alexa-tracking

Analisis: Fleksibilitas Liverpool Buyarkan Imaji Kesempurnaan City

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acd673a96bde65e638b4569/analisis-fleksibilitas-liverpool-buyarkan-imaji-kesempurnaan-city
Analisis: Fleksibilitas Liverpool Buyarkan Imaji Kesempurnaan City
Analisis: Fleksibilitas Liverpool Buyarkan Imaji Kesempurnaan City

Setelah perayaan gelar juara Premier League-nya tertunda, Manchester City kini juga harus menerima fakta bahwa mereka telah tersisih dari Liga Champions. Dalam dua leg perempat final, tak sekali pun mereka berhasil mengalahkan Liverpool. Usai kalah 0-3 di leg pertama di Anfield pekan lalu, pada Rabu (11/4/2018) dini hari WIB City kembali menelan kekalahan, kali ini dengan skor 1-2. City pun tersingkir dengan agregat mencolok 1-5.

Kekalahan ini jelas tidak ada dalam rencana Pep Guardiola. Dalam imaji sang manajer, City bakal tampil berbeda. Hal itu telah dia indikasikan dari pernyataannnya di konferensi pers dan dari formasi yang dia tampilkan di pertandingan ini.

Pada konferensi pers, Guardiola menekankan dua hal. Pertama, City harus tampil sempurna dan kedua, dia akan mengubah susunan pemain belakang yang sebelumnya kemasukan enam gol dalam dua pertandingan (menghadapi Liverpool di leg pertama dan Manchester United di Premier League). Kedua hal itu diejawantahkannya dengan formasi dasar 3-4-3 yang diterapkan.

Dalam formasi tersebut Guardiola memainkan Nicolas Otamendi, Kyle Walker, dan Aymeric Laporte di lini belakang. Di tengah ada Fernandinho yang menyokong Kevin de Bruyne, David Silva, dan Bernardo Silva. Kemudian, di lini depan ada Gabriel Jesus yang diapit Leroy Sane dan Raheem Sterling.





Dengan formasi ini, Guardiola menghadapi Liverpool yang tampil seperti biasa dengan pakem 4-3-3. Di atas kertas, formasi City itu memang 3-4-3. Namun, pada praktiknya ia bisa dengan mudah bertransformasi menjadi 3-2-4-1. Fernandinho dan De Bruyne bermain sebagai poros, Sterling dan David Silva menyerang half-space, sementara Bernardo Silva dan Sane menusuk dari tepi lapangan.

Dengan transformasi tersebut, City jadi punya keunggulan jumlah pemain, khususnya di lini tengah. Dengan penerapan pressing dan penempatan pemain yang pas, City berniat untuk menguasai bola sesering mungkin sekaligus meningkatkan kans mencetak gol. Setidaknya ide besarnya seperti itu. Namun, pada praktiknya formasi ini justru menjadi kuburan bagi serangan-serangan City.

City sebenarnya mampu mencetak gol cepat lewat Jesus pada menit kedua. Gol itu sendiri lahir dari pressing terhadap Dejan Lovren dan Virgil van Dijk. Keberadaan Jesus yang menekan Lovren dan Sterling yang menekan Van Dijk membuat Karius kebingungan saat berniat untuk mengoper bola. Sadar bahwa opsinya terbatas, Karius memutuskan untuk memberikan bola kepada Van Dijk yang memang lebih piawai melindungi bola.

Pilihan itu terbukti salah karena Sterling kemudian mampu memaksa Van Dijk berbuat kesalahan. Di bawah tekanan Sterling, Van Dijk berniat untuk mengirim bola jauh ke depan, tetapi bola justru jatuh ke kaki Fernandinho. Gelandang asal Brasil itu kemudian memberi bola kepada Sterling yang sudah berada di posisi semula. Sterling menyodorkan bola kepada Jesus dan Jesus kemudian membobol gawang Karius.

Gol tersebut memang lahir dari pressing yang memang jadi ciri khas permainan tim Guardiola. Akan tetapi, ia tetap tidak menunjukkan keberhasilan penerapan formasi tadi. Kesalahan individual pemain Liverpool-lah yang kemudian jadi musabab terciptanya gol cepat itu.





Pada babak pertama City memang punya dua peluang emas lagi untuk mencetak gol. Pertama, saat tendangan Bernardo Silva membentur tiang dan kedua, saat gol Sane pada pengujung babak dianulir. Walau demikian, dua peluang ini tidak lahir dari ide bermain formasi 3-2-4-1 tadi.

Peluang Bernardo Silva lahir berkat aksi individual pemain asal Portugal tersebut. Sementara, gol Sane yang dianulir berasal dari sebuah umpan lambung yang menciptakan kemelut di kotak penalti.

Lebih dari itu, tak sekali pun ide utama Guardiola itu bekerja. Dengan memainkan formasi tadi, ide besar menguasai bola sebanyak-banyaknya memang berhasil diwujudkan. Pada babak pertama City memang nyaris tak memberi kesempatan sedikit pun bagi Liverpool untuk bernapas. Saat Liverpool menyerang, mereka bisa membuat area permainan jadi demikian kecil, tetapi saat mereka menyerang, para pemain City bisa memanipulasi ruang jadi begitu besar.

Walau demikian, Liverpool merespons dengan baik. Para pemain The Reds kemudian merespons dengan melindungi area tengah kotak penalti dan di depan kotak penalti. Tujuannya adalah untuk menggiring serangan-serangan City ke area sayap. Ini mirip dengan apa yang dilakukan Jose Mourinho di Internazionale dulu saat menyingkirkan Barcelona-nya Guardiola di Liga Champions.

Cara ini pun manjur karena City praktis jadi tak punya opsi. Ketika umpan silang atas digunakan, tak ada pemain jangkung yang bisa menyambut. Lalu, ketika yang dilepaskan adalah umpan tarik, para pemain Liverpool selalu sudah siap melakukan sapuan.





Hal inilah yang terjadi kepada City nyaris di sepanjang laga. Sialnya lagi, City harus kehilangan Guardiola di pertengahan babak lantaran melancarkan protes keras kepada wasit Antonio Mateu Lahoz. Hasilnya, tak ada perubahan taktikal berarti yang dilakukan City untuk mengatasi situasi.

Kalaupun ada perubahan taktikal, itu hanyalah ketika Mikel Arteta --asisten Guardiola-- memasukkan Sergio Aguero untuk menggantikan David Silva pada pertengahan babak kedua. Formasi City di sini pun berubah jadi 3-3-4. Akan tetapi, formasi ini justru membuat penampilan City jadi makin monoton. Mereka jadi makin tergantung dengan serangan sayap karena kehilangan seorang pemain kreatif di tengah.

Celakanya lagi bagi City, Liverpool kemudian melakukan apa yang dilakukan Manchester United di Premier League. Dalam 10 menit pertama babak kedua, mereka berani tampil lebih proaktif. Trio gelandang mereka, Gini Wijnaldum, Alex Oxlade-Chamberlain, dan James Milner, lebih berani menguasai bola.

Hal itu, ditambah perubahan komposisi lini depan --Mo Salah bermain di tengah, Bobby Firmino di kiri, dan Sadio Mane di kanan--, membuat serangan Liverpool menjadi lebih lancar. Keberadaan Mane yang bermain lebih ke dalam membuat perhatian lini belakang City sedikit terpecah dan di saat yang bersamaan, Salah jadi sedikit lebih leluasa.

Mane pun punya kontribusi besar dalam terciptanya gol pertama Liverpool. Pergerakannya sebelum dan setelah menerima umpan Salah membuat bola bisa masuk dengan mudah ke kotak penalti City. Meski Mane akhirnya gagal mencetak gol, lagi-lagi dia berhasil menarik perhatian bek City dan membuat Salah bisa dengan leluasa memberikan dukungan. Salah akhirnya mencetak gol setelah memanfaatkan bola liar hasil penetrasi Mane tadi.





Setelah gol itu sebenarnya Liverpool memilih untuk bermain bertahan. Di situasi seperti itu, Liverpool sebenarnya sudah punya cukup gol untuk lolos ke semifinal. Akan tetapi, dengan tugas menyerang dan menyerang, City justru membuat kesalahan di lini belakang.

Adalah Walker yang melakukan blunder saat bola di kakinya berhasil dicuri Firmino. Striker Tim Nasional Brasil itu kemudian mendribel bola ke kotak penalti sebelum melepas tembakan mendatar ke gawang Ederson Moraes. Dari situ, perlawanan City praktis tamat.

Gol Firmino itu tercipta pada menit ke-77 dan di sisa menit yang ada para pemain City terus saja bertahan dengan cara bermainnya yang monoton tadi. Dengan sistem pertahanan dua bank-of-four, Liverpool berhasil menetralisir serangan-serangan City dengan mudah. Persis pada babak pertama, City tetap tidak punya opsi sama sekali untuk mengarahkan bola dengan nyaman kepada para penyerang tengahnya.

Laga ini menunjukkan dua hal. Pertama, Guardiola masih punya masalah dengan Rencana B. Ketika Rencana A gagal, Rencana B yang diterapkan Guardiola adalah 'terus upayakan Rencana A sampai berhasil'. Pada laga ini, 'Rencana B' ala Guardiola itu terbukti gagal.

Kedua, ini menunjukkan bahwa Liverpool punya fleksibilitas lebih bagus. Ketika diminta bermain dengan heavy metal football ala Juergen Klopp, mereka sanggup. Ketika harus bermain bertahan lebih ke dalam dan memanfaatkan celah sekecil mungkin untuk mencetak gol, mereka juga berhasil. Fleksibilitas ini bisa menjadi modal berharga bagi Liverpool di babak berikutnya.





Sumber : https://kumparan.com/@kumparanbola/a...empurnaan-city

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Analisis: Fleksibilitas Liverpool Buyarkan Imaji Kesempurnaan City Analisis: Fleksibilitas Liverpool Buyarkan Imaji Kesempurnaan City

- Analisis: Fleksibilitas Liverpool Buyarkan Imaji Kesempurnaan City Sejumput Catatan dari Gemilangya Penampilan Roma

- Analisis: Fleksibilitas Liverpool Buyarkan Imaji Kesempurnaan City Laga Melawan Roma Bisa Jadi Laga Terakhir Iniesta

YNWAemoticon-Traveller