alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad3a96ddbd770ed608b4567/sohibul-iman-pks-ajak-umat-tak-pilih-pemimpin-mitos

Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos

Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos



TEMPO.COJakarta - Presiden Partai Keadilan Sejahtera atau PKS Sohibul Iman mengatakan kesadaran politik umat dan bangsa Indonesia sudah meningkat. Sohibul menuturkan umat yang memiliki kesadaran politik yang baik memilih pemimpin historis, bukan pemimpin mitos.

"Pemimpin mitos adalah pemimpin yang dia besar karena dibesar-besarkan, bagus karena dibagus-baguskan, dicitrakan, dia di-planning menjadi sosok pemimpin yang luar biasa," katanya dalam sambutan rangkaian milad ke-20 PKS di Balai Kota DKI Jakarta, Ahad, 15 April 2018.

Sedangkan pemimpin historis, menurut Sohibul, adalah yang memang besar karena lahir dari denyut perjuangan bersama masyarakat.



"Pemimpin seperti ini tidak perlu dibesar-besarkan karena dirinya memang sudah besar," ujarnya.

Hal tersebut Sohibul sampaikan kepada ratusan kader PKS yang mengikuti senam dan jalan santai di Balai Kota DKI Jakarta. Acara di Balai Kota DKI itu untuk menyambut ulang tahun PKS ke-20, yang jatuh pada 20 April 2018. Adapun puncak peringatannya pada 13 Mei 2018.

Sohibul berharap cara berpolitik yang rasional dan mengedepankan fatsun-fatsun politik modern ini dapat terus berjalan lebih baik.

Menurut Sohibul,  umat tidak cukup hanya kembali kepada kesalehan ritual, rajin ke masjid, dan tamasya umrah. Sohibul menambahkan, umat perlu menumbuhkan kesalehan sosial dan kesalehan politik.


Sohibul Iman mengatakan umat yang sebelumnya rajin beribadah, tapi begitu di tempat pemungutan suara, pilihannya tidak mempertimbangkan masalah itu. "Saya yakin mereka sekarang sudah punya kesadaran politik yang lebih baik," ucapnya.
Reporter: 
Muhammad Hendartyo


Editor: 
Juli Hantoro

Minggu, 15 April 2018 15:55 WIB

indonesia bubar 2030 MITOS ATAU FAKTA??
Diubah oleh: wbshock
Halaman 1 dari 2
Lebih baik pilih kader partai Allah seperti ini aja




Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos

Diubah oleh nasbungdiehard
ngemeng epeh??
trus kampanye model gimana yang gak pake acara dibesar besarkan atawa dibagus bagus kan?
Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos
Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos

#let's talk with nasbung language
pemimpin mitos => yang dalam delusi fiksinya adalah pemimpin yang digembar gemborkan kan jadi penyelamat bangsa dari kebubaran..

pemimpin historis => pemimpin yang sudah tercatat pernah memimpin..

Pemimpin Mitos
Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos


emoticon-Sorry
Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos
Pemimpin FIKSI
Quote:


Fix jgn pilih yg di beri gelar katanya cahaya asia, mitos!! emoticon-Angkat Beer
politik agama bnr2 ngerusak, kriteria pilih pemimpin tu sekarang yg penting terlihat islami pasti bakal dipilih.

kayak kasus di daerah gw cagub cewe sudah pergi haji 3 kali dan terbukti bagus kalah sama cagub mantan bandar togel dan doyan zina gara2 pendukung nya kampanye bahwa di kitab ada larangan memilih pemimpin perempuan. ironis bgt asli
manusia yg aslinya pecundang total dlm hidupnya tp dicitrakan tegas & berprestasi. mana perutnya bergelambir pulak
cuma mitos emoticon-Big Grin
Quote:


emoticon-Shakehand2
Loyalis yang Disingkirkan
Benny Moerdani disebut sukses melindungi Presiden Soeharto hingga menjelang akhir kekuasaannya. Terpental karena ketersinggungan sang presiden.
hendi.j97
9 Mar 2018, 06:02

Loyalis yang Disingkirkan
Benny Moerdani saat mendapat bintang penghargaan dari Presiden Soeharto. Sumber: Menyaksikan 30 Tahun Pemerintah Otoriter Soeharto karya Salim Haji Said
RIA Moerdani tak pernah melupakan kejadian itu. Suatu hari, di jalanan Jakarta ia menemukan selebaran dan surat kaleng yang isinya mendiskreditkan Leonardus Benyamin Moerdani (akrab dipanggil Benny Moerdani). Segera ia membawa selebaran-selebaran itu ke rumahnya. Maksud hati ingin memberitahu sang ayah, namun sampai di rumah Ria justru mendapatkan Benny tengah membaca selebaran-selebaran yang sama.

Seperti disampaikan kepada penulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan, Ria menyatakan rasa khawatirnya terhadap isi selebaran-selebaran tersebut. Namun sejak awal sang ayah memang kerap mengingatkan dia dan ibunya untuk selalu siap menghadapi kenyataan terburuk.

“…Pekerjaan saya ini banyak resikonya, jadi kamu sama Mama harus selalu bersiap-siap…” ungkap jenderal kelahiran Surakarta itu.

Penjaga Soeharto

Kala diwawancara oleh jurnalis Far Eastern Economic Review David Jenkins, Benny mengaku hubungannya dengan Soeharto layaknya hubungan antara anak dan ayah. Sang jenderal sendiri mengenal Soeharto secara akrab saat mereka berdua terlibat dalam Operasi Trikora dan Operasi Naga, dua aksi militer Indonesia untuk menguasai Irian Barat pada awal 1960-an.

Kepada Historia, pengamat militer Salim Haji Said menyebut sejak awal Benny sudah “cocok” dengan Soeharto, begitu juga sebaliknya. Ketika Soeharto sudah menjadi presiden, sementara Benny menjadi intel di Kuala Lumpur dan kemudian Seoul. Namun setiap sang presiden melawat ke luar negeri, Benny selalu didatangkan secara khusus untuk menjaga keselamatan Soeharto.

“Artinya Soeharto sudah lama percaya kepada Benny dan mengakui keandalannya sebagai security officer…” ujar Said.

Hal senada juga diungkapkan oleh kolega dekat Benny yakni Marsekal Muda TNI (Purn) Teddy Rusdy. Menurut anak buah Benny semasa di badan intelijen tersebut, loyalitas atasannya itu kepada Soeharto tak perlu diragukan lagi. Begitu loyalnya, hingga hal-hal terburuk tentang Soeharto dan keluarganya yang mengancam masa depan pemerintahannya pun selalu dia sampaikan kepada sang presiden sendiri.

“Dia itu seorang loyalis beneran, tidak pernah dia melaporkan sesuatu hal yang sifatnya ABS (Asal Bapak Senang) saja kepada Pak Harto,” ujar Teddy Rusdy.

Pamor Benny sebagai penjaga setia Soeharto itu memunculkan ketidaksenangan di sebagian pihak yang merupakan lingkaran terdekat dari Soeharto. Sebagai contoh, pada saat Benny akan diangkat sebagai Panglima ABRI, muncul selentingan isu yang menyebut dia akan melakukan kudeta terhadap Soeharto.

Isu yang bertiup kencang tersebut sempat membuat menantu Soeharto yakni Kapten Prabowo Soebianto nyaris melakukan gerakan. Menurut Sintong Panjaitan dalam Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando karya jurnalis Hendro Subroto, Prabowo bahkan sempat mendatangi Mayor Luhut Panjaitan untuk mengajak atasannya tersebut menyelamatkan negara dari kudeta Letnan Jenderal L.B. Moerdani.

Teddy sendiri menyebut isu itu sebagai omong kosong. Ketika selentingan tersebut bertiup, Teddy mengaku langsung meminta pendapat kepada sejumlah jenderal seperti Try Soetrisno dan Eddi Soedradjat dan Brigadir Jenderal Jasmin selaku atasan Prabowo di Kopassandha (sekarang Kopassus). Mereka kompak menyatakan ketidakpercayaannya akan isu tersebut.


“Pernyataan Pak Benny Moerdani mau kudeta adalah fitnah tanpa fakta,” ujar Teddy dalam biografinya: 70 Tahun Teddy Rusdy: Think Ahead karya Servas Pandur.

Lalu apakah Presiden Soeharto sendiri mempercayai isu tersebut? Sejarah membuktikan Soeharto tetap mendapuk Benny sebagai Panglima ABRI menggantikan Jenderal M. Yusuf.

Disingkirkan

Pada Februari 1988, suhu politik Indonesia mulai menghangat. Berbagai kalangan menyebut nama Benny sebagai calon Wakil Presiden selain Sudharmono dan H.J. Naro. Kendati sempat mengencang, isu itu ditepis langsung oleh Benny. Alih-alih menyatakan keinginannya untuk menjadi Wakil Presiden, ia justru memberi jalan kepada koleganya Try Soetrisno dengan “mengorbankan” jabatannya sebagai Panglima ABRI.

“…Kalau saya masih menjadi Ketua “Partai ABRI”. Tetapi sejak dua jam lalu, ketua partai sudah bukan di tangan saya lagi, melainkan Try…” ungkap Benny dalam biografinya. Nyatanya harapan Benny kandas. Soeharto justru “memilih” Sudharmono sebagai pendampingnya hingga 1993.

Meski Try tidak terpilih, Benny tetap duduk di Kabinet Pembangunan V sebagai Menteri Pertahanan. Walaupun demikian, upaya Benny untuk memuluskan jalan Try ke posisi Wakil Presiden dengan berbagai manuver politik membuat sikap Soeharto berubah. Dia mulai “mencurigai” Benny.

Puncaknya terjadi ketika anak-anak Soeharto beserta sebagian mantu-mantunya terlibat berbagai bisnis besar di Republik ini. Banyak kalangan yang gerah melihat situasi tersebut. Teddy masih ingat, saat menjadi Panglima ABRI, dia bersama Benny sempat membuat analisa bahwa kondisi itu akan menjadi faktor tidak menguntungkan secara politis bagi Presiden Soeharto.

Soal ini sempat disampaikan langsung oleh Benny kepada Soeharto. Alkisah suatu hari dia datang ke jalan Cendana lantas diajak bermain biliar oleh Soeharto. Di tengah permainan itulah secara hat-hati Benny menyampaikan kritiknya terhadap tingkah laku anak-anak dan mantu-mantu Soeharto yang dinilainya sudah “keluar jalur” dalam melakukan bisnis.

Menurut Julius Pour, Benny menyebut kondisi tersebut membahayakan bagi Soeharto. Namun secara tegas, dia menyatakan ABRI masih berada di belakang sang presiden. “Tapi saya tidak bisa menjamin mereka juga bakal mendukung putra-putri Bapak…” ujar Benny.

Usai Benny bicara, tetiba Soeharto meletakan tongkat biliar, lalu meninggalkan Benny begitu saja. Sang jenderal tadinya mengira, Soeharto pergi ke toilet. “Ternyata dia meninggalkan saya untuk tidur. Maka saya sadar dia marah atas kata-kata yang baru saja saya ucapkan…” demikian pengakuan Benny kepada penulis Julius Pour.

Sejak itulah, Soeharto seolah tak lagi membutuhkan Benny. Baginya, sedekat apapun hubungan Benny dengan dirinya, sang loyalis tersebut tidak berhak mengurusi urusan pribadinya, termasuk soal bisnis anak-anak dan para mantunya. Hal ini pula yang disampaikan Soeharto kepada Try Soetrisno saat suatu hari sang wapres menyampaikan keprihatinan para jenderal senior terhadap kegiatan bisnis putra-putrinya.

“Try, apakah ada aturannya atau undang-undang yang melarang anak pejabat berbisnis? Kalau ada, saya tidak mau jadi Presiden…” kata Soeharto seperti dilansir Salim Haji Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintah Otoriter Soeharto.

Karier Benny lambat laun tenggelam. Pada saat Presiden Soeharto melantik para menteri yang duduk di Kabinet Pembangunan VI, sosoknya tak lagi nampak.

http://historia.id/modern/articles/l...ngkirkan-DBK8G

Fix wowo suka delusional sendiri seperti kata Desi Anwarhttp://www.indonesiamedia.com/desi-a...-ikut-pilpres/
Diubah oleh x_tra
Hmmm?
Mitos? Fiksi?
Berarti GAK BOLEH pilih capres yang cuma ngomongin fiksi ya emoticon-Big Grin
pemimpin mitos

prestasi kagak ada tapi merasa pantas jadi pemimpin

mimpin rumah tangga GAGAL
mendidik anak GAGALemoticon-Betty
berkarir di TNI GAGAL alias dipecat
melindungi mertua GAGAL, harto lengser
kudeta saja GAGAL kabur ke yordan
bisnis GAGAL, pabriknya bangkrut karyawannya kagak gajian
mimpin koalisi GAGAL, kmp bubar
dua kali pilpres GAGAL

ini fakta, bukan mitos fiktif ato fiksi emoticon-Leh Uga
Bisa juga disebut pimpinan mitos karena banyak janji meleset.Sohibul Iman PKS Ajak Umat Tak Pilih Pemimpin Mitos
Apapun yang diomongkan orang, rakyat akan punya pilihan masing-masing. Kalau dianggap selama 5 tahun ini nantinya tidak bagus ya bakal terganti presidennya. Kalau dianggap bagus ya akan nambah 1 periode lagi. Gitu aja dibikin rame terus menerus
Mitos 2030 Indonesia bubar dipimpin Presiden partai Allah
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di