alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Tribunnews.com /
Pengamat: Deklarasi Gerindra Saat Elektabilitas Prabowo Tak Kunjung Naik
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acf1aa1dcd7709a738b456a/pengamat-deklarasi-gerindra-saat-elektabilitas-prabowo-tak-kunjung-naik

Pengamat: Deklarasi Gerindra Saat Elektabilitas Prabowo Tak Kunjung Naik

Pengamat: Deklarasi Gerindra Saat Elektabilitas Prabowo Tak Kunjung Naik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keputusan Partai Gerindra mengusung ketua umum partainya, Prabowo Subianto, sebagai bakal calon presiden (capres) 2019 mendapat reaksi beragam.

Paling tidak menurut Pengamat Politik Ray Rangkuti, deklarasi pengusungan Prabowo sebagai Capres dilakukan Gerindra saat elektabilitasnya yang masih relatif rendah.

"Pada elektabilitas Prabowo sendiri yang nampaknya belum jauh beranjak dari angka 25%. Padahal, setidaknya sudah ada tiga partai yang mendukungnya, tapi, elektabilitas tak jua naik," ujar Ray Rangkuti kepada Tribunnews.com, Kamis (12/4/2018).

Di saat yang sama, imbuh dia, serangan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan nuansa negatif, makin tinggi intensitasnya. Namun suara Jokowi tidak turun, malah merambat naik. Sebaliknya, menurutnya, Prabowo statis dan punya kecenderungan malah turun.

Belum selesai disitu saja, calon pendamping Prabowo juga belum terlihat ada yang menarik.

Bahkan hampir semua nama yang digadang-gadang menjadi cawapres Prabowo adalah mereka yang umumnya mengail suara pemilih Prabowo sendiri.

Karena itu, jika tetap dipasangkan, kemungkinan pertambahan suaranya tidak akan naik signifikan.

Lebih jauh Ray melihat figur yang kemungkinan besar akan banyak membantu naiknya suara Prabowo ada pada Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pemilu Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pun Ketua Umum Partai kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

Tapi, disisi lain dia melihat Muhaimin sudah menyatakan diri melamar menjadi cawapres Jokowi.
Sementara AHY adalah pigur militer, profesi yang sama dengan Prabowo.

"Dan tentunya, penerimaan partai koalisi atasnya masih tanda tanya," jelasnya.

Sekalipun, jika seandainya Prabowo menjadi king maker, dia memberikan catatan, perolehan suara pasangan yang akan diusung, tidak akan melonjak jauh dari angka 25% tersebut.

"Inilah masalahnya. Maju sendiri terlihat statis. Tapi jika tiket diserahkan pada yang lain, juga tak akan banyak perubahan," demikian catatan Ray.

Oleh karena itu, dia menduga, pencapresan Prabowo ini akan berpeluang dievaluasi oleh koalisi. Setidaknya dalam 2 atau 3 minggu ke depan.

Kemungkinan menurutnya, untuk benar-benar mengusungnya atau membuka opsi jadi king maker.

"Jika setelah penyerahan mandat Partai Gerindra ini tidak ada pergerakan kenaikan suara yang signifikan bagi Prabowo, rasanya akan jadi alasan yang kuat bagi khususnya PKS dan PAN untuk meminta dilakukannya evaluasi yang kuat," jelasnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon optimistis elektabilitas Prabowo akan meningkat setelah deklarasi sebagai capres di 2019.

"Strateginya nantilah ketika ditetapkan sebagai calon, kami akan genjot komunikasi dan sebagainya. Saya kira, lihat saja nanti ketika Pak Prabowo sudah dideklarasikan pasti elektabilitasnya langsung naik," katanya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (12/3/2018).

Berdasarkan survei sejumlah lembaga, Jokowi sebagai petahana saat ini memiliki elektabilitas tertinggi. Prabowo berada di urutan kedua.

Sementara tokoh lain belum ada yang mendapatkan elektabilitas sampai dua digit.

Hasil survei Populi Center terkait bursa pemilihan Presiden 2019, elektabilitas Presiden Joko Widodo masih unggul atas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Secara top of mind, elektabilitas Jokowi berada pada angka 52,8 persen.

Kemudian Prabowo sebesar 15,4 persen.

"Tren dari empat survei terakhir, Jokowi masih berkutat di angka 50 persenan," kata Peneliti Populi Center Hartanto Rosojati di kantornya, Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Hartanto menjelaskan, hasil survei justru menunjukkan elektabilitas keduanya cenderung menurun. Pada Desember 2017, elektabilitas Jokowi berada pada angka 54,9 persen.

Sedangkan Prabowo 18,9 persen. Selain itu, elektabilitas Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sebesar 0,9 persen, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo 0,7 persen.

Tokoh lain, Agus Harimurti Yudhoyono 0,7 persen, Wakil Presiden Jusuf Kalla 0,5 persen, mantan Presiden RI ke-3 Baharuddin Jusuf Habibie 0,4 persen.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok 0,4 persen, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri 0,3 persen, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD 0,3 persen.(*)


Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2...k-kunjung-naik

---

Baca Juga :

- PPP Minta PKB Kon‎kritkan Dukungan Kepada Jokowi Ketimbang Gembar-gembor Cawapres Jokowi

- Menimbang Prabowo-TGB

- Belum Tentukan Pilihan, PAN Gagas Koalisi Nasional

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di