alexa-tracking

Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acbe9ee947868bf1a8b456d/antara-seni-kebebasan-berekspresi-dan-ancaman-jeruji
icon-hot-thread
Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji
Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji

Aksi unjuk rasa kembali terjadi setelah beberapa abad lamanya pertunjukan teatrikal berjudul demonstrasi, tidak disuguhkan oleh beberapa elemen masyarakat. Pemicunya bukan karena tertangkapnya mahluk siluman bernama alien yang berwarna hijau lumut sedikit gelap dari galaksi andromeda yang katanya menekan ummat mayoritas. Melainkan sebuah puisi dari Bu Sukmawati.

Kenapa Milea? Yuk kita bahas sambil mendengarkan siara dunia dalam berita dari TVRI. Habis itu kita nikmati acara aneka Ria Safari. Generasi jaman old pasti paham acara ini.

Sebelum mengulas substansi puisi yang menjadi trigger terjadinya aksi unjuk rasa beberapa hari yang silam, mari kita simak bersama, mengenai mahluk apa yang bernama puisi itu.

Seperti dikutip dari wikipedia, puisi adalah sebuah karya seni yang tertulis. Kenapa tertulis? Supaya bisa dibaca dan dibacakan. Kalau tidak tertulis, hanya bisa dibaca dalam hati oleh pembuatnya dengan cara solilokui atau nggremeng.

Dalam bentuk seni ini, seorang penyair menggunakan bahasa untuk menambah kualitas estetis pada makna semantis. Penekanan pada segi estetik sebuah bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa.

Umumnya, puisi lebih ringkas dan padat, sedangkan prosa seperti sedang mengutarakan sebuah cerita. Puisi juga penuh dengan makna tersirat dan kadang kala hanya mampu diinterpretasikan oleh pembuatnya sendiri. Tidak hanya penuh perumpaan dan arti tersembunyi, didalam puisi sering dijumpai pengulangan satu suku kata yang kerap dianggap aneh. Bagi orang yang awam, hal ini bisa membingungkan. Namun, bagi penciptanya, keanehan dan kebingungan pembaca selalu bisa dijawab oleh mereka sendiri, dan disitulah terletak seninya.

Kembali pada teks puisi yang dibacakan Bu Sukma, pada baris kedua sebenarnya sudah jelas. Bila beliau membandingkan antara kidung dengan azan, itu karena "ketidaktahuan" beliau akan syariat Islam. Dan kalimat itu diulang untuk kedua kalinya. Apakah pernyataan itu hanya sekedar pelengkap estetika dalam sebuah puisi? Atau justru bermakna leksikal?

Masuk akalkah orang Islam tidak mengetahui syariatnya sendiri? Jawabannya sangat masuk akal. Tergantung bagaimana mereka memahami serta menjalankan Islam itu, apakah secara komprehensif atau yang biasa disebut dengan sebutan "kaffah" atau mempelajarinya secara parsial dari kulitnya saja.

Bagaimana mempelajarinya dengan komprehensif? Perbanyak membaca seperti makna Iqra' yang pertama kali diturunkan di gua Hira. Membaca saja ternyata tidaklah cukup. Karena kita tidak harus selalu percaya dengan apa yang kita baca. Teruskanlah dengan menelaah, dan berjanji pada diri sendiri untuk bersikap adil sejak proses membaca dan menelaah dilakukan. Lantas bergurulah pada orang-orang yang kompeten. Kompetensi tidak diukur dari atribut yang dikenakan. Tapi pada pencapaian spritual yang memang telah diakui oleh khalayak ramai. Dan indikatornya dapat dilihat dari sinkronnya antara laku dan ucapan.

***
Spoiler for ilustrasi:


Sebagai bagian dari seni, puisi acapkali dijadikan sebagai wadah dan cara menyampaikan ekspresi seseorang. Diksi kata dan "rahasia" makna yang tersirat seringkali bermakna kritikan yang menohok layaknya satire. Mungkin pembuatnya ingin mencurahkan gejolak didalam batinnya terkait makna teologi, perang batin, sosial-politik, bahkan kisah asmaranya yang kelam seperti Chu Pat Kay.

Indonesia adalah negara yang demokratis. Kebebasan berekspresi dalam bentuk apapun tentu hal yang wajar serta diperbolehkan. Asal pelakunya cukup tahu diri bahwa dibalik hak berekspresi, terselip pula kewajiban didalamnya. Diantaranya mampu mengukur sendiri bahwa kebebasannya tidak dianggap merugikan oranglain.

Terkait polemik tentang puisi Bu Sukma, komparasi antara kidung dan azan memang terdengar tidak pantas bagi pihak-pihak yang menganggap adanya unsur penodaan agama terkandung didalamnya secara implisit. Ketidaksetujuan ini lalu diejahwantakan dalam bentuk protes dan aksi demonstrasi.

Spoiler for ilustrasi:


Tanpa berniat berpikir antitesa dengan pemikiran "mereka" yang berunjuk rasa, ada bagian dari obyek yang diangkat dalam puisi memang tidak pada tempatnya. Konon lagi dilontarkan diranah publik. Bisa jadi, ini jauh lebih jahat dari Rangga yang meninggalkan Cinta berpuluh-puluh purnama lamanya. Apa yang kamu lakukan itu jahat! Begitu kata mereka sambil berunjuk rasa.

Bu Sukma kemungkinan tidak menyadari bahwa ia tidak sedang berbicara didepan rakyat Estonia. Sebuah bangsa yang masalah tentang religiuitas menjadi nomor kesekian. Bagi mereka, urusan dogma itu hubungan vertikal yang sangat-sangat individual bahkan kadang gak dianggap.

Namun beliau sedang berhadap-hadapan dengan bangsa Indonesia yang gemar mem-finalkan sebuah masalah sesuai sudut pandangnya saja. Yang lain dianggap sesat lagi menyesatkan. Abaikan diagnosis bahwa yang final-final terbukti menggerus nalar kewarasan. Bukankah yang begitu itu enak? Pokoknya final. Gak capek harus menelaah, mengoreksi, alih-alih menggunakan asas cover both side layaknya jurnalis. Panganan opo kuwi dab?

Ketidakpahaman, atau "test the water" ala Bu Sukma ini yang, sungguh mengantarkan beliau dalam posisi yang rumit. Tekanan massa supaya salah satu putri proklamator ini digiring ke jeruji tampaknya tidak main-main. "Memaafkan boleh, tapi proses hukum tetap jalan". Begitu kira-kira yang mereka teriakkan.

Spoiler for ilustrasi:


Sedangkan bagi yang menganggap tidak ada persoalan, cenderung berpikir bahwa itu hanyalah sebuah puisi. Lagipula, pucuk pimpinan MUI telah memberikan himbauan agar menyudahi sengketa supaya tidak berlarut-larut. Tapi kok begini? Adakah aroma bias konfirmasi tercium disana? Entahlah...

Proses membandingkan-bandingkan memang kadang menyakitkan. Lagi enak-enak makan dengan sang pacar, nasi goreng bisa serasa tak enak walaupun micinnya sudah sebungkus. Apalagi saat sang pacar meski berwajah imut seperti marmut, dengan lugas tanpa majas membandingkan kita dengan oranglain. Sakit brow...!

Tentunya, pelajaran berharga dari peristiwa ini bisa kita petik. Jangan sesekali berekspresi dalam wadah apapun jika materinya bersinggungan dengan agama.

Mendobrak patron itu memiliki banyak metode. Percayalah, satire dan sarkasme bisa digunakan dengan sangat baik walau untuk urusan sensitif, se-sensitif dogma. Namun gunakan diksi yang tepat. Kalau gak, ya begini jadinya.

Terbukti, komparasi antara kidung dengan azan, lalu konde dengan cadar pun jadi masalah. Jujur, meski saya muslim, saya tidak akan menggunakan cadar sampai kapanpun. Apakah lantas kemudian saya dianggap tidak agamis? Benarkah tingkat kesalehan dilihat dari tampilan busana yang dikenakan berikut aksesorisnya? Lalu kenapa saya enggan menggunakan cadar? Karena saya laki-laki...!?


Kamu suka saya bernyanyi atau berpuisi, Milea?...


©Skydavee
Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji
Sumber gambar: google
Tuhan...
Surga yg Engkau titipkan terasa panas..
Kemilau bias pelangi pun terasa tak lagi indah.
Kami lebih menyukai memuntahkan sumpah serapah, ketimbang saling menghargai.

Tuhan...
Apakah mereka yg berbeda akidah tercipta dari Tuhan yg berbeda?
Apakah mereka yang berkulit warna dan bahasa berbeda tidak muncul dari Tuhan yang sama?

Tuhan...
Kami hanya mengenal sedikit saja dari firman-firmanMu. 
Kami pun tak banyak mengetahui ilmu dan segala rahasia tanpa ridhaMu.

Tuhan...
Dengan segala kerendahan hati, izinkan kami lebih memahami apa yg tersurat dan tersirat dalam kitabMu.
Sebab, hanya dengan demikian kami bisa saling mencintai dan mengerti jika menyakiti sesama mahluk ciptaanMu itu dilarang...
atas ane bikin puisi
Semua sudah ada tempatnya masing2..

Boleh saja mengekspresikan seni asal tidak menyinggung kelompok tertentu..


emoticon-Leh Uga
Ikuti aturan main...
Demi kelancaran itikad...
emoticon-Toast
Sari konde yang menghebohkan dunia persilatan...
emoticon-Goyang emoticon-Goyang emoticon-Goyang
Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji
Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji
Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji
pecahkan saja gelasnya, biar ramai...
Quote:


Biar semua orang tahu

Tempe
Hak asasi tdk mutlak berdiri sebebas bebasnya, karena ada hak asasi orang lain yang jg harus dihormati. Jadi kalo ada yg punya anggapan hak asasi itu bebas mutlak, berarti anda kurang baca!
Kecuali anda hidup di utan sendirian ganemoticon-Big Grin
Quote:
hooh. Dia bikin puisi tuhemoticon-Big Grin

Quote:
Apalagi ke kelompok yang.... ah sudahlahemoticon-Ngacir

Quote:
betul

Quote:
Haoli bang adolf. Sukses mengguncang ya puisinyaemoticon-Big Grin

Quote:
Biar mengadu sampai gaduhemoticon-Big Grin

Quote:


Mau dong tempe gorengnya kangemoticon-Request
Quote:


Betul. Tp dalam konteks puisi ini, kl saya baca sih datar ya? Komparasi jg dilakukan dgn alasan "ketidaktahuan". Org kl emang gak tau, ya diajarin. Bukan disudutkan.

Mslh hak asasi, itu cuma perkara sudut pandang. Banyak org hanya memikirkan "hak"nya saja dan masa bodoh dgn kewajiban yg mengikuti.
Magis dan cakep ulasannya Om emoticon-Sundul Gan (S)
Quote:


Nah itu dia, jika orang yang tidak tahu itu dianggap melecehkan, mau jadi apa dunia ini.

Orang lebih tahu, tusuk konde lebih indah dari aturan hidup kita, ada yang salah dengan cara penyampaian atau kampanye tentang cara hidup yang indah. Di sini harusnya di perbaiki. Supaya orang yang menganggap tusuk konde lebih indah akhirnya bisa menerima bahwa tatanan kita lebih indah..

Tentunya dengan cara yang indah, bukan Angkara murka
Quote:
Hai gan. Lama gak berjumpaemoticon-Big Grin

Makasih dah singgah dimari.

Quote:
Tanpa demo, cobalah bertabayyun. Menyelesaikan dengan dialog. Krn bagaimanapun, ini terkait dgn "citra" Islam. Lagipula, apa benar semua sdh membaca puisinya, lalu dgn suasana hati yg dingin mencoba mencerma maknanya. Apakah berkaitan dgn musim pilkada? Atau skala pilpres? Mencari dukungan dan simpati tak cukup dgn "show of force". Justrh cara² dialog adalah cara yg elegen. Saya juga muslim, tp tdk hrs satu koor utk menyikapi permasalah puisi ini bukan? Snouck hurgronje memang jeniusemoticon-Big Grin
biasalah buoskuh dimari, coba orang2 yg baperan itu dikon ngopi sek, dolane sing adoh baline kudu luih esuk

Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji
Quote:

Betull gan. Mari kita buktikan Islam itu indah ..
Bukan dengan cara marah marah emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Quote:


Biar tau bahwa dunia itu indah penuh warna. Lalu ia juga bisa menyimpulkan bahwa perbedaan sebuah keniscayaan utk dihilangkan. Diharapkan pula, dgn banyak dolan, banyak pula pelajaran yg bisa dipetik. Bukan semata² terjebak dalam tempurungemoticon-Big Grin
Quote:


Mari mulai menjadi agen perubahan yg baik. Selamat pagi kakak pertamaemoticon-Nyepi
Quote:


naaaaaaaaaaaah bener kui buoskuh

Antara Seni, Kebebasan Berekspresi dan Ancaman Jeruji
Silaken kesebelahemoticon-Hai