alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
3 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acc90aadac13eeb1b8b4569/indonesia-tanpa-jokowi-kenapa-tidak

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Kamis, 1 Mar, 2018 | 12:59


Pesta demokrasi sebagai sarana menyalurkan aspirasi warga negara sudah dalam hitungan bulan. Pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang akan dilanjutkan dengan pemilihan kepala negara/presiden. Animo masyarakat begitu kuat baik di kantor,  sekolah,  bahkan di pojokan warung kopi dan pos ronda membahas hal ini.


Bapak Jokowi selaku presiden yang berencana akan maju lagi sebagai kontestan calon presiden. Partai Golkar,  Nasdem,  Hanura dan PDI-P sudah menetapkan dukungannya kepada beliau. Partai lainnya masih belum jelas untuk melangkah kemana. Apakah merapat atau membuat koalisi tersendiri.
Ada apa dengan “Jokowi”?

Time line di media sosial begitu gencar memberitakan tentang keberhasilan beliau,  sedangkan sebagian memberitakan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan permasalah di negeri ini dan menuaikan janji-janji kampanye nya.


Indonesia tanpa Jokowi bukanlah sebuah masalah yang besar.  Ketakutan perubahan arah pembangunan adalah sebuah alasan kamuflase yang seakan-akan memberikan sugesti tanpa beliau akan kembali ke awal.  Beliau memang memberikan banyak perubahan dalam pembangunan terutama dalam infrastruktur,  bukan berarti tanpa beliau infrastruktur akan menjadi macet atau mangkrak.  Banyak anggota dewan yang masih berpikir cerdas untuk mengontrol kinerja pemerintahan.


Mengutip penyampaian Ustadz Mardani AS dari PKS, “Pak Jokowi adalah pemimpin yang baik,  tapi kita akan memberikan pilihan yang lebih baik kepada rakyat. Pak Jokowi masih dapat dikalahkan”. Tidak ada alasan rasa ketakutan untuk memberikan calon alternatif kepada rakyat Indonesia ini.  Janganlah kondisi jatuhnya orde baru akan dirasakan dalam masa sekarang.  Bagaimama jika Bapak Suharto lengser,  siapa yang pantas meneruskan?


Kadang teringat sebuah nasehat orang tua, “kalau sudah babak belur,  baru mau belajar beladiri.  Kalau sudah sakit,  baru ingat pola hidup sehat”. Indonesia memiliki anak-anak muda yang berprestasi dan mendunia.  Rasa sungkan terhadap orang lebih tua sebagai dasar adat ketimuran terkadang membelenggu potensi-potensi pemimpin masa depan negeri ini.


Pergantian pimpinan negara adalah hal biasa,  yang jadi masalah adalah ketakutan pada masyarakat jika pemimpin berganti maka semua akan berganti.  Negara ini adalah milik rakyat bukanlah milik pribadi presiden. Belum pernah terjadi ketika presiden berganti,  makan pejabat dan menteri-menteri disandera oleh presiden yang diganti.


Ada sebuah kiasan sebagai pengingat dalam jiwa kita,  “Indonesia tanpa Jokowi akan berbeda dengan Jokowi tanpa Indonesia”. Kebebasan dalam memilih pemimpin negeri ini,  jauhkan dari rasa ketakutan yang akan membuat diri kita tidak memiliki pilihan.  Kemerdekaan yang nyata terampas oleh penjara pikiran akibat rasa ketakutan yang berlebihan.
https://seruji.co.id/kanal-warga/opi...-kenapa-tidak/



Saat Yusril Bicara Jokowi Lawan Kotak Kosong dan Kekuasaan Vakum

Senin, 9 April 2018 20:30 WIB
0 KOMENTAR

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra saat menjawab pertanyaan wartawan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, 21 Juni 2017. Tempo/Irsyan Hasyim

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengatakan tidak menutup kemungkinan cuma ada pasangan calon tunggal dalam pemilu presiden 2019. Menurut Yusril, meskipun yang muncul hanya calon tunggal, pemilu bisa tetap diadakan.

"PBB sudah memutuskan, bahwa kalau paslon (pasangan calon) tunggal, PBB akan kampanye mendukung kotak kosong," kata Yusril saat ditemui di kantor PBB, Jakarta, Senin, 9 April 2018.


Menurut Yusril ada tiga kemungkinan calon presiden. Pertama, calon tunggal presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi. Kedua, dua pasangan calon, yaitu Jokowi melawan  Prabowo Subianto. Adapun kemungkinan ketiga muncul poros baru.

Yusril menuturkan, jika hanya ada calon tunggal, maka dia harus mendapatkan 50+1 dari suara sah pemilih dan menang di 18 provinsi. Jika perolehan suara itu tidak tercapai, menurut Yustil, pasangan tersebut tidak terpilih menjadi presiden. "Jadi kotak kosong itulah yang jadi presiden," ujarnya.


Yusril berujar jika kotak kosong yang menang, akan aneh. Sebab bila kotak kosong yang mendapat suara lebih banyak, Yusril memprediksi akan terjadi kevakuman kekuasaan.

"Sebab Pak Jokowi sudah habis masa kekuasaannya. Triumvirat juga sudah habis masa kekuasaannya. Dan MPR tidak bisa menunjuk pejabat, presiden juga tidak bisa memperpanjang jabatan presiden," ujar Yusril.


Triumvirat yang dimaksud Yusril adalah pemerintahan atau kekuasaan yang dipegang oleh tiga orang sebagai satu kesatuan. Kalau itu terjadi, Yusril mengatakan Indonesia bisa masuk dalam situasi yang disebut krisis konstitusional.

https://nasional.tempo.co/read/10778...ekuasaan-vakum

-----------------------------------

Kok pada banyak yang sirik seh bila pak Jpkowi mau nyalon yang kedua kalinya?
Emang melawan konstitusi menjabat 2 periode?
Dulu itu Soekarno malah jadi presiden se umur hidup dan Soeharto berkuasa lebih dari 32 tahun, nggak ada yang nyinyir!

emoticon-Wakaka
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Nastaik balik ke go wrong-go wrong dwong..
Indonesia Tanpa Jokowi', Lomba Mural BEM KM UGM Jadi Kontroversi
Kamis, 5 November 2015 15:05 WIB

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Ist/twitter @bemkmugm


'TRIBUNNEWS.COM JOGJA - BEM KM UGM kembali menuai kontroversi, kali ini kontroversi timbul akibat organisasi tersebut membuat lomba mural dengan tema 'Indonesia Tanpa Jokowi'.

Poster lomba yang beredar melalui media sosial baik Facebook maupun Twitter sejak Selasa (3/11/2015) menuai banyak pro dan kontra.

Bukan hanya di ranah media sosial, namun juga di ranah mahasiswa dan kampus melalui rektorat juga ikut bereaksi.

"Kita sempat kaget karena ini di luar prediksi, posternya baru dua hari penayangan tapi rektorat udah krasak krusuk, alumni juga udah mulai ribut," cerita Halim Syafar, Menteri Aksi dan Propaganda BEM KM UGM Kamis (5/11/2015).

Bahkan pihak rektorat UGM sendiri sudah mengundang salah seorang perwakilan BEM KM UGM untuk menjelaskan acara dengan tema yang cukup menggelitik tersebut, yang dianggap kebablasan dalam mengkritik.

"Intinya mereka kurang puas terhadap acara ini, namun saya tidak melihat hal-hal yang dilarang dari acara ini," ujarnya.

Bukan hanya dari kalangan luar bahkan dari kalangan dalam sendiri termasuk dari alumni menurutnya banyak yang mempertanyakan lomba tersebut karena dianggap kontroversial.

Hal tersebut disebutnya karena para pengkritik tersebut belum mengetahui lomba tersebut secara utuh dan hanya melihat sisi buruknya saja.

"Mbok dipandang dua sisi dulu minimal baca captionnya, saya bingung kesalahan saya dimana," ujarnya.

Walaupun banyak kritikan yang datang namun sampai saat ini pihaknya belum memiliki niat untuk menghentikan ataupun menunda lomba tersebut.

"Kita belum ada niatan untuk mengakhiri, malah tambah semangat," ujarnya.

Sampai saat ini penerimaan hasil lomba masih berlangsung dan rencananya hasil karya peserta akan ditampilkan pekan depan.
http://www.tribunnews.com/regional/2...di-kontroversi


emoticon-Wakaka
Iye2.. yg gantiin anis matta ya ntar menteri2nya para tukang kimpoi sm tukang selangkangan?

Plis deh..

Atau Wowo dengan menteri2nya si Zonkie dan M topig?

Mana yg mau loe pilih?
Sri Bintang Pamungkas Memimpikan Indonesia Tanpa Jokowi
9 Maret 2018 22:39 Diperbarui: 10 Maret 2018 15:46 968 8 13

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Sri Bintang Pamungkas

Tak ada angin tak ada hujan, Sri Bintang Pamungkas (SBP) yang sempat diciduk karena dugaan rencana makar pada 2 Desember 2016 kembali menggelorakan usaha menghentikan langkah Joko Widodo (Jokowi). Kalau pada Pilpres 2014 ia sempat bilang, "Prabowo boleh kalah, tapi Jokowi tidak boleh menang", kali ini jauh lebih keras. Bukan lagi soal menang-kalah. Pencalonan Jokowi sebagai Capres 2019-2014 pun harus digagalkan.

Bukan main! Ketidaksukaan SBP kepada Jokowi sudah sampai di ubun-ubun. Ia masih tak sadar bahwa mimpinya di tahun 2014 sudah ditelan fakta. Prabowo yang dijagokannya empat tahun lalu itu tidak dipilih oleh mayoritas rakyat pemilih.

Lantas, mengapa ia tak senang Jokowi? Rupanya, alasan SBP belum berubah. Ia masih mengungkit-ungkit isi orasinya di berbagai kesempatan sebelum diciduk karena dugaan makar. Ia masih bicara kedekatan Jokowi dengan RRC. Masih bicara isu PKI yang menurutnya muncul pada saat kepemimpinan Jokowi.

Namun, yang lebih ia takutkan ialah munculnya Jokowi sebagai calon tunggal pada Pilpres 2019 gara-gara ketentuan Presidential Threshold yang disahkan DPR beberapa waktu lalu. Bagi dia, ketentuan yang mematok ambang batas capres sebesar 20 persen kursi parpol di DPR dan 25 persen suara sah nasional tersebut merupakan rekayasa untuk menjadikan Jokowi sebagai calon tunggal pada Pilpres 2019. Ini tidak boleh terjadi, harus dicegah, katanya kepada pers.

Menurutnya, jika hal itu terjadi (calon tunggal) dan Jokowi terpilih untuk periode kedua, sangatlah berbahaya. Penjualan negara terhadap RRC akan terulang lagi dan masuknya tenaga kerja dari RRC bisa makin intens. Juga Sangat mungkin terjadi asymmetric war yang dibuat China dan di-approve oleh rezim Jokowi, katanya di di Rumah Kedaulatan Rakyat, Jl Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (8/3/2018) seperti diwartakan media. (detik.com).

Bukan itu saja. Pria pendiri PUDI (Partai Uni Demokrasi Indonesia) yang gagal meraup suara pada Pemilu 1999 itu juga menilai kondisi nagara saat ini kacau balau. Utang negara makin menjadi-jadi di bawah kepemimpinan Jokowi. Utang negara sebesar 60 miliar USD saat ini sangat jauh bila dibandingkan dengan 6 miliar USD di masa Presiden Suharto, katanya.

Galang Kekuatan

SBP tampak begitu gelisah. Mungkin saja tidak bisa tidur tanpa minum pil penenang. Maka, untuk menenangkan diri, ia berencana menggalang kekuatan untuk menolak Jokowi pada Pilpres 2019. Harapannya, rakyat yang sudah melihat kemajuan negara di bawah kepemimpinan Jokowi bisa berbalik arah menolak pencalonan Jokowi.

Menanggapi hal itu, Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily menyatakan SBP boleh saja berpandangan seperti itu. Itu haknya. Namun, Ace mengingatkan SBP agar tidak terlalu banyak berimajinasi dengan perang asimetris tersebut.

Tanggapan yang berbeda dikemukakan oleh Ketua DPP PDIP, Hendrawan Supratikno. Bagi Hendrawan, SBP sebaiknya bergabung dengan parpol saja, misalnya jadi caleg. Di situ SBP bisa menjual program yang menarik simpati masyarakat dan konstituen. Setelah itu SBP bisa tampil sebagai politisi beken.

Saran-saran seperti itu, tentu tidak menarik bagi SBP. Ia sendiri sudah mencoba dengan menjadi anggota DPR lewat PPP pada masa kepemimpinan Presiden Suharto. Karena keberaniannya melawan Suharto SBP memang sempat sangat polpuler. Namun, masa jabatan di DPR tidak bertahan sampai akhir masa jabatan. Ia dicopot karena PPP menilai sikapnya di DPR melencengan dari garis kebijakan partai.

Boleh jadi juga ia trauma memakai jalur DPR untuk bersuara. Pasalnya, di kalangan anggota DPR yang sekarang banyak juga yang vokal. Mustahil ia bisa mendominasi seperti dulu. Salah-salah ia bisa dicukur juga oleh yang tak sehaluan. Lalu, kalau disuruh bergabung dengan partai untuk jadi calon legislatif seperti sara Hendrawan, tentu saja ia malu. Bisa menurunkan gengsi politiknya yang sempat melambung pada masa reformasi dan pendiri PUDI (yang gagal).

Nah, daripada tidak punya panggung, SBP memilih jalur nyaman sekaligus bisa membuat namanya tetap melambung di angkasa. Caranya? Ya, itu tadi, berusaha menggalang kekuatan untuk menjegal pencalonan Jokowi pada Pilpres 2019. Ia yakin, kawan-kawannya yang tergabung dalam FPI akan menyambut gagasan itu dengan semangat menyala. Para anggota demo binaan tentu melihat perwujudan gagasan itu sebagai kesempatan berwisata lagi ke Jakarta.

Mimpi di Siang Bolong

Terlepas dari berhasil tidaknya ia menggalang massa, satu hal yang menarik adalah cara berpikir SBP, yang lulusan S1 di ITB, S2 di Universitas Southern Carolina dan S3 di Iowa State University itu sepertinya mulai kacau. Segala hal hanya mampu dilihatnya hitam-putih. Ia mengira bahwa hubungan Indonesia dengan RRC adalah satu-satunya dan pasti berbahaya, membuat bangsa kita menjadi komunis. Ia mengira bahwa di Indonesia, sudah tidak ada orang yang bisa mengontrol gelagat buruk selain dirinya sendiri.

Ia pura-pura tidak tahu bahwa munculnya isu PKI di saat kepemimpinan Jokowi, sama sekali bukan karena adanya hubungan bilateral antara RRC dan Indoensia, tetapi karena dia sendiri dan kawan-kawannya seperti Rizieq, Bachtiar Nasir, Munarman menciptakan isu itu, kemudian ditempelkan kepada Jokowi.

Ia tak mau sadar bahwa ketidaksukaannya dan kawan-kawannya terhadap Jokowi sudah sangat dipahami oleh masyarakat. Ia kira bahwa penegakkan hukum, pemberantasan korupsi, dan ketatnya kontrol terhadap pemakaian uang negara di berbagai sektor pembangunan yang dilakukan Jokowi dapat dibelokkan untuk kepentingan dirinya dan kawan-kawannya.

Ia kira bahwa dengan menyebut negara kacau di bawah kepemimpinan Jokowi akan ditelan mentah-mentah oleh rakyat. Ia tak sadar-sadar bahwa rakyat di seluruh Indonesia sangat paham bahwa ketidaksukaannya dan kawan-kawannya kepada Jokowi disebabkan begitu tegasnya Jokowi dalam prinsip. Jokowi tidak mau didikte untuk kepentingan mereka. Jokowi mampu memotong usaha mereka mengubah Pancasila dan UUD 1945 seperti yang terus mereka gaungkan di berbagai orasi.

SBP mengira bahwa dengan menyebut utang negara di bawah kepemimpinan Jokowi sangat besar bisa membuat awam tertipu. Ia lupa bahwa dalam kabinet Jokowi ada ahli kelas dunia, Sri Mulyani, yang bisa merontokkan semua argumen yang dibangun SBP.

Saya harap Sri Mulyani tidak akan bilang, "Belajar mengelola usaha dulu supaya tahu bagaimana caranya utang menghasilkan lebih banyak uang. Jangan lihat utangnya, tapi lihat apa dan seberapa besar nilai yang dihasilkannya dalam mengembangkan usaha supaya tidak terus bermimpi di siang bolong."
https://www.kompasiana.com/yosa/5aa2...a-tanpa-jokowi

Dolar bisa 13.000 klo indonesia tanpa jokowi emoticon-Angkat Beer
Selling-nya ngotot banget....
rokyat rakyat rokyat rakyat.....rakyat yg mana ? paling juga rakyatmu

nantilah diliat, 2019 suaramu di DPR dapat berapa, dapet kursi berapa....bisa ndak melebihi presidential treshold ?

oh iya....capres jagoanmu siapa ?
Memang tidak papa kok

Asal tanpa junjungan nasbung juga

Karena dgn absennya cahaya maka kegelapan akan menguasai
Gara gara jagoannya nasbung nih jadi banyak utang indonesia😋
Indonesia tanpa PKS, kenapa tidak? emoticon-Cool
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?

Tutup Bo'ol

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?

Indonesia Tanpa Jokowi, Kenapa Tidak?
Diubah oleh antikritik.live
Mobil anda di derek dishub pukul saja petugasnya, lalu ngaku saudara ahok
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di