur pelek, ger, jeruji, rantai, ban dalem ban luar, semua penting, satu aja tak ada motor tak akan kemana, kecuali dituntun, gitu juga sholat, satu aja rukun tak ada maka sholat itu walau masih dianggap sholat tapi tak sah, jangankan dapat pahala, sholat diangkat ke langit aja kgak. Seperti motor tak bisa kemana-mana, sekalipun mesin motor bagus, tapi tak ada roda, tak ada rem, tak ada onderdil yang lain, orang tak akan mau menyebut mesin motor itu adalah motor.”
Begitulah pak Kosasih, hampir tiap hari mengajak dialog tentang agama, dan aku selalu berusaha untuk menanggapinya dengan memberi contoh yang bisa dinalar dengan rasio masuk dalam logika, sampai-sampai orang itu menganggapku sebagai adiknya sendiri, dan mau menghadiahiku rumah tingkat di belakang rumahnya harapannya agar aku bisa diajaknya selalu membahas agama. Tapi walau aku miskin tapi aku tak mau hidup terjerat budi, seperti kata Kyaiku, yang selalu terngiang sampai kini saat itu aku mau bekerja di rumah orang yang masih ada hubungan saudara dengan Kyai, aku bertanya, apakah harus minta bayaran pada saudara Kyai itu.

“Mas Ian ini gimana, kalau kerja itu tak ada yang ikhlas, lha kalau beramal itu harus ikhlas. Semua ada tempat dan bagiannya masing-masing. Kalau mas Ian kerja ya harus minta gaji, nabi sendiri mengatakan: bayarlah gaji pegawaimu sebelum kering keringatnya, kalau amal kan banyak caranya ada sedekah dan lainnya. Jadi jangan dicampur-campur.”

Malam itu aku sendirian melukis, jam menunjukkan jam dua dini hari, keheningan malam terasa mencekam betul malam ini, udara dingin menusuk tulang, kopi jahe telah habis kutenggak, entah rokok Djarum yang ke berapa ini kunyalakan di mulutku, untuk mengusir sepi dalam kesendirianku, dari jauh ku dengar gonggong anjing bersahutan meremangkan bulu kudukku, aku masih mencoba menyatukan serpihan-serpihan imajinasiku, dan menorehkan kuas di tembok.

Tiba-tiba deretan kursi bambu di belakang, berjarak tiga meter berderit, seperti ada orang yang menduduki, aku menengok tiada siapa-siapa, aku melanjutkan melukis lagi, mengusir pikiran-pikiran takut yang mulai membuyarkan konsentrasiku. Tapi tak sampai lima menit, ku dengar ketukan-ketukan jari di meja bambu, aku masih tetap melukis, sambil menyatukan konsentrasiku ke telinga dan setelah yakin dengan yang ku dengar, aku cepat menoleh kearah suara. Tiada siapa-siapa, suara ketukan di meja pun berhenti, mungkin kalau bukan orang yang digembleng berulang kali telah tidur di kuburan, tentu aku akan lari lingkang pukang. Tapi ini bukannya membuatku takut tapi, aku jengkel bukan main, karena konsentrasiku diganggu. Aku melanjutkan melukis lagi, setelah sebelumnya aku mengambil rokok Djarum kuoles-olesi dengan ketek kopi dan kunyalakan, namun belum sampai lima menit terdengar lagi suara ketukan jari di meja, kali ini dengan nada musik tertentu, aku masih terus melukis, sampai dengan saat tepat aku membalikkan badan dan mengira tempat yang tadi diketuk-ketuk, aku menghampiri dan duduk di kursi depan, dan berpura-pura melihatnya, ku pelototi dia, yah aku yang ilmuku masih dangkal tentu tak melihatnya, dan aku benar-benar kecele. Karena tiba-tiba jendela rumah makan bergoyang-bergoyang, sialan dia telah berpindah, aku segera ke jendela, sampai di jendela aku berhenti, tapi tiba-tiba pintu gerbang besi di depan bergombrengan seperti ditendang orang, aku berlari ke pintu gerbang, tapi tetap tak ada siapa-siapa. Ah perduli amat, aku memutuskan untuk berhenti melukis dan melangkah ke musholla untuk berangkat tidur.

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Baru saja aku tidur, aku kaget membuka mata, dan nampak dari pintu musholla berjalan melenggang gadis cantik sekali, bibir tipisnya merah merekah, ada lesung pipi ketika tersenyum, matanya bening penuh kerlingan dan pakaian dan kerudung yang dipakai dari sutra tipis berwarna biru, sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Ah aku mau bergerak tapi tubuhku benar-benar kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali, seperti dilem dengan ubin keramik, ah aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa ketika perempuan cantik itu duduk di sampingku, tangannya mulai memelukku, kemudian bibirnya yang lembut mencumbuku, ah aku tak berdaya, dicumbuinya dan tak bisa ku tolak, maka terjadilah…..

Bangun pagi semua tubuhku rasanya ngilu. Seperti orang yang habis bekerja berat, tak ada perempuan di sampingku. Aku mungkin bermimpi. Untung siang hari aku tak kerja, sehingga aku dapat beristirahat tidur seharian, kalau mimpi hadas besar kayak gini ini yang repot waktu bangun tidur dan mau mandi sebelum sholat subuh, soalnya tak ada air, aku jadi pontang panting nyari air di kampung-kampung, sampai ku temukan sumur dekat musholla jaraknya dari tempatku kerja mungkin ada sekitar dua ratusan meter, ah tak apalah, aku langsung gebyuran mandi junub. Dan sholat subuhnya ikut berjamaah di mushola, aku masih duduk wirid memutar tasbih, setelah menjalankan sholat subuh,

“Assalamu alaikum,” ku dengar suara salam di sampingku, aku segera menjawab salam dan menengok ternyata orang tua yang tadi menjadi imam mushola.
“Mari nak main ke rumah bapak…” suara orang itu halus sekali. Sambil menjabat tanganku. Aku tak bisa menolak, tanpa kata mengikutinya dari belakang. Seperti kerbau dicocok hidungnya, setelah melewati sekitar lima rumah kami pun sampai di rumah lelaki tua itu, ku taksir umurnya sekitar enampuluhan wajahnya bersih, tenang, tak ada kumis dan jenggot, gurat di wajahnya tak menunjukkan ketuaan karena tertutup kegemukan, tubuhnya gemuk tapi gemuknya sedang tak berlebihan. Rupanya orang tua ini, adalah pengasuh pondok pesantren. Itu ku ketahui, setelah menyaksikan betapa banyak bangunan kamar-kamar santri berderet-deret, dan beberapa santri sedang beraktifitas. Setelah masuk rumah akupun segera disuruh duduk di kursi, sementara orang tua itu masuk ke dalam rumah, kemudian duduk berhadapan denganku.

“Kalau boleh tau anak ini dari mana?”

“Dari Tuban Jawa Timur pak.” jawabku singkat.

“Kok saya tak pernah melihat anak ini, tinggalnya di mana ya?”

“Saya bekerja di rumah makan itu pak, lagi membuat lukisan.”

“Oo, begitu rupanya, oh ya kok kita belum kenalan, nama saya Mashuri, orang sering memanggil Kyai Mashuri.” lelaki itu mengulurkan tangannya, dan segera saya jabat, “Febrian.” jawabku singkat, karena mataku ngantuk sekali.

“Anak Ian ini dari pesantren ya?”

“Benar pak, saya dari pesantren Pacung.”

“Wah pantes muridnya Kyai Lentik, pantas saya lihat beda.”

“Oh Bapak juga kenal dengan Kyai saya?”

“Ah siapa di Banten ini yang tak kenal dengan guru nak mas?”

Pembicaraan kami terhenti, dari pintu muncul dua gadis membawa dua baki makanan dan minuman, kemudian ditaruh di atas meja, ketika dua gadis itu mau kembali ke dalam, Kyai Mashuri segera mencegahnya dan menyuruh duduk di kursi, malah gadis yang satunya diminta memanggil gadis yang satunya lagi, sehingga di depanku kini ada tiga gadis cantik. Aku yang tak mengerti akan maksud Kyai Mashuri, duduk cuek-cuek aja.

“Mari nak Ian, sambil dicicipi makanannya…”

“Makasih pak, saya lagi libur.”
“Ah udah saya duga memang murid Kyai Lentik orang gemblengan.” kata Kyai Mashuri memuji.

“Ini lho nak Ian anak-anak saya, sebenarnya ada lima orang tapi yang dua lelaki, yang ini.” telunjuk Kyai Mashuri menuding ke gadis cantik yang ada di sampingnya.

Gadis cantik berkulit seputih susu, ku taksir umurnya sembilan belasan tahun, wajahnya imut-imut terlihat lesung pipi ketika tersenyum, bibirnya mungil, hidungnya mancung kecil matanya agak sipit seperti mata orang Cina, alisnya kecil melengkung, wah kalau dibedaki dikasih pemerah bibir mungkin akan seperti boneka.
“Namanya Juwita, dia baru kelas tiga SMA, dia anakku yang paling bungsu. Lalu yang sebelahnya,”
Kyai Mashuri menuding gadis di sebelah Juwita, gadis ini bertulang besar, namun tubuhnya langsing wajahnya tipe keibuan, dan manis sekali dengan kulit agak sawo matang, bibir tipis dan ada tumbuh kumis halus di bawah hidungnya yang mungil matanya memandang sayu, alisnya tebal melengkung indah.

“Dia bernama Anisa, dia kuliah tingkat pertama, dan yang itu anak perempuan saya paling tua.” Kyai mashuri menuding gadis yang tadi terakhir keluar.
Nampak gadis yang mungkin telah berusia matang, wajahnya sederhana penuh kedewasaan mungkin umurnya lebih tua dariku, postur tubuhnya tinggi semampai, dengan wajah bulat telor, bibirnya merekah, merah walau tanpa lipstik, janggutnya lancip dengan hidung yang tak terlalu mancung, tapi menambah pas akan kecantikannya.

“Dia namanya Aliya, nah nak Ian sudah tau akan anak-anak saya, menurut orang Banten kuno, orang Jawa itu rajanya, dan orang Banten itu ratunya, maksudnya alangkah baiknya kalau orang Jawa jadi suaminya dan orang Banten jadi istrinya, makanya saya memperkenalkan anak saya, maksud saya ingin menjodohkan anak saya dengan nak Ian.”

Saya yang siat-siut ngantuk karena semalam dikerjai jin wanita, kontan kaget salah tingkah, serba salah, tak karuan, pokoknya tak mengerti, harus apa dan bagaimana. Bahkan seluruh tubuh yang tadinya gatel, sekarang semua gatel, rambutku rasanya awut-awutan, pokoknya rasanya semua tak pas, sebenarnya kalau dipikir aku ini termasuk orang yang beruntung, bahkan mungkin terlalu beruntungnya jadinya malah kelihatannya sial, bayangkan saja kalau di depan dijejer bidadari-bidadari, kemudian ditawarkan lagi untuk memilih, bisa melihat bebas aja sambil ngiler clegak-cleguk aja sebenarnya sudah untung apalagi malah disuruh milih salah satu, ijenku belum sampai situ.
“Nak Ian bisa memilih salah satu dari ketiga putri saya ini, tak usah buru-buru, dipertimbangkan masak-masak, diistiharohi, saya ini kalau melepaskan anak menjadi istri murid dari Kyai Lentik, sudah yakin dan tak ada keraguan, lagian menurut saya ilmu yang nak Ian terima akan sangat bermanfaat di pesantren saya ini.” kata Kyai Mashuri panjang lebar, sebenarnya kata sederhana andai aku bukan pemainnya, tapi karena kata itu ditujukan padaku, maka seperti serangan petinju kepada lawan mainnya.

“Ah ,..kuk ..ut..ut” ah kenapa mulut jadi kayak habis disuntik obat mati rasa kayak gini. Kelu, tenggorokan kering, keringet membanjir lagi, ah kenapa juga perut jadi mules.

Melihat kegugupanku, Kyai Mashuri segera bicara, “Tak usah memberi jawaban sekarang, jadi dipertimbangkan masak-masak dulu.” wah seperti terkena udara ruangan yang berAC dan baru dari terik yang menyengat, keringatku pun perlahan mulai kering, kami pun membicarakan hal yang lain.

Setelah kurasa cukup, aku memutuskan untuk mohon diri dengan alasan takut dicari-cari oleh pak Kosasih, setelah keluar dari rumah Kyai Mashuri terasa plong.

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Sang Kyai 5

“Eh, eh, apa apaan ini?” aku berusaha mengangkat lengan Anggraini, tapi gadis itu menangis sesenggukan.

“Hu hu, mas Ian, kalau tak ada mas Ian apalah jadinya aku… hu… aku pasti tak sanggup membalas budi, dan pertolongan mas Ian… hu… aku siap mengabdikan diriku… hu…”

“Sudah-sudah ayo berdiri, tak baik dilihat orang, ayo berdiri.” kataku sambil menyalurkan tenaga prana lewat lengannya supaya dia tenang. Perlahan gadis itu berdiri, dan tegak di depanku.

“Jadi mas Ian mau menerima pengabdianku?” Aku yang tak mengerti, manggut aja. Dari pada masalah yang tak ada ujung pangkalnya berkepanjangan.

Setelah aku manggut, gadis itu wajahnya kelihatan ceria, dan mengusap air matanya kemudian melangkah ke dalam.

Beberapa detik kemudian bu Lurah keluar dan mempersilahkan kami menikmati hidangan.

Mujahidi kulihat mulutnya telah penuh makanan, bakwan, mendoan, tahu goreng, uh cabe yang di piring yang udah aku incer udah ludes. Mujahidi, enak aja mulutnya manyun kesana kemari, mengunyah makanan yang penuh di mulutnya sambil omong, “Hm…, semaleman bertarung, laper mas.., hm, hm, enak..” lalu setelah makan dia mengeluarkan sebatang Djisamsoe yang udah gepeng dan melengkung. Kemudian menyalakannya, asap mengepul dari bibirnya yang hitam kayak habis ditonjok orang, juga asap keluar dari lubang hidungnya yang lebar karena sering dikorek-korek dicari kotoran upilnya. Aku makin jengkel aja melihat tingkah Mujahidi, tanpa memandang sebelahnya yang jakunnya naik turun. Sebenarnya aku ngiler pada rokok yang diisepnya, tapi aku tak mau merengek-rengek, minta satu dua isepan, walau kalau dikasih, aku gak bakal menolak.

Karena melihat Mujahidi, kelihatannya rokoknya tak akan dibagi, aku segera pamitan kepada bu Lurah untuk pergi ke musholla, sekalian nunggu waktu sholat duhur, sambil selonjoran karena semalaman belum tidur, aku langsung tidur, jam menunjukkan jam sepuluh lewat lima menit.

Wah kalau ingat jam jelek yang selalu melingkar di tanganku ini, heran juga, yah walau jam tangan bermerek Casio ini menurut aku jelek, tapi awet banget, juga tahan air, aku malah mengira jam ini tak pakai batre untuk menopang jalan angkanya. Soalnya sampai tiga tahun kgak mati-mati, padahal semenjak kubeli, belum pernah aku melepasnya. Mandi, tidur, kemana aja jam ini kubawa. Sampai bentuknya buduk banget. Kaca mikanya jaret-jaret kesana sini. Penunjuk waktunya yang cuma angka-angka itu memudahkanku.

Apalagi kalau ingat waktu mendapatkannya, saat itu aku dari Serang Banten mau pulang ke Tuban nyampai terminal Pulo Gadung. Setelah membeli tiket bus malam jurusan Senori Tuban. Aku segera mencari tempat duduk, karena terlambat sedikit saja aku pasti tak akan dapat kursi, karena siapa cepat dapat. Untung aku masih kebagian kursi di tengah, walaupun bus yang kutumpangi jauh dari nyaman, aku berusaha menyamankan diri, bus masih menunggu penumpang penuh dan menunggu jam keberangkatan.

Para pedagang asongan berseliweran, sehingga menambah keadaan makin ribut. Tak jarang para pedagang itu menawarkan dagangannya disertai paksaan. Terdengar seorang pedagang jam tangan menawarkan dagangannya, sampai di depanku dia menawarkan dagangannya kepadaku, tapi aku menggeleng.

“Dilihat dulu mas, ngelihat kgak bayar kok.” kata pemuda penjual jamnya. Aku pun melihat, walau aku tak tau tentang jam tangan, tapi menurutku semua jam tangan yang dijualnya tak bagus. Maka ketika dia menawarkan kepadaku untuk membeli satu, aku menolak, lagian aku tak punya uang. Tapi dia maksa malah memakaikan jam tangannya ke pergelangan tanganku.

“Ayolah mas dibayar, cuma limapuluh ribu aja kok.” aku mau melepaskan jam tangan dari pergelangan tanganku, tapi pemuda itu menahan.

“Ayo dibayar,”

“Maaf, aku tak mau dan tak ingin punya jam tangan.” kataku, “Kamu jangan maksa.”

“Eh kamu udah ngelihat-lihat udah make jam tanganku tapi kgak mau bayar, kamu ngajak berantem?!” nadanya menantang. Sementara bus sudah jalan.

“Heh yang makekan kamu, kamu jangan memutar kata-kata ya, aku bilang aku tak punya uang.” aku juga mulai emosi.

Dia tersenyum mengejek, “Heh, oke aku akan ambil semua uang di sakumu, sebagai pengganti jam tanganku.”

Aku diam saja ketika dia merogoh uang di sakuku, karena memang aku tak punya uang. Sementara kondektur telah menyuruhnya turun. Dia tak menemukan apa-apa kecuali uang lima ribuan.

“Ah kere…!” katanya sambil bergegas turun, karena kondektur yang sudah membentaknya turun. Dan jam tangan ini sampai sekarang ada di tanganku. Aku berharap pemuda penjual jam itu insaf dan melakukan jual beli dengan wajar, dan aku juga berharap, jam tangan ini setiap ku pakai beribadah maka pemuda itu mendapatkan pahala.

Dalam tidur aku merasa ada banyak orang yang duduk berbisik-bisik di bawah kakiku. Aku pun membuka mata dan mengangkat sedikit kepala untuk meyakinkan prasangkaku. Ternyata benar, banyak sekali pemuda kampung Pasir Seketi. Dan yang aku kenal namanya ada yang namanya Jejen, Maman, Nono, Safi, Imam dan banyak lagi yang aku tak tau namanya, aku segera bangkit duduk.

“Eh, apa sudah saatnya sholat?” tanyaku karena menyangka, pemuda-pemuda ini mau sholat.

“Belum.” jawab mereka serempak.

“Lho, lalu kenapa kalian duduk di sini?” tanyaku heran, sambil membetulkan rambut panjangku yang ikatannya kendor, sehingga yang rambut pendek lepas, agak membuatku risih, kulihat Mujahidi tidur mendengkur di sebelah kananku, sekali waktu mulutnya berkriutan, mungkin makan emping atau daging yang agak liat, kulihat semua pemuda saling memberi isyarat untuk mewakili bicara. Akhirnya yang bicara pemuda bernama Jejen.

“Jadi, anu…,” pemuda itu rikuh, sehingga dia susah mengeluarkan kata-kata. Jejen, pemuda ini ku taksir umurnya duapuluh dua tahun, tubuhnya kecil, tapi berotot karena biasa kerja di kebun. Wajahnya juga kecil tapi kelihatan tua. Jejen pernah ke tempat Kyai, tapi disentil Kyai, supaya jangan sering nonton video porno, lalu malu sekali, sehingga tak berani datang lagi.

“Anu mas Ian, maaf kalau kami mengganggu tidur mas Ian, kami semua pemuda desa meminta dengan sangat supaya mas Ian bersedia membimbing kami, menjadi guru silat di desa Pasir Seketi ini.” seperti telah melepaskan beban di dadanya, Jejen menarik napas lega. Aku tak terkejut, biasa saja, sementara kulihat para pemuda yang kebanyakan umurnya di atasku itu, tegang menanti jawabanku.

“Aku mau-mau saja menjadi guru kalian, tapi apakah kalian sanggup untuk menjadi muridku?”

“Sanggup…!” terdengar suara serentak.

“Kami sanggup disuruh apa saja,” kata Jejen menambahi. Karena waktu itu sudah masuk waktu sholat maka aku mengajak mereka semua sholat berjamaah. Setelah selesai menjalankan sholat, para pemuda itu duduk melingkariku, mungkin semua sekitar tigapuluh orang.

“Saudaraku semuanya,” aku membuka pembicaraan.
“Perlu kalian ketahui, ilmu yang akan kuturunkan kepada kalian ini, dinamakan ilmu laduni, dasar amalannya adalah wirid. Sementara kalian harus menjalani puasa, untuk memiliki ilmu ini, kalian harus membeli ilmu ini dengan puasa, semakin banyak kalian puasa, maka akan semakin banyak ilmu yang kalian dapat….” aku menjelaskan panjang lebar tentang ilmu laduni, dan setiap pertanyaan aku jawab sampai mereka puas.
Setelah memberikan wirid yang harus jadi amalan, aku segera pamit meninggalkan pemuda-pemuda desa itu, karena pak Lurah telah datang memanggil untuk mengajakku makan. Kami makan dengan lahap, Mujahidi sampai nambah tiga piring, selesai makan kami duduk di beranda depan, sambil menikmati rokok Djisamsoe, pak Lurah membuka pembicaraan.
“Ah si Sanusi, kenapa dia bisa melakukan perbuatan sekeji itu?” tanpa tau arah pembicarannya aku menjawab,
“Yah itulah pak, nafsu kalau sudah mengalahkan akal budi, manusia lupa diri, dan perbuatan keji pun dilakukan.” lalu pak Lurah menceritakan, Sanusi sebenarnya masih ada hubungan saudara dengan pak Lurah, meskipun jauh.
Sanusi muda adalah orang yang suka ilmu debus dan kanuragan. Dia suka mengembara mencari guru. Bertahun-tahun Sanusi mengembara sampai akhirnya dia pulang dengan berbagai ilmu kesaktian. Dia menunjukkan ilmu kesaktiannya pada pemuda-pemuda sehingga para pemuda desa merasa takut padanya. Sanusi sering memperlihatkan ilmu kebalnya, sehingga para pemuda tertarik untuk belajar ilmu silat kepadanya, maka Sanusi pun menjadi guru silat. Tapi karena belajar silat di tempat Sanusi dipungut iuran yang tinggi, maka banyak pemuda yang mengundurkan diri, karena tak mampu membayar. Akhirnya perkumpulan silatnya pun berhenti.

Ketika terjadi pemilihan lurah, Sanusi pun mencalonkan diri, dan lawannya adalah pak Lurah yang sekarang, tapi ternyata Sanusi yang kalah dan pak Lurah pun menduduki jabatan lurah. Tak ada apa-apa setelah itu, tapi suatu hari Sanusi yang telah diangkat jadi carik, datang ke rumah pak Lurah untuk melamar Anggraini, tentu saja ditolak walau secara halus, karena Sanusi umurnya lebih tua dari pada pak Lurah, yang pantasnya menjadi ayah Anggraini. Juga Sanusi adalah seorang duda, cerai dengan istrinya, sering cekcok dan kalau sudah cekcok istrinya sering dipukul.

Pak Lurah menghela napas berat, “Tak menyangka, Sanusi yang pendiam mampu melakukan kekejian seperti itu.”

Aku hanya manggut-manggut, lalu mau pamitan pulang ke pondok Pacung. Tapi pak Lurah mencegah, kemudian mengajakku ke dalam, katanya ingin bicara empat mata, dan kami berdua masuk meninggalkan Mujahidi yang masih duduk mengebulkan rokok djisamsoe. Sampai di dalam kami segera duduk di sofa, sebentar kemudian bu Lurah pun menyusul ikut duduk. Aku bertanya-tanya dalam hati sebenarnya ada apa? Keheningan sebentar terasa karena pak Lurah tak segera bicara, nampak bu Lurah menjawil suaminya, seakan memberi isyarat supaya lekas bicara.

“Anu…nakmas Ian, apakah nak mas tidak berkeinginan untuk menjadi orang desa Pasir seketi?”

“Apa maksud Pak Lurah?” tanyaku, seperti orang bodoh.

“Maksud kami, kami ingin menjodohkan Anggraini, dengan nak Ian.” walau aku telah menyangka sebelumnya, secuek-cueknya aku, tetap terkejut juga. Bagaimana tidak, menikah adalah kehidupan suami istri yang berwatak berlainan, kalau bisa sekali untuk seumur hidup, jadi tak bisa asal comot, tanpa memikirkan resikonya, tidak asal pilih kayak memilih jajanan pasar. Atau kalau tidak akan menyesal selamanya.

“Menurut saya, Anggraini itu gadis yang cantik, setiap pemuda yang melihatnya pasti akan tertarik, termasuk saya.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi?” tanya pak Lurah bersemangat.

“Tapi pak Lurah, saya ini masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, saya masih ingin menuntut ilmu.” kataku dengan nada rendah karena takut kata-kataku menyinggung.

“Ah pondok Pacung kan dekat dari sini nak mas? Kalau mau mengaji nakmas kan bisa berangkat dari sini kalau sudah jadi istrinya Anggraini,” suara pak Lurah nyerocos suaranya seperti mengemplangku dari kanan kiri.

Bu Lurah pun menambahi, “Iya nak jadilah mantu kami, kami sudah sediakan semua, dari rumah, kebun, pokoknya nak mas tinggal menjalani.”

“Bu, pak, sekali lagi saya tidak menolak, tapi untuk saat ini saya benar-benar belum berani menikah, nanti saja kalau Anggraini memang jodoh saya, pasti saya akan menjadikan dia istri saya.” kataku panjang lebar tapi masih dengan nada sehalus mungkin, karena takut menyinggung.

Setelah membujukku sekian lama tak berhasil, pak Lurah dan istrinya pun menyerah juga. Wajah mereka tertunduk mengguratkan kekecewaan. Sementara dari dalam kamar Anggraini, terdengar suara tangis gadis itu. Tapi memang itulah hidup, kadang kita harus berani mengambil keputusan awal, terluka pun tak terlalu dalam, dari pada akar telah dalam tertanam lalu baru kita cabut pasti luka akan teramat dalam dan susah disembuhkan.
Setelah kurasa cukup aku pun mohon diri, tapi pak Lurah memaksa mengantar dengan mobil kijangnya. Di luar banyak sekali pemuda kampung mau mengantar kepergianku, bergantian menyalamiku. Dan beraneka macam pemberian kuterima, aku tak menolak sampai mobil pak Lurah tak muat lagi. Akhirnya aku dan Mujahidi pergi meninggalkan desa Pasir Seketi. Kulihat mata-mata berlinang dan melambaikan tangan. Orang-orang desa yang baik, gumamku. Setengah jam kemudian aku tiba di pesantren Pacung. Suasana pesantren sangat sepi, tak ada mobil tamu di tempat parkir, kulihat Kholil berlari-lari kecil mendekatiku.

“Kenapa sepi sekali Lil?” tanyaku setelah Kholil ada di depanku.

“Kyai lagi sakit.” jawabnya dengan mimik muka serius. Ku suruh Kholil menurunkan barang-barang yang ada di mobil.

“Sakit apa?”

“Kena santet, dan muntah darah.” aku tak begitu kaget, karena memang sudah tak terhitung lagi, Kyai terkena santet yang dikirim seseorang, karena Kyai menolong orang yang disantet, jadi Kyai jadi sasaran.

“Parah?” tanyaku menyelidik.

“Sekarang ini parah mas, soalnya tubuh Kyai sampai memerah, dan mengeluh kepanasan.” karena penjelasan Kholil itu, aku segera bergegas ke tempat Kyai berada setelah ditunjukkan Kholil.
Bergegas aku melangkah masuk rumah Kyai, suasana hening, nampak Kyai duduk memejamkan mata, sementara semua santri duduk melingkar, tangan mereka tak henti memutar tasbih di tangan, sedang Kyai duduk kedua tangannya di pangkuan, baju putihnya yang di dada belepotan darah muntahannya sendiri, sementara di depannya nampak bak plastik juga banyak darah di dalamnya.

“Kau mas Ian sudah datang,” kata Kyai datar, masih dengan mata terpejam.

“Sini duduk di sampingku.” Aku segera beranjak melangkah dan duduk bersila di samping kanan Kyai, dari dekat memang benar kata Kholil semua tubuh Kyai memerah di dalam, setelah aku duduk tangan kiri Kyai memegang pergelangan tangan kananku, uh panas sekali, lalu tanganku diangkat ke arah pahanya.

“Baca haukolah tiga kali, tahan napas.” kata Kyai masih dengan mata terpejam, suaranya datar namun tenang, aku pun segera membaca lahaulawalaquata illa billa hil aliyil adhim dalam hati tanpa napas, terasa ada aliran hawa sakti teramat dingin dari pusarku, mengalir bergulung-gulung di barengi sentakan-sentakan seperti setrum listrik, ke arah tanganku yang ada di pangkuan Kyai, sehingga kurasakan dengan pasti, aliran itu masuk ke tubuh Kyai, dan kurasakan perlahan tubuh Kyai mulai tak panas lagi, tiba-tiba Kyai terbatuk-batuk dua kali lalu memuntahkan darah, ke bak plastik, nampak darah yang ada di bak plastik itu sebentar bergolak, lalu diam, dan ada sesuatu yang bergerak-gerak, ternyata tiga kelabang sebesar ibu jari tangan, dan seekor kala jengking sebesar ibu jari kaki, yang warnanya hitam kebiru-biruan. Kyai segera memutar jari telunjuknya di atas bak plastik, maka aneh kelabang dan kala jengking itu berjalan-jalan mengitari bak plastik itu tanpa bisa keluar. Terpagar gaib.

“Ah Kyai kenapa serangan santetnya tak ditolak aja?” kataku kawatir.

“Mas, kalau tak merasakan bagaimana sakitnya kena santet, lalu gimana aku akan kasihan pada orang yang disantet, orang kalau tak pernah lapar, tak akan kasihan pada orang yang kelaparan, bagaimana orang yang perutnya selalu diisi dengan makanan-makanan enak bisa kasihan dengan orang yang kelaparan, salah-salah dia menyangka, kalau kata-kata yang namanya lapar itu tidak ada, karena telah buntu akal pikirannya dengan kekenyangan, juga sama dengan santet, selalu banyak orang bilang tak ada, karena telah mampet pikiran oleh rasa sok modern. Lalu siapa nanti yang akan menolong orang yang terkena sihir jahat seseorang yang bernama santet.” Kyai berkata panjang lebar, sambil membersihkan darah di sekitar bibirnya, kemudian melepas pakaian putihnya lalu memberikan pada santri untuk dicuci.

“Bagaimana tugasnya selesai?”

Bersambung.
Wa 085214060632
Kisah Sang Kyai Guru

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

“Alhamdulillah Kyai, semua karena bantuan Kyai.”

“Oh rupanya ada pak Lurah juga…, sampai tak memperhatikan.” kata Kyai dengan senyum ramah.

Pak Lurah yang sedari tadi bengong menyaksikan, segala yang terjadi, langsung kaget, lalu tergopoh-gopoh menunduk-nunduk berjalan menghampiri Kyai, dan bersalaman dengan Kyai. Sementara aku sendiri pamit ke kamar, dalam hatiku, tak habis-habis mengagumi Kyai, Kyai yang masih begitu muda, dan ilmunya tak bisa diukur, tak pernah sombong tak membeda-bedakan segala macam tetek bengek jabatan, mau menteri mau presiden, jendral, jangan harap melihat Kyai menghormat, apalagi menjilat-jilat seperti para Kyai jaman sekarang.

Kyai yang tak membedakan antara dirinya dengan santri, tidur dan makan bareng santri, Kyai yang waskita tau semua keadaan orang di depannya, dari hari apa, tanggal berapa, dan di mana orang itu lahir, lalu siapa bapak ibunya? Tahu semua apa yang dilakukan dari semenjak orang itu lahir sampai duduk di depan Kyai, tapi Kyai tak pernah mengaku Kyai. Bahkan sepengetahuanku, Kyai tak pernah mengaku Kyai, panggilan Kyai adalah dari orang-orang yang datang, dan setahuku juga Kyai tak pernah menjadi imam masjid, bahkan sholat di masjid kampung aja jarang, aku pernah satu hari jum’ah, aku diminta memijit kaki Kyai, lalu kata Kyai, nanti aja jum’atan bareng saya, aku pun memijat Kyai sambil duduk, tak terasa aku tertidur.

Aku benar-benar pulas tidur sambil tanganku masih memegang kaki Kyai, dan kaget karena mendengar suara adzan keras seperti ditempel di telingaku, kontan aku bangun, mengejap-kejapkan mata, melihat kanan kiri, betapa terkejutnya aku, karena aku ada di dalam suatu masjid, dan banyak orang di sekitarku, ada yang berdiri, ada yang sedang sholat, dan ada yang menatapku aneh. Karena aku tidur sambil memegang kaki Kyaiku, membelakangi kiblat.

Ah malunya aku, “Mas Ian wudhu dulu…” kata Kyai karena melihat kebingunganku, aku segera beranjak, masih tak habis mengerti, lalu pergi ke tempat wudhu, di tempat wudhu aku mencoba mendekati seseorang yang sama-sama mau wudhu.

“Paman, ini desa namanya desa apa, daerah mana?” lelaki setengah baya itu memandang heran kearahku.

“Adik ini bukan orang sini ya?” tanyanya menyelidik.

“Bukan pak.”

“Oo, ini desa Kalianyar Kuningan dek.”

“Makasih pak.”

“Sama-sama dek.”

Aku tak habis pikir, kenapa bisa sampai di Kuningan. Aku segera wudhu. Dan kembali ke tempat di mana Kyai duduk. Aku selama sholat jum’at masih tak habis pikir dengan yang kualami, benar-benar tak masuk akal, bagaimana bisa terjadi, ini jelas-jelas bukan mimpi, kalau dulu aku diajak ke kampung dayak oleh Kyai tapi dalam mimpi, walau akhirnya aku tau itu adalah nyata, sekarang ini bukan lagi mimpi, semua nyata adanya, wajar sewajar-wajarnya. Selama sholat sampai selesai aku tak berani meninggalkan Kyai, takut kalau ditinggal bagaimana aku pulang nanti, sampai sholat jum’at selesai dan semua orang pergi, aku duduk menyanding Kyai.

“Ini namanya ilmu rogo sukmo, tingkat menengah, tingkat di atasnya lagi bisa melipat bumi, sehingga bisa sholat di Makkah, di atasnya lagi bisa menjadikan diri menjadi banyak sesuai kehendak hati, sehingga bisa sholat di berbagai tempat, dan tingkatan paling rendah yaitu melepas sukma, meninggalkan raga. Pejamkan matamu mas.” aku segera memejamkan mata, beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara Kyai, “Sudah. Buka mata.” aku pun membuka mata dan aku heran karena telah kembali di rumah Kyai.

“Bisakah saya mempelajari ilmu itu Kyai?”
“Semua orang bisa mempelajarinya, harus menjalankan puasa dan laku yang berat, sebenarnya ilmu Alloh itu teramat banyak, jikalau semua air dibuat tinta, semua pohon dibuat pena, umur kita panjang dari masa nabi Adam diciptakan, sampai sekarang, lalu setiap waktu kita menulis ilmu Allah, kemudian mempelajari, dan mengamalkan, niscaya ilmu itu tak akan habis, walau umur kita berlipat lipat lagi, orang Islam saja kalau mau sungguh-sungguh ilmu Alloh, maka sebetulnya tak perlu merasa takut kelaparan, dan tak akan pernah merasa sedih, tak membutuhkan pesawat. Tapi karena telah terjajah oleh kepentingan dan tersihir oleh nikmat dunia, jadi ilmu Alloh tak diperdulikan lagi, iman cuma diucapkan di lisan tak melewati tenggorokan, jangankan mendapatkan ainul haq, mata telanjang aja menjadi buta.” aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kyai, saat mengalami itu aku masih menjalankan puasa empat puluh satu hari.

Memang ilmu dari Kyai ini aneh, jadi tak pernah diajari, tak pernah ada pengajaran kanuragan, tak pernah ada pengajaran pengobatan, tak pernah ada pengajaran apapun, hanya ada pengamalan, amalan-amalan untuk menjernihkan hati, dan mendekatkan diri pada Allah dengan segala laku, tanpa mengharap balasan dari Alloh, bahkan tanpa menganggap amalan itu ibadah. Dibiarkan mengalir begitu saja. Wajar seperti air sungai yang mengalir melewati celah-celah batu kadang membentur karang menikung membalik berpencar berkumpul untuk menuju muara laut makrifat, hikmah, dan kesempurnaan, di antara para santri mungkin aku yang paling getol puasa, aku ingat waktu puasa pertama kujalani dua puluh hari, karena mondok sambil kerja, jadi aku bekerja di Jakarta. Untuk makanku di pondok. Ada tawaran kerja melukis airbrush. Di Cipinang Indah. Aku pun berangkat ke Jakarta, dan mencari rumah kontrakan.

Kesana sini aku mencari kontrakan, tapi kebanyakan, harganya di atas isi kantongku, padahal aku harus ngirit, seharian aku jalan, naik angkot, tanya sana sini, sampailah aku di daerah Duren Sawit, Jatinegara, karena lewat petunjuk orang ada rumah kontrakan yang murah, tapi hati-hati mas, pada kgak krasan, banyak hantunya. Kata ibu-ibu yang ngasih tau sambil wajahnya dibuat mimik ngeri. Akupun segera menemui pemilik kontrakan, lalu aku diajak ke rumah yang mau ku tempati. Rumahnya cukup besar, bertingkat di belakang, ada kamar mandi, wc, dan tiga kamar serta ruang tamu, cuma sayang tak di urus, jadi amat berdebu.

“Kalau mau nempati ditempati aja mas, kagak usah bayar, gratis.” kata pemuda sepantaranku, anak yang punya kontrakan.

“Lho kok bisa gitu.”

“Yah selama ini kami repot, karena setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan diminta lagi, ya kami yang repot, karena uangnya terlanjur kepakai.”

“Apa emang bener ada hantunya?” tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar.

“Wah kalau saya kgak percaya hal kayak gituan mas, cuma takut kalau bener ada trus saya dicekik.” aku heran dengan penjelasan pemuda ini, wong tak percaya tapi kok ya takut.

Akhirnya aku menyetujui, rizqi emang tak kemana, kalau udah dicap untuk kita, ya untuk kita, aku pun menempati rumah itu gratis, padahal kalau ngontrak rumah segede ini paling enggak empat ratus ribuan per bulan, wah kalau disuruh nempati gratis kayak gini ya jelas enak lah. Aku segera bekerja membersihkan rumah, menguras bak mandi, mengepel, untung juga di ruang tamu ada televisinya, wah bener-bener bisa kerasan. Tapi aku cuma mau nyari tempat tinggal sampai kerjaan di Cipinang Indah selesai. Besoknya aku mulai kerja membuat motif granit di tembok dan tiang rumah, juga membuat lukisan-lukisan di titik tertentu sesuai permintaan, juga aku puasa di siang hari dan wirid di malam hari, wiridnya tak terlalu banyak macamnya, walau hitungannya mencapai puluhan ribu. Karena sambil kerja waktu tak terasa berlalu.
Tak terasa duapuluh hari telah berlalu, ini adalah puasa hari ke dua puluh satu, dari ilmu yang diajarkan Kyai ini hanyalah puasa dasar, setelah ini aku puasa empat puluh satu hari, lalu setelah selesai aku puasa tiga bulan, kemudian tujuh bulan, kemudian sembilan bulan, satu tahun setengah, tiga tahun, lima tahun, tuju tahun, semua harus dilakukan berturut, artinya misal mau puasa empat puluh satu hari, selama empat puluh satu hari harus puasa, nah kalau sudah selesai, baru berhenti, mau satu atau dua tahun lagi baru puasa yang tiga bulan terserah.

Selama aku menempati rumah kontrakan ini adem ayem aja, tak terjadi apa-apa, aku lebih memilih menempati kamar atas tepat di atas kamar mandi karena lebih dekat ke kamar mandi, walau kadang aku ketiduran di ruang tamu, karena keasyikan nonton tivi.

Malam ini wirid terakhirku, setelah sholat isya, aku duduk bersila, tasbih di tangan kananku, dan counter di tangan kiriku. Dudukku kubuat sesantai mungkin, karena wirid ini baru bisa kuselesaikan dalam tiga jam. Napas kutarik panjang dan kusimpan di perut, berbarengan terus aku membaca aurad setelah perutku penuh, dan aku tak kuat menahan napas, napas perlahan lahan kukeluarkan, sangat perlahan, sampai aku tak mendengar desah tarikan nafasku. Mulutku tertutup rapat, dan mataku terpejam, sementara hati ku terus membaca wirid tanpa henti. Setelah napas kukeluarkan semua, diam sejenak, aku mengulang pernapasan seperti awal, begitu terus sampai wirid selesai, dalam mata batinku aku melihat gelap yang pekat, semua gelap tak berujung tak berpangkal, lalu di jauh sekali kulihat setitik cahaya, aku seperti meluncur ke arah cahaya itu, dan masuk ke dalamnya, semua serba cahaya putih menyilaukan mata hatiku silau lalu ada cahaya merah, hijau, kuning, biru, dan banyak lagi berpendaran, lalu aku terseret dalam satu cahaya melesat berputar, sampailah aku di satu ruang yang terang tapi lembut, damai, aku tak tau ruang apa itu, kurasakan dari pusarku mengalir hawa dingin yang sedang, mendamaikan mengalir ke semua tubuhku, kadang alirannya ku arahkan ke bagian tubuhku yang pegal-pegal, seketika hilang rasa pegalku.

Tiba-tiba angin keras menerpa di sekitarku, aku tetap duduk tenang, angin semakin keras, sampai pakaianku berkibar-kibar, sekejap konsentrasiku buyar, karena sejenak aku berpikir, bagaimana mungkin ada angin yang keras masuk sedang jendela dan pintu terkunci. Tapi aku cepat berkonsentrasi lagi, dan sampai wirid selesai tak terjadi apa-apa, setelah melipat sajadah akupun pergi ke ruang tamu dan nonton tivi sambil tiduran di sofa. Tak terasa aku telah lelap, kira-kira jam tiga malam terdengar ledakan di atas genteng, suaranya keras, sampai aku yang lagi tidur terjaga, ah mimpi pikirku. “Duar..!,duar…!” terdengar ledakan keras di atas genteng, suaranya seperti petasan, atau seperti suara pespa yang distarter lalu meledak dan copot kenalpotnya, aku sempat terbangun karena ada percikan api di atasku, kukira konsleting listrik, tapi kenapa lampu kamar sebelah tak mati? Memang lampu di ruang tamu tempat aku tidur di sofa, kumatikan, tapi bias cahaya dari kamar sebelah masih, bisa membantu mataku mengenali setiap benda di ruang tamu ini, ah perduli amat, besok aku kerja maka malam ini aku harus beristirahat cukup.

Aku segera membetulkan letak tubuhku agar nyaman, dan segera memejamkan mataku, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata, kudengar suara dekat di telingaku, walau kata-katanya tak jelas tapi benar-benar membuatku kaget, aku pun membuka mata, uh! Betapa terkejutnya aku, tepat tiga jengkal dari wajahku, seraut wajah yang menyeramkan melihatku, wajah orang tua jelek sekali, wajahnya keriputan penuh bisul menggelambir di sana sini, kepalanya botak, dan rambutnya hanya tumbuh di belakang kepala. Wah celaka kalau ini orang gila yang masuk ke kontrakanku, melihatku membuka mata dan bangkit, orang tua itu mundur.

“Hei siapa kau? Orang edan dari mana?!” tanyaku membentak, orang itu mundur dan mengoceh dengan bahasa yang tak ku mengerti. Tanganku terkepal maju mau melayangkan bogem ke wajah orang itu, ku lihat wajahnya ketakutan dan mundur-mundur, aku segera berlari melayangkan pukulan ke orang itu.

Namun dengan cepat tanpa ku sangka-sangka orang itu melompat kearah tembok, dan hilang dalam tembok. Aku melangkah maju ketembok di mana orang itu hilang, kuraba tembok semen, ku getok-getok dengan jari, keras, bagaimana mungkin orang tua itu bisa nembus tembok, apa mungkin jin, setan, siluman? Tapi kenapa kalau memang jin atau sebangsanya kok malah takut kepadaku, padahal kalau melihat mukanya jelek banget, mestinya aku yang takut sama dia, bukannya dia yang takut kepada wajah kerenku. Aku kembali ke sofa, membaringkan diri, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari, aku sudah tak bisa tidur lagi, mataku sekali waktu melihat tembok di mana orang tua jelek itu hilang.

Kisahku ini kuceritakan kepada Kyai, tapi Kyai hanya ketawa, dan mengatakan kalau menjalani puasa tingkat pertama memang akan bersentuhan dengan dunia gaib, jadi tak masalah. Di puasa yang keempat puluh satu aku juga mendapatkan tawaran melukis di sebuah rumah makan besar di daerah lintas jalan raya Serang-Pandeglang, rumah makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratusan meter, di bawah rumah makan itu ada pemancingan, pemilik rumah makan itu memintaku melukisi semua rumah makannya, tapi aku menolak karena mungkin setahun bekerja juga tak akan selesai, padahal aku bekerja hanya untuk sekedar buat makan di pondok, beli sabun dan pasta gigi, apalagi aku orangnya cepat bosan, dan melukis juga kalau lagi mud ya seneng tapi kalau lagi males, ya males.

Jadi ku katakan aja kalau aku nanti mau melukis pasti akan datang, tapi kalau lagi tak mau aku pun pulang ke pondok, dan oleh pemilik rumah makan itu pun disetujui. Aku tinggal di musholla yang ada di tengah-tengah rumah makan itu, sebenarnya aku diminta untuk tinggal di rumah pemilik rumah makan itu, tapi aku lebih memilih tinggal di musholla.

Rumah makan itu kalau siang penuh dengan pengunjung, jadi aku memutuskan melukis di malam hari agar tidak mengganggu pengunjung rumah makan, juga konsentrasiku saat melukis tidak terganggu, dan saat itu aku diminta melukis pakai kuas, jadi tidak lukisan airbrush, sehingga tak perlu terdengar suara ribut mesin compresor. Aku mulai kerja jam sembilan malam, yaitu setelah rumah makan tutup, dan pelayan telah membereskan semua. Di hening malam tanganku segera menuangkan bongkahan beku imajinasi, mencoret sana sini, mengambil satu demi satu gambaran pikiranku, menuang dalam bentuk warna yang lebih nyata, untuk dinikmati siapa saja. Seperti menyeret orang ke dunia hayalku, tanpa batas tanpa tepi.

Malam bekerja dan siang puasa, Sangat nikmat sekali, dan wirid kulakukan di siang hari, wirid masih tahapan ringan, kalau dibanding tahapan puasa di atasnya, walau menurut orang yang tak pernah menjalankan wirid, wirid adalah berat. Tapi dibanding puasa yang tuju bulan, di samping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama seminggu, apalagi yang puasa sembilan bulan, disamping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama satu hari, yaitu dari matahari terbit, sampai matahari tenggelam, pertama aku membayangkan bahwa itu tak kan mungkin, tapi setelah Kyai menjelaskan tentang ilmu melipat waktu, dan aku mengalami sendiri, ternyata itu hal biasa, imam syafii aja menghatam Alquran sehari tujuh kali.
Sudah tujuh hari aku bekerja di rumah makan ini, pak Kosasih pemilik rumah makan ini, seorang DPR, MPR, Cilegon, orangnya supel, ulet dan pandai bergaul, kadang pak Kosasih ini memintaku berhenti bekerja dan mengajak ngobrol tentang agama.

“Mas Ian, sini-sini ngaso dulu, kita ngobrol.” katanya sambil duduk di kursi, memangilku, aku pun meletakkan kuas besar yang kupakai membuat lukisan rumput. Dan aku menghampirinya.

“Duduk dulu.” katanya lagi. “Wah mas Ian ini hebat, jadi pelukis juga seorang santri.”

“Ah biasa aja pak.”

“Ah ya enggak biasa lah, apa ada di Indonesia ini, atau mungkin di dunia satu sisi, sementara sisi yang lain adalah seorang calon Kyai, tentu sebagai santri ini mas Ian ilmu agamanya pinter?”

“Wah bapak ini, karena saya tak tau ilmu agama inilah saya mondok pak, kalau saya udah pinter mungkin saya jadi tukang ceramah, kalau pekerjaan melukis, ya karena orang tua saya tak kaya, jadi kalau saya mau mesantren harus cari makan sendiri, bisanya nglukis, jadilah kerjaan ngelukis dijalani.”

“Ck..ck..hebat, hebat, memang jadi pemuda itu harus mandiri, tak hanya menjagakan orang tua.”

“Wah kalau saya karena kepaksa aja.”

“Wah udah hebat masih bisa membawa diri.”

“Ah jangan terlalu dilebih-lebihkan lah pak, nanti saya gede kepala.”

“Ngomong- ngomong apa menurut mas Ian tentang sholat?”

“Sama dengan yang ada di Alquran dan hadis, sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikan sholat maka menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan sholat merobohkan agama, karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti obat yang menyembuhkan penyakit, tentu efek sembuh di sini bukan saat mengkonsumsi obat itu, tapi setelah mengkonsumsi obat itu, begitu juga pada sholat, dikatakan bisa mencegah perbuatan keji tentu adalah setelah orang menjalankan sholat. Kalau sudah sholat ternyata masih korupsi, masih ngomong jelek, masih iri, dengki, sombong dan segala macam perbuatan buruk dilakukan, ya diyakini aja sholatnya tak bener. Sholat itu ada syarat, rukunnya, luar dalam harus dipenuhi. Seperti orang mandi aja, harus ada kamar mandi, ada air ada sabun, semua semakin baik, akan semakin bagus hasilnya, walau cuma mandi, kalau bisa ada kamar mandi yang baik, tidak mandi di tengah lapangan, ada sabun yang baik, bukannya pakai lumpur, airnya juga harus bagus, air yang keruh penuh kuman, atau air got tentu setelah mandi bukannya bersih tapi akan malah kotor, begitu juga mandi tak bisa dibolak balik, habis diguyur air pake sabun diguyur air lagi, kalau sabun kita pakai belakangan, lalu pake baju, tentu diketawain orang. Jadi tak bisa seenaknya sendiri, juga ada syarat dalam niat mandi itu mau mejeng atau mau agar bersih, agar sehat. Dan orang yang mandinya bener tidaknya tentu dilihat setelah orang itu keluar dari kamar mandi, kalau coreng moreng tentu mandinya tak bener, tapi kalau baunya wangi, bersih tentu mandinya benar.”

“Lalu menurut mas Ian gimana kalau ada orang mengatakan, sholat itu yang penting hatinya, lalu orang itu tak mau sholat.”

“Kata-kata orang itu benar tapi dia tak mau sholat itu yang tak benar. Maksud saya kata-kata orang itu benar, kebenarannya sebatas kata-kata, seperti orang mengatakan motor itu yang penting mesinnya, tentu kata itu benar, karena mesin bagus lari motor jadi kenceng, tapi apa yang sudah nempel di motor itu semua tentu penting, tanpa roda motor tak bisa kemana, roda ada unsur pelek, ger, jeruji, rantai, ban dalem ban luar, semua penting, satu aja tak ada motor tak akan kemana, kecuali dituntun, gitu juga sholat, satu aja rukun tak ada maka sholat itu walau masih dianggap sholat tapi tak sah, jangankan dapat pahala, sholat diangkat ke langit aja kgak. Seperti motor tak bisa kemana-mana, sekalipun mesin motor bagus, tapi tak ada roda, tak ada rem, tak ada onderdil yang lain, orang tak akan mau menyebut mesin motor itu adalah motor.”

Begitulah pak Kosasih, hampir tiap hari mengajak dialog tentang agama, dan aku selalu berusaha untuk menanggapinya dengan memberi contoh yang bisa dinalar dengan rasio masuk dalam logika, sampai-sampai orang itu menganggapku sebagai adiknya sendiri, dan mau menghadiahiku rumah tingkat di belakang rumahnya harapannya agar aku bisa diajaknya selalu membahas agama. Tapi walau aku miskin tapi aku tak mau hidup terjerat budi, seperti kata Kyaiku, yang selalu terngiang sampai kini saat itu aku mau bekerja di rumah orang yang masih ada hubungan saudara dengan Kyai, aku bertanya, apakah harus minta bayaran pada saudara Kyai itu.

“Mas Ian ini gimana, kalau kerja itu tak ada yang ikhlas, lha kalau beramal itu harus ikhlas. Semua ada tempat dan bagiannya masing-masing. Kalau mas Ian kerja ya harus minta gaji, nabi sendiri mengatakan: bayarlah gaji pegawaimu sebelum kering keringatnya, kalau amal kan banyak caranya ada sedekah dan lainnya. Jadi jangan dicampur-campur.”

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Malam itu aku sendirian melukis, jam menunjukkan jam dua dini hari, keheningan malam terasa mencekam betul malam ini, udara dingin menusuk tulang, kopi jahe telah habis kutenggak, entah rokok Djarum yang ke berapa ini kunyalakan di mulutku, untuk mengusir sepi dalam kesendirianku, dari jauh ku dengar gonggong anjing bersahutan meremangkan bulu kudukku, aku masih mencoba menyatukan serpihan-serpihan imajinasiku, dan menorehkan kuas di tembok.

Tiba-tiba deretan kursi bambu di belakang, berjarak tiga meter berderit, seperti ada orang yang menduduki, aku menengok tiada siapa-siapa, aku melanjutkan melukis lagi, mengusir pikiran-pikiran takut yang mulai membuyarkan konsentrasiku.

Tapi tak sampai lima menit, ku dengar ketukan-ketukan jari di meja bambu, aku masih tetap melukis, sambil menyatukan konsentrasiku ke telinga dan setelah yakin dengan yang ku dengar, aku cepat menoleh kearah suara. Tiada siapa-siapa, suara ketukan di meja pun berhenti, mungkin kalau bukan orang yang digembleng berulang kali telah tidur di kuburan, tentu aku akan lari lingkang pukang. Tapi ini bukannya membuatku takut tapi, aku jengkel bukan main, karena konsentrasiku diganggu. Aku melanjutkan melukis lagi, setelah sebelumnya aku mengambil rokok Djarum kuoles-olesi dengan ketek kopi dan kunyalakan, namun belum sampai lima menit terdengar lagi suara ketukan jari di meja, kali ini dengan nada musik tertentu, aku masih terus melukis, sampai dengan saat tepat aku membalikkan badan dan mengira tempat yang tadi diketuk-ketuk, aku menghampiri dan duduk di kursi depan, dan berpura-pura melihatnya, ku pelototi dia, yah aku yang ilmuku masih dangkal tentu tak melihatnya, dan aku benar-benar kecele. Karena tiba-tiba jendela rumah makan bergoyang-bergoyang, sialan dia telah berpindah, aku segera ke jendela, sampai di jendela aku berhenti, tapi tiba-tiba pintu gerbang besi di depan bergombrengan seperti ditendang orang, aku berlari ke pintu gerbang, tapi tetap tak ada siapa-siapa. Ah perduli amat, aku memutuskan untuk berhenti melukis dan melangkah ke musholla untuk berangkat tidur.

Baru saja aku tidur, aku kaget membuka mata, dan nampak dari pintu musholla berjalan melenggang gadis cantik sekali, bibir tipisnya merah merekah, ada lesung pipi ketika tersenyum, matanya bening penuh kerlingan dan pakaian dan kerudung yang dipakai dari sutra tipis berwarna biru, sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Ah aku mau bergerak tapi tubuhku benar-benar kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali, seperti dilem dengan ubin keramik, ah aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa ketika perempuan cantik itu duduk di sampingku, tangannya mulai memelukku, kemudian bibirnya yang lembut mencumbuku, ah aku tak berdaya, dicumbuinya dan tak bisa ku tolak, maka terjadilah…..

Bangun pagi semua tubuhku rasanya ngilu. Seperti orang yang habis bekerja berat, tak ada perempuan di sampingku. Aku mungkin bermimpi. Untung siang hari aku tak kerja, sehingga aku dapat beristirahat tidur seharian, kalau mimpi hadas besar kayak gini ini yang repot waktu bangun tidur dan mau mandi sebelum sholat subuh, soalnya tak ada air, aku jadi pontang panting nyari air di kampung-kampung, sampai ku temukan sumur dekat musholla jaraknya dari tempatku kerja mungkin ada sekitar dua ratusan meter, ah tak apalah, aku langsung gebyuran mandi junub. Dan sholat subuhnya ikut berjamaah di mushola, aku masih duduk wirid memutar tasbih, setelah menjalankan sholat subuh,

“Assalamu alaikum,” ku dengar suara salam di sampingku, aku segera menjawab salam dan menengok ternyata orang tua yang tadi menjadi imam mushola.

“Mari nak main ke rumah bapak…” suara orang itu halus sekali. Sambil menjabat tanganku. Aku tak bisa menolak, tanpa kata mengikutinya dari belakang. Seperti kerbau dicocok hidungnya, setelah melewati sekitar lima rumah kami pun sampai di rumah lelaki tua itu, ku taksir umurnya sekitar enampuluhan wajahnya bersih, tenang, tak ada kumis dan jenggot, gurat di wajahnya tak menunjukkan ketuaan karena tertutup kegemukan, tubuhnya gemuk tapi gemuknya sedang tak berlebihan. Rupanya orang tua ini, adalah pengasuh pondok pesantren. Itu ku ketahui, setelah menyaksikan betapa banyak bangunan kamar-kamar santri berderet-deret, dan beberapa santri sedang beraktifitas. Setelah masuk rumah akupun segera disuruh duduk di kursi, sementara orang tua itu masuk ke dalam rumah, kemudian duduk berhadapan denganku.

“Kalau boleh tau anak ini dari mana?”

“Dari Tuban Jawa Timur pak.” jawabku singkat.

“Kok saya tak pernah melihat anak ini, tinggalnya di mana ya?”

“Saya bekerja di rumah makan itu pak, lagi membuat lukisan.”

“Oo, begitu rupanya, oh ya kok kita belum kenalan, nama saya Mashuri, orang sering memanggil Kyai Mashuri.” lelaki itu mengulurkan tangannya, dan segera saya jabat, “Febrian.” jawabku singkat, karena mataku ngantuk sekali.

“Anak Ian ini dari pesantren ya?”

“Benar pak, saya dari pesantren Pacung.”

“Wah pantes muridnya Kyai Lentik, pantas saya lihat beda.”

“Oh Bapak juga kenal dengan Kyai saya?”

“Ah siapa di Banten ini yang tak kenal dengan guru nak mas?”

Pembicaraan kami terhenti, dari pintu muncul dua gadis membawa dua baki makanan dan minuman, kemudian ditaruh di atas meja, ketika dua gadis itu mau kembali ke dalam, Kyai Mashuri segera mencegahnya dan menyuruh duduk di kursi, malah gadis yang satunya diminta memanggil gadis yang satunya lagi, sehingga di depanku kini ada tiga gadis cantik. Aku yang tak mengerti akan maksud Kyai Mashuri, duduk cuek-cuek aja.

“Mari nak Ian, sambil dicicipi makanannya…”

“Makasih pak, saya lagi libur.”

“Ah udah saya duga memang murid Kyai Lentik orang gemblengan.” kata Kyai fMashuri memuji.

“Ini lho nak Ian anak-anak saya, sebenarnya ada lima orang tapi yang dua lelaki, yang ini.” telunjuk Kyai Mashuri menuding ke gadis cantik yang ada di sampingnya.

Gadis cantik berkulit seputih susu, ku taksir umurnya sembilan belasan tahun, wajahnya imut-imut terlihat lesung pipi ketika tersenyum, bibirnya mungil, hidungnya mancung kecil matanya agak sipit seperti mata orang Cina, alisnya kecil melengkung, wah kalau dibedaki dikasih pemerah bibir mungkin akan seperti boneka.

“Namanya Juwita, dia baru kelas tiga SMA, dia anakku yang paling bungsu. Lalu yang sebelahnya,”
Kyai Mashuri menuding gadis di sebelah Juwita, gadis ini bertulang besar, namun tubuhnya langsing wajahnya tipe keibuan, dan manis sekali dengan kulit agak sawo matang, bibir tipis dan ada tumbuh kumis halus di bawah hidungnya yang mungil matanya memandang sayu, alisnya tebal melengkung indah.

“Dia bernama Anisa, dia kuliah tingkat pertama, dan yang itu anak perempuan saya paling tua.” Kyai mashuri menuding gadis yang tadi terakhir keluar.
Nampak gadis yang mungkin telah berusia matang, wajahnya sederhana penuh kedewasaan mungkin umurnya lebih tua dariku, postur tubuhnya tinggi semampai, dengan wajah bulat telor, bibirnya merekah, merah walau tanpa lipstik, janggutnya lancip dengan hidung yang tak terlalu mancung, tapi menambah pas akan kecantikannya.

“Dia namanya Aliya, nah nak Ian sudah tau akan anak-anak saya, menurut orang Banten kuno, orang Jawa itu rajanya, dan orang Banten itu ratunya, maksudnya alangkah baiknya kalau orang Jawa jadi suaminya dan orang Banten jadi istrinya, makanya saya memperkenalkan anak saya, maksud saya ingin menjodohkan anak saya dengan nak Ian.”

Saya yang siat-siut ngantuk karena semalam dikerjai jin wanita, kontan kaget salah tingkah, serba salah, tak karuan, pokoknya tak mengerti, harus apa dan bagaimana. Bahkan seluruh tubuh yang tadinya gatel, sekarang semua gatel, rambutku rasanya awut-awutan, pokoknya rasanya semua tak pas, sebenarnya kalau dipikir aku ini termasuk orang yang beruntung, bahkan mungkin terlalu beruntungnya jadinya malah kelihatannya sial, bayangkan saja kalau di depan dijejer bidadari-bidadari, kemudian ditawarkan lagi untuk memilih, bisa melihat bebas aja sambil ngiler clegak-cleguk aja sebenarnya sudah untung apalagi malah disuruh milih salah satu, ijenku belum sampai situ.

“Nak Ian bisa memilih salah satu dari ketiga putri saya ini, tak usah buru-buru, dipertimbangkan masak-masak, diistiharohi, saya ini kalau melepaskan anak menjadi istri murid dari Kyai Lentik, sudah yakin dan tak ada keraguan, lagian menurut saya ilmu yang nak Ian terima akan sangat bermanfaat di pesantren saya ini.” kata Kyai Mashuri panjang lebar, sebenarnya kata sederhana andai aku bukan pemainnya, tapi karena kata itu ditujukan padaku, maka seperti serangan petinju kepada lawan mainnya.

“Ah ,..kuk ..ut..ut” ah kenapa mulut jadi kayak habis disuntik obat mati rasa kayak gini. Kelu, tenggorokan kering, keringet membanjir lagi, ah kenapa juga perut jadi mules.

Melihat kegugupanku, Kyai Mashuri segera bicara, “Tak usah memberi jawaban sekarang, jadi dipertimbangkan masak-masak dulu.” wah seperti terkena udara ruangan yang berAC dan baru dari terik yang menyengat, keringatku pun perlahan mulai kering, kami pun membicarakan hal yang lain.

Setelah kurasa cukup, aku memutuskan untuk mohon diri dengan alasan takut dicari-cari oleh pak Kosasih, setelah keluar dari rumah Kyai Mashuri terasa plong.

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Sang Kyai 6

Sebenarnya untuk menikah, pemuda seumuranku dua puluh tiga tahun, menurutku juga belum matang, masih banyak yang harus digapai, sebenarnya alasan itu kubuat-buat sendiri, kalau tak mau membohongi jawaban yang pas, jawabannya adalah aku takut memberi nafkah, akan ku kasih makan apa nanti istriku? Kerjaan tetap tak ada, kalau membanggakan sebagai pelukis ah tak cukuplah, rokok aja aku kadang harus ngelinting dari puntung. Apa jadinya nanti istriku?

Pikiran seperti itu tentu timbul dan ada sebelum aku menjalani laku nggembel, jadi pengemis dan orang gila untuk melihat dengan ainul haq, bahwa segala rizqi segala mahluq yang bergerak merayap di atas bumi ini adalah di dalam kekuasaan Tuhan. Kalau aku sudah mengamalkan ilmu tawakal, tentu aku ditawari nikah he-eh aja.

Aku berjalan cepat karena sudah ngantuknya mataku, jam di tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh siang, aku berhenti ketika mau menyeberang jalan raya, menunggu mobil yang lewat sepi, tiba-tiba suara kecil merdu terdengar di belakangku.

“Mas Ian, tunggu..!” suara Juwita berlari sambil membawa kresek hijau, menyusulku.

“Ini mas, nanti untuk berbuka puasa.”

“Makasih banyak.” seraya mengulurkan tangan untuk menerima.

Tapi gadis itu menariknya menjauhi tanganku, “Biar aku aja yang bawakan.” kata Juwita, seraya berlari mendahuluiku, menyeberang, aku pun mengikutinya dari belakang, kulihat Juwita dari belakang, tak terasa aku menelan ludah, ah dasar setan, sukanya menggoda manusia, tapi tak usah digoda setanpun, ini nyata benar-benar gadis yang sempurna, lincah, periang, ah glek uhuk, wah terlalu banyak ludah ku telan, jadi agak tersedak.

“Mas Ian, aku ingin melihat hasil karyanya, boleh kan?” aku ngangguk aja, gimana mau nolak, senyum yang merekah, gigi yang putih, lesung pipi, mata yang berpijaran, aduh runtuhlah pertahanan, dadaku benar-benar diaduk seperti bergolaknya lahar menggelegak, tapi tak punya jalan keluar dari tebing hatiku karena takut dengan jurang dan tebing bayangan buatanku sendiri, Juwita berjalan di sampingku.

Mungkin lima tahun yang lalu, aku ketemu Juwita, sebelum aku jadi murid Kyai, ah pasti udah ku pacari, tapi kini keadaannya lain, aku telah jadi murid Kyai, mungkin aku lebih senang kalau orang-orang seperti Juwita tak ada di dekatku, karena teramat susah melawan nafsu, teramat berat berperang dengan nafsu sendiri.

“Mas Ian maafkan Abah ya, memang Abah selalu begitu, kalau punya mau ceplas ceplos aja tanpa dipikir, maen jodoh-jodoh aja, emangnya ini jaman apa?” kata gadis itu mbesengut.

“Ah, tak papa kok.” mungkin Juwita sudah punya pacar di sekolahnya sehingga tak mau dijodohkan, aku maklum akan gadis sekarang, apalagi gadis secantik Juwita, aku cemburu? Ya enggak lah, “Tapi kalau memang benar mau milih,” suara gadis itu terdengar manja, “Mas Ian pilih Juwita ya?!” pletar..! Seperti petasan dinyalakan di telingaku, kaget nginggg, sebebas lepas benar gadis ini. Hampir aja jantungku copot, untung setelah tarik napas kurasakan masih ada.

Untung Juwita tak lama ada di tempat kerjaku dan berkali-kali dia berdecak mengagumi lukisanku, aku senyum nyengir aja, sampai saat mau pulang, gadis itu tiba-tiba memencet hidung mancungku, “Kamu memang hebaaat.” katanya gemes, perbuatannya yang mendadak itu sungguh mengagetkanku, tapi aku tak bisa menghindar. Ah sudahlah, kulihat ia berlari-lari kecil meninggalkanku, aku segera pergi tidur mengingat malam nanti aku harus kerja.

Malamnya aku hanya kuat kerja sampai jam setengah dua dini hari, karena siang kurang istirahat, aku pun beranjak tidur, lampu ku matikan, tapi lampu penerangan di luar masih bisa menerobos masuk lewat lubang angin. Belum sampai lima menit aku tertidur, kurasakan tubuhku lengket di keramik tak bisa digerakkan dan dari pintu musholla nampak gadis-gadis berjalan, sekarang ini mereka ada lima orang. Aku mencoba menggerakkan tubuh, tapi sia-sia. Ah aku benar-benar tiada daya, tak mampu melawan apa-apa, mereka memperkosaku habis-habisan, mereka ini apa? Aku tak mengerti, jika aku menangis, kemudian mengatakan aku diperkosa, pasti jadi bahan tertawaan. Maka besoknya aku pun memutuskan pulang ke pesantren, mau meminta solusi kepada Kyai. Setelah pamit pada pak Kosasih aku pun pulang.

Sampai di pesantren Kyai hanya tersenyum melihat aku yang loyo, “Gak papa cuma jin-jin perempuan yang nakal.” kata Kyai,

“Tapi Kyai..”

“Udah nanti ajak aja si Jauhari, sama si Majid, untuk menemani.” kata Kyai menghiburku.

Besoknya aku berangkat lagi ke tempat pak Kosasih. Hari itu aku tak langsung kerja, jadi malamnya aku disuruh istirahat dulu, setelah ngobrol dengan pak Kosasih sampai jam dua belas malam, kami pun beranjak tidur berdampingan. Sekarang akan kulihat apa reaksi perempuan itu. Tentu kejadian yang menimpaku tak ku ceritakan pada ketiga temanku. Rupanya kami bertiga mengalami hal yang berbeda-beda. Majid kakinya diangkat dan diputar-putar, sementara Jauhari dijatuhi anak kecil kira-kira umur sembilan tahunan diduduki dadanya dan dipukul sampai wajahnya pada lebam, wajahnya yang hitam makin tambah hitam, sementara aku masih tetap diperkosa.

Sebenarnya kedua temanku ini sudah takut, dan mengajak aku kembali ke pondok, tapi tanggung lukisanku tinggal sedikit, maka ku bujuk mereka untuk menemaniku semalam lagi, karena paginya saling bercerita jadi kami tahu kisah masing-masing. “Entar malem aku yang tidur di tempat kamu aja mas, biar aku ngerasain bagaimana rasanya diperkosa, masak aku dibikin lebam kayak gini.” Jauhari protes, dan ku iyakan aja. Maka setelah kerja, kami pun berangkat tidur, dengan perasaan tegang. Sesuai permintaan Jauhari aku pun menempati tempatnya Jauhari, dan Jauhari menempati tempatku tidur, jam setengah empat kami semua bangun, kulihat muka Jauhari makin jontor.

Wajahnya yang jelek makin jelek aja, dan aku lemas sekali karena melayani lima wanita, pinggangku benar-benar sakit, dengkul kayak tak ada olinya lagi, sementara Majid ngos-ngosan karena semalaman kakinya diangkat-angkat dan diputer-puter. Tapi aku mengajak mereka berdua untuk neruskan tidur aja karena waktu subuh masih lama, saat itulah aku melihat dari pintu musholla masuk lima belas wanita cantik, beraneka warna bajunya juga anak kecil bersisik ular, digiring seorang kakek bongkok membawa cambuk, nampak kelima belas wanita dan anak kecil itu takut, tunduk. Ctar..! Suara cambuk dilecutkan, para perempuan itu menjerit.

“Ayo minta maaf, kalian telah mengganggu para santri Kyai Lentik, cepat minta maaf.!” bentak kakek tua itu, dengan takut-takut para perempuan itu minta maaf, kemudian mereka digiring kakek itu, keluar musholla, aku segera terbangun. Besoknya mencari tempat mandi. Di sumur dekat musholla, lalu ikut sholat shubuh di musholla, dan ketika Kyai Mashuri mengajakku main kerumahnya aku menolak dengan halus. Karena pekerjaan telah selesai maka aku dan teman-temanku pun pamit pulang kepada pak Kosasih.

Aku dipesan kalau membutuhkan pekerjaan harap sudi datang, karena masih banyak yang harus ku lukis. Saat berpamitan inilah pak Kosasih bercerita tentang riwayat masa lalunya rumah makan ini. Menurut kisahnya dulu sebelum menjadi rumah makan tempat ini adalah jurang yang lumayan dalam, dan sering kali terjadi kecelakaan, kadang rombongan pengantin satu mobil masuk jurang, semuanya meninggal dalam kecelakaan, ada satu keluarga dalam mobil semua meninggal dalam kecelakaan masuk jurang. Ada juga truk rombongan kampanye masuk jurang, walau tak semua mati, tapi akhirnya dari orang yang tak mati dalam kecelakaan inilah, diketahui, bahwa setiap mobil yang celaka sebetulnya jalannya tetap biasa saja, lurus, tapi entah kenapa tiba-tiba mobil ada di awang-awang dan meluncur ke jurang.

Melihat banyaknya kecelakaan itu, pak Kosasih pun membeli jurang dan tanah di sekitarnya, lalu dibangunlah rumah makan yang besar, dengan harapan termanfaatkannya tanah yang kosong dan yang lebih penting tak ada lagi kecelakaan. Tapi harapan pak Kosasih, hanya harapan saja, buktinya sampai sekarang kecelakaan di daerah itu tetap saja terjadi. Entah berapa kali tembok pagar rumah makan itu diganti, karena ambrol disruduk mobil yang mengalami kecelakaan. Juga para pelayan rumah makan itu tak ada yang kuat bertahan lebih dari tiga bulan, ada saja masalahnya, karena takut, karena kesurupan. Tapi rumah makan itu tetap berjalan dan ramai pengunjungnya.

Setelah pulang ke pesantren Pacung, aku menyelesaikan puasa empatpuluh satu hari, dan setelah selesai, aku minta ijin pada Kyai untuk pulang sebentar ke Tuban menengok kampung halaman, Kyai pun mengijiniku, tanpa menunggu lama aku berangkat pulang, walau telah hampir setahun aku mesantren di tempat Kyai, tapi aku masih tak tau aku ini mendapatkan apa di pesantren. Sebab Kyai tak pernah mengajarku apa-apa. Puasa juga baru dua puluh satu hari, dan empat puluh satu hari.

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Sampai di desaku sendang rumahku adalah lingkungan pesantren, ada sekitar tujuh pesantren di sekitar rumahku, kalau dihitung dalam satu desaku ada sepuluh pesantren. Semua pengasuhnya masih ada hubungan saudara denganku, ada yang pamanku, ada yang saudara sepupu ayahku. Maka desaku terkenal dengan desa santri. Dan kehidupan masyarakatnya kebanyakan bertani. Ketika teman-temanku tau, aku datang ke rumah semua pada datang berkunjung, ada yang dari teman pesantren dekat rumah, tapi ada juga para gank kampung, maklum aku dulu anak yang paling nakal di desaku, bagiku sebenarnya kenakalan remaja, tapi bagi orang lain kenakalanku melampaui batas.

Aku ingat bersama teman-temanku mencuri semangka berkarung-karung, dan penjaganya ku ikat dengan tambang. Ku ingat menguras empang ikan orang yang ada di depan rumah orang sementara yang punya rumah ku pantek semua pintunya hingga tak bisa keluar. Dulu orang mending ngasih upeti kepadaku, daripada dihabiskan anak buahku. Siapa sih cewek cantik di desaku dan desa-desa tetanggaku yang tak pernah ku pacari?, yah itulah masa lalu, tapi apa yang telah terjadi di masa lalu memang tak bisa hilang dan akan tetap bagian dari lembaran hidup kita.

Habis sholat magrib teman-temanku sudah pada pulang, ibuku memanggil aku pun segera memenuhi panggilannya,
“Ada apa bu?” ketika sampai di dekat ibuku yang memasukkan buah-buahan ke tas plastik.

“Ayo antarkan ibu ke rumah paman Mursid.”

“Kenapa dengan paman Mursid Bu?”

“Paman Mursid sakit, sudah tiga bulan makannya lewat jarum infus, dokter udah tak sanggup, makanya dua hari yang lalu dibawa pulang.” aku cuma manggut-manggut dan mengerutkan kening. Aku segera menuju motor Jupiter, sebelumnya mengambil kunci kontak yang tergantung di balik pintu kamarku.

Setelah menyalakan motor untuk memanaskan mesinnya aku kembali ke tempat ibuku duduk.

“Sakitnya sebenarnya sakit apa to bu?”

“Awalnya ya tak tau lah nang.” panggilan nang adalah panggilan orang Tuban kepada anak lelakinya, kalau masih kecil dipanggil cong, kalau sudah gede dipanggil nang.

“Paman Mursidmu itu ditemukan pingsan di pematang sawah dekat dam ratan. Sejak itu ditemukan ya sampai sekarang ini tak pernah sadar, kasihan pamanmu juga istrinya bibi Asiah, dia sudah kemana aja untuk mencarikan obat suaminya tapi tak mendapatkan hasil apa-apa.”

“Apa dulu waktu ditemukan tak ada tanda gigitan ular, bekne digigit ular.” tanyaku heran.

“Tak ada, tak ada tanda sakit apa-apa itulah yang aneh.”

“Trus menurut pemeriksaan dokter sakit apa bu?”

“Ah banyak kalau menurut dokter, ada komplikasi, ah pokoknya banyak gitu sisi gak mudeng aku, mungkin juga karangan dokter, nyatanya pamanmu tak sembuh.”

“Kalau dukun gimana?”

“Udah banyak dukun didatangkan, saratnya aneh-aneh, tapi semua percuma tak ada faedahnya, malah membuang buang uang saja.”

“Trus paman Muhsin udah nyoba? Kyai Kyai udah dimintai sareat?”

“Udah semua, paman Muhsin juga tak sanggup,”

“Wah kalau gitu ya berat” kataku mengakhiri pertanyaan.

Ku bonceng ibuku menuju rumah paman Mursid, pelan-pelan aku jalankan motor, melewati jalanan paping blok, di dunia ini yang paling ku sayangi dan ku hormati adalah ibuku, bukan hanya karena hadis Nabi mengatakan derajat ibu lebih mulia daripada ayah. Tapi karena ibu adalah orang yang sayang dan paling pengertian kepadaku, dulu saat aku masih nakal-nakalnya ibuku tak pernah menyalahkanku, tak pernah melarangku, malah kalau aku mau pergi nonton konser musik, ibukulah yang memasangkan anting di telingaku, yang menyisirkan rambut panjangku, soal cewek ibu selalu memesanku, punya cewek banyak tak masalah, karena memang aku dulu punya pacar tak pernah kurang dari sepuluh, tapi kata ibuku, jangan mencemarkan nama orang tua, jangan sampai kau menghamili wanita, yang bukan istrimu, ibumu juga wanita.

Ah ibu memang bijaksana.

Sampailah motorku di depan rumah paman Mursid.
Setelah mengucap salam, kami segera masuk, nampak di dalam juga banyak orang, dengan para lelaki aku segera bersalaman, ternyata juga banyak tukang suwuk (mungkin di tempat lain disebut dukun, tapi di daerahku disebut tukang suwuk, red.) ada kang Nur. Aku sebenarnya lebih mengenal orang ini adalah pelatih pencak silat, aku ingat waktu kecil orang ini suka menunjukkan ketrampilannya, berjalan di atas pedang, bergulingan di atas duri salak, makan pecahan kaca dan melengkungkan besi menggunakan lehernya, di saat keramaian tujubelasan Agustus.
Lalu yang ku salami yang kedua adalah kang Widji, orang ini sering dimintai oleh pemuda desa ilmu-ilmu pukulan, seperti lebur sekti, lembu sekilan dan lain-lain. Yang ku salami ketiga adalah pamanku, adik sepupu dari ayahku, namanya Muhsin, dia terkenal di daerahku sebagai orang yang menyembuhkan penyakit karena kerasukan jin, kesurupan, serta suka memagar rumah, mengambil wesi aji, yang lain adalah orang biasa. Aku juga menyalami Muhamad anak terbesar dari pamanku Mursid. Setelah menyalami aku pun mencari tempat duduk yang nyaman. Memang setelah melihat keadaan paman Mursid, sungguh orang siapa saja melihat pasti akan kasihan karena memang keadaannya sangat memprihatinkan.
Wajahnya kelihatan tua, padahal umurnya tak lebih dari limapuluh tahun tapi wajah paman Mursid seperti ketarik ke dalam, pipinya seperti masuk ke dalam, rongga matanya juga menjorok ke dalam, sampai seperti kubangan hitam, lehernya mengecil, seakan-akan mengkeret. Semua tulang iganya menonjok keluar, kulihat wajah paman Mursid seperti menahan penderitaan yang tak tertahan. Karena tubuh paman Mursid tak berbaju mungkin syarat dari dukun, karena banyak kembang aneka warna di sekitar tubuhnya, jadi aku bisa melihat perutnya. Oh ada gumpalan dalam perut sebesar kepalan tangan, aku tak berani bertanya, apa itu?
Tiba-tiba tubuh paman Mursid mengejang-ngejang, semua orang ribut, bibi Asiah menangis karena melihat suaminya seperti merasa sakit yang amat dasyat, para tukang suwuk pun berupaya menolong dengan segala daya, ada yang mengeluarkan jurus, ada yang meniup-niup, ada yang menyiprat-nyipratkan air, suasana tegang sekali, dan aku tetap duduk di kursi, melihat dari jauh, oh nampak olehku gumpalan di perut paman Mursid hidup dan bergerak kesana kemari, paman Mursid melenguh-lenguh kakinya menjejak-jejak tapi tubuhnya tetap di tempat. Ah ngeri aku. Namun usaha para tukang suwuk ini sama sekali tak ada manfaatnya.

Bibi Asiah menangis menggerung-nggerung melihat keadaan suaminya, juga Muhamad anak tertua paman Mursid juga menangis di sebelah kiri paman Mursid. Tiba -tiba bibi Asiah menghampiriku, dan mencengkeram lenganku,

“Dek Ian, ayolah bantu dek Ian huhuu… jangan melihat saja… siapa tau kesembuhannya dititipkan kepada dek Ian…, huhu… dek Ian kan dari Banten pasti bisa mengobati…” aku kaget.

“Aku?” seperti orang bego menunjuk hidung dengan jari telunjukku sendiri.

“Aku tak bisa apa-apa, wong di Banten itu tak diajari apa-apa…” kataku jujur, tapi mana mau orang panik mendengar. Aku main tarik-tarikan dengan bibi Asiah. Tiba-tiba kudengar suara ibuku di dekatku, “Cobalah nang… Tak ada salahnya dicoba…” aku tak pernah membantah ibuku maka aku pun maju ke tempat paman Mursid ditidurkan, tubuhnya masih mengejang-ngejang.

Sungguh aku tak tau, harus berbuat apa? Pura-pura mencak-mencak, ah kayaknya kurang bijak, di tempat orang sakit.

Ku ingat-ingat aku sering melihat Kyai mengobati orang, ah salah satu cara aja yang kupakai, setidaknya ada yang kulakukan.

Andai tak berhasilpun, aku tak akan disalahkan, wong orang yang telah punya nama sebagai tukang suwuk aja, tak berhasil apalagi aku yang bekas bocah ndugal.

Tanpa ragu aku melangkah maju, duduk di samping kanan paman Mursid, sementara di sebelah kirinya paman Mursid adalah anaknya yang bernama Muhamad.

Aku segera duduk bersila, wirid yang selama ini kubaca, satu per satu kubaca tiga kali dengan menahan napas, segala cipta rasa kukerahkan, akal kukonsentrasikan, rasa getaran halus berpendaran mengalir dari pusarku ke arah tapak tanganku, kupikirkan keluar dari tapak tanganku masuk ke tubuh paman Mursid membelitnya, mengikatnya kemudian menarik keluar, kugenggam dalam tanganku, lalu kubuang. Buk…! Suara gedebukan dari tubuh Muhamad yang tadi ada di samping kiri paman Mursid, tempat aku membuang apa yang kuambil, aku tak menyangka akan berakibat seperti itu. sekarang pemuda itu terjengkang ke belakang, kemudian berdiri dan tertawa-tawa, suaranya berat menyeramkan,

“Hua haha..keluarga ini akan ku habiskan, huahaha.”

Aku tak memperdulikan Muhamad yang kerasukan dan diurusi oleh para tukang suwuk, termasuk pamanku Muhsin, ku salurkan energi lagi, menyalurkan energi? Ah lebih tepatnya aku menghayal seakan-akan menyalurkan energi, hayalan tingkat tinggi. Tubuh paman Mursid sudah tidak kejang-kejang, gumpalan di perutnya juga sudah tak ada, jangan dikira walau cuma ngayal menyalurkan energi, tapi huh keringatku sebesar kacang polong, luber sampai bajuku basah, tanganku yang kanan, ku arahkan ke atas dada berjarak sepuluh senti, tanpa menyentuh kulit, yang kiri kuarahkan ke kepala juga tanpa menyentuh kepala, terasa energi bergulung-gulung kearah kedua tanganku, perlahan tapi pasti, kedua mata paman Mursid terbuka, lalu melihatqu. “Oh dek Ian, terimakasih..” suaranya pelan tapi, efeknya semua orang yang ada di situ menangis, bibi Asiah memelukku erat sekali, menangis nggugak guguk, dia tumpahkan syukurnya yang tiada terkira, betapa selama ini ia pontang-panting mencari obat untuk menyembuhkan paman Mursid yang tak pernah sadar selama tiga bulan, bahkan dokter juga telah tak sanggup, eh tanpa kusentuh bisa begitu saja sembuh.

“Kenapa tak dari kemaren-kemaren dek Ian, dek Ian, sudah habis air mataku…” kata bik Asiah, masih menangis, dia melepaskan pelukannya, kemudian mencium pipi kiri kananku, lalu bersimpuh di tepi ranjang suaminya, memegang erat tangan suaminya yang lemah. Baru sekarang aku tau sebenarnya dalam tubuhku telah mengalir ilmu pengobatan yang aku tak tau bagaimana dan dari mana ilmu itu ada dalam diriku. Aku masih berfikir ketika tiba-tiba paman Muhsin menepuk pundakku,
“Itu bagaimana si Muhamad, semua orang kuwalahan!” ku lihat wajah pamanku itu kawatir.

Memang Muhamad yang sedang kerasukan benar-benar mengamuk, kursi meja pada patah, kang Wiji dan kang Nur yang ahli beladiri, serta dua pemuda dimentalkan begitu saja, kang Nur coba menerjang dengan menotok bagian-bagian tertentu dari tubuh Muhamad, tapi segala serangannya seperti mengenai batu, hingga jari-jarinya terasa nyeri.

Bahkan kakinya ketika menendang kena ditangkap Muhamad, dan dia diputar bagaikan gasing, lalu tubuhnya dilempar, untung kang Nur orangnya jago sehingga ketika menghantam tembok ia dahulukan punggungnya, dan ketika mental kembali dia berputar miring dan jatuh di tanah tangan dan kakinya menahan hempasan badannya. “Hua haha ilmu kroco macam itu dibanggakan di depanku.” kata Muhamad dengan suara dalam dan berat.

Kang Wiji pun tak mau kalah, dia maju menyerang dengan bogem yang telah dilambari aji lebur sekti, tangannya yang besar berotot menderu, tapi plep! Pergelangan tangannya dapat ditangkap Muhamad. Dan oleh Muhamad kepalan kang Wiji diadu dengan bogemnya . Dugh! Kang Wiji menjerit, jari-jarinya seperti patah semua, lalu tangan kang Wiji yang masih digenggaman Muhamad itu diangsurkan ke mulutnya yang terbuka menganga,

“Sudah mateng huahaha..” tangan kang Wiji digigit, aku sudah sampai disitu “Hentikan!!” bentakku tak sadar. Muhamad kaget, tangan kang Wiji dilepaskan, yang segera dipeganginya dan wajahnya meringis-ringis, sementara Muhamad melihatku, dia mundur-mundur. Takut, aku beranjak maju, dan Muhammad mundur-mundur. Untung saja aku mempunyai daya hayal yang tinggi karena setelah ku pelajari, ilmu dalam tubuhku ini perlu dibangkitkan dengan memerlukan daya hayal yang tinggi, melihat Muhamad yang kerasukan mundur-mundur takut padaku, bertambahlah keberanianku, tanganku terangkat dengan jari telunjuk membuat coretan-coretan di udara kearah tubuh Muhamad, setelah itu tapak tanganku terbuka, kubayangkan aku menyedot jin yang ada di dalam tubuh Muhamad, dengan menggunakan telapak tanganku, hasilnya, tubuh Muhamad lemas menggelosor ke bawah, pertanda jin telah keluar.

Saat yang menegangkan telah berlalu, Bibi Asiah tak menangis lagi, dan Muhamad juga telah sadar, sementara tak hentinya orang-orang memberikan ucapan selamat atas keberhasilanku mengobati. Para tukang suwuk memuji-muji ilmu yang ku miliki.

“Mas Ian, benar-benar luar biasa, belum pernah saya melihat ilmu sehebat itu, mengeluarkan jin dari seseorang tanpa jurus-jurus.” kata kang Nur.

“Ah jangan dilebih-lebihkan, biasa saja.” jawabku yang memang belum tau pasti akan ilmu dalam tubuhku.

“Benar sampean kang Nur.” tandas paman Muhsin,

“Aku saja kalau mengeluarkan jin harus pakai sarat atau jurus tertentu, setidaknya harus pakai bacaan Ayat tertentu dari Alquran.” kang Nur dan kang Wiji manggut-manggut. Kang wiji nampak memegangi tangannya yang biru lebam.

“Kenapa kang tangannya?”

“Ini mas tadi, beradu jotos dengan Muhamad yang kerasukan.” jawab kang Wiji meringis menahan sakit.

“Coba lihat.” tangan kang Wiji yang lebam segera diangsurkan kepadaku.

“Saya akan coba obati, kalau sembuh ya syukur, kalau tak sembuh ya sabar.” kataku, karena sekalian mau mencoba ilmu yang ada di dalam tubuhku.

Kusuruh kang Wiji meletakkan tangannya yang lebam membiru di atas tapak tangan kiriku yang terbuka, lalu tapak tangan kananku ku taruh di atas tangan kang Wiji, berjarak sepuluh sentian, kubayangkan tenaga mengalir dari pusarku hangat bergulung berkumpul di tapak tanganku, menyerbu masuk ke tangan kang Wiji mengangkut segala sakit derita, nyeri terangkat seperti udara hitam berkumpul terangkat dan ku tangkap di tapak tanganku, kemudian kubuang.

“Sudah..!” kataku, sambil melepaskan penahanan napasku, semua mata yang memandang pun ikut bernapas lega, yang saat aku mengobati kang Wiji semua menatap tegang.

“Bagaimana kang rasanya?” tanyaku yang tak yakin akan ilmuku sendiri.

Kang wiji menggenggam lalu membentangkan jarinya, dilakukan berulang-ulang, “Sudah enak, tak sakit lagi.” katanya girang.

“Ah yang benar kang?” kata kang Nur tak percaya.

“Tadi apa yang kau rasakan, saat diobati?”

“Seperti banyak semut yang masuk ke dalam tubuhku, lalu seperti ada yang terbetot keluar dari tanganku, wah, makasih banyak mas Febri…!” kata kang Wiji haru.

Malam itu aku benar-benar tak habis-habisnya dipuji.

Besoknya jadi pembicaraan di setiap mulut, sekaligus menambah keyakinanku akan ilmu pengobatan dari Kyai. Dan di malam aku mengobati itu, dalam tidurku tiba-tiba aku mendengar ledakan teramat keras membahana. Aku kaget dan terbangun. Betapa terkejutku, karena kamarku penuh asap. Dan ternit kamarku jebol. Yang lebih menakutkanku apa yang ku lihat. Ku lihat tubuh yang teramat besar dalam kamarku, aku beringsut mundur, melihat penampakan yang memiriskan hati, tubuh yang tinggi besar sampai kepalanya tembus ke internitku, padahal ternit dalam kamarku tingginya empat meter dari tanah.

“Kau siapa?” tanyaku gemetar.

“Ampun tuan, mohon saya dilepaskan dari belenggu ini tuan..!” kata suara mahluk besar itu memelas, mengiba-iba. Baru kuperhatikan tubuh mahluk besar itu terbelit-belit rantai yang hampir membungkus tubuhnya.

“Hei, siapa yang membelenggumu?” tanyaku keheranan.

“Oh kenapa tuan lupa? Bukankah tuan yang membelengguku? Huhu…, tolong tuan lepaskan saya, ampuni saya tuan, huhu…” kata mahluk itu menangis.

“Hus..,cengeng, masak begitu saja nangis…” aku mulai berani.

“Tapi tuan, kalau belenggu ini tak dilepas, saya akan sengsara seumur-umur, huhu…, bagaimana kalau saya makan, bagaimana saya buang air besar, huhu…, bagaimana aku pipis? Tak ada yang memegangi, pasti kencingnya kemana-mana, huhu…”

“Nanti dulu, nanti dulu.., aku mau melepaskanmu, tapi kau tunjukkan dulu asalmu dan kenapa sampai di tubuh paman Mursid, awas jangan bohong!!, udah jangan nangis…! Jadi jin cengeng amat sih…” kataku agak jengkel juga karena jin itu nangis hahahuhu.

“Tuan, aku ini adalah jin penghuni Telogo Wungu, daerah Pati, aku sampai di tubuh Mursid karena aku dikirim orang.”

“Dikirim lewat pos? atau paket kilat?”

“Ya enggak lah, masak jin dikirim lewat pos hu..hu..hu..” lalu jin itu menceritakan tentang siapa yang mengirimkan dan karena masalah apa. Aku pun melepaskan rantai yang membelit tubuh jin, dengan menjulurkan tanganku, dan bilang “lepas!”, maka rantai yang membelenggu jin itu pun hilang, entah kemana.

Setelah belenggunya tak ada, tiba-tiba jin itu menggelosor bersimpuh di depanku, aku kaget tapi ingin ketawa juga, karena melihat ukuran jin itu duduk aku masih sepinggangnya kalau berdiri, yang membuat aku pengen ketawa karena wajahnya yang tak menyeramkan dan lucu. Mata jin itu bulat besar, mengerjap-erjap, kepalanya gundul, tapi bekas cukurannya kurang bersih, hidungnya mbengol, dan bibirnya tebal sekali, seperti bibir keledai.

“Hei kenapa kau belum pergi?” tanyaku heran.

“Apakah tuan tak ingin menjadikanku pelayan?”

“Ah pelayan apa? Aku tak biasa dilayani, aku biasa nyuci baju sendiri,”

“Bukan itu maksudku tuan, tapi kalau tuan mau aku bisa mengambilkan nasi gandul dari Pati, enak lo tuan.”

“Ah apa enaknya nasi gandul tak usah promosi, lagian aku tak punya kerjaan tetap, tak kan sanggup membayarmu, udah sana pergi!”

“Baiklah tuan, kalau begitu aku mohon diri.”

“Eh tunggu dulu, betulkan dulu ternitku yang kau jebolkan.”

“Baik tuan.” lalu jin itu menjentikkan tangan dan ternitku kembali seperti semula.

Begitulah, setelah kejadian aku menyembuhkan paman Mursid, aku makin dikenal dan tiap hari ada saja yang datang dari anak yang rewel, orang sakit gigi, sakit kepala, penyakit dalam, penyakit luar, semua datang minta diobati, juga aku sering diajak lek Muhsin untuk menolong orang yang kerasukan jin. Namun aku sudah janji kepada Kyai bahwa aku hanya di rumah dua bulan, aku sudah kangen pada Kyai dan kedamaian pondok lereng gunung Putri. Apalagi setelah mengalami suatu kejadian yang membuatku amat merasa betapa masih dangkalnya ilmu yang kumiliki.

“Yan…!” suara lek Muhsin memanggilku, ketika ku utak atik internet, melihat pesan di emailku.

“Ada apa lek?”

“Nanti sore temani aku ke Kalitidu Bojonegoro ya?”

“Mau apa lek ? Mau nyambangi saudara apa?”

“Ah, biasa ada orang minta tolong, keluarganya ada yang kesurupan.” aku mantuk aja. Dan selepas Ashar, aku dan lek Muhsin pun pergi ke Bojonegoro.

Perjalanan ke Kalitidu dari rumahku hanya memakan waktu dua jam setengah, yaitu dari rumahku, naik angkot, kemudian ganti bus jurusan ke Bojonegoro, trus naik mobil ke Kalitidu, ini kalau lewat utara, sebenarnya melewati selatan lebih dekat, yaitu dari rumahku ke Cepu, Bato’an lalu nyebrang, sampai deh, cuma akan makan waktu lebih lama, karena dari rumahku ke Cepu jarang ada kendaraan, mungkin seharian menunggu belum tentu ada kendaraan.

Bersambung.
Wa 085214060632

(kisah nyata) Kisah Sang Kyai Guru

Jadi untuk lebih gampangnya harus lewat Bojonegoro, walau jalannya muter, tapi kendaraan selalu ada. Sampai di rumah yang kami tuju, hari sudah sore tapi matahari masih enggan ke peraduan, suasana amat sepi, kami mengucap salam, berulang kali, baru muncul seorang lelaki setengah tua. Peci kain bundar bermotif kotak-kotak kain sarung ada bertengger di kepalanya. Wajah lelaki itu sedikit murung. Namun ketika berhadapan dengan lek Muhsin dia langsung tersenyum.

“Oh lek Muhsin, mari-mari, silahkan dienak-enakkan dulu.” setelah menerima kami berdua dengan ramah maka lelaki itu pergi ke dalam, menyuruh istrinya mengambilkan minuman dan makanan ala kadarnya.

Setelah itu kedua suami istri itu pun mengobrol dengan kami, saat berkenalan denganku lelaki itu bernama pak Soleh. Dan istrinya bernama Hamidah, karena istrinya adalah orang sedesaku maka mengenal lek Muhsin, kemudian tau lek Muhsin biasa menyembuhkan orang yang kerasukan jin, jadi lek Muhsin dipanggil.

“Awal-awalnya gimana to di, kok si Marjuki itu bisa berpenyakit seperti itu?” pak Soleh pun bercerita:
“Benar Ki kamu mau mesantren?” tanya pak Soleh suatu malam kepada Marjuki yang sedang makan.
“Bener pak’e, aku sudah jenuh di rumah terus, tak ada perkembangan.” jawab Marjuki sambil mengunyah nasi di mulutnya.

“Mondok itu berat lho, kalau kamu mbangkong di rumah bapakmu ini tak ngapa-ngapain kamu, tapi kalau kamu mbangkong tak mau subuhan, bisa dipecuti sama Kyainya, kalau kamu melanggar peraturan pondok kamu akan diberi hukuman, apa kamu siap? Tirakat di pondok?”
“Pokoknya aku siap pak’e.”
“Lalu kamu mau mesantren di mana?”
“Bagaimana kalau di Tegalrejo, Magelang, pak’e?”
“Di mana saja tak masalah kalau memang kamu siap.”

Marjuki adalah anak tunggalnya pak Soleh, sifatnya ceria dan rajin bekerja, kadang membantu orang tuanya di sawah, kadang juga bekerja di tempat orang lain, pekerjaan apa saja, Marjuki siap melakukan asalkan halal, umur Marjuki telah menginjak sembilan belas tahun. Akhir-akhir ini Marjuki merasa kesepian, sebab teman-temannya yang selama ini menemaninya nyangkruk telah pergi semua, mencari pengalaman hidup, ada yang mesantren ada juga yang pergi merantau ke Jakarta, ada yang ke Malaysia, bahkan ada yang ke Saudi Arabia, Marjuki bingung mau kemana. Tapi setelah berpikir, maka Marjuki memutuskan mesantren saja, maka dia pun bercerita pada ibunya supaya keinginannya disampaikan pada ayahnya. Dan terjadilah dialog malam itu, sekarang dia telah pergi ke Magelang.

Setahun di pesantren, Marjuki pulang keadaannya telah berubah, dulu dia periang dan giat bekerja, kini sering kelihatan diam dan amat malas, bahkan dia suka pergi menyepi di kuburan-kuburan, dan melakukan puasa yang aneh-aneh, bahkan kamarnya dicat warna hitam. Pak soleh melihat hal yang seperti itu, mau menegur, tapi takut Marjuki marah, tak jarang karena kesalahan sedikit saja, Marjuki marah membanting piring.

Ternyata Marjuki telah terseret mempelajari ilmu sesat, yang berhubungan dengan Nyai Roro Kidul.
Telah beberapa hari, Marjuki tak keluar kamar, tidak makan, tidak melakukan aktifitas apa-apa, dari dalam kamarnya bau menyan jawa. Tiap malam menyengat hidung, ibunya sangat kawatir, maka setelah ada lima harian di kamar ibunya mengetuk pintu, memintanya untuk makan karena takut terjadi apa-apa yang menimpa anak semata wayangnya. Setelah lama mengetuk, terdengarlah lenguhan dari kamar, dan pintu terbuka. Terkejutlah perempuan itu, melihat Marjuki yang tak seperti anaknya.

Mata Marjuki semerah darah, di lingkar matanya warna hitam angker, hidungnya mendengus-ndengus, dari mulutnya keluar air liur yang membanjir.

“Hmmm, siapa kau perempuan tua? Mengganggu saja.” suara Marjuki, berat mendirikan bulu roma. Sangar!
“Nak ayo makan, nanti kamu sakit…” suara ibu Marjuki, di antara rasa takut melihat keadaan anaknya.
“Jebleng, jebleng… apa sudah kau sediakan darah ayam dan darah kambing?”
“Udah ibu masakkan sambal terong kesukaanmu.”
“Sialan, memang aku apa? Di masakkan suambel terong mati saja kau…” tiba-tiba tangan Marjuki bergerak cepat menyambar leher ibunya dan mencekiknya. Untung ibunya masih sempat teriak, sehingga teriakan itu didengar pak Soleh yang sedang membersihkan rumput di depan rumah, yang segera berhambur ke dalam rumah, melihat istrinya dicekik anaknya, sampai kelihatan matanya mau keluar, maka pak Soleh segera memukul tangan anaknya itu sehingga cekikan lepas. Melihat ada yang memukul tangannya Marjuki pun mengalihkan serangan ke leher pak Soleh, dengan mudahnya dia menangkap leher pak Soleh dan mencekiknya, tubuh pak Soleh sampai terangkat dari tanah. Dia mencoba melepaskan dengan segala daya, tapi tangan Marjuki yang kerasukan itu teramat kuat sehingga pak Soleh hanya menendang-nendangkan kakinya, nyawanya benar-benar telah di ujung tanduk, sementara istrinya yang tadi dilepas oleh Marjuki, ngos-ngosan di tanah, melihat suaminya dalam keadaan sekarat, segera mengambil kursi kayu, dan mengemplangkan ke kepala Marjuki sekuatnya. Sampai kursi kayu patah-patah. Dan untung cekikannya dilepaskan, sehingga pak Soleh pun menggelosor jatuh di tanah. Aneh, Marjuki sama sekali tidak berdarah, malah tertawa bergelak-gelak, lalu mengamuk menghantam meja kursi sampai semuanya hancur. Lalu dia berlari keluar rumah mengamuk di jalan, segera gemparlah semua tetangga, orang yang lewat segera lari ketakutan, lalu Marjuki meloncat ke atas genteng. Melempar-lemparkan genteng pada orang yang lewat di jalan. Ibu Marjuki menangis melihat keadaan anaknya seperti itu.

Para orang pintar telah didatangkan untuk membujuk Marjuki turun dari genteng, tapi malah disambitin pake genteng, dia hanya mau turun kalau diberi minum darah ayam dan kambing. Sudah dua hari Marjuki ada di atas genteng, dia mau turun kalau ada darah ayam dan kambing disediakan, dan setelah minum darah itu maka dia meloncat lagi ke atas rumah, dan menyambitin orang yang lewat. Kelakuan Marjuki yang menyambiti orang yang lewat dengan genteng rumahnya ini benar-benar membuat panas hati, maka para pemuda kampung pun bermusyawarah untuk menangkap Marjuki, dan nantinya akan dipasung, setelah dipancing dengan darah, Marjuki pun turun, ketika sedang menikmati darah yang dikasih obat bius itu, para pemuda pun bergerak meringkusnya, yang mau meringkusnya dari belakang ada tiga orang itu kecele, walau Marjuki tak melihat kebelakang, tapi dengan mudahnya dia menjatuhkan diri dan berguling sehingga yang menubruknya dari belakang hanya menangkap angin.

Pemuda dan orang desa pun melakukan pengepungan, dari kiri kanan, depan belakang, dengan susah payah tujuh orang dapat memegang tangan kaki, namun semua dapat disentak lepas, dan banyak yang terpental dilemparkan oleh Marjuki yang kerasukan, yang memang tenaganya berlipat-lipat, kembali tujuh orang berusaha mendekap memiting kaki tangan Marjuki, namun kali ini para penduduk tak mau usaha mereka sia-sia, maka segera berbagai macam tambang dijeratkan ke tubuh Marjuki. Rupanya saat itu obat bius yang dicampurkan darah pun mulai bekerja. Kelihatan sebentar-sebentar, Marjuki melengut ngantuk siut, lalu meronta lagi, begitu berulang kali, dan orang-orang tak mau kecolongan tetap mendekapnya erat, sampai akhirnya Marjuki terbius. Perjuangan yang melelahkan, Marjuki kelihatan tergolek di pelataran rumah pak Soleh, semua orang yang meringkusnya semua mandi keringat, bahkan ada yang luka berdarah dan salah urat. Orang-orang yang tidak ikut meringkus Marjuki, telah membuatkan pasung dari kayu sebesar sedekapan manusia, Marjuki pun dipasung. Tangannya masih dirantai, para dukun paranormal didatangkan, para Kyai dimintai tolong, untuk membantu penyembuhan, sawah lima petak pun telah terjual sebagai biaya pengobatan, tapi kesembuhan tak kunjung datang. Sampai hampir setahun Marjuki dipasung. Tapi penyakit gilanya makin parah saja.

Kami berdua diajak melihat keadaan Marjuki, ternyata pemuda itu diletakkan di ruangan terpisah di belakang rumah dalam satu ruangan.

Bersambung.
Wa 085214060632
Menunggu lanjutannya.....
TS nya ilang nih...😱
Nyimak mbah. Masih mondok apa dh lulus kang?
ini kisah kyai nur?
👣👀😉👀👣