alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Menanti kesungguhan memberantas miras oplosan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acf622e642eb60d0f8b4568/menanti-kesungguhan-memberantas-miras-oplosan

Menanti kesungguhan memberantas miras oplosan

Menanti kesungguhan memberantas miras oplosan
Ilustrasi: Miras oplosan mengandung zat yang membahayan kesehatan.
Mengenaskan. Minum keras (miras) kembali memakan korban. Kasus terbaru terjadi di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat.

Korbannya, seperti disampaikan Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal Agung Budi Maryoto, berjumlah 222 orang. Korban yang masih dirawat -sampai Kamis (12/4/2018)- berjumlah 181 orang. Sisanya, 41 orang meninggal dunia.

Itu adalah jumlah yang tergolong besar sekali dalam kasus keracunan miras. Itu bukan berarti korban pada kasus-kasus keracunan miras sebelumnya berjumlah sedikit.

Salah satu kasus keracunan miras yang korbannya berjumlah besar adalah kasus yang terjadi di Salatiga pada 2010. Saat itu jumlah korban yang berobat ke rumah sakit mencapai 225 orang. Korban tewas dalam kasus tersebut berjumlah 21 orang.

Dalam kasus yang terjadi di Cicalengka dan Salatiga itu, para korban mengonsumsi miras yang populer secara umum dikenal sebagai oplosan. Yakni miras hasil campuran dari berbagai bahan.

Jenisnya? Macam-macam. Bahkan, bisa dikatakan, batasnya adalah bahan yang tersedia dan 'kreativitas dan kenekatan' si peminum. Namun, apapun ragamnya, miras oplosan yang selama ini dikenal sudah memakan korban itu mengandung zat yang membahayakan kesehatan dan mengundang kematian.

Di Yogyakarta dan sekitarnya, misal, ada miras oplosan yang dikenal dengan sebutan lapen. Lapen mengandung alkohol di atas 80 persen yang dicampur dengan gula pasir dan bahan perasa. Ada juga miras oplosan yang disertai dengan janin kijang, kuda laut, ginseng, dan rempah-rempah yang direndam dengan alkohol.

Kasus keracunan miras yang memakan korban itu tidak hanya melibatkan miras yang dioplos oleh penjual. Di sejumlah kasus, para korban mengoplos sendiri mirasnya dengan berbagai bahan beracun -obat nyamuk, misal.

Di beberapa kasus lain, korban keracunan mengaku mengonsumsi miras tanpa mengoplos (mencampur) dengan bahan lain. Namun dalam kasus semacam itu pun tak ada jaminan bahwa miras yang dikonsumsi para korban adalah miras yang diproduksi secara legal dengan standar tertentu.

Di tengah masyarakat kita banyak beredar miras yang diproduksi secara serampangan. Lazimnya, jenis miras seperti itu diproduksi sambil memalsukan merek miras yang telah dikenal legal. Itu sebabnya, miras jenis itu dikenal dengan sebutan miras palsu.

Kandungan miras palsu itu pun tak kalah membahayakan kesehatan. Dalam sebuah razia, polisi pernah menemukan miras palsu yang dibuat dengan air mentah, zat pewarna dan alkohol murni saja.

Menilik latar belakang sosial ekonomi kebanyakan korban, besar kemungkinan preferensi mengonsumsi miras palsu dan miras oplosan terkait dengan harganya yang jauh lebih murah ketimbang miras yang diproduksi dan dijual secara legal.

Pertanyaan, mengapa miras palsu dan oplosan itu masih mudah diperoleh sehingga kasus keracunan miras yang memakan banyak korban terjadi lagi berulang-ulang? Benarkah pemerintah dan penegak hukum mempunyai komitmen kuat untuk mengendalikan peredaran dan konsumsi miras yang membahayakan warga negara?

Wakil Kepala Polri Komjen Syafruddin telah memerintahkan jajaran kepolisian untuk memberantas peredaran miras oplosan. Publik pasti menunggu kesungguhan dari tekad tersebut.

Bukan pertama kali publik mendengar pernyataan serupa tentang tekad serupa. Namun sampai sekarang kasus keracunan miras oplosan masih terjadi.

Selain mencatat sejumlah razia yang sukses menyita miras ilegal, publik juga bisa dengan mudah mengingat pemberitaan tentang kegagalan razia serupa yang disebabkan oleh bocornya informasi mengenai rencana operasi razia.

Kebocoran informasi itu mengindikasikan keberadaan aparat pemerintah atau penegak hukum yang mempunyai kedekatan khusus dengan pengedar maupun penjual miras ilegal. Bahkan, dalam kasus yang terjadi di Papua, ada oknum polisi yang terlibat dalam penyelundupan miras ilegal.

Aparat pemerintah dan penegak hukum harus memulai dari dirinya sendiri untuk mewujudkan tekad dalam memberantas miras ilegal. Aparat pemerintah dan penegak hukum harus merancang sistem yang memastikan tak akan ada kebocoran informasi rencana operasi razia dan penangkapan produsen, pedagang dan pengedar miras ilegal.

Tak kalah penting, juga menjalankan sistem yang memastikan tak akan ada keterlibatan anggotanya dalam bentuk apapun dalam produksi, perdagangan, dan pendistribusian miras ilegal.

Proses hukum dalam kasus miras ilegal juga harus menghasilkan keputusan hukum yang benar-benar membuat jera pelaku. Tuntutan dan keputusan hukum yang mengganjar hukuman ringan tak akan membuat jera pelaku dan menghentikan niat pelaku-pelaku baru lainnnya.

Banyak peradilan kasus miras ilegal hanya menghasilkan keputusan yang menghukum para pelaku sangat ringan. Penjual miras di Cirebon, misal, hanya dihukum 1 bulan penjara saja. Di Bojonegoro, contoh lain, penjual miras tanpa izin hanya didenda Rp200 ribu saja. Pengedar miras oplosan di Majalengka, contoh lain lagi, hanya diganjar 11 bulan penjara.

Bahkan konsumen yang terpergok melakukan pesta miras dihukum jauh lebih ringan lagi. DI Surabaya, contohnya, mereka yang terlibat kasus seperti itu hanya didenda Rp100 ribu saja.

Perlu dipertimbangkan untuk mengenakan tuntutan yang lebih serius bahkan kepada konsumen miras ilegal itu sendiri. Sebab, di beberapa kasus keracunan miras, pengoplosan miras justru dilakukan oleh peminumnya sendiri.

Ganjaran yang berat bagi peracik dan penjual miras oplosan memang pernah terjadi juga. Mahkamah Agung pernah mengganjar penjual miras dengan penjara 10 tahun dalam kasus keracunan miras yang mematikan banyak korban.

Efek jera harus sungguh menjadi fokus bagi aparat hukum dalam merancang kosntruksi hukum dalam menangani kasus-kasus miras ilegal.

Selebihnya, di luar pendekatan hukum, pemerintah juga harus tanggap dengan faktor-faktor psiko sosial yang mendorong dan memotivasi warga untuk mengonsumsi miras. Respons yang tepat harus disiapkan dengan baik.

Tak ada yang menginginkan korban baru yang mati sia-sia dalam kasus keracunan miras. Saatnya untuk sungguh-sungguh menghentikannya.
Menanti kesungguhan memberantas miras oplosan


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...-miras-oplosan

---

Baca juga dari kategori EDITORIAL :

- Menanti kesungguhan memberantas miras oplosan Tsunami pers, dunia ilmiah, dan polisi

- Menanti kesungguhan memberantas miras oplosan Hantu inflasi dan kebijakan populis BBM

- Menanti kesungguhan memberantas miras oplosan Ujaran kebencian di antara narasi polisi dan vonis pengadilan

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di