alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad35c4d14088de1188b456c/saling-silang-lulusan-sekolah-dengan-dunia-kerja

Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja

Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (kiri) disaksikan para peserta Diklat menaiki sepeda motor listrik rakitan siswa Diklat di BLK (Balai Latihan Kerja) Serang, Banten, Senin (2/4/2018).
Sekitar dua pekan lalu, Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri meminta kalangan pengusaha industri untuk menyerap teknisi lulusan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK).

Hanif berargumen, meski memiliki ijazah setara SMA atau SMK, anak-anak yang melalui pelatihan di BBPLK ini memiliki bekal praktik industri lebih banyak ketimbang mereka yang lulusan SMA biasa, bahkan Diploma 3 (D3) dari perguruan tinggi.

"Mereka ini anak-anak yang luar biasa. Jadi tidak kalah jika dibandingkan dengan yang lulusan politeknik selama tiga tahun. Nanti silakan diuji karena mereka ini sudah mengikuti uji kompetensi," tutur Hanif di Serang, Banten.

Permintaan Hanif bukan tanpa alasan. Anak-anak yang bermodalkan ijazah SMA dan sederajat memang lebih sulit mendapatkan akses pekerjaan (artikel data tentang tingkat pengangguran terbuka bisa ditengok pada tautan ini).

Sementara, tidak semua anak mampu melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi dengan beragam alasan.

Persoalan makin rumit bila serapan tenaga kerja umumnya lebih melirik mereka yang memiliki ijazah setingkat sarjana atau diploma untuk bekerja di perusahaannya. Tengok saja situs-situs penyedia lowongan pekerjaan, salah satunya Jobstreet.com.

Tim Lokadata Beritagar.id mencoba menengok tren kebutuhan penyedia lapangan pekerjaan diukur berdasarkan sektor industri beserta latar belakang pendidikan calon pelamar pada situs tersebut.

Hasilnya, mayoritas lowongan pekerjaan yang dipasang pada situs itu diperuntukkan pelamar dengan latar belakang pendidikan sarjana, pascasarjana, dan sekolah profesi seperti kedokteran dan farmasi dengan persentase mencapai 68,6 persen.

Sementara, jenjang pendidikan SMA sederajat dan diploma persentasenya masing-masing hanya mencapai 21,4 persen dan 10 persen.

Sebagai catatan, sejak berbentuk PT dan tersebar di beberapa kota di Indonesia, hingga 2015 JobStreet Indonesia telah memiliki 3,8 juta pengguna. Dominasinya oleh kalangan muda berusia 26-35 tahun, dengan jenjang pendidikan terbanyak adalah sarjana.
Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja
Lowongan pekerjaan menurut jenjang pendidikan dan lama pengalaman bekerja menurut situs pencari kerja, Jobstreet.com
Jika merujuk data di atas, persoalan mencari kerja ternyata tak hanya berhenti pada ijazah sarjana. Sebab, hanya 13,5 persen dari 16.610 lowongan pekerjaan yang tersedia di Jobstreet.com (diakses April 2018), mau menerima lulusan baru atau fresh graduate.

Sisanya, perusahaan-perusahaan itu menginginkan calon pelamarnya memiliki pengalaman bekerja sekurang-kurangnya selama satu tahun (29,6 persen).

Jika memang pengalaman kerja yang dicari, sebenarnya pola pendidikan vokasi seperti yang dipromosikan oleh Menteri Hanif di atas sejatinya bisa memenuhi.

Pelajar yang mengikuti pendidikan di BBPLK akan "ditempa" selama kurang lebih dua tahun untuk mengikuti praktik pelatihan keahlian tertentu, dengan harapan pada saat lulus, mereka sudah siap kerja.

Persoalannya, sistem pendidikan vokasi di Indonesia belum digarap dengan benar-benar serius oleh pemerintah.

Merujuk data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sejak tahun ajaran (TA) 2014/2015 hingga 2016/2017 angka lulusan SMK (swasta maupun negeri) sebenarnya tidak mengalami lonjakan drastis.

Pada TA 2014/2015 terdapat 1.270.054 lulusan, 2015/2016 sebanyak 1.426.870 lulusan, dan 2016/2017 turun lagi menjadi 1.285.178 lulusan (arsip PDF, hal 51).

Jumlah itu terbilang tak berbeda jauh dengan lulusan SMA pada TA 2014/2015 yang sebesar 1.419.890 lulusan, 2015/2016 sebanyak 1.473.600 lulusan, dan 2016/2017 dengan 1.263.211 lulusan (arsip PDF, hal 42).

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rusli Abdullah, menekankan bahwa sudah saatnya pemerintah memperbaiki kurikulum pendidikan menengah atas.

Jika perlu, pemerintah bisa mengurangi porsi pendidikan setingkat menengah atas (SMA) dan mengonversinya ke pendidikan berbasis kejuruan (SMK).

"Pemerintah harus mengoptimalkan SMK agar para lulusannya bisa terserap dan bisa menjadi wirausaha baru," sebut Rusli kepada Beritagar.id, Minggu (15/4/2018) malam.
Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja
Lowongan pekerjaan berdasarkan sektor industri dan latar belakang pendidikan
Selain persoalan tingkat pendidikan pelamar kerja, sektor yang dicari juga terus bergerak sesuai kebutuhan zaman. Kategorisasi sektor dalam data ini disesuaikan dengan kategorisasi yang berlaku di Kementerian Tenaga Kerja.

Dalam penyelisikan lewat Jobstreet.com per April 2018, kegiatan jasa menjadi yang paling banyak dicari. Sektor Kegiatan Jasa Lainnya meliputi perusahaan jasa alat berat, jasa keamanan (satpam), LSM, percetakan penerbitan, dan lain lain.

Informasi dan komunikasi--tak begitu mengejutkan--menjadi peringkat ketiga sektor paling dicari di bursa tenaga kerja. Di atasnya, ada industri pengolahan yang jadi favorit kedua. Sementara sektor pertambangan dan penggalian, masuk peringkat ketiga dari bawah. Hanya 2,3 persen peminatnya.

Artinya, konversi pendidikan berbasis kejuruan juga harus mencermati sektor pekerjaan yang masih berkembang dan diminati oleh bursa tenaga kerja. Memproduksi terlalu banyak tenaga administrasi pemerintahan, misalnya, tak banyak diminati belakangan ini.

Begitu pula pada pendidikan tinggi. Apakah jurusan yang selama ini dijadikan favorit, berkaitan langsung dengan sektor yang membutuhkan tenaga kerja? Coba tengok data peminat SBMPTN beberapa tahun belakangan ini.

Jurusan Teknik Informatika di berbagai universitas, memang jadi favorit, ditunjukkan dengan tingginya tingkat persaingan. Tren itu sejalan dengan kebutuhan dunia industri seperti yang tampak pada data lowongan di Jobstreet.com.

Namun tingginya minat di jurusan manajemen, akuntansi, dan komunikasi, tak menunjukkan relevansi yang sama dalam daftar bursa tenaga kerja tersebut.
Kredit pendidikan bukan solusi
Sesuai amanat Presiden Joko "Jokowi" Widodo, sejumlah bank pelat merah mulai meluncurkan kredit pendidikan (student loan) bagi pelajar yang ingin melanjutkan sekolah ke bangku perkuliahan.

Meski di beberapa negara maju student loan justru menjadi beban lantaran banyaknya kredit macet (non-performing loan), tapi cara ini diharapkan bisa mengurangi jumlah lulusan SMA sederajat yang menganggur.

Tapi, apakah dengan memberikan kredit pendidikan untuk pelajar dengan kategori ekonomi "pas-pasan" sudah tepat sasaran? Rusli tidak menganggapnya demikian.

Sebab secara prinsip, peluncuran kredit pendidikan sama saja dengan negara melepas tanggung jawab dalam menyediakan dan menyelenggarakan pendidikan di tingkat perguruan tinggi.

Di satu sisi Rusli juga melihat, kredit pendidikan perguruan tinggi di Indonesia tidak akan berbeda risikonya dengan yang terjadi di Amerika Serikat, yakni kredit macet. Studi yang dilakukan Brookings Institution menunjukkan, hingga 2017, sekitar 28-29 persen penerima kredit kuliah di AS mengalami gagal bayar.

"Dengan kondisi pengangguran terdidik yang masih tinggi di Indonesia, bukan tidak mungkin potensi gagal bayar juga tinggi," sebut Rusli.

Untuk itu, daripada membebani--tak hanya pribadi pelajar tapi juga keuangan negara--ada baiknya pemerintah mengubah pola "asuh" penyediaan pendidikan bagi pelajar Tanah Air, salah satunya, dengan pemberian beasiswa bermutu.

Pemerintah, menurut Rusli, bisa menambah porsi dana pun sumber pendanaan untuk dana abadi pendidikan yang selama ini disalurkan melalui penyelenggaraan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

"Batalkan kredit pendidikan untuk mahasiswa kuliah. Optimalkan beasiswa bidik misi, CSR pendidikan dari perusahaan swasta dan BUMN," tukas Rusli.
Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...an-dunia-kerja

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja Tiket 40 kereta tambahan Lebaran 2018 mulai dijual

- Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja Serangan AS dan babak baru konflik di Suriah

- Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja Masyarakat tak ingin calon tunggal di Pilpres 2019

Urutan Terlama
yang pinter dapet beasiswa
yang pas2an gimana gan? udah gitu kismin doi ?

gratis dong pak pendidikannya kalau perlu sampe kuliah

emoticon-Hammer2 emoticon-Hammer2 emoticon-Hammer2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di