alexa-tracking

Kyai Ra Lilur Wafat, Ribuan Pelayat Mengantar Jenazah Tanpa Pakai Alas Kaki

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ace0c1d902cfeba248b456c/kyai-ra-lilur-wafat-ribuan-pelayat-mengantar-jenazah-tanpa-pakai-alas-kaki
Kyai Ra Lilur Wafat, Ribuan Pelayat Mengantar Jenazah Tanpa Pakai Alas Kaki
Kyai Ra Lilur Wafat, Ribuan Pelayat Mengantar Jenazah Tanpa Pakai Alas Kaki

TRIBUNNEWS.COM, BANGKALAN - Duka menyelimuti langit Kabupaten Bangkalan.

Sosok kiai dengan keistimewaan kasyaf luar biasa, KH Kholilurrahman (Ra Lilur) meninggal dunia di kediamannya, Desa Banjar Kecamatan Galis, Selasa (10/4/2018) sekitar pukul 22.00 WIB.

Pekikan kalimat Tauhid 'Laa Ilaaha Illallah' terus berkumandang begitu jenazah Ra Lilur mulai diangkat dari kediaman putranya, Ra Bir Aly di Jalan KH Moch Cholil III Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota, Rabu (11/4/2018) pukul 11.00.

Kendati matahari berada tepat di atas ubun-ubun, namun tak menyurutkan langkah ribuan santri, alumni, dan masyarakat berjalan kaki sejauh 3 kilometer.

Bahkan sebagian dari mereka nampak berjalan tanpa alas kaki, saling berebut mengangkat ataupun sekedar mendekat ke keranda yang membawa Ra Lilur.

Almarhum disalatkan di Masjid Syaichona Cholil sebelum dikebumikan di samping makam Syaichona Cholil.

Ra Lilur merupakan cicit dari ulama besar KH Syaichona Cholil (Mbah Cholil). Ia merupakan putra bungsu dari pasangan Raden KH Zahrowi dan Nyai Romlah.

Wafatnya Ra Lilur melengkapi kepergian para kiai sepuh lainnya di Bangkalan. Seperti KH Fathurrozi, KH Abdullah Schal, dan KH Kholil AG. Ketiganya adalah kakak kandung Ra Lilur.

"Beliau bisa dikatakan sebagai penyambung isyarat. Setiap ada peristiwa apapun, warga menunggu isyarat-isyarat dari beliau," ungkap Ketua PCNU Kabupaten Bangkalan, KH Makki Nasir ketika ditemui Surya di kediaman Ra Bir Aly.

Isyarat yang dimaksud KH Makki Nasir adalah sebuah jawaban atas persoalan-persoalan yang rumit diselesaikan secara rasional.

"Betul, beliau pernah membakar pondok (Ponpes Syaichona Cholil). Tapi saya lupa tahun kejadiannya," pungkasnya.

Pembakaran ponpes yang diasuh kakaknya, H Abdullah Schal itu merupakan salah satu dari sekian banyak perilaku 'jadzab' (tampaknya sifat-sifat ilahi) dan karamah dalam diri Ra Lilur.

Karamah dalam terminologi ulama ilmu tauhid adalah suatu kejadian luar biasa di luar nalar dan kemampuan manusia awam yang terjadi pada diri seorang Wali Allah.

Karamah Ra Lilur juga disampaikan Subur (40), warga Desa/Kecamatan Sepuluh. Ia turut mengantarkan jenazah Ra Lilur ke Pesarean Syaichona Cholil.

Subur menceritakan, Ra Lilur pernah tertangkap jaring nelayan saat mencari ikan di perairan Desa Tengket Kecamatan Sepulu.

Nelayan mengira dapat ikan besar karena jaring terasa berat. Ternyata ada Ra Lilur di dalam jaring.

"Beliau sehat saat itu, bukan tenggelam di laut. Belakangan, nelayan itu sering mendapatkan banyak ikan," ujarnya.

Ada pula karamah lainnya tentang seorang warga yang sowan ke Ra Lilur karena kehilangan sapinya. Warga tersebut berharap sapinya kembali.

Ra Lilur malah memberikan sebuah pil lalu menyuruhnya minum. Dalam perjalanan pulang, warga itu pun sakit perut dan buang air di sungai.

Cerita itu diterima Surya ketika menemui Ra Bir Aly di kediamannya.

"Di sungai itulah, warga itu melihat sapi miliknya ditambatkan ke sebuah pohon," ungkap seorang pria yang berada di samping Ra Bir Aly.

Ra Bir Aly merupakan putra tunggal Ra Lilur. Ia menerima kabar bahwa abahnya telah meninggal dari H Mus, seorang santri yang selalu mendampingi Ra Lilur.

Ra Bir Aly yang malam itu tengah berada di Jakarta, lantas meminta kakak sepupunya, KH Imam Buchori Cholil untuk datang ke rumah Ra Lilur.

"Dua hari sebelum ke Jakarta, saya sempat menemui abah. Beliau sehat dan menemui sejumlah tamu," kenangnya.

Kondisi terakhir yang diterima Ra Bir Aly, almarhum berpamitan tidur dan meminta ke H Mus menyelimuti tubuhnya.

"Pukul 21.00 abah belum bangun, ketika 21.30 diperiksa, sudah meninggal," tuturnya.

Komunikasi dengan Ra Lilur, diakui Ra Bir tidak dilakukan secara langsung. Melainkan dengan isyarat-isyarat. Bahkan, Ra Lilur belakangan ini tidak pernah datang ke kediaman Bir Aly.

"Entah jika (datang) secara dzahir. Abah sudah sangat tidak mengenal duniawi. Tidak tahu harta benda apapun, abah sangat sederhana," pungkasnya.

Di kediaman Ra Bir Aly, para pelayat silih berganti mengucapkan belasungkawa atas wafatnya Ra Lilur. Di depan pagar, berjejer sejumlah karangan bunga sebagai ungkapan duka cinta.

Di antaranya dari Ketua Komisi II DPR RI Zainudin Amali, mantan Kapolres Bangkalan yang kini menjabat Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha, Kapolres Bangkalan AKBP Bobi Paludin Tambunan, dan Kasatlantas Polres Bangkalan AKP Inggit Prasetyanto. (Ahmad Faisol)

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Kiai Lilur Bangkalan Wafat, Ribuan Orang Antar Jenazah ke Pemakaman Tanpa Alas Kaki,


Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2...akai-alas-kaki

---

Baca Juga :

- Cak Imin Memperoleh Mandat Ulama dan Kyai se-Lampung Maju Pilpres

- Cak Imin Dapat Mandat Politik Kyai NU Jakarta, PKB Ucapkan Terima Kasih

×