alexa-tracking

Presiden Pernah Bilang, ‘Saya Sebenarnya Capek’

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acc5aead675d480488b4578/presiden-pernah-bilang-saya-sebenarnya-capek
Presiden Pernah Bilang, ‘Saya Sebenarnya Capek’
Presiden Pernah Bilang, ‘Saya Sebenarnya Capek’

Jakarta: Setahun puasa bicara ‘panjang’ ke media, Sekretaris Kabinet Pramono Anung akhirnya mau juga buka mulut. Dan, Medcom.id mendapatkan kesempatan langka itu. Pemimpin Redaksi Medcom.id Abdul Kohar yang memandu program News Maker mewawancarai pria berjuluk ‘pelobi ulung’ ini di kantornya di Kompleks Istana Kepresidenan. Wawancara berlangsung sekitar 35 menit.

 

Banyak yang diungkap, terutama mengenai bagaimana Presiden Joko Widodo menghadapi kritik bahkan ‘serangan’ bertubi-tubi dari lawan politiknya. Dari serangan berbasis data maupun serangan yang dia istilahkan sebagai serangan ‘ngawur’. Pram juga menjawab taktis apa yang dituduhkan Setya Novanto mengenai keterlibatannya dalam pusaran megakorupsi KTP elektronik (KTP-el).

 

Di penghujung wawancara, Abdul Kohar menantang Pram menjawab pertanyaan dengan cepat. Lima pertanyaan dilontarkan. Jawaban untuk pertanyaan kelima, jawaban Pram sedikit goyang. Kenapa?

 

Opisisi bertubi-tubi memuntahkan peluru tentang pemerintah yang kurang cakap. Negara disebut sedang dalam situasi darurat, bagaimana tanggapan Anda?

 

Yang pertama, sekarang ini memang sedang memasuki tahun politik. Jadi, tahun politik kalau sepi juga nggak baik. Maka kami dengan senang hati, apa pun kritiknya, dari siapa pun, terutama dari oposisi, tentu harus kita jawab dengan fakta dan data. Menurut saya, dalam demokrasi yang namanya kritik itu menjadi obat kuat.

 

Kalau pemerintah tidak dikritik, pemerintah juga mungkin tidak mengoreksi diri. Sehingga kemudian kami melihat kritik yang disampaikan, bahkan kritik yang sangat keras, termasuk hoaks yang beberapa kali dilakukan, itu tentunya menjadi koreksi bagi pemerintah. Kalau kritiknya benar harus kita jalankan. Kalau kritiknya asal bicara, ngawur, tidak ada substansi, tentu kita jawab dengan tenang-tenang saja.

 

Tak perlu bereaksi....

 

Tak perlu. Misalnya, ada yang menginginkan pemerintahan Indonesia ingin Presiden seperti Putin (Presiden Rusia Vladimir Putin), jangan presiden yang planga plongo. Presiden kita adalah presiden yang bekerja, dari pukul 08.00 sampai 23.00 WIB. Sekarang ini hasil riilnya dirasakan oleh semua masyarakat. Dan itu terbukti dari persepsi publik ataupun elektabilitas yang sangat tinggi. Melawan siapa pun kalau pemilunya hari ini pasti menang dengan sangat signifikan.

 

Apakah kritik itu mengganggu pembangunan?

 

Sama sekali nggak. Bahkan kalau tak dikritik, kita yang mencari-cari kritik. Kalau perlu kita ciptakan vokalis-vokalis baru untuk mengkritik pemerintah. Saya meyakini kalau kritiknya ngawur itu membuat simpati publik kepada Presiden, kepada pemerintahan ini, malah menjadi baik.

 

Apakah Anda menganggap kritik dari berbagai pihak saat ini sudah sampai tahap ngawur?

 

Kritik yang membahagiakan dan kita menikmati itu.

 

Belum pada tensi ngawur?

 

Nggak. Enggak. Misalnya beberapa hal tentang sertifikasi tanah. Bahwa ini disebut pembohongan terhadap rakyat. Rakyat yang menerima sertifikat tahun lalu ada 5 juta lebih. Tahun ini ada 7 juta lebih. Artinya rakyat sendirilah yang berbicara. Apakah program sertifikasi yang dibuat oleh Presiden betul-betul bermanfaat atau nggak? Ternyata, setiap Preisden melakukan kunjung ke daerah yang ada program sertifikasi, sambutannya luar biasa.

 

Jokowi risau tidak terhadap kritik yang bertubi-tubi?

 

Nggak, sama sekali tidak. Bahkan beliau sambil bercanda mengatakan, ‘Kayanya yang mengkritik seperti ini perlu diperbanyak.’


Presiden Pernah Bilang, ‘Saya Sebenarnya Capek’

Foto: Antara/Yudhi Mahatma

 

Membantah terlibat di kasus KTP-el

 

Pramono dan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani disebut sebagai orang yang ikut menikmati uang korupsi kasus kartu tanda penduduk berbasis elektronik (KTP-el). Nama mereka disebut Setya Novanto yang menjadi terdakwa dalam kasus itu.

 

Bukannya menghindar, Pramono justru balik menantang. Belum juga dipanggil mengklarifikasi, Novanto menarik tuduhannya. Namun, penyebutan nama itu kadung ramai. Gelombang pertanyaan masih saja tertuju kepada Pramono. Dalam konteks ini, Medcom.id lantas meminta komentar Pram.

 

Berkali-kali membantah, tapi kok masih sayup-sayup terdengar pertanyaan mengenai kasus itu?

 

Begini, saya sebenarnya mengharapkan nama yang disebutkan dipersidangan itu untuk jangan terlalu cepat melakukan klarifikasi. Supaya ini makin panjang. Tapi, baru satu atau dua hari sudah diklarifikasi bahwa itu tidak benar.

 

Saya sebenarnya pengen dikonfrontasi. Pengen berhadap-hadapan langsung. Di ruang sidang, di mana pun. Karena ini menyangkut integritas dan kredibilitas saya. Karena itu bukan barang yang mudah.

 

Kredibilitas dan integritas bagi Anda seperti apa?

 

Sangat penting. Nomor satu. Karena begini, kalau kita ingin pekerja di pemerintahan, maka integritas dan kredibilitas itu menjadi nomor satu.

 

Tapi banyak publik menganggap, ‘Itu kan sudah terpojok, jadi jawabnya seperti itu.’ Tanggapan Anda?

 

Sederhana saja, yang saya selalu lakukan, baik saat menjadi Wakil Sekjen dan Sekjen (PDI Perjuangan), pimpinan DPR (wakil ketua DPR), sekarang di Seskab, saya hanya ingin membangun sistem. Karena saya percaya bahwa sistem itulah yang bisa menyelesaikan persoalan bangsa ini.

 

Nah, untuk membangun sistem ini, perlu pemimpin yang bisa dihargai, disegani, dan mempunyai integritas serta kredibilitas. Apa yang saya lakukan di Seskab (menggunakan mekanisme seperti itu). Karena Seskab ini sekretaris presiden sebagai kepala pemerintahan.

 

Dan saya juga menjadi Sekretaris Tim Penilai Akhir (TPA). Dulu yang namanya TPA, (sampai ke) keppres (keputusan presiden) itu butuh 6 bulan hingga satu tahun. Orang yang mau diganti ngelobi, yang mengganti melobi. Sejak saya masuk di lembaga ini, keppres tak boleh lebih dari dua hari. Bahkan ketika pergantian Dirjen Pajak, TPA-nya hari Kamis, Jumat sudah muncul (keppres).

 

Ketika awal saya melakukan pergantian itu, kebetulan pergantian di Kejagung, orang mengatakan ini keppres palsu. Karena saking cepatnya (keluar). Untuk mengubah tradisi ini memang perlu contoh. Dan kita betul-betul bekerja, menjauhkan diri dari politik uang ataupun hal-hal yang seperti itu. Dan alhamdulillah, saya nggak mau menjadi anggota Banggar selama empat periode selama menjadi anggota DPR. Kedua, saya tak mau bersentuhan dengan itu. Ketika menjadi pimpinan DPR, saya adalah orang yang selalu menjadi narasumber KPK.

 

Apakah karena disertasi Anda juga membahas soal itu (politik uang)?

 

Disertasi doktor saya memang tentang politik uang. Salah satunya berkaitan dengan bagaimana orang bisa berpolitik dengan baik tapi dia juga tak kehilangan kredibilitas. Tak kehilangan esensi. Terus terang saya berharap pemilu, karena ini pemilu langsung, akan menghasilkan orang-orang dengan kredibilitas lebih baik. Tapi ternyata pemilu kita ini masih mahal, sehingga yang masuk adalah orang-orang yang punya modal kapital.

 

Politik kita hari ini masih seperti apa?

 

Politik kita saat ini sudah lengkap. Tak ada di negara mana pun, mulai dari kepala desa, bupati/walikota, gubernur, presiden, DPRD, DPR, hingga DPD semuanya secara langsung. Banyaknya pemilihan secara langsung inilah yang mengakibatkan, sebagai contoh pada tingkat desa saja, untuk menjadi kades itu sudah tak murah lagi. Bahkan sudah miliaran.

 

Untuk menjadi anggota DPR, saya sendiri terkejut. Saya membandingkannya saat Pemilu 1999 saat yang dipilih adalah partai. Dibandingkan dengan Pemilu 2009 yang dipilih adalah orang. Ada (perbedaan) tiga hingga empat kali lipat biaya politik. Sekarang ini seseorang yang ingin menjadi bupati atau wali kota, kalau dia bukan yang sangat terkenal di publik, maka biaya untuk sosialisasinya saja bisa sangat tinggi.

 

Maka dengan sekarang ini dibuat pilkada serentak. Pelan-pelan diharapkan bisa mengurangi biaya. Kenapa bisa berkurang? Karena konsentrasi publik tak seperti dulu. Dan masyarakat kemudian tak seperti dulu yang apa-apa minta pembiayaan. Dengan demikian pelan-pelan, proses demokrasi kita ini akan terjadi. Supaya orang-orang yang akan menjadi anggota DPR, DPD, bupati, gubernur, atau presiden, bukan orang-orang dari kalangan kaya. Lahir pemimpin-pemimpin baru seperti Risma (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini), Jokowi, dan beberapa nama di daerah. Yang betul-betul pemimpin dari rakyat.


Presiden Pernah Bilang, ‘Saya Sebenarnya Capek’

Foto: Antara/Setpres


Anda lama mengikuti Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Sudah paham kultur Megawati. Mulai 2015 Anda bersama Jokowi, enak mana?

 

Semua pemimpin punya style berbeda-beda. Saya dengan Bu Mega sampai hari ini sudah 20 tahun lebih. Dan saya termasuk salah satu menteri yang dua atau tiga hari sekali pasti bertemu dengan Ibu Mega. Sampai sekarang.

 

Salah satu tugas saya sekarang adalah menjembatani Ibu Mega dengan Presiden dan juga beberapa hal yang lain. Jadi semua presiden itu, semua pemimpin itu, mempunyai keunikan tersendiri. Kalau Pak Jokowi itu betul-betul apa yang beli sampaikan ‘kerja, kerja, kerja’ itu betul-betul dilakukan.

 

Bahkan ketika Beliau berkunjung ke daerah-daerah maupun ke luar negeri, beliau itu selalu bekerja mulai dari pagi pukul 08.00 hingga malam pukul 23.00. Ketika kita ke luar negeri, kalau acaranya selesai, itu bisa pulang-pergi (PP). Bahkan ke Turki itu PP. Kemudian saya juga mengalami waktu ke Eropa itu hanya tiga hari. Jadi, kita dibentuk oleh Presiden Jokowi untuk betul-betu berkonsentrasi dalam pekerjaan.

 

Pernah dimarahi Presiden?

 

Hampir enggak. Karena saya memang dari dulu mengambil porsi lebih banyak bekerja menyiapkan apa yang diinginkan pemimpin. Karena kalau kita bekerja untuk seorang pemimpin, harus tahu apa yang menjadi kebutuhan beliau. Misalnya hari ini Presiden ingin menyampaikan sesuatu, kita harus mempersiapkan sebelumnya. Supaya beliau punya waktu untuk menyiapkan, membaca, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan perundang-undangan supaya tidak salah. Karena presiden itu kan tak boleh salah.

 

Pernah tidak punya pengalaman salah memberi arahan?

 

Kalau bekerja pasti ada salahnya. Tapi, saya selalu memberikan alternatif kepada Presiden, ‘Bapak, dalam persoalan ini, alternatifnya adalah a, b, dan c.’ Sebagai Presiden tentunya (Jokowi) punya judgement untuk memilih. Karena bagaimana pun perkembangan sosial politik sangat cepat dan dinamis sehingga pilihan-pilihan itu ada di beliau.

 

Lelah mana menjadi anggota DPR atau Seskab?

 

Ada perbedaan yang paling mendasar, ketika menjadi anggota atau pimpinan DPR, itu tahunya sedikit ngomongnya banyak. Tapi ketika berada di lembaga ini, hampir semuanya tahu. Ngomongnya sedikit sekali. Dan ini mungkin hampir satu tahun saya tak pernah mau diwawancarai. Baru Anda pertama kali yang mewawancarai saya.

 

Anda ikut ngevlog juga seperti Pak Jokowi?

 

Hobi saya adalah sepedaan, nge-gym seminggu tiga kali. Hampir setiap hari nonton olahraga. Sepak bola, basket, bahkan kalau saya kerja, di Ipad saya pasti ada olahraga yang saya tonton. Karena di situlah refreshing yang bisa saya lakukan. Dari kecil saya hobi olahraga. Bahkan saya masih bisa sepedaan Jakarta-Bogor PP yang kurang lebih 122 kilometer. Problemnya waktu. Karena hampir Sabtu-Minggu presiden ke daerah.

 

Nge-Vlog?

 

Nggak. Saya cuma aktif di Twitter. Followers saya satu juta lebih.

 

Sejak kecil memang bercita-cita jadi menteri?

 

Saya dilahirkan dari keluarga yang menjadi pendidikan hal yang utama. Sebanyak tujuh bersaudara semuanya menyelesaikan S1 dengan baik. Kenapa memilih ITB (Institut Teknologi Bandung), sederhana saja. Karena orang tua memiliki keterbatasan, tapi mereka ingin saya mendapatkan pendidikan terbaik. Dari semester pertama sudah nyari beasiswa. Karena nilai akademik bagus, maka sejak semester II hingga semester akhir saya sudah mendapat dua bahkan tiga beasiswa. Sehingga beasiswa itu bisa untuk memenuhi kebutuhan bahkan membantu adik-adik saya kuliah di perguruan tinggi lain yang notabene di UGM (Universitas Gadjah Mada).

 

Kenapa memilih Jurusan Teknik Pertambangan di ITB?

 

Supaya bisa bekerja di Pertamina. Duitnya cukup bisa membantu keluarga. Itu saja. Tapi sejak SMP saya selalu menjadi ketua OSIS, ketua senat, hingga ketua dewan mahasiswa IBT. Pilihan itu dari kecil

 

Siapa yang mengajak ke PDI Perjuangan?

 

Karena keluarga besar saya kagum kepada Bung Karno. Tapi kalau ditanya siapa sosok yang berperan besar menarik saya ke politik, dia adalah Heri Akhmadi. Saat saya masuk, Mas Heri sedang menjadi tokoh besar yang melawan rezim Pak Harto (Presiden kedua RI Soeharto) saat itu. Beliau yang kemudian memengaruhi saya untuk terjun ke politik dengan baik.

 

Kenapa saya bekerja dulu selama 10 tahun karena ketika saya terjun ke dunia politik, maka secara finansial sudah kuat. Jadi ketika saya masuk politik mungkin saya termasuk yang melaporkan harta kekayaan tertinggi saat itu bersama Mas Arifin Panigoro. Awal 1999 saya ingin saat terjun ke politik saya tak punya conflict of interest. Termasuk di perusahaan-perusahaan saya, semuanya dikelola secara profesional.

 

Medcom.id juga mencoba menguji Pramono untuk menjawab tangkas pertanyaan pilihan. Ada lima pertanyaan yang diajukan. Namun, untuk pertanyaan terakhir mengenai Jokowi sedikit tersendat. Kenapa? Simak wawancaranya.

 

Klasik atau kontemporer?

 

Klasik

 

Jose Mourinho atau Alex Ferguson?

 

Jose mourinho

 

Sepeda atau fitnes?

 

Sepeda

 

Apa yang ada dalam pikiran Anda saat saya sebutkan nama Megawati?

 

Leader

 

Joko widodo?

 

...ehm. Pemimpin yang merakyat.

 

Agak tersendat sedikit, tapi tak apa-apa....

 

Karena saya tak mau mengulang kata leader. Ibu Mega adalah leader yang sangat kuat. Kalau Pak Jokowi adalah pemimpin yang bekerja, pemimpin yang betul-betul dilahirkan dari rahim rakyat. Beliau itu energinya didapatkan dari rakyat. Kalau beliau capek, orang banyak yang tak tahu. Maka beliau ke daerah, bersalaman dengan rakyat, (dengan begitu) mendapatkan energi (kembali). Sehingga beliau sembuh kembali. Jadi, kalau beliau tak sehat itu bukan beliau malah istirahat, nggak. Malah ke daerah, salaman dengan rakyat. Saya mendampingi beliau di banyak tempat. Kalau beliau sudah bersalaman dengan ribuan orang, energinya dapat.

 

Presiden pernah bilang ‘Saya sebenarnya capek’?

Pernah. Karena apa pun itu manusiawi. Tapi beliau begitu capek malah cari kerjaan berat. Bahkan pernah di Suku Anak dalam, mungkin ada 5.000 orang disalami semua.

 


Sumber : http://news.metrotvnews.com/politik/...benarnya-capek

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Presiden Pernah Bilang, ‘Saya Sebenarnya Capek’ Guyonan Jokowi saat Salah Kostum

- Presiden Pernah Bilang, ‘Saya Sebenarnya Capek’ Presiden: Masyarakat Harus Yakin Indonesia Tetap Berdiri

- Presiden Pernah Bilang, ‘Saya Sebenarnya Capek’ Jokowi: Bedakan Kritik dengan Mencemooh dan Nyinyir

×