KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[TAMAT] The Piece Of Life ( Story About Comedy love)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5accaddb902cfe9d4c8b4572/tamat-the-piece-of-life--story-about-comedy-love

The Piece Of Life ( Story About Comedy love And fist BB17)

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 189 dari 196
Quote:

Ntar gw ingetin ya kalo slamet udah balik
Quote:


Gw juga penasaran gimana reaksi orang2 disana. Ntah ketawa atau lainyaemoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Uga
profile-picture
adhiecoolman memberi reputasi
Quote:


Klo udh balik bilangin

Kurang kurangin kentangnye 😂😂


Quote:


Kalo reaksi kalian (kembar) gimana pas pertama kali?
Wakakakakakkkk parah si piki
Part 193 Wrong Side of the Track




Gw menangisi Dian, gw menangisinya di ruang ICU! Ini hari ulang tahunnya! Gw menangis sesuai permintaanya. Melihatnya lemas dg alat komputer dg suara yg menyebalkan ini membuat gw mengingat harus membalas perbuatan siapapun yg melakukan hal ini.

" Anak ibu sudah salah! Anak ibu bawa mobil dg kondisi mabuk!" Gw gak mau kalah ganas dari dua orang dungu ini! Terlihat mereka enggan tanggung jawab

" Jangan kurang ajar kamu bocah! Saya laporkan polisi kamu" mereka mencoba menggertak gw

Viki mencoba menahan gw, terpancing dg gertakan sambalnya.

" Silakan ibu lapor polisi! Saya tunggu disini!" Kata gw

Kedua orang itu tampak saling memandang

" Kamu kira saya main main??" Terlihat sedikit keraguan

" Silakan!! Kalo ibu gak ke polisi saat ini juga, saya yg akan lapor balik! Dan saya pastikan bukan anak ibu yg dipenjara! Tapi kalian sekeluarga!" Ancam gw gak main main

" Jangan main main sama saya ya!" Gertakan semakin keras, tapi bagi gw ini bukan masalah

Salah satu petugas datang menghampiri kami yg ribut

" Pak tolong tangkap anak ini karena perbuatan kurang ajar dan tidak menyenangkan" kata 2 orang dungu itu

" Saya pastikan anda akan dipecat dg tidak hormat dan dipermalukan! Anda tau siapa saya!!" Kata gw

" Maaf kami hanya sebagai pihak penengah, semua ini diselesaikan dg cara kekeluargaan" kata petugas itu.

Setelah pedebatan terjadi datanglah ibu gw, Viki ikut ibu gw menyelesaikan urusan di kantor polisi! Kata Viki yg biasanya ibu gw berlaku lembut dan menyenangkan, kini semua hewan dikebun binatang dibawa! Kasar sekali untuk menjatuhkan mental 2 orang itu.
Gw memilih menemani Dian di ICU dg Mbak Riska. Gw terus menunggu hingga Dian sadar dari pengaruh anestesi.
Dia sadar dg memanggil nama gw

" Hei, gw disini" kata gw

Dian meringis kesakitan karena obat bius mulai hilang, hingga dia benar benar berteriak menangis kesakitan. Gw gak atau harus berbuat apa selain menggenggam tangannya dan mengelus rambutnya sedangkan Mbak Riska memanggil perawat. Setelah urusan yg gak gw mengerti, perlahan Dian mulai tenang. Dokter memberi gw Rontgen beberapa titik patah tulang selain tangan kiri dan kaki kanan, yaitu punggung! Ini yg membuat Dian tersiksa dg rasa sakit yg luar biasa.

" Lu pulang aja Vik, udah malam"

" Gw juga khawatir soal Dian"

" Lu pulang aja, sekalian anterin emak gw" kata gw

" Yaudah, gw besok kesini lagi" kata Viki

Malam ini gw dan Mbak Riska menemani Dian, gw sudah meminta Mbak Firda dan Rena juga ikut pulang agar mereka bisa beristirahat dan menemani Dian esok.

" Masih sakit??" Tanya gw menyedot ingus di hidung

" Mendingan, lu kenapa??" Tanya Dian

" Gw gak papa" kata gw mengucek mata

" Lu nangis??"

" Seesuai permintan lu kemarin" kata gw mengeluarkan gelang di saku

Gw memakaikan gelang untuknya,

" Happy birthday, cepat sembuh ya" kata gw tersenyum mengusap rambut dan menggenggam erat tangannya

Gw keluar kamar itu, sepertinya jika semakin membaik maka Dian akan dipindah ke ruang perawatan esok hari. Gw keluar rumah sakit mencoba mencari kopi, kali ini gw mencoba merokok menghilangkan beban pikiran yg sebenarnya gak seberapa! Gw hanya mencoba ingin bergaya.
Tiba tiba Mbak Riska merebut rokok ditangan, menyundut di kaki gw!

" Asw! Panas mbak!" Kata gw

" Lu ngapain ngerokok bego! Gw gak pernah liat lu ngerokok"

"Namanya juga coba coba" kata gw

" Itu gak baik kampret!"

" Btw Airin gimana??" Tanya gw mengalihkan pembicaraan

" Ibu yg bawa" kata Mbak Riska, untunglah anak itu mau sama siapa aja! Apalagi emak gw yg doyan anak kecil itu.

" Tapi rokok itu tetep gak baik!" Mulai lagi ngomelnya!

Gw rada bosan mendengar celotehnya, gw sesekali memainkan ponsel sembari menikmati celotehnya. Gelas kopi gw terasa ringan ketika gw mengangkatnya, tiba tiba kopi ini sudah habis! Perasaan gelas gw gak pecah ataupun bocor!! Gw lihat Mbak Riska cuma nyengir dan habislah kopi gw. Maka gw kembali memesan dalam gelas plastik menemani malam dirumah sakit ini.
Masalah kembali tiba saat malam, Dian kembali tersiksa dan terbangun karena rasa sakit mulai menyerang kembali. Gak ada yg bisa gw lakukan kecuali memanggil perawat, hingga perawat itu pergi Dian masih terlihat kesakitan!
Gw bekep mulutnya yg kedengaran mengganggu! Dan sebuah keplakan dari belakang menyapa kepala

" Lu mau bunuh Dian??" Tanya Mbak Riska

" Gw takut ganggu pasien lain" kata gw

" Pasien lain diruang sebelah!! Gak akan kedengaran!" Kata Mbak Riska lalu kembali keluar, sepertinya dia tidur di kursi luar.

" Jangan kasih tau nenek gw di Jakarta"

" Iya, gw tau yan... Gw juga gak pingin neneklu khawatir"

Gw baru sadar kalau Dian sendirian di ruangan ini.keesokan harinya datanglah Viki Dan Vinna, mereka menggantikan untuk menemani Dian

" Lu berdua berangkat kerja dulu, ntar sore lu kesini lagi" kata Vinna

" Yaudah makasih Vin", kata gw pergi

.gw segera ke bengkel untuk menyelesaikan pekerjaan yg sempat tertunda karena Pesanan sparepart yg terlambat datang. Sore hari gw datang kembali untuk menemaninya

" Gw takut..." Kata Dian ditengah malam

Gw menggenggam tangannya

" Gw takut sampe gak tau harus apa..." Kata Dian

" Gw disini, gw temenin lu sampe kapanpun! Gw janji"

" Gw takut gw gak bisa raih mimpi, gw takut cuma jadi beban, gw takut gak bisa jalan dan lumpuh" kata Dian sedikit terisak

" Jangan terlalu mendramatisir, lu cuma patah tulang" kata gw

" Lu bukan pembohong yg baik" kata Dian

Gw takut apa yg dokter ucapkan menjadi kenyataan, gw takut dirinya hilang semangat juang. Gw berharap itu takkan menjadi kenyataan.

Gw berharap
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh slametfirmansy4
first comment dr gw met... utamakan komen sebelum baca... wkwkwkwkwk
profile-picture
slametfirmansy4 memberi reputasi
emoticon-Takut get well soon dian
lu gila ya met,orang lagi merintih kesakitan pake dibekep mukutnya emoticon-Blue Guy Bata (L)
profile-picture
slametfirmansy4 memberi reputasi
Diubah oleh hayuus
jd pengen nonjok yg nabrak Dian, bukannya tanggung jawab, malah nyolot

emoticon-Ngamukemoticon-Hansip
profile-picture
slametfirmansy4 memberi reputasi
Quote:

Kampret...
Quote:

Baru tau??
Quote:

Yuk lah tonjokin bareng bareng...
profile-picture
profile-picture
seterahgue dan midim7407 memberi reputasi
Syukur, ternyata gk terjadi apa yg gw pikirin
Gw kira part kemarin cuma pengalihan supaya part ini sedihnya lebih terasa. syukur, ternyata gk
-Dih yang nabrak udah salah nyolot lagi greget pengen nabok emoticon-Ngamukemoticon-Ngamuk
-Tega amat lu met ama dian dibekep gitu emoticon-Blue Guy Bata (L)emoticon-Blue Guy Bata (L)
Part 194 Pier 69




" Gw gak mau" kata Dian

" Ini apel impor lho" kata gw dg irisan buah Di tangan

" Gw gak mau!" Kata Dian memalingkan muka

Gw menaruh piring itu, memilih duduk di sofa pengunjung. Bernafas bingung apa yg harus dilakukan. Dian berkali kali mengedipkan mata sambil memandangi kedua kakinya, berlinang air matanya membasahi pipi. Gw mendekat kembali duduk disampingnya

" Lu yg sabar ya..." Kata gw menggenggam erat tangannya

Kini tangis pilunya pecah, menusuk hati gw

" Gw gak akan pernah nyerah" kata gw

" Gw mending mati aja... Kenapa Viki nolong gw kalo gini jadinya!" Kata Dian ketus

" Lu gak pantes ngomong kek gitu, gw temenin lu sampe kapanpun" kata gw meyakinkan

Sejenak Dian memandangi gw, lalu kembali memalingkan wajahnya dan melepas genggaman tangan gw. Sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri, gw keluar untuk menenangkan pikiran sambil menikmati udara tengah malam! Sebatang rokok menthol sengaja gw hisap dalam dalam, 5 batang gw hisap bersamaan karena gw masih panas! Dan rasanya?? Rasanya ingin segera menghapus rokok dari peredaran dunia! Selesai merokok dg mulut membeku karena sensasi menthol yg menusuk, gw segera menuju kamar Dian! Dia sendirian disana karena gw sengaja memilih agar dia tak terganggu dg lainya meskipun banyak kabar burung tentang urban legend disekitaran kamar itu. Perasaan gw sedikit kurang nyaman, gw berjalan cepat menuju kamarnya dan sepertinya perasaan gw gak menipu melihatnya sudah siap mengiris nadi menggunakan pisau buah yg gw tinggal di meja tepat di sebelahnya.

" Mundur!!" Kata Dian agresif

Gw gak bergerak sama sekali,

" Gw gak mau kek gini" kata Dian

" Kita cari jalan keluar sama sama"

" Ini jalan keluarnya!" Kata Dian

" Bukan! Gw mohon... Jangan, tolong pikirkan tentang perasaan gw" kata gw

Dian masih memandangi gw, lalu mengalihkan pada kakinya. Saat itulah gw bergerak mencoba merebut pisau, dia gak kalah cepat mengayunkan pisau itu ke arah gw. Gw bisa menghindar walau lengan gw tersayat. Gw menangkap pisau hampir mengiris pergelangan tangannya.

" Yan, gw mohon" kata gw, dia belum bisa menerima kenyataan ini

" Lepasin gw!" Dia menarik pisau, dan telapak gw teriris mengeluarkan darah segar

Gw meringis perih, Dian kembali mencoba sekali lagi. Dan bodohnya gw kembali menangkap pisau itu! Telapak gw teriris 2X. Masih belum berhasil Dian mencobanya lagi, kini gw menjegal dan berhasil merebut pisau itu lalu melemparkannya. Di tengah malam ini Dian menangis pilu, dia belum bisa menerima kenyataan ini! Kenyataannya dia lumpuh, walau dokter berkata ada kesempatan berjalan kembali, kesempatan itu kecil tapi gw gak akan menyerah untuknya.
Menjelang subuh Dian mulai tenang dari tangisnya, gw kembali mengganti perban untuk diri gw sendiri. Nyeri mulai gw rasakan, pagi itu Vinna dan Rena datang lebih awal untuk menemani Dian tak lupa membawakan gw sarapan. Mau gak mau gw kerja dg menahan nyeri mengendurkan dan mengencangkan baut mur yg menempel!. Gw menutupi luka itu dg lengan panjang.

" Masih nyeri??" Tanya Mbak Riska, dia memaksa melihat luka gw! Begitu juga dg Mbak Firda

Gw sedikit gusar memberi tahu mereka yg sebenarnya, mereka juga bingung menemukan cara untuk mengembalikan semangat Hidup Dian. Malam hari Orang tua si penabrak datang untuk pertama kalinya di kamar ini, muka EGP ditunjukannya. Gw menilai omongan sedikit ngawur dari mereka, ini menghina dg menyerahkan amplop berisi uang begitu saja.

" Udah cuma gini aja??" Tanya gw

" Mau gimana lagi?? Saya juga udah tanggung jawab!"

Pernyataan mengejutkan datang Dari Dian yg meminta agar anak mereka dibebaskan dari tahanan kepolisian. Gw gak mau semudah itu, tapi Dian memaksa gw karna apapun yg terjadi gak akan mengubah apapun. Setelah beberapa perbincangan yg menurut gw membuat otak panas akhirnya mereka pergi. Gw sudah bisa menebak cuma ini tanggung jawab mereka, gw menatap mereka menjauh dari ruangan ini.

" Pikiran kita sejalan, kita akan peras sampai sen terakhir" bisik Viki

" Gw setuju sama lu! Tapi kita harus pikirin caranya!"

" Santai aja!! Itu urusan gw" kata Viki dg senyum busuk

" Ok lah!! Onegaishimasu!" Kata gw menunduk layaknya orang Jepang

" Konnichiwa Suzuki Yamaha!" Viki balas membungkuk

" Kalian mau ngapain??" Tanya mbak Riska

" Melakukan apa yg seharusnya" kata gw

" Jangan..."

" Lu tau apa yg mereka perbuat??" Tanya gw

" Iya mbak, mereka harus diberi pelajaran!" Imbuh Viki

" Mau bantu atau tidak??"

" Gini..." Kata Mbak Riska

" Mau bantu atau enggak??"

" Gini..."

" Mau atau enggak??" Gw menekan Mbak Riska

" Enggak kan?? Gak perlu ganggu" kata gw

Gw keluar untuk mencari kopi, pikiran gw semakin larut dg aksi Dian semalam. Gw kembali merokok 2 batang sekaligus,

" Gak sampe segitu juga kalo stress" kata Viki

Karena rokok sudah mencapai pangkal sedangkan stress belum hilang maka gw kembali menyalakan 5 lagi! Tapi semua itu bohong! Stress gw gak hilang seiring dg menghilangnya asap itu. Gw meminta Viki untuk pulang beristirahat, gw juga berterimakasih karena menemani Dian seharian ini.
Gw kembali memasuki area rumah sakit dg langkah gontai. Gw lihat Mbak Firda yg terlelap di sofa, gw memilih duduk di kursi luar menikmati cracker karena gw lupa akan makan hari ini. Perut gw mules karena kopi gw konsumsi secara berlebih selama Dian di rumah sakit.

" Nyeri ya??" Tanya Mbak Riska memeriksa tangan gw

" Benget" kata gw menikmati sepinya suasana dini hari di rumahsakit ini

" Gw kasihan sama elu! "

" Kok kasihan??" Tanya gw

" Gw kasihan karna lu gak bisa coli! Apalagi ini sembuhnya lama!" Perkataan Mbak Riska menjadi sedikit penghilang stress di kepala gw.

" Yaudah coliin mbak!" Kata gw menggoda

" Boleh!" Kata mbak Riska mendekat, perlahan-lahan dia meraba dada hingga turun mengusik Bobby untuk bangun. Setelah Bobby mulai terangsang, dia meremas Bobby sekuat yg dia bisa!!
Hampir gw berteriak kesakitan karena janda kembang sialan ini! Kampret.




******





Setelah 2 minggu acara dirumah sakit, akhirnya Dian bisa belajar untuk duduk. Perlahan-lahan Dian bisa menerima kenyataan pahit ini dan gw tetap gak akan menyerah akan membuatnya berjalan jika sudah saatnya nanti. Gw melihat X-ray dari dokter yg memberi tahu jika perkembangan Dian sangat pesat. Punggung Dian sudah kembali menyatu seperti semula tanpa bengkok atau hal lainya tapi masih harus hati hati dalam 2 bulan ini. Tinggal menunggu kaki dan tangannya, dan Dian masih belum bisa menggerakkan kakinya bahkan mati rasa ketika gw mencoba menekannya. Gw sebenarnya takut apa yg dikatakan dokter benar adanya, gw menutupinya dg lagu yg sedang populer demi menghiburnya. Hingga Dian diperbolehkan untuk pulang,

" Gw kangen banget sama kosan " kata Dian bersemangat

" Jadi lu mau ke kos??"

" Mau kemana lagi??" Tanya Dian

" Lu gak akan ke kosan! Lu akan pulang ke rumah gw!" Kata gw

" Rumah lu?? Gw gak mau! Gw mau ke kosan!"

" Lu nurut aja! Lagian ibu gw juga seneng kalo lu ke rumah gw, lu dikos siapa yg rawat??" Tanya gw

" Tapi gw malu"

" Ngapain malu?? Gw juga ada kok buat ngerawat elu" Rena menambahi, dia sangat baik kali ini. Gw lihat gak ada rasa cemburu atau hal lainya.

Dian tampak diam, entah apa yg dipikirkan dirinya. Gw segera memasukkan mobil ke garasi, menggendong Dian untuk duduk di kursi rodanya.

" Ini rumah siapa??" Tanya Dian

" Rumah gw lah..." Kata gw,

Dian tampak tak percaya, ketika dia memasukinya maka dia langsung percaya dg apa yg gw katakan. Semenjak gw kerja, rumah ini sering gw tempati sendirian tanpa siapapun. Gw juga meminta Mbak Riska sementara untuk menetap disini, hanya menemani Dian.



*****




Klik!! Klik!!, Klik!! Gw mengencangkan baut silinder dg momen, setelah gw rasa sudah memenuhi standar maka gw mencoba menyalakan mesin ini dan suaranya tampak normal seperti semula. Gw merapikan sampah packing mesin karena ini bukan bengkel melainkan di pinggir warung.

" Ngopi dulu met" ajak si Slamet

Kami sedikit berbincang ringan, hingga Slamet bertanya

" Muka lu kek orang stress" kata Slamet

" Gw ada masalah nih" kata gw memulai pembicaraan

Dari pembicaraan ini gw mendapat pencerahan beberapa hal berkaitan dg medis untuk Dian. Tidak ada salahnya untuk mencoba saran si Slamet. Tiba-tiba dari belakang ada yg merangkul bahu gw, seorang wanita yg menawarkan diri untuk menemani gw. Bukan sebuah aib jika ada warkop yg seperti ini dg istilah short time. Bukan seperti gw, rupanya Slamet memilih untuk menemani wanita itu dan meninggalkan gw yg mencoba menjalankan truck miliknya. Selesai dg truck miliknya gw segera pergi dari warung laknat itu. Membereskan alat lalu pergi kerumah Nadya, entah kenapa dia ingin gw menemuinya.

" Gw makin bangga sama lu, lu berkorban banyak buat orang disekitarlu"

" Namanya manusia wajib saling menolong, apalagi dia temen gw" kata gw

Nadya memberi gw sesuatu, dan ternyata sebuah obat untuk Dian asli dari negri China. Dia tau apa yg Dian alami, Nadya hanya bisa membantu hal ini! Ini lebih dari cukup menurut gw. Semua akan gw coba untuk Dian.

" Gw juga minta tolong, minggu depan temenin gw ke Jogja urusan bisnis dg papa cuma 2 hari kok"

" Iya... Gw temenin" kata gw menyetujui

Ini belum terlalu sore, gw belanja di supermarket untuk kebutuhan sehari hari apalagi kini rumah itu sedikit ramai karena kehadiran Dian ataupun yg lainya. Semenjak hal itu Dian hanya ingin mengonsumsi Roti dan keju atau lainya yg bersifat ringan. Gw segera pulang karena Dian sendirian di rumah itu, sepertinya Mbak Riska juga belum pulang kerja.
Rumah ini tampak sepi, tapi samar gw dengar tangis dari dalam. Gw bergegas menuju asal suara itu. Dian terjatuh dari kursi rodanya, Dian menangis memukuli kedua kakinya.

Dg hati hati gw menggendongnya kembali ke kursi roda, Dia sudah berhenti menangis memilih mengambil air dan mencuci muka. Gw juga sedih melihatnya hilang semangat hidup, gw akan mengembalikan hal itu. Entah sudah berapa lama Dian tinggal disini, berkali kali juga Dian mencoba berdiri tapi tak membuahkan hasil. Dokterpun hanya mengisyaratkan untuk terus menemaninya dan memberi semangat, jangan pernah berhenti berdoa untuk Dian.

Sore ini Dian merenung dibawah jingga senja di halaman belakang dg alunan ayat suci Al Qur'an dari Speaker masjid. Angin sore meniup niup rambut panjang yg digerainya. Gw berlutut didepannya untuk menggenggam tangan dan menyematkan jemari kami.
Setetes air membasahi daster putih yg dikenakannya, bukan Hujan melainkan air mata Dian. Dian menunduk dg terisak, gw memegang kedua pipinya mengarahkan tepat di wajah gw. Mengusap air matanya dg ibu jari lalu memandanginya dg senyum

" Dengerin gw! Gw gak akan ninggalin lu sendirian, gw akan temenin lu sampe kapanpun! Kita saling melengkapi" kata gw

Raut wajahnya kini berubah dg sedikit goresan senyum menghiasi bibirnya. Lu bisa pegang janji gw!
Gw gak akan ingkar!
Ataupun lari!



profile-picture
profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan 17 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Best part met, disini gw bisa ambil kesimpulan kalau lu mau ngelakuin apa aja demi orang yang lu cintai,
Penasaran gimana kelanjutan aksi lu sama Viki terhadap keluarga penabrak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 2 lainnya memberi reputasi
Waah, mba Riska mulai nakal yaah 😁😁😁
profile-picture
slametfirmansy4 memberi reputasi
RIP Bobby.......

Mbk Riska....gue suka cara lo

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan slametfirmansy4 memberi reputasi
Diubah oleh fird1
Wah asik dong si bobby udah dikasih jatah sama mbak riska emoticon-Wkwkwk
profile-picture
slametfirmansy4 memberi reputasi
Quote:

Aksi itu cuma dilakukan viki, yg tau cuma Viki doank. Lainya gatau
Quote:

Iya tuh...
Quote:
gw setuju nih, kalo bisa bobby digeprek

Quote:

Jatah di geprek....
Jadi menu baru dong “bobby geprek”

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
harusnya si boby ga cuman diremes kalau perlu digigit sekalian emoticon-Wakaka
Halaman 189 dari 196
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di