alexa-tracking

Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acd50d3dcd770415f8b4567/demokrat-dan-pan-kompak-bantah-dukung-jokowi-di-pilpres-2019
Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019
Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019
Demokrat berencana untuk mengusung capres dan cawapres dari internal mereka.
Selasa 10/4/2018, 16.52 WIB


Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019Sejumlah pengurus partai politik menghadiri pengundian nomor urut partai politik peserta pemilu 2019 di Gedung KPU, Jakarta, Minggu (18/2/2018). ANTARA FOTO/RENO ESNIR

Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) membantah telah merapat ke kubu koalisi pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019. Keduanya masih terus melakukan perhitungan dan menunggu momen yang tepat untuk mendeklarasikan arah politiknya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Demokrat Didik Mukriyanto mengatakan, partainya belum berpikir untuk berkoalisi dengan kubu pendukung Jokowi. "Apalagi bicara koalisi ke mana, dukung ke mana, termasuk dukung Pak Jokowi," kata Didik ketika dihubungi Katadata.co.id, Selasa (10/4).


Demokrat masih terus berkomunikasi dengan berbagai partai sebagai strategi persiapan Pilpres 2019. Salah satunya lewat berbagai kunjungan yang dilakukan oleh Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pilkada dan Pilpres Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Menurut Didik, jika strategi tersebut berhasil, Demokrat berencana untuk mengusung calon dari internal mereka. "Kami juga berkeinginan untuk mengusung capres-cawapres dari kader kami, dari pasangan yang kami usung sendiri," kata Didik.


Dalam Rapat Pimpinan Nasional Demokrat di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3/2018), Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum mengumumkan arah Pilpres 2019. Namun, SBY menunjukkan hubungan yang mesra kepada Jokowi. 


Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PAN Soni Sumarsono mengatakan partainya saat ini masih menunggu Rapat Kerja Nasional untuk bisa menentukan arah dukungan pada Pilpres 2019. Karenanya, PAN saat ini masih membuka komunikasi dengan berbagai partai politik dalam Pilpres 2019.


Rencananya PAN akan menggelar Rakernas sekitar Mei, yang melibatkan pengurus mulai dari tingkat daerah, wilayah hingga pusat. "Nanti keputusan akhirnya diputuskan di forum Rakernas," kata Soni.


PAN dalam Rapat Kerja Nasional ke-3 di Bandung pada 21-23 Agustus 2017 menyebutkan tiga capres yang kemungkinan didukung saat Pilpres 2019, yakni Jokowi, Ketua Umum Prabowo Subianto dan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Sebelumnya, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto menyatakan akan ada partai baru yang bergabung dengan koalisi mendukung Jokowi. Partai baru yang akan bergabung memiliki warna partai biru, yang menjadi ciri khas Demokrat dan PAN.


Airlangga tak menjawab secara lugas partai mana yang akan bergabung, namun dia memberikan petunjuk tentang partai tersebut. "Warnanya ya, baju saya warna apa (biru)," kata Airlangga menunjuk pakaian yang dia kenakan.


Sebelum Airlangga, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rohamurmuziy mengatakan ada dua partai yang akan bergabung mendukung Jokowi dalam waktu dekat.


Saat ini, Jokowi mendapat dukungan tujuh partai, yakni PDI Perjuangan, Partai Golkar, PPP, Partai NasDem, Partai Hanura, Partai Perindo, serta Partai Solidaritas Indonesia. Selain Jokowi, belum ada deklarasi dari capres lainnya.

https://katadata.co.id/berita/2018/0...i-pilpres-2019


Menarik! Paparan Yusril soal Skenario Pilpres 2019

SELASA, 10 APR 2018 09:26




Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019
Presiden Joko Widodo ketika bertandang ke kediaman Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, belum lama ini. Yusril menyebut Prabowo sebagai kunci dalam Pilpres 2019 mendatang (Miftahul Hayat/Jawa Pos)

JawaPos.com - Jumlah pasangan calon (paslon) yang akan bertarung di pemilihan presiden (pilpres) 2019 masih menjadi misteri. Entah itu dua, tiga, atau bahkan hanya paslon tunggal.

Sejauh ini baru Joko Widodo (Jokowi) yang mendeklarasikan diri. Sementara kompetitornya di Pilpres 2014, Prabowo Subianto, masih maju-mundur.

Menurut Ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra, Pilpres 2019 idealnya tiga paslon. Di sisi lain, dia tidak setuju jika hanya muncul calon tunggal.


Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019

Ketua Umum Partai Bulang Bintang, Yusril Ihza Mahendra (Dok.Jawapos)

"Idealnya sih lebih dari satu pasang, bisa dua pasang, maksimum tiga pasang," ungkap Yusril di kantor DPP PBB, Jalan Raya Pasar Minggu, Senin (9/4).

Mantan Menteri Sekretaris Negera (Mensesneg) tersebut menjelaskan, saat ini yang memegang kunci terkait munculnya calon lain adalah Prabowo Subianto.


Dia menilai keputusan maju atau tidaknya mantan Danjen Kopassus tersebut akan sangat memengaruhi peta Pilpres 2019, khusunya bagi Partai Demokrat.


Yusril meprediksi jika Prabowo mencalonkan diri sebagai capres, maka Demokrat akan bergabung dengan koalisi partai pendukung Jokowi.


"Kalau Pak Prabowo maju, mungkin Pak SBY tidak bergerak ke pihak sana (Prabowo), tapi ke pihak sebelah (Jokowi), ini perkiraan," lanjut Yusril.


Sementara jika Prabowo urung bertarung, maka hal ini akan mendorong partai di luar koalisi untuk memunculkan figur baru.


"Jadi nanti akan ditentukan siapa yang secara elektabilitas paling memungkinkan untuk bersaing dalam Pilpres," pungkas Yusril.

https://www.jawapos.com/read/2018/04/10/203107/menarik-paparan-yusril-soal-skenario-pilpres-2019


---------------------------------

Siapapun yang maju, Jokowi atau Prabowo,  atau ada pasangan ketiga dari Demomkrat (SBY), mereka  tetap harus mengusung tokoh Islam sebagai wakilnya atau cawapresnya, entah itu Muhaimin, TGB, Machfud MD, Yusril  atau bahkan Anis Matta atau Anies Baswedan. Sebab, tanpa mereka ini, suara umat muslim belum terwakili. Dulu, suara mereka masuk dan terkumpul di JK. Tapi kini harus ada penggantinya.

emoticon-Ultah
Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019
kalau saja ga melanggar hukum,
gw pengen banget nabokin mukanya hasto si sekjen pdipnjing emoticon-Najis
mukanya JOTOSABLE banget emoticon-Najis

padahal dia ga ada salah apa apa ama gue emoticon-Big Grin
tapi ya gimana ya?
mukanya sengak abis emoticon-Big Grin


sama kayak artis ini emoticon-Big Grin
Spoiler for ini:


pernah mau gw lempar sandal pas manggung di galeria jogja emoticon-Big Grin
untung di tahan ama mantan gw emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
NASTAK kebanyakan bukan orang muslim atau orang muslim tapi ilmu agamanya minimalis sehingga seenak perutnya saja dalam menafsirkan kata GANJIL dalam hadits yang dikutipnya. Cobalah baca tafsir makna kata "GANJIL"dibawah ini ...ternyata yang dimaksudkan dengan GANJIL dalam hadits nabis saw itu adalah "Sholat Witir"... Tahu anda apa itu sholat witir? Kalau Nastak non-muslim pastilah nggak bakalan ngerti!

Quote:


Makna Hadis “Allah Menyukai Witir”


Kalimat “Allah menyukai witir” (يحب الوتر) diucapkan oleh Rasulullah dalam dua konteks–paling tidak yang saya ketahui.

Yang pertama adalah dalam konteks shalat witir.

إن الله وتر يحب الوتر فأوتروا يا أهل القرآن
“Sesungguhnya Allah itu witir (“fard”, “one and only”). Allah menyukai witir. Maka, kerjakanlah shalat witir, wahai ahlul quran (kaum mukmin)” (HR. Tirmidzi).

Makna kalimat يحب الوتر (menyukai witir) dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi itu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi (syarah kitab Jami’ al-Tirmidzi) adalah يثيب عليه ويقبله من عامله atau kurang-lebih artinya “Allah akan membalas-kebaikan atas witir dan akan menerima witir itu dari orang yang menjalankannya”.

Dari penjelasan dalam kitab syarah itu, makna yang paling masuk akal untuk kata الوتر (witir) dalam kalimat يحب الوتر (menyukai witir) adalah “shalat witir”, bukan “bilangan ganjil”. Apalagi kalimat berikutnya adalah tentang seruan menjalankan shalat witir.

Maka, pemahaman hadis di atas–الله ورسوله اعلم–adalah “Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya. Allah menyukai shalat witir. Maka, kerjakanlah shalat witir, wahai ahlul quran (orang-orang beriman)”.

Yang kedua, Rasulullah menyampaikan “Allah menyukai witir” (يحب الوتر) dalam konteks penjelasan tentang Asmaul Husna, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

لله تسعة وتسعون اسما مائة إلا واحدا لا يحفظها أحد إلا دخل الجنة وهو وتر يحب الوتر
“Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Orang yang mampu ‘menjaganya’ akan masuk ke surga. Allah itu satu-satunya. Allah menyukai ‘witir’.”

Nah, dalam hadis inilah الوتر dalam kalimat يحب الوتر (menyukai witir) bisa bermakna “bilangan ganjil” (lawan kata “genap”).

Hal itu sebagaimana penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Menurut mereka, perihal Allah menyukai bilangan ganjil bisa dimengerti dari beberapa pensyariatan ibadah atau penciptaan makhluk yang memiliki unsur bilangan ganjil. Shalat wajib ada lima waktu, thawaf ada tujuh putaran, sa’i dilakukan tujuh kali, lemparan jamrah dilakukan tujuh kali, hari tasyrik berlangsung tiga hari berturut-turut, seminggu ada tujuh hari, langit diciptakan tujuh tingkatan, dan lain-lain.

Pemaparan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi tersebut adalah “penjelasan isyarat” dari makna “Allah menyukai bilangan ganjil”, bukan penjasan yang deskriptif. Boleh saja menjelaskan sebuah makna tertentu dengan “penjelasan isyarat” asal memiliki unsur-unsur kebenaran dalam dirinya.

Maksud “penjelasan isyarat” adalah ketika, misal, Anda membayangkan bertanya kepada kepada al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi tentang arti kalimat “Allah menyukai bilangan ganjil”, lalu kedua tokoh kita itu menjawab, “Arti kalimat ‘Allah menyukai bilangan ganjil’ adalah … itu lho … lihat, ibadah yang Allah syariatkan: shalat wajib ada lima waktu, thawaf ada tujuh putaran, tasyrik ada tiga hari, dan lain-lain. Itulah arti dan tanda Allah memyukai bilangan ganjil.”

“Penjelasan isyarat” seperti itu sah-sah saja, dengan catatan tadi itu: ada unsur-unsur kebenaran di dalamnya. Dalam contoh kasus pemaparan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi adalah benar bahwa shalat fardu adalah syariat Allah, benar bahwa jumlah shalat fardu ada lima yang merupakan bilangan ganjil. Maka, ketika shalat lima waktu digunakan untuk menjelaskan makna “Allah menyukai bilangan witir” maka hal itu benar.

Tapi, kebenaran dalam “penjelasan isyarat” tidak bisa kuat karena tidak “jami’ mani'”. Dalam ilmu mantik, sebuah definisi atau pengertian atau penjasan itu benar dan kuat jika ia “jami’ mani'”.

Lalu, apa penjelasan atau arti yang “jami’ mani'” dari kalimat يحب الوتر (Allah menyukai bilangan ganjil” dalam konteks hadis Asmaul Husna di atas? Hanya Rasulullah sebagai pengucap kalimat sabda itu yang tahu–juga Allah sebagai yang disebut dalam kalimat itu. Kita hanya bisa menakwilkan dan memahami sesuai kemampuan, tentunya dengan penjelasan yang memiliki unsur-unsur kebenaran sehingga penjelasan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Maka, jadi terasa memprihatinkan kala hari-hari ini beredar gambar yang menampilkan hadis syarif, sabda mulia Nabi tentang “Allah menyukai bilangan ganjil”, namun dikaitkan dengan perkara politik, dikaitkan dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019. Digunakan untuk kepentingan politik. Sesuatu yang sama sekali tidak memiliki unsur-unsur kebenaran yang layak dikaitkan dengan kebenaran sabda mulia Nabi tersebut.

Penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi yang memiliki unsur-unsur kebenaran saja belum menjadi penjelasan yang kuat, yang “jami’ mani'”, maka bagaimana Anda akan menjelaskan makna hadis “Allah menyukai bilangan ganjil” kaitannya dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019?! Memiliki unsur-unur kebenaran yang selaras dengan kebenaran sabda Nabi itu saja tidak, apalagi terkait.

Lalu, apa penjelasan paling masuk akal untuk gambar hadis “Allah menyukai bilangan ganjil” yang beredar dan dikaitkan dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019? Tidak lain dan tidak bukan: politisasi sabda Nabi. Sabda Nabi digunakan untuk kepentingan sesaat yang sama sekali tidak terkait. Setelah kepentingan selesai, sabda itu dicampakkan.

Jika politisasi sabda Nabi ini dianggap sepele tapi disebarkan secara masif dan dianggap benar, khawatir saja nanti sabda itu selanjutnya digunakan untuk komodifikasi. Dibisniskan. Digunakan untuk legitimasi jualan. Dari politisasi ke komodifikasi.



Quote:


Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019
Quote:


geng cepirit emas yg memulai duluan dengan MENJUAL AYAT QURAN dengan harga murah untuk hawa napsu kekuasaan emoticon-Embarrassment
terbukti kan? emoticon-Embarrassment


Quote:


sama yus
cuma gw ke yang eneh

Spoiler for ok deh:

bedanya dia banyak salahemoticon-Wakaka

Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019
Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019
Quote:

kalo lu perhatiin post2 gw emoticon-Big Grin
gw GA BERANI menghina PRESIDEN yang sedang menjabat,
ada UU nya emoticon-Takut:
beda ama meganyet emoticon-Stick Out Tongue
dia BUKAN PRESIDEN lagi emoticon-Betty

bahjan si KEBO saat dia menjabat, gw GA PERNAH HINA dia dia emoticon-Big Grin
bagaimanapun, sejelek2nya beye saat itu, tetep aja dia PRESIDEN RI, pemimpin negeri ini emoticon-shakehand:
Quote:


apa bedanya mantan dan bukan mantan menghina tetep aja menghina bisa jadi pencemaran nama baikemoticon-Big Grin
membunuh sama pernah membunuh sama2 pernah membunuhemoticon-Wakaka

yus yus lo kebanyakan makan micin emoticon-Wakaka
Demokrat dan PAN Kompak Bantah Dukung Jokowi di Pilpres 2019
Partai demokrat dari dulu main aman dia....namanya juga partai pragmatis



Quote:


tumben amat sangat bijak....abis makan rawon ya om??? emoticon-Matabelo



Btw,,,,sebenernya nasbung itu peduli ama keadaan negara,sayangnya otaknya nggak nyampe,,,gak bisa bedakan kritik ama menghina.tau sendiri kan om...gimana mereka
jokowi -maruf amin aja

autowin emoticon-Ultah
Quote:


diemin aja yus ... percumah dikasih tahu juga, lagi mabok agama dia ... hatinya dipenuhi kebencian emoticon-Ngakak
menolak sih silahkan, tapi pilihannya siapa..
Quote:


kalo hilmi aminudin gan? atau hidayat nurwahid pks? gimana gan?
kasian nasbung ga punya tokoh emoticon-Wakaka
Jokowi Presiden
Prabowo Wapres
AHY Menteri / or minimal jadi Ketua DPR/MPR

Gw jamin 200%, tahun 2019 nanti aman, damai, tenteram, gak ribut, gak demo, medsos pun sepi emoticon-Ngakak
Quote:


eaaa terguncyank...

minum novichok dulu sana!