alexa-tracking

Pengusaha Tak Khawatir dengan Ekspansi Grup Salim ke Bisnis Unggas

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad3297ee05227cd648b4567/pengusaha-tak-khawatir-dengan-ekspansi-grup-salim-ke-bisnis-unggas
Pengusaha Tak Khawatir dengan Ekspansi Grup Salim ke Bisnis Unggas
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk mengaku tak khawatir dengan masuknya perusahaan konglomerasi besar di industri perunggasan. Pasalnya, tidak mudah bagi perusahaan baru untuk mengambil pangsa pasar di sektor ini karena persaingan industrinya sudah cukup ketat dan perusahaan baru mesti mampu mengikuti arah kebijakan pemerintah.

Wakil Presiden Direktur Japfa Bambang Budi Hendarto menyatakan pembatasan impor bibit induk ayam (Grand Parent Stock/GPS) akan membuat industri baru sulit berkembang. “Mau dari mana anak ayamnya? Kalau tidak ada, mau dikasih ke siapa makanannya?” kata Bambang di Hotel Harris Jakarta, pekan lalu.

Dia mencontohkan perusahaan raksasa New Hope asal Tiongkok serta beberapa perusahaan baru yang mulai ekspansi di Indonesia. Ia menduga perusahaan kesulitan berkembang dan mengambil ceruk pasar di Indonesia karena keterbatasan pasokan anak ayam usia sehari (Day-Old Chicken/DOC). Sehingga, bisnis pakan ternak maupun penggemukkan ayam menjadi sulit meningkat.

Namun di sisi lain ia juga mengerti dilema pemerintah, jika kuota impor indukan ayam dibuka lebar, maka akibatnya pasar bakal kebanjiran pasokan seperti 2014 lalu. “Harga akan hancur dan peternak banyak yang rugi dan bangkrut,” ujarnya.

Di lain pihak, Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman menuturkan masuknya sejumlah pelaku usaha dari grup besar di industri pakan bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Hal itu dinilainya bagus untuk memanfaatkan potensi pasar Indonesia yang besar dan mengimbangi persaingan.

"Tidak khawatir, justru semakin baik untuk kompetisi yang sehat," ujarnya dalam pesan singkat kepada Katadata, Jumat (13/4).

Sebelumnya beredar kabar Grup Salim masuk ke bisnis peternakan ayam terintegrasi. Hal tersebut berpotensi menyebabkan bisnis poultry semakin sengit lantaran sudah banyak dihuni pemain sementara pasokannya melebihi permintaan pasar.

Informasi soal rencana Grup Salim ini diungkapkan CAB Cakaran Corporation Berhad dalam keterbukaan informasinya di Bursa Malaysia. Melalui anak usahanya yang berbasis di Singapura, KMP Private Limited, Grup Salim akan membentuk perusahaan patungan dengan CAB Cakaran untuk membangun peternakan ayam terintegrasi di Indonesia. Nilai investasinya sekitar US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,7 triliun.

Grup Cakaran akan menangani urusan teknologi, sedangkan Grup Salim memngelola keuangan dan operasional perusahaan patungan itu. Joint venture CAB Cakaran dengan Grup Salim dalam produksi ayam potonh dan terlur akan menyempurnakan lini bisnis mereka.

Managing Director Group CAB Cakaran Christopher Chuah mengatakan, pembangunan pabrik peternakan ayam terintegrasi tersebut rencanya akan dimulai pada paruh pertama tahun ini dan diharapkan rampung dalam 12 bulan. Peternakan ayam raksasa ini akan memproduksi 4,5 juta ekor ayam broiler pedaging per bulan dan 3 juta telur per hari.

https://katadata.co.id/berita/2018/0...-bisnis-unggas

ekspansi gan
Kirain unggas jenis ayam kampus emoticon-Leh Uga

Pengusaha Tak Khawatir dengan Ekspansi Grup Salim ke Bisnis Unggas



emoticon-Cape d...
kasihan yang home industri
Kenapa ga buka peternakan sapi aja yaa.. Kita kan msh impor sapi dan susu dr luar negeri
Yg ky gini ini perlu ditinjau ulang, 2012-2014 peternak ayam tradisional berdarah2 karna tata niaga bisnis ayam yg amburadul. Yg terintegrasi spt ini yg ditakutkan bakal gerus pasar yg tradisional, ujungnya monopoli komoditas utama dmn dikasi harga berapapun org psti beli. Ibarat warung tradisional yg digempur indomaret dgn indomarconya emoticon-Embarrassment
Smoga persaingan sehat. Japfa. Japfa
Udh main kemana2 salim group emoticon-Nohope
Quote:


bagaimana bisa monopoli kalau perusahaan yg masuk aja banyak gitu, asing aseng semua ada di sana, persaingan sengit, siapa bisa kasih harga sesukanya, malah kalau dibatasi, justru makin merajalela kasih hargaemoticon-Metal

soal peternak tradisional, maaf saja, udah ngak zaman lagi pertanian peternakan skala kecil, selain tidak menjamin ketahanan pangan, kesejahteraan mereka juga sulit terangkat. Kaya petani dikasih sepetak sawah disuruh bertani, atau peternak ayam yg melihara belasan ekor ayam, apa bisa cukup menjamin kebutuhan hidupnya di zaman sekarang?

belum lagi dari segi keamanan pangan, siapa bisa menjamin peternak tradisional dan pasar tradisional tidak menjual ayam tiren atau ayam formalin. Resiko mereka buat jualan ayam tiren dan formalin kecil, paling masuk penjara beberapa bulan, bebas jualan lagi, ngak ada yg ingat. Tapi kalau perusahaan besar, mereka harus mikir brand mereka.

ingat, harus ikut perkembangan zaman, bukan zaman ikut kita. Pertanian dan peternakan sekarang di negara negara maju, semua sudah skala besar, sudah automatisasi, jalur distribusinya juga sudah modern. Kalau masih berharap cara tradisional, ya tewas sendiri.
ini bisnis unggas... atau gandakan unggas... wkakakak indomie versi kaldu ayam akan bnyk variasinya ini... rasa kaldu ayam lokal ama kaldu ayam negri
Quote:


Yakin, diluar negeri yg bagus tata niaganya itu peternaknya individu, tp skalanya aja yg memang besar macem peternakan diUS ato model peternakan sapi di AUS. Ane setuju koq dgn pengaturan skala, dgn gt mudah pengawasannya tp bukan menyerahkan ke mekanisme pasar melalui korporasi. Bisnis peternakan bkn cmn urus ternak dan jual hasilnya. Integrated farm di unggas itu dia kuasai dr hulu sampe hilirnya dr mulai dari bahan baku pakan ternak macem jagung (kbykan impor), indukan ayam, vaksin bahkan distribusi pasarnya. kl yg tradisional (individu) dikalahin, trus mereka jd kartel yg induk usaha mereka ada diLN ketahanan pangan spt apa yg ente harapkan emoticon-Embarrassment

Peternak lokal prnah koq ngalamin masa2 sulit akibat perang kartel ini bbrp tahun lalu, cb tanya2 gmn berdarahnya peternak lokalan diblitar, magetan, sukorejo dll yg musti subsidi konsumen dgn harga murah karna tata niaga yg amburadul periode 2012-2014 lalu. Sementara yg menang ya mereka yg skrg jd kartel dgn integratednya, setelah abis peternak kecilnya tinggal mereka panen pasarnya emoticon-Embarrassment
Horee harga telur ama ayam potong bakal turun emoticon-Ultah
Quote:


nah yg mau nguasai dari hulu ke hilir siapa? pemerintah? udah tahu track record BUMN gimana, bukan cuma di indo aja, di luar negeri juga sama. Lihat ajalah, selama dikendalikan pemerintah, apa peternak kita sudah jadi peternak besar yg bisa bersaing dengan global atau bisa memenuhi kebutuhan pasar? yg ada malah tiap hari besar harga gonjang ganjing. Tugas pemerintah bagusnya membuat regulasi yg bikin iklim usaha mudah, supaya investor mau investasi dari hulu ke hilir, juga menjaga jangan sampai kartel terjadi. Selama pasar dibuka buat semuanya, ngak akan ada yg bisa mengendalikan harga semau gue, yg penting pemerintah harus menjaga iklim usaha, supaya jangan cuma dikuasai beberapa player.

peternak lokal berdarah darah di tangan perusahaan besar, itu karena memang mereka ngak bisa bersaing, mulai dari segi skala hingga efisiensi dan pemasaran. Ongkos produksi mereka lebih mahal daripada perusahaan besar itu. Perusahaan besar bisa ternak ratusan ribu ekor ayam dengan hanya mengandalkan sedikit pekerja. Peternak lokal harus melihara ratusan ayam dengan seluruh anggota keluarganya. Jelas ongkos produksinya lebih tinggi. Dan ketika bersaing jualan di pasar, ya kalah dalam segi harga. Terus yg ngak efisien gini terus dipelihara sementara perusahaan besar dilarang investasi di peternakan ayam? berarti nanti konsumen harus menanggung harga ayam yg mahal, ayam formalin yg bebas beredar, dan kurangnya pasokan ayam?

saya jadi ingat dulu ada orang bijak bilang, kalau memang pemerintah mau menggunakan proyek padat karya untuk menanggulangi pengangguran, buat aja proyek bangun canal, pekerjakan jutaan orang, dan tiap orang diperlengkapi dengan sebuah sendok untuk menggali kanal. Dijamin ngak ada pengangguran. Tapi pikir sendiri apa negara itu bisa maju. Bagi saya sistem pertanian dan peternakan kita sama saja dengan itu.



Quote:

Ane gak blg kl hulu sama hilir musti dikuasain pemerintah ato bumn ane cmn blg jgn sampe hulu sampe hilir hanya dikuasain segelintir org emoticon-Embarrassment

Yg besar blm tentu lbh bagus drpd yg kecil. Ada mgkn jutaan org yg terlibat dibisnis agro dan pelaku usaha kecil yg ente blg krg efektif spt diatas blm tentu gak efisien. Gak ada yg ngelarang perusahaan multi nasional invest dimari ane cmn kasi gambaran spy jangan sampe bisnis yg menguasai hajat hidup org banyak dan berpengaruh pd ketahanan pangan spt ini hanya dikuasain segelintir org apalagi muaranya ada di LN pulak. Pengelolaan tata niaga sapronak dgn mengatur integrated farm dan pembagian pasar sudah lebih dr cukup utk menghidupkan sektor ini. Yg kecil dan gak bs mengikuti perkembangan biarkan dieliminir oleh seleksi alam bkn dipinggirkan dan dibunuh pelan2. Ane py referensi ttg grup diskusi peternak lokal (bumiternak) yg mengikuti perubahan jaman, terus terang kl kelompok2 spt ini diberi ruang dlm tata niaga bisnis agro insyaallah ketahanan pangan kita akan sangat kuat karna negara kita diberikan anugerah berupa kekayaan alam yg melimpah (kl kt bs kelola dgn benar). Sekian yes, sory kl bahasanya belepotan mklm cmn petani pinggiran emoticon-Embarrassment