alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Cerita Antasari Sebelum Rp 6,7 Triliun Mengucur ke Century
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ad0c35f9e740484248b4567/cerita-antasari-sebelum-rp-67-triliun-mengucur-ke-century

Cerita Antasari Sebelum Rp 6,7 Triliun Mengucur ke Century

Liputan6.com, Jakarta - Sambil duduk dan menonton televisi di kediamannya, kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Antasari Azhar menerima kedatangan kami, Rabu (11/4) siang. Dia seorang diri di rumah. Hanya ada asisten rumah tangga.

"Anak dan cucu saya sedang di luar kota," kata Antasari membuka pembicaraan.

BACA JUGA
KPK Segera Tetapkan Mantan Wapres Boediono Tersangka Bank Century Atas Putusan Praperadilan PN Jaksel
VIDEO: Ini Kata Boediono soal Kasus Century
Keluarga Budi Mulya Minta KPK Usut Tuntas Kasus Bank Century


Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tampak santai. Hanya mengenakan kaus putih dan celana jins. Segelas kopi menemaninya. Tanpa basa-basi, Antasari berbagi cerita. Dia menanggapi kembali mencuatnya kasus bailout Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun. PN Jakarta Selatan mengabulkan praperadilan sekaligus meminta KPK memeriksa dan menetapkan mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono sebagai tersangka.

Dia masih ingat betul hari itu. Kamis, 9 Oktober 2008. Antasari memenuhi undangan yang datang dari Istana Negara. Rapat terbatas. Tidak tahu materi yang akan dibahas dalam rapat. Hanya beberapa pejabat negara yang hadir.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD), Jaksa Agung Hendarman Supandji, Ketua BPK Anwar Nasution, Kepala BPKP, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sri Mulyani dan Menteri Koordinator bidang Polhukam Widodo A.S, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.

Rapat dimulai pukul 09.00 WIB. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin langsung. Poin penting yang disampaikan soal ancaman dari krisis global.

"Saya tidak ingin Indonesia mengalami kejadian seperti 1998. Kira-kira begitu ucapan Pak SBY," ujar Antasari menirukan pernyataan SBY.

"Maka kita perlu terobosan-terobosan," lanjut Antasari menirukan SBY.

Keras di Hadapan SBY

Antasari masih belum mengerti maksud pernyataan itu. Tidak spesifik disebutkan terobosan yang akan diambil pemerintahan SBY untuk mengantisipasi agar tak terjadi krisis. Semua yang datang terdiam.

Lalu, pandangan SBY mengarah pada Antasari. Lantas, meminta pendapatnya. "Bagaimana menurut Ketua KPK?" tanya SBY.

"Saya katakan, kalau kebijakan itu demi kepentingan rakyat, saya dukung. Tetapi, kata saya, jika ada oknum-oknum yang coba bermain, saya sikat. Bahasa saya saat itu ya saya sikat," kata Antasari.

Antasari sempat memerhatikan wajah kepala negara. Sedikit ada perubahan usai mendengar pernyataan Antasari. Dia juga sempat melirik ke arah Hatta Rajasa.

"Sepertinya Pak Hatta ingin memberi saya kode, tapi saya pura-pura tidak lihat," katanya.

Lalu, SBY bertanya pada Jaksa Agung Hendarman Supandji.

"Kalau Jaksa Agung hanya bilang, 'Saya dan Pak Antasari itu satu guru satu ilmu'," kata Antasari menirukan ucapan Hendarman.

Setelah itu, SBY memerintahkan Menko Perekonomian Sri Mulyani untuk menyiapkan terobosan. Tak lupa berpesan agar memerhatikan yang disampaikan Ketua KPK dan Jaksa Agung.

Seingatnya, rapat siang itu berlangsung dua jam. Setelah rapat, Hatta menghampiri Antasari. Dikatakan Hatta, pernyataan Antasari terlalu keras. Namun, itu disampaikan sambil bergurau.

"Pak Antasari cocoknya jadi Jaksa Agung," kata Antasari menirukan Hatta.

Pertemuan dengan Boediono

Selang satu pekan setelah rapat di Istana, Antasari kedatangan tamu. Ajudannya menyampaikan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono ingin bertemu. Antasari menerima Boediono di ruang kerjanya. Hanya empat mata. Dalam pikirannya, ini sebagai bentuk tindak lanjut dan koordinasi pencegahan korupsi pejabat bank sentral.

Pembicaraan awal berlangsung normatif. Boediono menyampaikan harapannya agar tidak ada lagi pejabat BI yang tersangkut kasus korupsi di masa kepemimpinannya. Ketika itu beberapa petinggi BI memang diciduk lembaga antirasuah. Salah satunya besan SBY, Aulia Pohan.

Antasari menyambut baik komitmen Boediono. Dia juga punya harapan yang sama.

Setelah berbincang panjang lebar, Boediono mulai menyampaikan rencana memberi suntikan dana Rp 4,7 triliun untuk Bank Indover. Bank yang berada di Belanda itu adalah anak perusahaan BI. Antasari berpikir, lalu dia menyampaikan pandangannya pada Boediono. Intinya, menolak rencana itu.

"Kalau pepatah di daerah saya, itu sama saja seperti mengisi air di ember bocor. Sebanyak-banyaknya air yang dituang, akan keluar dari ember," kata dia.

"Indover itu bermasalah. Saya katakan ke Pak Boediono, 'Kalau sampai di-bailout, KPK bertindak," tegasnya.

Setelah pertemuan dan pembicaraan itu, tak ada kabar dari Boediono soal rencana bailout Indover. Antasari berinisiatif menghubungi Gubernur BI. Melalui sambungan telepon, Antasari mendapat kabar rencana itu tidak dijalankan.

Beberapa bulan berlalu, tak ada lagi kontak dengan Boediono. Tiba-tiba seorang rekan Antasari bertamu ke KPK. Dari situ Antasari mendapat kabar pemerintah memberi dana talangan ke Bank Century Rp 6,7 triliun. Dia terkejut. Lalu, mencari tahu informasi tersebut. Antasari mendapat data bahwa bank milik Robert Tantular itu hanya butuh suntikan dana Rp 1 triliun.

Antasari berinisiatif menghubungi Boediono via telepon. Alasannya jelas. Sesuai arahan Presiden SBY dalam rapat 9 Oktober, kebijakan terkait penyelamatan ekonomi dikonsultasikan dengan KPK.

Ternyata sang Gubernur BI sedang berada di Amerika Serikat. Antasari langsung meminta staf Boediono agar disambungkan dengan salah satu petinggi BI. Pembicaraan berlanjut dengan Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Pengawasan Siti Chalimah Fajriah.

"Saya pesan ke Bu Siti ada hal penting harus disampaikan. 'Kalau Pak Boediono pulang saya ingin bicara soal perbankan'," tuturnya.

Antasari heran dengan kebijakan ini karena tidak sesuai arahan SBY agar setiap langkah yang diambil dikoordinasikan dengan KPK. "Ternyata tak dilakukan."

Diundang Timwas Century

Cerita ini pernah disampaikan Antasari saat diundang oleh Timwas Century di DPR pada Rabu, 12 September 2012. Saat itu Antasari masih menjalani hukuman di Lapas Tangerang atas kasus pembunuhan Direktur PT Rajawali Putra Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

Atas izin kepala Lapas, Antasari memenuhi undangan DPR. Di situ dia menceritakan bahwa rapat terbatas 9 Oktober 2008 di Kantor Presiden bukan secara khusus membahas proses bailout Bank Century.

Belum juga kejanggalan terjawab, Antasari dijebloskan ke penjara Polda Metro Jaya. Mantan jaksa ini dituduh terlibat pembunuhan Direktur PT Rajawali Putra Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

"Dari tahanan saya baca koran Boediono jadi calon wakil presiden," katanya.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bukan diam saja dengan pernyataan Antasari di depan Timwas Century. SBY langsung menanggapi pernyataan Antasari soal rapat terbatas itu. SBY menegaskan tak sedikit pun membahas krisis Bank Century, apalagi sampai proses bailout.

"Malam ini di hadapan Allah SWT, saya katakan bahwasanya saya katakan sama sekali tidak ada tidak menyinggung Bank Century, apalagi bailout Bank Century," kata SBY.

Boediono juga pernah menyampaikan pembelaannya. Dia tak merasa ada yang salah dengan kebijakannya memberikan bailout kepada Bank Century saat menjabat Gubernur Bank Indonesia (BI).

Menurut dia, data tentang membengkaknya dana talangan dari Rp 632 miliar sampai Rp 6,7 triliun bukan tanggung jawab BI. Itu seluruhnya wewenang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan pengawas bank.

BI dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) hanya bertanggung jawab sampai pada penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik, sehingga harus diberikan bailout. Alasannya, jika tidak diselamatkan maka ekonomi nasional bakal terguncang di era krisis global pada 2008.

https://www.liputan6.com/news/read/3448055/cerita-antasari-sebelum-rp-67-triliun-mengucur-ke-century

SATU BANK ECEK2 HARUS DISELAMATKAN 7 T, AGAR BANK2 BUMN GA KOLAPS
TIPU2 emoticon-Ngakak
Diubah oleh dishwala
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Quote:


emoticon-Ngakak (S)

gue pernah liat di acara ILC atau acaranya rosiana silalahi anggota DPR teriak teriak seperti orang kurang yodium

isi DPR ga jauh beda kualitasnya dgn kualitas anjal
Wuih muncul lagi?
Coba tanya langsung sama beliau-beliau yang ada di pemerintahan.
bingung gue jadi sebetulnya SBY dan budiono pasang badan buat BUMN?
srik woles
BANK ABAL2 YG AWALNYA EMANG BERMASALAH GITU LOH...
TEPU2 emoticon-Big Grin
Ga ada yang salah dengan cerita antasari diatas..
Penjahat yg memanfaatkan kebijakan BI sudah masuk bui 🤔

Antasari gagal fokus mengartikan kata "koordinasi"
Yang diartikan harus izin dia.
Antasari merasa sebagai penguasa😂
SBY langsung bantah bawa2 Allah, padahal waktu itu Antasari juga gak ngomong soal Century.

Koq SBY baper? emoticon-Big Grin
Quote:


Tolol. emoticon-Big Grin
pantes JK diganti. karena ga mau jadi kambing hitam?

berarti oposisi dan semua partai waktu itu tau semua? termasuk ketua KPK jg tau?
Quote:


Uang mengalir sampai jaaaaaauh....

Akhirnya keeeeee PeDe..
kok rada gak percoyo aku wes san mbek antasari ke
Katakan tidak pada(hal) korupsi.
Yap muncul lg
bagi2 duit gitu ceritanye emoticon-Entahlah
Quote:



udah kalau loe gak ngerti masalah perbankan mending loe diem aja
ntar ketauan bodohnya emoticon-Big Grin

jelas di rapat2 BI yang rekamannya diputar pas persidangan, semua orang BI udah tau kok bahwa bank Century itu jelek dari dulu .. dan anehnya kenapa BDONO malah merekomendasikan bahwa century itu sistemik sehingga membuat Sri Mulyani serba salah .. dan junjunganmu SBY pura2 lawatan ke LN supaya gak bertanggung jawab? emoticon-Big Grin


Anak Budi Mulya: Boediono Sempat Tawarkan Giring Opini Century

akarta - Wakil Presiden ke-11 Indonesia Boediono sempat menawarkan kepada mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya untuk menggiring dan membangun opini bahwa kasus Century merupakan ranah kebijakan. Penggiringan tersebut dimaksudkan agar kasus tersebut tidak masuk ke dalam ranah pidana. Hal ini diungkapkan Nadia Mulya, anak dari Budi Mulya di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (12/4).

Nadia Mulya menuturkan, selama sang ayah menjalani proses hukum kasus Century, Boediono yang merupakan mantan Gubernur Bank Indonesia tak pernah menyempatkan diri untuk berkunjung atau berkomunikasi dengan sang ayah. Padahal, Budi Mulya mengaku menghormati Boediono yang merupakan atasannya. Bahkan, kata Nadia, saat adiknya, Benny Mulya meninggal dunia pada September 2014, Boediono tak memberikan karangan bunga atau sejenisnya.

"Pak Boediono itu ketika bapak saya menjadi tersangka menjadi sangat alergi dengan bapak saya. Bahkan ketika adik saya meninggal pun dia tidak mengirimkan karangan bunga apapun, hanya selembar surat saja. Itu sangat menyakiti perasaan bapak saya yang saat menjadi bawahan pak Boediono begitu respect sama beliau," tutur Nadia.

Namun, sebuah peristiwa yang cukup mengejutkan terjadi pada awal 2016 lalu. Nadia masih mengingat betul, pada Selasa, 26 Januari 2016, Boediono mendadak menemui Budi Mulya yang sudah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung. Saat itu, Nadia yang sedang mengandung anak ketiga kebetulan sedang membesuk sang ayah. Dalam pertemuan itu, Budi Mulya pun mengeluarkan unek-unek yang telah dipendamnya. Budi Mulya menyesalkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia saat itu tidak membeberkan yang diketahuinya mengenai skandal Century.

"Saat itu saya menemui pak Boediono bersama dengan bapak saya, kita berbicara hanya bertiga saja di saat itu bapak saya mengeluarkan unek-uneknya lebih dalam. Kamu (Boediono) sebagai seorang pemimpin, kenapa kamu tidak mengatakan apa yang kamu ketahui tentang Bank Century. Itu yang bapak saya katakan kepada Boediono. Dan jujur saya tidak paham tujuannya untuk apa," katanya.

Dalam pertemuan itu, kata Nadia, Boediono tak banyak berbicara. Boediono hanya meminta maaf. Selain itu, kata Nadia, Boediono juga menawarkan kepada Budi Mulya untuk menggiring dan membangun opini bahwa kasus Century merupakan kebijakan. Dengan demikian persoalan Century tak dapat diproses secara hukum.

"Saat itu dia mengatakan, bagaimana kalau kita menggiring media bahwa ini sebenarnya adalah kebijakan yang tidak dapat dipidanakan," ungkapnya.

Saat itu, Nadia menyatakan tawaran Boediono tak menyelesaikan persoalan. Hal ini lantaran sang ayah sudah dihukum dan mendekam di Lapas Sukamiskin. Nadia justru mempertanyakan sikap Boediono yang tak melakukan tindakan yang lebih tegas agar kasus ini tidak berlarut-larut. Padahal, Boediono menjabat sebagai Wakil Presiden saat sang ayah menjalani proses hukum

"Saya bilang, pak sudah telat. Sekarang bapak saya sudah disini (Sukamiskin). Kalau seandainya kamu sebagai Wapres saat itu berani mengambil keputusan yang lebih firm mungkin tidak akan berlarut-larut sampai saat ini," tegasnya.

Nadia mengaku tak tahu menahu maksud dari Boediono menawarkan untuk menggiring opini kasus Century tersebut. Nadia pun tak tahu tindak lanjut dari tawaran Boediono kepada ayahnya tersebut.

"Tidak ada sama sekali, tidak ada follow up-nya. Makanya saya dan keluarga juga kurang paham maksud dan tujuan dari beliau apa. Sejujurnya saat pertama kali bertemu (Boediono), saya dan bapak saya agak sedikit meluap bahkan saya meninggikan suara saya kepada pak Boediono juga. Terkait kekecewannya kenapa hanya bapak saya sendiri yang harus menjalani ini sendiri. Ibaratnya bapak saya dilempar ke kandang singa dan kalian tidak ada satu pun yang memberikan bantuan apapun kepada bapak saya," ungkapnya.

Diketahui, Budi Mulya dihukum 15 tahun pidana penjara terkait kasus korupsi atas pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) pada Bank Century. Budi Mulya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan sebagai perbuatan berlanjut dalam pemberian FPJP kepada Bank Century dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Dalam dakwaan Jaksa KPK pada tingkat pertama, Budi Mulya selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang IV Pengelolaan Moneter dan Devisa didakwa memperkaya diri sebesar Rp 1 miliar dari pemberian FPJP Bank Century dan atas penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Tak hanya itu, Budi Mulya juga didakwa memperkaya pemegang saham Bank Century, Hesham Talaat Mohamed Besheer Alwarraq dan Rafat Ali Rizvi, sebesar Rp 3,115 miliar.

Perbuatan Budi dinilai telah memperkaya PT Bank Century sebesar Rp 1,581 miliar dan Komisaris PT Bank Century Robert Tantular sebesar Rp 2,753 miliar. Budi Mulya juga diduga menyalahgunakan wewenang secara bersama-sama dengan pejabat Bank Indonesia lainnya dalam dugaan korupsi pemberian FPJP Century, yaitu Boediono selaku Gubernur Bank Indonesia, Miranda Goeltom selaku Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Siti Chalimah Fadjrijah (alm) selaku Deputi Gubernur Bidang 6 Pengawasan Bank Umum dan Bank Syariah, Budi Rochadi (alm) selaku Deputi Gubernur

Bidang 7 Sistem Pembayaran, Pengedaran Uang, BPR dan Perkreditan, serta bersama-sama dengan Robert Tantular dan Hermanus Hasan dan bersama-sama pula dengan Muliaman Dharmansyah Hadad selaku Deputi Gubenur Bidang 5 Kebijakan
Perbankan/Stabilitas Sistem Keuangan dan selaku Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Hartadi Agus Sarwono selaku Deputi Gubernur Bidang 3 Kebijakan Moneter, dan Ardhayadi Mitroatmodjo selaku Deputi Gubernur Bidang 8 Logistik, Keuangan, Penyelesaian Aset, Sekretariat dan KBI, serta Raden Pardede selakuSekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam proses penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Meski demikian, KPK hingga saat ini baru menjerat Budi Mulya. Sementara, 10 nama lainnya yang disebut dalam dakwaan Budi Mulya masih menghirup udara bebas. Masyarakat Antikorupsi (MAKI) pun mengajukan praperadilan terhadap KPK atas lambannya penanganan kasus ini.

Dalam gugatannya MAKI mendalilkan KPK telah berlarut-larut menangani kasus Bank Century karena tidak segera menetapkan tersangka baru setelah putusan Budi Mulya.‎ KPK juga dianggap telah menghentikan penyidikan kasus Century secara tidak sah.
Pada Senin (9/4) kemarin, dalam amar putusannya, Hakim tunggal PN Jaksel, Effendi Mukhtar mengabulkan permohonan praperadilan MAKI sebagai pihak pemohon untuk sebagian.

Hakim juga memerintahkan termohon, yakni KPK untuk melakukan proses hukum selanjutnya sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas dugaan tindak pidana korupsi Bank Century dalam bentuk melakukan penyidikan dan menetapkan tersangka terhadap Boediono, Muliaman D Hadad, Raden Pardede dan kawan-kawan.

Kemudian melanjutkannya dengan pendakwaan dan penuntutan dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat atau melimpahkannya kepada kepolisian atau kejaksaan untuk melakukan penyidikan dan penuntutan dalam proses persidangan di PN Tipikor Jakpus‎. ‎

"Memerintahkan termohon untuk melakukan proses hukum selanjutnya sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas dugaan tindak pidana korupsi Bank Century dalam bentuk melakukan penyidikan dan menetapkan tersangka terhadap Boediono, Muliaman D Hadad, Raden Pardede dkk (sebagaimana tertuang dalam surat dakwaan atas nama terdakwa Budi Mulya) atau melimpahkannnya kepada kepolisian dan atau kejaksaan untuk dilanjutkan dengan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat," kata hakim Effendi Mukhtar dalam putusannya.
kasus century kan tabungan kasus utk SBY

sama seperti BLBI kpd Mega

sumber waras kpd ahok

sewaktu waktu akan dimunculkan sesuai situasi dan kondisi.

astajimemoticon-Kagets

Pantes Rocky Garong disuruh meracau jadi goblok, diberakin berjemaah buat mengalihkan isu ini emoticon-Leh Uga

Cerita Antasari Sebelum Rp 6,7 Triliun Mengucur ke Century

Cerita Antasari Sebelum Rp 6,7 Triliun Mengucur ke Century
Diubah oleh kh.zhengweijian
kebijakan ekonomi yang dibungkus isu politik...hufftt...emoticon-Malu (S)

banknya memang bank kecil, tapi disituasi krisis + corong oposisi melalui medianya bisa ngipasin "api" dalam krisis...Northern Rock juga kecil tapi bisa berdampak emoticon-Big Grin

perlu diketahui juga bahwa bank kecil bukan berarti nasabahnya nasabah cere, nasabah premium/prioritas/private biasanya punya account di banyak bank, dampak rekeningnya di satu bank akan berakibat ke rekeningnya di bank lain emoticon-Big Grin

dalam situasi krisis Do Something is better than Do Nothing emoticon-Cool

Quote:
Diubah oleh mario.b
Quote:


Cerita Antasari Sebelum Rp 6,7 Triliun Mengucur ke Century
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di