alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Hujan tak pernah membenci awan yang menjatuhkannya
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acd879bd9d770f04c8b4567/hujan-tak-pernah-membenci-awan-yang-menjatuhkannya

Hujan tak pernah membenci awan yang menjatuhkannya

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dan setiap tetes hujan yang turun dari langit tak pernah membenci awan. Akan kah ku mampu seperti mereka? Sanggupkah ku tak membenci keadaan yang tengah ku hadapi. Tuhan akankah ku kuat dengan semua beban ini??
Berat semakin berat beban yang ku pikul, aku hampir menyerah untuk menjalani ini semua. Sering kali ku merasa berada pada titik keputusasaan, beribu kali setan membisikkan jalan sesat, tapi berkat Ibu aku bisa bertahan dan berdiri hingga saat ini. Dan setiap saat ku hampir menyerah Tuhan seakan menyemangati ku. Tapi apakah aku akan seperti ini hingga ujung usiaku?? Tuhan mengapa harus aku…???
Berkali – kali aku berpikir Tuhan tidak pernah adil untuk hidupku, kenapa hanya aku yang mempunyai masalah bertubi – tubi, sedangkan orang disekelilingku hidup dengan penuh canda tawa tanpa air mata. Mereka hidup dibawah rumah nan megah, keluarga yang lengkap, dan harta yang melimpah seakan kesedihan tiada pernah mendekali mereka. Tapi aku, jika dibandingkan dengan mereka aku hanya sebagai debu yang menempel di sepatu mereka. Yang akan terlepas jika mereka menghentakkan kakinya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Nadirah Agustin, lahir di Jakarta tanggal 21 Agustus 1989. Aku menunduk memperkenalkan diri dihadapan belasan senior. Hari ini hari pertama ku sebagai seorang mahasiswi. Aku tiada menyangka dengan semua hiruk pikuk dan carut marut kehidupan, akhirnya aku bisa menjadi seorang mahasiswi. Ini sungguh diluar dugaan ku, siapa menyangka anak seorang kuli lem lemek sepatu bisa mencicipi bangku perkuliahan.

Hari ini aku mendapatkan pelajaran baru tentang hidup, kita tidak bisa menjadi dukun bagi diri sendiri ataupun orang lain. Karena masa depan takkan ada satu orangpun yang tau. Siapa menyangka Chairul Tanjung yang hanya anak petani bisa menjadi Pengusaha sukses dan bahkan sekarang menjadi Mentri Koordinator Bidang Perekonomian, dan bahkan pendiri Disney Island yang dikira orang sebagai orang gila mampu menjadi salah satu orang terkaya didunia. Jadi, masa lalu sesorang bukan cerminan masa depannya.

Aku kuliah disalah satu Universitas Swasta di Kota Padang. Ibu Kota Propinsi yang lumayan ramai. Disini aku memulai cerita hidupku, duduk di bangku kuliah dengan segala kesederhanaan. Pagi itu matahari pagi tak begitu terik, dari kejauahan ada seseorang yang memerhatikan ku dan berjalan mendekati ku. Hey, aku Qiara sapanya mengejutkan lamunanku. Aku mahasiswa tahun ajaran baru, kakak mahasiswa angkatan berapa tanyanya padaku? Oh hey, aku nadirah aku mahasiswa baru juga kita satu angkatan jawabku ramah. Sejak saat itu kami berteman akrab, dan siapa sangka kami satu Fakultas dan satu jurusan.

Aku berusaha hidup senormal hidupnya orang normal, tapi sepandai – pandainya kita menyimpan bau busuk suatu saat pasti akan kecium juga. Aku tipe orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Aku memendam semua rasa dan perasaan yang berkecamuk di kepala dan hatiku semenjak umur 5 tahun. Aku anak broken home, saat usia 4 tahun Ibu dan Ayah ku bercerai. Aku adalah  anak yang tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Malah aku berpikir Ayah itu adalah makhluk jahat yang hanya bisa menyakiti kemudian pergi meninggalkan. Dan sampai sekarang aku baru bertemu ayah setelah aku lulus Sekolah Tingkat Atas.

Aku menjalani hidup seperti kebanyakan teman – teman kuliahku, hanya saja sisi ekonomi yang membuat aku dan mereka berbeda. Mereka tidak perlu memikirkan nanti mau makan apa? Mw bayar foto kopian pakai apa? Gimana caranya beli buku. Karena mereka tinggal bicara ke orang tua dan mereka mendapatkan uang untuk melakukan hal itu semua. Sementara aku, apakah aku sanggup meminta uang kepada Ibu? Ibuku tinggal di Jakarta bersama kakak perempuanku. Ibu bekerja sebagai buruh lem lemek sepatu. Setiap hari ibu mencium bau lem yang menyengat, menundukkan kepala sehingga bahu dan lehernya pegal. Hanya untuk mendapatkan uang Rp 20.000 untuk sekodi sepatu. Apakah setelah melihat kehidupan sehari – hari ibu di Jakarta membuat aku akan sanggup untuk memberitahunya, Ibu aku butuh uang? Rasanya itu sangat tidak etis. Dibandingkan dengan Ibu, fisikku jauh lebih kuat. Aku usia 20 tahun, dimana usia produktif.

Awalnya aku berhemat dengan uang yang ada, makan apa adanya. Tidak perlu mengikuti pergaulan teman – teman kuliahku. Yang setiap siang makan makanan Junk Food yang harganya menurutku selangit. Aku cukup makan tahu, atau telur dadar atau sayur kol. Kurasa itu sudah cukup untuk membuat aku kenyang, karena yang paling penting aku bisa kuliah dan aku bisa membeli perlengakapan kuliah ku. Oh iya aku lupa bercerita kenapa aku bisa kuliah dengan segala keterbatasan ekonomi keluarga. Itu karena aku dapat beasiswa Kuliah Gratis selama nilaiku gak hancur.





Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di