alexa-tracking

Kumpulan Puisi Chyn

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acff900a09a39730d8b4584/kumpulan-puisi-chyn
Kumpulan Puisi Chyn
RAPUH

Perihal jarak tak masalah
Aku hanya butuh matamu dan segenggam peluk
Hampir putus asa lisan ini merengkuh
Tak jua tergapai
Sekali tatap meluluhkan
Aku butuh yang lebih
Kususuri setiap sudut kota
Terserak rinduku berceceran
Kupunguti satu-satu
Sampai kelak kutemui garis bibirmu malam ini

Selesai

image-url-apps
Kamu tahu, cerita terbaik di malam pada saat mata kita bertemu?
Dalam hening, aku bergumam, semoga semestamu selalu meringankan segala ingin serta tujuanmu meski bukan bersamaku.

Kamu tahu, hal yang terlintas di kepalaku ketika melihat sesimpul senyum pada sudut bibirmu saat kita berbincang?
Di tengah tawa, aku berharap, semoga semestamu meletakkan segala hal-hal baik di hidupmu meski bukan denganku.

Kamu tahu, doa yang kuhibah di langkah pertamamu saat kita berpisah?
Di balik jendela, aku meminta, semoga semestamu juga menyisakan sedikit langkah kakimu untuk senantiasa pulang meski bukan ke arahku.

Terakhir

image-url-apps
Ada sekelumit alasan mengapa aku tak lagi menulis tentangmu. Memang klise. Tapi kuharap, ini bisa menjelaskan.

Kau perlu tahu. Bukannya aku lelah, atau ingin berhenti. Tapi nyatanya, aku lebih senang menyimpan segala tentangmu di sudut mataku.

Tak ada lagi perdebatan soal apa yang paling membuatku jatuh cinta. Senyummu atau matamu? Aku juga tak perlu susah-susah menanggalkan logika tentang bertemu atau berlalu.

Kesekian kalinya, aku lebih memilih memelukmu di dalam labirinku, di mana hanya aku yang tahu kemana ingatan-ingatan tentangmu akan berujung.
KASKUS Ads

Untuk Tuan

image-url-apps
Untuk tuan yang selama ini kubasuh lukanya
Aku meletakkan namamu pada sepertiga malam di antara bait-bait doa yang senantiasa kuhibah
Yang perlahan kurajut dengan tangga-tangga tabah
Tak lupa juga kudoakan puan yang namanya pernah kau selip di antara bibirmu
Atau bahkan terus hadir di setiap deru nafasmu
Aku ini hanya sementara yang tuan punya
Sebelum sang puan memiliki mahkota pada akhirnya
Pecah hati ini berkali-kali
Bolak-balik kucoba mengakali
Hingga kularung ingatan-ingatan dengan hening
Agar tak ada sisa bayang tuan dalam kening

Angan

image-url-apps
Aku ini naif, tapi lemah. Bahkan ketika kata-kata tak lagi menjanjikan apa-apa, kau masih tetap menjadi satu-satunya yang mutlak di pikiranku.

Aku selalu membayangkan, entah, mungkin suatu hari hanya ada kau dan aku yang akan dengan tangguh menikmati indahnya lembah Kalalau di Hawaii, dengan garangnya mendaki tanpa lelah demi mencapai puncak Tre Cime di Lavaredo, menyusuri tenangnya Blyde River Canyon, dan kita akan melewati malam-malam yang dingin berselimut memoar hangat tentang bagaimana kau memandang mataku untuk yang pertama kalinya di kota Yakutsk.

Lalu...

Pada detik berikutnya...

Aku dipaksa kembali menapak ke bumi. Bayangan muluk tadi hanya euforia tentang kita berdua. Sementara yang cukup bagiku hanyalah, kau dan aku tetap di sini, menikmati sore dengan secangkir kopi panas, merancang masa depan yang spektakuler, mengobrol apa saja sampai bosan, dan aku bisa dengan santai menyelami hidupmu tanpa perlu merasa takut tersaingi, tertandingi siapapun. Hanya ada aku di matamu.

Rumah Ibu

image-url-apps
"Bu, kehilangan apa yang paling menyakitkan?" Tanyaku pada ibu di suatu sore.

Ibu tersenyum. Seraya mengusap keningku, ia berkata,

"Kehilangan yang paling menyakitkan ialah kehilangan yang merenggut seluruh pikiran dan jiwamu. Yang membuat duniamu terasa kosong dan asing, nak."

"Bukan kematian?" Tanyaku lagi.

"Bukan, kematian bukan sumber kesedihan atas kehilangan, juga bukan pemberhentian terakhir dan akar dari segala rasa sakit. Kematian hanyalah peron yang akan membawa kita pada pertemuan selanjutnya. Maka berbahagialah, kita akan bertemu lagi." Ujar ibu.

"Tapi aku kesakitan." Keluhku.

"Tentang?" Tatap ibu lembut.

"Kehilangan ibu. Setiap malam aku berdoa, kupeluk ibu, tapi ibu hanya diam. Kucari ibu pada setiap kepulanganku kerumah, yang ada hanya sunyi. Ada yang lebih menyakitkan dari menanti yang sudah pergi?" Bisikku lirih.

Ibuku diam lagi. Kupandangi mata pusaranya.

Sesaat aku sadar, waktuku telah habis berkunjung ke rumah ibu.

Widuri

image-url-apps
"Hidup selucu itu ya, mas. Disaat kita mulai percaya sepenuhnya, tiba-tiba dicampakkan secara cuma-cuma. Lalu, untuk apalagi aku masih berbaik sangka? Akhirnya, harga diriku mati juga." Kataku pada mas di suatu sore.

Mas tersenyum. Aku heran, sekaligus takjub.

"Dik, kamu tahu? Tuhan sama sekali tidak memandang harga dirimu. Tetaplah lembut, berbaik sangka bukan hal yang sulit. Belajar percaya pada semesta memang beresiko, tapi ketahuilah, sedikit demi sedikit akan terbayar lunas." Ujar mas setenang mungkin.

Aku kembali memandang hamparan langit luas. Si senja mulai muncul dari ufuk barat sambil malu-malu. Mulai bosan aku mendengar senandung-senandung asal tidak berirama dari ukulele yang di genjreng-genjreng mas sedari tadi. Bahagia sekali wajahnya.

"Dik, harga dirimu nggak pernah mati. Hanya saja, kamu terbuai sikap kerasmu. Hingga tanpa sadar, semuanya terombang-ambing oleh gelombang. Lalu terhempas.... Lantas menghilang."

Aku terdiam. Mungkin hatiku sedikit membenarkan. Tipis senyumku mulai nampak. Kupandangi rambut keriting mas yang tertiup semilir angin. Kali ini, kunikmati senandung Widuri milik mas.
×