alexa-tracking

PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acc601e60e24b490d8b4588/ppp-masih-kesal-penghayat-kepercayaan-masuk-kolom-agama-ktp
PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP
PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

10 April 2018 10:18 WIB

PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

jpnn.com, JAKARTA - Sudah lima bulan berlalu sejak Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan status penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bisa dicantumkan pada kolom agama di KTP. Namun, sampai sekarang PPP masih kesal dengan putusan MK tersebut.

"Sebenarnya terlepas bahwa itu menjadi keputusan yang harus kita hormati, karena itu keputusan MK, ya saya menyayangkan putusan MK itu," ujar Wasekjen DPP PPP Achmad Baidowi di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/4).

Anggota Komisi II DPR ini tampaknya meragukan komitmen MK terhadap sila pertama Pancasila 'Ketuhanan Yang Maha Esa'.

"Negara kita kan negara yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa, implemantasinya adalah pengakuan terhadap agama-agama, makanya ada agama yang diakui oleh negara. Jadi kalau ada aliran kepercayaan itu bagaimana?" tutur Achmad Baidowi.

Menurutnya, bagaimanapun MK sebagai 'wakil Tuhan' di dunia wajib berhati-hati dalam membuat keputusannya.

"MK itu harus hati-hati dalam memutuskan suatu aturan atau sebuah norma, harus hati-hati, tidak bisa seperti itu," demikian Achmad Baidowi.

Pemerintah dalam hal ini Kemendagri menargetkan warga penghayat kepercayaan akan mendapatkan KTP elektronik setelah pelaksanaan Pilkada 2018.

KTP baru akan diberikan untuk mengakomodasi putusan MK yang menyebut bahwa kepercayaan para penghayat kepercayaan bisa dimuat di kolom KTP. (rus/rmol)

https://m.jpnn.com/news/ppp-masih-ke...olom-agama-ktp

Masih ngotot jadi mayoritas, nggak rela kehilangan member
Lagi-lagi alasannya sila pertama. Pancasila kok dijadikan senjata untuk memaksakan agama?

Kalau ingin jadi muslim ya silahkan, bukan berarti orang-orang yang punya kepercayaan lain juga dipaksa masuk Islam.
Kayak nya bakalan bawa saras 008 sama klipingan mahok neh
emoticon-Wkwkwk
agama contol ketakutan..cepat buwat sensus kasi rakyat data ynk benar..biar jan kek contol lagi kelakuan mereka emoticon-Leh Ugaemoticon-DP
Goblog ppp

Duluan mana penghayatan sama republik indonesia ?
Lagian agama dan penghayatan itu beda. Jadi gak bisa maen samain aja
Wahyudi cikal bakal domba ama onta malah kagak diakui padahal monoteis,punya nabi kitab suci dll.
agama adalah produk mlm paling laris didunia
emoticon-Big Grin
Takut member berkurang ?

Lebih baik utamakan kualitas daripada kuantitas

Jadi tdk perlu pake serokan ikan buat bangun rumahnya ..
Ini knp kejang2 mulu sih? emoticon-Confused
Takut kehilangan member. Padahal ga percaya ya ga percaya. Ga ngefek di KTP apa. Efeknya cuma masalah jumlah member. Takut keliatan kalau ga banyak2 amat.
Quote:


betul mau jadi mayoritas aja sudah menghalalkan segala cara

PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP


Quote:


Dan ga ada member pernah komplain kl ga dpt hadiah soalnya mesti mati dl


emoticon-Leh Uga
Lah gimana sih. Esensi agama itu kan doktrin. Dan doktrin itu harus dipaksa. Dan dari jaman pertengahan awal berkembangnya agama2 besar dunia, pasti ada paksaan dari negara/raja ke rakyatnya. Minimal ada pemaksaan dari orang tua ke anaknya. Termasuk kolom agama ini.

Btw, sy setuju kolom agama dihapus.
Quote:


setuju , kolom agama sudah saatnya dihapus
Kenapa kesel? Emang rugi apaan sih? emoticon-EEK!

Achmad Baidowi/Net

Partai Ka'bah Sayangkan Putusan MK Terkait Penghayat Kepercayaan Di KTP

RMOL. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyayangkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait uji materi UU 24/2013 tentang Administrasi Kependudukan yang mengharuskan adanya pencantuman status penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada KTP.

"Sebenarnya terlepas bahwa itu menjadi keputusan yang harus kita hormati, karena itu keputusan MK, ya saya menyayangkan putusan MK itu," ujar Wasekjen DPP PPP Achmad Baidowi di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/4).

Anggota Komisi II DPR ini tampaknya meragukan komitmen MK terhadap sila pertama Pancasila 'Ketuhanan Yang Maha Esa'.

"Negara kita kan negara yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa, implemantasinya adalah pengakuan terhadap agama-agama, makanya ada agama yang diakui oleh negara. Jadi kalau ada aliran kepercayaan itu bagaimana?" tutur Achmad Baidowi.

Menurutnya, bagaimanapun MK sebagai 'wakil Tuhan' di dunia wajib berhati-hati dalam membuat keputusannya.

"MK itu harus hati-hati dalam memutuskan suatu aturan atau sebuah norma, harus hati-hati, tidak bisa seperti itu," demikian Achmad Baidowi.

Pemerintah dalam hal ini Kemendagri menargetkan warga penghayat kepercayaan akan mendapatkan KTP elektronik setelah pelaksanaan Pilkada 2018. KTP baru akan diberikan untuk mengakomodasi putusan MK yang menyebut bahwa kepercayaan para penghayat kepercayaan bisa dimuat kolom KTP. [rus]

http://politik.rmol.co/read/2018/04/...cayaan-Di-KTP-

#penghayatkepercayaan #kolomagama #ktp #pancasila #ppp #alirankepercayaan
Negara bukan Tuhan, jadi hanya karena diakui sebagai agama resmi di suatu negara, bukan berarti agama2 resmi adalah agama2 yang benar, sementara agama 2 lain yang tidak termasuk agama resmi adalah sesat
PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

Gambar: Para penghayat kepercayaan Sapta Darma melakukan ibadah di sanggar Candi Busana, Kediri, Jawa Timur.| © Beritagar.id /Fully SyafiSAPTA DARMA

Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan

Diperkenalkan pertama kali oleh Harjosapuro kini ajaran ini menyebar ke sejumlah wilayah. Namun mereka masih dianaktirikan.

Malam mulai larut ketika puluhan lelaki paruh baya memasuki halaman sebuah rumah di Jalan Gatot Subroto Desa Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Meski menampung banyak orang, dari luar rumah bercat hijau ini terlihat lengang.

Beberapa pria larut dalam obrolan di bangku kayu yang berjajar di halaman menyerupai lorong. Sebagian dari mereka berpakaian serupa. Berwarna dasar hitam dan mengenakan blangkon.

Mereka adalah penganut aliran kerohanian Sapta Darma. Aliran ini lahir di Kediri 66 tahun silam dan diyakini secara turun temurun oleh pengikutnya hingga sekarang. Rata-rata pengikut aliran ini adalah orang dewasa dan didominasi laki-laki.

Penganut aliran ini secara rutin berkumpul di tempat peribadatan yang disebut sebagai sanggar. Di sanggar mereka mengikuti penataran kerohanian yang membahas tentang ajaran, persoalan sehari-hari, hingga melaksanakan ibadah bersama.

Seperti Kamis (8/2/2018) malam itu. Sejak selepas magrib puluhan jemaah Sapta Darma Kota Kediri telah berkumpul di Sanggar Candi Busana Mrican. Mereka hadir atas undangan Ki Surtarto yang menjabat sebagai Tuntunan Wilayah Sapta Darma wilayah eks-Karisidenan Kediri yang meliputi tujuh kota/kabupaten. Mulai Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan Nganjuk.

Tepat pukul 21.00 WIB, Sutarto memimpin pertemuan anggotanya. Seperti layaknya pertemuan warga, mereka duduk di dalam sanggar yang menyerupai aula. Di atas hamparan karpet, sekitar 25 warga pengikut Sapta Darma dengan tekun mendengarkan penjelasan Sutarto.

Dari jumlah itu hanya satu orang saja yang perempuan. "Kami sedang membicarakan calon gubernur Jawa Timur yang akan didukung," kata Sutarto yang memimpin rapat dalam Bahasa Jawa.

Pemilihan calon gubernur 2018 ini menjadi penting karena menyangkut kelangsungan aktivitas para penghayat. Di seluruh Jawa Timur, jumlah mereka diperkirakan mencapai 15.000 orang. Sebagian besar ada di Surabaya dan Malang. Mereka berharap gubernur yang akan datang bisa mengakomodir kepentingan mereka yang masih kerap dikucilkan di masyarakat.

Usai berembuk dan menyelesaikan materi kerohanian, Sutarto mengajak mereka sujud. Dalam ajaran Sapta Darma, sujud adalah satu-satunya bentuk ibadah yang diwajibkan minimal sekali dalam sehari. Waktu keutamaan di atas pukul 21.00 WIB. Tak harus di sanggar secara bersama-sama, tapi juga bisa di rumah masing-masing.

Diawali dengan membersihkan badan dari kotoran, mereka menggelar selembar kain kafan ukuran satu meter persegi di lantai. Kain kafan itu diletakkan dengan posisi ketupat. Selanjutnya mereka duduk bersila di atasnya menghadap timur.

Di sudut lain dalam ruangan yang sama, seorang jemaah mendendangkan tembang Macapat. Lantunan tembang yang disuarakan pelan dan syahdu tanpa iringan alat musik ini untuk membantu konsentrasi dalam bersujud.

Setelah alunan Macapat terdengar, satu per satu dari mereka menggerakkan punggung ke depan. Masih sambil bersedekap layaknya orang salat, badan mereka terus membungkuk hingga seluruh bagian kepala menempel pada kain kafan. Gerakan ini bertahan hingga beberapa menit sebelum mereka bergerak pelan ke posisi semula.

Perubahan gerak duduk bersila menjadi sujud ini tak diakukan bersamaan. Demikian pula jumlah sujud yang dilakukan berbeda-beda. "Kalau saya biasa melakukan hingga satu setengah jam setiap hari," kata Sutarto.

Tiap-tiap gerakan dalam sujud ini memiliki arti sendiri. Kain kafan yang digelar menjadi perlambang niat suci untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Sementara timur dipilih menjadi tujuan ibadah karena memiliki arti "permulaan", yakni dari kata wetan (timur) atau wiwitan (permulaan). Hal ini ditandai dengan terbitnya matahari dari timur di kehidupan.

Sujud merupakan puncak khidmat untuk menghadap Tuhan. Dalam ritual ini mereka meyakini tengah melepaskan roh dari raga untuk bertemu dengan Tuhan di alam langgeng.

Di alam itulah seorang manusia bisa mengintip kehidupan setelah mati dan melihat jalan menuju suarga loka (surga). "Biar kelak jika mati, arwah kita tidak kesasar mencari jalan ke surga karena kita sudah melihatnya lebih dulu," ujar Sutarto.

Hal inilah yang membedakan proses matinya manusia dengan binatang yang arwahnya kesasar susur alias gentayangan.

PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

Para penghayat kepercayaan Sapta Darma melakukan ibadah di sanggar Candi Busana, Kediri, Jawa Timur.© Fully Syafi /Beritagar.id

Muasal ajaran

Ajaran Sapta Darma diperkenalkan pertama kali oleh Harjosapuro, seorang penarik delman dan tukang pangkas rambut di Pandean, Pare, Kabupaten Kediri. Kala itu, 27 Desember 1952, Harjosapuro yang tengah tertidur tiba-tiba digerakkan oleh kekuatan yang tak bisa dihindari.

Saat bermimpi, Harjosaputro merasa ada yang menggerakkan tubuhnya. Ia terbangun dan duduk menghadap timur lalu sujud dari pukul 01.00 hingga 05.00 WIB. Para penganut meyakini itu "wahyu" pertama yang diterima Harjosaputro.

Dikisahkan, saat bermimpin itu, Harjosapuro mengucapkan kalimat yang meluhurkan nama Allah dengan kencang, tetapi tak ada satupun tetangga yang mendengar. "Padahal rumahnya dari gedek bolong-bolong," kata Sutarto.

Takut dengan hal yang menimpa dirinya, Harjosapuro memutuskan pergi menemui temannya dan menceritakan peristiwa itu. Tanpa diduga, sang teman juga seperti digerakkan kekuatan lain untuk melakukan sujud.

Peristiwa ini berulang kepada lima sahabat yang ditemui Harjosapuro. Hingga pada akhirnya dia memutuskan tidak pulang ke rumahnya hingga Februari 1953.

Ia baru pulang ke rumah di Pare, Kediri, atas wisik (petunjuk) yang diterimanya. Hanya berselang beberapa hari setelah kepulangannya, tepatnya 13 Februari 1953, Harjosapuro kembali menerima "wahyu" pada pukul 10.00 WIB.

Wahyu kedua ini diberi nama Racut. "Wahyu" ini mengabarkan tentang kewajiban manusia untuk mengetahui dan melihat alam abadi setelah kematian. Di situ ada tuntunan kepada roh yang meninggal menuju surga sesuai darma dan amalannya.

Dalam wahyu Racut itu pula Harjosapuro menerima gelar baru. Gelar yang diklaim dari Tuhan itu diberi nama Sri Gutomo, yang berarti pelopor budi luhur. Ini gelar tertinggi dalam komunitas Sapta Darma sebagai panutan agung.

"Wahyu" terakhir diterima Harjosapuro pada 12 Juli 1953 siang. Isinya berupa tuntunan hidup yang terdiri atas simbol pribadi, wewarah pitu, dan sesanti. Wahyu ini untuk mengendalikan dan mengatur tiga unsur yang ada dalam diri manusia berupa nafsu, budi, dan pakarti. Ketiga unsur inilah yang membedakan manusia dengan hewan.

Wewarah pitu atau tujuh tuntunan yang diturunkan ini harus dijalankan warga Sapta Darma. Tujuh tuntunan itu berisi: percaya dan patuh pada Allah Hyang Maha Agung, berbuat jujur dan berbakti kepada negara, ikut berperan pada tegaknya nusa dan bangsa, menolong sesama dengan ikhlas, berdikari dan mandiri, berbuat baik dan luhur kepada sesama demi kebahagiaan orang lain, serta meyakini kehidupan di dunia ini fana.

Seluruh ajaran yang disampaikan Harjosapuro tersebut diyakini sebagai "wahyu" dari Tuhan. Kenapa diyakini sebagai "wahyu"? Karena sebagai lulusan sekolah dasar dan bekerja menjadi kusir delman dan tukang pangkas rambut, mustahil bagi Harjosapuro untuk mengarang dan mengingat ajaran tersebut dengan baik. "Itu adalah mukjizat," kata Sutarto.

Kelebihan lain yang dimiliki Harjosapuro, menurut jemaahnya adalah kemampuan Harjosaputro dalam menyembuhkan orang sakit yang tidak mampu diobati dokter.

Kemampuan menyembuhkan ini kemudian menjadi metode penyebaran ajaran Sapta Darma ke masyarakat hingga berkembang luas. Para pengikut Harjosapuro dibekali kemampuan pengobatan dan disebar ke berbagai daerah untuk menyebarkan Sapta Darma.

Penyembuhan pernah dilakukan jemaah aliran ini kepada keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono di Yogyakarta. Karena yang diobati sembuh, ajaran ini membesar di Jawa Tengah.

Sutarto sendiri masuk dan meyakini ajaran Sapta Darma melalui proses penyembuhan. Saat berusia tujuh tahun ia divonis mengidap polio hingga tak bisa berjalan. Oleh Pakdhenya, dia diajak melakukan sujud. Setelah melakukan sujud berulang-ulang, lambat laun penyakitnya sirna dan bisa berjalan normal di tahun 1958. Sejak itulah Sutarto jatuh hati pada ajaran Sapta Darma hingga sekarang.

Meski berstatus sebagai tuntunan wilayah, Sutarto tak pernah mampu mengajak istri dan ketiga anaknya masuk Sapta Darma. Mereka memilih menganut agama Islam.

Di lingkungannya tempat tinggalnya, Sutarto sangat disegani dan ditasbihkan menjadi tokoh masyarakat. Ketokohannya setara dengan seorang pemuka agama Islam.

"Beliau juga rajin mendatangi undangan pengajian, tahlil, dan Natal meski seorang penghayat," kata Nowo Doso, pemilik warung kopi yang berjarak seperlemparan batu dengan rumah Sutarto yang ada di Jalan Stasiun.

PPP Masih Kesal Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama KTP

Soetarto, Ketua Persatuan Sapta Darma (Persada).© Fully Syafi /Beritagar.id

Dalam hal perkimpoian, penganut Sapta Darma tak pernah membatasi pernikahan dengan penganut agama ataupun kepercayaan lain. Namun untuk perempuan luar yang dinikahi warga Sapta Darma, diwajibkan mengikuti prosesi pernikahan sesuai ajaran mereka. Sutarto memastikan pernikahan yang dilakukan menurut ajaran Sapta Darma tetap bisa dicatatkan di Kantor Catatan Sipil.

Seperti pernikahan yang dilakukan Suryanto, warga Kelurahan Kemasan. Penganut Sapta Darma ini bahkan menikahi perempuan anak seorang ulama asal Blitar. Bahkan saat ini sang istri telah menjadi pengikut Sapta Darma beserta ketiga anaknya. "Semua keluarga saya penghayat," ujar Suryanto.

Saat ini ketiga anak Suryanto berstatus pelajar. Sama seperti para penghayat lain yang mengosongkan isian kolom agama, ketiga anak Suryanto juga mengosongkan kolom agama di buku induk siswa dan rapor sekolah. Pihak sekolah tak mempermasalahkan sikap tersebut.

Bahkan saat ini putri sulungnya telah duduk di bangku sekolah perawat tanpa mengalami kesulitan administrasi. Mereka juga tak pernah diolok-olok teman sekolah maupun tetangga meski memiliki keyakinan berbeda.

Sayangnya kebebasan berekspresi bagi kaum penghayat ini masih berlaku hanya di Kota Kediri. Di Kabupaten Kediri, mereka masih dianaktirikan.

Data terakhir di Kota Kediri tercatat jumlah anggota Sapta Darma mencapai 2.000 orang. Populasi ini menurun drastis setelah pecah peristiwa penumpasan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1965.

Pasca peristiwa itu, anggota Sapta Darma kerap dituduh dan dicap sebagai kader PKI karena tak memiliki agama. Demi menyelamatkan diri, banyak dari mereka yang kemudian memilih agama tertentu.

Kini setelah adanya putusan Mahkamah Konsitusi yang mengakui aliran kepercayaan, Sutarto dan para penganut Sapta Darma gembira karena nantinya kolom agama KTP dan KK tidak lagi bertanda setrip melainkan diisi dengan aliran kepercayaan. Karenanya, ia berharap pemerintah daerah bisa segera merealisasikan putusan MK itu.

Namun, rupanya Sutarto dan para penganut Sapta Darma harus rela bersabar. Pasalnya pemerintah Kabupaten Kediri belum bisa melakukan pembenahan administrasi itu dalam waktu dekat. "Kami menunggu peraturan teknisnya dulu," kata Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kediri Krisna Setiawan.

https://beritagar.id/artikel/laporan...at-penyembuhan