alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kalau Jokowi Diam Saja, Lama2 Dianggap Benar Isu2 & Kampanye Negatif Kepadanya
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acbe6ba9a09517f068b4568/kalau-jokowi-diam-saja-lama2-dianggap-benar-isu2-amp-kampanye-negatif-kepadanya

Kalau Jokowi Diam Saja, Lama2 Dianggap Benar Isu2 & Kampanye Negatif Kepadanya

Pengamat: Kalau Jokowi Diam Saja, Lama-lama Dianggap Benar Isu-isu dan Kampanye Negatif Kepadanya

Senin, 9 April 2018 15:15 WIB

Kalau Jokowi Diam Saja, Lama2 Dianggap Benar Isu2 & Kampanye Negatif Kepadanya
Presiden Joko Widodo mengendarai motor Chopper Royal Enfield 350 cc saat kunjungan kerja di Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (8/4/2018). Presiden mengendara motor sejauh 30 kilometer meninjau pelaksanaan program padat karya tunai sekaligus memperkenalkan kawasan wisata Pelabuhan Ratu. TRIBUNNEWS/SETPRES/AGUS SUPARTO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tepat sudah langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanggapi sejumlah pandangan negatif yang dituduhkan kepadanya belakangan ini, mulai dari pribadinya hingga program pemerintah di bawah kepemimpinannya.

Kritik dan kampanye negatif serta kampanye hitam, menurut pengamat politik Dari Universitas Paramadina, Djayadi Hanan, memang harus dijawab oleh presiden dan timnya. Tentu proporsinya harus tepat, tidak berlebihan.

"Kritik harus dijawab dengan data dan fakta yang lebih meyakinkan. Kampanye negatif harus ditandingi dengan bukti bukti positif, dan kampanye hitam harus dibantah," ujar Direktur Eksekutif Saiful Mudjani Research and Consulting (SMRC) ini kepada Tribunnews.com, Senin (9/4/2018).

Dia melihat Jokowi berusaha menunjukkan bahwa data dan fakta yang disampaikan pengritik tidak benar atau tidak sahih.

Selain itu dia dia menilai, Jokowi juga berusaha membantah isu-isu negatif yang sering ditujukan kepadanya seperti isu anti Islam.

Baca: Ratna Sarumpaet Somasi Dishub, Sandiaga: Ikuti Prosedur Hukum yang Berlaku

Juga kampanye hitam seperti bahwa Jokowi itu PKI, antek asing dan aseng, dan sebagainya.

"Saya kira hal-hal tersebut tepat dilakukan Presiden. Karena kalau diam saja, lama-lama bisa dianggap bahwa isu-isu tersebut benar," tegasnya.

Cuma ia memberikan catatan, Jokowi cukup sekali sekali saja menanggapinya.

Selebihnya adalah tugas tim presiden untuk terus mengkomunikasikan secara sistematis apa-apa yang sudah disampaikan Presiden Jokowi.

"Untuk presiden sendiri, fokusnya tetap pada upaya menunjukkan kinerja, karena kinerja adalah cara terbaik menjawab kritik dan kampanye negatif," ucapnya.

Pidato Jokowi

Sebelumnya Presiden Jokowi menyayangkan sejumlah pandangan negatif yang dituduhkan kepadanya belakangan ini, mulai dari pribadinya hingga program pemerintah di bawah kepemimpinannya.

Jokowi mengatakan semua tudingan yang dilontarkan sama sekali tak berdasar.

"Banyak yang ingin melemahkan bangsa kita dengan cara-cara yang tidak beradab. Ngomongin isu antek asing, tuding-tuding ke saya. Jokowi itu antek asing."

Pernyataan Jokowi disampaikan saat memberikan sambutan dalam acara Konvensi Nasional Galang Kemajuan Tahun 2018 di Ballroom Puri Begawan, Bogor, Sabtu (7/4/2018).

Jokowi juga sering kali dituduhkan sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dia mengatakan, tudingan itu tak beralasan karena saat PKI dibubarkan pada 1965, dia baru berusia empat tahun.

"Ada gambar di medsos waktu D.N. Aidit pidato 1955. Saya belum lahir sudah (disebut) jejer sama D.N. Aidit. Ini isu apa-apaan. Tidak beradab seperti itu," kata Jokowi sambil menunjukkan gambar dimaksud.

Belakangan, kata Jokowi, pembangunan infrastruktur juga menjadi sasaran tuduhan.

Ia pun menegaskan program tersebut dimaksudkan untuk membangun dan tanpa ada kepentingan lain.

"Kami mengerti bahwa membangun itu memang terkadang ada yang salah atau khilaf. Itu yang kami benahi. Kami ini manusia biasa yang penuh dengan kesalahan dan kekurangan," ujarnya.

Sejumlah pihak pun dinilai melakukan provokasi mengenai isu jumlah utang negara.

Jokowi mencatat, ada beberapa yang menuliskan utang Indonesia kini mencapai Rp 4 ribu triliun tanpa rincian yang memadai dan menciptakan kesan bahwa pemerintahannya gemar berutang kepada asing.

Menurut Jokowi, saat pertama kali ia dilantik, Indonesia telah memiliki utang sebesar Rp 2.700 triliun.

"Bunganya setiap tahun Rp 250 triliun. Kalau empat tahun sudah tambah Rp 1.000 triliun. Mengerti enggak ini? Supaya mengerti, jangan dipikir saya utang sebesar itu," kata dia.

Meski demikian, Jokowi mengaku tak ambil pusing dengan tudingan tersebut.

Jokowi yakin masyarakat saat ini sudah semakin dewasa dalam memilih kabar.

"Sekarang ini masyarakat juga makin matang, makin dewasa. Semakin mengerti mana yang isu, fitnah, hoax, kabar bohong. Sudah mengerti semuanya," kata dia.

Jokowi juga memberikan respons keras atas isu Indonesia bubar pada tahun 2030 dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Jokowi menegaskan, seorang pemimpin seharusnya memberikan rasa optimisme kepada rakyatnya. Bukan sebaliknya malah menularkan virus pesimisme.

"Jangan pesimis 2030 bubar. Pemimpin itu harus memberikan optimisme kepada rakyatnya. Pemimpin harus memberikan semangat kepada rakyatnya meskipun tantangannya tidak gampang,"cetus Jokowi
http://www.tribunnews.com/nasional/2018/04/09/pengamat-kalau-jokowi-diam-saja-lama-lama-dianggap-benar-isu-isu-dan-kampanye-negatif-kepadanya

---------------------------------

Diam itu emas!

emoticon-Wakaka
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Rip Indonesia emoticon-Turut Berduka
iki pengamate sing goblok


isu2 gak jelas ya mending diem, wong gendeng kok diladeni
Jokowi Presidenku
cuekin aja isu2 murahan ky gitu...
kan mang udah SOP nya nasbung ...
klo ga bgtu...nasbung ga makan...


benci boleh...GUUUUUUOOBLOOOOOOKKK JANGAN...
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Quote:


g juga kebohongan yg dikampanyekan masif dan terus menerus suatu saat akan dianggap kebenaran inget jaman orba dgn supersemar, jaman nazi
patwa junjungan nasbung kalau kowi diem berarti tuduhan nasbung tepat sasaran kalau kowi bicara berarti tuduhan nasbung benar adanya nah paham kan ente??? emoticon-Blue Guy Bata (L)
Kalau Jokowi Diam Saja, Lama2 Dianggap Benar Isu2 & Kampanye Negatif Kepadanya
nasbung mah emang harus dijentepin, kalau ndk mah bsa menggonggong trs emoticon-Ngakak

NASTAK kebanyakan bukan orang muslim atau orang muslim tapi ilmu agamanya minimalis sehingga seenak perutnya saja dalam menafsirkan kata GANJIL dalam hadits yang dikutipnya. Cobalah baca tafsir makna kata "GANJIL"dibawah ini ...ternyata yang dimaksudkan dengan GANJIL dalam hadits nabis saw itu adalah "Sholat Witir"... Tahu anda apa itu sholat witir? Kalau Nastak non-muslim pastilah nggak bakalan ngerti!

Quote:



Makna Hadis “Allah Menyukai Witir”


Kalimat “Allah menyukai witir” (يحب الوتر) diucapkan oleh Rasulullah dalam dua konteks–paling tidak yang saya ketahui.

Yang pertama adalah dalam konteks shalat witir.

إن الله وتر يحب الوتر فأوتروا يا أهل القرآن
“Sesungguhnya Allah itu witir (“fard”, “one and only”). Allah menyukai witir. Maka, kerjakanlah shalat witir, wahai ahlul quran (kaum mukmin)” (HR. Tirmidzi).

Makna kalimat يحب الوتر (menyukai witir) dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi itu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi (syarah kitab Jami’ al-Tirmidzi) adalah يثيب عليه ويقبله من عامله atau kurang-lebih artinya “Allah akan membalas-kebaikan atas witir dan akan menerima witir itu dari orang yang menjalankannya”.

Dari penjelasan dalam kitab syarah itu, makna yang paling masuk akal untuk kata الوتر (witir) dalam kalimat يحب الوتر (menyukai witir) adalah “shalat witir”, bukan “bilangan ganjil”. Apalagi kalimat berikutnya adalah tentang seruan menjalankan shalat witir.

Maka, pemahaman hadis di atas–الله ورسوله اعلم–adalah “Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya. Allah menyukai shalat witir. Maka, kerjakanlah shalat witir, wahai ahlul quran (orang-orang beriman)”.

Yang kedua, Rasulullah menyampaikan “Allah menyukai witir” (يحب الوتر) dalam konteks penjelasan tentang Asmaul Husna, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

لله تسعة وتسعون اسما مائة إلا واحدا لا يحفظها أحد إلا دخل الجنة وهو وتر يحب الوتر
“Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Orang yang mampu ‘menjaganya’ akan masuk ke surga. Allah itu satu-satunya. Allah menyukai ‘witir’.”

Nah, dalam hadis inilah الوتر dalam kalimat يحب الوتر (menyukai witir) bisa bermakna “bilangan ganjil” (lawan kata “genap”).

Hal itu sebagaimana penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Menurut mereka, perihal Allah menyukai bilangan ganjil bisa dimengerti dari beberapa pensyariatan ibadah atau penciptaan makhluk yang memiliki unsur bilangan ganjil. Shalat wajib ada lima waktu, thawaf ada tujuh putaran, sa’i dilakukan tujuh kali, lemparan jamrah dilakukan tujuh kali, hari tasyrik berlangsung tiga hari berturut-turut, seminggu ada tujuh hari, langit diciptakan tujuh tingkatan, dan lain-lain.

Pemaparan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi tersebut adalah “penjelasan isyarat” dari makna “Allah menyukai bilangan ganjil”, bukan penjasan yang deskriptif. Boleh saja menjelaskan sebuah makna tertentu dengan “penjelasan isyarat” asal memiliki unsur-unsur kebenaran dalam dirinya.

Maksud “penjelasan isyarat” adalah ketika, misal, Anda membayangkan bertanya kepada kepada al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi tentang arti kalimat “Allah menyukai bilangan ganjil”, lalu kedua tokoh kita itu menjawab, “Arti kalimat ‘Allah menyukai bilangan ganjil’ adalah … itu lho … lihat, ibadah yang Allah syariatkan: shalat wajib ada lima waktu, thawaf ada tujuh putaran, tasyrik ada tiga hari, dan lain-lain. Itulah arti dan tanda Allah memyukai bilangan ganjil.”

“Penjelasan isyarat” seperti itu sah-sah saja, dengan catatan tadi itu: ada unsur-unsur kebenaran di dalamnya. Dalam contoh kasus pemaparan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi adalah benar bahwa shalat fardu adalah syariat Allah, benar bahwa jumlah shalat fardu ada lima yang merupakan bilangan ganjil. Maka, ketika shalat lima waktu digunakan untuk menjelaskan makna “Allah menyukai bilangan witir” maka hal itu benar.

Tapi, kebenaran dalam “penjelasan isyarat” tidak bisa kuat karena tidak “jami’ mani'”. Dalam ilmu mantik, sebuah definisi atau pengertian atau penjasan itu benar dan kuat jika ia “jami’ mani'”.

Lalu, apa penjelasan atau arti yang “jami’ mani'” dari kalimat يحب الوتر (Allah menyukai bilangan ganjil” dalam konteks hadis Asmaul Husna di atas? Hanya Rasulullah sebagai pengucap kalimat sabda itu yang tahu–juga Allah sebagai yang disebut dalam kalimat itu. Kita hanya bisa menakwilkan dan memahami sesuai kemampuan, tentunya dengan penjelasan yang memiliki unsur-unsur kebenaran sehingga penjelasan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Maka, jadi terasa memprihatinkan kala hari-hari ini beredar gambar yang menampilkan hadis syarif, sabda mulia Nabi tentang “Allah menyukai bilangan ganjil”, namun dikaitkan dengan perkara politik, dikaitkan dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019. Digunakan untuk kepentingan politik. Sesuatu yang sama sekali tidak memiliki unsur-unsur kebenaran yang layak dikaitkan dengan kebenaran sabda mulia Nabi tersebut.

Penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi yang memiliki unsur-unsur kebenaran saja belum menjadi penjelasan yang kuat, yang “jami’ mani'”, maka bagaimana Anda akan menjelaskan makna hadis “Allah menyukai bilangan ganjil” kaitannya dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019?! Memiliki unsur-unur kebenaran yang selaras dengan kebenaran sabda Nabi itu saja tidak, apalagi terkait.

Lalu, apa penjelasan paling masuk akal untuk gambar hadis “Allah menyukai bilangan ganjil” yang beredar dan dikaitkan dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019? Tidak lain dan tidak bukan: politisasi sabda Nabi. Sabda Nabi digunakan untuk kepentingan sesaat yang sama sekali tidak terkait. Setelah kepentingan selesai, sabda itu dicampakkan.

Jika politisasi sabda Nabi ini dianggap sepele tapi disebarkan secara masif dan dianggap benar, khawatir saja nanti sabda itu selanjutnya digunakan untuk komodifikasi. Dibisniskan. Digunakan untuk legitimasi jualan. Dari politisasi ke komodifikasi.

Kl sdh tdk kuat... Lambaikan tangan kekamera
Hidup planga plongo cengengesan gak mikir copraas capres tukang tambal ban tukang cosplay tukang sapu tukang becak hoax membangun esemka buyback indosat ekonomi meroket dolar 10 ribu

Kalo beneran goblok mana bisa ngebantah. Nanti dibantah pake hoax membangun

emoticon-Ultah
emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
ngapain isu kafir, pki d tanggepi..
klo d tanggapi makin seneng nasbung ny..!!emoticon-Big Grin
NASTAK kebanyakan bukan orang muslim atau orang muslim tapi ilmu agamanya minimalis sehingga seenak perutnya saja dalam menafsirkan kata GANJIL dalam hadits yang dikutipnya. Cobalah baca tafsir makna kata "GANJIL"dibawah ini ...ternyata yang dimaksudkan dengan GANJIL dalam hadits nabis saw itu adalah "Sholat Witir"... Tahu anda apa itu sholat witir? Kalau Nastak non-muslim pastilah nggak bakalan ngerti!


Quote:



Makna Hadis “Allah Menyukai Witir”


Kalimat “Allah menyukai witir” (??? ?????) diucapkan oleh Rasulullah dalam dua konteks–paling tidak yang saya ketahui.

Yang pertama adalah dalam konteks shalat witir.

?? ???? ??? ??? ????? ??????? ?? ??? ??????
“Sesungguhnya Allah itu witir (“fard”, “one and only”). Allah menyukai witir. Maka, kerjakanlah shalat witir, wahai ahlul quran (kaum mukmin)” (HR. Tirmidzi).

Makna kalimat ??? ????? (menyukai witir) dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi itu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi (syarah kitab Jami’ al-Tirmidzi) adalah ???? ???? ?????? ?? ????? atau kurang-lebih artinya “Allah akan membalas-kebaikan atas witir dan akan menerima witir itu dari orang yang menjalankannya”.

Dari penjelasan dalam kitab syarah itu, makna yang paling masuk akal untuk kata ????? (witir) dalam kalimat ??? ????? (menyukai witir) adalah “shalat witir”, bukan “bilangan ganjil”. Apalagi kalimat berikutnya adalah tentang seruan menjalankan shalat witir.

Maka, pemahaman hadis di atas–???? ?????? ????–adalah “Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya. Allah menyukai shalat witir. Maka, kerjakanlah shalat witir, wahai ahlul quran (orang-orang beriman)”.

Yang kedua, Rasulullah menyampaikan “Allah menyukai witir” (??? ?????) dalam konteks penjelasan tentang Asmaul Husna, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

??? ???? ?????? ???? ???? ??? ????? ?? ?????? ??? ??? ??? ????? ??? ??? ??? ?????
“Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Orang yang mampu ‘menjaganya’ akan masuk ke surga. Allah itu satu-satunya. Allah menyukai ‘witir’.”

Nah, dalam hadis inilah ????? dalam kalimat ??? ????? (menyukai witir) bisa bermakna “bilangan ganjil” (lawan kata “genap”).

Hal itu sebagaimana penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Menurut mereka, perihal Allah menyukai bilangan ganjil bisa dimengerti dari beberapa pensyariatan ibadah atau penciptaan makhluk yang memiliki unsur bilangan ganjil. Shalat wajib ada lima waktu, thawaf ada tujuh putaran, sa’i dilakukan tujuh kali, lemparan jamrah dilakukan tujuh kali, hari tasyrik berlangsung tiga hari berturut-turut, seminggu ada tujuh hari, langit diciptakan tujuh tingkatan, dan lain-lain.

Pemaparan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi tersebut adalah “penjelasan isyarat” dari makna “Allah menyukai bilangan ganjil”, bukan penjasan yang deskriptif. Boleh saja menjelaskan sebuah makna tertentu dengan “penjelasan isyarat” asal memiliki unsur-unsur kebenaran dalam dirinya.

Maksud “penjelasan isyarat” adalah ketika, misal, Anda membayangkan bertanya kepada kepada al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi tentang arti kalimat “Allah menyukai bilangan ganjil”, lalu kedua tokoh kita itu menjawab, “Arti kalimat ‘Allah menyukai bilangan ganjil’ adalah … itu lho … lihat, ibadah yang Allah syariatkan: shalat wajib ada lima waktu, thawaf ada tujuh putaran, tasyrik ada tiga hari, dan lain-lain. Itulah arti dan tanda Allah memyukai bilangan ganjil.”

“Penjelasan isyarat” seperti itu sah-sah saja, dengan catatan tadi itu: ada unsur-unsur kebenaran di dalamnya. Dalam contoh kasus pemaparan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi adalah benar bahwa shalat fardu adalah syariat Allah, benar bahwa jumlah shalat fardu ada lima yang merupakan bilangan ganjil. Maka, ketika shalat lima waktu digunakan untuk menjelaskan makna “Allah menyukai bilangan witir” maka hal itu benar.

Tapi, kebenaran dalam “penjelasan isyarat” tidak bisa kuat karena tidak “jami’ mani'”. Dalam ilmu mantik, sebuah definisi atau pengertian atau penjasan itu benar dan kuat jika ia “jami’ mani'”.

Lalu, apa penjelasan atau arti yang “jami’ mani'” dari kalimat ??? ????? (Allah menyukai bilangan ganjil” dalam konteks hadis Asmaul Husna di atas? Hanya Rasulullah sebagai pengucap kalimat sabda itu yang tahu–juga Allah sebagai yang disebut dalam kalimat itu. Kita hanya bisa menakwilkan dan memahami sesuai kemampuan, tentunya dengan penjelasan yang memiliki unsur-unsur kebenaran sehingga penjelasan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Maka, jadi terasa memprihatinkan kala hari-hari ini beredar gambar yang menampilkan hadis syarif, sabda mulia Nabi tentang “Allah menyukai bilangan ganjil”, namun dikaitkan dengan perkara politik, dikaitkan dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019. Digunakan untuk kepentingan politik. Sesuatu yang sama sekali tidak memiliki unsur-unsur kebenaran yang layak dikaitkan dengan kebenaran sabda mulia Nabi tersebut.

Penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Nawawi yang memiliki unsur-unsur kebenaran saja belum menjadi penjelasan yang kuat, yang “jami’ mani'”, maka bagaimana Anda akan menjelaskan makna hadis “Allah menyukai bilangan ganjil” kaitannya dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019?! Memiliki unsur-unur kebenaran yang selaras dengan kebenaran sabda Nabi itu saja tidak, apalagi terkait.

Lalu, apa penjelasan paling masuk akal untuk gambar hadis “Allah menyukai bilangan ganjil” yang beredar dan dikaitkan dengan nomor urut parpol peserta Pemilu 2019? Tidak lain dan tidak bukan: politisasi sabda Nabi. Sabda Nabi digunakan untuk kepentingan sesaat yang sama sekali tidak terkait. Setelah kepentingan selesai, sabda itu dicampakkan.

Jika politisasi sabda Nabi ini dianggap sepele tapi disebarkan secara masif dan dianggap benar, khawatir saja nanti sabda itu selanjutnya digunakan untuk komodifikasi. Dibisniskan. Digunakan untuk legitimasi jualan. Dari politisasi ke komodifikasi.


Ini cuma memancing supaya Jokowi bereaksi atau emosi ...syukur2 bisa blunder atau kepleset seperti Ahok

emoticon-Leh Uga
Kalau Jokowi Diam Saja, Lama2 Dianggap Benar Isu2 & Kampanye Negatif Kepadanya
Quote:


masalahnya yang pertama kali bawa2 ayat masalah "ganjil" ke politik kan rombongannya nasbung dulu. bahkan bawa2 warna sgala emoticon-Leh Uga
nanggapin org gila bisa ikut gila ntar
kesimpulannya gini...
buktikan merahmu Jok..


leh uga
Kalau Jokowi Diam Saja, Lama2 Dianggap Benar Isu2 & Kampanye Negatif KepadanyaKalau Jokowi Diam Saja, Lama2 Dianggap Benar Isu2 & Kampanye Negatif Kepadanya
Quote:


diapa2in bisa aja ngeles, inget yg waktu delon bilang besok waktu demo bakal turun hujan, pas hujan beneran masih aja ngeles
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di