alexa-tracking

Cerpen Remaja

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acf8feec1d77022648b4567/cerpen-remaja
CINTA 3.676 MDPL
CINTA 3.676 MDPL
Ridho Covinda Wahyu Firmansyah*

Dia bukan kekasihku, dia hanya pujaan hatiku. Tapi entah mengapa hanya dirinya yang selalu hadir dalam lamunanku. Memberi imajinasi dalam kerinduan ini. Dan kali ini aku ingin sekali mengajaknya bertualang mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa. Padahal tak pernah terbesit sedikit pun untuk mengajak kekasihku sendiri mendaki ke puncak gunung itu. Yaa… karena kekasihku lebih suka bergelut pada pasir-pasir pantai yang kering. Dengan panas jiwanya dan bercumbu pada kerasnya batu karang, yang menyerupai dengan keras hatinya.
Sementara dia, dia adalah sosok yang sejalan denganku. Lebih suka dengan udara dingin beku. Dan sejuknya aroma segar hutan cemara di pegunungan. Kekasihku berparas ayu, lebih ayu kala rambutnya dibiarkan terurai. Dibalik paras nan ayu itu, kekasihku sangat keras hatinya dan emosional. Tetapi dia sangat penyayang. Mencurahkan segala perhatiannya untukku. Begitulah ungkapan yang untuk menggambarkan karakter kekasihku. Dia yang selama ini aku puja-puja, bahkan melebihi kekasihku sendiri. Satu hal yang akan mampu membuat hatiku bahagia, adalah jawaban “ya” dari bibir manisnya. Jawaban itu kutunggu, yang menandakan dia mau bersamaku menaklukan puncak setinggi 3.676 MDPL.
***
Siang itu aku pergi ke toko buku. Ada buku edisi terbaru yang ingin aku beli. Aku membeli segelas minuman dingin, untuk menyegarkan tenggorokanku. Cuaca sangat terik menyengat saat itu. Bangku panjang depan toko buku menjadi tempat istirahatku, sembari menghabiskan minumanku. Setelah merasa segar kembali, aku beranjak untuk masuk ke toko buku. Toko buku yang sangat luas. Aku mencari dari satu rak buku ke rak buku yang lain. Sungguh melelahkan, buku itu tak kunjung kutemukan. Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat wanita berhijab hendak mengambil buku. Masya Allah… sangat cantik ciptaan-Mu ini! gumamku dalam hati. Rupanya buku yang hendak ia ambil terlalu tinggi letaknya. Memberanikan diri mendekat, kutawarkan bantuan kepadanya.
“Permisi, mohon maaf. Ada yang bisa dibantu?” tanyaku dengan perasaan yang tak karuan. Tak tahu perasaan apa yang membuat hatiku berdesir begitu kencang. Belum pernah aku mengalami hal seperti ini. Bahkan saat pertama aku bertemu dengan kekasihku. Rasa yang singgah di hatiku kali ini sungguh berbeda. Imajinasiku melayang jauh di sana. Tuhan… rasa apakah ini?.
“Oh, iya Kak. Boleh minta tolong ambilkan buku yang di atas itu?” jawabnya sedikit kaget. Mungkin karena tawaranku secara tiba-tiba. Suaranya indah, ia pun sangat ramah. Tuhan untuk siapakah Engkau ciptakan wanita ini? gumamku. Perlakuannya sangat sopan. Belum pernah ku jumpai wanita seperti ini.
“Apakah buku yang itu?” tanyaku. Ku tunjuk buku bersampul coklat di rak paling atas. Buku itu berjajar rapi di tempatnya. Cukup tinggi memang letaknya. Tapi masih bisa ku jangkau. Sedikit berjinjit, buku itu dapat ku gapai. Kini buku itu berpindah di tanganku. Cukup kaget aku saat aku melihat sampul buku itu. Buku itu sama dengan yang kucari. Sedikit kaget, karena buku itu berisi tentang pendakian gunung.
“Apa benar buku yang ini?” tanyaku sedikit penasaran.
“Iya Kak benar buku itu. Terima kasih, Kak.” jawabnya sambil tersenyum. Manis benar kata-kata yang keluar dari bibirnya. Suaranya lembut, menyejukkan hati. Sungguh beruntung laki-laki yang bisa memilikinya. Rasa penasaranku belum terjawab. Sebelum wanita itu pergi, aku menyempatkan untuk bertanya.
“Maaf, kalau boleh tahu apakah kamu suka wisata alam ke gunung?” tanyaku semakin penasaran. Sedikit lancang aku bertanya, karena sangat penasaran. Semoga dia tidak tersinggung.
“Iya, benar Kak. Ingin tahu rasanya mendaki gunung. Selama ini keinginan untuk mendaki belum terwujud. Makanya, aku ingin membaca buku ini.” jawabnya dengan penuh sopan santun. Lagi-lagi suara lembutnya membuat hati merasa nyaman.
“Benarkah? Kamu suka travelling ke gunung?” tanyaku dengan tersenyum bahagia. Berarti wanita ini memiliki kesamaan hobi. Hanya saja dia belum pernah mendaki gunung. Sedangkan aku sudah pernah menaklukkan berbagai gunung. Kali ini rasa aneh menyeruak hingga ubun-ubunku. Aku ingin berjabat tangan dan memperkenalkan diri. Ingin sekali aku mengenal wanita ini lebih jauh. Inginku mengajaknya menaklukkan puncak gunung Mahameru. Gunung tertinggi di pulau Jawa. Kekasihku selalu menolak bila aku ajak mendaki.
“Iya. Aku ingin sekali mendaki gunung. Aku ingin melihat kebesaran pencipta dari puncak gunung.” jelasnya. Hatiku berkata akan mengajaknya mendaki puncak gunung.
“Oh begitu. Kebetulan buku yang kita cari sama. Aku sudah berkali-kali mendaki gunung. Buku ini akan aku gunakan sebagai panduan. Selama ini aku hanya membaca informasi dari internet saja.” jelasku kepada wanita itu. Ia mendengarkan dengan seksama penjelasanku. Aku melihat ia tersenyum. Kali ini aku ingin mengajaknya berkenalan. Aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya.
“Maaf, boleh kita berkenalan?” tanyaku seraya mengulurkan tangan. Tapi dia menolak berjabat tangan. Bukan karena merasa jijik. Dia adalah wanita muslimah, haram hukumnya berjabat tangan lawan jenis yang bukan mahramnya. Semakin membuat aku mengagumi wanita ini.
“Nama saya Nadine. Senang berkenalan dengan Anda.” perkenalannya singkat sambil tersenyum. Tangannya ditelangkupkan ke depan seperti orang memberi salam. Rupanya ia senang berkenalan denganku. Akupun demikian. Senang sekali bisa berkenalan dengan wanita cantik ini. Tutur sapanya yang sopan. Berbeda dengan kekasihku.
“Nama yang cantik.” pujianku untuknya. Aku melanjutkan proses kenalan itu. “Namaku Andreas. Senang berkenalan denganmu, Nadine.” lanjutku dengan tersenyum. Rasa aneh itu datang lagi. Kali ini menggetarkan hatiku. Membuatku semakin melayang ke ruang imajinasi. Perbincangan terus berlanjut, hingga aku menawarkan bertukar nomor ponsel. Perkenalan yang cukup singkat. Ingin rasanya bercakap lama dengan Nadine. Tetapi kami harus berpisah seusai menyelesaikan pembayaran di kasir.
Sesampai di rumah aku rebahkan tubuh ini di atas sofa, hingga tertidur. Aku tertidur sangat lelap. Tidurku terbangun kala kekasihku datang dan mengetuk pintu. Dengan terhuyung-huyung aku membuka pintu. Dia sempat memarahiku karena tak ada kabar. Aku beri penjelasan kepada kekasihku. Setelah semuanya jelas kekasihku pamit pulang. Kembali aku teringat Nadine. Mencoba menghubungi Nadine. Hatiku merasakan rasa yang berbeda.
Nadine membalas chat pribadiku. Aku merasakan kebahagiaan tersendiri. Sungguh berbeda dengan yang kurasakan saat ini. Obrolan kami mengarah untuk merencanakan travelling. Aku mengajak Nadine untuk mendaki gunung bersama-sama. Sangat senang sekali apabila dia menerima tawaranku. Inginku mengajak kekasihku, tetapi aku tahu dia akan menolak. Kekasihku tak suka wisata alam ke hutan pegunungan. Ia lebih suka jalan-jalan ke pantai, bergelut dengan pasir-pasir kering. Jawaban Nadine memberi sinyal bahwa ia mengiyakan tawaranku. Kami membuat kesepakatan waktu untuk pergi mendaki. Kami sepakat untuk mendaki di awal bulan depan. Dan tugasku kali ini meminta izin kepada kekasihku. Syukurlah kekasihku mengizinkan meski harus berbohong. Maafkan aku meskipun harus berbohong.
***
“Woow indah sekali Kak...” kata-kata dari bibirnya saat turun dari mini bus tepat di depan pintu masuk gunung Semeru, yang mampu memberi gairah pada semangatku yang makin menggebu. Dia tetap memanggilku dengan sebutan Kak. Mungkin itu caranya untuk menghormatiku.
"Hal-hal seperti inilah yang membuat aku jatuh hati pada tempat-tempat dengan suasana seperti ini Nadine...” jawabku pada pujaan hatiku, wanita sholehah yang pernah aku kenal.
“Berarti kita sehati Kak Andreas, walau pengalaman ini yang pertama kali buat aku, tapi aku suka banget dengan tempat-tempat seperti ini” jawab Nadine dengan bibir yang tersenyum indah dengan mata yang berbinar memancar kesegala arah menikmati bukit-bukit di sekitar gunung Semeru.
Jawabannya mampu menggetarkan hatiku yang telah lama beku, aku tak pernah merasakan hati bungah seperti ini, bahkan saat bersama kekasihku sendiri.
“Ini belum seberapa, di puncak sana kita akan disuguhi pemandangan dari serpihan surga yang terlempar ke dunia. Kita akan berada di negeri di atas awan seperti pada dongeng-dongeng negeri kahyangan.” jawabku sembari menunjuk ke arah puncak gunung Semeru yang dikenal dengan Mahameru. Yang disambut wajah Nadine yang makin berbinar dan takjub dengan kuasa pencipta.
“Benarkah begitu? Waaahh jadi semakin penasaran.” wajahnya makin merona penuh suka cita. Dan akupun hanya menganggukan kepala dengan tatapan yang tak henti memandang wajah cantiknya. Tak bisa dipungkiri, semenjak kehadirannya dalam hatiku, sosok kekasihku sendiri lambat laun terlupakan dan terganti oleh sosoknya yang anggun penuh cinta.
“Apakah aku selingkuh? Tidak aku tidak selingkuh, aku hanya mengikuti kata hatiku untuk pergi mencari sesuatu yang lebih indah dan lebih mengerti hatiku ini. Karena hatiku terlalu lelah untuk tersakiti.” ucap batinku bergejolak.
Setelah mengurus perizinan mendaki, kami langsung menapaki kaki-kaki mengikuti jalur pendakian setapak dari jalur pendakian Ranupani hingga puncak Mahameru. Ya, jalur yang sangat terjal menguras tenaga namun tetap indah untuk di lewatinya. Melelahkan memang melewati jalur satu ke jalur lainnya. Membutuhkan waktu berjam-jam untuk bisa sampai di puncak. Nadine mulai mengeluh membungkukkan tubuhnya sembari mengusap keringatnya yang sudah mulai membanjiri seluruh wajahnya.
Aku memberikan semangat kepada Nadine yang terlihat capek. Aku meyakinkan dia bahwa di puncak terdapat hamparan bintang yang menghiasi langit. Dan ini baru perjalanan malam, tapi saat fajar nanti pemandangan akan jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. Aku terus meyakinkan Nadine akan indahnya alam sekitar. Mendaki bukanlah hal yang melelahkan. Semua akan terbayar dengan kuasa Tuhan yang sangat indah. Saat matahari hampir menyingsing, aku dan Nadine telah sampai di puncak Mahameru beserta pendaki-pendaki lain.
“Masya Allah indah sekali Kak, Maha Besar Allah atas segala kekuasannya,” ucap Nadine dengan wajah yang kembali berseri. Sembari menyebar pandangannya menikmati pesona puncak Mahameru.
“Hhmm... selayaknya kehidupan ini, terkadang kita lupa akan anugerah yang diberikan Tuhan pada diri kita, karena kita terlalu fokus pada kekurangan kita.” aku pun menjelaskan dengan nada sok bijak sambil tersenyum manis melihat wajah manis Nadine yang makin manis.
Suasana pagi itu sangat syahdu, pesona golden sunrise dengan bayangan siluet yang amat indah, dengan lautan awan nan luas tanpa batas. Inilah pemandangan khas puncak gunung Semeru. Di saat mentari mulai merayap mengusir pekat, aku dan Nadine duduk diatas matras untuk menikmati keindahan momen ini detik demi detik. Ini adalah rasa yang entah kapan terakhir kali aku merasakannya, romantisme kehidupan yang telah lama hilang, dan baru kali ini aku merasakan kabahagiaan dan kedamaian jiwa yang syahdu.
Saat suasana hening dan tenang, tiba-tiba ponselku berbunyi keras memecah kesunyian, seketika aku angkat panggilan telpon itu. Belum sempat aku mengucap salam, tiba-tiba terdengar suara yang sudah tak asing lagi di telingaku. Kekasihku sangat marah, karena semenjak aku berpamitan aku tidak mengabari sama sekali. Dia tidak mau menerima alasanku sama sekali. Menganggap dialah yang selalu benar. Dia semakin memaki aku, tanpa memberi kesempatan aku berbicara. Sebelum menutup telpon, dia meminta untuk bertemu setelah aku pulang dari pendakian.
“Siapa, Kak? kok marah-marah gitu?” tanya Nadine dengan nada heran.
“Dia temanku,” jawabku singkat. Seperti disambar kilat ketika aku menjawab pertanyaan Nadine. Aku tidak mengakui bahwa dia adalah kekasihku. Dulu sejak pertama menjalin hubungan dengannya, aku memang sudah tahu karakternya. Saat itu aku yakin kalau aku pasti bisa merubah sifatnya menjadi lebih baik. Karena aku yakin bahwa setiap orang pasti bisa berubah seiring kedewasaannya. Tapi pada akhirnya aku sadar, bahwa semua itu sudah menjadi wataknya, sementara watak itu tidak mungkin mudah dirubah begitu saja. Kami memutuskan untuk kembali ke basecamp sebelum matahari tepat berada di atas. Karena kami harus sampai di basecamp sebelum matahari tenggelam. Lima hari total perjalanan kami, dari berangkat hingga kembali ke rumah.
***
Hawa cukup dingin sore itu. Aku menepati janji untuk menemui kekasihku. Meski masih cukup lelah, tapi aku tidak ingin mengecewakan kekasihku. Aku menjemput dia untuk pergi ke sebuah kafe. Sampai di kafe kami memesan makanan dan minuman. Sembari menunggu makanan diantar, kekasihku memulai pembicaraan kami. Aku sudah tahu bahwa pembicaraan itu mengarah pada hubungan ini. Penjelasanku tidak bisa diterima olehnya. Apa yang aku katakan selalu salah di matanya. Semakin aku menjelaskan, semakin membuatnya kesal. Aku tahu ini semua salahku. Dia mengajak untuk mengakhiri hubungan ini. Menurutnya, akan semakin rumit hubungan ini bila masih dilanjutkan. Dia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara.
Setelah pesanan datang, kami makan tanpa penuh selera. Aku menganggap ini adalah kebersamaan kami yang terakhir. Aku mencoba menerima keadaan dengan lapang dada. Mungkin sudah menjadi Tuhan. Setelah selesai makan, dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Aku tidak bisa mencegahnya dan membiarkan pergi. Dia butuh ketenangan untuk sementara waktu.
Aku mengakui semua karena kesalahanku. Tetapi aku tidak bisa menyalahkan kehadiran Nadine. Nadine wanita muslimah yang pernah aku kenal. Dikirim Tuhan untuk belajar ketika menghadapi segala ujian…

*Mahasiswa PBSI UMM '15
Cerpen bersambung....
image-url-apps
emoticon-Traveller
salah sempak bray emoticon-Salah Kamar

SFTH masih buka kalo nggak ke wattpad aja emoticon-Cool
KASKUS Ads
image-url-apps
tak kiro cerita stensilan

Cerpen Remaja
image-url-apps
cerpen kok panjang amat
Cerpen Remaja
image-url-apps
Quote:


cerpen kok singkat amat
×